• dr. Maria Irawaty Simanjuntak, SpPD-KGH, KIC

Bukan Pasangan Biasa



Menikah lebih dari 25 tahun merupakan rentang waktu yang cukup lama. Itu mendorong saya untuk berpikir ulang apa sebenarnya tujuan pernikahan. Dulu, pria dan wanita menikah tujuan utamanya adalah meneruskan keturunan. Sejalan dengan waktu, di masa modern, ketika peradaban berubah, teknologi berkembang sangat pesat, masa dimana rasio dan ilmu pengetahuan ditempatkan lebih utama, maka nilai- nilai hidup pun berubah. Era modern terjadi perubahan peran pria dan wanita, era dimana spiritual dan sekularitas dipisahkan dengan jelas, masa dimana informasi menyebar dengan luas menyebabkan tujuan pernikahan pun berubah. Pernikahan kehilangan nilai kesakralannya, dan angka perceraian meningkat dari tahun ke tahun. Pernikahan tidak lagi semata untuk memiliki keturunan (memiliki keturunan bisa tanpa pernikahan), tetapi semata untuk mendapatkan kebahagiaan dan pemenuhan ekspektasi / kebutuhan.


Kini di abad 21, dunia memasuki era postmodern. Era dimana sistem teknologi informasi berkembang sangat pesat membuat dunia saling mempengaruhi secara masif, global dan cepat. Subjektivisme, relativisme dan pluralisme menjadi menonjol. Makna pernikahan pun semakin bergeser. Definisi kebahagiaan yang dicari dalam pernikahan menjadi sangat subjektif. Apa yang boleh apa yang tidak menjadi sangat relatif. Saat ini pria dan wanita tidak perlu menikah untuk memiliki anak atau sebaliknya menikah tetapi tidak mau memiliki anak (Child free). Ada pula istilah yang disebut open marriage (pernikahan terbuka) yaitu suatu relasi dimana suami-istri sepakat dan mengizinkan satu sama lain menjalin hubungan dengan orang lain atau hubungan tanpa ikatan serius, semata hanya persetujuan untuk hidup bersama (Friends with benefit/FWB).


Tujuan pernikahan atau relasi pria dan wanita di era postmodern adalah untuk mendapatkan kebahagiaan yang sangat subjektif, relatif dan tak terbatas oleh norma/nilai tertentu. Maka jika kebahagiaan tidak ditemukan dalam pernikahan atau sudah tidak bisa dirasakan lagi, maka akan mudah untuk bercerai atau mencari bentuk relasi yang berbeda yang dianggap lebih memberi kebahagiaan. Jika dulu kita mengenal LGBT maka di era Posmodern ini kita diperhadapkan dengan LGBTQIA2S+ ( Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer and/or Questioning, intersex, Asexual, Two-Spirit, and the countless affirmative ways).


Dimana kita berdiri saat ini? Jika kita saat ini memiliki pernikahan yang secara nilai kristiani benar, bagaimana dengan generasi anak –cucu kita nanti? Sudah seharusnya tujuan pernikahan orang percaya berbeda, karena inilah implikasi panggilan kita: dikuduskan untuk menjadi garam dan terang dunia. Tapi, cukupkah berbeda?


Alkitab mengajarkan bahwa pernikahan dan keluarga mengemban agenda Allah. Jika dirunut dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita akan melihat bagaimana Allah menciptakan pernikahan dan menjadikan pernikahan itu menjadi bagian yang sangat penting dalam mengelola, memelihara ciptaan, menebus dan menyelamatkan dunia.


1. Agenda Suami-Istri pada Mulanya: Bukan Sekedar Memiliki Anak

Allah memberi amanat pertama pada pasangan pertama.: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi “ (Kejadian 1:28).

Mandat Allah pada manusia ini diberikan setelah Allah memberkati mereka, menjadi pasangan suami–istri. Sejak semula Allah menitipkan bumi ciptaan-Nya ini pada pasangan pernikahan pertama yang diciptakan-Nya.

Agenda Allah bagi mereka tidak saja meneruskan keturunan tetapi juga agar pasangan baru tersebut beserta keturunannya menjadi representasi Allah bagi bumi ciptaan. Agar pasangan baru ini dan keturunannya kelak menjadi penatalayan ciptaan-Nya.


2. Agenda Allah pada keluarga Nuh: Rekan sekerja dalam Karya pemeliharaan Ciptaan

Ketika manusia jatuh dalam dosa dan semakin jahat, Allah bermaksud membinasakan manusia, namun Allah memilih 1 keluarga untuk memelihara kelestarian ciptaan-Nya: Nuh dan keluarganya (Kejadian 6: 17-21). Setelah air bah berlalu, kembali Allah memberi perintah : “Beranak cuculah dan bertambah banyaklah …” (Kejadian 9: 1-7).

