top of page
Subscribe
Instagram
Facebook
Donation

146 results found with an empty search

  • Bukan Pasangan Biasa

    Menikah lebih dari 25 tahun merupakan rentang waktu yang cukup lama. Itu mendorong saya untuk berpikir ulang apa sebenarnya tujuan pernikahan. Dulu, pria dan wanita menikah tujuan utamanya adalah meneruskan keturunan. Sejalan dengan waktu, di masa modern, ketika peradaban berubah, teknologi berkembang sangat pesat, masa dimana rasio dan ilmu pengetahuan ditempatkan lebih utama, maka nilai- nilai hidup pun berubah. Era modern terjadi perubahan peran pria dan wanita, era dimana spiritual dan sekularitas dipisahkan dengan jelas, masa dimana informasi menyebar dengan luas menyebabkan tujuan pernikahan pun berubah. Pernikahan kehilangan nilai kesakralannya, dan angka perceraian meningkat dari tahun ke tahun. Pernikahan tidak lagi semata untuk memiliki keturunan (memiliki keturunan bisa tanpa pernikahan), tetapi semata untuk mendapatkan kebahagiaan dan pemenuhan ekspektasi / kebutuhan. Kini di abad 21, dunia memasuki era postmodern. Era dimana sistem teknologi informasi berkembang sangat pesat membuat dunia saling mempengaruhi secara masif, global dan cepat. Subjektivisme, relativisme dan pluralisme menjadi menonjol. Makna pernikahan pun semakin bergeser. Definisi kebahagiaan yang dicari dalam pernikahan menjadi sangat subjektif. Apa yang boleh apa yang tidak menjadi sangat relatif. Saat ini pria dan wanita tidak perlu menikah untuk memiliki anak atau sebaliknya menikah tetapi tidak mau memiliki anak (Child free). Ada pula istilah yang disebut open marriage (pernikahan terbuka) yaitu suatu relasi dimana suami-istri sepakat dan mengizinkan satu sama lain menjalin hubungan dengan orang lain atau hubungan tanpa ikatan serius, semata hanya persetujuan untuk hidup bersama (Friends with benefit/FWB). Tujuan pernikahan atau relasi pria dan wanita di era postmodern adalah untuk mendapatkan kebahagiaan yang sangat subjektif, relatif dan tak terbatas oleh norma/nilai tertentu. Maka jika kebahagiaan tidak ditemukan dalam pernikahan atau sudah tidak bisa dirasakan lagi, maka akan mudah untuk bercerai atau mencari bentuk relasi yang berbeda yang dianggap lebih memberi kebahagiaan. Jika dulu kita mengenal LGBT maka di era Posmodern ini kita diperhadapkan dengan LGBTQIA2S+ ( Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer and/or Questioning, intersex, Asexual, Two-Spirit, and the countless affirmative ways). Dimana kita berdiri saat ini? Jika kita saat ini memiliki pernikahan yang secara nilai kristiani benar, bagaimana dengan generasi anak –cucu kita nanti? Sudah seharusnya tujuan pernikahan orang percaya berbeda, karena inilah implikasi panggilan kita: dikuduskan untuk menjadi garam dan terang dunia. Tapi, cukupkah berbeda? Alkitab mengajarkan bahwa pernikahan dan keluarga mengemban agenda Allah. Jika dirunut dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita akan melihat bagaimana Allah menciptakan pernikahan dan menjadikan pernikahan itu menjadi bagian yang sangat penting dalam mengelola, memelihara ciptaan, menebus dan menyelamatkan dunia. 1. Agenda Suami-Istri pada Mulanya: Bukan Sekedar Memiliki Anak Allah memberi amanat pertama pada pasangan pertama.: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi “ (Kejadian 1:28). Mandat Allah pada manusia ini diberikan setelah Allah memberkati mereka, menjadi pasangan suami–istri. Sejak semula Allah menitipkan bumi ciptaan-Nya ini pada pasangan pernikahan pertama yang diciptakan-Nya. Agenda Allah bagi mereka tidak saja meneruskan keturunan tetapi juga agar pasangan baru tersebut beserta keturunannya menjadi representasi Allah bagi bumi ciptaan. Agar pasangan baru ini dan keturunannya kelak menjadi penatalayan ciptaan-Nya. 2. Agenda Allah pada keluarga Nuh: Rekan sekerja dalam Karya pemeliharaan Ciptaan Ketika manusia jatuh dalam dosa dan semakin jahat, Allah bermaksud membinasakan manusia, namun Allah memilih 1 keluarga untuk memelihara kelestarian ciptaan-Nya: Nuh dan keluarganya (Kejadian 6: 17-21). Setelah air bah berlalu, kembali Allah memberi perintah : “Beranak cuculah dan bertambah banyaklah …” (Kejadian 9: 1-7). Allah kembali melibatkan pasangan dan anak mantunya dalam rencana pemeliharaan kelangsungan ciptaan-Nya; menjadi rekan sekerja Allah di dunia setelah Allah melakukan pembersihan pada bumi ciptaan-Nya. 3. Allah Memberi “Panggilan Menjadi Berkat” bagi Pasangan Dalam hikmat Allah, ketika tiba masanya untuk mempersiapkan karya penyelamatan, Allah memanggil Abraham dan keluarganya. Allah menyuruh Abraham pergi dari negerinya, dari sanak saudaranya, dari rumah bapanya ke negeri yang baru untuk membuatnya menjadi bangsa yang besar, untuk memberkatinya serta membuatnya masyur dan menjadi berkat. (Kejadian 12: 1-2). Ketika Abraham telah sampai, Allah berfirman akan memberikan negeri itu pada keturunannya. Secara rinci Allah memilih pasangan Abraham dan Sarai bukan dari keturunan Abraham dan Hagar atau gundiknya yang lain. Dari hal ini kita belajar bahwa bagi Allah pasangan itu penting, secara personal Allah memberikan agenda pada pasangan Abraham dan Sarai untuk menjadi bangsa yang memberkati bangsa- bangsa lain. Agenda menjadi berkat ini dipegang Abraham dengan sungguh-sungguh. Di akhir hidupnya, Abraham memastikan agenda ini tetap berlangsung dengan baik pada Ishak. Kisah Abraham mencarikan istri bagi Ishak, sesuai tradisi masyarakat masa itu, dalam Kejadian 24: 1-8 sering dijadikan kisah pengajaran tentang bagaimana memilih istri. Sebenarnya kisah itu merupakan cerita yang Allah ijinkan untuk kita ketahui bagaimana Abraham dan juga Ishak menjaga panggilan yang Allah berikan pada keluarga mereka. Dengan tegas Abraham meminta hambanya : Mengambil istri untuk Ishak dari negeri leluhurnya bukan dari bangsa Kanaan mana mereka tinggal. Jangan membawa Ishak kembali ke negri leluhurnya Abraham sangat serius memastikan panggilan yang Allah berikan padanya dan keturunannya tetap terjaga. Keseriusannya ini juga turun pada Ishak. Kala itu Ishak telah berumur 40 tahun. Usia yang sudah cukup untuk berketurunan pada manusia masa itu. Ishak tidak sembarangan mengambil perempuan Kanaan. Hal yang sama juga dia sesali ketika Esau mengambil istri dari perempuan negeri itu. Pengalaman Abraham bersama Allah dan panggilan Allah bagi keluarga dan keturunannya dengan sadar dan serius Abraham turunkan pada Ishak. Abraham secara sengaja, terencana memastikan panggilan Allah ini terjaga pada generasi sesudahnya. Seberapa serius kita, sebagai pasangan yang memiliki anak menyadari bahwa ada panggilan Allah bagi kita sebagai keluarga Kristen dan panggilan khusus yang Allah beri bagi keluarga kita masing masing. Seberapa terencana dan serius kita menurunkannya pada keturunan kita? Banyak pasangan masa ini sangat serius merencanakan pendidikan formal bagi anak-anaknya, bekerja sangat keras agar dapat memberi pendidikan yang sangat memadai buat anaknya. Berambisi agar anak-anaknya dapat bersaing di dunia profesi kelak, sukses dalam kehidupan dan menjadi orang terpandang. Disisi lain, ambisi dan keseriusan yang sama tidak tampak, saat orangtua memastikan anak cucunya menangkap panggilan yang sama, yaitu panggilan menjadi berkat bagi dunia. 4. Karya Keselamatan Mulai dalam Keluarga Sampai saatnya tiba, kembali Allah memberi agenda baru pada pasangan suami istri tua: Zakharia-Elisabet yang akan melahirkan dan mempersiapkan Yohanes pembaptis. Yohanes yang akan mempersiapkan kedatangan sang Mesias. Uniknya, Mesias ini pun hadir ke dunia dalam sebuah keluarga: keluarga Yusuf-Maria. Malaikat memberitahukan agenda penting ini pada Yusuf melalui mimpi : “ Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia, Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya” ( Matius 1: 20-25) Peran Zakharia dan Elisabet, Yusuf dan Maria dalam karya penyelamatan sudah selesai. Agenda Allah tidak berhenti disitu. Karya penebusan Kristus masih terus berlangsung bagi banyak orang. Amanat Agung-Nya memberi kita agenda baru: menjadikan segala bangsa murid-Nya. Ada banyak nama pasangan dalam sejarah gereja, jejak kaum martir, kisah misionaris dan teladan para pasangan kristiani lain yang dapat kita lihat. Pasangan dan keluarga yang setia menjalankan amanat agung tersebut di masanya. 5. Keluarga Menjadi Inti Pemuridan Seorang uskup muda yang menjadi penerus Paulus di masanya, adalah hasil dari pemuridan seorang ibu dan nenek: Eunike sang ibu dan Lois, neneknya. Timotius, berayahkan seorang Yunani dan ibu seorang Yahudi. Sejak kecil dia sudah mengenal kitab-kitab Ibrani yang diajarkan oleh ibu dan neneknya. Pengajaran dari keluarga inilah yang menuntun mereka ( dimulai dari ibu dan nenek lalu kemudian Timotius) kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus ( 2 Timotius 3:15). Timotius sudah diajar sejak kecil untuk menyukai kitab – kitab Ibrani sehingga dia menerima ajaran pemberitaan Paulus tentang Kristus sebagai sesuatu yang benar. Banyak dari kita adalah orang percaya yang lahir di tengah keluarga Kristen, dibesarkan di tengah keluarga dengan tradisi berdoa di pagi hari, sebelum dan sesudah makan, dan sebelum tidur. Disiplin pergi ke Sekolah Minggu setiap hari minggu. Semua rutinitas tersebut memberi sumbangsih pada pengenalan kita secara pribadi pada Kristus. Rutinitas tersebut membentuk tradisi dan rasa nyaman pada lingkungan yang membuat kita lebih mudah bertumbuh. Dengan kalimat lain, semua rutinitas yang diajarkan keluarga kita (yang sebagian kita hanya mengerti sebagai tradisi saja) tanpa kita sadari telah membuat kita menjadi tanah yang gembur untuk benih firman Tuhan mudah tumbuh. Alangkah baiknya jika keluarga tidak hanya memberikan tradisi/rutinitas namun juga pembelajaran firman seperti apa yang dilakukan Eunike dan ibunya Lois. Pengajaran Firman dimulai dari keluarga. Mungkin ini yang hilang pada keluarga-keluarga Kristen dimana mereka hanya mewarisi tradisi Kristiani tanpa pemuridan sehingga dengan mudahnya dihisap oleh perubahan budaya dunia yang masif, global tanpa batas. Seperti slogan yang kita sudah kenal : muridkan anak-anakmu sebelum dunia ‘memuridkan’ mereka. 6. Keluarga Menjadi Inti Misi Integral Adalah sepasang suami istri, pasangan Kristen pada jemaat mula-mula yang hidup pada masa kaisar Klaudius. Mereka pindah ke Korintus setelah semua orang Yahudi diusir meninggalkan Roma. Di rumah mereka inilah Paulus singgah dan tinggal bersama mereka selama di Korintus. Mereka adalah pasangan kaum profesional : pembuat tenda. Paulus dan pasangan ini bekerja bersama-sama. Kisah Para Rasul dan surat –surat Paulus kerap kali menyebut nama mereka: “sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila. Teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku (Roma 16:3-4). Setelah satu setengah tahun bersama Paulus di Korintus, pasangan suami istri ini turut bersama Paulus ke Siria. Paulus meninggalkan mereka di Efesus. Di sana pasangan ini memuridkan orang orang percaya baru. Kisah Para Rasul menceritakan bagaimana Priskila dan Akwila membawa Apolos ke rumah mereka dan mengajarnya dengan teliti tentang jalan Allah. Ketika itu mereka melihat ada pemahaman Apolos yang salah tentang keselamatan. Setelah pemuridan ini, Apolos kemudian menjadi pengajar injil yang sangat dipakai Allah (Kisah Para Rasul 18). Selain itu, 1 Korintus 16, menceritakan bagaimana rumah mereka dipakai menjadi rumah ibadah bagi jemaat di Asia kecil. Hal yang menarik adalah, nama mereka tidak pernah ditulis terpisah, mereka sebagai pasangan bersama Paulus menjadi penginjil keliling dan pemimpin gereja di jemaat-jemaat yang didirikan Paulus. Menurut tradisi gereja, pasangan ini dilaporkan mati syahid. Penutup Allah tidak menjadikan pasangan suami istri tanpa tujuan. Ada agenda yang Allah berikan pada tiap tiap pasangan dan keluarga. Agenda itu bukan sekedar untuk memperoeh keturunan tetapi untuk ambil bagian dalam misi Allah bagi dunia. Jika kita sudah dan sedang menjalankan agenda ini, seberapa serius kita sebagai pasangan memastikan panggilan dan visi yang Alah berikan ini berlanjut ke anak dan cucu kita. Akankah kita seperti Abraham : “Awas, jangan kau bawa anakku ke sana!” Mari meneladaninya dengan menjadi pasangan yang serius menjaga panggilan Allah dan memastikannya berlanjut pada keturunan kita. Mari kita menjalani kehidupan pernikahan kita dengan semangat: Kita bukan pasangan biasa. /stl *)Penulis adalah seorang konsultan ginjal dan hipertensi di RSUD Tarakan, Jakarta

