146 results found with an empty search
- Bagaimana Bersikap
“Seorang dokter wajib bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya pada saat menangani pasien dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan.” Pernyataan tersebut adalah isi dari Pasal 9 Kode Etik Kedokteran Indonesia. Kalimat tersebut pada bagian awal cukup jelas mendorong kita sebagai dokter untuk bersikap jujur. Namun, yang menjadi menarik adalah pada bagian kedua kita berkewajiban untuk mengingatkan sejawat yang memiliki kekurangan atau bahkan pada teman sejawat yang melakukan penipuan. Hal ini tentu menarik untuk dikaji dari berbagai perspektif. Sebagai orang Kristen kita memiliki kewajiban untuk menegur sesama kita dengan baik. Dalam Alkitab beberapa kisah teguran dapat kita jumpai: (1) Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus pernah menegur Kefas yang telah berbuat salah dengan bertindak seperti orang munafik. “Kalau Saudara sebagai orang Yahudi sudah hidup seperti orang bukan Yahudi, mengapa Saudara sekarang mau memaksa orang-orang lain hidup seperti orang Yahudi?” (Galatia 2:14 BIS). (2) Kisah teguran Yohanes Pembaptis pada Herodes, “Tidak halal engkau mengambil Herodias!” (Matius 14:4), membangkitkan amarah Herodes hingga ingin membunuh Yohanes Pembaptis. (3) Kisah Nabi Natan yang menegur Daud dengan sebuah kisah pada 2 Samuel 2:1-4 juga memberikan kita contoh cara peneguran yang berbeda. Setiap teguran akan memberikan konsekuensi, baik bagi pihak yang menegur maupun pihak yang ditegur. Dalam praktik sehari-hari pihak yang menerima teguran mungkin saja menjadi sakit hati, tidak peduli, marah, atau berbagai respon lainnya yang seringkali tidak terduga. Respon tersebut tentu akan mempengaruhi hubungan pribadi maupun kolaborasi profesional antara dokter. Kita diingatkan untuk menyampaikan kebenaran dengan kasih, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali” (Matius 18:15). Dalam praktik kedokteran di Indonesia, tidak jarang kita menjumpai pernyataan “menjatuhkan” dari sejawat. Baik dalam konteks ketika berbicara dengan pasien maupun diskusi dengan sejawat lainnya. Pernyataan tersebut dapat berupa keraguan mengenai penegakan diagnosis, terapi, sikap sejawat, bahkan hingga kehidupan pribadinya. Di dunia yang mengalami perkembangan teknologi komunikasi yang begitu cepat, tentu saja setiap informasi akan menyebar dengan cepat, baik informasi yang benar maupun hoaks. Dalam bidang kedokteran informasi negatif bukan hanya berdampak pada individu terkait, tetapi juga pada profesi dokter itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa penilaian masyarakat Indonesia terhadap layanan kesehatan di Indonesia masih jauh di bawah harapan. Seringkali kita mendengar masyarakat Indonesia yang mampu akan lebih senang untuk berobat ke negara lain. Bila ditelusuri dalam konteks yang lebih mendalam, pada kasus malpraktek, bila pernyataan negatif tersebut muncul dari kalangan sejawat maka tidak dapat dipungkiri bahwa individu terkait dan profesi dokter juga akan mengalami dampak negatif yang lebih besar. Padahal harus kita sadari bahwa semua kasus malpraktek yang berjalan belum tentu terbukti adanya kesalahan atau kelalaian. Dalam menghadapi sejawat yang mungkin menyimpang, berbeda pandangan dengan kita, maupun yang dinyatakan bersalah sekalipun, kita dapat menggunakan prinsip pada Pasal 18 Kode Etik Dokter Indonesia, “Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.” Pernyataan tersebut sebenarnya sejalan dengan hukum kasih yang kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39) Saya yakin bahwa kita semua sudah pernah mendengar dan mengerti prinsip tersebut. Saat ini yang perlu kita lakukan adalah refleksi diri terkait keselarasan setiap perkataan, sikap, dan tindakan kita terhadap teman sejawat dengan pasal-pasal Kode Etik Kedokteran Indonesia yang jelas sejalan dengan prinsip Firman Tuhan.
