top of page

Hari Tuberkulosis Sedunia 2023: Kita Akhiri TBC, Indonesia Bisa!


Tenaga kesehatan di Indonesia tentu tak asing dengan penyakit tuberkulosis atau dikenal dengan TB. Faktanya, tahun 2022 Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan beban penyakit tuberkulosis tertinggi kedua di dunia (setelah India dan sebelum Cina). Penyakit ini masih menjadi beban kesehatan yang signifikan di Indonesia dengan estimasi insiden sebesar 969.000 kasus per tahun dan 354 Per 100.000 penduduk dengan mortalitas 144.000 per tahun. Per jam, 16 orang meninggal karena penyakit yang bisa dicegah dan disembuhkan ini.


Belum lama ini kita memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) yaitu tanggal 24 Maret. Tema global Hari TB Sedunia adalah “Yes! We can End TB" dan tema yang dipilih oleh Indonesia adalah tema yang berkaitan dengan kerja sama multipihak untuk mencapai eliminasi TB, yaitu “Ayo Bersama Akhiri TBC, Indonesia Bisa!”! Pertanyaannya, mampukah?


Beberapa hal berikut diperlukan untuk dapat mewujudkan cita-cita bersama menuju eliminasi TB 2030 (insiden 65 per 100.000 penduduk dan kematian turun menjadi 6 per 100.000 penduduk), yaitu:

  1. Meningkatkan keterlibatan sector swasta sebanyak 90% untuk memberikan pelayanan TB sesuai standar

  2. Meningkatkan upaya modernisasi diagnosis TB dalam layanan pemerintah dan swasta sehingga 90% pasien yang bergejala TB bisa didiagnosis

  3. Percepatan upaya penemuan kasus aktif dan “demand generation” untuk menurunkan keterlambatan diagnosis sebesar 30% pada orang-orang yang bergejala TB

  4. Menemukan dan mengobati 30% TB sub-klinis sebelum bergejala

  5. Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada kontak serumah dan ODHIV (orang dengan HIV)

  6. Post exposure vaccine dengan efikasi sebesar 60% pada 65% populasi dengan ILTB (infeksi laten TB

Apa itu TPT?

Terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) merupakan pengobatan yang ditawarkan kepada seseorang yang terinfeksi dengan kuman Mycobacterium tuberculosis dan berisiko sakit TB, oleh karenanya ini juga disebut sebagai pengobatan infeksi laten tuberkulosis atau terapi pencegahan TB.

Tidak semua orang yang terinfeksi kuman tuberkulosis (TBC) akan berkembang menjadi TB aktif. Beberapa orang dengan kuman TBC dorman atau “tidur” akan berkembang menjadi TBC aktif ketika daya tahan tubuh melemah. Kondisi ini disebut Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB), dan perlu diberikan terapi pencegahan tuberkulosis untuk mencegah seseorang berkembang menjadi TBC aktif.


TPT menjadi penting untuk diberikan pada infeksi TBC, khususnya pada mereka yang berisiko tinggi untuk berkembang menjadi TBC aktif, serta untuk menghindari timbulnya beban ekonomi akibat berkembangnya TBC aktif.


Apakah TPT Meningkatkan Risiko Resistansi Kuman TBC?

Tidak. Anggapan bahwa TPT meningkatkan risiko resistansi adalah mitos yang menghambat program pencegahan TBC dan individu untuk mengakses TPT.

Ada beberapa alasan mengapa berkembangnya resistansi sangat tidak mungkin:

  • TPT diberikan pada mereka yang terbukti tidak memiliki TBC aktif

  • TBC aktif dapat disingkirkan dengan cepat dan mudah menggunakan algoritma skrining sederhana

  • Individu dengan infeksi TBC hanya memiliki bakteri dalam jumlah kecil yang bereplikasi secara lambat di dalam paru. Bakteri “tersembunyi” yang dalam jumlah kecil ini memiliki risiko yang kecil untuk menyebabkan terjadinya resistansi OAT

  • Sebagian besar kasus resistansi OAT terjadi akibat pengobatan TBC aktif yang kurang optimal, oleh karena itu mencegah berkembangnya infeksi TBC menjadi TBC aktif dapat mencegah terjadinya resistansi OAT secara keseluruhan

  • Studi-studi yang telah dilakukan tidak dapat menemukan bukti ilmiah yang berkaitan antara resistansi OAT dan penggunaan isoniazid atau golongan rifamisin

Siapa saja yang perlu mendapatkan TPT?

