143 results found with an empty search
- Parenting? Saya Tidak Mampu!
Kesadaran para orangtua akan pentingnya belajar parenting meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Ledakan informasi dapat dengan mudah diakses secara online, mulai dari teknik meng-ASI-hi, 10 kata pujian untuk membangun kepercayaan diri anak, sampai tahapan pendidikan seksual sejak anak sampai remaja. Tidak sedikit orangtua yang berupaya membekali diri melalui “pembelajaran” secara online ataupun memilih mengikuti kelas-kelas parenting secara fisik. Untuk memberikan pola asuh terbaik bagi perkembangan fisik dan mental anak merupakan salah satu tujuan. Harapan terbesarnya adalah agar anak-anak yang dibesarkan dengan teknik parenting berbasis “ilmiah” ini nantinya dapat menjadi dewasa yang produktif, stabil secara emosional, serta unggul dari segi akademik dan pencapaian materi. Lalu, apakah hal ini cukup? “Tidak ada hal yang lebih utama dibandingkan dipakai Tuhan menjadi alat untuk membentuk jiwa seorang manusia”. Menjadi orangtua merupakan panggilan bagi setiap manusia dalam menggenapi mandat Allah untuk bertambah banyak dan penuhi bumi. Bukan hanya sekedar membesarkan anak-anak secara fisik, tetapi agar mereka dapat menaklukkan bumi dan berkuasa atas segala apa yang ada diatasnya sesuai dengan definisi Allah. Tanpa definisi Allah, manusia akhirnya hanya akan merusak dan bukan memelihara bumi, gagal menjadi representasi kemuliaan Allah, seperti apa yang kita alami saat ini. Untuk tujuan yang mulia ini, setiap orangtua perlu menyadari tugas yang diberikan sendiri oleh Allah, yaitu untuk membesarkan dan mendidik setiap anak menjadi pribadi yang mengenal Allah dan sepenuhnya taat kepada-Nya. “Sudahkah kita memprioritaskan kerohanian anak-anak kita?” merupakan pertanyaan yang perlu untuk kita renungkan kembali sebagai orangtua. Tidak sedikit anak-anak yang jarang melihat sosok papa (bahkan kedua orangtua) di rumah karena kesibukan pekerjaan. Kebanyakan alasan dibaliknya adalah untuk memberikan kehidupan yang layak dan kesempatan sekolah yang terbaik. Sayangnya, ketika tanggung jawab perkembangan kognitif anak dapat dipenuhi oleh seluruh fasilitas pendidikan terbaik yang disediakan, kebutuhan mereka akan Firman Tuhan menjadi terabaikan dan panggilan mendidik kerohanian anak malah dibebankan ke pertemuan sekolah minggu yang maksimal hanya 2 jam per minggu. Tentu maksud untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak yang dianugerahkan Tuhan tidaklah salah, tapi kita perlu dengan rendah hati melakukan introspeksi, apakah “maksud baik” kita benar-benar baik menurut Allah atau murni untuk memuaskan keinginan kita saja? Tidak ada orangtua yang dapat membantah fakta bahwa parenting memang hal yang sulit, tapi Allah tidak sedang memberikan mission impossible. Dia tidak mengirim orangtua ke medan tempur pengasuhan anak tanpa ikut turut serta. Kesempatan menjadi orangtua tidak ditentukan berdasarkan kemampuan orang tersebut, tetapi semata-mata karena anugerah Allah. Setiap orangtua perlu mengakui bahwa “saya tidak mampu” menjadi orangtua, sehingga jalan satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah berlari kepada Allah meminta pertolongan. Dan Dia tidak jauh! Perjalanan sebagai orangtua yang penuh tantangan dapat menolong kita untuk semakin mengenal dan mengasihi Allah. Referensi: Paul David Tripp. Parenting: 14 Gospel Principles That Can Radically Change Your Family. [Terjemahan Indonesia: Bijak menjadi Orang Tua; Penerbit Literatur Perkantas] *)Penulis saat ini bekerja di NGO bidang HIV di Jabodetabek
- Merayakan Kemerdekaan dengan Penuh Dedikasi dan Cinta
Shalom! Perkenalkan, saya Ivan Reynaldo Lubis, teman-teman biasa memanggil Rey. Saya alumnus FK Maranatha Bandung dan saat ini melayani di Yayasan doctorSHARE, mengurus program-program yang dimandatkan pihak manajemen. Sebelumnya, saya menjabat Kepala RS Apung Nusa Waluya 2, salah satu kapal RS Apung yang dimiliki yayasan doctorSHARE. Akan tetapi, karena baru saja diterima kuliah S2, posisi tersebut saya serahkan pada seorang kolega. Saya mengenal doctorSHARE pada tahun 2016, di Sumba Barat Daya, NTT ketika bertugas sebagai dokter PTT di sana. Ketika itu, salah satu RS Apung milik Yayasan doctorSHARE datang ke Sumba untuk memberikan pelayanan medis berupa pengobatan dan operasi gratis bagi masyarakat. Setelah itu, saya rajin mengikuti kegiatan volunteer di doctorSHARE ke berbagai daerah, baik melalui RS Apung ataupun melalui Flying Doctor. Sejak tahun 2019 hingga saat ini, saya menjadi staf. Kenapa tertarik bergabung? Karena kesamaan panggilan dan visi, untuk melayani masyarakat di pedalaman/pinggiran melalui profesi medis. Selama bekerja, saya sangat menikmati sekali pelayanan ini, sebab terasa nyata sekali menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk melayani mereka yang marjinal. Melayani mereka yang tidak bisa membalas balik apa yang sudah kita lakukan, rasanya seperti makin dekat dengan Tuhan. Melayani di RS Apung membuat saya banyak bertemu masyarakat dari berbagai latar belakang. Begitu banyak hal, membuat saya banyak sekali belajar berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan keperbedaan yang ada, khususnya perbedaan bahasa dan adat istiadat. Meskipun demikian, pengalaman tersebut sangat seru sekali. Perbendaharaan bahasa serta pola perilaku yang luas membantu saya memiliki pendekatan yang baik terhadap setiap pasien. Banyak sekali hal baik yang saya alami selama melayani di RS Apung. Mulai dari providensia Allah terkait kebutuhan-kebutuhan primer di kapal hingga bagaimana diperlakukan dengan sangat baik oleh pasien. Ketulusan dan rasa terima kasih yang besar dari mereka akan pelayanan kami ditunjukkan melalui antaran-antaran yang ada. Mulai dari sekarung rambutan hingga berkilo-kilo ikan segar. Mulai dari undangan-undangan makan, hingga diberi kehormatan memberi nama kepada bayi yang baru lahir. Satu kata: AMAZING! Sebenarnya, ada banyak cerita yang bisa saya tulis, namun tentu tidak akan muat terangkum di sini. Saya hanya bisa mengajak adik-adik dokter yang baru lulus ataupun teman-teman sejawat yang sedang bergumul dengan panggilannya, untuk mendoakan dengan serius hendak menjadi dokter seperti apa dan di bidang apakah kalian nantinya. Sebagai anak bangsa Indonesia dan juga sebagai dokter yang sudah mengenal Tuhan, menjadi dokter apapun sama baiknya, asal mempermuliakan Tuhan dalam pelayannnya. Dokter klinisi di RS besar kah? Dokter peneliti kah? Dokter yang juga dosen kah? Dokter birokrat kah? Dokter yang memegang tampuk kekuasaan kah? Atau dokter yang bermisi di pedalaman seperti saya ini? Semua keren dan punya kontribusi yang sama. Selama menjalankan profesi dengan baik dan penuh hasrat, saya kira kita akan memberi dampak besar bagi komunitas dan juga bagi bangsa. Mari rayakan kemerdekaan RI dengan menjadi dokter-dokter yang mengabdi dengan penuh dedikasi dan cinta, sebagaimana yang Tuhan inginkan kita lakukan. Merdeka! *)Penulis saat ini melayani di Yayasan doctorSHARE /stl
- Saat Hati Nurani Dokter Alami Dilema
Perkembangan ilmu kedokteran, teknologi di bidang kesehatan, dan konektivitas antar manusia terjadi begitu cepat dan tidak terbendung. Banyak batasan-batasan ilmu yang terlampaui dalam satu dekade terakhir. Kecepatan perkembangan tersebut tidak dapat diikuti oleh perkembangan aturan hukum maupun pembahasan etik yang mendalam. Secara praktis, kemajuan ilmu kedokteran, teknologi di bidang kesehatan, dan konektivitas antar manusia menimbulkan berbagai permasalahan pada pelaksanaan hukum dan etika yang berlaku di masyarakat. Tenaga kesehatan adalah manusia yang memiliki nilai dan kepercayaan yang dianut. Tidak jarang nilai dan kepercayaan tersebut bertentangan dengan etika yang berlaku di masyarakat sehingga tenaga kesehatan memilih untuk tidak melakukan tindakan tertentu atas keberatan hati nurani atau conscentious objection. Beberapa contoh topik yang seringkali menimbulkan dilema etik dalam praktik kedokteran adalah aborsi, kontrasepsi darurat, bayi tabung, maupun transfusi darah pada kepercayaan tertentu. Perkembangan teknologi semakin mendorong munculnya dilema etik pada praktik kedokteran termasuk pada topik-topik tersebut. Pada 3-5 Juli 2022, World Medical Association (WMA) bekerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengadakan konferensi dengan topik utama pembahasan mengenai keberatan hati nurani. Pada artikel ini tidak dibahas secara mendalam mengenai diskusi