146 results found with an empty search
- Potret Kesenjangan dan Ketidakadilan di Amerika Serikat: Mampukah Berlaku Adil dan Berbelas Kasih?
(Bagian 1) Ke Mana Tuhan Memimpin Saya Selama empat tahun terakhir, saya bekerja untuk sebuah organisasi nirlaba bernama Center for Community Health Education Research and Service (CCHERS) di kota Boston, Amerika Serikat (AS). Saya memulai sebagai volunteer dalam sebuah program youth participatory action research yang merekrut para pelajar SMA dari komunitas underserved dan kulit berwarna (1). Saya bertugas membekali mereka dengan dasar metodologi penelitian dan mendampingi selama durasi proyek penelitian mereka. Walaupun mereka belum berpengalaman meneliti, saya kagum dengan kepekaan mereka atas berbagai masalah sosial di sekitar mereka dan inisiatif mereka untuk menjadi bagian dari solusi. Youth investigators ini memilih topik, mendesain kuesioner, mengorganisir focus group discussions, dan menganalisis serta menyajikan hasil penelitian. Kelompok yang saya dampingi memilih untuk meneliti dampak gentrifikasi di Chinatown terhadap kualitas hidup penduduk lokal. Banyak ruko di area tersebut berubah menjadi rental AirBnB atau apartemen mewah. Akibatnya, banyak penduduk lokal tergusur, harga properti menjulang tinggi, dan Chinatown menjadi kotor, bising, dan tidak lagi nyaman bagi penduduk lokal yang masih bertahan. Kami sempat menyusuri rusun-rusun yang masih tersisa, yang mayoritas saling berdempetan, kurang ventilasi, dan dihuni oleh lebih dari satu keluarga. Di akhir program, youth investigators menyusun rekomendasi dan menyampaikannya ke city councilors (2). Tidak lama berselang, saya mendapat kesempatan bekerja sebagai research project manager. Saya mengelola sebuah penelitian tentang keterlibatan komunitas kulit berwarna dalam komite etik penelitian rumah sakit. Perubahan yang diharapkan adalah terwakilinya suara komunitas ras/etnis minoritas dalam keputusan-keputusan penting, termasuk layak tidaknya suatu penelitian dilakukan. Ini dilatarbelakangi oleh distrust kepada institusi pendidikan akibat praktik-praktik penelitian yang amoral terhadap orang-orang berkulit berwarna di masa lalu dan, saat ini, penelitian yang terlalu white-oriented sehingga tidak menjawab kebutuhan komunitas ras/etnis minoritas. Dunia pendidikan AS telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah praktik-praktik ini. Namun, agar perubahan menjadi semakin berdampak, pasien dan masyarakat awam dari ras/etnis minoritas perlu dilibatkan secara nyata (tidak hanya untuk memenuhi kuota) dalam posisi-posisi strategis. Bersama para youth investigators dan city councilor usai sesi diskusi. Foto milik Councilor Ed Flynn. Saya bekerja erat dengan community advisory group yang terdiri atas pasien dan aktifis sosial. Mereka memberi arahan atas desain hingga diseminasi penelitian untuk memastikan bahwa topik yang diteliti relevan dan proses penelitian bersifat inklusif serta menghormati hak-hak peserta penelitian. Walaupun bukan ilmuwan, mereka fasih tentang isu-isu kesehatan, keadilan sosial, dan etika penelitian. Pendekatan yang disebut patient-centered outcome research ini menempatkan community advisors sebagai ahli, yang posisinya setara dengan klinisi atau peneliti. Bila klinisi dan peneliti dianggap ahli dalam bidang keilmuan mereka masing-masing, community advisors memiliki ekspertise yang unik tentang pengalaman mereka sebagai pasien, peserta penelitian, atau penerima layanan kesehatan. Apa yang Saya Pelajari Pengalaman bekerja di CCHERS membuka mata saya akan besarnya disparitas kesehatan di AS. Ada dua sebab mendasar, yaitu kesenjangan kesejahteraan dan kesenjangan rasial. Kelompok ras/etnis minoritas cenderung kurang sejahtera dibandingkan warga kulit putih. Menurut data The Federal Reserve System tahun 2019, median kekayaan warga kulit putih delapan kali lipat warga kulit hitam, lima kali lipat warga keturunan Amerika Latin, dan tiga kali lipat warga etnis minoritas lainnya. Status ekonomi yang rendah membuat seseorang tidak dapat mengakses pelayanan kesehatan, tidak memiliki asuransi, dan hidup di lingkungan yang tidak menyehatkan. Maka tidak heran bila kelompok ras/etnis minoritas secara umum juga memiliki morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi. Di AS, warna kulit menentukan seberapa sejahtera dan sehatnya seseorang. Kesenjangan rasial tidak timbul dengan sendirinya. Seorang berkulit berwarna menjadi kurang sejahtera dan lebih sakit bukan karena warna kulit mereka. Bukan pula karena mereka lebih malas, lebih bodoh, atau kurang beruntung. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa pendidikan yang lebih tinggi tidak memperbaiki situasi, karena ternyata kesenjangan kesejahteraan dan kesehatan dialami oleh kelompok ras/etnis minoritas di semua level pendidikan. Kesenjangan rasial adalah akibat dari diskriminasi (rasisme) terhadap warga kulit berwarna yang telah mengakar sejak berdirinya negara ini. Rasisme terjadi dalam berbagai rupa. Kelompok ras/etnis tertentu sering mendapat label negatif dan karenanya diperlakukan dengan tidak adil. Polisi dengan mudah menangkap atau menyiksa seorang berkulit hitam karena mereka dicurigai sebagai kriminal. Pengungsi dari Timur Tengah dianggap berbahaya dan lebih sulit masuk ke AS dibandingkan mereka yang berasal dari Eropa. Sejak sebelum COVID19 menjadi pandemi, warga berlatar belakang Asia Timur telah menderita hinaan hingga kekerasan fisik karena dicap pembawa virus. Rasisme dalam level personal (personally mediated racism) seperti ini masih mewarnai kehidupan masyarakat AS. Dalam konteks pelayanan kesehatan, bias dan prasangka terhadap pasien berkulit berwarna tidak jarang menyebabkan misdiagnosis, keterlambatan terapi, hingga kematian. Diskriminasi juga mewarnai berbagai kebijakan dan institusi (institutionalized racism). Kantor saya berlokasi di bagian kota Boston yang didominasi warga berkulit hitam dan keturunan Amerika Latin. Area-area seperti ini seringkali sudah “ditandai” dan dijauhi oleh investor (praktik redlining), sehingga umumnya kurang berkembang, minim ruang terbuka hijau, minim sumber makanan bergizi, dan dibanjiri junk food. Penduduknya seringkali kesulitan memperoleh asuransi kesehatan, asuransi kendaraan, atau kredit rumah. Akibatnya, mereka lebih mudah sakit dan, bila sakit, mengalami kondisi yang lebih berat. Di area yang sama berdiri sekolah kedokteran dan rumah sakit-rumah sakit “kelas dunia”, yang sering disebut medical mecca. Namun, warga lokal berkulit berwarna cenderung menghindari fasilitas-fasilitas ini. Di sana, mereka sering diperlakukan secara diskriminatif sehingga tidak merasa welcomed. Hal ini terjadi karena tempat-tempat ini tidak banyak mempekerjakan tenaga kesehatan berkulit berwarna, yang biasanya lebih dipercaya oleh pasien-pasien dari latar belakang ras/etnis minoritas yang sama. Saat ini, saya membantu sebuah studi yang mengukur dampak diskriminasi terhadap kesehatan mental dan kualitas tidur. Dampak rasisme terhadap kesehatan sangat destruktif dan dapat dialami sejak sebelum seseorang lahir. Sebagai contoh, angka kematian ibu berkulit hitam dan keturunan Amerika Indian mencapai 2-3 kali lipat ibu berkulit putih. Angka kematian bayi yang lahir dari ibu berkulit hitam lebih tinggi 2 kali lipat dari bayi yang lahir dari ibu berkulit putih.(1–3) Rentang usia orang-orang berkulit hitam lebih pendek 4 tahun dari mereka yang berkulit putih. Warga kulit berwarna, yang berpendidikan tinggi sekalipun, kerap menghadapi diskriminasi, baik dalam level personal maupun institusional, dari hari ke hari, di tempat kerja, sekolah, fasilitas umum, klinik, atau rumah sakit. Ini menciptakan stres jangka panjang, berbagai penyakit kronik dan gangguan mental, dan trauma dari generasi ke generasi. Melihat kondisi nyata tersebut, saya merenungkan pesan Tuhan dalam Kitab Mikha kepada saya. (Bersambung ke bagian 2) *) Penulis saat ini bekerja sebagai research consultant untuk Center for Community Health Education Research and Service (CCHERS), sebuah organisasi nirlaba yang melakukan riset, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan advokasi untuk menciptakan keadilan kesehatan (health equity) bagi komunitas underserved. Bersama suami tinggal di kota Boston, AS. (1) Komunitas kulit berwarna (communities of color atau people of color) adalah istilah inklusif yang lazim digunakan untuk menyebut orang-orang dari kelompok ras atau etnis minoritas secara kolektif. Termasuk dalam kelompok ini adalah American Indians/Alaska Natives (AIAN), Native Hawaiians or other Pacific Islanders (NHOPI), Africans/African Americans (Black people), Hispanic (Amerika Latin), dan Asians. (2) Di Indonesia, city councilors dapat disamakan dengan anggota DPRD tingkat kota. Referensi: Peterson EE, Davis NL, Goodman D, et al. Racial/Ethnic Disparities in Pregnancy-Related Deaths - United States, 2007-2016. Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR). http://dx.doi.org/10.15585/mmwr.mm6835a3. Published 2019. Accessed July 27, 2022. Melillo G. Racial Disparities Persist in Maternal Morbidity, Mortality, and Infant Health. American Journal of Managed Care. https://www.ajmc.com/view/racial-disparities-persist-in-maternal-morbidity-mortality-and-infant-health. Published 2020. Accessed July 27, 2022. Artiga S, Pham O, Orgera K, Ranji U. Racial Disparities in Maternal and Infant Death: An Overview. Kaiser Family Foundation. https://www.kff.org/racial-equity-and-health-policy/issue-brief/racial-disparities-maternal-infant-health-overview/. Published 2020. Accessed July 27, 2022.