- Depresi dan Iman Kristen Bagian Kedua: Penerimaan dan Pemulihan
Sebagai seorang Kristen yang sehari-hari bekerja sebagai dokter kesehatan jiwa, ada pertanyaan menarik yang acap kali saya dengar. “Dok, apakah wajar jika seorang beragama Kristen mengalami depresi?” atau “Apakah depresi merupakan tanda bahwa kita kurang beriman?” Jika kita telaah lebih lanjut, depresi seringkali dipicu oleh keadaan hidup yang sulit dan kondisi dimana sepertinya banyak hal tidak terjadi sesuai harapan. Di samping itu, faktor neurobiologis yang dibahas sebelumnya juga berperan dalam menjelaskan bahwa depresi adalah suatu kondisi medis umum yang dapat mempengaruhi siapa pun. Tokoh- tokoh Alkitab yang cukup sering kita dengar, seperti Elia dan Daud, pernah mengalami periode keputusasaan yang dalam dan mengalami depresi. Setelah kemenangan Elia yang besar di Gunung Karmel, ratu Izebel mengancam akan membunuhnya. Kemudian, dalam ketakutan dan keputusasaannya, Elia berlari ke padang gurun, lalu berdoa “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” (1 Raja-Raja 19:4). Di titik terbawah di kehidupannya, Elia, seorang nabi yang taat dan takut akan Allah, mengalami keterpurukan yang begitu hebat. Daud, salah satu tokoh besar di Alkitab, dikenal sebagai a man after God’s own heart juga pernah mengalami depresi dan keputusasaan. Di dalam berbagai Mazmurnya, Daud seringkali mengungkapkan sebuah perasaan sedih, tertekan dan hilang harapan. Menyadari bahwa menjadi seorang yang beriman tidak memberikan imunitas dari kondisi depresi, kita akan dapat membantu menghilangkan stigma dan mendukung mereka yang sedang mengalami depresi untuk mencari bantuan yang diperlukan. Bila kita lihat lebih jauh, manusia sendiri terdiri dari tubuh, jiwa dan Roh, dimana semua komponen berperan dan saling mempengaruhi agar manusia sehat seutuhnya. Saat manusia jatuh ke dalam dosa, terjadi sebuah kerusakan pada tubuh manusia, seperti dikatakan bahwa manusia akan harus bekerja keras dan proses kelahiran seorang anak pun akan sulit. Hal ini menjelaskan bahwa fungsi biologis manusia tidak lagi sesuai dengan harapan. Jiwa manusia menjadi gelisah dan ketakutan seperti saat Allah berjalan-jalan mencari manusia (lih. Kej.3:8) setelah jatuh ke dalam dosa dan Roh manusia menjadi terpisah dari Allah yang seharusnya menjadi sumber kepuasan dan damai akibat dosa. Mempertimbangkan hal ini, sumber yang menjadi pemicu dari depresi menjadi penting untuk diketahui. Apakah hal ini terjadi akibat tekanan berat dan faktor biologis yang membuat seseorang rentan terhadap depresi? Jika ya, mungkin tepat pemberian pengobatan antidepresan, sama seperti Allah memelihara fisik Elia dengan memberikan makanan, begitu juga kita memperbaiki gangguan biologis seseorang dengan pengobatan. Jika sumber keputusasaan seseorang datang dari perasaan bahwa Allah jauh, maka penting untuk kita dapat mengingatkan bahwa kita selalu dapat berharap pada Allah, sama seperti Daud menulis di Mazmur 42:6-7 “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" Dengan memahami baik pendekatan spiritual dan medis terhadap depresi, seseorang dapat berjalan ke arah pemulihan dan pembaharuan. Pertanyaan yang sering menjadi perbincangan adalah apakah seorang Kristen diizinkan menggunakan antidepresan. Terkadang, pendapat orang tentang hal ini sangat ekstrem, ada yang sangat setuju bahwa ini boleh dilakukan dan ada pula yang sangat tidak setuju tanpa mempertimbangkan