yang terjadi dalam konferensi tersebut, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait keberatan hati nurani di antaranya: keberatan hati nurani tetap harus mengutamakan keselamatan pasien dokter yang memilik keberatan hati nurani terhadap tindakan tertentu menghormati hak otonomi pasien, khususnya hak atas informasi sesama sejawat menghargai hak atas keberatan hati nurani yang dilakukan. Sesuai dengan panggilan mulia tenaga kesehatan dalam membaktikan hidupnya untuk kemanusiaan, maka keberatan hati nurani tidak menghilangkan prioritas pertolongan terhadap nyawa pasien. Hal ini berarti tenaga kesehatan tidak melakukan keberatan hati nurani dalam konteks kegawatdaruratan atau kondisi yang mengancam nyawa pasien. Tenaga kesehatan mengutamakan pelayanan untuk menyelamatkan nyawa pasien yang merupakan hak asasi bagi setiap manusia. Prinsip tersebut secara universal tidak banyak dipertentangkan baik secara teori maupun praktik. Otonomi pasien merupakan salah satu nilai penting yang berkembang dan merubah konstruksi hubungan dokter-pasien yang dahulu didominasi oleh dokter menjadi setara antara dokter dengan pasien. Bahkan pada beberapa kondisi justru dominasi pasien sebagai pemilik tubuh yang akan diobati nampak nyata. Hal ini menyebabkan praktik keberatan hati nurani perlu dicermati dengan baik. Tenaga kesehatan yang memilih untuk tidak melakukan tindakan tertentu karena keberatan hati nurani perlu menginformasikan pilihannya kepada pasien. Permasalahan akan timbul terkait informasi mengenai pelayanan selanjutnya yang dibutuhkan oleh pasien. Misalnya, pada kasus seorang pasien yang ingin melakukan aborsi, maka tenaga kesehatan yang tidak bersedia melakukannya karena keberatan hati nurani perlu menginformasikan kepada pasien. Perdebatan terjadi mengenai apakah tenaga kesehatan tersebut harus merujuk pasien kepada tenaga kesehatan lain yang bersedia melakukan aborsi atau tidak. Dari sisi tenaga kesehatan yang keberatan untuk melakukan tindakan aborsi bila ia memberikan rujukan atau informasi, maka dapat dianggap bahwa ia mendukung atau memfasilitasi pasien untuk melakukan aborsi. Di sisi pasien, ada kebutuhan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang sesuai dan tidak membahayakan dirinya. Prinsip ketiga terkait keberatan hati nurani adalah hak setiap tenaga kesehatan yang perlu dihargai. Secara teori prinsip ini dapat dipahami dan tidak banyak diperdebatkan. Pada praktiknya tidak dapat dipungkiri bahwa seringkali terdapat ujaran antar tenaga kesehatan yang merendahkan sejawat lain yang berbeda pendapat. Dalam era konektivitas yang tinggi saat ini, ujaran tersebut dapat tersampaikan dengan luas dalam waktu yang cepat. Hal ini tentu menuntut kedewasaan dan kesadaran dari setiap tenaga kesehatan untuk saling menghormati pendapat maupun pilihan dari sejawat. Sebagai anak Tuhan tentu kita juga tidak terlepas dari dilema etik dalam praktik. Perkembangan ilmu sebagai anugerah Tuhan tentu perlu disikapi dengan bijak karena pengetahuan yang dimiliki bagaikan pedang bermata dua. Sebagai anak Tuhan kita telah diberikan panduan dan pembimbing untuk menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup, termasuk dilema etik. Panduan kita adalah alkitab sebagai firman Tuhan yang hidup dan nyata tertulis, sedangkan pembimbing kita adalah Roh Kudus yang memberikan kita hikmat untuk memahami firman Tuhan. Dalam menentukan sikap kita perlu memahami apa yang Tuhan inginkan melalui pengetahuan yang kita miliki. Sayangnya dilema etik dapat muncul kapan saja dan dimana saja dalam praktik kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri dengan baik, kita perlu memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan dan mempelajari firman-Nya. Bukan hanya sekedar membaca Alkitab, tetapi juga merenungkan dan memahami panggilan Tuhan dalam hidup kita dan nilai-nilai apa yang kita bawa dalam praktik. Ingatlah bahwa, “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan” (Amsal 1:7) dan kita adalah surat Kristus yang membawa kemuliaan Tuhan di dalam hidup kita (2 Korintus 3). *) Penulis saat ini bekerja sebagai dokter manajerial di RS UKRIDA
- Hilangnya Integritas Hidup Umat Allah: Eksposisi Mikha bagian 1
Kata “integritas” tentu bukanlah sesuatu yang asing bagi kita dan sudah menjadi bahasa umum tentang nilai kehidupan yang utuh (luar-dalam). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan integritas sebagai “mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan”. Integritas juga dapat berarti kejujuran. Israel sebagai umat Allah memiliki integritas kehidupan yang tinggi, karena dipilih dan dipanggil Allah serta ditebus melalui anugerah-Nya. Tak hanya menjadi umat Allah, Israel juga dipanggil untuk menjadi alat-Nya untuk menjadi berkat bagi dunia ini (Kej. 12:2-3). Suatu hari, Tuhan memanggil Mikha dari Moresyet menjadi nabi-Nya (700 tahun sebelum kehadiran Mesias) untuk menyampaikan suatu nubuatan akan apa yang akan terjadi bagi umat-Nya di kemudian hari. Mikha (arti namanya: who can be like you, Lord atau ”siapakah yang seperti Engkau, Tuhan”) hidup sejaman dengan nabi Yesaya, di mana kondisi Israel telah terbagi dua (Israel dan Yehuda). Mikha dipanggil menjadi nabi pada zaman pemerintahan Raja Yotam, Ahaz, dan Hizkia dimana saat-saat itu ada banyak kemerosotan hidup yang terjadi di kalangan umat-Nya dan hal-hal ini merupakan kekejian di mata Tuhan. Umat Allah tidak lagi hidup secara terintegritas, ada ‘jarak’ (gap) dalam kehidupan mereka sebagai umat Allah dimana penyembahan yang mereka lakukan dalam bait Allah tidak lagi sesuai dengan kehidupan sosial mereka di tengah masyarakat (perhatikan hal ini juga yang terjadi pada Yes 58). Hal ini membuat Allah keluar dari bait-Nya. Kitab Mikha dibagi menjadi 3 bagian: Pasal 1-2: Allah menghampiri untuk mengadili umat-Nya, Israel Pasal 3-5: Teguran, hukuman juga bagi hamba-hamba Tuhan Pasal 6-7: Penebusan dan restorasi yang akan dilakukan Allah Allah menghampiri dan mengadili umatNya (Mikha 1-2) Bagian awal kitab Mikha memperlihatkan bagaimana Allah keluar dari bait-Nya dan menghampiri serta mengadili umat-Nya (pasal 1-2). a. Apakah yang dilakukan umat Israel sehingga Allah datang dan mengadili mereka? Pelanggaran Yakub serta dosa kaum Israel membuat Allah datang dan mengadili mereka (ay 5). Para pemimpin (raja, pemuka, dan nabi-nabi) memperkaya diri melalui pencurian dan kerakusan terhadap orang-orang miskin di Samaria dan Yerusalem (2:1-2, 8-9). Sebagai contoh: Raja Ahab mengambil paksa kebun Anggur keluarga Naboth, karena Naboth mempertahankan tanah warisan keluarganya, namun Raja Ahab merebut, hal yang sama sekali tidak boleh dilakukan dan melanggar hukum Taurat (Bilangan 36:7), bahkan Ahab melalui istrinya menuduh Naboth melalui tuduhan palsu di pengadilan, sehingga Naboth dihukum mati (1 Raja-raja 21). b. Para pemuka agama/nabi-nabi melayani untuk kepentingan mereka sendiri, mendapatkan keuntungan dari mereka yang mampu membayarnya. c. Umat Allah sendiri menjadi musuh pada sesamanya dengan melakukan penindasan terhadap yang mereka yang miskin dan lemah dengan merebut kepunyaan mereka secara semena-mena. Allah tidak membiarkan semua ini terjadi dan hukuman akan segera datang, di mana Kerajaan Assyria dan Babilonia akan menghampiri untuk menyerang dan meluluh lantahkan Yehuda dan Yerusalem. Bait Allah yang merupakan kebanggaan umat Allah akan dihancurkan (2: 4-7;3), sesuatu hal yang tidak pernah mereka pikirkan. Apakah Allah kurang sabar terhadap umat-Nya? (2:7) Tidak! Allah adalah Allah yang panjang sabar. Dalam kasih-Nya, Ia menegur umat-Nya yang telah mendua hati. Umat Allah beribadah kepada Tuhan di bait-Nya, namun hati mereka menyeleweng, berzinah mengikuti ilah-ilah lain serta melakukan banyak ketidakadilan, kejahatan kepada sesama umat yang lemah dan miskin. Dengan perkataan lain, Allah tidak akan tinggal diam melihat semua kejahatan dan kelaliman umat-Nya yang melakukan ketidak adilan pada yang lemah dan miskin. Ia sendiri menjadi “hakim” atas umat-Nya, supaya mereka bertobat. Hukuman dan teguran Tuhan seharusnya membawa umat kembali kepada-Nya. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita, jika gereja/umat Allah tidak lagi melaksanakan misi Allah maka Allah pun bisa meninggalkan gereja/umat-Nya, bahkan mengadilinya. Pengharapan dan Restorasi (2:12-13) Namun, sekali lagi kita melihat kasih dan kesetiaan Allah yang luar biasa, Dia sendiri akan menjadi ”gembala” bagi umat yang tersisa (yang mau kembali kepada-Nya) dan Ia akan berjalan di muka serta menjadi pemimpin yang membebaskan mereka sehingga umat-Nya mengalami restorasi (pemulihan); kembali hidup bersama dengan Allah sepenuhnya. Ia bahkan bersedia memakai kita kembali dalam profesi masing-masing untuk melakukan pekerjaan restorasi bagi kesejahteraan kota dimana kita tinggal, bangsa kita bahkan dunia ini. Ia memperlengkapi dan memberi kuasa melalui Roh Allah sendiri yang memimpin kita melaksanakan panggilan-Nya sampai Ia datang kembali. Terpujilah Tuhan, di Yerusalem baru. Refleksi dan Respon Sejauh mana kita mengenal Dia dan membawa kita sungguh kembali diperbaharui oleh-Nya? Adakah kita memikirkan dan turut mengerjakan kesejahteraan sesama melalui profesi dan talenta yang Ia sudah karuniakan atau kita lupa dan hanya menggunakan untuk kepentingan memperkaya diri dan kelompok kita saja? Apakah suatu hari Tuhan akan mengadili kita juga untuk mempertanggungjawabkan panggilan-Nya sama seperti yang dilakukan-Nya pada umat-Nya melalui kitab Mikha? *) Penulis adalah Executive Director Indonesian Care /stl