  • Kehidupan yang indah: Eksposisi Efesus 4-6

    Dari tiga pasal terakhir surat Paulus kepada jemaat di Efesus ini paling tidak kita bisa belajar lima cara mempraktikkan kehidupan yang indah, yaitu hidup dalam: kesatuan (4;1-16), kesucian (4:17-5:17), keharmonisan (5:18-6:9), kemenangan (6:10-20) dan anugerah (6: 21-24). 1. Hidup dalam kesatuan (4:1-16) Kesatuan orang-orang percaya di dalam Kristus sudah merupakan suatu realita rohani. Tanggung jawab kita adalah menjaga dan memelihara kesatuan itu. Dalam menjalaninya kita perlu memahami empat fakta penting berikut ini: (1) Kasih karunia dalam kesatuan (4:1-3). Kesatuan bukanlah keseragaman. Kesatuan berasal dari dalam dan merupakan kasih karunia rohani, sedangkan keseragaman diakibatkan oleh desakan dari luar. Dalam memelihara kesatuan Roh, kita perlu memiliki sifat-sifat Kristen antara lain kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran dan damai sejahtera; (2) Dasar kesatuan (4:4-6). Ada tujuh kenyataan rohani yang menjadi dasar kesatuan orang percaya yaitu: Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan, Satu Tuhan, Satu Iman, Satu Baptisan, Satu Allah dan Bapa; (3) Karunia kesatuan (4:7-11). Allah telah memberi setiap orang sedikitnya satu karunia Roh dan harus digunakan untuk mempersatukan dan membangun Tubuh Kristus; (4) Pertumbuhan kesatuan (4: 12-16). Bukti pertumbuhan rohani adalah keadaan serupa dengan Kristus, adanya kestabilan, tidak diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran dan berpegang pada kebenaran dalam kasih. 2. Hidup dalam kesucian (4:17-5:17) Bagian ini diawali dengan peringatan yang tegas, yaitu, jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka, tetapi dengan cara hidup benar yaitu menjadi penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih. Jika kita anak-anak Allah, maka kita harus meniru Bapa kita. Ini adalah dasar bagi tiga peringatan untuk hidup suci dalam bagian ini; (1) Allah adalah kasih, oleh sebab itu kita sejatinya hidup di dalam kasih (5:1-2); (2) Allah adalah terang, oleh sebab itu sewajarnya kita hidup sebagai anak-anak terang (5:8); (3) Allah adalah kebenaran, oleh sebab itu kita hidup sebagai orang arif. 3. Hidup dalam keharmonisan (5:18-6:9) Paulus menyatakan bahwa rumah tangga dapat menjadi sorga di bumi jika setiap anggota keluarga dikuasai oleh Roh, hidup dengan sukacita, penuh pengucapan syukur dan merendahkan diri satu kepada yang lain. Paulus menyatakan bahwa ada tiga bukti kepenuhan Roh dalam kehidupan orang Kristen yaitu; (1) Bersukacita (5:19); (2) Penuh pengucapan syukur (5:20); (3) Merendahkan diri seorang kepada yang lain (5:21-33). Dalam rumah tangga suami sebagai kepala memimpin dan mengambil prakarsa, sama seperti Kristus mengambil prakarsa pada saat Ia datang menjadi Juruselamat dunia. Menjadi kepala keluarga juga ikhlas mengorbankan diri demi kekasih sama seperti Kristus mengorbankan diri-Nya untuk menyelamatkan mempelai-Nya. Tentang istri, Paulus menyebut, istri wajib tunduk dan suami wajib mengasihi sama seperti Kristus mengasihi. Tentang anak dan orang tua. Anak-anak dalam rumah tangga Kristen wajib menaati orang tuanya dan hal ini merupakan kewajaran secara alamiah dan sesuai dengan hukum serta Injil. Orang tua diingatkan menjalankan peran dengan menghormati kepribadian anak serta mendidiknya dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Untuk hamba dan tuan Paulus menyampaikan prinsip yang sama. Apabila anak wajib menaati orang tuanya, maka hamba juga wajib menaati tuannya di dunia dengan alasan yang sama, karena di belakang orang tua maupun tuan berdiri Tuhan di surga yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kepada para tuan diingatkan dengan jelas bahwa Yesus adalah Tuhan dari hamba maupun tuan, dan Ia tidak memandang muka. Sejatinya, inilah yang menjadi prisip-prinsip untuk hidup dalam keharmonisan. 4. Hidup dalam kemenangan (6:10-20) Dalam bagian penutup surat Efesus ini, Paulus mengajak kita untuk memahami dan menerapkan dua hal berikut agar hidup dalam kemenangan : (1) Mengenali dan menyadari keberadaan musuh. Peperangan kita bukan melawan manusia tapi kuasa kuasa roh jahat (6:10-12). (2) Menggunakan perlengkapan senjata Allah untuk melawan dan berdiri tegap (6:13-20) 5. Hidup dalam anugerah (6:21-24) Dalam bagian penutup ini Paulus memakai empat ungkapan yaitu damai sejahtera, kasih, iman dan kasih karunia. Yang paling mencolok adalah kasih karunia dan damai sejahtera. Keduanya muncul di awal dan di akhir suratnya. Keduanya dengan singkat meringkas amanat surat Efesus. Damai sejahtera atau perdamaian manusia dengan Allah dan perdamaian manusia dengan sesamanya adalah karya agung Yesus Kristus dalam kasih karunia-Nya bagi kita. Refleksi: Kehidupan yang indah hanya dapat kita nikmati dalam kasih karunia-Nya. Kiranya kasih karunia-Nya melimpah atas kita sehingga kita dapat menjalani hidup yang indah yaitu hidup dalam kesatuan, kesucian, keharmonisan, kemenangan dan anugerah-Nya. Referensi: Donald Guthrie at all (1994). The New Bible Commentary, IVP London /Tafsiran Alkitab Masa Kini ,Yayasan Komunikasi Binakasih /OMF Jakarta Donald Guthrie, Handbook to the Bible Pedoman Lengkap Pendalaman Alkitab, Kalam Hidup, Bandung John R.W. Stott (2000).The Message Of Ephesians The Bible Speak Today, IVP England/ Efesus, Yayasan Komunikasi Binakasih /OMF Jakarta Warren W W Outline and Comments, Calvary Baptist Church, Covington, Kentucky Warren W. Wiersbe (2001). Kaya di dalam Kristus. Tafsiran Surat Efesus, Yayasan Kalam Hidup, Bandung