Allah kembali melibatkan pasangan dan anak mantunya dalam rencana pemeliharaan kelangsungan ciptaan-Nya; menjadi rekan sekerja Allah di dunia setelah Allah melakukan pembersihan pada bumi ciptaan-Nya.


3. Allah Memberi “Panggilan Menjadi Berkat” bagi Pasangan

Dalam hikmat Allah, ketika tiba masanya untuk mempersiapkan karya penyelamatan, Allah memanggil Abraham dan keluarganya. Allah menyuruh Abraham pergi dari negerinya, dari sanak saudaranya, dari rumah bapanya ke negeri yang baru untuk membuatnya menjadi bangsa yang besar, untuk memberkatinya serta membuatnya masyur dan menjadi berkat. (Kejadian 12: 1-2). Ketika Abraham telah sampai, Allah berfirman akan memberikan negeri itu pada keturunannya. Secara rinci Allah memilih pasangan Abraham dan Sarai bukan dari keturunan Abraham dan Hagar atau gundiknya yang lain. Dari hal ini kita belajar bahwa bagi Allah pasangan itu penting, secara personal Allah memberikan agenda pada pasangan Abraham dan Sarai untuk menjadi bangsa yang memberkati bangsa- bangsa lain.


Agenda menjadi berkat ini dipegang Abraham dengan sungguh-sungguh. Di akhir hidupnya, Abraham memastikan agenda ini tetap berlangsung dengan baik pada Ishak. Kisah Abraham mencarikan istri bagi Ishak, sesuai tradisi masyarakat masa itu, dalam Kejadian 24: 1-8 sering dijadikan kisah pengajaran tentang bagaimana memilih istri. Sebenarnya kisah itu merupakan cerita yang Allah ijinkan untuk kita ketahui bagaimana Abraham dan juga Ishak menjaga panggilan yang Allah berikan pada keluarga mereka.


Dengan tegas Abraham meminta hambanya :

  • Mengambil istri untuk Ishak dari negeri leluhurnya bukan dari bangsa Kanaan mana mereka tinggal.

  • Jangan membawa Ishak kembali ke negri leluhurnya

Abraham sangat serius memastikan panggilan yang Allah berikan padanya dan keturunannya tetap terjaga. Keseriusannya ini juga turun pada Ishak. Kala itu Ishak telah berumur 40 tahun. Usia yang sudah cukup untuk berketurunan pada manusia masa itu. Ishak tidak sembarangan mengambil perempuan Kanaan. Hal yang sama juga dia sesali ketika Esau mengambil istri dari perempuan negeri itu.


Pengalaman Abraham bersama Allah dan panggilan Allah bagi keluarga dan keturunannya dengan sadar dan serius Abraham turunkan pada Ishak. Abraham secara sengaja, terencana memastikan panggilan Allah ini terjaga pada generasi sesudahnya. Seberapa serius kita, sebagai pasangan yang memiliki anak menyadari bahwa ada panggilan Allah bagi kita sebagai keluarga Kristen dan panggilan khusus yang Allah beri bagi keluarga kita masing masing. Seberapa terencana dan serius kita menurunkannya pada keturunan kita? Banyak pasangan masa ini sangat serius merencanakan pendidikan formal bagi anak-anaknya, bekerja sangat keras agar dapat memberi pendidikan yang sangat memadai buat anaknya. Berambisi agar anak-anaknya dapat bersaing di dunia profesi kelak, sukses dalam kehidupan dan menjadi orang terpandang. Disisi lain, ambisi dan keseriusan yang sama tidak tampak, saat orangtua memastikan anak cucunya menangkap panggilan yang sama, yaitu panggilan menjadi berkat bagi dunia.


4. Karya Keselamatan Mulai dalam Keluarga

Sampai saatnya tiba, kembali Allah memberi agenda baru pada pasangan suami istri tua: Zakharia-Elisabet yang akan melahirkan dan mempersiapkan Yohanes pembaptis. Yohanes yang akan mempersiapkan kedatangan sang Mesias. Uniknya, Mesias ini pun hadir ke dunia dalam sebuah keluarga: keluarga Yusuf-Maria. Malaikat memberitahukan agenda penting ini pada Yusuf melalui mimpi : “ Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia, Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya” ( Matius 1: 20-25)


Peran Zakharia dan Elisabet, Yusuf dan Maria dalam karya penyelamatan sudah selesai. Agenda Allah tidak berhenti disitu. Karya penebusan Kristus masih terus berlangsung bagi banyak orang. Amanat Agung-Nya memberi kita agenda baru: menjadikan segala bangsa murid-Nya. Ada banyak nama pasangan dalam sejarah gereja, jejak kaum martir, kisah misionaris dan teladan para pasangan kristiani lain yang dapat kita lihat. Pasangan dan keluarga yang setia menjalankan amanat agung tersebut di masanya.


