top of page

Ambisi dalam Profesi, Bolehkah?


”Dia sangat ambisius” atau ”Ambi banget sih” begitulah mungkin ungkapan yang sering terdengar saat membicarakan orang lain yang sangat bersungguh-sungguh meningkatkan dirinya dalam profesinya dan kerap kali diucapkan dengan nada negatif. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ambisi adalah keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu atau melakukan sesuatu.


Jika kita menelaah kisah Lukas 5:17-19 - kisah seorang lumpuh yang digotong oleh empat temannya – terlihat contoh dari empat orang yang berupaya dengan penuh ambisi: sungguh-sungguh berkeinginan besar membawanya ke hadapan Yesus. Mereka tidak menyerah ketika ada rintangan, berani mengambil segala risiko, dan bersedia berkorban segala sesuatu untuk membawa si lumpuh tersebut memperoleh kesembuhan. Berkorban dengan tidak saja berlelah-lelah tetapi juga mengesampingkan keinginan mereka untuk turut bersama yang lain mendengarkan Yesus mengajar di rumah itu. Tanpa ambisi keempat orang ini, si lumpuh akan sulit bertemu Yesus dan memperoleh kesembuhan.


Ambisi Menjadi yang Terbaik atau Melakukan yang Terbaik?

Tidak bisa tidak, ketika merenungkan kisah ini membawa ingatan pada kisah bagaimana dr. Paul Brand berjuang untuk menghilangkan stigma pada penderita kusta di India. Ketika dr. Paul pertama bertugas di Velore, India, dia hanyalah dokter bedah biasa. Kala itu awal tahun 1900an penyakit kusta masih menjadi momok yang menakutkan, tidak saja bagi orang awam tapi juga bagi para petugas kesehatan.


Penderita kusta diusir oleh keluarganya, dikeluarkan dari sekolah dan tempat kerjanya, hidup menggelandang dan mengemis dengan luka-luka di tangan dan kakinya. Bahkan tidak ada satu bis pun yang bersedia mengangkut penderita kusta. Begitu juga dengan rumah sakit, termasuk rumah sakit misi sekalipun ada keengganan untuk menerima penderita kusta karena takut rumah sakitnya akan dijauhi oleh masyarakat lain. Konon walaupun penderita kusta ini sudah memiliki sertifikat sembuh, tetap saja mereka tidak bisa kembeli ke komunitas semula karena penyakit ini meninggalkan cacat di wajah, tangan, dan kaki mereka. Apalagi kecacatan ini akan membuat mereka tidak mampu berkarya sebagai mana mestinya di masyarakat. Keprihatinan akan hal ini mendorong dr. Paul dan teman-temannya berjuang untuk meminta diberikan ruang perawatan khusus untuk penderita kusta di rumah sakit tempatnya melayani sebagai dokter misi. Mendapat pertentangan dari para dokter senior dan manajemen rumah sakit,t etapi berkat kegigihan mereka, akhirnya mereka pun diberi tempat di bagian belakang rumahs akit dengan nama ”Unit Penelitian Tangan”.


Dia dan timnya melakukan penelitian lewat otopsi jenazah penderita kusta, yang bagi kepercayaan Hindu dan Muslim tidak diijinkan, sehingga sangat sulit mendapatkan jenazah untuk dipelajari dan diteliti. Meneliti patologi yang terjadi di tangan, kaki, dan wajah yang rusak karena kusta. Belajar dan mencoba teknik transfer tendon dan rekonstruksi tangan pada jenazah di ruang jenazah setiap sore sebelum jenazah tersebut dimakamkan. Melatih dan mencoba berulang-ulang berbagai teknik operasi korektif untuk kecacatan yang ditimbulkan kusta. Membuat sepatu khusus bagi penderita kusta yang berulang-ulang, berhari-hari selama bertahun-tahun diujicoba dan sampai akhirnya menjadi bentuk yang lebih sempurna. Belajar dna mendatangi para ahli bedah tangan, ahli patologi, dan ahli neurologi di Amerika dan Inggris untuk mendapatkan teknik dan ilmu yang lebih baik lagi. Hasil ketekunan mereka menghasilkan ribuan penderita kusta yang dapat kembali ke masyarakat dan berkarya seperti semula. Ribuan penderita kusta berhasil mengalahkan stigma yang puluhan tahun mereka sandang. Hidup tidak saja terlepas dari kusta tetapi kembali menemukan citra dirinya semula dan beberapa mereka dapat bertemu dengan Kristus.