  • Sekelumit Kisah Pandemi Covid-19 di Pedalaman Papua

    Segala sesuatu ada waktunya… Demikian sepenggal nasihat seorang bijak ribuan tahun yang lalu. Sangat tepat bila kita refleksikan sepanjang masa pandemi COVID-19 dalam dua tahun terakhir ini. Berikut, sebagian pengalaman yang akan saya bagikan selama melayani di pedalaman Papua di masa pandemi itu. Awal Masa Pandemi.. Panik? Ya, pada awalnya. Mengingat berita yang simpang siur di media sosial maupun televisi, semakin hari memunculkan angka-angka kesakitan dan kematian yang bertambah banyak bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Bagaimana dengan masyarakat Papua? Terbayang, suku-suku terpencil di dusun-dusun tempat kami melayani sebagai tenaga kesehatan. Melalui klinik-klinik sederhana, dimana sebagian besar dan itu menjadi satu-satunya tempat masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional yang bekerja dan tinggal bersama-sama penduduk lokal. Tercatat, ada Suku Nagi di Dusun Tumdungbon, Suku Mek di Desa Nalca, Suku Kimyal di Desa Korupun, Suku Koroway di Dusun Danowage, Suku Moi di Dusun Daboto serta Suku Lani di Desa Mamit. Kekuatiran akan tingginya risiko terinfeksi bagi sebagian besar mereka yang status gizi dan pola kebersihan yang masih sangat rendah terhadap infeksi ini. Terputusnya akses penerbangan perintis dari dan menuju pedalaman yang biasanya membawa masyarakat beserta bahan kebutuhan, membuat masyarakat semakin menderita. Beberapa orang yang masih kuat akan nekad berjalan kaki menerobos hutan, gunung dan sungai untuk bisa kembali ke kampung mereka di pedalaman. Penggalangan bantuan logistik berupa vitamin, alat kebersihan tubuh/lingkungan, obat-obatan, alat diagnostik serta bahan habis pakai pun segera dilakukan. Bukan hanya menyasar pada tenaga kesehatan namun juga masyarakat baik yang berada di kota maupun di pedalaman seperti Sentani, Dekai, Nabire, Wamena, Pegunungan Bintang, Abepura serta Jayapura. Pembagian masker (kiri) & sabun (kanan) bagi penduduk di dusun (gambar koleksi pribadi penulis) Serentak kami mengikuti arahan pemerintah pusat untuk menerapkan protokol kesehatan. Lingkungan klinik, sekolah serta lokasi tempat berkumpul warga segera kami bersihkan dengan disinfektan, terutama bila ada orang yang baru tiba dari kota. Baik petugas kesehatan, guru dan siswa sekolah mulai kami perkenalkan dan biasakan untuk memakai masker maupun faceshield disaat bekerja, mengukur suhu badan secara rutin baik untuk petugas kesehatan, siswa sekolah maupun masyarakat lainnya. Laporan Harian Perkembangan Kasus COVID-19 pada masing-masing kampung tempat kami melayani pun mulai kami susun dengan mengacu pada Data dan panduan Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Bantuan masker bagi penduduk di pedalaman Papua (gambar koleksi pribadi penulis) Pengukuran suhu tubuh pada siswa sebelum mulai belajar (gambar koleksi pribadi penulis) Pertengahan Masa Pandemi Di pertengahan 2021, angka kesakitan serta kematian akibat pandemik semakin bertambah. Salah satu penyebabnya karena cakupan vaksinasi COVID-19 di Papua masih belum mencapai target. Sepintas lalu situasi pandemi ‘dunia luar’ bisa dianggap ‘aman’ karena lokasi kami di pedalaman cukup terisolir dan hanya bisa dijangkau oleh pesawat perintis. Kerjasama dengan pemerintah daerah dalam melakukan pemeriksaan COVID-19, terutama bagi pasien yang diduga, penduduk yang baru datang dari kota maupun riwayat kontak erat terus menerus dilakukan selama hampir dua tahun. Termasuk didalamnya adalah dengan melakukan vaksinasi COVID-19 pada semua petugas di pedalaman. Pemeriksaan Antigen COVID-19 pada pasien kontak erat (Gambar koleksi pribadi penulis) Akhir Masa Pandemi Puji Tuhan, setelah hampir tiga tahun pemerintah daerah melalui dinas kesehatan bekerja keras dibantu dengan pihak lain seperti TNI/POLRI serta NGO akhirnya upaya meningkatkan cakupan vaksinasi COVID-19 di Papua-pun semakin menunjukkan hasil. Pada akhir April 2022 cakupan vaksin dosis pertama hampir memenuhi target, dimana dosis kedua dan booster-pun semakin hari pencapaiannya merangkak naik. Beberapa penyebab mengapa vaksinasi COVID-19 di Papua masih belum mencapai target adalah kurangnya pemahaman yang benar dari sebagian besar masyarakat, terutama di pedalaman Papua. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti belum adanya tenaga kesehatan di beberapa wilayah pedalaman sehingga masyarakat tidak mendapatkan informasi dari sumber yang terpercaya. Penduduk yang datang dari kotapun belum memahami dengan benar akan pandemi yang sedang berlangsung. Selain itu minimnya akses informasi yang diperoleh penduduk di pedalaman, sehingga tidak mendapatkan informasi yang benar. Sebagai contoh, di wilayah pelayanan Siloam, awalnya hanya komunitas pegawai yang menjalankan protokol kesehatan, namun dengan terus melakukan edukasi dan sosialisasi baik dengan Bahasa Indonesia maupun bahasa lokal, secara perlahan komunitas lainnya juga ikut menjalankan protokol kesehatan. Pelayanan program kesehatan rutin seperti imunisasi, pelayanan siswa sekolah, pencegahan penyakit akibat infeksi tertunda karena fokus dan sarana pemerintah diprioritaskan untuk penanganan COVID-19. Saat ini diperlukan kerja keras bersama untuk mengejar ketertinggalan pelayanan program kesehatan rutin, agar masyarakat tidak menderita lebih lanjut. Refleksi Pribadi Melihat kondisi di pedalaman, terutama di lokasi tempat Siloam melayani yaitu di enam dusun pada lima kabupaten di Papua; hingga tulisan ini disusun belum ditemukan kasus terkonfirmasi maupun kematian akibat infeksi COVID-19. Bagi saya pribadi, hal ini menunjukkan pemeliharaan dan penjagaan Tuhan yang nyata, khususnya atas penduduk di pedalaman Papua. Bukan hanya bagi masyarakat dan petugas, penjagaan dan pemeliharaan Tuhan juga nyata atas keluarga masing-masing di tempat asal mereka. Kebutuhan tenaga kesehatan di pedalaman semakin besar pada saat ini. Keberadaan tenaga kesehatan di tempat diharapkan bisa mempercepat informasi dari pusat hingga diterima masyarakat di pedalaman. Dengan demikian pencegahan terhadap dampak buruk kejadian pandemic kedepannya dapat diminimalisir. Yeremia 30:17 “Sebab Aku akan mendatangkan kesembuhan bagimu, Aku akan mengobati luka-lukamu, demikianlah firman Tuhan, sebab mereka telah menyebutkan engkau: orang buangan, yakni sisa yang tiada seorangpun menanyakannya.” Kami-pun semakin menyadari bahwa sebagai manusia yang lemah, semakin kita mengakui kelemahan dan kekurangan kita, kitapun semakin menyaksikan kekuatan Tuhan yang sungguh nyata dalam memelihara, menjaga dan membimbing kita. Tuhan sendiri yang sedang bekerja dan ini adalah pelayan-Nya pada jiwajiwa yang Dia kasihi. Dengan demikian kami semakin percaya bahwa kasih Tuhan sangatlah besar atas Tanah Papua. Allah sedang bekerja dengan cara yang luar biasa untuk memulihkan serta memperluas Kerajaan-Nya di tempat ini. 2 Korintus 12:9-10 “(9) Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (10) Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” POKOK DOA Terbentuknya Persekutuan Dokter Papua (lintas denominasi/lokasi bekerja/organisasi/ kewarganegaraan/suku, dan sebagainya) Situasi keamanan di Papua yang kondusif, sehingga dokter dan tenaga kesehatan lainnya bisa bekerja dengan tenang Anak-anak Tuhan yang berprofesi sebagai dokter bersedia untuk bekerja dan melayani di pedalaman; menjadi garam dan terang untuk mentransformasi Papua melalui bidang kesehatan. Seperti Tuhan sudah melindungi dari pandemi COVID-19 maka Tuhan juga akan menjaga penduduk di Papua dari infeksi hepatitis akut yang baru ditemukan. *) Penulis saat ini bekerja dan melayani di Siloam Clinic Papua. /stl