- Allah yang Berdaulat: Eksposisi Mikha Bagian 2
Saat membaca kitab Mikha, kita dapat melihat bagaimana orang-orang yang menduduki posisi di pemerintahan pada waktu itu, bahkan para nabi di bait Tuhan, tidak menghormati Tuhan. Mereka dengan sengaja melakukan perbuatan-perbuatan yang memuakkan Tuhan; kesucian diganti dengan kekotoran dan kebobrokan, sehingga Tuhan harus menyembunyikan wajah-Nya (Mikha 3:4). Tuhan melihat perbuatan-perbuatan para pemimpin dan nabi begitu brutal. Hal ini tentu tidak asing bagi kita karena kerap kali mereka yang memegang kekuasaan justru menyalahgunakan kekuasaan tersebut. Lantas, apa yang sebenarnya telah terjadi (Mikha 3)? 1. Pemimpin kaum Israel membenci kebaikan dan mencintai kejahatan Para pemimpin kaum Israel yang seharusnya melindungi dan mengusahakan kesejahteraan masyarakat, ironisnya justru membenci kebaikan dan mencintai kejahatan. Mereka melakukan kekejian kepada masyarakat yang miskin, merebut kepunyaan mereka dengan kerakusan sehingga menambah penderitaan di berbagai sisi kehidupan. Hati dan pikiran mereka telah menyimpang, memakai berbagai hal fasilitas seperti kedudukan, kemampuan, dan kuasa untuk kepentingan, kesenangan, serta kekayaan pribadi. Mereka lupa bahwa panggilan hidup di marketplace adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan keamanan kota. Akibatnya, masyarakat pun menderita karena banyak mengalami ketidakadilan. 2. Hamba Tuhan melayani kepentingan diri sendiri Para hamba Tuhan yang melayani di bait Allah, seharusnya melayani umat dengan hikmat dan cinta kasih; kedapatan hanya melayani untuk kepentingan diri sendiri. Mereka memberkati dan melayani dan menyampaikan kata-kata yang baik memberkati umat yang dapat memberikan keuntungan besar; namun, bagi umat yang tidak dapat memberikan keuntungan, mereka akan menyampaikan peringatan-peringatan keras, bahkan hukuman. Mereka nampak sangat aktif melayani namun hati mereka jauh daripada Tuhan, hidup penuh kemunafikan! Perbuatan-perbuatan yang dilakukan para pemimpin dan para nabi yang tidak menghormati dan menaati Tuhan telah membuat Ia sangat muak, sehingga kala mereka berseru, justru Allah tidak akan menjawab bahkan menyembunyikan wajah-Nya terhadap mereka. Ini adalah titik terendah dan mengerikan bila pemimpin tidak lagi mengalami hubungan yang dekat dengan Tuhan. Pemimpin tidak dapat melihat visi, kekuatan, serta pengharapan dari Dia. Kepemimpinan yang tumpul, bodoh dan gelap adanya. (Mikha 3:7). Kepemimpinan seperti ini hanya akan membuat bangsa menjadi liar, buas, dan ketidakadilan merajalela (if there is no vision the people perish, bdk. Amsal 29:18). Hari menjadi suram bagi mereka (Mikha 3:6). Bagaimana dengan kepemimpinan di gereja, pemerintahan, masyarakat, bahkan di rumah tangga sekalipun? Pemimpin atau hamba Tuhan/majelis seperti apakah kita ini? Apakah yang kita kerjakan itu baik atau buruk? Apa yang kita lakukan dalam hidup ini sebagai kaum profesional di marketplace, juga bagi para hamba Tuhan? Begitu pula sebagai seorang dokter dan dokter gigi Kristen, apakah yang dicari melalui posisi, keahlian, dan kepercayaan yang diberikan? Sudah bukan rahasia dalam dunia medis ada banyak perbuatan tidak benar yang ditutupi. Apakah kita melakukan pekerjaan kita hanya untuk memperkaya diri sendiri dan membuat diri ini menjadi popular, hingga kita menghalalkan segala cara untuk itu. Semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Bagaimana masa depan bangsa Israel dengan kepimpinan yang bobrok seperti ini? Di sinilah kita belajar bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat. Keajaiban Allah selalu terjadi dan di tengah kegelapan Allah tidak tinggal diam. Ia memanggil Nabi Mikha untuk mengadili mereka semua. Dalam kehidupan bangsa yang merosot dibutuhkan pemimpin yang berintegritas, hamba yang setia mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan. Mikha seorang pemimpin yang penuh dengan kekuatan, dengan Roh Tuhan (Mikha 3:8) dengan keadilan dan keperkasaan yang dikaruniakan Tuhan dengan berani Ia memberitakan kepada Yakub pelanggarannya dan kepada Israel dosanya. Selanjutnya dengan berani Mikha menubuatkan kehancuran semua pemimpin dan nabi yang tidak adil, melakukan berbagai kejahatan, bahkan Sion akan dibajak dan Yerusalem akan dihancurkan (Mikha 3:11-12). Restorasi/pemulihan yang dilakukan Allah dimulai dengan mengadili dan menghancurkan (bukan dibuang) untuk dapat memperbaikinya kembali. Keberanian melakukan kritik pada pemerintah yang tidak jujur dan hamba Tuhan yang melayani dengan kerakusan, membutuhkan keberanian, hikmat yang luar biasa bagi Mikha yang memiliki integritas dalam hidupnya. Jika tidak, maka dia hanya akan dicemooh bahkan dibunuh. Tuhan yang memanggil Mikha juga adalah Tuhan yang mendampinginya melakukan pelayanan yang Allah kehendaki (Kis. 1:8). Kedekatan bersama Tuhan serta mendengar, menghormati dan mengandalkan Tuhan adalah dasar penting bagi seorang pemimpin, apalagi tengah dunia yang bengkok ini. Dengan demikian, seorang pemimpin bisa hidup fokus, peka dan berani menghadapi berbagai hal di jamannya. Pemimpin yang dipenuhi oleh Roh Allah, adalah pemimpin yang berintegritas dan memahami apa yang dimilikinya (posisi, uang, waktu dan kuasa) merupakan anugerah yang Tuhan percayakan dan dipakai semaksimal mungkin untuk mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat (pemimpin seperti ini dikenal dengan nama Tsaddiq). Revitalisasi Sion -Yerusalem (Mikha 4) a. Pembaharuan yang dilakukan Allah adalah merevitalisasi Sion menjadi kerajaan damai. Akan tiba saatnya Sion-Yerusalem yang hancur dibangun kembali oleh Allah, di mana sekali lagi akan menjadi tempat kehadiran Allah, di sanalah manusia berduyun-duyun kembali mencari kebenaran, bertemu dengan Tuhan (Mikha 4:1-2) b. Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar yang jauh; serta mereka akan menempa pedang untuk membajak, tombak-tombak jadi pisau pemangkas, bukan lagi untuk berperang melainkan bekerja untuk membangun kesejahteraan hidup mereka (Mikha 4:3-4) c. Semua yang lemah dan terpencar karena dicelakakan Tuhan akan dikumpulkan-Nya dijadikan pangkal suatu keturunan, serta suatu bangsa yang diusir suatu bangsa yang kuat akan menjadi raja sampai selama-lamanya (Mikha 4:6-7). Pembaharuan akan Kerajaan Allah terus dilanjutkan oleh Allah. Kristus adalah pemimpin yang sejati, yang datang dalam kegelapan namun tidak larut, melainkan Ia menerangi kegelapan. Ia melepaskan manusia dari berbagai sakit penyakit, perbudakan dan ketidak adilan. Puncaknya, Ia mempersembahkan diri-Nya hancur mati di kayu salib untuk membayar semua hutang dosa kita dan merekonsiliasikan hubungan kita dan segala ciptaan yang telah dirusak oleh dosa, kembali kepada Allah. Melalui Dia kita kembali menjadi umat Allah dan menyembah Dia, raja atas segala sesuatu sampai selama-lamanya. *) Penulis adalah Executive Director Indonesian Care /stl
- Pro Life, Tidak Mudah Dikerjakan: Laporan Kunjungan Dr. Calum Miller
