top of page
Subscribe
Instagram
Facebook
Donation

146 results found with an empty search

  • Mengelola Stres Lewat Keintiman Pasutri

    Perubahan drastis telah melanda institusi pernikahan dewasa ini. Perubahan tersebut membawa konsekuensi yang luar biasa, antara lain mengubah perasaan, harapan, nilai-nilai dan pola tingkah laku manusia. Salah satu dimensi keluarga yang sangat dipengaruhi adalah hilangnya relasi yang intim antara suami-istri. Keadaan sosial masyarakat kini melahirkan masyarakat dan keluarga yang makin individualis dan impersonal. Akibatnya manusia makin jauh dari relasi, bahkan dari orang terdekat sekalipun seperti keluarga. Di sisi lain, manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial (social being). Artinya, manusia membutuhkan ikatan (bonding) atau hubungan yang intim dengan orang-orang yang terdekat, khususnya keluarga. Ikatan batin ini penting sebab menjadikan seseorang tahan terhadap stres dan kecemasan. Akibat tuntutan kehidupan dan nilai hidup yang mengutamakan uang membuat banyak ibu harus bekerja di luar rumah. Bekerja tentu bukan masalah, namun akibatnya mereka menjadi kurang mempunyai waktu menciptakan hubungan yang saling membangun dengan pasangan dan anak-anak. Berkurangnya waktu bersama keluarga, khususnya anak-anak, menambah stres dan konflik tersendiri. Konflik tersebut menurut James Levine adalah konflik antara ‘mengutamakan kehidupan kerja atau keintiman keluarga’. Baik suami maupun istri mengalami stres, yang berperanan menciptakan keluarga-keluarga yang disfungsi. Keintiman Tinggi, Stres Rendah Beberapa hasil penelitian menunjukkan keintiman berkaitan erat dengan stres. Relasi yang intim bisa menjadi semacam benteng bagi efek negatif dari stres. Survei membuktikan, mereka yang intim dengan pasangan, lebih sedikit mengalami sindrom yang berkaitan dengan stres dan paling cepat mengatasi berbagai penyakit. Mereka juga paling sedikit kemungkinan kumat dengan penyakitnya dibandingkan mereka yang tidak memiliki relasi yang intim. Untuk itu, orang yang menikah perlu belajar merawat dan mengembangkan keintiman, sebab ini berkaitan dengan kesehatan Anda. Secara praktis, berikanlah waktu yang cukup bersama pasangan. Usahakan Anda menjadi teman bicara yang menyenangkan, sedikit ada humor dan canda. Sukalah membantu ketika pasangan membutuhkan pertolongan. Anda tidak hanya fokus pada bisnis dan karir pribadi, sebaliknya perhatikan pada pasangan Anda. Berusahalah memikirkan bagamana agar pasangan Anda senang dan puas. Merawat cinta berarti peduli, bersedia berbagi dan menyatakan diri pada pasangan tanpa rasa takut atau berpura-pura. Ada kerelaan memelihara pasangan dan memproteksi kebutuhan fisiknya dengan baik. Dalam hal ini termasuk berkorban bagi pasangan, membela pasangan saat dia terancam. Semua ini akan memberikan pasangan Anda rasa aman yang paling mendasar. Bentuk-bentuk keintiman antara lain: Keintiman emosi. Ini merupakan pengalaman kedekatan secara perasaan, kemampuan membagikan perasaan secara terbuka, dan mendapat perhatian penuh dari pasangan. Wujudnya adalah kerinduan untuk bersama, ada kesukaan ngobrol dan jalan berdua. Intinya, sediakan waktu bermesraan secara emosi. Keintiman sosial. Pengalaman memiliki teman dan kegiatan sosial bersama-sama. Wujudnya, tidak mudah cemburu. Sebaliknya mau akrab bergaul dengan sahabat pasangan Anda. Menyediakan waktu ngobrol dan bertemu dengan sahabat masing-masing. Keintiman seksual (bagi suami-istri). Ini adalah pengalaman menyatakan afeksi, sentuhan, kedekatan secara fisik dan aktivitas seksual. Wujudnya adalah punya rasa tertarik pada tubuh pasangan, mengalami orgasme dan bebas dalam mengkomunikasikan masalah seksual. Tipsnya, sediakan waktu berkala menikmati hubungan seksual dengan pasangan Anda sesuai kebutuhan dan kesepakatan, juga kreatif melakukannya. Keintiman rekreasional. Pengalaman membagi kesukaan lewat hobi, olahraga, dan rekreasi bersama. Kemampuan menikmati waktu senggang bersama. Rencanakan berlibur setidaknya dua kali setahun, yang menyenangkan bagi kedua belah pihak termasuk anak-anak. Keintiman spiritual. Kemampuan menikmati persekutuan bersama secara rohani, bertumbuh secara iman serta saling mendoakan. Selain menikmati iman yang utuh, perlu saling menguatkan saat pasangan dalam kondisi tertekan dan banyak pergumulan. Anda menjadi teman sharing menyenangkan dan menguatkan Jika Anda bisa membangun dan merawat keintiman di atas, maka Anda membawa kenikmatan, kepuasan pada pasangan dan diri Anda sendiri. Anda menikmati kegembiraan, kedamaian, ketentraman, dan minim stres. Sebaliknya, jika Anda tidak merawat cinta dan keintiman dapat membawa hasil yang negatif. Kiranya Tuhan terus menolong dan memelihara keintiman Anda dan pasangan, bagi kemuliaanNya. *Penulis melayani sebagai konselor di Layanan Konseling Keluarga dan Karir LK3 /stl Referensi: 1. Len Sperry & J. Carlson. Marital Therapy. Love Publishing Company, Colorado, 1991 2. Seni Merawat Keluarga, Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha (Pelikan Indonesia) 3. Mengubah Pasangan Tanpa Perkataan (Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha , VISI- Bandung) 4. Alasan-alasan Mempertahankan Perkawinan (Benjamin Utomo dan Julianto Simanjuntak)

  • Kebebasan Melalui Self-Forgetfulness

    Judul : The Freedom of Self-Forgetfulness: The Path to True Christian Joy Penulis : Timothy Keller Halaman : 48 pages Penerbit : 10Publishing, 2012 Cukup sulit mencari padanan kata “self-forgetfulness” dalam bahasa Indonesia yang singkat tanpa mengurangi maknanya. Self-forgetfulness menekankan pentingnya orientasi pada apa kata Tuhan daripada opini orang lain bahkan opini kita sendiri. Dalam buku ini, Tim Keller mengulas self-forgetfulness sebagai tanda hidup yang telah bertransformasi. Kita sebagai manusia dihadapkan pada dua potensi cara pandang ekstrim yang perlu diwaspadai. Cara pandang yang terlalu tinggi terhadap self esteem (umumnya diterjemahkan sebagai “harga diri”), merupakan penyebab dari banyak permasalahan. Di jaman kuno, jemaat Korintus saling membanggakan diri sebagai murid dari Apolos, sebagian membanggakan Paulus, sehingga berpotensi perpecahan dan konflik horizontal yang akhirnya memicu teguran dari Paulus. Begitu juga sebaliknya, cara pandang yang terlalu rendah terhadap self esteem juga problematik. Kita dapat melihat orang melakukan kriminalitas, melakukan penganiayaan, kecanduan, yang jika ditelisik disebabkan oleh rasa tidak puas atas citra dirinya. Membangun identitas di atas cara pandang yang keliru, baik terlalu tinggi maupun terlalu rendah memandang citra diri, adalah ibarat balon. Meski tampak berisi, balon hanya kosong berisi angin; ia juga “membengkak” yang menyakitkan; serta “mudah meletus” alias rapuh. Dengan demikian, cara pandang yang tepat terhadap self-esteem menjadi kunci. Ini akan menjauhkan kita dari overthinking sehingga membuat kita terbebas dari intimidasi pikiran yang tidak perlu. Paulus menunjukkan bagaimana Injil telah mengubahkan caranya memandang harga dirinya dan identitasnya. Egonya berubah total setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus. Cara pandang Paulus mengenai dirinya tidak terikat pada penilaian orang lain terhadap Paulus. Namun sebaliknya juga tidak lantas Paulus mengikuti opini dirinya sendiri. Adalah jebakan juga jika kita hidup menurut standar pendapat kita sendiri, yang menjadikan kita keras kepala dan menghalangi diri menjadi pribadi yang lebih baik. Paulus hanya peduli terhadap penilaian Tuhan atas dirinya. Perlu diperhatikan bahwa hal ini tidak ada kaitannya dengan dosa. Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah, kata Paulus, yang paling berdosa. Dosanya dan identitasnya tidak saling berhubungan. Paulus menolak mencampurkannya. Dia tidak ingin naturnya sebagai orang berdosa menghancurkan cara pandangnya terhadap citra dirinya. Ini tesnya: orang yang self-forgetful tidak akan sedemikian sakit hati karena kritik. Kritik tidak akan menghancurkannya, tidak akan mengganggunya. Orang yang hancur karena kritik menandakan bahwa ia menaruh terlalu banyak kepeduliannya pada pikiran orang lain. Demikian sebaliknya, orang juga bisa hancur justru karena orang tidak mau mendengar kritik sama sekali. Mereka tidak belajar dari kritik karena tidak peduli. Orang yang self-forgetful mendengarkan kritik dan melihatnya sebagai peluang untuk perbaikan. Terdengar idealis memang, namun sebetulnya ini merupakan akibat logis dari pengenalan akan Tuhan. Semakin kita mengerti Injil maka sudah sepantasnya kita semakin ingin berubah ke arah yang lebih baik. Paulus memberikan teladan dan menunjukkan cara mengalami transformasi cara pandang terhadap diri sendiri. Paulus, dan semestinya kita juga, meyakini ultimate verdict bahwa kita berharga di mata Tuhan dan hanya penilaian Tuhanlah yang berarti bagi kita. Tidak seperti worldview lain dimana kita berbuat baik demi memperoleh perkenanan Tuhan. Dalam kekristenan perkenanan Tuhanlah yang terlebih dahulu menuntun kita pada pertobatan dan buah yang baik dalam hidup kita. Tuhan terlebih dahulu mengasihi dan menerima kita, sehingga kita tidak perlu mempesona siapapun untuk membuat kita nampak lebih baik. Self-forgetfullnes menjadi tanda transformasi hidup dan cara pandang terhadap citra diri, sehingga kita tidak perlu membangun identitas kita di atas kekosongan, yang kemudian menjadikan hidup kita dapat seturut dengan kehendak Allah. /stl

  • Apakah Bayi Tabung dapat Menjadi Pilihan bagi Orang Kristen?