  • Alumni Muda di tengah Pandemi: “You are the potter, I am the clay"

    Perjalanan menjadi dokter memang tidak mudah. Di akhir pendidikan yang 6,5 tahun itu, setelah lelah menjawab pertanyaan “kamu kapan lulus?”, akhirnya tahu bahwa pertanyaan “habis ini kamu mau apa?” lebih menakutkan daripada pertanyaan yang menjemukan hati tadi. Akhirnya kita berhadapan dengan pilihan dan persimpangan hidup yang seperti tiada habisnya. Mau bekerja? Mau magang? Mau menikah? Bekerja di mana? Bekerja sebagai apa (kedokteran ternyata tidak hanya sebagai klinisi/spesialis)? Mempersiapkan sekolah lanjutan apa? Sekolah di mana? Dan lain-lain. Dan di saat kita berpikir semuanya tergantung pada kita dan usaha kita, Allah hadir dan menyatakan diri-Nya sebagai: Allah. Dan, saya mulai menyadari, hidup ini sesungguhnya bukan tentang memilih, tapi berespon. Sebagai lulusan muda, wajar jika ambisius merencanakan masa depan. Namun percayalah bahwa Allah senantiasa menuntun langkah hidup anak-anak-Nya. Jika kita tidak bisa bekerja di “tempat kerja idaman” , tidak apa-apa, karena tidak ada satu tempat kerja yang paling ideal; tidak ada satu tempat kerja yang paling tepat. Di mana pun Tuhan menempatkan kita saat ini, itulah tempat yang tepat bagi kita. Itulah tempat di mana Tuhan mengutus kita untuk bekerja bersama-Nya. Dengan segala kesulitan dan tantangan yang kita hadapi, dengan segala “ketidaksempurnaan”nya, situasi dan kondisi itu yang Tuhan pakai untuk membentuk kita untuk semakin serupa Dia. Bukan tentang pilihan mana yang paling benar, tapi apakah kita menjalaninya dengan sikap hati yang benar. Bagi para alumni muda, masa transisi ke dunia kerja bukan hal yang mudah. Tidak jarang kita diperhadapkan dengan kesulitan moral, etika, juga intelektual. Saat sekolah, kita hanya fokus mempelajari apa yang benar. Namun di dunia kerja sering kali kita diperhadapkan dengan kondisi yang mempertanyakan: apa yang sungguh-sungguh benar. Kita membutuhkan komunitas untuk menghadapi kesulitan realita dunia kerja. Namun inilah realita dunia, di mana Tuhan menempatkan kita untuk bekerja bagi-Nya. Bagaimana kita menjalankan peran kita sebagai anak-anak-Nya di tengah dunia yang berdosa ini? Pertanyaan besar ini, tidak untuk dijawab seorang diri. Allah memanggil gereja-Nya, orang Kristen tidak dimaksudkan untuk bekerja soliter. Orang Kristen membutuhkan komunitas untuk bergumul bersama, bertumbuh bersama. Di tengah pandemi Covid-19 bergereja menjadi prioritas kesekian. Banyak hal yang terdampak, dan banyak yang mengeluh ketika mereka tidak lagi dapat bekerja, mencari nafkah, pergi makan keluar, travelling, atau bahkan sekadar bertemu kawan lama. Namun adakah yang mengeluh karena kita tidak lagi dapat beribadah? Pandemi ini secara tidak langsung Tuhan pakai untuk menyatakan ilah-ilah dalam hati kita. Apa yang paling kita takutkan untuk kehilangan? Apa yang kita anggap penting dan harus diperjuangkan? Jarang ada orang, bahkan dikalangan Kristen sekalipun, yang sungguh-sungguh menganggap serius pertumbuhan imannya. Ironis ketika melihat kita berani keluar untuk sekadar ngafe, atau memikul risiko besar ketika memeriksa pasien covid dengan dalih “ini pekerjaanku” (yang bukan salah pada dirinya sendiri, namun bukan menjadi inti poin kita kali ini), namun datang ke gereja beribadah menjadi hal yang seakan haram. Padahal dampak ibadah terhadap kehidupan seorang Kristen begitu sentral dan krusial. Saya sendiri merasakan ketika gereja lokal ditutup, begitu cepat rohani saya menjadi kering. Begitu mudah untuk disilaukan dengan kemuliaan semu dunia ini. Dan begitu dahsyat dampaknya dalam pekerjaan saya. Pemahaman serta kedekatan relasi kita dengan Allah menjadi poros dalam berputarnya roda kehidupan kita. Ketika poros bergeser, roda tidak mampu berputar dengan semestinya. Setiap masa hidup ada kesulitan tersendiri. Untuk seorang muda, masa yang krusial untuk menetapkan Allah yang sejati dalam diri kita. Saat-saat membangun masa depan, pertanyaannya masa depan seperti apa yang kita rancangkan? Pergumulan kita ini, untuk kepentingan sendiri? Atau untuk kerajaan-Nya? Mari bertanya kembali pada diri sendiri, apa yang menjadi kesenangan hati kita? Apa yang menjadi kerinduan hati kita? Mari cintai Dia kembali dengan sepenuh hati kita. Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! (Pengkotbah 11:9) *Penulis saat ini bekerja dan melayani di RS Bethesda Serukam