Aborsi merupakan salah satu isu yang seringkali dibahas dalam dunia internasional. Isu ini mengundang banyak perdebatan dan perbedaan pandangan. Secara garis besar terdapat dua jenis pandangan yang selalu menjadi kontras satu dengan yang lainnya, yaitu pandangan Pro Life dan Pro Choice. Secara sederhana, pandangan Pro Life menolak tindakan aborsi, kecuali dalam keadaan tertentu seperti kegawatdaruratan medis (keadaan patologis pada kehamilan yang mengancam nyawa sang ibu dan anak dalam kandungan). Pada sisi yang lain, pandangan Pro Choice mendukung tindakan aborsi karena pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan aborsi merupakan hak setiap perempuan untuk memilih. Meresponi isu aborsi yang besar ini, pada 3-10 Agustus 2022 Indonesia mendapatkan kesempatan dikunjungi seorang dokter dan peneliti dari University of Oxford yang memegang posisi Pro Life, yaitu dr. Calum Miller. Dr. Miller meneliti isu-isu aborsi, merupakan bagian dari Oxford Centre for Christian Apologetics, dan tergabung dalam Canopy Global Foundation (sebuah badan yang bergerak dalam meresponi masalah eksploitasi manusia, aborsi, dan hak perempuan). Dr. Miller mengunjungi Jakarta untuk memberikan advokasi mengenai posisi Pro Life: apa dan mengapa Pro Life. Dr. Miller mengunjungi dan menemui beberapa tokoh, seperti drg. Kartini Rustandi dari bagian Productive and Elderly Age Health Kementerian Kesehatan, Yvonne K. Nafi dan Djarot Dimas dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, KH Taufik Damas dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta, Pdt. Sylvana Maria Apituley (mantan tenaga ahli utama di kantor staf presiden, dr. Nafsiah Mboi (mantan Menteri Kesehatan RI), Pdt. Jacky Manuputty dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jessica Tanoesoedibjo, Rahayu Saraswati dari Partai Gerindra, dan Kurniasih Mufidayati dari Partai Keadilan Sejahtera. Selain itu, dr. Miller juga sempat berdiskusi dengan beberapa orang jurnalis dan memberikan kuliah mengenai fakta-fakta aborsi serta bukti ilmiahnya di beberapa universitas ternama, di antaranya adalah Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia, FK Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, FK Universitas Krida Wacana, dan FK Universitas Kristen Indonesia. Saat ini, Indonesia memang melarang praktik aborsi secara umum, kecuali dalam beberapa kondisi tertentu (Pasal 75 UU No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan). Dalam kunjungan-kunjungan tersebut pun semua pihak yang ditemui berpandangan sama: dalam waktu dekat praktik abortion on-demand tidak akan dilegalkan secara hukum. Dr. Miller mengunjungi Indonesia justru karena posisi Indonesia saat ini adalah Pro Life. Beliau sungguh berharap agar negara-negara yang masih memegang posisi Pro Life, ke depannya mereka akan tetap memegang posisi Pro Life. Beliau selalu memberikan peringatan untuk berhati-hati karena ada negara-negara yang sebelumnya sangat anti aborsi, tetapi karena tekanan dari dunia internasional yang begitu hebat, negara tersebut dengan segera berubah posisi menjadi negara yang melegalkan aborsi, misalnya Republik Irlandia. Indonesia pun sebenarnya sudah mendapatkan tekanan yang serupa, baik dari luar maupun dari beberapa gerakan yang muncul dari dalam negara sendiri. Oleh sebab itu, selagi posisi Indonesia masih menolak aborsi secara umum, dr. Miller berharap kedatangannya dapat lebih menguatkan posisi Pro Life yang saat ini dipegang. Bergerak dalam bidang advokasi, maka isu aborsi ini bukanlah isu yang harus diperhatikan oleh tenaga kesehatan saja. Banyak pihak harus dilibatkan untuk menguatkan posisi Pro Life, di antaranya adalah politisi, pakar hukum, aktivis masyarakat, pemuka agama, jurnalis, aktivis media sosial, serta tenaga pendidik dalam sekolah dan perguruan tinggi. Inilah mengapa dr. Miller menemui tokoh-tokoh dari berbagai macam sektor. Beberapa saran dari dr. Miller terkait langkah konkrit yang bisa diambil oleh Indonesia saat ini adalah membentuk sebuah kelompok strategis yang terdiri dari orang-orang lintas sektor yang disebutkan sebelumnya. Diharapkan ada orang-orang kunci dalam kelompok tersebut untuk mengkoordinir dan menggerakkan gerakan Pro Life di Indonesia. Selain itu, beberapa langkah kerja yang bisa dimulai adalah mendesain kurikulum sex education yang baik untuk anak-anak remaja, serta melatih guru-guru sekolah mengenai sex education ini. Selain itu, dalam level perguruan tinggi, khususnya fakultas kedokteran, desain modul bioetika dan konten mengenai aborsi dalam modul tersebut diharapkan bisa diajarkan kepada para mahasiswa. Para pemuka agama pun diharapkan juga harus mulai mengajarkan mengenai konsep human dignity, aborsi, dan Pro Life ini kepada para jemaatnya. Hal ini mungkin tidak akan mudah untuk dikerjakan, karena kita sedang melawan arus dunia yang bergerak menuju ke arah pro aborsi. Meskipun masih sangat awal, semoga perjuangan ini dapat membuat orang-orang Indonesia melihat, bahwa kehidupan itu indah, sehingga ia merupakan sesuatu yang harus dilidungi dan bukan diakhiri. Pertemuan Dr. Calum Miller dan Tim Kerja Bioethics PMdN bersama Kementerian Kesehatan RI. Sumber: foto koleksi pribadi penulis *) Penulis merupakan bagian dari Tim Kerja Bioethics PMdN
- Parenting? Saya Tidak Mampu!
Kesadaran para orangtua akan pentingnya belajar parenting meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Ledakan informasi dapat dengan mudah diakses secara online, mulai dari teknik meng-ASI-hi, 10 kata pujian untuk membangun kepercayaan diri anak, sampai tahapan pendidikan seksual sejak anak sampai remaja. Tidak sedikit orangtua yang berupaya membekali diri melalui “pembelajaran” secara online ataupun memilih mengikuti kelas-kelas parenting secara fisik. Untuk memberikan pola asuh terbaik bagi perkembangan fisik dan mental anak merupakan salah satu tujuan. Harapan terbesarnya adalah agar anak-anak yang dibesarkan dengan teknik parenting berbasis “ilmiah” ini nantinya dapat menjadi dewasa yang produktif, stabil secara emosional, serta unggul dari segi akademik dan pencapaian materi. Lalu, apakah hal ini cukup? “Tidak ada hal yang lebih utama dibandingkan dipakai Tuhan menjadi alat untuk membentuk jiwa seorang manusia”. Menjadi orangtua merupakan panggilan bagi setiap manusia dalam menggenapi mandat Allah untuk bertambah banyak dan penuhi bumi. Bukan hanya sekedar membesarkan anak-anak secara fisik, tetapi agar mereka dapat menaklukkan bumi dan berkuasa atas segala apa yang ada diatasnya sesuai dengan definisi Allah. Tanpa definisi Allah, manusia akhirnya hanya akan merusak dan bukan memelihara bumi, gagal menjadi representasi kemuliaan Allah, seperti apa yang kita alami saat ini. Untuk tujuan yang mulia ini, setiap orangtua perlu menyadari tugas yang diberikan sendiri oleh Allah, yaitu untuk membesarkan dan mendidik setiap anak menjadi pribadi yang mengenal Allah dan sepenuhnya taat kepada-Nya. “Sudahkah kita memprioritaskan kerohanian anak-anak kita?” merupakan pertanyaan yang perlu untuk kita renungkan kembali sebagai orangtua. Tidak sedikit anak-anak yang jarang melihat sosok papa (bahkan kedua orangtua) di rumah karena kesibukan pekerjaan. Kebanyakan alasan dibaliknya adalah untuk memberikan kehidupan yang layak dan kesempatan sekolah yang terbaik. Sayangnya, ketika tanggung jawab perkembangan kognitif anak dapat dipenuhi oleh seluruh fasilitas pendidikan terbaik yang disediakan, kebutuhan mereka akan Firman Tuhan menjadi terabaikan dan panggilan mendidik kerohanian anak malah dibebankan ke pertemuan sekolah minggu yang maksimal hanya 2 jam per minggu. Tentu maksud untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak yang dianugerahkan Tuhan tidaklah salah, tapi kita perlu dengan rendah hati melakukan introspeksi, apakah “maksud baik” kita benar-benar baik menurut Allah atau murni untuk memuaskan keinginan kita saja? Tidak ada orangtua yang dapat membantah fakta bahwa parenting memang hal yang sulit, tapi Allah tidak sedang memberikan mission impossible. Dia tidak mengirim orangtua ke medan tempur pengasuhan anak tanpa ikut turut serta. Kesempatan menjadi orangtua tidak ditentukan berdasarkan kemampuan orang tersebut, tetapi semata-mata karena anugerah Allah. Setiap orangtua perlu mengakui bahwa “saya tidak mampu” menjadi orangtua, sehingga jalan satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah berlari kepada Allah meminta pertolongan. Dan Dia tidak jauh! Perjalanan sebagai orangtua yang penuh tantangan dapat menolong kita untuk semakin mengenal dan mengasihi Allah. Referensi: Paul David Tripp. Parenting: 14 Gospel Principles That Can Radically Change Your Family. [Terjemahan Indonesia: Bijak menjadi Orang Tua; Penerbit Literatur Perkantas] *)Penulis saat ini bekerja di NGO bidang HIV di Jabodetabek
- Merayakan Kemerdekaan dengan Penuh Dedikasi dan Cinta