secara mendalam. Mereka yang setuju biasanya melihat depresi sebagai gangguan biologis semata sehingga menganggap wajar untuk menggunakan obat, mirip dengan pengobatan untuk kondisi medis lain seperti diabetes atau hipertensi. Di sisi lain, orang yang menolak cenderung fokus pada dimensi spiritual, yaitu keyakinan bahwa seseorang yang dekat dengan Tuhan seharusnya tidak mengalami keputusasaan seperti ini, sehingga 'obat' seharusnya adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Sehingga, penting untuk mengadopsi pendekatan yang seimbang antara perawatan medis dan dukungan spiritual dalam membantu individu Kristen yang mengalami depresi, memastikan bahwa kita mendapatkan bantuan yang komprehensif dan holistik. Psikoterapi dan iman Kristen adalah dua pendekatan yang sering kali saling melengkapi dalam membantu individu yang mengalami depresi atau masalah kesehatan mental lainnya. Psikoterapi, seperti terapi kognitif perilaku atau terapi bicara, bertujuan untuk membantu individu memahami dan mengelola pikiran, perasaan, dan perilaku yang mungkin menyebabkan atau memperburuk depresi. Di sisi lain, iman Kristen memberikan landasan spiritual yang kuat, menawarkan harapan, kekuatan, dan pemahaman bahwa Tuhan selalu ada untuk memberikan dukungan dan penghiburan. Ketika digabungkan, psikoterapi dan iman Kristen dapat memberikan dukungan yang komprehensif bagi individu yang sedang mengalami depresi. Psikoterapi membantu dalam proses penyembuhan secara psikologis dan emosional, sementara iman Kristen memperkuat kepercayaan bahwa Tuhan memiliki rencana dan memberikan kekuatan untuk menghadapi cobaan hidup. Dalam konteks ini, banyak orang Kristen yang merasa bahwa melibatkan iman mereka dalam proses psikoterapi membantu mereka menemukan makna yang lebih dalam dalam perjalanan pemulihan mereka. Sebagai penutup, depresi merupakan keadaan yang sulit dihadapi dan tidak jarang dialami oleh orang Kristen sekalipun. Depresi bukanlah indikasi kekurangan iman, bukan juga kegagalan spiritual, melainkan sebuah gangguan medis yang dapat diobati. Iman bukanlah vaksin atau antidotum untuk depresi. Kasih, belas kasihan, dan persekutuan yang tidak menghakimi dapat menjadi pondasi yang kuat dalam mematahkan stigma ketika tampak perubahan sikap dan perilaku pada saudara-saudara seiman kita, maupun pada hamba Tuhan. Di saat-saat kelam, perlu kita sadari bahwa mencari bantuan adalah bentuk bukti kekuatan, bukan kelemahan dalam iman. Dengan mengatasi stigma ini, kita dapat lebih mudah mendukung mereka yang membutuhkan untuk mencari pertolongan. Semakin dini depresi ditangani, semakin baik peluang untuk pemulihan. Namun, perlu diingat bahwa proses pemulihan jiwa memerlukan waktu yang tidak sebentar, mungkin berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun tergantung dengan kondisi biopsikososial. Dengan iman yang kokoh, dukungan komunitas, dan perawatan medis yang tepat, mereka yang menghadapi depresi dapat kembali menemukan harapan dalam hidup mereka. Seperti Mazmur 34:18 mengingatkan kita, “TUHAN dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” Selalu ada harapan dan bantuan yang tersedia bagi jiwa-jiwa yang mencari-Nya! Penulis merupakan Wakil Dekan Kemahasiswaan, Kepala Departemen Psikiatri, FK UPH - Siloam Hospitals Lippo Village. /tp
- Depresi dan Iman Kristen Bagian Pertama: Pengertian dan Neurobiologi Depresi