Ambisi dr. Paul Brand tidak pada keinginan untuk dikenal sebagai ahli bedah terbaik atau dokter terpandang. Ambisinya bukan untuk mendapai berbagai gelar penghargaan, bukan juga untuk mendapatkan kelas tertinggi di dunia kedokteran, tetapi ambisinya semata hanya untuk melakukan panggilannya yaitu memperjuangkan penderita kusta untuk menghilangkan stigma dalam hidup mereka dan kembali bertemu dengan citra dirinya semula di hadapan Tuhan.


Tetapi Allah akan Melihatnya

Max Lucado mengisahkan tentang pemahat Michelangelo dalam bukunya Temukan Sweet Spot Anda. Michelangelo, seorang pemahat besar dan sangat terkenal di masanya bahkan sampai saat ini. Karya-karya besarnya dihasilkan justru pada usia yang relatif muda. Dia pernah diminta oleh Paul Julius II untuk melukis dua belas figure di langit-langit kapel Vatikan. Sebagai pemahat besar dan bukan pelukis, Michelangelo semula berniat untuk menolaknya, apalagi hanya untuk sebuah kapel bukan gedung pertemuan besar tetapi akhirnya dia menerima tawaran tersebut.


Selama empat tahun dia mengerjaan ratusan karya lukisan di kapel tersebut. Dia tidak hanya membuat kapel itu menjadi indah tetapi melalui karya-karya lukisannya di kapel itu dia mengubah perjalanan gaya lukisan Eropa di masa itu. Sebagai pemahat, dia melakukan pekerjan melukis tidak dengan terpaksa tapi penuh gairah dan dengan segenap kekuatannya sampai-sampai dia merasa sangat lelah dan tua setelah empat tahun berlalu.


Ketika seorang bertanya padanya mengapa dia menaruh perhatian khusus pada detil-detil di sudut kapel tersebut, dimana tidak seorang pun yang akan memperhatikannya, Michelangleo menjawab ”Allah akan melihatnya”. Ya, Allah melihatnya.


Apa yang terjadi jika semangat ”Allah akan melihatnya” ini menjadi semangat setiap kita dalam berprofesi? Seorang perawat akan berusahan menyediakan cairan handsrub dan berulang-ulang mengigatkan dirinya dna teman-teman kerjanya untuk tidak lupa mencuci tangan ketika dia melihat angka infeksi nosokomial sangat tinggi di ruang perawatan tempatnya bekerja. Dia akan berusaha mencari dan menelaah jurnal yang membahas tentang pencegahan infeksi nosokomial. Sang perawat ini mungkin tidak akan pernah mendapat gelar tambahan untuk itu, mungkin pula tidak akan naik jabatannya karena tindakan ini, tapi jika ia melakukannya karena ia tau Allah akan melihatnya, ia akan tetap melakukannya dengan senang hati.


Demikian pula bila seorang dokter dengan semangat meningkatkan kompetensi dirinya untuk terus dapat melayani pasien-pasiennya dengan baik. Dia akan membaca banyak jurnal, mengikuti pelatihan, berkonsultasi dengan para ahli, agar pasien-pasien yang dia layani dapat mendapat pengobatan yang terbaik. Bisa saja tidak ada gelar tambahan di belakang namanya yang dia dapatkan setelah segala usahanya. Dia tidak pula mendapatkan penghasilan tambahan, bahkan pengeluarannya mungkin meningkat. Mungkin namanya pun tidak akan semakin dikenal. Namun, lagi-lagi, dengan semangat ”Allah akan melihatnya”, ia akan bersungguh-sungguh mengerjakan panggilannya.


Karena kita bekerja untuk Allah maka kita harus menjalankan profesi ini dengan ambisi melakukan yang terbaik. Ya, karena Allah, berambisilah!

”Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.” – Efesus 6:5-7


*)Penulis adalah seorang konsultan ginjal dan hipertensi di RSUD Tarakan, Jakarta

Diadaptasi dari Majalah Cetak Samaritan Edisi I/2014


/stl

96 views0 comments

Comments


bottom of page