Shalom! Perkenalkan, saya Ivan Reynaldo Lubis, teman-teman biasa memanggil Rey. Saya alumnus FK Maranatha Bandung dan saat ini melayani di Yayasan doctorSHARE, mengurus program-program yang dimandatkan pihak manajemen. Sebelumnya, saya menjabat Kepala RS Apung Nusa Waluya 2, salah satu kapal RS Apung yang dimiliki yayasan doctorSHARE. Akan tetapi, karena baru saja diterima kuliah S2, posisi tersebut saya serahkan pada seorang kolega. Saya mengenal doctorSHARE pada tahun 2016, di Sumba Barat Daya, NTT ketika bertugas sebagai dokter PTT di sana. Ketika itu, salah satu RS Apung milik Yayasan doctorSHARE datang ke Sumba untuk memberikan pelayanan medis berupa pengobatan dan operasi gratis bagi masyarakat. Setelah itu, saya rajin mengikuti kegiatan volunteer di doctorSHARE ke berbagai daerah, baik melalui RS Apung ataupun melalui Flying Doctor. Sejak tahun 2019 hingga saat ini, saya menjadi staf. Kenapa tertarik bergabung? Karena kesamaan panggilan dan visi, untuk melayani masyarakat di pedalaman/pinggiran melalui profesi medis. Selama bekerja, saya sangat menikmati sekali pelayanan ini, sebab terasa nyata sekali menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk melayani mereka yang marjinal. Melayani mereka yang tidak bisa membalas balik apa yang sudah kita lakukan, rasanya seperti makin dekat dengan Tuhan. Melayani di RS Apung membuat saya banyak bertemu masyarakat dari berbagai latar belakang. Begitu banyak hal, membuat saya banyak sekali belajar berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan keperbedaan yang ada, khususnya perbedaan bahasa dan adat istiadat. Meskipun demikian, pengalaman tersebut sangat seru sekali. Perbendaharaan bahasa serta pola perilaku yang luas membantu saya memiliki pendekatan yang baik terhadap setiap pasien. Banyak sekali hal baik yang saya alami selama melayani di RS Apung. Mulai dari providensia Allah terkait kebutuhan-kebutuhan primer di kapal hingga bagaimana diperlakukan dengan sangat baik oleh pasien. Ketulusan dan rasa terima kasih yang besar dari mereka akan pelayanan kami ditunjukkan melalui antaran-antaran yang ada. Mulai dari sekarung rambutan hingga berkilo-kilo ikan segar. Mulai dari undangan-undangan makan, hingga diberi kehormatan memberi nama kepada bayi yang baru lahir. Satu kata: AMAZING! Sebenarnya, ada banyak cerita yang bisa saya tulis, namun tentu tidak akan muat terangkum di sini. Saya hanya bisa mengajak adik-adik dokter yang baru lulus ataupun teman-teman sejawat yang sedang bergumul dengan panggilannya, untuk mendoakan dengan serius hendak menjadi dokter seperti apa dan di bidang apakah kalian nantinya. Sebagai anak bangsa Indonesia dan juga sebagai dokter yang sudah mengenal Tuhan, menjadi dokter apapun sama baiknya, asal mempermuliakan Tuhan dalam pelayannnya. Dokter klinisi di RS besar kah? Dokter peneliti kah? Dokter yang juga dosen kah? Dokter birokrat kah? Dokter yang memegang tampuk kekuasaan kah? Atau dokter yang bermisi di pedalaman seperti saya ini? Semua keren dan punya kontribusi yang sama. Selama menjalankan profesi dengan baik dan penuh hasrat, saya kira kita akan memberi dampak besar bagi komunitas dan juga bagi bangsa. Mari rayakan kemerdekaan RI dengan menjadi dokter-dokter yang mengabdi dengan penuh dedikasi dan cinta, sebagaimana yang Tuhan inginkan kita lakukan. Merdeka! *)Penulis saat ini melayani di Yayasan doctorSHARE /stl
- Saat Hati Nurani Dokter Alami Dilema
Perkembangan ilmu kedokteran, teknologi di bidang kesehatan, dan konektivitas antar manusia terjadi begitu cepat dan tidak terbendung. Banyak batasan-batasan ilmu yang terlampaui dalam satu dekade terakhir. Kecepatan perkembangan tersebut tidak dapat diikuti oleh perkembangan aturan hukum maupun pembahasan etik yang mendalam. Secara praktis, kemajuan ilmu kedokteran, teknologi di bidang kesehatan, dan konektivitas antar manusia menimbulkan berbagai permasalahan pada pelaksanaan hukum dan etika yang berlaku di masyarakat. Tenaga kesehatan adalah manusia yang memiliki nilai dan kepercayaan yang dianut. Tidak jarang nilai dan kepercayaan tersebut bertentangan dengan etika yang berlaku di masyarakat sehingga tenaga kesehatan memilih untuk tidak melakukan tindakan tertentu atas keberatan hati nurani atau conscentious objection. Beberapa contoh topik yang seringkali menimbulkan dilema etik dalam praktik kedokteran adalah aborsi, kontrasepsi darurat, bayi tabung, maupun transfusi darah pada kepercayaan tertentu. Perkembangan teknologi semakin mendorong munculnya dilema etik pada praktik kedokteran termasuk pada topik-topik tersebut. Pada 3-5 Juli 2022, World Medical Association (WMA) bekerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengadakan konferensi dengan topik utama pembahasan mengenai keberatan hati nurani. Pada artikel ini tidak dibahas secara mendalam mengenai diskusi yang terjadi dalam konferensi tersebut, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait keberatan hati nurani di antaranya: keberatan hati nurani tetap harus mengutamakan keselamatan pasien dokter yang memilik keberatan hati nurani terhadap tindakan tertentu menghormati hak otonomi pasien, khususnya hak atas informasi sesama sejawat menghargai hak atas keberatan hati nurani yang dilakukan. Sesuai dengan panggilan mulia tenaga kesehatan dalam membaktikan hidupnya untuk kemanusiaan, maka keberatan hati nurani tidak menghilangkan prioritas pertolongan terhadap nyawa pasien. Hal ini berarti tenaga kesehatan tidak melakukan keberatan hati nurani dalam konteks kegawatdaruratan atau kondisi yang mengancam nyawa pasien. Tenaga kesehatan mengutamakan pelayanan untuk menyelamatkan nyawa pasien yang merupakan hak asasi bagi setiap manusia. Prinsip tersebut secara universal tidak banyak dipertentangkan baik secara teori maupun praktik. Otonomi pasien merupakan salah satu nilai penting yang berkembang dan merubah konstruksi hubungan dokter-pasien yang dahulu didominasi oleh dokter menjadi setara antara dokter dengan pasien. Bahkan pada beberapa kondisi justru dominasi pasien sebagai pemilik tubuh yang akan diobati nampak nyata. Hal ini menyebabkan praktik keberatan hati nurani perlu dicermati dengan baik. Tenaga kesehatan yang memilih untuk tidak melakukan tindakan tertentu karena keberatan hati nurani perlu menginformasikan pilihannya kepada pasien. Permasalahan akan timbul terkait informasi mengenai pelayanan selanjutnya yang dibutuhkan oleh pasien. Misalnya, pada kasus seorang pasien yang ingin melakukan aborsi, maka tenaga kesehatan yang tidak bersedia melakukannya karena keberatan hati nurani perlu menginformasikan kepada pasien. Perdebatan terjadi mengenai apakah tenaga kesehatan tersebut harus merujuk pasien kepada tenaga kesehatan lain yang bersedia melakukan aborsi atau tidak. Dari sisi tenaga kesehatan yang keberatan untuk melakukan tindakan aborsi bila ia memberikan rujukan atau informasi, maka dapat dianggap bahwa ia mendukung atau memfasilitasi pasien untuk melakukan aborsi. Di sisi pasien, ada kebutuhan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang sesuai dan tidak membahayakan dirinya. Prinsip ketiga terkait keberatan hati nurani adalah hak setiap tenaga kesehatan yang perlu dihargai. Secara teori prinsip ini dapat dipahami dan tidak banyak diperdebatkan. Pada praktiknya tidak dapat dipungkiri bahwa seringkali terdapat ujaran antar tenaga kesehatan yang merendahkan sejawat lain yang berbeda pendapat. Dalam era konektivitas yang tinggi saat ini, ujaran tersebut dapat tersampaikan dengan luas dalam waktu yang cepat. Hal ini tentu menuntut kedewasaan dan kesadaran dari setiap tenaga kesehatan untuk saling menghormati pendapat maupun pilihan dari sejawat. Sebagai anak Tuhan tentu kita juga tidak terlepas dari dilema etik dalam praktik. Perkembangan ilmu sebagai anugerah Tuhan tentu perlu disikapi dengan bijak karena pengetahuan yang dimiliki bagaikan pedang bermata dua. Sebagai anak Tuhan kita telah diberikan panduan dan pembimbing untuk menghadapi berbagai permasalahan dalam hidup, termasuk dilema etik. Panduan kita adalah alkitab sebagai firman Tuhan yang hidup dan nyata tertulis, sedangkan pembimbing kita adalah Roh Kudus yang memberikan kita hikmat untuk memahami firman Tuhan. Dalam menentukan sikap kita perlu memahami apa yang Tuhan inginkan melalui pengetahuan yang kita miliki. Sayangnya dilema etik dapat muncul kapan saja dan dimana saja dalam praktik kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri dengan baik, kita perlu memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan dan mempelajari firman-Nya. Bukan hanya sekedar membaca Alkitab, tetapi juga merenungkan dan memahami panggilan Tuhan dalam hidup kita dan nilai-nilai apa yang kita bawa dalam praktik. Ingatlah bahwa, “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan” (Amsal 1:7) dan kita adalah surat Kristus yang membawa kemuliaan Tuhan di dalam hidup kita (2 Korintus 3). *) Penulis saat ini bekerja sebagai dokter manajerial di RS UKRIDA