    dr. Kurnia Baraq, M.Med** dan Dr. dr. Lydia Pratanu, MS*** Pada tahun 1978, dunia digemparkan oleh kelahiran bayi Louis sebagai bayi tabung pertama. Kala itu, tuba fallopi yang tersumbat menjadi latar belakang utama In Vitro Fertilization (IVF) dilakukan – saat ini, hal tersebut tidak lagi menjadi satu-satunya motivasi, dimana perkembangan teknologi molekuler terjadi sangat pesat. Proses bayi tabung, sejak awal menjadi sarang dari berbagai isu etik yang memicu banyak perdebatan oleh berbagai kalangan termasuk orang Kristen. Infertilitas bukanlah suatu hal yang asing dalam kekristenan. Alkitab cukup sering mencatat tentang infertilitas – simak saja Abraham dan Sarah, Hana dan Elkana, dan lain sebagainya. Pasutri Kristen yang rindu menggenapi mandat Allah untuk berkembang biak dan bertambah banyak namun menghadapi masalah infertilitas pada akhirnya diperhadapkan dengan opsi IVF bilamana berbagai opsi lainnya terbukti tidak berhasil. Sebagian dari kita mungkin akan langsung berkata tidak. Tapi, penulis ingin mengajak kita belajar beberapa proses dari IVF yang sarat dengan berbagai isu etik sebelum mengambil keputusan. Pasangan yang akan melalui proses bayi tabung terlebih dahulu harus menjalani pengobatan untuk memperbaiki kualitas sperma bagi laki-laki dan super ovulasi untuk menghasilkan lebih banyak telur bagi perempuan. Selanjutnya, sampel sperma dikeluarkan dengan cara masturbasi dan sejumlah telur yang dihasilkan akan diambil secara langsung melalui proses ovum pick up. Proses fertilisasi di laboratorium mulai terjadi di tahap selanjutnya. Untuk meningkatkan angka keberhasilan terjadinya pembuahan, satu sperma hidup disuntikkan ke pusat sel telur (sitoplasma) yang telah matang (Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI)) dan dikulturisasi sampai mencapai tahapan blastocyst yang terdiri dari 50 – 200 sel untuk dilakukan pre-implantation genetic screening (PGT) yang bertujuan untuk mengidentifikasi terjadinya aneuploidy (PGT-A) yaitu keadaan kekurangan ataupun kelebihan kromosom seperti down syndrome, monogenic disease (PGT-M) yaitu keadaan seperti thalassemia, dan structural abnormalities (PGT-S). Tahapan ini dimungkinkan ketika teknologi sequencing merambah masuk ke dunia kesehatan. Sampel yang digunakan adalah trophectoderm yang merupakan lapisan terluar blastocyst dancikal bakal plasenta. Bila tidak ditemukan masalah dalam screening tersebut maka embrio akan diimplantasi ke dinding rahim dan perkembangan kehamilan secara normal akan dilewati oleh calon ibu tersebut. Sebaliknya, bila ditemukan masalah, menghancurkan embrio menjadi pilihan. Lalu, bagaimana perspektif kita sebagai orang Kristen? Kita percaya bahwa setiap individu merupakan mahakarya unik yang diciptakan Tuhan, tetapi kemudian rusak akibat dosa dan akhirnya sangat rentan mengalami berbagai penyakit serta kecacatan. Dalam hal ini, penggunaan teknologi medis dapat dianalogikan dengan restorasi seni yang menggunakan teknologi canggih dan terkadang invasif untuk mengembalikan sebuah mahakarya. Yang perlu digarisbawahi adalah hasil akhir dari restorasi seni adalah dikembalikannya mahakarya tersebut sesuai dengan niat seniman aslinya. (Wyatt, John. Matters of life and Death, IVP, 2014) Pemanfaatan teknologi reproduksi IVF untuk memulihkan fungsi reproduksi seorang perempuan yang merupakan sebuah mahakarya yang ‘rusak’ akibat infertilitas dapat dilihat sebagai pemulihan suatu ciptaan. Teknologi IVF tidak diperkenankan mengubah desain asal dari the genetic mother, the carrying mother, and the social mother – sebagai desain yang kita percayai dalam iman Kristiani. Dengan kata lain, anak yang lahir melalui teknologi IVF adalah buah persatuan kasih yang secara genetika berasal dari sel sperma dan sel telur kedua orangtuanya sebagai pasangan suami istri dalam pernikahan yang saling mengasihi, dan kemudian dikandung dan dilahirkan oleh ibunya sendiri. Proses bayi tabung pada akhirnya merupakan alat bantu saat organ reproduksi mengalami ketidakmampuan untuk menghasilkan keturunan. Teknologi IVF, perubahan desain, dan nasib embrio Kecanggihan teknologi reproduksi telah membuka peluang terhadap keinginan berdosa manusia untuk mengubah desain Sang Pencipta. Penggunaan donor sel telur, donor sperma, dan bahkan ibu pengganti atau yang kita kenal sebagai surrogate mother telah benar-benar mengubah desain Allah sebagai Pencipta. The God given system of a person dimulai dari pertemuan sperma dan sel telur, sehingga perubahan terhadap esensi pernikahan pria dan wanita yang mencerminkan ikatan hubungan Allah Tritunggal bukanlah ide yang benar. Selain itu, seleksi embrio, pembekuan embrio cadangan untuk reinsertion bila terjadi kegagalan implantasi, dan screening embrio terhadap berbagai kondisi patologis juga menjadi dilema etik yang tidak bisa diabaikan. Kebanyakan nasib akhir dari embrio-embrio tersebut hanya seputar: tetap dipertahankan untuk berkembang atau dimusnahkan (tentunya dengan persetujuan pemilik embrio tersebut). Alkitab sangat jelas mengajarkan kita untuk menghargai kehidupan sejak dalam kandungan. Menghargai setiap jiwa manusia yang telah diciptakan segambar dan serupa dengan Allah dimana Allah-lah sebagai sumber hidup dan Pencipta, bukan manusia. Mazmur 139:13, “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku”. Penutup Bagi orang Kristen, bayi tabung tidak terbatas tentang boleh atau tidak. Sudah seharusnya sebagai pasangan yang bergumul untuk mempunyai keturunan ataupun kita sebagai tenaga medis dan juga seorang Kristen untuk mempunyai pengetahuan yang komprehensif terkait teknologi reproduksi ini. Tentu, iman kita kepada Kristus dan pengetahuan tidak boleh dipisahkan. Karena itu, setiap kemajuan teknologi harus berpedoman pada prinsip memuliakan Allah termasuk teknologi IVF yang kita percaya merupakan anugerah Allah sebagai teknologi restoratif yaitu pemulihan ciptaan sesuai dengan desain Sang Pencipta. *Ditulis dr. Kurnia Baraq, dari seminar “Bayi tabung dan perspektif Kristen” pada 6 Maret 2023 oleh Dr. dr. Lydia Pratanu, MS **Penulis bekerja di NGO bidang HIV di Jabodetabek ***Penulis bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta /stl

  • Perawat Masa Kini: Tantangan dan Pergumulannya

    Profesi perawat merupakan salah satu bagian dari tenaga kesehatan dengan proporsi terbanyak di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan tahun 2022 yang diolah Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tenaga kesehatan di Indonesia mencapai 1,4 juta orang. Dari jumlah tersebut, paling banyak adalah perawat dengan jumlah 563 ribu orang. Hal ini mencerminkan bahwa perawat mempunyai peran yang penting terhadap peningkatan mutu pelayanan kesehatan baik di area pelayanan rumah sakit maupun di puskesmas. Ada beberapa tantangan yang dihadapi perawat saat ini, antara lain: Banyaknya pendidikan tinggi keperawatan yang tidak terstandar Hal ini mempengaruhi kemampuan perawat baru dalam memberikan pelayanan yang profesional dan mempengaruhi kemampuan adaptasi perawat di dunia kerja. Oleh karena itu pentingnya pemerintah memperhatikan standar berdirinya suatu Lembaga Pendidikan Kesehatan (Keperawatan). Saat ini mayoritas pendidikan perawat masih diploma, oleh karena itu pemerintah dan pihak rumah sakit memberikan kesempatan perawat dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang Ners atau Magister Keperawatan sehingga perawat mampu bermitra dengan dokter dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Persepsi perawat adalah “pembantu” dokter hanya bisa dihilangkan dengan peningkatan pendidikan dan kompetensi perawat. Harapan pasien terhadap pelayanan yang lebih baik. Adalah harapan setiap pasien untuk menerima pelayanan kesehatan yang baik. Ketika mendapatkan tindakan atau terapi, yang pasien harapkan adalah perawat yang melayani memiliki kemampuan dan komunikasi yang baik. Sebagai contoh ada perawat yang ahli dalam memasang intravenous (IV) line tetapi tampak jutek atau tidak ramah tentu akan membuat pasien mengeluh. Demikian pula sebaliknya, perawat yang sangat ramah tetapi tidak mampu memasang IV line dengan baik juga akan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi pasien. Aspek lain dalam pelayanan kesehatan saat ini adalah memberikan edukasi. Salah satu standar pelayanan rumah sakit adalah pasien dan keluarga pasien dilibatkan dalam semua aspek perawatan dan tata laksana medis mereka melalui edukasi. Pasien dan keluarga diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan mengenai kondisi medisnya, diagnosis pasti, serta rencana perawatan dan terapi. Dalam hal ini, individu yang memberikan edukasi diharapkan memiliki pengetahuan tentang topik yang akan diedukasikan dan keterampilan komunikasi untuk melaksanakan edukasi tersebut. Disinilah kemampuan perawat untuk memberikan edukasi kepada pasien menjadi sebuah tantangan. Hal ini karena pasien mengharapkan adanya penjelasan yang detail terhadap kondisi penyakitnya ataupun terkait rencana tindakan yang akan dilakukan setiap harinya. Disaat dokter tidak selalu ada di ruangan perawatan atau hanya mempunyai waktu yang terbatas saat visit pasien, perawat harus bisa hadir dan menjawab tantangan ini. Oleh karena itu perawat perlu meningkatkan kemampuannya terkait penyakit dan perawatannya sehingga bisa memberikan edukasi yang sejalan dengan program dokter yang merawat. Perawat juga harus mampu membuat rencana perawatan sesuai bidang pelayanan keperawatan yang mencakup bio, psiko, sosio dan spiritual pasien. Tantangan kuantitas dan kualitas pelayanan keperawatan. Masalah yang lain adalah beban Kerja perawat yang tinggi. Salah satu komplain pasien yang paling sering di sampaikan adalah respon perawat yang lama terhadap panggilan pasien. Hal ini bisa diakibatkan karena perawat yang memiliki beban kerja yang tinggi serta perbandingan perawat dan pasien yang tidak sesuai sehingga perawat harus melakukan beberapa tugas dalam satu waktu. Belum lagi perawat masih harus melakukan tugas-tugas non keperawatan seperti tugas administrasi, mengantarkan pasien untuk pemeriksaan diagnostik dan yang lainnya. Oleh karena itu pemerintah atau rumah sakit harus membuat regulasi terkait perbandingan pasien dan perawat dan membuat job desk perawat. Hal ini akan membuat perawat mampu fokus dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Tantangan untuk tetap menjadi Garam dan terang. Perawat merupakan profesi yang sering sekali Tuhan ijinkan melihat pribadi manusia dari lahir sampai menutup mata. Melihat pribadi yang mengalami kesakitan dan ketidakberdayaan, marah, putus asa dan mencari pertolongan Tuhan. Oleh karena itu, kita sebagai perawat harus meningkatkan pengetahuan kita, ketrampilan dan komunikasi kita yang baik sehingga bisa menjadi berkat bagi pasien-pasien yang kita rawat. Menjadi perpanjangan kasih Tuhan. Mengisi diri dengan Firman Tuhan adalah dasar yang penting karena kita tidak akan mampu memberikan pelayanan yang baik jika tanpa pertolongan-Nya. Firman Tuhan dalam Kolose 3: 23 berkata “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”, kiranya menguatkan kita dalam memberikan pelayanan yang terbaik, tidak menjadi “hambar” atau “marah” ketika berhadapan dengan pasien yang terkadang menjadi kasar atau tidak sabar dalam “penderitaan” mereka. Kiranya Tuhan memampukan kita menjalankan panggilan sebagai perawat. /stl *Penulis saat ini bekerja sebagai perawat