5. Keluarga Menjadi Inti Pemuridan

Seorang uskup muda yang menjadi penerus Paulus di masanya, adalah hasil dari pemuridan seorang ibu dan nenek: Eunike sang ibu dan Lois, neneknya. Timotius, berayahkan seorang Yunani dan ibu seorang Yahudi. Sejak kecil dia sudah mengenal kitab-kitab Ibrani yang diajarkan oleh ibu dan neneknya. Pengajaran dari keluarga inilah yang menuntun mereka ( dimulai dari ibu dan nenek lalu kemudian Timotius) kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus ( 2 Timotius 3:15). Timotius sudah diajar sejak kecil untuk menyukai kitab – kitab Ibrani sehingga dia menerima ajaran pemberitaan Paulus tentang Kristus sebagai sesuatu yang benar.


Banyak dari kita adalah orang percaya yang lahir di tengah keluarga Kristen, dibesarkan di tengah keluarga dengan tradisi berdoa di pagi hari, sebelum dan sesudah makan, dan sebelum tidur. Disiplin pergi ke Sekolah Minggu setiap hari minggu. Semua rutinitas tersebut memberi sumbangsih pada pengenalan kita secara pribadi pada Kristus. Rutinitas tersebut membentuk tradisi dan rasa nyaman pada lingkungan yang membuat kita lebih mudah bertumbuh. Dengan kalimat lain, semua rutinitas yang diajarkan keluarga kita (yang sebagian kita hanya mengerti sebagai tradisi saja) tanpa kita sadari telah membuat kita menjadi tanah yang gembur untuk benih firman Tuhan mudah tumbuh.


Alangkah baiknya jika keluarga tidak hanya memberikan tradisi/rutinitas namun juga pembelajaran firman seperti apa yang dilakukan Eunike dan ibunya Lois. Pengajaran Firman dimulai dari keluarga. Mungkin ini yang hilang pada keluarga-keluarga Kristen dimana mereka hanya mewarisi tradisi Kristiani tanpa pemuridan sehingga dengan mudahnya dihisap oleh perubahan budaya dunia yang masif, global tanpa batas. Seperti slogan yang kita sudah kenal : muridkan anak-anakmu sebelum dunia ‘memuridkan’ mereka.


6. Keluarga Menjadi Inti Misi Integral

Adalah sepasang suami istri, pasangan Kristen pada jemaat mula-mula yang hidup pada masa kaisar Klaudius. Mereka pindah ke Korintus setelah semua orang Yahudi diusir meninggalkan Roma. Di rumah mereka inilah Paulus singgah dan tinggal bersama mereka selama di Korintus. Mereka adalah pasangan kaum profesional : pembuat tenda. Paulus dan pasangan ini bekerja bersama-sama.


Kisah Para Rasul dan surat –surat Paulus kerap kali menyebut nama mereka:

“sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila. Teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku (Roma 16:3-4). Setelah satu setengah tahun bersama Paulus di Korintus, pasangan suami istri ini turut bersama Paulus ke Siria. Paulus meninggalkan mereka di Efesus. Di sana pasangan ini memuridkan orang orang percaya baru.


Kisah Para Rasul menceritakan bagaimana Priskila dan Akwila membawa Apolos ke rumah mereka dan mengajarnya dengan teliti tentang jalan Allah. Ketika itu mereka melihat ada pemahaman Apolos yang salah tentang keselamatan. Setelah pemuridan ini, Apolos kemudian menjadi pengajar injil yang sangat dipakai Allah (Kisah Para Rasul 18). Selain itu, 1 Korintus 16, menceritakan bagaimana rumah mereka dipakai menjadi rumah ibadah bagi jemaat di Asia kecil.


Hal yang menarik adalah, nama mereka tidak pernah ditulis terpisah, mereka sebagai pasangan bersama Paulus menjadi penginjil keliling dan pemimpin gereja di jemaat-jemaat yang didirikan Paulus. Menurut tradisi gereja, pasangan ini dilaporkan mati syahid.


Penutup

Allah tidak menjadikan pasangan suami istri tanpa tujuan. Ada agenda yang Allah berikan pada tiap tiap pasangan dan keluarga. Agenda itu bukan sekedar untuk memperoeh keturunan tetapi untuk ambil bagian dalam misi Allah bagi dunia. Jika kita sudah dan sedang menjalankan agenda ini, seberapa serius kita sebagai pasangan memastikan panggilan dan visi yang Alah berikan ini berlanjut ke anak dan cucu kita. Akankah kita seperti Abraham : “Awas, jangan kau bawa anakku ke sana!”

Mari meneladaninya dengan menjadi pasangan yang serius menjaga panggilan Allah dan memastikannya berlanjut pada keturunan kita. Mari kita menjalani kehidupan pernikahan kita dengan semangat: Kita bukan pasangan biasa.


/stl


*)Penulis adalah seorang konsultan ginjal dan hipertensi di RSUD Tarakan, Jakarta



391 views0 comments
Contact us