- Ketika Ingin Berbuat Baik
Judul Buku: When Helping Hurts: how to Alleviate Poverty without Hurting the Poor… and Yourself. (Ketika Menolong Justru Menyakiti) Penulis: Steve Corbett & Brian Fikkert Halaman: 288 halaman Penerbit: Momentum, 2018 Buku kali ini membahas topik yang secara spesifik jarang dibicarakan; dilema yang dihadapi ketika kita ingin berbuat baik. Atau lebih khusus lagi: kesalahan yang dilakukan orang Kristen dalam misi melayani orang-orang miskin. Penulis, seorang yang bermisi selama belasan tahun di Uganda. Ditengah-tengah pelayanannya yang disertai Tuhan, ia baru melihat bahwa kalau saja ia mengubah persepsi dan strategi yang selama ini dipahaminya, ternyata ia dapat mensejahterakan orang-orang miskin yang dilayaninya dengan lebih baik lagi, lebih berdampak, dan lebih sustainable. Karena alasan itulah maka buku ini lahir. Pelayanan misi pada kaum marginal oleh lembaga-lembaga Kristen, gereja, maupun perorangan, kerap menjadi solusi terbaik untuk jangka pendek. Namun, secara jangka panjang mereka yang telah bertobat ini tidak hanya perlu dilayani karena miskin, tapi perlu mengentaskan diri mereka sendiri dari kemiskinan. Sayangnya, apa yang kaum marginal pikirkan mengenai kemiskinan jauh berbeda dari solusi yang kita pikir efektif bagi mereka. Disinilah upaya yang kita tempuh tidak saja bisa menjadi kurang berdampak, sebailknya dapat membawa kemunduran bagi orang yang dilayani, maupun yang melayani. Paradoks ini yang kemudian diintegrasikan oleh para penulis dari sudut pandang Firman Tuhan, ilmu sosial, ekonomi, dan komunitas. Ada empat bagian dalam buku ini. Diawali dengan membahas sifat kemiskinan dan akibat-akibatnya, dilanjutkan dengan persoalan kunci ketika upaya misi hendak menerapkan upaya untuk mengentaskan kemiskinan. Bagian ketiga dan keempat mendisukusikan tentang konsep membangun ekonomi dan ditutup dengan panggilan untuk mendukung pelayanan-pelayanan pengembangan usaha kecil. Menyimak buku ini, terdapat banyak pertanyaan-pertanyaan kritis, studi kasus, disertai dengan pertanyaan di awal dan akhir setiap bab. Oleh karenanya selain sebagai bahan untuk studi Alkitab, buku ini juga cocok bagi orang pribadi, pemimpin komunitas gereja, kelompok, bahan pertemuan staf, dan untuk dibahas di dalam badan pelayanan. Buku ini memang kompleks dan terperinci, namun disertai dengan diskusi tentang berbagai alternatif solusi. Tidak perlu khawatir, buku ini juga diterjemahkan dengan seksama dan tidak sulit untuk dipahami. Selamat membaca dan selamat melayani lebih sungguh lagi. /eab
- Siap Ambil Bagian!
PMdN Expo 12 Juni 2022 Puji dan syukur kepada Tuhan Pemilik pelayanan ini; oleh anugerah-Nya acara PMdN Expo dapat berlangsung pada Minggu, 12 Juni 2022 yang lalu secara virtual melalui zoom. Acara ini terselenggara dengan tujuan untuk memperkenalkan pelayanan PMdN kepada mahasiswa dan alumni, sehingga mereka terdorong untuk ambil bagian dalam pelayanan bersama ini. Acara PMdN Expo dibuka dengan sambutan dari ketua PMdN Perkantas, dr. Lineus Hewis, Sp.A yang memperkenalkan secara singkat serta visi misi PMdN Perkantas. Setelah itu, acara dibagi menjadi 2 sesi talkshow dan diskusi dari 6 Interest Grup PMdN yang dipimpin oleh drg. T. Hedwin Kadrianto, Sp.PM dan dr. Eka Yudha Lantang, Sp.An, M.Min, MM sebagai moderator. Dalam 2 sesi ini, masing-masing Interest Grup menjelaskan secara singkat mengapa Interest Grup ini dibentuk, kegiatan atau aktivitas yang ada, siapa saja yang dapat bergabung dan bagaimana cara bergabung di Interest Grup yang ada. Sesi pertama diisi oleh presentasi 3 Interest Grup PMdN Perkantas, antara lain: Mission Hospital, Puskesmas dan Cross Cultural. Presentasi dari Interest Grup Mission Hospital/Rumah Sakit Misi dibawakan oleh Dr. dr. Fushen, MH, MM, FISQua. Mission Hospital merupakan Interest Grup yang bergerak bersama untuk membantu dan menolong terwujudnya pelayanan di rumah sakit misi yang ada di Indonesia. Presentasi yang kedua dari Interest Grup Puskesmas dibawakan oleh dr. Harpina Somba. Kerinduan dibentuknya Interest Grup ini adalah mewujudkan tenaga kesehatan Kristen yang punya hati mengasihi dan bekerja sungguh di Puskesmas serta berdampak besar bagi masyarakat. Selanjutnya, presentasi Interest Grup Cross Cultural dibawakan oleh dr. Eva Oktavia K. Simatupang, Sp.KKLP, yang membukakan salah satu tujuan dari Interest Grup ini dibentuk yaitu untuk memperlengkapi mahasiswa dan alumni medis dalam pelayanan lintas budaya. Setelah sesi tanya jawab sesi pertama, sesi kedua dilanjutkan dengan presentasi dari 3 Interest Grup lainnya, yaitu: Health Policy, Dosen Medis Kristen dan Bioethics. Interest Grup Health Policy dibawakan oleh dr. Felisia. Interest Grup ini dibentuk dengan kerinduan dapat berkontribusi menyumbangkan pemikiran untuk kebijakan kesehatan, khususnya di Indonesia, berdasarkan nilai-nilai Firman Tuhan. Presentasi bagian kedua dari Dosen Medis dibawakan oleh Dr. dr. Christine V. Sibuea, M.Biomed, yang membukakan latar belakang terbentuknya Interest Grup ini dengan melihat tantangan dan tuntutan dalam profesi dosen bagi anak-anak Allah sekaligus dapat menjadi wadah untuk mendorong dosen untuk kembali menjadi alumni yang melayani kampus. Dr. dr. Nydia Rena Sihombing, M.Si.Med yang mempersentasikan Bioethics, menjelaskan bahwa Interest Grup ini menjadi wadah diskusi mengenai isu etika kedokteran dan kesehatan berdasarkan Firman Tuhan serta menolong tenaga kesehatan Kristen agar memiliki etika Kristen dalam pelayanan sehari-hari. Bersyukur, untuk sesi talkshow dan diskusi dari 6 Interest Grup PMdN. Acara ini ditutup oleh MC dr. Frisca Finlania Agan dengan menyanyikan pujian Kami Siap Mengambil Bagian. Kiranya setiap mahasiswa dan alumni medis yang hadir di acara ini, bisa ambil bagian dalam pelayanan bersama. Kita berdoa, agar Interest Grup PMdN Perkantas, Tuhan pakai untuk menjadi wadah pembinaan dan membangun jejaring bagi setiap mahasiswa dan alumni medis di berbagai bidang untuk terus menjadi berkat bagi gereja, bangsa dan dunia. /stl
- Membangun Dunia yang Resilien Hadapi Pandemi
COVID-19 bukanlah yang terakhir. Permasalahannya, bukan jika pandemi akan datang kembali, namun ketika pandemi menerpa dunia lagi: apakah kita akan lebih siap? Kemunculan penyakit menular baru (emerging infectious disesase/EID) meningkat signifikan setiap dekade sejak tahun 1940. Lebih dari 60% EID berasal dari hewan yang menular ke manusia (zoonosis), yang mana 7 dari 10 zoonosis berasal dari satwa liar. Rusaknya keanekaragaman hayati akibat aktivitas manusia diperkirakan sebagai mekanisme utama yang mendorong peningkatan terjadinya EID. Mencegah pandemi. Kerugian akibat satu EID, yaitu COVID-19, diperkirakan mencapai 12,5 triliun USD. Nilai ini tak sebanding dengan upaya pencegahan pandemi yang diperkirakan hanya berkisar 20 milyar USD (0,16%) per tahunnya. Bukan hanya mencegah penyakit yang lebih baik dari pada mengobati, mencegah pandemi juga jauh lebih baik dari pada menghadapi pandemi. Upaya pencegahan dapat difokuskan pada “titik temu” antara satwa liar dan manusia, yang memiliki risiko tinggi terjadinya EID. Peningkatan surveilans patogen pada lokasi berisiko tinggi, pengelolaan yang lebih baik pada aktivitas jual-beli satwa liar dan perburuan, serta menurunkan deforestasi adalah langkah-langkah utama yang direkomendasikan untuk mencegah pandemi. Bersiap hadapi pandemi. COVID-19 