- Hilangnya Integritas Hidup Umat Allah: Eksposisi Mikha bagian 1
Kata “integritas” tentu bukanlah sesuatu yang asing bagi kita dan sudah menjadi bahasa umum tentang nilai kehidupan yang utuh (luar-dalam). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan integritas sebagai “mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan”. Integritas juga dapat berarti kejujuran. Israel sebagai umat Allah memiliki integritas kehidupan yang tinggi, karena dipilih dan dipanggil Allah serta ditebus melalui anugerah-Nya. Tak hanya menjadi umat Allah, Israel juga dipanggil untuk menjadi alat-Nya untuk menjadi berkat bagi dunia ini (Kej. 12:2-3). Suatu hari, Tuhan memanggil Mikha dari Moresyet menjadi nabi-Nya (700 tahun sebelum kehadiran Mesias) untuk menyampaikan suatu nubuatan akan apa yang akan terjadi bagi umat-Nya di kemudian hari. Mikha (arti namanya: who can be like you, Lord atau ”siapakah yang seperti Engkau, Tuhan”) hidup sejaman dengan nabi Yesaya, di mana kondisi Israel telah terbagi dua (Israel dan Yehuda). Mikha dipanggil menjadi nabi pada zaman pemerintahan Raja Yotam, Ahaz, dan Hizkia dimana saat-saat itu ada banyak kemerosotan hidup yang terjadi di kalangan umat-Nya dan hal-hal ini merupakan kekejian di mata Tuhan. Umat Allah tidak lagi hidup secara terintegritas, ada ‘jarak’ (gap) dalam kehidupan mereka sebagai umat Allah dimana penyembahan yang mereka lakukan dalam bait Allah tidak lagi sesuai dengan kehidupan sosial mereka di tengah masyarakat (perhatikan hal ini juga yang terjadi pada Yes 58). Hal ini membuat Allah keluar dari bait-Nya. Kitab Mikha dibagi menjadi 3 bagian: Pasal 1-2: Allah menghampiri untuk mengadili umat-Nya, Israel Pasal 3-5: Teguran, hukuman juga bagi hamba-hamba Tuhan Pasal 6-7: Penebusan dan restorasi yang akan dilakukan Allah Allah menghampiri dan mengadili umatNya (Mikha 1-2) Bagian awal kitab Mikha memperlihatkan bagaimana Allah keluar dari bait-Nya dan menghampiri serta mengadili umat-Nya (pasal 1-2). a. Apakah yang dilakukan umat Israel sehingga Allah datang dan mengadili mereka? Pelanggaran Yakub serta dosa kaum Israel membuat Allah datang dan mengadili mereka (ay 5). Para pemimpin (raja, pemuka, dan nabi-nabi) memperkaya diri melalui pencurian dan kerakusan terhadap orang-orang miskin di Samaria dan Yerusalem (2:1-2, 8-9). Sebagai contoh: Raja Ahab mengambil paksa kebun Anggur keluarga Naboth, karena Naboth mempertahankan tanah warisan keluarganya, namun Raja Ahab merebut, hal yang sama sekali tidak boleh dilakukan dan melanggar hukum Taurat (Bilangan 36:7), bahkan Ahab melalui istrinya menuduh Naboth melalui tuduhan palsu di pengadilan, sehingga Naboth dihukum mati (1 Raja-raja 21). b. Para pemuka agama/nabi-nabi melayani untuk kepentingan mereka sendiri, mendapatkan keuntungan dari mereka yang mampu membayarnya. c. Umat Allah sendiri menjadi musuh pada sesamanya dengan melakukan penindasan terhadap yang mereka yang miskin dan lemah dengan merebut kepunyaan mereka secara semena-mena. Allah tidak membiarkan semua ini terjadi dan hukuman akan segera datang, di mana Kerajaan Assyria dan Babilonia akan menghampiri untuk menyerang dan meluluh lantahkan Yehuda dan Yerusalem. Bait Allah yang merupakan kebanggaan umat Allah akan dihancurkan (2: 4-7;3), sesuatu hal yang tidak pernah mereka pikirkan. Apakah Allah kurang sabar terhadap umat-Nya? (2:7) Tidak! Allah adalah Allah yang panjang sabar. Dalam kasih-Nya, Ia menegur umat-Nya yang telah mendua hati. Umat Allah beribadah kepada Tuhan di bait-Nya, namun hati mereka menyeleweng, berzinah mengikuti ilah-ilah lain serta melakukan banyak ketidakadilan, kejahatan kepada sesama umat yang lemah dan miskin. Dengan perkataan lain, Allah tidak akan tinggal diam melihat semua kejahatan dan kelaliman umat-Nya yang melakukan ketidak adilan pada yang lemah dan miskin. Ia sendiri menjadi “hakim” atas umat-Nya, supaya mereka bertobat. Hukuman dan teguran Tuhan seharusnya membawa umat kembali kepada-Nya. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita, jika gereja/umat Allah tidak lagi melaksanakan misi Allah maka Allah pun bisa meninggalkan gereja/umat-Nya, bahkan mengadilinya. Pengharapan dan Restorasi (2:12-13) Namun, sekali lagi kita melihat kasih dan kesetiaan Allah yang luar biasa, Dia sendiri akan menjadi ”gembala” bagi umat yang tersisa (yang mau kembali kepada-Nya) dan Ia akan berjalan di muka serta menjadi pemimpin yang membebaskan mereka sehingga umat-Nya mengalami restorasi (pemulihan); kembali hidup bersama dengan Allah sepenuhnya. Ia bahkan bersedia memakai kita kembali dalam profesi masing-masing untuk melakukan pekerjaan restorasi bagi kesejahteraan kota dimana kita tinggal, bangsa kita bahkan dunia ini. Ia memperlengkapi dan memberi kuasa melalui Roh Allah sendiri yang memimpin kita melaksanakan panggilan-Nya sampai Ia datang kembali. Terpujilah Tuhan, di Yerusalem baru. Refleksi dan Respon Sejauh mana kita mengenal Dia dan membawa kita sungguh kembali diperbaharui oleh-Nya? Adakah kita memikirkan dan turut mengerjakan kesejahteraan sesama melalui profesi dan talenta yang Ia sudah karuniakan atau kita lupa dan hanya menggunakan untuk kepentingan memperkaya diri dan kelompok kita saja? Apakah suatu hari Tuhan akan mengadili kita juga untuk mempertanggungjawabkan panggilan-Nya sama seperti yang dilakukan-Nya pada umat-Nya melalui kitab Mikha? *) Penulis adalah Executive Director Indonesian Care /stl
- Ketika Ingin Berbuat Baik
Judul Buku: When Helping Hurts: how to Alleviate Poverty without Hurting the Poor… and Yourself. (Ketika Menolong Justru Menyakiti) Penulis: Steve Corbett & Brian Fikkert Halaman: 288 halaman Penerbit: Momentum, 2018 Buku kali ini membahas topik yang secara spesifik jarang dibicarakan; dilema yang dihadapi ketika kita ingin berbuat baik. Atau lebih khusus lagi: kesalahan yang dilakukan orang Kristen dalam misi melayani orang-orang miskin. Penulis, seorang yang bermisi selama belasan tahun di Uganda. Ditengah-tengah pelayanannya yang disertai Tuhan, ia baru melihat bahwa kalau saja ia mengubah persepsi dan strategi yang selama ini dipahaminya, ternyata ia dapat mensejahterakan orang-orang miskin yang dilayaninya dengan lebih baik lagi, lebih berdampak, dan lebih sustainable. Karena alasan itulah maka buku ini lahir. Pelayanan misi pada kaum marginal oleh lembaga-lembaga Kristen, gereja, maupun perorangan, kerap menjadi solusi terbaik untuk jangka pendek. Namun, secara jangka panjang mereka yang telah bertobat ini tidak hanya perlu dilayani karena miskin, tapi perlu mengentaskan diri mereka sendiri dari kemiskinan. Sayangnya, apa yang kaum marginal pikirkan mengenai kemiskinan jauh berbeda dari solusi yang kita pikir efektif bagi mereka. Disinilah upaya yang kita tempuh tidak saja bisa menjadi kurang berdampak, sebailknya dapat membawa kemunduran bagi orang yang dilayani, maupun yang melayani. Paradoks ini yang kemudian diintegrasikan oleh para penulis dari sudut pandang Firman Tuhan, ilmu sosial, ekonomi, dan komunitas. Ada empat bagian dalam buku ini. Diawali dengan membahas sifat kemiskinan dan akibat-akibatnya, dilanjutkan dengan persoalan kunci ketika upaya misi hendak menerapkan upaya untuk mengentaskan kemiskinan. Bagian ketiga dan keempat mendisukusikan tentang konsep membangun ekonomi dan ditutup dengan panggilan untuk mendukung pelayanan-pelayanan pengembangan usaha kecil. Menyimak buku ini, terdapat banyak pertanyaan-pertanyaan kritis, studi kasus, disertai dengan pertanyaan di awal dan akhir setiap bab. Oleh karenanya selain sebagai bahan untuk studi Alkitab, buku ini juga cocok bagi orang pribadi, pemimpin komunitas gereja, kelompok, bahan pertemuan staf, dan untuk dibahas di dalam badan pelayanan. Buku ini memang kompleks dan terperinci, namun disertai dengan diskusi tentang berbagai alternatif solusi. Tidak perlu khawatir, buku ini juga diterjemahkan dengan seksama dan tidak sulit untuk dipahami. Selamat membaca dan selamat melayani lebih sungguh lagi. /eab
- Siap Ambil Bagian!