  • Peran dan Doa yang Indah: Eksposisi Efesus 3

    Dari surat Paulus dalam Efesus 3 ini, paling tidak kita bisa belajar dua hal yaitu tentang peran dan doa yang indah. 1. Peran yang istimewa (ay 1-13) Pada bagian ini, Paulus memperkenalkan dirinya dan menjelaskan perannya yang indah nan istimewa dalam rencana Allah bagi non -Yahudi. Ia menyebut dirinya orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah. Ia yakin bahwa seluruh hidupnya dikuasai Kristus, termasuk masa di penjara, karena ia memandang dirinya “tawanan Kristus” dan “hamba Kristus”. Tiga kali dalam perikop singkat ini Paulus bicara tentang “rahasia” (ayat 3,4 dan 9) dan dalam ayat 6. Paulus nampaknya menyamakan “rahasia” itu dengan “berita Injil”. Penyamaan rahasia dan pemberitaan Injil itu mempunyai arti khusus. Pada hakikatnya rahasia adalah kebenaran yang dinyatakan Allah kepada Paulus dan Injil adalah kebenaran yang diberitakan oleh Paulus. Paulus meyakini bahwa Injil dinyatakan kepadanya pada gilirannya dia wajib mengkomunikasikannya kepada orang lain. Paulus menalar perintah dan pelayanan yang dipercayakan kepadanya ini merupakan peran yang indah nan istimewa yang dianugerahkan kepadanya karena sesungguhnya dia merasa tidak layak sebagaimana diakuinya bahwa dia paling hina di antara segala orang kudus (ayat 8). Selanjutnya Paulus menjelaskan pelayanan memberitakan Injil itu dalam tiga tahap, yaitu: Memberitakan kekayaan Kristus yang tidak terduga kepada non Yahudi (ayat 8), Menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang berabad-abad tersembunyi dalam Allah yang menciptakan segala sesuatu (ayat 9); Memberitahukan hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga (ayat 10). 2. Doa yang Indah (ayat 14-21) Pada bagian ini Paulus memulainya dengan kalimat, “itulah sebabnya,…” hal ini memperlihatkan dasar Paulus berdoa sangat jelas yaitu karya Kristus yang mendamaikan dan pemahaman Paulus tentang karya tersebut. Selanjutnya Paulus berkata, “aku sujud kepada Bapa.” Biasanya, orang Yahudi berdiri bila berdoa tapi kali ini sujud, menunjukkan kekhususan atau semangat yang luar biasa. Berikutnya kita melihat isi doanya. Ia berdoa supaya para pembacanya dikuatkan oleh kehadiran Roh Kudus di dalam batin mereka; supaya mereka berakar serta berdasar di dalam kasih; supaya mereka memahami betapa besar kasih Kristus sekalipun itu melampaui segala pengetahuan dan supaya mereka dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Keempat permohonan Paulus diapit oleh keberadaan Allah dalam menjawab doa. Allah dapat melakukan, Dia bekerja, tidak malas atau non aktif. Allah dapat melakukan apa yang kita doakan, Ia mendengar dan menanggapi doa. Ia dapat melakukan apa yang kita pikirkan, karena Ia memahami pikiran kita bahkan apa yang kadang-kadang muncul ekstrim dalam benak kita, sehingga kita tidak berani memintanya. Allah dapat melakukan segala hal yang kita doakan atau pikirkan. Allah dapat melakukan lebih tinggi daripada yang kita mohonkan karena kehendak-Nya melampaui pengharapan kita. Allah dapat melakukan lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan karena Ia menyampaikan kasih-Nya kepada kita tanpa kalkulasi matematik atau hitung-hitungan. Dia sangat mengasihi kita karena itu Dia selalu memberikan kepada kita yang terbaik, lebih baik dari yang dapat kita pikirkan dan doakan. Refleksi Betapa bersyukurnya kita dipercayakan Injil-Nya. Mari kita hidupi peran yang indah nan istimewa sebagai pemberita Injil dengan tekun dan sukacita. Mari beritakan kebenaran Allah dan bagikan kekayaan Kristus. Mari kita hidupi doa yang indah, doa yang dilakukan dengan pengenalan yang benar akan Allah. Doa yang dijawab oleh-Nya melampaui dari apa yang kita doakan dan pikirkan. /stl Referensi: Donald Guthrie at all (1994). The New Bible Commentary, IVP London /Tafsiran Alkitab Masa Kini ,Yayasan Komunikasi Binakasih /OMF Jakarta Donald Guthrie, Handbook to the Bible Pedoman Lengkap Pendalaman Alkitab, Kalam Hidup, Bandung Jhon R.W Stott (2000).The Messagr Of Ephesians The Bible Speak Today, IVP England/ Efesus, Yayasan Komunikasi Binakasih /OMF Jakarta Warren W W Outline and Comments, Calvary Baptist Church, Covington, Kentucky Warren W. Wiersbe (2001). Kaya di dalam Kristus. Tafsiran Surat Efesus, Yayasan Kalam Hidup, Bandung

  • Modelling Grace in Workplace

    Apakah kita membutuhkan kasih karunia dalam pekerjaan, apakah kasih karunia Allah cukup? Jawabannya: Ya! Selama bekerja di RSU Bethesda Serukam, saya telah menikmati kasih karunia demi kasih karunia. Bekerja di RS misi itu tidak hanya terpanggil, melainkan juga untuk mengalami kasih karunia. Panggilan Allah tentu penting karena menguatkan saat goyah dan sulit. Namun, kita juga melayani karena mengalami kasih karunia, penebusan dan pengampunan yang Tuhan berikan (Efesus 1:7) . Saya teringat, ketika Yesus menjelaskan kepada Simon orang Farisi mengapa dia tidak melayani atau memberi lebih dibandingkan seorang perempuan pendosa, karena sedikit yang dia rasakan akan arti pengampunan Allah (Lukas 7:36-50). Kalau kita memaknai pengampunan Allah, rasanya tidak ada yang terlalu mahal untuk diberikan atau ditinggalkan dalam melayani Tuhan. Saat menjadi PPDS, saya belajar di berbagai rumah sakit besar rujukan nasional dengan alat yang bagus dan canggih. Namun, saat kembali ke Serukam, saya harus bekerja dengan alat yang tertinggal dan kebanyakan bekas pakai. Alat rontgen pun sumbangan yang sudah tidak diproduksi lagi. Kesulitan dalam kalibrasi dan kalau rusak sulit diperbaiki serta petugas kalibrasi kadang kesulitan menemukan spesifikasi alat di rumah sakit misi karena sudah kuno. Mereka pun rutin berdoa supaya Tuhan pelihara alat-alat yang sudah tua tersebut. Namun, dalam keterbatasan itu, Tuhan terus bekerja. Diagnosis yang sulit dapat dibuat dan kesembuhan hanya anugerah Tuhan karena pasien tidak mau dikirim ke RS yang lebih lengkap. Tuhan memberikan hikmat untuk bekerja dengan alat yang terbatas. Kondisi ini memaksa kami untuk bergantung, bekerja dan berdoa kepada Tuhan. Seperti Musa, melukiskan hidup manusia yang kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan, namun melihat jejak kemurahan Tuhan yang memelihara dan meneguhkan setiap pekerjaan yang dilakukan (Mazmur 90: 10, 17). Seorang rekan kerja memberi alasan mengapa bekerja di Serukam, menurutnya, karena ingin mengalami hidup di dalam mujizat Allah. Mengalami hidup dalam kasih karunia Allah karena kesulitan membawa anak-anak-Nya meminta pada Bapa pemilik pelayanan. Pihak rumah sakit sendiri hampir jarang tanpa kesulitan operasional. Bahkan beberapa bulan ini tanpa spesialis anak dan interna, ada defisit yang besar tiap bulan, tetapi mengalami sukacita melihat pemeliharaan Allah sampai hari ini. Pernyataan Nabi Habakuk (Habakuk 3:17-19) mewakili perasaan dan iman kami untuk melihat masa depan dalam pergumulan masa kini RS misi dengan tantangan BPJS, era digital, serta kesulitan mendapatkan tenaga spesialis yang mau bekerja di pedalaman. Seorang hamba Tuhan mengatakan, rumah sakit misi Serukam tanpa orang-orang yang terpanggil suatu saat bisa menjadi monumen. Alumni pelayanan kampus pasti merasakan pelayanan yang dinamis dan menantang di masa mahasiswa. Namun, melayani di kampung beda warna, terasa bergerak lambat dan berhadapan dengan sumber daya manusia yang serba kurang. Nakes yang menjadi dosen di pedalaman akan mengeluh saat mengajarkan mahasiswa untuk kembali pada hal-hal dasar. Dalam situasi ini, Tuhan mengajarkan untuk melambat, sabar menerima keterbatasan orang-orang yang bekerja bersama. Melalui Zefanya 3:19-20, Tuhan mengingatkan saya, bahwa Ia memperbaharui dan memakai yang lemah dan pincang. Kelemahan dan keterbatasan manusia di tangan Tuhan disempurnakan dan dipulihkan. Hidup dalam keterbatasan adalah cara yang efektif untuk menunjukan Allah yang tidak terbatas dan belajar kesabaran Allah menghadapi kelemahan kita sendiri. Sebagai tenaga medis, pekerjaan rutin kita berhadapan dengan penderitaan dan kesakitan manusia. Kita butuh belas kasihan dan hati yang mengasihi. Rasanya tidak pernah berlayar di laut tenang, apalagi sambil menjaga hati tetap berbelas kasihan dan berbeban memberitakan Injil keselamatan. Ada Tuhan yang memulihkan dan menguatkan melalui kasih persaudaraan dan persahabatan. Kesatuan penting dalam pelayanan ini, seperti doa Kristus untuk murid-Nya agar menjadi satu supaya dunia percaya (Yohanes 17:21). Ternyata, bekerja jauh dari keluarga, mengajari saya, belajar membuka hati untuk melayani bersama keluarga dalam Kristus dan bertumbuh dalam kesatuan. Bagaimana RS misi tanpa dokter misionaris asing dan di era sekarang? Kadang masa keemasan generasi sebelumnya kita kenang dan banggakan. Rumah sakit misi Serukam pasti akan dibandingkan dan teringat jaman banyak dokter asing dulu bekerja. Selalu merasa kehilangan sosok dr. Wendell Geary yang menjadi teladan dan jejak pelayanan pada pasien-pasien maupun dokter yang pernah melayani bersama. Kita harus akui dari jaman ke jaman, terjadi banyak perbedaan dan kualitas pelayanan. Tampaknya tidak sebagus dan semegah dahulu. Saya belajar dari kitab Hagai, ketika Bait Allah dibangun zaman Salomo berbeda sekali hasil atau kualitas bangunan dengan pada zaman Zerubabel (Hagai 2:4). Namun, bukan pada hasil bangunannya, melainkan pada Allah yang sama yang memanggil, memberi mandat membangun, menyediakan segala sesuatunya, menguatkan dan yang menyertai. Ketaatan pada Tuhan dan mengerjakan segala sesuatu dalam pimpinan Tuhan serta standar-Nya, harus sama pada tiap generasi. Akhirnya, saya rasa bukan kita ada di RS mana dan seperti apa fasilitasnya; kebutuhannya atau keahlian kita, namun karena ketaatan kita pada panggilan Allah dan mengikut Dia dengan setia di tempat kita masing-masing. Bekerja dengan penyertaan, penguatan dari Tuhan dan mengalami kasih karunia sehingga bisa mengabarkan dan menjadi saluran kasih karunia. *Penulis bekerja sebagai dokter radiologi di RS Bethesda Serukam