telah mengajarkan kita, bahwa wabah itu universal. Baik negara maju maupun berkembang, orang kaya dan miskin, tua dan muda, hitam dan putih, semua terdampak. Oleh karena itu, kerja sama antar individu, institusi, daerah, negara di seluruh dunia, amat dibutuhkan untuk dapat menangani pandemi dengan lebih baik. Salah satu bentuk kerja sama yang paling kritikal ialah, berbagi data patogen dengan cepat. Pada COVID-19, contohnya, vaksin Pfizer-BioNTech mulai dikembangkan oleh ilmuwan asal Jerman per 10 Januari 2020, di hari yang sama pihak Chinese Center for Disease Control and Prevention menyetor pertama kali data genomika virus SARS-CoV-2 di platform GISAID. Kurang dari setahun (tepatnya, 327 hari), vaksin tersebut selesai dikembangkan dan mendapatkan izin untuk digunakan pada umat manusia. Kecepatan Project Lightspeed pengembangan vaksin Pfizer-BioNTech ini tidak pernah ada di dalam sejarah vaksin sebelumnya, yang kemudian mampu menyelamatkan nyawa jutaan umat manusia dari salah satu wabah terburuk abad ini. Berikutnya, negara-negara juga harus bekerja sama dalam pendanaan dan akses terhadap vaksin, terapeutik, serta diagnostik. Pendanaan global, khusus untuk pencegahan, kesiapsiagaan, respon terhadap pandemi, jelas dibutuhkan. Namun uang saja tidak cukup, dunia harus bekerja sama dalam hal akses terhadap countermeasures esensial untuk menghadapi patogen, antara lain vaksin, terapeutik, serta diagnostik. Masih segar di dalam ingatan kita, di awal pandemi COVID-19 masyarakat kesulitan mengakses masker atau ventilator (misalnya), walaupun kita punya uang untuk membelinya. Kepemimpinan Indonesia dalam G20 tahun ini berhasil mendorong dunia untuk mengumpulkan dana khusus, untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respon pandemi di masa yang akan datang. Per 30 Juni 2022, lebih dari 1 milyar USD dana perantara (FIF) ini telah disahkan di World Bank, yang kemudian akan digunakan untuk penguatan kapasitas nasional, regional, dan global dengan fokus pada negara-negara berkembang, demi resiliensi hadapi pandemi di masa depan. Berikutnya melalui G20, Indonesia juga mendorong pembangunan akses permanen terhadap vaksin, terapeutik, dan diagnostik (VTD) yang dapat cepat dikembangkan dan didistribusikan bagi daerah yang membutuhkan. Tanpa akses VTD yang cepat, patogen akan sulit dikendalikan, dan kerugian nyawa dan kesehatan akan semakin besar. Koordinasi pendanaan dan akses VTD di tingkat global menjadi dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan jika kita ingin lebih siap menghadapi krisis kesehatan. Akhir kata, setiap krisis memberikan kita kesempatan untuk berbenah. Jangan sia-siakan momentum perubahan yang ada, saatnya kita ciptakan dunia yang lebih sehat, resilien hadapi pandemi di masa yang akan datang. Jakarta, 5 Juli 2022 *Penulis adalah Tenaga Ahli Menteri Kesehatan Bidang Analisis dan Harmonisasi Program Kesehatan. Jones KE, Patel NG, Levy MA, Storeygard A, Balk D, Gittleman JL, Daszak P. Global trends in emerging infectious diseases. Nature. 2008 Feb 21;451(7181):990-3. doi: 10.1038/nature06536. Keesing F, Belden LK, Daszak P, Dobson A, Harvell CD, Holt RD, Hudson P, Jolles A, Jones KE, Mitchell CE, Myers SS, Bogich T, Ostfeld RS. Impacts of biodiversity on the emergence and transmission of infectious diseases. Nature. 2010 Dec 2;468(7324):647-52. doi: 10.1038/nature09575. IMF, Oct 2021; WHO Global Pulse Survey Nov/Dec 2021; World Bank (estimate of school closures; Dec 2021); World Bank (Oct 2021); IMF WEO Apr 2022 Bernstein et al, 2022, The costs and benefits of primary prevention of zoonotic pandemics, DOI: 10.1126/sciadv.abl4183 Wikipedia, Pfizer-BioNTech COVID-19 Vaccine, https://en.wikipedia.org/wiki/Pfizer%E2%80%93BioNTech_COVID-19_vaccine World Bank Board Approves New Fund for Pandemic Prevention, Preparedness and Response (PPR) https://www.worldbank.org/en/news/press-release/2022/06/30/-world-bank-board-approves-new-fund-for-pandemic-prevention-preparedness-and-response-ppr
- Act Justly, Love Mercy, Walk Humbly
Food for The Hungry (FH) adalah sebuah organisasi nirlaba Kristen yang sangat dikenal, berpusat di California Selatan dan didirikan pada tahun 1971. Misi jangka panjang organisasi tersebut adalah mengentaskan kemiskinan dalam komunitas dalam waktu 10-15 tahun. Organisasi ini akan pergi ke suatu tempat yang tersulit di muka bumi dengan strategi akhir, memberdayakan pemimpin lokal, berjalan bersama dengan mereka dan mendorong komunitas mereka membentuk tempat yang dapat memberikan mereka sumber daya sendiri. Hal yang menarik dari organisasi ini adalah dalam setiap aula, kantor, bahkan kaos para staf FH di seluruh dunia, terdapat suatu kata-kata yang berasal dari Mikha 6:8 “Act justly. Love mercy. Walk humbly”. Bukan suatu kebetulan ayat itu dipilih menjadi pengingat kerja organisasi ini karena ayat ini pun merupakan ayat favorit Dr. Larry Ward, sang pendiri FH. Kutipan ayat di atas terambil dari kitab Mikha yang merupakan kitab yang cukup singkat berisi suatu nubuatan yang sangat luar biasa yang meramalkan kejatuhan Yerusalem dan Samaria serta menawarkan harapan kepada “sisa-sisa Yakub” (Mikha 5:7) yang akan dipulihkan. Pada pasal 6, Tuhan mengingatkan kepada umat-Nya bagaimana Ia mengasihi mereka pada masa lampau. Mikha mempertanyakan bagaimana ia dapat dipulihkan oleh Tuhan. Ia sampai pada akhirnya mengorbankan anaknya sendiri. Melalui pernyataan ini, Mikha menunjukkan keputusasaan apakah umat Tuhan akan kembali kepada Tuhannya. Namun, kemudian ia menyadari bawa Tuhan telah menunjukkan jalan dan jalan itu sederhana. Bagaimana kita dapat memaknai Mikha 6:8 dalam kehidupan kita? Mari kita lihat bagaimana Dr. Larry Ward memaknai ayat ini. Act Justly Sebagai langkah pertama, Tuhan berkata, berlakulah adil atau lakukan keadilan yang mana merupakan suatu kualitas diri untuk tidak berpihak dan jujur. Dr. Ward sangat terbeban untuk melihat keadilan atau lebih tepatnya ketidakadilan terkait dengan distribusi makanan di seluruh dunia. Sekali waktu, ia menulis pada seorang sahabatnya, “Ratusan bahkan ribuan orang kelaparan di India, sementara gandum yang cukup memberikan mereka makan tersimpan banyak dalam gudang-gudang di Alberta, Amerika Serikat. Ia memprediksi bahwa distribusi makanan akan menjadi semakin tidak adil. Ward mengenali suatu sistem yang sangat kompleks yang tetap membuat sekelompok belahan dunia tidak mendapat akses sumber makanan di bagian dunia yang lain. Ward melihat bahwa perannya dalam berlaku adil adalah bekerja memperbaiki kesalahan ini. Tanpa memandang sistem sosial dan politik apa pun yang menciptakan kelaparan, ia bertekad untuk berkarya mengatasi penderitaan dari orang-orang yang kelaparan. Bercermin dari teladan Dr. Ward, kita dapat melihat bahwa mencintai keadilan harus diiringi dengan perilaku yang adil. Kita mungkin menyukai keadilan dan gagasan di dalamnya, tetapi tidak banyak dari kita yang benar-benar siap melakukan keadilan. Berlaku adil kerap kali menuntut kita untuk mengasihi mereka yang tertindas atau hidup dalam tekanan, sedemikian rupa hingga bahkan mengorbankan aspek personal dari diri kita – waktu, tenaga, materi, pikiran, mental, dan sebagainya. Love Mercy Perintah Tuhan selanjutnya dalam Mikha 6:8 adalah “to love mercy”. Menurut kamus Alkitab, mercy atau belas kasih membutuhkan sikap hati yang mendalam dan suatu perbuatan yang muncul keluar. Dr. Ward mendirikan FH dengan membawa unsur belas kasihan ke dalam budaya organisasinya. Ward mendapatkan fakta bahwa setiap harinya sekitar 10.00 orang di seluruh dunia menderita akibat kelaparan. Nuraninya sangat terganggu dengan angka itu serta dalam doanya meminta Tuhan untuk suatu jawaban bagaimana ia dapat mengambil peran. “Saya hanya satu orang saja,” doanya. Seketika ia merasa Tuhan membalas doanya, ”Tetapi mereka akan mati satu persatu, anak-Ku, mereka akan mati satu persatu”. Dr. Ward akhirnya menyadari bahwa jika orang meninggal satu demi satu, maka mereka dapat menolong satu demi satu. Kemudian, ia mendirikan FH dengan konsep bahwa belas kasihan dapat ditunjukkan pada satu orang pada suatu waktu. Digerakkan oleh belas kasihan, kita dapat melakukan satu langkah dengan kasih yang tak terbatas pada satu orang yang membutuhkan. Mencintai kesetiaan atau love mercy sejatinya harus diiringi tindakan mengasihi orang lain. Seseorang tidak bisa berkata bahwa dirinya mencintai kesetiaan tanpa mengasihi sesamanya. Lebih jauh lagi, kita tak bisa mengklaim bahwa kita