PMdN Expo 12 Juni 2022 Puji dan syukur kepada Tuhan Pemilik pelayanan ini; oleh anugerah-Nya acara PMdN Expo dapat berlangsung pada Minggu, 12 Juni 2022 yang lalu secara virtual melalui zoom. Acara ini terselenggara dengan tujuan untuk memperkenalkan pelayanan PMdN kepada mahasiswa dan alumni, sehingga mereka terdorong untuk ambil bagian dalam pelayanan bersama ini. Acara PMdN Expo dibuka dengan sambutan dari ketua PMdN Perkantas, dr. Lineus Hewis, Sp.A yang memperkenalkan secara singkat serta visi misi PMdN Perkantas. Setelah itu, acara dibagi menjadi 2 sesi talkshow dan diskusi dari 6 Interest Grup PMdN yang dipimpin oleh drg. T. Hedwin Kadrianto, Sp.PM dan dr. Eka Yudha Lantang, Sp.An, M.Min, MM sebagai moderator. Dalam 2 sesi ini, masing-masing Interest Grup menjelaskan secara singkat mengapa Interest Grup ini dibentuk, kegiatan atau aktivitas yang ada, siapa saja yang dapat bergabung dan bagaimana cara bergabung di Interest Grup yang ada. Sesi pertama diisi oleh presentasi 3 Interest Grup PMdN Perkantas, antara lain: Mission Hospital, Puskesmas dan Cross Cultural. Presentasi dari Interest Grup Mission Hospital/Rumah Sakit Misi dibawakan oleh Dr. dr. Fushen, MH, MM, FISQua. Mission Hospital merupakan Interest Grup yang bergerak bersama untuk membantu dan menolong terwujudnya pelayanan di rumah sakit misi yang ada di Indonesia. Presentasi yang kedua dari Interest Grup Puskesmas dibawakan oleh dr. Harpina Somba. Kerinduan dibentuknya Interest Grup ini adalah mewujudkan tenaga kesehatan Kristen yang punya hati mengasihi dan bekerja sungguh di Puskesmas serta berdampak besar bagi masyarakat. Selanjutnya, presentasi Interest Grup Cross Cultural dibawakan oleh dr. Eva Oktavia K. Simatupang, Sp.KKLP, yang membukakan salah satu tujuan dari Interest Grup ini dibentuk yaitu untuk memperlengkapi mahasiswa dan alumni medis dalam pelayanan lintas budaya. Setelah sesi tanya jawab sesi pertama, sesi kedua dilanjutkan dengan presentasi dari 3 Interest Grup lainnya, yaitu: Health Policy, Dosen Medis Kristen dan Bioethics. Interest Grup Health Policy dibawakan oleh dr. Felisia. Interest Grup ini dibentuk dengan kerinduan dapat berkontribusi menyumbangkan pemikiran untuk kebijakan kesehatan, khususnya di Indonesia, berdasarkan nilai-nilai Firman Tuhan. Presentasi bagian kedua dari Dosen Medis dibawakan oleh Dr. dr. Christine V. Sibuea, M.Biomed, yang membukakan latar belakang terbentuknya Interest Grup ini dengan melihat tantangan dan tuntutan dalam profesi dosen bagi anak-anak Allah sekaligus dapat menjadi wadah untuk mendorong dosen untuk kembali menjadi alumni yang melayani kampus. Dr. dr. Nydia Rena Sihombing, M.Si.Med yang mempersentasikan Bioethics, menjelaskan bahwa Interest Grup ini menjadi wadah diskusi mengenai isu etika kedokteran dan kesehatan berdasarkan Firman Tuhan serta menolong tenaga kesehatan Kristen agar memiliki etika Kristen dalam pelayanan sehari-hari. Bersyukur, untuk sesi talkshow dan diskusi dari 6 Interest Grup PMdN. Acara ini ditutup oleh MC dr. Frisca Finlania Agan dengan menyanyikan pujian Kami Siap Mengambil Bagian. Kiranya setiap mahasiswa dan alumni medis yang hadir di acara ini, bisa ambil bagian dalam pelayanan bersama. Kita berdoa, agar Interest Grup PMdN Perkantas, Tuhan pakai untuk menjadi wadah pembinaan dan membangun jejaring bagi setiap mahasiswa dan alumni medis di berbagai bidang untuk terus menjadi berkat bagi gereja, bangsa dan dunia. /stl
- Membangun Dunia yang Resilien Hadapi Pandemi
COVID-19 bukanlah yang terakhir. Permasalahannya, bukan jika pandemi akan datang kembali, namun ketika pandemi menerpa dunia lagi: apakah kita akan lebih siap? Kemunculan penyakit menular baru (emerging infectious disesase/EID) meningkat signifikan setiap dekade sejak tahun 1940. Lebih dari 60% EID berasal dari hewan yang menular ke manusia (zoonosis), yang mana 7 dari 10 zoonosis berasal dari satwa liar. Rusaknya keanekaragaman hayati akibat aktivitas manusia diperkirakan sebagai mekanisme utama yang mendorong peningkatan terjadinya EID. Mencegah pandemi. Kerugian akibat satu EID, yaitu COVID-19, diperkirakan mencapai 12,5 triliun USD. Nilai ini tak sebanding dengan upaya pencegahan pandemi yang diperkirakan hanya berkisar 20 milyar USD (0,16%) per tahunnya. Bukan hanya mencegah penyakit yang lebih baik dari pada mengobati, mencegah pandemi juga jauh lebih baik dari pada menghadapi pandemi. Upaya pencegahan dapat difokuskan pada “titik temu” antara satwa liar dan manusia, yang memiliki risiko tinggi terjadinya EID. Peningkatan surveilans patogen pada lokasi berisiko tinggi, pengelolaan yang lebih baik pada aktivitas jual-beli satwa liar dan perburuan, serta menurunkan deforestasi adalah langkah-langkah utama yang direkomendasikan untuk mencegah pandemi. Bersiap hadapi pandemi. COVID-19 telah mengajarkan kita, bahwa wabah itu universal. Baik negara maju maupun berkembang, orang kaya dan miskin, tua dan muda, hitam dan putih, semua terdampak. Oleh karena itu, kerja sama antar individu, institusi, daerah, negara di seluruh dunia, amat dibutuhkan untuk dapat menangani pandemi dengan lebih baik. Salah satu bentuk kerja sama yang paling kritikal ialah, berbagi data patogen dengan cepat. Pada COVID-19, contohnya, vaksin Pfizer-BioNTech mulai dikembangkan oleh ilmuwan asal Jerman per 10 Januari 2020, di hari yang sama pihak Chinese Center for Disease Control and Prevention menyetor pertama kali data genomika virus SARS-CoV-2 di platform GISAID. Kurang dari setahun (tepatnya, 327 hari), vaksin tersebut selesai dikembangkan dan mendapatkan izin untuk digunakan pada umat manusia. Kecepatan Project Lightspeed pengembangan vaksin Pfizer-BioNTech ini tidak pernah ada di dalam sejarah vaksin sebelumnya, yang kemudian mampu menyelamatkan nyawa jutaan umat manusia dari salah satu wabah terburuk abad ini. Berikutnya, negara-negara juga harus bekerja sama dalam pendanaan dan akses terhadap vaksin, terapeutik, serta diagnostik. Pendanaan global, khusus untuk pencegahan, kesiapsiagaan, respon terhadap pandemi, jelas dibutuhkan. Namun uang saja tidak cukup, dunia harus bekerja sama dalam hal akses terhadap countermeasures esensial untuk menghadapi patogen, antara lain vaksin, terapeutik, serta diagnostik. Masih segar di dalam ingatan kita, di awal pandemi COVID-19 masyarakat kesulitan mengakses masker atau ventilator (misalnya), walaupun kita punya uang untuk membelinya. Kepemimpinan Indonesia dalam G20 tahun ini berhasil mendorong dunia untuk mengumpulkan dana khusus, untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respon pandemi di masa yang akan datang. Per 30 Juni 2022, lebih dari 1 milyar USD dana perantara (FIF) ini telah disahkan di World Bank, yang kemudian akan digunakan untuk penguatan kapasitas nasional, regional, dan global dengan fokus pada negara-negara berkembang, demi resiliensi hadapi pandemi di masa depan. Berikutnya melalui G20, Indonesia juga mendorong pembangunan akses permanen terhadap vaksin, terapeutik, dan diagnostik (VTD) yang dapat cepat dikembangkan dan didistribusikan bagi daerah yang membutuhkan. Tanpa akses VTD yang cepat, patogen akan sulit dikendalikan, dan kerugian nyawa dan kesehatan akan semakin besar. Koordinasi pendanaan dan akses VTD di tingkat global menjadi dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan jika kita ingin lebih siap menghadapi krisis kesehatan. Akhir kata, setiap krisis memberikan kita kesempatan untuk berbenah. Jangan sia-siakan momentum perubahan yang ada, saatnya kita ciptakan dunia yang lebih sehat, resilien hadapi pandemi di masa yang akan datang. Jakarta, 5 Juli 2022 *Penulis adalah Tenaga Ahli Menteri Kesehatan Bidang Analisis dan Harmonisasi Program Kesehatan. Jones KE, Patel NG, Levy MA, Storeygard A, Balk D, Gittleman JL, Daszak P. Global trends in emerging infectious diseases. Nature. 