  • What’s so Amazing about Grace (Keajaiban Kasih Karunia)

    Judul Buku: Penulis : Philip Yancey Penerbit : Omid Publishing House Halaman : 359 halaman Sebenarnya buku ini bukanlah buku baru. Sebagian dari kita mungkin masih ingat dengan cover terbitan sebelumnya. Nah, menyambut Paskah, buku best-seller ini kembali diangkat, karena, ini salah satu buku terbaik yang pernah berbicara tentang “kasih karunia”. Kasih karunia, sebuah kata yang paling merepresentasikan alasan mengapa Tuhan Yesus hadir, dan kata itu juga menjadi pusat Kekristenan. Namun orang Kristen malah kerap kali lupa menghidupi value dari kata ini dalam pekerjaan, percakapan, bahkan pelayanan sekalipun. Buku ini berisi banyak sekali kisah dan perenungan penulis mengenai kata yang ajaib ini. Dimulai dengan cerita-cerita yang sangat menyentuh tentang betapa kompleksnya Kasih Karunia Allah itu, diikuti dengan bagian-bagian yang menceritakan kisah orang-orang yang telah mencontoh Kristus dengan melakukan pengorbanan, pengampunan, dan keputusan yang menentang logika. Ada juga berbagai topik dan perdebatan antara kebenaran, penerimaan, dan kasih yang disajikan sebagai tantangan bagi para pembaca. Sebagai konsep yang memang tidak logis, kasih karunia membutuhkan penjelasan yang bisa diterima, baik oleh akal kita, maupun ketika kita ingin menceritakannya kepada orang lain. Bagaimana mungkin bisa ada sebuah pengampunan, bahkan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan? Apalagi secara cuma-cuma! Kalau semudah itu kita mendapatkan pengampunan, lalu silahkan saja berbuat dosa sepuasnya? Nah, bagian tengah dari buku ini menjadi sebuah jawaban yang dalam, jelas, dan memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selain itu, buku ini sangatlah komprehensif. Pada bagian akhir, penulis mengajak kita menjadi bijak di tengah kehidupan; sistem; legalisme, yang mungkin miskin akan kasih. Bagaimana menjadi pelaku firman, tapi tidak terjebak dalam sikap menghakimi; menjadi pewarta kasih/garam dunia, tanpa perlu menjadi sama dengan dunia. Ya! Buku ini salah satu buku yang everlasting dan wajib untuk kita simak. Selamat membaca! /eab

  • Karya yang Indah – Eksposisi Efesus 2

    Dari surat Paulus dalam Efesus 2, kita bisa belajar karya Allah yang indah dan menakjubkan. Karya-Nya begitu nyata, khususnya dalam dua kondisi serius yang kita hadapi: Pertama, karya-Nya yang indah dalam menganugerahkan keselamatan kepada kita (Efesus 2:1-10) Pada bagian ini Paulus mengawali penjelasannya dengan membukakan betapa mengerikan dan menyedihkan kondisi segenap umat manusia yang belum mengalami karya penebusan-Nya. Dikatakannya kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu menaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Kondisi manusia mati, diperbudak, dan di bawah hukuman. Tetapi, karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, Allah menghidupkan, membangkitkan dan memberikan tempat bagi kita bersama-sama dengan Kristus. Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah. Karena kasih karunia kamu diselamatkan, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kasih karunia Allah, kita diselamatkan melalui iman. Semuanya pemberian cuma-cuma dari Allah, bukan jasa kita, bukan hasil usaha kita atau upah karena perbuatan baik dan amal kita. Itu sebabnya tidak ada tempat bagi kemegahan manusia. Manusia mustahil mencapai keselamatan. Allahlah yang berprakarsa. Dan karena itu, kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. Semua itu adalah karya-Nya. Dengan karya-Nya yang indah, terjadi perubahan yang hakiki dimana dahulu kita dijerat Iblis dan hidup dalam pelanggaran dan dosa, sekarang kita hidup dalam pekerjaan baik yang sejak dari keabadian telah direncanakan Allah supaya kita melakukan dan menghidupinya. Kedua, karya-Nya yang indah dalam mendamaikan dan mempersatukan kita (Efesus 2:11-22). Paulus mengemukakan riwayat hidup rohani pembaca suratnya yang non Yahudi dalam tiga tahapan, dimulai dari tahapan awal yaitu dahulu mereka jauh dari Allah dan umat-Nya. Lalu masuk tahapan kedua dimana melalui kematian di kayu salib, Kristus mendamaikan Yahudi dengan non Yahudi dan mendamaikan keduanya dengan Allah dan menciptakan manusia baru, berlanjut ke tahapan tiga sehingga tidak lagi jauh dari Allah, melainkan telah menjadi warga umat dan keluarga Allah. Paulus mengingatkan bahwa mereka pernah teralienasi atau terkucil dari Allah dan umat-Nya. Tetapi Kristus telah mati untuk mendamaikan mereka dengan Allah dan umat-Nya. Sekarang mereka bukan orang asing lagi, melainkan warga dari kerajaan Allah. Mereka menjadi anggota keluarga yang dikasihi-Nya. Dengan kata lain, dahulu mereka jauh terasing, kini telah didamaikan, dan Kristus telah membawa mereka ke dalam komunitas keluarga baru. Mari kita amati kondisi gereja saat ini, apa yang saudara temui dan alami? Apakah saudara menemukan kecamuk alienasi, perselisihan dan perpecahan? Bagaimana dengan praktik mengucilkan orang lain? Bagaimana dengan kendala struktur organisasi, rasisme, daerahisme, sukuisme, perseteruan pribadi akibat keangkuhan, prasangka, iri hati, ketidaksudian mengampuni, perbedaan status sosial, menganggap gereja sendiri adalah yang paling benar dan paling hebat sehingga terjebak ke dalam perangkap bidat, tidak mengindahkan kesatuan dan universalitas jemaat Kristus? Jika demikian keberadaan gereja tentu sangat mengecewakan-Nya dan sangat bertentangan dengan karya-Nya yang mendamaikan dan mempersatukan Selain itu, hal-hal tersebut tentu merusak citra jemaat yang ideal dan menjadi batu sandungan. Allah menginginkan umat-Nya menjadi model nyata dari keselamatan yang mendemonstrasikan dalam kehidupan nyata kabar baik tentang pendamaian dan rekonsiliasi. Allah menginginkan jemaat menjadi satu persekutuan yang utuh, akrab dan giat menghidupi firman-Nya sebagai dampak karya Kristus. Persekutuan yang demikian diharapkan mencolok sebagai ciri khas dan model dari komunitas keluarga baru yang terdiri dari orang-orang yang telah ditebus dan didamaikan serta yang mengasihi Allah dan saling mengasihi satu sama lainnya. Hal itu sejatinya dapat disaksikan oleh dunia ini, sehingga dengan demikian dunia ini akan tergerak untuk mempercayai Kristus dan memuliakan-Nya sebagaimana seharusnya. Refleksi Mari kita syukuri karya-Nya yang indah dan menakjubkan itu. Tetap kerjakan keselamatan yang telah dianugerahkan bagi kita dengan melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya dan menjalaninya dalam persekutuan dan kesatuan jemaat yang utuh demi kemuliaan-Nya. Referensi: Donald Guthrie at all, The New Bible Commentary, IVP London /Tafsiran Alkitab Masa Kini (1994), Yayasan Komunikasi Binakasih /OMF Jakarta Donald Guthrie, Handbook to the Bible Pedoman Lengkap Pendalaman Alkitab, Kalam Hidup, Bandung John R.W Stott, The Messagr Of Ephesians The Bible Speak Today, IVP England/ Efesus, (2000), Yayasan Komunikasi Binakasih /OMF Jakarta Warren W W Outline and Comments, Calvary Baptist Church, Covington, Kentucky /stl