  • Tak Ada Dikotomi dalam Pelayanan Misi: Misi Integral (bagian 2)

    Misi Integral – Misi Allah “Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.” (Efesus1:9-10) Rencana Allah adalah membawa kesembuhan dan kesatuan pada semua ciptaan di dalam dan melalui Yesus Kristus. Misi Allah adalah menebus seluruh ciptaan yang dirusak oleh dosa kepada suatu kumpulan ciptaan baru yang di dalamnya adalah seluruh ciptaan yang telah ditebus melalui salib dan kebangkitan Kristus. Rencana Allah tersebut tampak sebagai suatu metanaratif Alkitab yang dimulai sejak Kejadian hingga Wahyu yaitu penciptaan, kejatuhan, penebusan dan ciptaan baru yang terpusat dan disatukan di dalam Kristus. Penciptaan: menyatakan manusia yang diciptakan segambar dengan Allah, potensi bersekutu dengan Allah yang hidup dan yang mempunyai misi / mandat melipatgandakan dan memenuhi bumi. Kejatuhan dalam dosa: memerosotkan manusia ke dalam realitas bumi yang telah dikutuk serta kefasikan manusia dan iblis sehingga secara jasmani berada di bawah kehancuran dan kematian, secara intelektual menggunakan kekuatan rasionalitas untuk memberi alasan dan menormalkan kejahatan yang manusia lakukan dan secara sosial relasi manusia terpecah dan secara rohani manusia terasing dari Allah Penebusan: Allah memilih untuk tidak menghancurkan ciptaan-Nya melainkan menebusnya dan melakukannya dalam sejarah melalui beberapa orang dan peristiwa yang dimulai dari panggilan Abraham hingga pada kedatangan Kristus kedua kalinya. Tindakan Allah yang tunggal dan menyelamatkan merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari perjanjian lama dan perjanjian baru. Perjanjian lama menunjukan cakupan maksud penebusan Allah yang dijabarkan dalam sebuah konteks sejarah dan budaya dan memberikan model bagi kita dalam detail yang menajubkan tentang rencana keselamatan sedangkan Perjanjian Baru menunjukan proses penebusan dimana segala sesuatu diperdamaikan dengan Kristus, proses inkarnasi yang menghadirkan Allah tepat di samping kita melalui melalui salib dan kebangkitan Kristus. Ciptaan baru: kedatangan kembali Kristus menyatakan penggenapan terakhir dari keseluruhan maksud sejarah yaitu penebusan dan pembaruan seluruh ciptaan Allah Dengan melihat metanarasi di atas maka sangat jelaslah bahwa keseluruhan isi Alkitab tersebut telah dengan tegas menyatakan misi Allah pada dunia ini yaitu membawa segala sesuatu di surga dan di bumi menjadi satu di dalam Kristus, merekonsiliasinya melalui darah-Nya di kayu salib, mentransformasikan ciptaan-Nya yang telah rusak oleh dosa kepada ciptaan baru dan memberkati seluruh bangsa melalui Injil Yesus. Mentransformasikan dunia yang retak dan berserakan di bawah penghakiman Allah menuju umat yang baru yang diperdamaikan oleh darah Kristus dari semua suku bangsa, bangsa-bangsa, semua lidah dan bahasa akan bersama sama memuji Tuhan. Ia juga menghancurkan kuasa kematian dan kejahatan saat Yesus datang kembali membentuk pemerintahan-Nya yang kekal, penuh dengan keadilan dan kedamaian, dan akhirnya Ia akan tinggal bersama sama kita dan kerajaan dunia akan menjadi kerajaaan milik Allah dan Yesus akan memerintah selamanya. Dengan demikian mendegradasi makna misi Kristen menjadi hanya suatu pesan yang dikomunikasi secara oral dalam bentuk pengabaran Injil saja, dapat berkembang menjadi suatu kesalahpahaman mengenai rencana Allah, bahwa Dia hanya ingin “ menyelamatkan jiwa” dan bukan dalam rangka mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya baik yang ada dibumi maupun di surga (Kolose 1:20) dan bahwa manusia hanya memerlukan pendamaian dengan Allah dibanding menikmati pengalaman kesempurnaan hidup. Misi Umat Allah: Misi Gereja Tuhan mengundang dan memanggil kita untuk bersama-Nya memenuhi rencana besar-Nya untuk semua ciptaan-Nya. Misi Allah haruslah menjadi misi umat Allah, misi itulah yang menjadi misi gereja. Dengan demikian misi gereja adalah kelanjutan dari tindakan penebusan Allah, kelanjutan dari tindakan penyelamatan Allah, ini adaah otoritas terbesar dan amanat tertinggi yang diberikan kepada gereja. Ada banyak upaya untuk mendefinisikan dan menggambarkan misi gereja. Salah satu yang definisi yang banyak diadopsi oleh banyak gereja adalah yang dibuat oleh Dewan Konsultatif Anglikan pada tahun 1984. Dewan tersebut menyusun pernyataan misi untuk Persekutuan Anglikan sedunia yang kemudian diadopsi oleh konferensi pada uskup Lambeth pada tahun 1988 sebagai ’Lima Tanda Misi’. Lima tanda misi tersebut meliputi Penginjlan : Menyatakan kabar baik Pengajaran : Mengajarkan , membaptis dan pemeliharaan orang percaya baru Belas kasihan : Merespon kebutuhan manusia dengan pelayanan kasih Keadilan : Mencari dan mentransformasikan ketidakadilan Peduli ciptaan : Memperjuangkan dan melindungi ciptaan dan mempertahankan kehidupan di bumi Lima tanda misi tersebut kemudian diringkas menjadi suatu 3 misi gereja: Membangun gereja (melalui penginjilan dan pengajaran), membawa orang kepada pertobatan, iman dan ketaatan sebagai murid Yesus. Melayani masyarakat ( melalui belas kasihan dan keadilan) sebagai respon atas pengutusan kita “ kedalam dunia” untuk mengasihi dan melayani, menjadi garam dan terang , melakukan hal baik dan memberikan kesejahteraan bagi orang disekitar kita Peduli terhadap ciptaan ( melalui melalui penggunaan yang benar atas sumber daya melalui aksi dan kepedulian) , memenuhi misi Allah yang pertama kali diberikan pada manusia pada kejadian 1 dan 2. Dengan demikian misi gereja yang diemban haruslah bersifat multisegi dan melibatkan semua komponen natur manusia, dan juga misi yang harus bergantung pada misi Allah yang meliputi seluruh ciptaan dan keseluruhan hidup manusia. Misi yang berorientasi pada kepuasan pemenuhan kebutuhan manusia, termasuk didalamnya kebutuhan akan Tuhan, kebutuhan akan makanan, cinta, rumah, pakaian dan kesehatan mental. PENUTUP Misi integral berarti memahami, memproklamirkan, dan menghidupi kebenaran alkitabiah bahwa Injil adalah Kabar Baik Allah, melalui salib dan kebangkitan Yesus Kristus, untuk individu, komunitas , dan untuk ciptaan yang telah rusak dan menderita karena dosa. Ketiganya tercakup dalam kasih penebusan dan misi Allah, ketiganya harus menjadi bagian dari misi komprehensif umat Allah. Misi integral adalah proklamasi dan demonstrasi Injil. Sebagai bagian dari penginjilan , tujuan proklamasi Kabar Baik tentang Yesus Kristus bukanlah merubah seseorang menjadi soerang individual yang religius yang memisahkan diri dari dunia dalam rangka menikmati keselamatan, tetapi malah sebaliknya tujuan penginjilan adalah mengangkat komunitas komunitas orang percaya untuk hidup dalam terang. Komunitas yang tidak hanya berbicara tentang kasih Tuhan tetapi juga mendemonstrasikanya dalam bentuk yang konkrit, dengan cara melakukan pekerjaan baik yang telah Tuhan sediakan bagi mereka (lih. Efesus 2: 10) dengan penekanan pada perubahan hidup manusia dalam semua dimensinya menurut rencana Tuhan dan memampukan manusia menikmati kelimpahan hidup yang Tuhan ingin berikan dan Tuhan Yesus bagikan pada mereka. Apa yang dialami oleh Manju (artikel bagian 1) dapat menjadi teladan pelayanan kesehatan di tempat kita bekerja, sebagai klinisi, manajemen atau pembawa kebijakan untuk dapat menolong orang yang datang kepada kita bukan saja menolong fisiknya yang sakit tetapi juga dapat menyembuhkan kondisi sosial ataupun ekonomi dan terutama spiritualnya. Berjumpa dengan Tuhan melalui penyembuhan sakit dan pemulihan sosial serta ekonominya - itulah misi integral. *Penulis melayani sebagai neurolog di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta /stl Referensi: Lausanne Movement. Integral Mission is defined as to the poor and oppressed. https://lausanne.org/networks/issues/integral-mission Sherman AL.2011 Kingdom Calling, Penatalaksanaan Vokasi Untuk Kebaikan Bersama. Literatur Perkantas, Jakarta Stot.J. 1994 Isu Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani Yayasan Komunikasi Bina Kasih. Jakarta The Micah Declaration on Integral Mission in Tim Chester (ed) Justice , Mercy and Humility. Integral Mission and the poor. Charlisle, UK. Paternoster.2002.p.19 Vinot.R. What is Integral Mission.www.alnation.ac.uk Wright.C. Integral Mission and The Great Commision. https://www.loimission.net/wp-content/uploads/2014/03/f

  • Misi Integral: Yang Sering Luput dalam Pelayanan Misi (bagian 1)