adalah seorang yang mengasihi orang lain tanpa adanya dorongan untuk memberi. To love mercy berarti siap untuk mengasihi orang lain, membayar harga untuk mengasihi dan memberi bagi orang lain, sama seperti Kristus yang telah terlebih dahulu mengasihi kita dan memberikan diriNya bagi kita. Walk Humbly Perintah yang ketiga dalam Mikha 6:8 adalah “to walk humbly with your God” atau berjalan dengan penuh kerendahan hati bersama Tuhan. Sepanjang hidupnya, Dr. Ward menunjukkan kerendahan hati dalam setiap karyanya. Ia menyadari bahwa tanpa kasih karunia Tuhan, maka dirinya tidaklah berarti. Ia sering mengutip Mazmur 34:7 untuk merujuk siapa dirinya. “Orang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya”. Berjalan dalam Tuhan dengan penuh kerendahan hati adalah kunci utama saat berkarya bagi orang miskin. Terlalu sering bahwa kita mengira orang miskin tidak memiliki apapun untuk berbagi atau memberi pengajaran. Sebaliknya, berjalan dalam Tuhan dengan penuh kerendahan hati akan membuat kita mampu mengenali kemiskinan yang ada dalam diri kita baik dalam pikiran, jiwa, roh serta tubuh tanpa kasih karunia Tuhan. “Act justly, love mercy, walk humbly” sangat memaknai kehidupan Dr. Larry Ward dan pelayanannya. Bagaimana dengan kita? Mari memohon pertolongan Roh Kudus untuk menyelidiki hati kita dan menolong kita untuk juga memaknai ayat ini dan mengaplikasikannya dalam hidup dan panggilan kita sehari-hari. *) Penulis saat ini bekerja sebagai dokter spesialis anestesi. /stl
- Medical Mission Course XV tahun 2022
Penulis: drg. Rachel Emteta dan salah satu peserta MMC Ibadah Pembukaan MMC XV 2022 Photo credit: Rachel Emteta Medical Mission Course XV tahun 2022 kembali berlangsung secara virtual, yang dilaksanakan pada tanggal 6 Februari – 8 Mei 2022. Kondisi pandemi yang belum usai tidak membuat rangkaian MMC tahun ini berhenti. Allah yang memimpin MMC sejak tahun pertama adalah Allah yang sama yang menuntun setiap persiapan sampai MMC tahun ini boleh terlaksana. Rangkaian MMC XV dimulai dengan sesi kelas dasar selama dua minggu, di mana kedua belas peserta diperlengkapi mengenai bagaimana mencari kehendak Allah secara mandiri, mengenal gambaran besar misi global Allah, mengenali dan menggumulkan panggilan pribadi secara spesifik dalam dunia misi medis. Sesi eksplorasi yang berlangsung selama tiga minggu membukakan kepada peserta mengenai lembaga-lembaga misi yang dapat menjadi rekan sekerja, kesempatan mendengar life sharing dari para dokter dan dokter gigi Kristen misioner, serta mendapat paparan dari tujuh bidang misi medis yaitu cross cultural mission, urban mission and neglected people, medical mission networking, community health evangelism, health policy, law and management, mission and hospital. Setelah lima minggu berlangsung pertemuan virtual, peserta memiliki kesempatan untuk praktik lapangan dengan lembaga/yayasan misi yang ada di berbagai kota. Pengalaman ini menolong peserta untuk observasi, visitasi dan melihat langsung pelayanan yang dikerjakan. Kesempatan berharga ini juga merupakan momen di mana beberapa peserta dan panitia dapat saling bertemu. Pada waktu yang bersamaan, semua peserta memilih satu sampai dua dari tujuh bidang misi medis yang sudah dipaparkan sebelumnya. Pertemuan bersama mentor di dalam kelompok kecil selama tujuh minggu menolong peserta untuk menemukan langkah awal yang tepat dalam menekuni bidang misi medis yang mereka pilih, dibukakan tentang dasar biblikal, gambaran pelayanan dan realita yang terjadi di lapangan serta jejaring yang dapat dibangun. Terpujilah Allah atas kebaikan dan penyertaan-Nya sehingga tiga belas minggu rangkaian MMC dapat berjalan dengan baik. Terlepas dari segala kekurangan, kami panitia sungguh bersyukur kepada Allah dan kepada seluruh mentor serta narasumber yang terlibat. Diakhiri dengan ibadah penutupan dan pengutusan, kami berdoa kedua belas peserta dimampukan dan diteguhkan dalam mengerjakan panggilan agung Allah serta taat dan setia sampai akhir. Soli Deo Gloria. Berikut adalah cuplikan dari kesaksian peserta MMC XV: 1. dr. Christa Adeline (FK UNS 2015) ”Melalui setiap sesi MMC, Saya merasa setiap sesi MMC adalah pertunjukan para pembicara dan panitia menyanyikan lagu ini kepada para peserta. Saya melihat dengan sungguh nyata orang-orang–yang beberapa umurnya jauh di atas saya pun–tetap terbakar dalam api kasih kepada Tuhan, dan ini merupakan penghiburan yang luar biasa.” 2. dr. Claudia Putri Grevi (FK Maranatha 2015) ”Melalui sesi-sesi dalam MMC, saya tidak hanya belajar untuk menemukan panggilan hidup saya sebagai dokter, namun juga belajar untuk memiliki relasi yang benar dengan Allah sebagai akarnya dan akhirnya menemukan panggilan hidup saya sebagai anak Tuhan yang berprofesi dokter.” 3. dr. Gian C. Kalalembang (FK UNHAS 2015) ”Bersyukur melalui berbagai materi dasar, praktik lapangan, serta life sharing dalam MMC saya dapat mengeksplor bentuk panggilan serta belajar dari para mentor” 4. dr. Jeslyn Tengkawan (FK Atmajaya 2011) ”Saya sangat menikmati sebagian besar sesi MMC, mulai dari misi terintegrasi, BGA, AWG, life calling, life planning, life sharing, B2B, konseling, track mentoring, dan juga mentoring personal. Saya mulai kembali disadarkan bagaimana seharusnya saya hidup sebagai dokter untuk Tuhan.” 5. dr. Jessica Nathania (FK Atmajaya 2014) ”Selama mengikuti MMC saya mengalami banyak perubahan mulai dari disiplin rohani, menentukan prioritas dalam hidup, management waktu dan yang pasti cara pandang saya terhadap misi Allah.” 6. dr. Joue Abraham Trixie (FK UKI 2014) ”Semenjak mengikuti MMC, saya boleh lebih tenang dalam menjalani hidup, lebih fokus kepada Tuhan, percaya akan kedaulatanNya, menjalani hari tanpada ada penyesalan, dan merasa ”cukup” sehingga tidak melihat kanan kiri lagi” 7. dr. Raoulian Irfon (FK Universitas Udayana) ”Saya mendapat kesempatan untuk mendengarkan kesaksian kehidupan dari kakak-kakak alumni dan dari berbagai lembaga misi. Setiap sharing terasa seperti sebuah orkestra kehidupan yaitu melihat bagaimana kuasa, penyertaan, serta tuntunan Tuhan bagi setiap orang dalam menjalankan hidup, panggilan, serta visi mereka. Tuhan mengenal, memanggil, memperlengkapi, serta memelihara setiap pribadi dengan cara yang luar biasa” 8. drg. Tesalonika Pratiwi Situmeang (FKG Universitas Hasanuddin 2013) ”Saya bersyukur karena lebih memahami hidup yang berintegritas, mengatur hidup, dan memahami bahwa pelayanan dalam berbagai profesi yang lebih aplikatif. Saya merasa dikuatkan untuk menggali potensi kita sebaik mungkin agar menjadi saluran berkat untuk banyak orang.” 9. dr. Yohana Revi Imanita (FK Universitas Diponegoro 2015) ”Saya semakin bersyukur dan menyadari anugerah-Nya, ketika boleh Dia persiapkan untuk menjalani panggilan-Nya – memang benar, Tuhan yang panggil dan Tuhan juga yang memperlengkapi.” 10. dr. Jein Pratiwi Pongbulaan (FK Universitas Hasanuddin 2014) ”Saya mendapatkan berbagai pelajaran berharga yang baru pertama kali saya dengar dan ada juga beberapa hal penting yang diingatkan dan disegarkan kembali. Saya kembali diingatkan bahwa tentang hati Allah buat suku-suku bangsa. Ini tidak asing bagi saya namun sempat saya lupakan selama beberapa waktu. Dan saya bersyukur mengetahui bahwa untuk mengerjakan visi Allah ini ada banyak cara, bukan hanya menjadi utusan lintas budaya seperti yang saya ketahui selama ini.” 11. dr. Simon Nathanael Wicaksono ”Melalui MMC, saya melihat bahwa penyertaan Tuhan nyata, semua ketakutan-ketakutan yang saya miliki selama ini terkait kehidupan pelayanan nyatanya tidak relevan dan sekalipun terjadi dalam pelayanan, hal tersebut tidak membatasi pekerjaan Tuhan.” 12. drg. Tio Tien Dina F. Girsang (FKG USU 2014) ”Melalui MMC, saya disadarkan akan pentingnya memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan yang baik dalam menggumulkan panggilan hidup. Setiap orang akan memiliki masa jatuh bangun dan dalam kondisi itu pun kita pasti dapat melihat kasih Tuhan, bekerja dalam kesadaran panggilan akan Allah membuat kita bekerja bukan bicara tentang menyenangkan atau tidaknya kondisi pekerjaan kita, namun kita sadar bahwa Allah menginginkan kita menyelesaikan bagian ini hingga akhinya kita menikmati manisnya ketika taat kepada Tuhan” /stl Peserta dan Panitia MMC XV 2022 Photo credit: Rachel Emteta
- Bukan Pasangan Biasa