2008 Feb 21;451(7181):990-3. doi: 10.1038/nature06536. Keesing F, Belden LK, Daszak P, Dobson A, Harvell CD, Holt RD, Hudson P, Jolles A, Jones KE, Mitchell CE, Myers SS, Bogich T, Ostfeld RS. Impacts of biodiversity on the emergence and transmission of infectious diseases. Nature. 2010 Dec 2;468(7324):647-52. doi: 10.1038/nature09575. IMF, Oct 2021; WHO Global Pulse Survey Nov/Dec 2021; World Bank (estimate of school closures; Dec 2021); World Bank (Oct 2021); IMF WEO Apr 2022 Bernstein et al, 2022, The costs and benefits of primary prevention of zoonotic pandemics, DOI: 10.1126/sciadv.abl4183 Wikipedia, Pfizer-BioNTech COVID-19 Vaccine, https://en.wikipedia.org/wiki/Pfizer%E2%80%93BioNTech_COVID-19_vaccine World Bank Board Approves New Fund for Pandemic Prevention, Preparedness and Response (PPR) https://www.worldbank.org/en/news/press-release/2022/06/30/-world-bank-board-approves-new-fund-for-pandemic-prevention-preparedness-and-response-ppr
- Act Justly, Love Mercy, Walk Humbly
Food for The Hungry (FH) adalah sebuah organisasi nirlaba Kristen yang sangat dikenal, berpusat di California Selatan dan didirikan pada tahun 1971. Misi jangka panjang organisasi tersebut adalah mengentaskan kemiskinan dalam komunitas dalam waktu 10-15 tahun. Organisasi ini akan pergi ke suatu tempat yang tersulit di muka bumi dengan strategi akhir, memberdayakan pemimpin lokal, berjalan bersama dengan mereka dan mendorong komunitas mereka membentuk tempat yang dapat memberikan mereka sumber daya sendiri. Hal yang menarik dari organisasi ini adalah dalam setiap aula, kantor, bahkan kaos para staf FH di seluruh dunia, terdapat suatu kata-kata yang berasal dari Mikha 6:8 “Act justly. Love mercy. Walk humbly”. Bukan suatu kebetulan ayat itu dipilih menjadi pengingat kerja organisasi ini karena ayat ini pun merupakan ayat favorit Dr. Larry Ward, sang pendiri FH. Kutipan ayat di atas terambil dari kitab Mikha yang merupakan kitab yang cukup singkat berisi suatu nubuatan yang sangat luar biasa yang meramalkan kejatuhan Yerusalem dan Samaria serta menawarkan harapan kepada “sisa-sisa Yakub” (Mikha 5:7) yang akan dipulihkan. Pada pasal 6, Tuhan mengingatkan kepada umat-Nya bagaimana Ia mengasihi mereka pada masa lampau. Mikha mempertanyakan bagaimana ia dapat dipulihkan oleh Tuhan. Ia sampai pada akhirnya mengorbankan anaknya sendiri. Melalui pernyataan ini, Mikha menunjukkan keputusasaan apakah umat Tuhan akan kembali kepada Tuhannya. Namun, kemudian ia menyadari bawa Tuhan telah menunjukkan jalan dan jalan itu sederhana. Bagaimana kita dapat memaknai Mikha 6:8 dalam kehidupan kita? Mari kita lihat bagaimana Dr. Larry Ward memaknai ayat ini. Act Justly Sebagai langkah pertama, Tuhan berkata, berlakulah adil atau lakukan keadilan yang mana merupakan suatu kualitas diri untuk tidak berpihak dan jujur. Dr. Ward sangat terbeban untuk melihat keadilan atau lebih tepatnya ketidakadilan terkait dengan distribusi makanan di seluruh dunia. Sekali waktu, ia menulis pada seorang sahabatnya, “Ratusan bahkan ribuan orang kelaparan di India, sementara gandum yang cukup memberikan mereka makan tersimpan banyak dalam gudang-gudang di Alberta, Amerika Serikat. Ia memprediksi bahwa distribusi makanan akan menjadi semakin tidak adil. Ward mengenali suatu sistem yang sangat kompleks yang tetap membuat sekelompok belahan dunia tidak mendapat akses sumber makanan di bagian dunia yang lain. Ward melihat bahwa perannya dalam berlaku adil adalah bekerja memperbaiki kesalahan ini. Tanpa memandang sistem sosial dan politik apa pun yang menciptakan kelaparan, ia bertekad untuk berkarya mengatasi penderitaan dari orang-orang yang kelaparan. Bercermin dari teladan Dr. Ward, kita dapat melihat bahwa mencintai keadilan harus diiringi dengan perilaku yang adil. Kita mungkin menyukai keadilan dan gagasan di dalamnya, tetapi tidak banyak dari kita yang benar-benar siap melakukan keadilan. Berlaku adil kerap kali menuntut kita untuk mengasihi mereka yang tertindas atau hidup dalam tekanan, sedemikian rupa hingga bahkan mengorbankan aspek personal dari diri kita – waktu, tenaga, materi, pikiran, mental, dan sebagainya. Love Mercy Perintah Tuhan selanjutnya dalam Mikha 6:8 adalah “to love mercy”. Menurut kamus Alkitab, mercy atau belas kasih membutuhkan sikap hati yang mendalam dan suatu perbuatan yang muncul keluar. Dr. Ward mendirikan FH dengan membawa unsur belas kasihan ke dalam budaya organisasinya. Ward mendapatkan fakta bahwa setiap harinya sekitar 10.00 orang di seluruh dunia menderita akibat kelaparan. Nuraninya sangat terganggu dengan angka itu serta dalam doanya meminta Tuhan untuk suatu jawaban bagaimana ia dapat mengambil peran. “Saya hanya satu orang saja,” doanya. Seketika ia merasa Tuhan membalas doanya, ”Tetapi mereka akan mati satu persatu, anak-Ku, mereka akan mati satu persatu”. Dr. Ward akhirnya menyadari bahwa jika orang meninggal satu demi satu, maka mereka dapat menolong satu demi satu. Kemudian, ia mendirikan FH dengan konsep bahwa belas kasihan dapat ditunjukkan pada satu orang pada suatu waktu. Digerakkan oleh belas kasihan, kita dapat melakukan satu langkah dengan kasih yang tak terbatas pada satu orang yang membutuhkan. Mencintai kesetiaan atau love mercy sejatinya harus diiringi tindakan mengasihi orang lain. Seseorang tidak bisa berkata bahwa dirinya mencintai kesetiaan tanpa mengasihi sesamanya. Lebih jauh lagi, kita tak bisa mengklaim bahwa kita adalah seorang yang mengasihi orang lain tanpa adanya dorongan untuk memberi. To love mercy berarti siap untuk mengasihi orang lain, membayar harga untuk mengasihi dan memberi bagi orang lain, sama seperti Kristus yang telah terlebih dahulu mengasihi kita dan memberikan diriNya bagi kita. Walk Humbly Perintah yang ketiga dalam Mikha 6:8 adalah “to walk humbly with your God” atau berjalan dengan penuh kerendahan hati bersama Tuhan. Sepanjang hidupnya, Dr. Ward menunjukkan kerendahan hati dalam setiap karyanya. Ia menyadari bahwa tanpa kasih karunia Tuhan, maka dirinya tidaklah berarti. Ia sering mengutip Mazmur 34:7 untuk merujuk siapa dirinya. “Orang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya”. Berjalan dalam Tuhan dengan penuh kerendahan hati adalah kunci utama saat berkarya bagi orang miskin. Terlalu sering bahwa kita mengira orang miskin tidak memiliki apapun untuk berbagi atau memberi pengajaran. Sebaliknya, berjalan dalam Tuhan dengan penuh kerendahan hati akan membuat kita mampu mengenali kemiskinan yang ada dalam diri kita baik dalam pikiran, jiwa, roh serta tubuh tanpa kasih karunia Tuhan. “Act justly, love mercy, walk humbly” sangat memaknai kehidupan Dr. Larry Ward dan pelayanannya. Bagaimana dengan kita? Mari memohon pertolongan Roh Kudus untuk menyelidiki hati kita dan menolong kita untuk juga memaknai ayat ini dan mengaplikasikannya dalam hidup dan panggilan kita sehari-hari. *) Penulis saat ini bekerja sebagai dokter spesialis anestesi. /stl