Seorang pendeta muda bernama Ibu Mary, dikenal oleh jemaat dan keluarganya sebagai sosok yang penuh kasih dan hangat. Mary, yang besar di keluarga Kristen, selalu merasakan kasih Tuhan sejak di bangku sekolah. Hidupnya seperti selalu bergandengan dengan Tuhan, dengan motivasi tinggi untuk mengubah dunia dan melayani Tuhan. Namun, hidupnya berubah drastis setelah suaminya kehilangan pekerjaan, diikuti berbagai masalah di tempat pelayanannya, dan pergumulan pribadi yang semakin menumpuk. Mary mendapati dirinya terjebak dalam kegelapan yang asing, dengan perasaan sedih dan putus asa yang mendalam. Setiap hari menjadi perjuangan berat bagi Mary; bahkan untuk bangun dari tidur pun, ia harus melawan pikiran negatif yang menghantuinya. Bahkan doa, yang biasanya menjadi sumber damai baginya, terasa kehilangan kuasanya. Hingga suatu hari, terlintas di benaknya pikiran untuk mengakhiri hidup agar cepat bertemu Tuhan. Pikiran itu membuat Mary tertegun dan bertanya dalam hati, apakah imannya yang mengecewakannya, ataukah dirinya yang telah mengecewakan imannya? Akhir-akhir ini, isu kesehatan jiwa menjadi pembicaraan publik, baik di media mainstream maupun media sosial. Salah satu kondisi yang paling dikenal adalah gangguan depresi ( Major Depressive Disorder /MDD, nomenklatur resmi dalam DSM-5). Depresi begitu familiar dan terkadang menjadi bahan gurauan ketika hidup terasa berat. Acap kali guyonan,”Duuh, besok hari Senin lagi. Rasanya aku langsung depresi!” menjadi hal yang lumrah kita ucapkan setiap akhir pekan telah usai. Namun, apakah kita benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan depresi? Depresi adalah gangguan kesehatan mental serius yang mempengaruhi perasaan, cara berpikir, dan tindakan seseorang. Gejalanya dapat menyebabkan perasaan sedih yang mendalam, hilangnya minat atau kesenangan dalam aktivitas sehari-hari, bahkan pikiran untuk bunuh diri. Depresi bukan sekadar perasaan sedih yang biasa kita alami, melainkan kondisi medis yang membutuhkan perhatian dan perawatan. Sehingga, penting bagi kita untuk memahami bagaimana depresi bisa terjadi dan bagaimana iman kepada Kristus dapat menolong kita dalam menghadapinya. Neurobiologi Depresi Depresi adalah gangguan kesehatan mental yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek dari faktor genetik, biologis, sosial, dan psikologis. Beberapa faktor psikologis internal, seperti kepribadian yang kurang percaya diri, dependen, kritik diri yang tinggi, atau sikap pesimis, dapat berkontribusi terhadap gejala depresi. Faktor sosial juga cukup berpengaruh pada kemungkinan timbulnya depresi, yaitu adanya peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, seperti terjadinya trauma, kehilangan seseorang, masalah interpersonal, serta masalah finansial. Neurobiologi dari depresi berfokus pada pemahaman bagaimana perubahan dalam fungsi dan struktur otak berkontribusi terhadap gejala-gejala depresi. Beberapa studi menunjukkan adanya beberapa mekanisme yang terlibat, yaitu perubahan atau ketidakseimbangan neurotransmitter (sistem serotonin, noradrenergik, dopamin, dan glutamat), neuro inflamasi, abnormalitas Aksis HPA (hypothalamic-pituitary-adrenal), perubahan vaskular, serta penurunan neurogenesis dan neuroplastisitas. Neurotransmitter merupakan bahan kimia di otak yang bertugas untuk mengirimkan sinyal antar neuron. Teori yang sudah cukup umum diketahui mengenai ketidakseimbangan neurotransmitter pada depresi adalah hipotesis monoamin, yang melibatkan serotonin (5-HT), norepinefrin (NE), dan dopamin (DA). Menurunnya kadar serotonin ditemukan pada pasien dengan depresi. Hal ini dapat dilihat dari membaiknya gejala pasien bila mengkonsumsi obat SSRI ( selective serotonin reuptake inhibitor) dan SNRI ( selective serotonin reuptake inhibitor ) yang meningkatkan level serotonin di otak. Neurotransmitter norepinefrin (NE) juga memiliki peran dalam regulasi mood, sebagaimana dibuktikan oleh fakta bahwa obat-obatan yang menghambat reabsorbsi NE, seperti TCA, SNRI, dan NDRI serta obat yang meningkatkan sekresi NE, seperti mirtazapin, merupakan antidepresan yang efektif. Selain itu, stres yang berkepanjangan juga dapat merubah sistem noradrenergik dan berpengaruh pada neuroendokrin dan sistem imun. Neurotransmiter berikutnya adalah neuron dopaminergik (DA) yang berasal dari jalur mesolimbik dan mengatur reward pathway and motivation . Adanya gangguan transmisi dopaminergik dan jalur mesolimbik berkontribusi pada patofisiologi depresi, terutama pada gejala anhedonia (ketidakmampuan merasakan kesenangan). Ketiga neurotransmiter tersebut saling terkait dan mempengaruhi konsentrasi satu sama lain di dalam otak. Dopamin telah terbukti memiliki efek inhibisi terhadap pelepasan NE dari locus ceruleus , sementara NE memiliki efek eksitatori dan inhibitori terhadap pelepasan dopamin di area tegmentalis ventralis. Selain itu, NE dan dopamin juga meningkatkan pelepasan serotonin secara berturut-turut. Oleh karena itu, adanya perubahan pada salah satu neurotransmitter ini kemungkinan mempengaruhi fungsi dua neurotransmitter lainnya [1] . Selain ketiga neurotransmiter tersebut, glutamat juga diduga memiliki peran dalam regulasi suasana hati. Hal ini diduga dari ketamin yang merupakan antagonis reseptor NMDA dapat bertindak sebagai antidepresan yang kuat. Cara kerja ketamin adalah melalui antagonisme reseptor NMDA pada interneuron GABA yang mengurangi inhibisi pelepasan glutamat sehingga meningkatkan produksi glutamat di tubuh. Glutamat kemudian akan mengikat secara selektif pada reseptor AMPA sehingga akan mengarah pada peningkatan neuroplastisitas otak. Hal ini berhubungan dengan neurobiologi berikutnya yaitu, adanya penurunan neurogenesis dan neuroplastisitas pada pasien dengan depresi. Neuroinflamasi juga berperan pada depresi, dimana terdapat peningkatan kadar penanda inflamasi seperti IL-1β, IL-2, IL-6, TNF-α, CRP, dan PGE2 yang dapat disebabkan oleh stress psikologis dan bersifat proinflamatori. Mekanisme inflamasi dan depresi diduga merupakan respon adaptif terhadap inflamasi. Disfungsi Aksis HPA (hypothalamic-pituitary-adrenal) memiliki hubungan terjadinya depresi melalui mekanisme stres. Respon stres dapat menyebabkan depresi melalui abnormalitas HPA, yaitu terjadi hipersekresi corticotropin-releasing hormone (CRH) dari hipotalamus, hiperkolestrolemia akibat hipersensitivitas HPA axis, dan disregulasi negative feedback dari hormon CRH. Selain itu, stres kronik dapat memicu kaskade neurobiologis yang mempengaruhi kemampuan hipokampus untuk beradaptasi dengan lingkungan stresor, sehingga mengurangi neuroplastisitas dan potensi jangka panjang neuron hipokampus. Pada stres kronik, dapat terjadi kondisi yang disebut sebagai diathesis-stress model yang menyatakan terdapat predisposisi (dapat bersifat genetik atau epigenetik) yang dapat menyebabkan depresi bila terpicu oleh faktor lingkungan reaksi maladaptif. Selain itu, hiperkortisolemia