Menikah lebih dari 25 tahun merupakan rentang waktu yang cukup lama. Itu mendorong saya untuk berpikir ulang apa sebenarnya tujuan pernikahan. Dulu, pria dan wanita menikah tujuan utamanya adalah meneruskan keturunan. Sejalan dengan waktu, di masa modern, ketika peradaban berubah, teknologi berkembang sangat pesat, masa dimana rasio dan ilmu pengetahuan ditempatkan lebih utama, maka nilai- nilai hidup pun berubah. Era modern terjadi perubahan peran pria dan wanita, era dimana spiritual dan sekularitas dipisahkan dengan jelas, masa dimana informasi menyebar dengan luas menyebabkan tujuan pernikahan pun berubah. Pernikahan kehilangan nilai kesakralannya, dan angka perceraian meningkat dari tahun ke tahun. Pernikahan tidak lagi semata untuk memiliki keturunan (memiliki keturunan bisa tanpa pernikahan), tetapi semata untuk mendapatkan kebahagiaan dan pemenuhan ekspektasi / kebutuhan. Kini di abad 21, dunia memasuki era postmodern. Era dimana sistem teknologi informasi berkembang sangat pesat membuat dunia saling mempengaruhi secara masif, global dan cepat. Subjektivisme, relativisme dan pluralisme menjadi menonjol. Makna pernikahan pun semakin bergeser. Definisi kebahagiaan yang dicari dalam pernikahan menjadi sangat subjektif. Apa yang boleh apa yang tidak menjadi sangat relatif. Saat ini pria dan wanita tidak perlu menikah untuk memiliki anak atau sebaliknya menikah tetapi tidak mau memiliki anak (Child free). Ada pula istilah yang disebut open marriage (pernikahan terbuka) yaitu suatu relasi dimana suami-istri sepakat dan mengizinkan satu sama lain menjalin hubungan dengan orang lain atau hubungan tanpa ikatan serius, semata hanya persetujuan untuk hidup bersama (Friends with benefit/FWB). Tujuan pernikahan atau relasi pria dan wanita di era postmodern adalah untuk mendapatkan kebahagiaan yang sangat subjektif, relatif dan tak terbatas oleh norma/nilai tertentu. Maka jika kebahagiaan tidak ditemukan dalam pernikahan atau sudah tidak bisa dirasakan lagi, maka akan mudah untuk bercerai atau mencari bentuk relasi yang berbeda yang dianggap lebih memberi kebahagiaan. Jika dulu kita mengenal LGBT maka di era Posmodern ini kita diperhadapkan dengan LGBTQIA2S+ ( Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer and/or Questioning, intersex, Asexual, Two-Spirit, and the countless affirmative ways). Dimana kita berdiri saat ini? Jika kita saat ini memiliki pernikahan yang secara nilai kristiani benar, bagaimana dengan generasi anak –cucu kita nanti? Sudah seharusnya tujuan pernikahan orang percaya berbeda, karena inilah implikasi panggilan kita: dikuduskan untuk menjadi garam dan terang dunia. Tapi, cukupkah berbeda? Alkitab mengajarkan bahwa pernikahan dan keluarga mengemban agenda Allah. Jika dirunut dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita akan melihat bagaimana Allah menciptakan pernikahan dan menjadikan pernikahan itu menjadi bagian yang sangat penting dalam mengelola, memelihara ciptaan, menebus dan menyelamatkan dunia. 1. Agenda Suami-Istri pada Mulanya: Bukan Sekedar Memiliki Anak Allah memberi amanat pertama pada pasangan pertama.: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi “ (Kejadian 1:28). Mandat Allah pada manusia ini diberikan setelah Allah memberkati mereka, menjadi pasangan suami–istri. Sejak semula Allah menitipkan bumi ciptaan-Nya ini pada pasangan pernikahan pertama yang diciptakan-Nya. Agenda Allah bagi mereka tidak saja meneruskan keturunan tetapi juga agar pasangan baru tersebut beserta keturunannya menjadi representasi Allah bagi bumi ciptaan. Agar pasangan baru ini dan keturunannya kelak menjadi penatalayan ciptaan-Nya. 2. Agenda Allah pada keluarga Nuh: Rekan sekerja dalam Karya pemeliharaan Ciptaan Ketika manusia jatuh dalam dosa dan semakin jahat, Allah bermaksud membinasakan manusia, namun Allah memilih 1 keluarga untuk memelihara kelestarian ciptaan-Nya: Nuh dan keluarganya (Kejadian 6: 17-21). Setelah air bah berlalu, kembali Allah memberi perintah : “Beranak cuculah dan bertambah banyaklah …” (Kejadian 9: 1-7). Allah kembali melibatkan pasangan dan anak mantunya dalam rencana pemeliharaan kelangsungan ciptaan-Nya; menjadi rekan sekerja Allah di dunia setelah Allah melakukan pembersihan pada bumi ciptaan-Nya. 3. Allah Memberi “Panggilan Menjadi Berkat” bagi Pasangan Dalam hikmat Allah, ketika tiba masanya untuk mempersiapkan karya penyelamatan, Allah memanggil Abraham dan keluarganya. Allah menyuruh Abraham pergi dari negerinya, dari sanak saudaranya, dari rumah bapanya ke negeri yang baru untuk membuatnya menjadi bangsa yang besar, untuk memberkatinya serta membuatnya masyur dan menjadi berkat. (Kejadian 12: 1-2). Ketika Abraham telah sampai, Allah berfirman akan memberikan negeri itu pada keturunannya. Secara rinci Allah memilih pasangan Abraham dan Sarai bukan dari keturunan Abraham dan Hagar atau gundiknya yang lain. Dari hal ini kita belajar bahwa bagi Allah pasangan itu penting, secara personal Allah memberikan agenda pada pasangan Abraham dan Sarai untuk menjadi bangsa yang memberkati bangsa- bangsa lain. Agenda menjadi berkat ini dipegang Abraham dengan sungguh-sungguh. Di akhir hidupnya, Abraham memastikan agenda ini tetap berlangsung dengan baik pada Ishak. Kisah Abraham mencarikan istri bagi Ishak, sesuai tradisi masyarakat masa itu, dalam Kejadian 24: 1-8 sering dijadikan kisah pengajaran tentang bagaimana memilih istri. Sebenarnya kisah itu merupakan cerita yang Allah ijinkan untuk kita ketahui bagaimana Abraham dan juga Ishak menjaga panggilan yang Allah berikan pada keluarga mereka. Dengan tegas Abraham meminta hambanya : Mengambil istri untuk Ishak dari negeri leluhurnya bukan dari bangsa Kanaan mana mereka tinggal. Jangan membawa Ishak kembali ke negri leluhurnya Abraham sangat serius memastikan panggilan yang Allah berikan padanya dan keturunannya tetap terjaga. Keseriusannya ini juga turun pada Ishak. Kala itu Ishak telah berumur 40 tahun. Usia yang sudah cukup untuk berketurunan pada manusia masa itu. Ishak tidak sembarangan mengambil perempuan Kanaan. Hal yang sama juga dia sesali ketika Esau mengambil istri dari perempuan negeri itu. Pengalaman Abraham bersama Allah dan panggilan Allah bagi keluarga dan keturunannya dengan sadar dan serius Abraham turunkan pada Ishak. Abraham secara sengaja, terencana memastikan panggilan Allah ini terjaga pada generasi sesudahnya. Seberapa serius kita, sebagai pasangan yang memiliki anak menyadari bahwa ada panggilan Allah bagi kita sebagai keluarga Kristen dan panggilan khusus yang Allah beri bagi keluarga kita masing masing. Seberapa terencana dan serius kita menurunkannya pada keturunan kita? Banyak pasangan masa ini sangat serius merencanakan pendidikan formal bagi anak-anaknya, bekerja sangat keras agar dapat memberi pendidikan yang sangat memadai buat anaknya. Berambisi agar anak-anaknya dapat bersaing di dunia profesi kelak, sukses dalam kehidupan dan menjadi orang terpandang. Disisi lain, ambisi dan keseriusan yang sama tidak tampak, saat orangtua memastikan anak cucunya menangkap panggilan yang sama, yaitu panggilan menjadi berkat bagi dunia. 4. Karya Keselamatan Mulai dalam Keluarga Sampai saatnya tiba, kembali Allah memberi agenda baru pada pasangan suami istri tua: Zakharia-Elisabet yang akan melahirkan dan mempersiapkan Yohanes pembaptis. Yohanes yang akan mempersiapkan kedatangan sang Mesias. Uniknya, Mesias ini pun hadir ke dunia dalam sebuah keluarga: keluarga Yusuf-Maria. Malaikat memberitahukan agenda penting ini pada Yusuf melalui mimpi : “ Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia, Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya” ( Matius 1: 20-25) Peran Zakharia dan Elisabet, Yusuf dan Maria dalam karya penyelamatan sudah selesai. Agenda Allah tidak berhenti disitu. Karya penebusan Kristus masih terus berlangsung bagi banyak orang. Amanat Agung-Nya memberi kita agenda baru: menjadikan segala bangsa murid-Nya. Ada banyak nama pasangan dalam sejarah gereja, jejak kaum martir, kisah misionaris dan teladan para pasangan kristiani lain yang dapat kita lihat. Pasangan dan keluarga yang setia menjalankan amanat agung tersebut di masanya. 