• Dr. dr. Fushen, M.H., M.M., FISQua

Kasih Dalam Hubungan Dokter-Pasien

Updated: Apr 21



Eksistensi profesi dokter telah ada sejak jaman pra-sejarah dengan pemanfaatan tanaman obat untuk mengobati gejala penyakit, berevolusi dengan munculnya prinsip humorisme, hingga melewati abad ke-19 dengan dasar teori mikroba dan bakteriologi. Seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat sejak abad ke-20, dunia kesehatan juga terus berkembang di tengah kehidupan manusia. Tidak hanya perkembangan dalam hal ilmu dan teknologi, eksistensi dan evolusi juga terjadi dalam hubungan dokter-pasien.


Pada dasarnya profesi dokter sebagai pengabdian diwujudkan dalam bentuk hubungan dokter-pasien yang berlandaskan tolong-menolong. Hal tersebut didasari oleh Sumpah Hipokrates sebagai filosofi yang melandasi panggilan profesi dokter. Nilai yang dominan pada sumpah tersebut adalah altruisme, mendahulukan kepentingan orang lain dengan mengambil risiko bagi diri sendiri. Seorang dokter belajar dan membaktikan hidupnya untuk menolong orang lain. Dalam konteks mengasihi manusia, Tuhan Yesus menyatakan bahwa hukum kasih yang kedua adalah, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39). Selain itu, dalam hal menolong sesama, Tuhan Yesus juga memberikan kisah orang Samaria yang baik hati sebagai teladan kita untuk mengasihi sesama, bersedia mengasihi bahkan hingga memberikan harta pribadi untuk membiayai musuh yang terluka.


Secara alami profesi dokter memiliki tantangan yang besar untuk menjadi lebih superior dibandingkan dengan pasien karena ilmu kesehatan yang dimiliki dan kebutuhan pasien yang menjumpai dokter untuk meminta pertolongan. Namun, pada perkembangannya kepentingan pasien dan transaksi bisnis (karena pasien merasa membayar untuk jasa yang ia terima) dapat menyebabkan posisi pasien menjadi lebih superior dibandingkan dengan dokter. Kedua kutub superior-inferior tersebut bukanlah kondisi ideal walaupun kenyataannya seringkali terjadi.


Dalam hubungan dokter-pasien secara hukum berlaku prinsip Zaakwarneming, pasien menjumpai dokter untuk memperoleh pertolongan dan dokter memberikan pelayanan kesehatan sebagai upaya memberikan pertolongan pada pasien yang membutuhkan. Berdasarkan hal tersebut, maka hubungan dokter-pasien dalam pelaksanaan layanan kesehatan lebih ditekankan pada proses yang terjadi dengan usaha yang sungguh-sungguh (inspanning verbintenis) dan bukan semata-mata dinilai dari hasil atau kesembuhan pasien (resultaat verbintenis). Untuk mencapai hasil yang optimal dibutuhkan kerjasama antara dokter dan pasien. Kerjasama yang baik dapat dicapai dengan komunikasi yang baik antara dokter sebagai ahli di bidang kesehatan dan pasien sebagai penderita yang paham akan dirinya dan menginginkan kesembuhan.


Bila dalam bidang hukum hubungan dokter-pasien merupakan suatu konstruk yang seimbang, sedikit berbeda dengan ajaran Tuhan Yesus yang menekankan kasih kepada sesama. Uniknya kasih tidak menempatkan orang yang memberi dalam posisi inferior, orang tidak memberi karena ia merasa tidak berdaya dan terpaksa memberi. Kasih juga tidak menempatkan orang yang memberi dalam posisi superior, kita tidak diajarkan untuk memberi karena kita memiliki kelebihan dan orang lain bergantung kepada kuasa kita. Kasih kepada sesama dituntut sebagai bentuk dari ungkapan syukur dan ketaatan kita terhadap penebusan Tuhan Yesus yang telah lebih dahulu mengasihi kita. Jadi, kasih tidak menyebabkan hubungan dokter-pasien menjadi superior-inferior, tetapi hubungan yang saling melengkapi antara pemberi-penerima sebagai satu tubuh Kristus.


Artikel singkat ini mengantarkan kita pada sebuah konsep sederhana, tetapi menjadi dasar yang kuat dalam menjalani profesi dokter. Secara hukum hubungan dokter-pasien dilandaskan pada proses dengan usaha sungguh-sungguh, bukan semata-mata pada hasil atau kesembuhan pasien. Namun, Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi dengan sungguh-sungguh bukan hanya karena dokter membaktikan hidupnya untuk orang lain, tetapi juga karena kasih Kristus yang telah lebih dahulu menebus dan menyelamatkan kita untuk bersekutu bersama orang lain sebagai satu tubuh.


*) Penulis saat ini bekerja sebagai dokter manajerial di RS UKRIDA



51 views0 comments
Contact us