    Istilah misi integral bukanlah suatu kata yang umum didengar dikalangan orang orang Kristen bahkan dikalangan aktivis gereja sekalipun. Padahal, topik misi integral harusnya memiliki porsi yang lebih besar terutama saat kita membicarakan tentang misi. Micah Declaration (2001) mendefiniskan misi integral sebagai suatu proklamasi dan demonstrasi gereja, proklamasi yang kita nyatakan memiliki konsekuensi sosial sedangkan keterlibatan sosial yang dilakukan memiliki konsekuensi evangelistik. Deklarasi tersebut menunjukan penegasan bahwa tidak ada dikotomi alkitabiah antara tanggungjawab penginjilan dan sosial dalam pelayanan pengabaran Injil. Kisah seorang penderita kelumpuhan yang ditulis dalam Interseve International berikut ini mungkin dapat menolong untuk dapat memahami misi integral dalam aplikasi dan konteks medis.Manju berusia 19 tahun, cantik dan cerdas, sedang mempersiapkan studi untuk menjadi perawat. Melihat kondisi negara tempat dia tinggal dan dia bisa memilih profesi perawat, dapat disimpulkan bahwa dia tidak memiliki masalah ekonomi. Sampai suatu pagi dia terbangun dalam kondisi lumpuh pada kedua kakinya dan terdiagnosa sebagai myelitis transversa. Suatu kondisi yang jarang ditemukan dan sangat sulit untuk pulih sempurna. Dia hanya bisa terbaring di tempat tidur dan tidak dapat mengontrol miksi maupun defekasi. Setelah terdiagnosa keluarganya membawanya ke ibukota Kathmandu hingga akhirnya ke rumah sakit di India. Setelah menjalani pengobatan selama berminggu-minggu, kondisi kelumpuhan tidak mengalami perbaikan hingga akhirnya keluarga memutuskan membawanya ke dukun. Karena tidak ada perubahan, keluarga Manju menyerah dan Manju dibawa pulang. Dia telah putus asa untuk sembuh dan dapat berjalan seperti sediakala, tetapi masih memiliki tekad untuk berjalan dengan mengandalakn furnitur sederhana di rumah dan dinding untuk setidaknya mengelilingi rumahnya. Setelah satu setengah tahun menjalani kelumpuhannya, Manju semakin tertekan dan depresi. Ia kehilangan harapan untuk berjalan, menikah atau bekerja, dan pada masa depresi itu dia bertemu dengan seorang perawat di Pokhara dan mengajurkannya untuk berobat ke RS tempat dia bekerja. Segera setelah dia datang ke RS tersebut, para dokter yang memeriksa dan mengobatinya melihat tekadnya yang keras untuk ’bangkit kembali’. Manju bekerja keras untuk menggunakan otot yang lemah akibat penyakitnya dan belajar dengan cepat dengan cara terbaik untuk mengoptimalkan semua otot yang lemah tersebut. Dengan belat kaki dan kruk dia mulai berjalan di sekitar rumah sakit, menolak bantuan ketika dia jatuh, belajar mengendalikan usus dan kandung kemihnya. Tetapi hal lain yang penting di RS itu dia mendengar tentang Yesus, dan pada akhirnya menjadikanNya Tuhan atas hidupnya. Para dokter menantikan apa yang Tuhan mau dalam hidupnya, mereka juga mengatur agar dia mengikuti kursus untuk mempelajari keterampilan kantor, dan sungguh menyenangkan bertemu dengannya dari waktu ke waktu, tumbuh secara spiritual dan berkembang sebagai pribadi yang dewasa. Dari perubahan-perubahan yang terjadi pada Manju, perubahan manakah dalam hidupnya yang lebih penting? Apakah perubahan fisiknya yang sudah lebih baik dan mampu berjalan, atau secara sosial, dimana dia yang tadinya sangat bergantung pada keluarganya, saat ini telah menjadi mandiri, atau transformasi spiritualnya dimana dia telah menemukan kedamaian, kebahagiaan dan jaminan keselamatan hanya ditemukan di dalam Yesus Kristus. Ketiga perubahan yang terjadi pada dia adalah penting bagi setiap orang yang Tuhan kasihi. Terfokus hanya pada satu area perubahan saja dan mengesampingkan yang lain akan membuat dia menjadi suatu pribadi yang tidak utuh. Terpusat pada sisi kemajuan rehabilitasi fisik dan sosial dan mengabaikan perubahan spiritualnya akan membuatnya menjadi monumen kebanggaan manusia tanpa mengakui Tuhan yang menciptakan dan menyembuhkan. Sedangkan terfokus dan sosialnya akan membuatnya percaya pada Tuhan tetapi tetap dalam situasi putus asa. Seringkali konteks misi integral menjadi tidak jelas saat dilakukan di banyak tempat dan kesempatan seperti misalnya pada banyak proyek pengembangan masyarakat miskin yang dilakukan oleh orang orang Kristen atau ternyata hanya didonasi orang Kristen. Kegiatan tersebut kerap digaungkan sebagai misi integral, mereka menyebutnya sebagai “pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang baik”. Dalam kondisi seperti itu aroma “Tuhan Yang Hidup” sulit untuk dirasakan. Misi dengan cara seperti itu bisa saja dapat dilakukan oleh hanya agensi atau kelompok orang-orang belum mengenal Kristus. Dalam konteks pelayanan medis, sebagai contoh sederhana, kita menemukan banyak kegiatan bakti sosial dan kesehatan masyarakat marginal di daerah rural yang diselenggarakan atas nama lembaga Kristen atau gereja, ternyata pelaku kegiatan tersebut banyak dikerjakan oleh tenaga kesehatan yang belum mengenal Kristus. Setelah acara selesa, tidak ada kelanjutan terhadap kondisi kerohanian masyarakat yang dilayani. Hal ini tentu saja bertentangan dengan apa yang Alkitab tegaskan bahwa manusia tanpa Kristus akan lenyap. Memberi pelayanan kesehatan adalah sangat baik tapi mengingkari perlunya Kabar Baik disampaikan adalah juga mengingkari hakekat manusia yang sakit dan miskin juga memerlukan tabib untuk keselamatan hidupnya. Menolak untuk menyatakan Kabar Baik tentang kasih anugerah Tuhan yang menyelamatkan, akan membuat kita sudah gagal menjalankan mandat yang disampaikan oleh Alkitab. Kontras dengan kondisi di atas, adalah pelayanan misi evangelikal yang ekslusif yang mengabaikan kondisi fisik dan sosial manusia yang dilayani. Yang penting adalah menerima Injil, karena kehidupan kekal lebih utama dan mengabaikan bahwa mereka tetap miskin, tetap sakit dan tetap tidak berdaya. Bila kita membaca 1 Yohanes 3 : 17, “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimana kasih Allah dapat tetap dalam dirinya?”. Demikian juga saat Yesus mengilustrasikan tentang siapakah sesamamu manusia dalam Lukas 10 : 27 untuk mempertegas “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan segenap akal budimu”, Yesus mencontohkan perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Yakobus menyimpulkannya dengan jelas di Yakobus 2: 14, berbicara tentang iman tanpa bukti praktis dari iman itu dalam tindakan kasih untuk orang lain adalah sia-sia. Misi integral adalah tentang melakukan transformasi total dalam kehidupan setiap manusia, merupakan suatu bentuk perubahan radikal yang dibawa oleh Yesus dan para pengikutnya. Yesus tidak hanya berkata: “Sembuhlah”, tetapi juga, “Dosamu sudah diampuni”, dengan kedua aspek disatukan dalam pernyataan sederhana, “imanmu telah menyembuhkanmu”. Melakukan misi integral berarti mengasihi pribadi manusia seutuhnya melalui transformasi dan penyembuhan Tuhan yang bekerja di semua bagian kehidupan manusia. Misi yang menjawab keinginan seseorang untuk dapat berjalan lagi, untuk dapat bekerja lagi, untuk bebas dari kecanduan narkoba, dan pada saat yang sama ingin melihat orang yang sama diubah menjadi anak Tuhan dengan harapan bukan hanya untuk masa depan mereka di bumi, tetapi juga untuk masa depan kekal mereka. Titik awal memahami misi integral adalah dengan memahami rencana Allah yang melibatkan seluruh ciptaan. Alkitab secara tegas menyatakan bahwa penyelamatan yang Allah lakukan adalah melibatkan “surga dan bumi yang baru” dan ini berarti bahwa kita tidak dapat memandang keselamatan sebagai bagian yang terpisah dengan proses penciptaan. Rencana keselamatan tidak semata mata pada kehidupan individu di surga tetapi melibatkan transformasi total dari ciptaan termasuk di dalamnya manusia. Itulah misi Allah. *Penulis melayani sebagai neurolog di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta /stl

  • Hari Tuberkulosis Sedunia 2023: Kita Akhiri TBC, Indonesia Bisa!