  • Kontak serumah: orang yang tinggal serumah minimal satu malam, atau sering tinggal serumah pada siang hari dengan kasus indeks dalam 3 bulan terakhir sebelum kasus indeks mulai mendapat obat anti tuberkulosis (OAT).

  • Orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) karena memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

  • Kelompok risiko lainnya dengan HIV negatif yaitu: pasien immunokompremais lainnya (pasien yang menjalani pengobatan kanker, pasien yang mendapatkan perawatan dialisis, pasien yang mendapat kortikosteroid jangka panjang, dll), serta kelompok Warga Binaan Penjara (WBP), petugas kesehatan, sekolah berasrama, dll

Apa saja paduan obat yang diberikan untuk TPT di Indonesia saat ini?

Ada dua pilihan utama untuk TPT yaitu: paduan 6H (Isoniazid) dan 3HP (Isoniazid/Rifapentine). Paduan 6H adalah: paduan isoniazid (INH) yang diberikan selama 6 bulan dan dikonsumsi satu kali sehari. Paduan 3HP adalah: paduan TPT jangka pendek. Merupakan paduan kombinasi 2 jenis obat, rifapentine (P) dan isoniazid (H) yang dikonsumsi satu kali seminggu selama 3 bulan. Paduan 3HR: kombinasi isoniazid dan rifapimcin yang diminum setiap hari selama 3 bulan. 1 bulan = 28 hari, total 84 dosis

3HP, obat baru ya?

Benar! 3HP adalah paduan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) jangka pendek yang direkomendasikan oleh WHO. Paduan ini kombinasi dosis tinggi Isoniazid (H) dan dosis tinggi Rifapentine (P) seminggu sekali selama tiga bulan. Total dosis sebanyak 12 dosis. Jauh lebih sedikit dibandingkan dengan regimen lainnya. 3HP berkaitan dengan toksisitas hati yang lebih rendah dan tingkat penyelesaian pengobatan yang lebih tinggi dibandingkan regimen lain.


Siapa yang Mendapat 3HP?

Seseorang tanpa adanya TBC aktif dan tidak memiliki kontraindikasi berikut, dapat memulai TPT dengan 3HP:

  • Umur < 2 tahun

  • Hepatitis aktif (akut atau kronis)

  • ALT/AST > 3x batas atas normal (terlepas dari gejala)

  • Konsumsi lcohol rutin dan berat

  • Neuropati Perifer

  • Wanita usia subur yang tidak menggunakan kontrasepsi apapun

  • Ibu hamil atau menyusui

  • Sedang menjalani terapi antiretroviral (ART) berbasis protease inhibitor

  • Individu yang berisiko mengalami neuropati perifer harus diberikan suplemen vitamin B6 (pyridoxine) bersamaan dengan 3HP. Namun jika tidak tersedia vitamin B6 seharusnya tidak menunda untuk memulai TPT dengan 3HP.

Bagaimana Seharusnya 3HP Diberikan?

Dokter harus memilih cara pemberian, baik diamati secara langsung atau dilakukan sendiri berdasarkan yang berlaku di daerah tersebut, karakteristik individu dan preferensi, serta pertimbangan lainnya. Termasuk risiko berkembang menjadi penyakit TBC aktif yang parah.

Jika dalam proses konsumsi obat paduan 3HP, pasien mengalami kejadian tidak diharapkan. Maka dianjurkan untuk tidak melanjutkan pemakaian obat paduan 3HP lebih lanjut sampai adanya penilaian tingkat keparahan. Penanganan efek samping harus selalu berpedoman pada skrining TBC aktif. Riwayat pernah TBC aktif, Riwayat adanya efek samping, jenis permulaan dan durasi serta tingkat keparahan, dan pemeriksaan fisik yang relevan.

Itulah paparan singkat mengenai tuberkulosis dan pengobatannya yang terkini. Mulai saat ini, setiap dokter yang bisa menemukan kasus TB aktif, juga diharapkan mampu menemukan TB sub klinis maupun TB laten. Dengan identifikasi kasus sedini mungkin dan pengobatan yang tepat, bukan tak mungkin cita-cita menuju eliminasi TB 2030 dapat dicapai.


*Penulis bekerja di organisasi yang fokus dalam penanggulangan tuberkulosis


/stl



23 views0 comments

Recent Posts

See All

Comments


bottom of page