5. Keluarga Menjadi Inti Pemuridan Seorang uskup muda yang menjadi penerus Paulus di masanya, adalah hasil dari pemuridan seorang ibu dan nenek: Eunike sang ibu dan Lois, neneknya. Timotius, berayahkan seorang Yunani dan ibu seorang Yahudi. Sejak kecil dia sudah mengenal kitab-kitab Ibrani yang diajarkan oleh ibu dan neneknya. Pengajaran dari keluarga inilah yang menuntun mereka ( dimulai dari ibu dan nenek lalu kemudian Timotius) kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus ( 2 Timotius 3:15). Timotius sudah diajar sejak kecil untuk menyukai kitab – kitab Ibrani sehingga dia menerima ajaran pemberitaan Paulus tentang Kristus sebagai sesuatu yang benar. Banyak dari kita adalah orang percaya yang lahir di tengah keluarga Kristen, dibesarkan di tengah keluarga dengan tradisi berdoa di pagi hari, sebelum dan sesudah makan, dan sebelum tidur. Disiplin pergi ke Sekolah Minggu setiap hari minggu. Semua rutinitas tersebut memberi sumbangsih pada pengenalan kita secara pribadi pada Kristus. Rutinitas tersebut membentuk tradisi dan rasa nyaman pada lingkungan yang membuat kita lebih mudah bertumbuh. Dengan kalimat lain, semua rutinitas yang diajarkan keluarga kita (yang sebagian kita hanya mengerti sebagai tradisi saja) tanpa kita sadari telah membuat kita menjadi tanah yang gembur untuk benih firman Tuhan mudah tumbuh. Alangkah baiknya jika keluarga tidak hanya memberikan tradisi/rutinitas namun juga pembelajaran firman seperti apa yang dilakukan Eunike dan ibunya Lois. Pengajaran Firman dimulai dari keluarga. Mungkin ini yang hilang pada keluarga-keluarga Kristen dimana mereka hanya mewarisi tradisi Kristiani tanpa pemuridan sehingga dengan mudahnya dihisap oleh perubahan budaya dunia yang masif, global tanpa batas. Seperti slogan yang kita sudah kenal : muridkan anak-anakmu sebelum dunia ‘memuridkan’ mereka. 6. Keluarga Menjadi Inti Misi Integral Adalah sepasang suami istri, pasangan Kristen pada jemaat mula-mula yang hidup pada masa kaisar Klaudius. Mereka pindah ke Korintus setelah semua orang Yahudi diusir meninggalkan Roma. Di rumah mereka inilah Paulus singgah dan tinggal bersama mereka selama di Korintus. Mereka adalah pasangan kaum profesional : pembuat tenda. Paulus dan pasangan ini bekerja bersama-sama. Kisah Para Rasul dan surat –surat Paulus kerap kali menyebut nama mereka: “sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila. Teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku (Roma 16:3-4). Setelah satu setengah tahun bersama Paulus di Korintus, pasangan suami istri ini turut bersama Paulus ke Siria. Paulus meninggalkan mereka di Efesus. Di sana pasangan ini memuridkan orang orang percaya baru. Kisah Para Rasul menceritakan bagaimana Priskila dan Akwila membawa Apolos ke rumah mereka dan mengajarnya dengan teliti tentang jalan Allah. Ketika itu mereka melihat ada pemahaman Apolos yang salah tentang keselamatan. Setelah pemuridan ini, Apolos kemudian menjadi pengajar injil yang sangat dipakai Allah (Kisah Para Rasul 18). Selain itu, 1 Korintus 16, menceritakan bagaimana rumah mereka dipakai menjadi rumah ibadah bagi jemaat di Asia kecil. Hal yang menarik adalah, nama mereka tidak pernah ditulis terpisah, mereka sebagai pasangan bersama Paulus menjadi penginjil keliling dan pemimpin gereja di jemaat-jemaat yang didirikan Paulus. Menurut tradisi gereja, pasangan ini dilaporkan mati syahid. Penutup Allah tidak menjadikan pasangan suami istri tanpa tujuan. Ada agenda yang Allah berikan pada tiap tiap pasangan dan keluarga. Agenda itu bukan sekedar untuk memperoeh keturunan tetapi untuk ambil bagian dalam misi Allah bagi dunia. Jika kita sudah dan sedang menjalankan agenda ini, seberapa serius kita sebagai pasangan memastikan panggilan dan visi yang Alah berikan ini berlanjut ke anak dan cucu kita. Akankah kita seperti Abraham : “Awas, jangan kau bawa anakku ke sana!” Mari meneladaninya dengan menjadi pasangan yang serius menjaga panggilan Allah dan memastikannya berlanjut pada keturunan kita. Mari kita menjalani kehidupan pernikahan kita dengan semangat: Kita bukan pasangan biasa. /stl *)Penulis adalah seorang konsultan ginjal dan hipertensi di RSUD Tarakan, Jakarta
- Kehidupan yang indah: Eksposisi Efesus 4-6
Dari tiga pasal terakhir surat Paulus kepada jemaat di Efesus ini paling tidak kita bisa belajar lima cara mempraktikkan kehidupan yang indah, yaitu hidup dalam: kesatuan (4;1-16), kesucian (4:17-5:17), keharmonisan (5:18-6:9), kemenangan (6:10-20) dan anugerah (6: 21-24). 1. Hidup dalam kesatuan (4:1-16) Kesatuan orang-orang percaya di dalam Kristus sudah merupakan suatu realita rohani. Tanggung jawab kita adalah menjaga dan memelihara kesatuan itu. Dalam menjalaninya kita perlu memahami empat fakta penting berikut ini: (1) Kasih karunia dalam kesatuan (4:1-3). Kesatuan bukanlah keseragaman. Kesatuan berasal dari dalam dan merupakan kasih karunia rohani, sedangkan keseragaman diakibatkan oleh desakan dari luar. Dalam memelihara kesatuan Roh, kita perlu memiliki sifat-sifat Kristen antara lain kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran dan damai sejahtera; (2) Dasar kesatuan (4:4-6). Ada tujuh kenyataan rohani yang menjadi dasar kesatuan orang percaya yaitu: Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan, Satu Tuhan, Satu Iman, Satu Baptisan, Satu Allah dan Bapa; (3) Karunia kesatuan (4:7-11). Allah telah memberi setiap orang sedikitnya satu karunia Roh dan harus digunakan untuk mempersatukan dan membangun Tubuh Kristus; (4) Pertumbuhan kesatuan (4: 12-16). Bukti pertumbuhan rohani adalah keadaan serupa dengan Kristus, adanya kestabilan, tidak diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran dan berpegang pada kebenaran dalam kasih. 2. Hidup dalam kesucian (4:17-5:17) Bagian ini diawali dengan peringatan yang tegas, yaitu, jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka, tetapi dengan cara hidup benar yaitu menjadi penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih. Jika kita anak-anak Allah, maka kita harus meniru Bapa kita. Ini adalah dasar bagi tiga peringatan untuk hidup suci dalam bagian ini; (1) Allah adalah kasih, oleh sebab itu kita sejatinya hidup di dalam kasih (5:1-2); (2) Allah adalah terang, oleh sebab itu sewajarnya kita hidup sebagai anak-anak terang (5:8); (3) Allah adalah kebenaran, oleh sebab itu kita hidup sebagai orang arif. 3. Hidup dalam keharmonisan (5:18-6:9) Paulus menyatakan bahwa rumah tangga dapat menjadi sorga di bumi jika setiap anggota keluarga dikuasai oleh Roh, hidup dengan sukacita, penuh pengucapan syukur dan merendahkan diri satu kepada yang lain. Paulus menyatakan bahwa ada tiga bukti kepenuhan Roh dalam kehidupan orang Kristen yaitu; (1) Bersukacita (5:19); (2) Penuh pengucapan syukur (5:20); (3) Merendahkan diri seorang kepada yang lain (5:21-33). Dalam rumah tangga suami sebagai kepala memimpin dan mengambil prakarsa, sama seperti Kristus mengambil prakarsa pada saat Ia datang menjadi Juruselamat dunia. Menjadi kepala keluarga juga ikhlas mengorbankan diri demi kekasih sama seperti Kristus mengorbankan diri-Nya untuk menyelamatkan mempelai-Nya. Tentang istri, Paulus menyebut, istri wajib tunduk dan suami wajib mengasihi sama seperti Kristus mengasihi. Tentang anak dan orang tua. Anak-anak dalam rumah tangga Kristen wajib menaati orang tuanya dan hal ini merupakan kewajaran secara alamiah dan sesuai dengan hukum serta Injil. Orang tua diingatkan menjalankan peran dengan menghormati kepribadian anak serta mendidiknya dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Untuk hamba dan tuan Paulus menyampaikan prinsip yang sama. Apabila anak wajib menaati orang tuanya, maka hamba juga wajib menaati tuannya di dunia dengan alasan yang sama, karena di belakang orang tua maupun tuan berdiri Tuhan di surga yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kepada para tuan diingatkan dengan jelas bahwa Yesus adalah Tuhan dari hamba maupun tuan, dan Ia tidak memandang muka. Sejatinya, inilah yang menjadi prisip-prinsip untuk hidup dalam keharmonisan. 4. Hidup dalam kemenangan (6:10-20) Dalam bagian penutup surat Efesus ini, Paulus mengajak kita untuk memahami dan menerapkan dua hal berikut agar hidup dalam kemenangan : (1) Mengenali dan menyadari keberadaan musuh. Peperangan kita bukan melawan manusia tapi kuasa kuasa roh jahat (6:10-12). (2) Menggunakan perlengkapan senjata Allah untuk melawan dan berdiri tegap (6:13-20) 5. Hidup dalam anugerah (6:21-24) Dalam bagian penutup ini Paulus memakai empat ungkapan yaitu damai sejahtera, kasih, iman dan kasih karunia. Yang paling mencolok adalah kasih karunia dan damai sejahtera. Keduanya muncul di awal dan di akhir suratnya. Keduanya dengan singkat meringkas amanat surat Efesus. Damai sejahtera atau perdamaian manusia dengan Allah dan perdamaian manusia dengan sesamanya adalah karya agung Yesus Kristus dalam kasih karunia-Nya bagi kita. Refleksi: Kehidupan yang indah hanya dapat kita nikmati dalam kasih karunia-Nya. Kiranya kasih karunia-Nya melimpah atas kita sehingga kita dapat menjalani hidup yang indah yaitu hidup dalam kesatuan, kesucian, keharmonisan, kemenangan dan anugerah-Nya. Referensi: Donald Guthrie at all (1994). The New Bible Commentary, IVP London /Tafsiran Alkitab Masa Kini ,Yayasan Komunikasi Binakasih /OMF Jakarta Donald Guthrie, Handbook to the Bible Pedoman Lengkap Pendalaman Alkitab, Kalam Hidup, Bandung John R.W. Stott (2000).The Message Of Ephesians The Bible Speak Today, IVP England/ Efesus, Yayasan Komunikasi Binakasih /OMF Jakarta Warren W W Outline and Comments, Calvary Baptist Church, Covington, Kentucky Warren W. Wiersbe (2001). Kaya di dalam Kristus. Tafsiran Surat Efesus, Yayasan Kalam Hidup, Bandung