dalam otak juga mengubah jalur emosi kognitif dengan berpengaruh pada amygdala dari hipokampus (pembelajaran adaptif) dan meningkatkan konektivitas dengan striatum (pembelajaran habitual). Hal ini menyebabkan anhedonia, kurangnya motivasi, dan gejala depresi [2] . Faktor neurobiologi terakhir adalah pada neuroplastisitas. Otak manusia memiliki kemampuan plastisitas, dimana dapat menciptakan, menghilangkan, dan mengubah sirkuit fungsional dalam proses adaptasi. Salah satu faktor molekuler yang dibutuhkan untuk neuroplastisitas yang sehat adalah brain-derived neurotrophic factor (BDNF). BDNF merupakan neurotrofin yang membantu mendukung kelangsungan hidup neuron dan mendorong pertumbuhan serta diferensiasi neuron dan sinaps baru. Pada pasien terdiagnosa MDD, ditemukan adanya kadar serum BDNF yang berkurang. Tatalaksana depresi berupa kombinasi antara terapi obat dan psikoterapi. Antidepresan dapat membantu menyeimbangkan neurotransmitter kimia di otak yang kurang seimbang sehingga pada akhirnya bermanifestasi sebagai suasana hati dan emosi yang sedih dan putus asa. Selain itu, psikoterapi, seperti terapi kognitif-perilaku (CBT), dapat membantu pasien memahami dan mengubah pola pikir negatif yang berperan signifikan terhadap depresi. Penulis merupakan Wakil Dekan Kemahasiswaan, Kepala Departemen Psikiatri, FK UPH - Siloam Hospitals Lippo Village. /tp Sumber: [1] Dean J, Keshavan M. The neurobiology of depression: An integrated view. Vol. 27, Asian Journal of Psychiatry. Elsevier B.V.; 2017. p. 101–11. [2] Maletic, V., Robinson, M., Oakes, T., Iyengar, S., Ball, S. G., & Russell, J. (2007). Neurobiology of depression: an integrated view of key findings. International journal of clinical practice, 61(12), 2030–2040. https://doi.org/10.1111/j.1742-1241.2007.01602.x
- Counterfeit Gods
(Allah-allah palsu) Timothy Keller Diterjemahkan oleh Literatur Perkantas, 2016. Sekalipun tiga ribu tahun berbeda zaman dan peradaban, ternyata penyembahan berhala adalah salah satu kemiripan antara zaman kerajaan – kerajaan Israel dengan zaman di mana kita hidup hari ini. Bila Anda belum terlalu yakin, bacalah buku ini. Buku ini ditulis oleh Tim Keller setelah peristiwa krisis keuangan 2008 melanda Amerika (dan dunia), dan banyak orang memerlukan bantuan untuk pulih dari kehancuran. Dalam buku ini diceritakan bahwa ketika suatu berhala sudah mengikat hati, dia akan membentuk serangkaian pengertian yang salah tentang kesuksesan, kegagalan, kebahagiaan, dan kesedihan. Timothy menggunakan kisah dari keluarga Abraham, Yakub, Zakheus, Naaman, dan beberapa tokoh lain untuk menjadi contoh bahwa cinta akan uang, wanita, dan kekuasaan sudah sejak dahulu menjadi allah palsu dalam cerita tokoh -tokoh ini, seperti yang terjadi dalam zaman sekarang ini juga. Kisah-kisah dramatis tokoh-tokoh ini digambarkan dengan urutan yang luar biasa, dan diselingi dengan pembahasan dan eksposisi yang terperinci namun disampaikan dengan sangat indah. Dan seperti buku-buku lain yang ditulis oleh pendeta Tim, tulisannya sangatlah lugas, jelas, dan mendalam. Malah, setelah membaca buku ini, kita bisa menyadari bahwa selama ini mungkin kita belum sungguh-sungguh mengenal diri kita sampai kita mengakui adanya berhala-berhala yang kita simpan di dalam hati tanpa kita tahu. Buku ini sangat membantu bagi siapa saja yang sedang melewati masa sulit, maupun bagi mereka yang sedang dalam kesibukan pekerjaan, dalam tekanan mengejar