- Medical Mission Course XV tahun 2022
Penulis: drg. Rachel Emteta dan salah satu peserta MMC Ibadah Pembukaan MMC XV 2022 Photo credit: Rachel Emteta Medical Mission Course XV tahun 2022 kembali berlangsung secara virtual, yang dilaksanakan pada tanggal 6 Februari – 8 Mei 2022. Kondisi pandemi yang belum usai tidak membuat rangkaian MMC tahun ini berhenti. Allah yang memimpin MMC sejak tahun pertama adalah Allah yang sama yang menuntun setiap persiapan sampai MMC tahun ini boleh terlaksana. Rangkaian MMC XV dimulai dengan sesi kelas dasar selama dua minggu, di mana kedua belas peserta diperlengkapi mengenai bagaimana mencari kehendak Allah secara mandiri, mengenal gambaran besar misi global Allah, mengenali dan menggumulkan panggilan pribadi secara spesifik dalam dunia misi medis. Sesi eksplorasi yang berlangsung selama tiga minggu membukakan kepada peserta mengenai lembaga-lembaga misi yang dapat menjadi rekan sekerja, kesempatan mendengar life sharing dari para dokter dan dokter gigi Kristen misioner, serta mendapat paparan dari tujuh bidang misi medis yaitu cross cultural mission, urban mission and neglected people, medical mission networking, community health evangelism, health policy, law and management, mission and hospital. Setelah lima minggu berlangsung pertemuan virtual, peserta memiliki kesempatan untuk praktik lapangan dengan lembaga/yayasan misi yang ada di berbagai kota. Pengalaman ini menolong peserta untuk observasi, visitasi dan melihat langsung pelayanan yang dikerjakan. Kesempatan berharga ini juga merupakan momen di mana beberapa peserta dan panitia dapat saling bertemu. Pada waktu yang bersamaan, semua peserta memilih satu sampai dua dari tujuh bidang misi medis yang sudah dipaparkan sebelumnya. Pertemuan bersama mentor di dalam kelompok kecil selama tujuh minggu menolong peserta untuk menemukan langkah awal yang tepat dalam menekuni bidang misi medis yang mereka pilih, dibukakan tentang dasar biblikal, gambaran pelayanan dan realita yang terjadi di lapangan serta jejaring yang dapat dibangun. Terpujilah Allah atas kebaikan dan penyertaan-Nya sehingga tiga belas minggu rangkaian MMC dapat berjalan dengan baik. Terlepas dari segala kekurangan, kami panitia sungguh bersyukur kepada Allah dan kepada seluruh mentor serta narasumber yang terlibat. Diakhiri dengan ibadah penutupan dan pengutusan, kami berdoa kedua belas peserta dimampukan dan diteguhkan dalam mengerjakan panggilan agung Allah serta taat dan setia sampai akhir. Soli Deo Gloria. Berikut adalah cuplikan dari kesaksian peserta MMC XV: 1. dr. Christa Adeline (FK UNS 2015) ”Melalui setiap sesi MMC, Saya merasa setiap sesi MMC adalah pertunjukan para pembicara dan panitia menyanyikan lagu ini kepada para peserta. Saya melihat dengan sungguh nyata orang-orang–yang beberapa umurnya jauh di atas saya pun–tetap terbakar dalam api kasih kepada Tuhan, dan ini merupakan penghiburan yang luar biasa.” 2. dr. Claudia Putri Grevi (FK Maranatha 2015) ”Melalui sesi-sesi dalam MMC, saya tidak hanya belajar untuk menemukan panggilan hidup saya sebagai dokter, namun juga belajar untuk memiliki relasi yang benar dengan Allah sebagai akarnya dan akhirnya menemukan panggilan hidup saya sebagai anak Tuhan yang berprofesi dokter.” 3. dr. Gian C. Kalalembang (FK UNHAS 2015) ”Bersyukur melalui berbagai materi dasar, praktik lapangan, serta life sharing dalam MMC saya dapat mengeksplor bentuk panggilan serta belajar dari para mentor” 4. dr. Jeslyn Tengkawan (FK Atmajaya 2011) ”Saya sangat menikmati sebagian besar sesi MMC, mulai dari misi terintegrasi, BGA, AWG, life calling, life planning, life sharing, B2B, konseling, track mentoring, dan juga mentoring personal. Saya mulai kembali disadarkan bagaimana seharusnya saya hidup sebagai dokter untuk Tuhan.” 5. dr. Jessica Nathania (FK Atmajaya 2014) ”Selama mengikuti MMC saya mengalami banyak perubahan mulai dari disiplin rohani, menentukan prioritas dalam hidup, management waktu dan yang pasti cara pandang saya terhadap misi Allah.” 6. dr. Joue Abraham Trixie (FK UKI 2014) ”Semenjak mengikuti MMC, saya boleh lebih tenang dalam menjalani hidup, lebih fokus kepada Tuhan, percaya akan kedaulatanNya, menjalani hari tanpada ada penyesalan, dan merasa ”cukup” sehingga tidak melihat kanan kiri lagi” 7. dr. Raoulian Irfon (FK Universitas Udayana) ”Saya mendapat kesempatan untuk mendengarkan kesaksian kehidupan dari kakak-kakak alumni dan dari berbagai lembaga misi. Setiap sharing terasa seperti sebuah orkestra kehidupan yaitu melihat bagaimana kuasa, penyertaan, serta tuntunan Tuhan bagi setiap orang dalam menjalankan hidup, panggilan, serta visi mereka. Tuhan mengenal, memanggil, memperlengkapi, serta memelihara setiap pribadi dengan cara yang luar biasa” 8. drg. Tesalonika Pratiwi Situmeang (FKG Universitas Hasanuddin 2013) ”Saya bersyukur karena lebih memahami hidup yang berintegritas, mengatur hidup, dan memahami bahwa pelayanan dalam berbagai profesi yang lebih aplikatif. Saya merasa dikuatkan untuk menggali potensi kita sebaik mungkin agar menjadi saluran berkat untuk banyak orang.” 9. dr. Yohana Revi Imanita (FK Universitas Diponegoro 2015) ”Saya semakin bersyukur dan menyadari anugerah-Nya, ketika boleh Dia persiapkan untuk menjalani panggilan-Nya – memang benar, Tuhan yang panggil dan Tuhan juga yang memperlengkapi.” 10. dr. Jein Pratiwi Pongbulaan (FK Universitas Hasanuddin 2014) ”Saya mendapatkan berbagai pelajaran berharga yang baru pertama kali saya dengar dan ada juga beberapa hal penting yang diingatkan dan disegarkan kembali. Saya kembali diingatkan bahwa tentang hati Allah buat suku-suku bangsa. Ini tidak asing bagi saya namun sempat saya lupakan selama beberapa waktu. Dan saya bersyukur mengetahui bahwa untuk mengerjakan visi Allah ini ada banyak cara, bukan hanya menjadi utusan lintas budaya seperti yang saya ketahui selama ini.” 11. dr. Simon Nathanael Wicaksono ”Melalui MMC, saya melihat bahwa penyertaan Tuhan nyata, semua ketakutan-ketakutan yang saya miliki selama ini terkait kehidupan pelayanan nyatanya tidak relevan dan sekalipun terjadi dalam pelayanan, hal tersebut tidak membatasi pekerjaan Tuhan.” 12. drg. Tio Tien Dina F. Girsang (FKG USU 2014) ”Melalui MMC, saya disadarkan akan pentingnya memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan yang baik dalam menggumulkan panggilan hidup. Setiap orang akan memiliki masa jatuh bangun dan dalam kondisi itu pun kita pasti dapat melihat kasih Tuhan, bekerja dalam kesadaran panggilan akan Allah membuat kita bekerja bukan bicara tentang menyenangkan atau tidaknya kondisi pekerjaan kita, namun kita sadar bahwa Allah menginginkan kita menyelesaikan bagian ini hingga akhinya kita menikmati manisnya ketika taat kepada Tuhan” /stl Peserta dan Panitia MMC XV 2022 Photo credit: Rachel Emteta
