    Tenaga kesehatan di Indonesia tentu tak asing dengan penyakit tuberkulosis atau dikenal dengan TB. Faktanya, tahun 2022 Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan beban penyakit tuberkulosis tertinggi kedua di dunia (setelah India dan sebelum Cina). Penyakit ini masih menjadi beban kesehatan yang signifikan di Indonesia dengan estimasi insiden sebesar 969.000 kasus per tahun dan 354 Per 100.000 penduduk dengan mortalitas 144.000 per tahun. Per jam, 16 orang meninggal karena penyakit yang bisa dicegah dan disembuhkan ini. Belum lama ini kita memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) yaitu tanggal 24 Maret. Tema global Hari TB Sedunia adalah “Yes! We can End TB" dan tema yang dipilih oleh Indonesia adalah tema yang berkaitan dengan kerja sama multipihak untuk mencapai eliminasi TB, yaitu “Ayo Bersama Akhiri TBC, Indonesia Bisa!”! Pertanyaannya, mampukah? Beberapa hal berikut diperlukan untuk dapat mewujudkan cita-cita bersama menuju eliminasi TB 2030 (insiden 65 per 100.000 penduduk dan kematian turun menjadi 6 per 100.000 penduduk), yaitu: Meningkatkan keterlibatan sector swasta sebanyak 90% untuk memberikan pelayanan TB sesuai standar Meningkatkan upaya modernisasi diagnosis TB dalam layanan pemerintah dan swasta sehingga 90% pasien yang bergejala TB bisa didiagnosis Percepatan upaya penemuan kasus aktif dan “demand generation” untuk menurunkan keterlambatan diagnosis sebesar 30% pada orang-orang yang bergejala TB Menemukan dan mengobati 30% TB sub-klinis sebelum bergejala Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada kontak serumah dan ODHIV (orang dengan HIV) Post exposure vaccine dengan efikasi sebesar 60% pada 65% populasi dengan ILTB (infeksi laten TB Apa itu TPT? Terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) merupakan pengobatan yang ditawarkan kepada seseorang yang terinfeksi dengan kuman Mycobacterium tuberculosis dan berisiko sakit TB, oleh karenanya ini juga disebut sebagai pengobatan infeksi laten tuberkulosis atau terapi pencegahan TB. Tidak semua orang yang terinfeksi kuman tuberkulosis (TBC) akan berkembang menjadi TB aktif. Beberapa orang dengan kuman TBC dorman atau “tidur” akan berkembang menjadi TBC aktif ketika daya tahan tubuh melemah. Kondisi ini disebut Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB), dan perlu diberikan terapi pencegahan tuberkulosis untuk mencegah seseorang berkembang menjadi TBC aktif. TPT menjadi penting untuk diberikan pada infeksi TBC, khususnya pada mereka yang berisiko tinggi untuk berkembang menjadi TBC aktif, serta untuk menghindari timbulnya beban ekonomi akibat berkembangnya TBC aktif. Apakah TPT Meningkatkan Risiko Resistansi Kuman TBC? Tidak. Anggapan bahwa TPT meningkatkan risiko resistansi adalah mitos yang menghambat program pencegahan TBC dan individu untuk mengakses TPT. Ada beberapa alasan mengapa berkembangnya resistansi sangat tidak mungkin: TPT diberikan pada mereka yang terbukti tidak memiliki TBC aktif TBC aktif dapat disingkirkan dengan cepat dan mudah menggunakan algoritma skrining sederhana Individu dengan infeksi TBC hanya memiliki bakteri dalam jumlah kecil yang bereplikasi secara lambat di dalam paru. Bakteri “tersembunyi” yang dalam jumlah kecil ini memiliki risiko yang kecil untuk menyebabkan terjadinya resistansi OAT Sebagian besar kasus resistansi OAT terjadi akibat pengobatan TBC aktif yang kurang optimal, oleh karena itu mencegah berkembangnya infeksi TBC menjadi TBC aktif dapat mencegah terjadinya resistansi OAT secara keseluruhan Studi-studi yang telah dilakukan tidak dapat menemukan bukti ilmiah yang berkaitan antara resistansi OAT dan penggunaan isoniazid atau golongan rifamisin Siapa saja yang perlu mendapatkan TPT? Kontak serumah: orang yang tinggal serumah minimal satu malam, atau sering tinggal serumah pada siang hari dengan kasus indeks dalam 3 bulan terakhir sebelum kasus indeks mulai mendapat obat anti tuberkulosis (OAT). Orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) karena memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Kelompok risiko lainnya dengan HIV negatif yaitu: pasien immunokompremais lainnya (pasien yang menjalani pengobatan kanker, pasien yang mendapatkan perawatan dialisis, pasien yang mendapat kortikosteroid jangka panjang, dll), serta kelompok Warga Binaan Penjara (WBP), petugas kesehatan, sekolah berasrama, dll Apa saja paduan obat yang diberikan untuk TPT di Indonesia saat ini? Ada dua pilihan utama untuk TPT yaitu: paduan 6H (Isoniazid) dan 3HP (Isoniazid/Rifapentine). Paduan 6H adalah: paduan isoniazid (INH) yang diberikan selama 6 bulan dan dikonsumsi satu kali sehari. Paduan 3HP adalah: paduan TPT jangka pendek. Merupakan paduan kombinasi 2 jenis obat, rifapentine (P) dan isoniazid (H) yang dikonsumsi satu kali seminggu selama 3 bulan. Paduan 3HR: kombinasi isoniazid dan rifapimcin yang diminum setiap hari selama 3 bulan. 1 bulan = 28 hari, total 84 dosis 3HP, obat baru ya? Benar! 3HP adalah paduan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) jangka pendek yang direkomendasikan oleh WHO. Paduan ini kombinasi dosis tinggi Isoniazid (H) dan dosis tinggi Rifapentine (P) seminggu sekali selama tiga bulan. Total dosis sebanyak 12 dosis. Jauh lebih sedikit dibandingkan dengan regimen lainnya. 3HP berkaitan dengan toksisitas hati yang lebih rendah dan tingkat penyelesaian pengobatan yang lebih tinggi dibandingkan regimen lain. Siapa yang Mendapat 3HP? Seseorang tanpa adanya TBC aktif dan tidak memiliki kontraindikasi berikut, dapat memulai TPT dengan 3HP: Umur < 2 tahun Hepatitis aktif (akut atau kronis) ALT/AST > 3x batas atas normal (terlepas dari gejala) Konsumsi lcohol rutin dan berat Neuropati Perifer Wanita usia subur yang tidak menggunakan kontrasepsi apapun Ibu hamil atau menyusui Sedang menjalani terapi antiretroviral (ART) berbasis protease inhibitor Individu yang berisiko mengalami neuropati perifer harus diberikan suplemen vitamin B6 (pyridoxine) bersamaan dengan 3HP. Namun jika tidak tersedia vitamin B6 seharusnya tidak menunda untuk memulai TPT dengan 3HP. Bagaimana Seharusnya 3HP Diberikan? Dokter harus memilih cara pemberian, baik diamati secara langsung atau dilakukan sendiri berdasarkan yang berlaku di daerah tersebut, karakteristik individu dan preferensi, serta pertimbangan lainnya. Termasuk risiko berkembang menjadi penyakit TBC aktif yang parah. Jika dalam proses konsumsi obat paduan 3HP, pasien mengalami kejadian tidak diharapkan. Maka dianjurkan untuk tidak melanjutkan pemakaian obat paduan 3HP lebih lanjut sampai adanya penilaian tingkat keparahan. Penanganan efek samping harus selalu berpedoman pada skrining TBC aktif. Riwayat pernah TBC aktif, Riwayat adanya efek samping, jenis permulaan dan durasi serta tingkat keparahan, dan pemeriksaan fisik yang relevan. Itulah paparan singkat mengenai tuberkulosis dan pengobatannya yang terkini. Mulai saat ini, setiap dokter yang bisa menemukan kasus TB aktif, juga diharapkan mampu menemukan TB sub klinis maupun TB laten. Dengan identifikasi kasus sedini mungkin dan pengobatan yang tepat, bukan tak mungkin cita-cita menuju eliminasi TB 2030 dapat dicapai. *Penulis bekerja di organisasi yang fokus dalam penanggulangan tuberkulosis /stl

  • Keberanian Seorang Pemimpin: Refleksi Ester 7-10

    Seorang dokter spesialis di sebuah rumah sakit milik pemerintah, melalui sebuah percakapan whatsapp bercerita sambil bercanda bahwa dia tidak tertarik menjadi pejabat di RS. Memang, harus diakui bahwa dalam sebuah jabatan akan ada banyak tanggung jawab, resiko, dan masalah yang harus dihadapi. Sebagai dokter yang terlibat di rumah sakit dengan bekerja maksimal dan baik menurutnya sudah cukup dan itulah bagian utama dari pengabdiannya, tanpa harus “njelimet “ dengan berbagai urusan yang membuatnya pusing kepala. Kita mungkin masih ingat slogan di waktu mahasiswa "Student today, Leader tomorrow" dalam banyak acara Perkantas. Visi pelayanan Perkantas adalah menghasilkan pemimpin-pemimpin yang membawa perubahan di berbagai bidang kehidupan. Namun, tantangan dalam hal kepemimpinan ini sangatlah berat. Sanggupkah alumni-alumni menjadi pemimpin sebagai garam dan terang di tengah dunia yang sudah rusak dan membusuk ini? Ada banyak permasalahan: korupsi di sana sini, berbagai kepentingan saling tarik menarik, cara-cara yang tidak sesuai dengan keyakinan iman kita, dan masih banyak lagi. Bahkan ketika seseorang sudah mengabdi memberikan yang terbaik, sering kali tidak ada penghargaan yang diberikan. Bukan hanya fisik yang lelah, hati kadang juga terluka karena kondisi kerja yang tidak kondusif. Bagaimana kita bisa memimpin dalam kondisi seperti ini? Di tengah kondisi dunia yang chaos ini, kehadiran para pemimpin yang berani membawa perubahan menjadi sebuah urgensi. Salah satu satu kualitas kepemimpinan yang saya angkat dalam tulisan ketiga tentang Ester adalah kepemimpinan yang berani. Kualitas ini bisa kita lihat dengan sangat jelas dalam diri Ester. Tanpa keberanian, tidak akan ada perubahan. Keberanian mengungkapkan permasalahan utama Ester dengan berani mengungkapkan permohonannya kepada raja Ahasyweros. Ia mengangkat titik permasalahan utama yang sedang dihadapinya: ia dan bangsanya menjadi target pemusnahan, pembunuhan dan pembinasaan. Dengan pendekatan mengadakan perjamuan bersama Raja, Ester mengajak bertemu langsung orang yang merencanakan pemusnahan itu. Ester dengan sangat berani berkonfrontasi langsung head to head dengan Haman. Tidak semua orang berani berkonfrontasi secara langsung dengan musuh. Dibalik kecantikan dan kelembutan hatinya, tampak bahwa Ester adalah seorang yang sangat pemberani. Mengapa harus ada Haman dalam perjamuan itu? Mengapa ia tidak membicarakannya secara pribadi saja kepada raja? Apakah ia tidak takut kepada Haman yang sudah mempersiapkan tiang gantungan setinggi 75 kaki untuk Mordekhai? Menurut saya, ini adalah strategi politik Ester untuk menuntaskan permasalahan itu secara terbuka dan langsung. Hasilnya jelas saat itu juga, tidak ada penundaan menuju kondisi yang berbelit-belit. Ini menunjukkan kualitas keberanian yang luar biasa yang ada dalam diri Ester. Keberanian menyatakan argumen, kebijakan dan rancangan Keberanian Ester bukanlah tanpa langkah-langkah antisipasi yang sudah dipersiapkan. Ester kemudian memikirkan dan mengajukan satu permintaan yang jelas-jelas mustahil dihadapan raja. Ia memohon agar raja mengeluarkan titah untuk menarik surat yang sudah dibuat oleh Haman yang sudah disebarkan di seluruh provinsi tanah Persia. Sudah sangat jelas bagi Kerajaan Media Persia bahwa surat yang dimateraikan oleh cincin raja tidak mungkin ditarik kembali, bahkan oleh raja sendiri (hal yang sama dengan Daniel ketika harus dibuang ke gua singa). Saya melihat keberanian yang luar biasa dari Ester untuk meminta permohonan yang sulit ini. Usahanya membuahkan hasil, ia diberikan wewenang oleh raja untuk membuat kebijakan lain yang bisa meng-counter kebijakan sebelumnya yang sudah dibuat Haman. Ia diberikan hak untuk menulis apapun surat keputusan yang dipandang baik dengan cincin raja sebagai materai. Otoritas kepemimpinan bisa menjadi alat yang membawa bencana besar dikarenakan kebijakan yang salah dan merugikan. Bencana itu merusak apa yang baik yang sudah dibangun sebelumnya dengan jerih lelah. Namun, otoritas kepemimpinan sejatinya adalah alat yang sangat luar biasa untuk membawa perubahan yang berguna bagi banyak orang. Di tangan orang-orang yang tepat, orang-orang benar, seharusnya otoritas kepemimpinan akan membawa kesejahteraan "shalom" bagi semua orang yang menikmati keindahan hasil buah dari sebuah kepemimpinan yang baik. Keberanian mengambil keputusan dan bertindak secara tegas Mordekhai merancang sebuah surat baru dengan materai cincin raja untuk mengantisipasi kebijakan sebelumnya yang membawa bencana terhadap seluruh orang Yahudi di Kerajaan Persia. Sebuah kebijakan yang tepat waktu, disusun dengan baik dan memperhitungkan semua konsekuensi yang ada akan membawa keselamatan bagi orang Yahudi. Mereka berhasil mengantisipasi dan menangani dengan baik dan tuntas hingga hari-H pelaksanaan surat perintah raja. Bahkan Ester meminta satu hari tambahan untuk pembersihan musuh-musuh orang Yahudi yang ada di puri Susan. Selain keberanian, satu kualitas lagi yang tampak dalam diri Ester adalah ketegasan. Ia menyelesaikan dengan rapi dan tuntas, menghindari permasalahan yang bisa muncul di masa yang akan datang. Relevansi kisah Ester dengan kehidupan kita Kadang situasi dan kondisi tertentu membawa kita kepada jabatan kepemimpinan. Bahkan kadang hal yang tak terduga kita dipilih menjadi seorang pemimpin. Kepemimpinan adalah sebuah instrumen yang kuat untuk membawa perubahan, sekecil apapun cakupannya. Kemampuan Ester dalam mengatasi situasi yang sulit ditopang oleh keberanian dan ketegasan yang memampukannya menghadapi masalah yang ada di depannya. Tentunya dilandasi oleh kebergantungan dan pengharapan kepada Allah yang terlihat dari doa puasa yang dilakukannya. Ester berani mengambil kesempatan emas ditengah resiko yang sangat tinggi yaitu nyawanya sendiri. Ia berani berhadapan langsung (head to head) dengan Haman dan membuat pengaduan tentang Haman di hadapan raja. Ester berani mengajukan permintaan yang sulit yang mustahil kepada raja. Ester berani mengambil keputusan yang tegas demi sebuah keamanan dan tuntasnya sebuah masalah. Tampaknya kualitas dan potensi seperti ini agak sulit tampak jika seseorang tidak berproses dalam posisi kepemimpinan. Ada banyak karunia-karunia dan talenta yang tidak muncul dan hanya terpendam saja oleh seseorang ketika dia tidak bersedia ikut serta ambil bagian dalam kepemimpinan. Melalui tulisan ini, dari lubuk hati, saya memanggil para pembaca Samaritan untuk berani mengambil bagian dalam kepemimpinan sekecil apapun untuk ikut berkontribusi dalam transformasi bangsa ini. Resiko yang dihadapi pastinya akan besar, dan tantangan yang ada juga tidak mudah. Namun, kesempatan juga belum tentu selalu ada. Mari menerima anugerah kepemimpinan (sekecil apapun) dengan sukacita, bahwa kita diberi kesempatan untuk berkarya sesuai talenta dan kemampuan kita. Mari kita memberi yang terbaik dan yang terindah untuk kemuliaan Tuhan. /stl