  • Polusi Udara dan Pandemi Covid-19

    Melalui pandemi Covid-19, masyarakat kini lebih sadar dan menaruh perhatian pada masalah kesehatan. Terkait sifat airborne Covid-19, kualitas udara menjadi hal yang sangat diperhatikan dalam keseharian. Namun, seberapa familiar kita dengan dampak kualitas udara terhadap kesehatan manusia? Pastinya sudah kita sadari bahwa udara yang kita hirup dari waktu ke waktu akan berdampak pada kesehatan. Sayangnya, bahaya polusi udara seringkali terabaikan; mungkin kita anggap hal yang sudah biasa saja, toh tidak ada dampak akut yang dirasakan, dan juga rasanya apatis mengingat minimnya solusi nyata yang dapat diambil. Padahal, analisis Global Burden of Disease tahun 2019 menempatkan polusi udara sebagai bahaya lingkungan terbesar bagi kesehatan manusia, sejajar dengan faktor risiko kesehatan lainnya seperti merokok dan diet tidak sehat. Lebih mengkhawatirkan lagi, terdapat disparitas beban polusi udara pada negara dengan indeks sosiodemografis menengah ke bawah. Fenomena ini dapat dijelaskan oleh pesatnya laju perkembangan ekonomi di negara-negara berkembang, disertai tingginya aktivitas manusia dan proses urbanisasi besar-besaran. Selain beban pajanan (exposure) yang lebih tinggi, populasi di negara berkembang juga lebih rentan karena situasi double dan triple burden of diseases. Akibatnya, polusi udara semakin eksis sebagai kontributor mortalitas dan morbiditas di negara-negara tersebut. Memangnya, seberapa serius sih masalah polusi udara dan bagaimana efeknya terhadap kesehatan manusia? Secara umum, WHO memperkirakan bahwa 9 dari 10 manusia terpapar udara dengan kadar polutan di atas ambang yang disarankan. Polusi udara pun berkontribusi terhadap 7 juta kematian prematur setiap tahunnya. Analisis dampak kesehatan polusi udara umumnya dikaitkan dengan penyakit jantung iskemik, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, infeksi saluran napas bawah, dan kanker paru. International Agency for Research on Cancer mengklasifikasikan polusi udara sebagai IARC group 1 (karsinogenik bagi manusia). Dalam perkembangannya, polusi udara juga dikaitkan dengan outcome negatif dari kehamilan seperti kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah, maupun penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus tipe II dan Alzheimer’s. Dapat kita simpulkan bahwa polusi udara memiliki skala pajanan yang sangat luas dan menimbulkan efek negatif bagi seluruh kelompok populasi. Lebih jauh lagi, polusi udara juga secara tidak langsung dapat mempengaruhi status kesehatan individu maupun populasi. Misalnya, keberadaan polutan di udara juga berkaitan dengan proses perubahan iklim dengan semua efek katastropiknya bagi kesehatan. Selain itu, polusi udara juga mempengaruhi perilaku kesehatan suatu komunitas, misalnya membuat masyarakat enggan untuk berolahraga atau melakukan aktivitas fisik di luar ruangan. Terkait Covid-19, banyak studi menunjukkan asosiasi antara polusi udara dan peningkatan transmisi, tingkat keparahan, dan mortalitas akibat Covid-19. Jangan lupa, polusi udara di dalam ruangan juga perlu diwaspadai dengan semakin panjangnya durasi kita berada di dalam ruangan disertai banyaknya aktivitas disinfeksi yang sudah menjadi rutinitas baru di masa pandemi. Pada akhirnya, solusi masalah polusi udara memang tidak berada di tangan individu. Sebagai praktisi kesehatan, bagian kita adalah menyadari besarnya risiko kesehatan yang ditimbulkan polusi udara. Dengan demikian, kita dapat memperhitungkan faktor risiko pasien dengan lebih komprehensif, menyampaikan komunikasi risiko dengan efektif, dan memberikan manajemen yang tepat sasaran. Lebih jauh lagi, berbekal scientific evidence, profesional medis dapat menjadi advokat bagi individu, komunitas, hingga skala yang lebih besar untuk perbaikan kualitas udara di masa yang akan datang. *) Penulis menyelesaikan studi di Occupational and Environmental Health di Monash University. Saat ini bekerja sebagai occupational health service provider di suatu perusahaan multinasional. /stl

  • Kamp Medis Nasional Mahasiswa XXII

    KMdNM XXII tahun 2021 mengambil tema “Leaders After God’s Own Heart” yang dilaksanakan selama 4 hari, pada tanggal 29 Juli - 1 Agustus 2021 secara online melalui media Zoom maupun Youtube. Melalui KMdNM XXII, peserta mempelajari lebih dalam dari perjalanan hidup Daud. Yang terbagi dalam 3 eksposisi yang semuanya akan disampaikan oleh Pdt. Alex Nanlohy, S.Sos , MA. Melalui sesi Identity and Spirituality, peserta disegarkan kembali mengenai siapa diri mereka yang sebenarnya di hadapan Allah dan perspektif yang benar dalam Tuhan. Peserta juga belajar tentang spiritualitas Daud yang begitu kuat dalam iman dan penyerahan dirinya kepada Allah, bagaimana proses pembentukan spiritual leadership Daud, serta kerendahan hati dan kepemimpinan yang menantikan Allah sebelum bertindak Dalam sesi Struggles, Victories, and Pitfall peserta mempelajari perjuangan iman, kesabaran dan kerendahan hati Daud dalam menghadapi berbagai tantangan, memahami akar kejatuhan Daud ke dalam dosa dan pencobaan-pencobaan yang dapat membuatnya jatuh dalam dosa, sikap kerendahan hati Daud ketika ditegur Tuhan melalui nabi Nathan, bagaimana Daud belajar dari kesalahannya, mengalami pengampunan, dan taat menerima konsekuensi kesalahannya. Melalui sesi The Man After God’s Own Heart - Character of Servant Leader peserta belajar kedalaman relasi Daud dengan Tuhan, belajar untuk setia dan taat ditengah berbagai tantangan dalam proses pembentukan nya sebagai seorang pemimpin, dan arti kepemimpinan yang melayani. Selain itu, untuk membantu peserta mengaplikasikan firman yang didapat, terdapat sesi Talkshow/Pleno, tentang Pemuridan, Emotionally Healthy Leader, dan Panggilan. Selain itu, ada pula tujuh seminar pilihan yakni Urban Poor, Rural Mission/Mission Hospital, Dosen/Peneliti, Instansi Pem/NGO, Manajemen Instansi Kesehatan, Neglected People, dan Perawat, serta tujuh workshop yaitu Time Management & Financial Planning, Manajemen PMK, Pemuridan P1-P4, Konseling medis, Acara PMK yang kreatif, Medical Leadership and Team Work, Whole patient care yang akan dilakukan dalam recorded session sehingga dapat diakses melalui YouTube. Pada akhir setiap hari, peserta akan diberikan waktu untuk berdiskusi dan merenungkan firman yang diperoleh selama hari tersebut di dalam Small Group Discussion yang didampingi kakak-kakak alumni maupun staf Perkantas. KMdNM XXII merupakan KMdNM yang spesial karena merupakan KMDNM online pertama. Bagi panitia, KMdNM XXII pun begitu spesial karena perjalanan panjang yang ditempuh dalam persiapannya. Di pertengahan tahun 2019, panitia mempersiapkan untuk kamp secara offline di Semarang. Namun pandemi COVID-19 melanda sehingga persiapan dan pelaksanaan pun tertunda. Kendati demikian, terpujilah Tuhan yang menaruhkan kerinduan dan semangat pada kakak – kakak panitia pengarah dan teman – teman panitia pelaksana, hingga akhirnya KMdNM XXII online boleh terlaksana. Merupakan hal yang baru yang harus kita semua lalui, dimana masing – masing dari kami belum memiliki pengalaman mempersiapkan acara kamp secara online. Seiring berjalannya waktu dan persiapan yang terus kami lakukan, kami mendapat hal – hal baru juga untuk dipelajari. Masih banyak ruang untuk perbaikan untuk kamp yang akan datang. Kiranya Tuhan sendiri yang menyempurnakan apa yang telah dikerjakan sehingga KMdNM XXII dapat menjadi berkat bagi semua orang yang terlibat. Terima kasih, Tuhan Yesus Memberkati. /stl