- Sekelumit Kisah Pandemi Covid-19 di Pedalaman Papua
Segala sesuatu ada waktunya… Demikian sepenggal nasihat seorang bijak ribuan tahun yang lalu. Sangat tepat bila kita refleksikan sepanjang masa pandemi COVID-19 dalam dua tahun terakhir ini. Berikut, sebagian pengalaman yang akan saya bagikan selama melayani di pedalaman Papua di masa pandemi itu. Awal Masa Pandemi.. Panik? Ya, pada awalnya. Mengingat berita yang simpang siur di media sosial maupun televisi, semakin hari memunculkan angka-angka kesakitan dan kematian yang bertambah banyak bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Bagaimana dengan masyarakat Papua? Terbayang, suku-suku terpencil di dusun-dusun tempat kami melayani sebagai tenaga kesehatan. Melalui klinik-klinik sederhana, dimana sebagian besar dan itu menjadi satu-satunya tempat masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional yang bekerja dan tinggal bersama-sama penduduk lokal. Tercatat, ada Suku Nagi di Dusun Tumdungbon, Suku Mek di Desa Nalca, Suku Kimyal di Desa Korupun, Suku Koroway di Dusun Danowage, Suku Moi di Dusun Daboto serta Suku Lani di Desa Mamit. Kekuatiran akan tingginya risiko terinfeksi bagi sebagian besar mereka yang status gizi dan pola kebersihan yang masih sangat rendah terhadap infeksi ini. Terputusnya akses penerbangan perintis dari dan menuju pedalaman yang biasanya membawa masyarakat beserta bahan kebutuhan, membuat masyarakat semakin menderita. Beberapa orang yang masih kuat akan nekad berjalan kaki menerobos hutan, gunung dan sungai untuk bisa kembali ke kampung mereka di pedalaman. Penggalangan bantuan logistik berupa vitamin, alat kebersihan tubuh/lingkungan, obat-obatan, alat diagnostik serta bahan habis pakai pun segera dilakukan. Bukan hanya menyasar pada tenaga kesehatan namun juga masyarakat baik yang berada di kota maupun di pedalaman seperti Sentani, Dekai, Nabire, Wamena, Pegunungan Bintang, Abepura serta Jayapura. Pembagian masker (kiri) & sabun (kanan) bagi penduduk di dusun (gambar koleksi pribadi penulis) Serentak kami mengikuti arahan pemerintah pusat untuk menerapkan protokol kesehatan. Lingkungan klinik, sekolah serta lokasi tempat berkumpul warga segera kami bersihkan dengan disinfektan, terutama bila ada orang yang baru tiba dari kota. Baik petugas kesehatan, guru dan siswa sekolah mulai kami perkenalkan dan biasakan untuk memakai masker maupun faceshield disaat bekerja, mengukur suhu badan secara rutin baik untuk petugas kesehatan, siswa sekolah maupun masyarakat lainnya. Laporan Harian Perkembangan Kasus COVID-19 pada masing-masing kampung tempat kami melayani pun mulai kami susun dengan mengacu pada Data dan panduan Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Bantuan masker bagi penduduk di pedalaman Papua (gambar koleksi pribadi penulis) Pengukuran suhu tubuh pada siswa sebelum mulai belajar (gambar koleksi pribadi penulis) Pertengahan Masa Pandemi Di pertengahan 2021, angka kesakitan serta kematian akibat pandemik semakin bertambah. Salah satu penyebabnya karena cakupan vaksinasi COVID-19 di Papua masih belum mencapai target. Sepintas lalu situasi pandemi ‘dunia luar’ bisa dianggap ‘aman’ karena lokasi kami di pedalaman cukup terisolir dan hanya bisa dijangkau oleh pesawat perintis. Kerjasama dengan pemerintah daerah dalam melakukan pemeriksaan COVID-19, terutama bagi pasien yang diduga, penduduk yang baru datang dari kota maupun riwayat kontak erat terus menerus dilakukan selama hampir dua tahun. Termasuk didalamnya adalah dengan melakukan vaksinasi COVID-19 pada semua petugas di pedalaman. Pemeriksaan Antigen COVID-19 pada pasien kontak erat (Gambar koleksi pribadi penulis) Akhir Masa Pandemi Puji Tuhan, setelah hampir tiga tahun pemerintah daerah melalui dinas kesehatan bekerja keras dibantu dengan pihak lain seperti TNI/POLRI serta NGO akhirnya upaya meningkatkan cakupan vaksinasi COVID-19 di Papua-pun semakin menunjukkan hasil. Pada akhir April 2022 cakupan vaksin dosis pertama hampir memenuhi target, dimana dosis kedua dan booster-pun semakin hari pencapaiannya merangkak naik. Beberapa penyebab mengapa vaksinasi COVID-19 di Papua masih belum mencapai target adalah kurangnya pemahaman yang benar dari sebagian besar masyarakat, terutama di pedalaman Papua. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti belum adanya tenaga kesehatan di beberapa wilayah pedalaman sehingga masyarakat tidak mendapatkan informasi dari sumber yang terpercaya. Penduduk yang datang dari kotapun belum memahami dengan benar akan pandemi yang sedang berlangsung. Selain itu minimnya akses informasi yang diperoleh penduduk di pedalaman, sehingga tidak mendapatkan informasi yang benar. Sebagai contoh, di wilayah pelayanan Siloam, awalnya hanya komunitas pegawai yang menjalankan protokol kesehatan, namun dengan terus melakukan edukasi dan sosialisasi baik dengan Bahasa Indonesia maupun bahasa lokal, secara perlahan komunitas lainnya juga ikut menjalankan protokol kesehatan. Pelayanan program kesehatan rutin seperti imunisasi, pelayanan siswa sekolah, pencegahan penyakit akibat infeksi tertunda karena fokus dan sarana pemerintah diprioritaskan untuk penanganan COVID-19. Saat ini diperlukan kerja keras bersama untuk mengejar ketertinggalan pelayanan program kesehatan rutin, agar masyarakat tidak menderita lebih lanjut. Refleksi Pribadi Melihat kondisi di pedalaman, terutama di lokasi tempat Siloam melayani yaitu di enam dusun pada lima kabupaten di Papua; hingga tulisan ini disusun belum ditemukan kasus terkonfirmasi maupun kematian akibat infeksi COVID-19. Bagi saya pribadi, hal ini menunjukkan pemeliharaan dan penjagaan Tuhan yang nyata, khususnya atas penduduk di pedalaman Papua. Bukan hanya bagi masyarakat dan petugas, penjagaan dan pemeliharaan Tuhan juga nyata atas keluarga masing-masing di tempat asal mereka. Kebutuhan tenaga kesehatan di pedalaman semakin besar pada saat ini. Keberadaan tenaga kesehatan di tempat diharapkan bisa mempercepat informasi dari pusat hingga diterima masyarakat di pedalaman. Dengan demikian pencegahan terhadap dampak buruk kejadian pandemic kedepannya dapat diminimalisir. Yeremia 30:17 “Sebab Aku akan mendatangkan kesembuhan bagimu, Aku akan mengobati luka-lukamu, demikianlah firman Tuhan, sebab mereka telah menyebutkan engkau: orang buangan, yakni sisa yang tiada seorangpun menanyakannya.” Kami-pun semakin menyadari bahwa sebagai manusia yang lemah, semakin kita mengakui kelemahan dan kekurangan kita, kitapun semakin menyaksikan kekuatan Tuhan yang sungguh nyata dalam memelihara, menjaga dan membimbing kita. Tuhan sendiri yang sedang bekerja dan ini adalah pelayan-Nya pada jiwajiwa yang Dia kasihi. Dengan demikian kami semakin percaya bahwa kasih Tuhan sangatlah besar atas Tanah Papua. Allah sedang bekerja dengan cara yang luar biasa untuk memulihkan serta memperluas Kerajaan-Nya di tempat ini. 2 Korintus 12:9-10 “(9) Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (10) Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” POKOK DOA Terbentuknya Persekutuan Dokter Papua (lintas denominasi/lokasi bekerja/organisasi/ kewarganegaraan/suku, dan sebagainya) Situasi keamanan di Papua yang kondusif, sehingga dokter dan tenaga kesehatan lainnya bisa bekerja dengan tenang Anak-anak Tuhan yang berprofesi sebagai dokter bersedia untuk bekerja dan melayani di pedalaman; menjadi garam dan terang untuk mentransformasi Papua melalui bidang kesehatan. Seperti Tuhan sudah melindungi dari pandemi COVID-19 maka Tuhan juga akan menjaga penduduk di Papua dari infeksi hepatitis akut yang baru ditemukan. *) Penulis saat ini bekerja dan melayani di Siloam Clinic Papua. /stl
