  • Ambisi dalam Profesi, Bolehkah?

    ”Dia sangat ambisius” atau ”Ambi banget sih” begitulah mungkin ungkapan yang sering terdengar saat membicarakan orang lain yang sangat bersungguh-sungguh meningkatkan dirinya dalam profesinya dan kerap kali diucapkan dengan nada negatif. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ambisi adalah keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu atau melakukan sesuatu. Jika kita menelaah kisah Lukas 5:17-19 - kisah seorang lumpuh yang digotong oleh empat temannya – terlihat contoh dari empat orang yang berupaya dengan penuh ambisi: sungguh-sungguh berkeinginan besar membawanya ke hadapan Yesus. Mereka tidak menyerah ketika ada rintangan, berani mengambil segala risiko, dan bersedia berkorban segala sesuatu untuk membawa si lumpuh tersebut memperoleh kesembuhan. Berkorban dengan tidak saja berlelah-lelah tetapi juga mengesampingkan keinginan mereka untuk turut bersama yang lain mendengarkan Yesus mengajar di rumah itu. Tanpa ambisi keempat orang ini, si lumpuh akan sulit bertemu Yesus dan memperoleh kesembuhan. Ambisi Menjadi yang Terbaik atau Melakukan yang Terbaik? Tidak bisa tidak, ketika merenungkan kisah ini membawa ingatan pada kisah bagaimana dr. Paul Brand berjuang untuk menghilangkan stigma pada penderita kusta di India. Ketika dr. Paul pertama bertugas di Velore, India, dia hanyalah dokter bedah biasa. Kala itu awal tahun 1900an penyakit kusta masih menjadi momok yang menakutkan, tidak saja bagi orang awam tapi juga bagi para petugas kesehatan. Penderita kusta diusir oleh keluarganya, dikeluarkan dari sekolah dan tempat kerjanya, hidup menggelandang dan mengemis dengan luka-luka di tangan dan kakinya. Bahkan tidak ada satu bis pun yang bersedia mengangkut penderita kusta. Begitu juga dengan rumah sakit, termasuk rumah sakit misi sekalipun ada keengganan untuk menerima penderita kusta karena takut rumah sakitnya akan dijauhi oleh masyarakat lain. Konon walaupun penderita kusta ini sudah memiliki sertifikat sembuh, tetap saja mereka tidak bisa kembeli ke komunitas semula karena penyakit ini meninggalkan cacat di wajah, tangan, dan kaki mereka. Apalagi kecacatan ini akan membuat mereka tidak mampu berkarya sebagai mana mestinya di masyarakat. Keprihatinan akan hal ini mendorong dr. Paul dan teman-temannya berjuang untuk meminta diberikan ruang perawatan khusus untuk penderita kusta di rumah sakit tempatnya melayani sebagai dokter misi. Mendapat pertentangan dari para dokter senior dan manajemen rumah sakit,t etapi berkat kegigihan mereka, akhirnya mereka pun diberi tempat di bagian belakang rumahs akit dengan nama ”Unit Penelitian Tangan”. Dia dan timnya melakukan penelitian lewat otopsi jenazah penderita kusta, yang bagi kepercayaan Hindu dan Muslim tidak diijinkan, sehingga sangat sulit mendapatkan jenazah untuk dipelajari dan diteliti. Meneliti patologi yang terjadi di tangan, kaki, dan wajah yang rusak karena kusta. Belajar dan mencoba teknik transfer tendon dan rekonstruksi tangan pada jenazah di ruang jenazah setiap sore sebelum jenazah tersebut dimakamkan. Melatih dan mencoba berulang-ulang berbagai teknik operasi korektif untuk kecacatan yang ditimbulkan kusta. Membuat sepatu khusus bagi penderita kusta yang berulang-ulang, berhari-hari selama bertahun-tahun diujicoba dan sampai akhirnya menjadi bentuk yang lebih sempurna. Belajar dna mendatangi para ahli bedah tangan, ahli patologi, dan ahli neurologi di Amerika dan Inggris untuk mendapatkan teknik dan ilmu yang lebih baik lagi. Hasil ketekunan mereka menghasilkan ribuan penderita kusta yang dapat kembali ke masyarakat dan berkarya seperti semula. Ribuan penderita kusta berhasil mengalahkan stigma yang puluhan tahun mereka sandang. Hidup tidak saja terlepas dari kusta tetapi kembali menemukan citra dirinya semula dan beberapa mereka dapat bertemu dengan Kristus. Ambisi dr. Paul Brand tidak pada keinginan untuk dikenal sebagai ahli bedah terbaik atau dokter terpandang. Ambisinya bukan untuk mendapai berbagai gelar penghargaan, bukan juga untuk mendapatkan kelas tertinggi di dunia kedokteran, tetapi ambisinya semata hanya untuk melakukan panggilannya yaitu memperjuangkan penderita kusta untuk menghilangkan stigma dalam hidup mereka dan kembali bertemu dengan citra dirinya semula di hadapan Tuhan. Tetapi Allah akan Melihatnya Max Lucado mengisahkan tentang pemahat Michelangelo dalam bukunya Temukan Sweet Spot Anda. Michelangelo, seorang pemahat besar dan sangat terkenal di masanya bahkan sampai saat ini. Karya-karya besarnya dihasilkan justru pada usia yang relatif muda. Dia pernah diminta oleh Paul Julius II untuk melukis dua belas figure di langit-langit kapel Vatikan. Sebagai pemahat besar dan bukan pelukis, Michelangelo semula berniat untuk menolaknya, apalagi hanya untuk sebuah kapel bukan gedung pertemuan besar tetapi akhirnya dia menerima tawaran tersebut. Selama empat tahun dia mengerjaan ratusan karya lukisan di kapel tersebut. Dia tidak hanya membuat kapel itu menjadi indah tetapi melalui karya-karya lukisannya di kapel itu dia mengubah perjalanan gaya lukisan Eropa di masa itu. Sebagai pemahat, dia melakukan pekerjan melukis tidak dengan terpaksa tapi penuh gairah dan dengan segenap kekuatannya sampai-sampai dia merasa sangat lelah dan tua setelah empat tahun berlalu. Ketika seorang bertanya padanya mengapa dia menaruh perhatian khusus pada detil-detil di sudut kapel tersebut, dimana tidak seorang pun yang akan memperhatikannya, Michelangleo menjawab ”Allah akan melihatnya”. Ya, Allah melihatnya. Apa yang terjadi jika semangat ”Allah akan melihatnya” ini menjadi semangat setiap kita dalam berprofesi? Seorang perawat akan berusahan menyediakan cairan handsrub dan berulang-ulang mengigatkan dirinya dna teman-teman kerjanya untuk tidak lupa mencuci tangan ketika dia melihat angka infeksi nosokomial sangat tinggi di ruang perawatan tempatnya bekerja. Dia akan berusaha mencari dan menelaah jurnal yang membahas tentang pencegahan infeksi nosokomial. Sang perawat ini mungkin tidak akan pernah mendapat gelar tambahan untuk itu, mungkin pula tidak akan naik jabatannya karena tindakan ini, tapi jika ia melakukannya karena ia tau Allah akan melihatnya, ia akan tetap melakukannya dengan senang hati. Demikian pula bila seorang dokter dengan semangat meningkatkan kompetensi dirinya untuk terus dapat melayani pasien-pasiennya dengan baik. Dia akan membaca banyak jurnal, mengikuti pelatihan, berkonsultasi dengan para ahli, agar pasien-pasien yang dia layani dapat mendapat pengobatan yang terbaik. Bisa saja tidak ada gelar tambahan di belakang namanya yang dia dapatkan setelah segala usahanya. Dia tidak pula mendapatkan penghasilan tambahan, bahkan pengeluarannya mungkin meningkat. Mungkin namanya pun tidak akan semakin dikenal. Namun, lagi-lagi, dengan semangat ”Allah akan melihatnya”, ia akan bersungguh-sungguh mengerjakan panggilannya. Karena kita bekerja untuk Allah maka kita harus menjalankan profesi ini dengan ambisi melakukan yang terbaik. Ya, karena Allah, berambisilah! ”Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.” – Efesus 6:5-7 *)Penulis adalah seorang konsultan ginjal dan hipertensi di RSUD Tarakan, Jakarta Diadaptasi dari Majalah Cetak Samaritan Edisi I/2014 /stl