  • Lima Tips Menjaga Kesehatan Mental Bagi Tenaga Medis

    Pada masa pandemi Covid-19, tenaga medis menjadi garda depan menangani pasien Covid-19. Sebagai garda depan tenaga medis menghadapi pekerjaan yang penuh tekanan yang bisa berdampak kepada kesehatan mentalnya. Prevalensi gangguan psikologis pada tenaga medis menjadi meningkat di masa pandemi covid-19 seperti gejala depresi, kecemasan, kemarahan, ketakutan, susah tidur dan stres.1 ,2 Pada studi melalui survei online terhadap 1461 tenaga medis di Indonesia terdiri atas dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, apoteker dan analisis laboratorium di 34 provinsi di Indonesia rentang Juni-Agustus 2020, dan hasilnya 82% alami burnout sedang dan 1 % burnout berat. (4 Burnout adalah sindrom atau sekelompok gejala yang disebabkan oleh stresor dan konflik di tempat kerja. Gejala burnout bisa berupa keletihan emosi, kehilangan empati dan berkurangnya rasa percaya diri. Burnout yang tidak diatasi dapat berdampak buruk pada kinerja tenaga medis dan berpengaruh pada kesehatan fisik dan juga mentalnya. (3 Departemen Psikiatri Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia membuat tips yang mudah diingat untuk mengatasi stres saat pandemi ini yang disingkat menjadi T- E- M –A- N: (4 Terima bahwa rasa tidak nyaman ini wajar dan akan berlalu Pada situasi yang tidak menentu ini perasaan cemas, takut dan tidak berdaya adalah wajar.Kita bisa mengelolah pikiran dan emosi itu dengan berpikir positif, latihan relaksasi, meditasi, mindfulness dan meningkatkan spiritual kita melalui saat teduh dan praise & worship. Efektifkan pola hidup bersih dan sehat seperti menjaga kebersihan tangan, olahraga, makan makanan bergizi, cukup tidur. Dokter perlu menjaga keseimbangan antara bekerja melayani masyarakat namun juga merawat diri, istirahat untuk mendapatkan pemulihan yang prima. Buat batasan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. (5 Mencari informasi terkait covid-19 hanya dari sumber terpercaya. Selalu usahakan mencari informasi dari sumber yang bisa dipercaya. Batasi 1-2 jam perhari menonton, melihat atau mendengar informasi seputar pandemi covid-19. Alihkan rasa cemas dengan aktivitas yang menyenangkan seperti baca buku, nonton, dengar musik dan lain-lain. Melakukan hal yang menyenangkan akan memicu pengeluaran hormon endorfin yang memicu perasaan positif, perasaan senang, nyaman sehingga membuat kita bersemangat dan hal ini baik untuk daya tahan tubuh kita juga. Nyatakan perasaan dan pikiran yang tidak nyaman kepada orang yang dapat membantu. Salah satu metode paling efektif untuk menghilangkan stres adalah mampu mengekspresikan diri kepada orang lain dan mengutarakan apa yang kita rasakan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang dan kapan COVID-19 akan berakhir, namun percaya hari esok ada ditangan-Nya. Zoom meeting dan sharing bersama teman persekutuan melalui video call, belajar pendalaman Alkitab bersama secara online dapat menjadi sarana untuk menjaga kesehatan mental kita dan menguatkan iman kita. Dengan demikian, kita akan terus siap dipakai Tuhan untuk melayani pasien dan masyarakat. *Penulis melayani sebagai psikiater di RSKD Duren Sawit Jakarta dan Rs St.Carolus Jakarta Referensi : Salari N,Khazaie H, Far A.H, et al. 2020.The prevalence of sleep disturbances among physician and nurse facing Covid_19 patient: a systematic review and meta-analysis. Globalization and Health. 16:92.http://doi.org/10.1186/s12992-020-00620 Chersich M,Gray G, Fairlie L.,et al.2020.Covid19 in Africa: care and protection for frontline healthcare workers.Globalization and Health.16:46.http://doi.org/10.1186/s12992-020-00574-3 CNN Indonesia.Studi 83 persen Nakes alami Burnout sedang sampai berat. 4 september 2020.www.cnnindonesia.com waktu akses 1 November 2020. Coping with stress. World Health Organization. www.who.int.com Teoh et all. 2020 Looking after doctors’ mental wellbeing during the covid19 pandemic.http://eprints.bbk.ac.uk/31471

  • Kasih Dalam Hubungan Dokter-Pasien

    Eksistensi profesi dokter telah ada sejak jaman pra-sejarah dengan pemanfaatan tanaman obat untuk mengobati gejala penyakit, berevolusi dengan munculnya prinsip humorisme, hingga melewati abad ke-19 dengan dasar teori mikroba dan bakteriologi. Seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat sejak abad ke-20, dunia kesehatan juga terus berkembang di tengah kehidupan manusia. Tidak hanya perkembangan dalam hal ilmu dan teknologi, eksistensi dan evolusi juga terjadi dalam hubungan dokter-pasien. Pada dasarnya profesi dokter sebagai pengabdian diwujudkan dalam bentuk hubungan dokter-pasien yang berlandaskan tolong-menolong. Hal tersebut didasari oleh Sumpah Hipokrates sebagai filosofi yang melandasi panggilan profesi dokter. Nilai yang dominan pada sumpah tersebut adalah altruisme, mendahulukan kepentingan orang lain dengan mengambil risiko bagi diri sendiri. Seorang dokter belajar dan membaktikan hidupnya untuk menolong orang lain. Dalam konteks mengasihi manusia, Tuhan Yesus menyatakan bahwa hukum kasih yang kedua adalah, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39). Selain itu, dalam hal menolong sesama, Tuhan Yesus juga memberikan kisah orang Samaria yang baik hati sebagai teladan kita untuk mengasihi sesama, bersedia mengasihi bahkan hingga memberikan harta pribadi untuk membiayai musuh yang terluka. Secara alami profesi dokter memiliki tantangan yang besar untuk menjadi lebih superior dibandingkan dengan pasien karena ilmu kesehatan yang dimiliki dan kebutuhan pasien yang menjumpai dokter untuk meminta pertolongan. Namun, pada perkembangannya kepentingan pasien dan transaksi bisnis (karena pasien merasa membayar untuk jasa yang ia terima) dapat menyebabkan posisi pasien menjadi lebih superior dibandingkan dengan dokter. Kedua kutub superior-inferior tersebut bukanlah kondisi ideal walaupun kenyataannya seringkali terjadi. Dalam hubungan dokter-pasien secara hukum berlaku prinsip Zaakwarneming, pasien menjumpai dokter untuk memperoleh pertolongan dan dokter memberikan pelayanan kesehatan sebagai upaya memberikan pertolongan pada pasien yang membutuhkan. Berdasarkan hal tersebut, maka hubungan dokter-pasien dalam pelaksanaan layanan kesehatan lebih ditekankan pada proses yang terjadi dengan usaha yang sungguh-sungguh (inspanning verbintenis) dan bukan semata-mata dinilai dari hasil atau kesembuhan pasien (resultaat verbintenis). Untuk mencapai hasil yang optimal dibutuhkan kerjasama antara dokter dan pasien. Kerjasama yang baik dapat dicapai dengan komunikasi yang baik antara dokter sebagai ahli di bidang kesehatan dan pasien sebagai penderita yang paham akan dirinya dan menginginkan kesembuhan. Bila dalam bidang hukum hubungan dokter-pasien merupakan suatu konstruk yang seimbang, sedikit berbeda dengan ajaran Tuhan Yesus yang menekankan kasih kepada sesama. Uniknya kasih tidak menempatkan orang yang memberi dalam posisi inferior, orang tidak memberi karena ia merasa tidak berdaya dan terpaksa memberi. Kasih juga tidak menempatkan orang yang memberi dalam posisi superior, kita tidak diajarkan untuk memberi karena kita memiliki kelebihan dan orang lain bergantung kepada kuasa kita. Kasih kepada sesama dituntut sebagai bentuk dari ungkapan syukur dan ketaatan kita terhadap penebusan Tuhan Yesus yang telah lebih dahulu mengasihi kita. Jadi, kasih tidak menyebabkan hubungan dokter-pasien menjadi superior-inferior, tetapi hubungan yang saling melengkapi antara pemberi-penerima sebagai satu tubuh Kristus. Artikel singkat ini mengantarkan kita pada sebuah konsep sederhana, tetapi menjadi dasar yang kuat dalam menjalani profesi dokter. Secara hukum hubungan dokter-pasien dilandaskan pada proses dengan usaha sungguh-sungguh, bukan semata-mata pada hasil atau kesembuhan pasien. Namun, Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi dengan sungguh-sungguh bukan hanya karena dokter membaktikan hidupnya untuk orang lain, tetapi juga karena kasih Kristus yang telah lebih dahulu menebus dan menyelamatkan kita untuk bersekutu bersama orang lain sebagai satu tubuh. *) Penulis saat ini bekerja sebagai dokter manajerial di RS UKRIDA

Hubungi Kami

Dapatkan update artikel SAMARITAN terbaru yang dikirimkan langsung ke email Anda.

Daftar menjadi Samareaders sekarang!

Instagram
Facebook
Media Samaritan
Media Samaritan

 Media Samaritan 2022

bottom of page