  • Pada Dasarnya Baik

    Judul Buku: Business for the Glory of God: The Bible’s Teaching on the Moral Goodness of Business Penulis: Wayne Grudem Halaman: 96 halaman Penerbit: Crossway, 2003 Pekerjaan adalah panggilan mungkin sudah cukup familiar bagi kita. Tidak ada dikotomi antara pelayanan gereja dengan pelayanan vokasi karena profesi kita adalah alat yang dapat memuliakan Allah. Buku ini menegaskan bahwa setiap komponen yang berhubungan dengan pekerjaan kita (dalam hal ini adalah bisnis) adalah baik. Kepemilikan, produktivitas, ketenagakerjaan, transaksi komersial, laba, uang, pinjam-meminjam, bahkan ketidakmerataan kepemilikan serta kompetisi, semuanya adalah baik. Dalam setiap bab yang membahas masing-masing elemen tersebut, Grudem selalu mengawali bahwa komponen tersebut pada dirinya sendiri bahkan tidaklah netral, melainkan pada dasarnya baik (fundamentally good). Cukup menarik membahas salah satu komponen tersebut. Mungkin mengejutkan ketika sekilas membaca bahwa kompetisi adalah baik. Kompetisi membawa banyak kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Tentu ada pengecualian bagi mereka yang tidak dapat melakukan pekerjaan produktif karena disabilitas fisik/mental atau tanpa bantuan orang lain. Dalam mayoritas populasi, sistem kompetitif dapat menguji kemampuan kita dan melihat apakah kita melakukan sesuatu lebih baik dari orang lain. Sistem ini berjalan baik ketika kita mengganjar pekerjaan yang lebih baik dengan reward yang lebih baik pula tentunya. Dengan demikian kompetisi mendorong kita semakin baik dalam mengerjakan sesuatu. Grudem berpendapat bahwa Tuhan telah memberi kita hasrat berjuang untuk kesempurnaan (strive for excellence), sehingga kita sendiri pun semakin mendekati meniru Allah yang sempurna. Grudem menjelaskan ketika Salomo menulis: “Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain…” (Pkh. 4:4, TB) Kata “iri” pada ayat tersebut berasal dari kata Ibrani qin’āh, yang dapat berarti baik maupun buruk, sama seperti “jealousy” dan “zeal” yang belum tentu bermakna buruk. Kata ini memiliki arti yaitu “memiliki jiwa kompetitif”. Kata pada ayat ini tidak bermakna baik atau buruk; intinya adalah bahwa hal ini terjadi. Lain halnya dengan kata “mengingini” pada salah satu Sepuluh Perintah Allah “Jangan mengingini…”. Kata chamād dalam “mengingini” di sana sudah pasti berkonotasi negatif. Dalam menafsirkan Pengkhotbah 4:4 tersebut Grudem menjelaskan bahwa orang melihat apa yang orang lain miliki, dan mereka memutuskan untuk bekerja lebih keras atau untuk memperoleh keterampilan yang lebih baik. Dalam hal ini kompetisi membuat orang bekerja lebih baik: mereka makmur, masyarakat pun makmur. Mekanisme kompetisi membuat orang menemukan peran yang sesuai talentanya, di mana dia dapat memberi kontribusi positif kepada masyarakat sehingga memuliakan Tuhan. Melalui kompetisi, kita dapat mendemonstrasikan keadilan dan kebajikan kepada orang lain, bahkan termasuk kepada kompetitor kita. Dalam dirinya sendiri yang baik, kompetisi juga dapat menjadi cobaan/godaan kita jatuh dalam dosa. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kita menggunakan cara yang tidak baik dalam berkompetisi, misalnya kita mencelakakan orang lain dan menghambat mereka memperoleh nafkah. Tidak salah menjadi dokter yang berpraktik lebih baik dari dokter lainnya. Namun, sangat keliru jika kita berbohong mengenai dokter lain kepada pasien kita. Meski buku ini berbicara dalam konteks bisnis, tentu kita dapat tarik ke hal yang lebih luas ke dalam jenis profesi kita masing-masing. Apapun profesi kita, bagi yang mempekerjakan karyawan, kita diminta untuk berlaku adil dalam memperlakukan karyawan kita. Memperoleh laba juga memenuhi mandat Alkitab sepanjang tidak mengeksploitasi orang lain. Dalam ketidakmerataan kepemilikan harta, tidak pula kita perlu merasa bersalah ketika memiliki harta yang lebih banyak dari orang lain selama kita menatausahakannya untuk kemuliaan Allah dan berbagi kepada yang membutuhkan. Pada akhirnya, satu kutipan paragraf pada buku ini kiranya memotivasi kita dalam berbisnis/bekerja. Saya membiarkan mengutip dalam dalam bahasa aslinya demi membiarkannya bergaung maksimal bagi kita semua, termasuk penekanan oleh penulis berupa kata bercetak tebal. “If attitudes toward business change in the ways I have described, then who could resist being a God-pleasing subduer of the earth who uses materials from God’s good creation and works with the God-given gift of money to earn morally good profits, and shows love to his neighbors by giving them jobs and by producing material goods that overcome world poverty, goods that enable people to glorify God for his goodness, that sustain just and fair differences in possessions, and that encourage morally good and beneficial competition? What a great career that would be! What a great activity for governments to favor and encourage! What a solution to world poverty! What a great way to give glory to God!” Tuhan memberkati. /stl

  • Alasan untuk Terus Berjuang: Eksposisi Yohanes 15:18-16:33

    Yohanes 15:18-16:33 Dalam pertemuan KTB Pasutri yang saya pimpin, seorang anggota berbagi pergumulannya dalam mengembangkan pembinaan keluarga lewat Instagram. Dia sering kali dilanda kecemasan karena takut apa yang ditampilkan akan diresponi dengan hujatan-hujatan kejam dari para netizen. Ini hanyalah salah satu contoh “pertempuran-pertempuran” yang harus kita hadapi sebagai murid Kristus yang mau sungguh hidup mengerjakan misi-Nya. Lalu bagaimana kita harus harus menghadapinya? Pada Perang Dunia II, Jerman dapat dengan cepat menguasai Eropa barat dengan serangan-serangan menggunakan metode perang “Blitzkrieg”, perang kilat. Salah satunya adalah serangan terhadap kompleks perbentengan terkuat Belgia, yaitu Benteng Eben-Emael. Benteng ini diperkuat dengan begitu banyak kubah semi-otomatis yang diperlengkapi dengan banyak meriam besar, senjata anti tank dan senapan mesin. Jumlah total pasukan Belgia yang ditempatkan di benteng ini bisa mencapai 1200 orang. Berapa banyak pasukan Jerman yang tiba untuk menyerang benteng ini? Hanya 80 orang pasukan komando penerjun payung, Fallschirmjäger, yang mendarat di atas benteng Eben-Emael dengan pesawat glider (pesawat kayu tak bermesin, yang terbang ditarik oleh pesawat bermesin kemudian dilepaskan untuk melayang dan mendarat). Jumlah itu pun berkurang 8 orang, sebab 1 pesawat glider dilepaskan terlalu cepat, sehingga tidak bisa mencapai benteng Eben-Emael. Ketika pasukan komando Jerman itu mendarat di atas benteng Eben-Emael, mereka segera menyerang dan menghancurkan banyak pos pertahanan pasukan Belgia yang kaget dan bingung, karena sama sekali tidak menduga akan diserang dengan cara seperti itu. Tetapi kemudian pasukan Belgia, yang jumlahnya sepuluh kali lebih banyak, berhasil balik menyerang pasukan Jerman itu. Tetapi pasukan komando itu berhasil bertahan, bahkan kemudian menang. Sebanyak 780 orang pasukan Belgia berjalan keluar benteng mereka dengan kedua tangan di atas. Sementara hanya 6 orang Fallschirmjäger yang tewas, dan 15 orang lainnya terluka. Apa yang membuat pasukan Fallschirmjäger itu dapat terus bertahan dan bahkan menang atas serangan balik pasukan Belgia yang jumlahnya 10 kali lebih banyak? Mereka memiliki jaminan, yaitu pasukan induk mereka, Pasukan Keenam Jerman, akan mengirimkan Divisi Panzer Keempat, yang kekuatan armada tank serta prajuritnya jauh lebih besar dari pasukan Belgia, akan datang mengalahkan pasukan Belgia yang melakukan serangan balik itu. Saudaraku, kita yang adalah murid-murid Kristus memiliki jaminan yang jauh lebih kuat, bahkan yang paling kuat yang bisa dimiliki manusia, dalam menghadapi “pertempuran-pertempuran” saat kerjakan misi yang Tuhan beri. Pada pasal 14 dan paruh pertama pasal 15 Injil Yohanes, kita bisa melihat Yesus telah menjanjikan Roh Kudus, yang akan menolong murid-murid-Nya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pekerjaan-pekerjaan yang Ia lakukan. Ia juga mengutus mereka untuk mengerjakan misi menghasilkan buah-buah bagi-Nya. Lalu Ia membukakan kepada mereka, yang berarti juga kepada kita, bahwa sebagai murid-murid-Nya akan menghadapi pertempuran-pertempuran yang sengit, melawan dunia yang tidak mengenal Dia. Simak ayat-ayat di bawah ini: “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” (Yohanes 15:18). “Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu.” (Yohanes 15:20) “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.” (Yohanes 16:2) Jelas, Yesus menyatakan bahwa sebagai murid-murid-Nya, kita akan dibenci, dianiya, dikucilkan, bahkan dibunuh! Inilah pertempuran-pertempuran yang pasti setiap kita telah, sedang, atau pun akan hadapi, dalam beragam varian. Dan bisa saja Tuhan mengizinkan kita mengalami banyak ragam sekaligus. Seorang anak KTB saya sering mengalami kecemasan tingkat tinggi, yang membuat dia bisa tiba-tiba pingsan, mimpi buruk dan tidak bisa tidur, hingga ingin bunuh diri. Hal-hal itu disebabkan oleh saat kecil dia mengalami kekerasan dan pelecehan seksual, kini ia dituntut memberikan banyak hal dan dimusuhi oleh mertua, difitnah dan diskriminasi oleh rekan-rekan kerja, serta tuntutan tugas-tugas pekerjaan yang sangat tinggi dan hampir tak kenal kompromi. Saya sendiri harus menghadapi pertempuran-pertempuran berat dalam pelayanan sebagai staf mahasiswa PERKANTAS Jakarta, sebab persekutuan-persekutuan mahasiwa harus dibangun kembali setelah porak-poranda pasca pandemi Covid. Sementara saya juga harus mendukung isteri dan anak saya dalam pertempuran-pertempuran mereka di pekerjaan dan studi. Belum lagi saya juga harus hadapi pertempuran-pertempuran dengan kondisi fisik karena faktor usia yang sudah mencapai 50 tahun. Dan saya yakin, teman-teman sendiri, pasti juga menghadapi pertempuran-pertempuran yang sengit, entah yang serupa atau berbeda. Tetapi syukur kepada Allah, bila kita perhatikan bagian akhir pasal 16 Injil Yohanes, kita semua telah Dia berikan jaminan yang jauh lebih kuat dibanding yang dimiliki oleh pasukan Fallschirmjäger itu. Terkuat dari semua jaminan serupa, yang pernah atau pun yang akan bisa dimiliki manusia. Di ayat 33, Yesus berkata, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." Pertama-tama Yesus menyatakan bahwa semua yang telah Ia katakan di ayat-ayat sebelumnya, yaitu tentang kebencian, aniaya, pengucilan dan pembunuhan yang akan dialami oleh murid-murid-Nya dan petunjuk-petunjuk praktis bagaimana mereka harus menghadapinya, sengaja Ia beritahukan dengan tujuan murid-murid-Nya beroleh damai sejahtera di dalam Dia. Bagaimana bisa mendapatkan damai sejahtera bila nanti akan dibenci, dianiaya, dikucilkan dan dibunuh? Jawabannya ada di penghujung pernyataan berikutnya, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia”. Inilah jaminan yang lebih kuat dan sekaligus terkuat itu. Dunia yang sudah, sedang dan akan membenci, menganiaya, mengucilkan dan membunuh murid-murid Kristus, sudah Kristus kalahkan! Perhatikan baik-baik. Bukan akan dikalahkan nanti, tetapi sudah dikalahkan. Jadi berbeda dengan pasukan Induk dari pasukan Fallschirmjäger tadi, yang menjamin nanti akan datang membantu dan akan mengalahkan pasukan Belgia yang telah menyerang balik. Yesus sudah mengalahkan dunia! Saat itu, dan hingga kedatangan-Nya kembali, Yesus dan murid-murid-Nya sedang berperang dengan dunia yang tidak mengenal Bapa yang telah mengutus Yesus (Yohanes 15:21). Tetapi, secara prinsip dunia ini telah dikalahkan. Kedatangan Yesus, Sang Firman dan Sang Terang itu, telah menginagurasi kekalahan dunia. Yohanes menulis, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (lih. Yoh.1:5). Dan kemudian dunia ini secara total dikalahkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus, yang akan terjadi beberapa waktu kemudian setelah percakapan Yesus dan murid-murid-Nya ini. Dan bila kita perhatikan teks bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani, kata “telah mengalahkan dunia” yang Yesus gunakan adalah νενίκηκα (nenikeka), bentuk perfect tense dari νικάω (nikao). Bentuk perfect tense ini menunjukkan bahwa itu adalah sebuah kemenangan abadi. Yesus telah mengalahkan dunia untuk selamanya. Dunia tidak lagi punya kesempatan untuk menyerang balik dan menang. Itulah sebabnya saya bilang ini adalah jaminan yang lebih kuat, bahkan paling kuat. Camkan benar-benar dan pegang erat-erat hal ini, saudara-saudaraku. Dan jangan lupa, Yesus tak hanya memberikan jaminan, melainkan Ia memerintahkan kita untuk memberikan sebuah respon, “…kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia”. Kata yunani yang diterjemahkan sebagai “kuatkanlah hatimu” itu adalah yang artinya, “jadilah berani”, “bergembiralah” . Demikianlah Tuhan Yesus menghendaki kita semua yang adalah murid-murid-Nya menghadapi “pertempuran-pertempuran” dalam jalani hidup kerjakan misi-Nya. Kita harus terus berjuang dengan berani, dan bahkan dengan gembira, karena Dia telah mengalahkan dunia secara total! Kemenangan sudah pasti dan terjamin abadi, meski masih banyak musuh menyerang dengan ganasnya, dan tampak seakan kita akan, atau bahkan sudah, kalah. Tapi bukan begitu fakta yang sebenarnya. Ingatlah dan pegang selalu, Dia telah mengalahkan dunia! Mungkin saudara bertanya, “Bagaimana jika kita sukar untuk berjuang dengan berani dan gembira?” Tuhan Yesus memberikan beberapa petunjuk praktis yang dapat membantu kita. Pertama, lihat di 16:3, Yesus berkata, “Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu." Kita harus selalu siap hadapi pertempuran-pertempuran yang akan datang. Prajurit-prajurit yang tidak siap ketika serangan musuh datang, akan kaget dan mudah ditaklukkan. Kedua, simak 16:13, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang”. Seperti prajurit-prajurit di medan tempur perlu mengikuti arahan komandannya agar beroleh kemenangan, kita perlu tunduk kepada pimpinan Roh Kudus, menaati setiap kebenaran-kebenaran firman Tuhan yang dibukakan kepada kita. Ketiga, perhatikan 16:20, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.” Kita harus terus paham dan sadar bahwa pertempuran-pertempuran yang kita hadapi pasti menimbulkan kesulitan bahkan kerugian besar, yang menimbulkan dukacita bagi kita, dan dunia akan bergembira karena itu. Tetapi dukacita itu hanya sementara. Ada akhirnya. Karena akan diganti dengan sukacita, sebab kita sadar untuk siapa kita berperang, dan Dia, yang bagi-Nya kita telah berperang, adalah Sang Pemenang yang telah mengalahkan dunia. Keempat, tinjau 16:27, “sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah”. Tanamkan dalam-dalam di hati dan pikiran kita, bahwa kita dikasihi Bapa. Dia tidak akan membiarkan kita jadi bulan-bulanan dunia. Nah saudaraku, Kristus sudah membukakan segala yang kita perlukan untuk menghadapi pertempuran-pertempuran dalam jalani hidup kerjakan misi-Nya. Teruslah berjuang, sebab Dia sudah memenangkan peperangan. Terus berjuang dengan berani dan gembira, selama hayat dikandung badan, hingga kita semua nanti ikut dalam arak-arakan kemenangan-Nya dalam kekekalan nanti. *Penulis merupakan staf Perkantas Jakarta /stl

  • Tuhan dan Isi Dompetku: Manajemen Keuangan bagi Tenaga Kesehatan

    To study money is to study a very large part of what we are - Jacob Needleman Any amount of wealth is enough to destroy a family - Philip Marcovici “Punya banyak uang pusing, tidak punya uang apalagi”. Mungkin kita setuju dengan ungkapan ini, karena lebih baik pusing tapi punya uang daripada pusing karena tidak ada uang. Banyak alumni dokter atau dokter gigi yang pusing karena hal yang pertama (uang yang banyak), tak sedikit pula yang pusing dengan kondisi uang yang terbatas. Kepusingan itupun bertambah ketika kita dituntut untuk memberi perpuluhan, ”Kok rasanya banyak sekali”. Uang adalah masalah serius yang kerap dibicarakan dalam Alkitab. Ada lebih dari 2350 ayat yang bicara mengenai uang, jumlah yang lebih banyak dari ayat tentang kasih, dosa, keselamatan dan hal penting lainnya. Perumpamaan yang diucapkan Tuhan Yesus pun banyak bicara tentang keuangan. Cara kita menggunakan uang juga berhubungan dengan keselamatan. Ketika Zakheus akan menyerahkan setengah dari hartanya dan mengganti empat kali lipat kalau ada orang yang diperas, Tuhan Yesus berkata bahwa hari ini telah terjadi keselamatan (Lukas 19:8-9). Demikian juga dalam cerita seorang muda kaya yang pergi dengan sedih karena banyak hartanya, Tuhan Yesus pun berkata bahwa sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk dalam kerajaan sorga (Matius 19:23). Orang yang punya uang tidak akan pernah puas dengan uangnya, ia akan terus mencari. Pengkhotbah 5:9 menegaskan bahwa siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Orang-orang yang memiliki uang hanya akan selalu mencari lebih banyak uang untuk memenuhi hasrat materi mereka, tetapi tak pernah benar-benar puas dengan jumlah yang mereka miliki. Padahal bagi orang Kristen menjadi kaya adalah anugerah dari Tuhan, susah payah tidak akan menambahinya (lih. Amsal 10:22). Jadi, berhubungan dengan uang memang bukan perkara mudah. Mengelola hati Pertanyaan ”Bagaimana sebaiknya kita mengelola uang?” sebenarnya adalah pertanyaan yang keliru. Seharusnya kita bertanya, bagaimana kita mengelola hati kita dalam hubungannya dengan uang. Kalau hati kita terpaut pada uang dan segala kenikmatan yang dapat diberikannya, maka kita akan terus tergoda untuk mencarinya dan melupakan hal lain yang sebenarnya lebih penting. Kita tidak mungkin mengabdi pada dua tuan (Mat. 6:24). Pengelolaan uang yang benar harus berdasarkan pengelolaan hati yang benar. Dalam hubungannya dengan persembahan perpuluhan, memang sangat ideal kalau kita memberi dengan sukacita perpuluhan dari apapun yang kita peroleh (bukan hanya gaji take home pay). Namun, kalau saat ini kita sudah punya banyak kewajiban sehingga memberi perpuluhan menjadi sulit, mulailah memberi secara bertahap sampai kita punya hati yang sejahtera memberikan perpuluhan, bahkan lebih dari itu. Sebagai orang Kristen sebaiknya kita menggunakan prinsip 10 – 50 – 20 – 20. Artinya 10% perpuluhan (disisihkan diawal, bukan sisanya), 50% untuk kebutuhan pokok, 20% untuk investasi dan 20% untuk keinginan pribadi. Kalau pendapatan pas-pasan pengeluaran untuk kebutuhan pokok mungkin lebih besar, tetapi ketika pendapatan meningkat, maka persembahan yang perlu ditingkatkan. Banyak dokter di Indonesia punya harta melimpah, tapi kurang memberi persembahan, khususnya perpuluhan. Setelah mengetahui betapa berbahayanya uang, kiranya hati kita makin terpaut pada Tuhan sehingga kita tidak ‘sayang’ memberi kepada Tuhan karena semua yang kita miliki adalah milik Tuhan. Ingatlah bahwa kekayaan kita itu dari Tuhan (Ulangan 8:18). Maria menuangkan minyak narwastu yang mahal di kaki Yesus (Markus 14:3), kiranya kita juga termotivasi untuk ‘boros’ bagi Tuhan. Di sisi lain, memiliki sedikit uang sebenarnya lebih aman bagi pertumbuhan rohani, karena kita dapat lebih banyak fokus pada hal-hal penting dan dapat menggunakan waktu kita lebih maksimal. Tantangan terbesar kalau kita punya uang banyak adalah bahwa kita harus menyediakan waktu untuk mengelolanya, dan tergoda untuk mempunyai lebih banyak lagi. Bagaimana dengan investasi? Apakah perlu menginvestasikan uang kita? Jelas perlu. Kita harus bertanggungjawab atas apa yang Tuhan percayakan pada kita. Bukan hanya uang tapi seluruh talenta yang Tuhan berikan. Kita harus mengembangkannya untuk menjadi manfaat bagi banyak orang, karena itulah yang Tuhan inginkan ketika kita diberikan talenta. Prinsip investasi yang penting adalah kita menginvestasikan harta kita pada aset yang yang kita mengerti dan dapat kita pertanggungjawabkan. Banyak orang ingin mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat, akhirnya jatuh pada produk investasi bodong yang berakibat fatal. Dalam menatalayan materi yang Tuhan anugerahkan pada kita, kita perlu mengingat bahwa kita bukan sekedar belajar untuk mengatur keuangan dan memberi bagi Tuhan, tetapi lebih dari itu kita sedang belajar untuk mengasihi Tuhan dan memberi seluruhnya dari diri kita kepada Tuhan. Dalam upaya kita mengelola materi yang Tuhan berikan, ingatlah akan salib Kristus, dimana Dia sendiri sudah memberikan seluruh diriNya untuk menebus dan menyelamatkan kita. Kiranya Tuhan menolong kita untuk mempersembahkan hati kita seluruhnya pada Tuhan sehingga uang tidak menguasai kita. /stl

Hubungi Kami

Dapatkan update artikel SAMARITAN terbaru yang dikirimkan langsung ke email Anda.

Daftar menjadi Samareaders sekarang!

Instagram
Facebook
Media Samaritan
Media Samaritan

 Media Samaritan 2022

bottom of page