karir, dan perlu untuk memeriksa kembali hati dan motivasi. Bagian terakhir dari buku ini ditutup dengan membicarakan mengenai cara agar kita dapat melepaskan dan mengganti berhala-berhala kita dengan sukacita yang sejati bersama dengan Tuhan sebagai harapan yang terpenting. Dalam tujuh bab di dalam buku ini terdapat suatu pola yang seragam, dimana setiap bab selalu diakhiri dengan penekanan bahwa Tuhan adalah Allah yang sejati yang dengan setia menjadi jawaban yang sesungguhnya. Buku ini tidak hanya akan mengubah hidup, namun juga akan mentransformasi hati kita. Selamat membaca. EAB
- Melangkahkan Kaki ke Daerah
Setelah ribuan kilometer terbang, akhirnya, dini hari 9 Januari 2013 saya menginjakkan kaki di Bumi Cenderawasih. Tanah yang pernah saya tinggalkan limabelas tahun sebelumnya - kini saya datang kembali… Panggilan Tuhan yang pertama Saya teringat, waktu pertama kali mendengar suara Tuhan, meminta saya untuk pergi dan melayani sebagai dokter di Irian Jaya (cat. tahun 2001 Irian Jaya berganti nama menjadi Papua). Saat itu masih mahasiswa semester delapan, saya merasakan ada suara yang lembut namun mendesak di dalam hati, ketika membaca sebuah buku tentang seorang dokter muda yang melayani di pedalaman Irian Jaya. Dan dialog pun terjadi : “ Kenapa harus saya Tuhan?” “ Kalau bukan anak-anak-Ku, siapa lagi yang akan Ku-utus?” Sejak saat itu, keinginan untuk pergi ke pedalaman Papua bertumbuh dan semakin kuat. Berusaha menepis panggilan-Nya Proses pembentukan dan pemurnian-pun dimulai. Sesudah lulus menjadi dokter, banyak kesempatan yang datang, mulai dari pendidikan dan pekerjaan, baik di klinik maupun rumah sakit besar - sepaket dengan kehidupan mapan di kota besar, Jakarta! Tapi semuanya itu tidaklah memuaskan saya, seolah jiwa saya menuntut bahwa saya diciptakan oleh Tuhan untuk berada dan melakukan sesuatu di tempat lain yang tidak diminati oleh banyak orang. Sampai akhirnya terjadi bencana alam dan kelaparan di Jayawijaya Raya tahun 1997, sayapun mengajukan diri menjadi dokter relawan perempuan satu-satunya yang dikirim ke Irian Jaya. Sehingga pada waktu penempatan PTT (Pegawai Tidak Tetap), Irian Jaya menjadi pilihan pertama dan saya yakin, pasti diterima. Ternyata, saya ditolak di Papua! Dan ditempatkan di Yogyakarta. Saya protes sama Tuhan: “Tuhan, mengapa orang yang memilih untuk PTT di Jawa - banyak yang tidak bisa; Tapi saya yang mau ke Papua malah Tuhan tempatkan di Jawa?!” Dan Tuhan terdiam… Sejak saat itu saya berusaha untuk tidak lagi memikirkan Irian Jaya. Saya larut didalam pekerjaan dan pelayanan di Yogyakarta. Mengenal banyak komunitas baik rohani maupun sekuler, sampai akhirnya saya kehilangan ayah yang sangat saya kasihi dan puja, yang ternyata tanpa disadari sudah menjadi ilah saya selama ini. Inilah titik balik pengenalan saya. Bahwa Dia adalah Allah pencemburu yang ingin menjadi satu-satunya Tuhan di dalam hidup saya. Dia sedang memperkenalkan diri-Nya dan saya diproses lebih dalam lagi. Berangkat! Perlahan namun pasti kerinduan untuk ke Papua pun timbul kembali. Meskipun tantangan yang saya hadapi kali ini jauh lebih berat karena harus meninggalkan ibu saya yang masih sakit dan hidup sendirian. Namun ingatan dari pelajaran pertama - bahwa Tuhan adalah Allah pencemburu - membuat saya ingin segera menaati-Nya. Tuhan seolah mengatakan bahwa Dia tidak bisa dikalahkan dan tidak akan pernah mau mengalah. Sekembalinya saya dari Filipina pada 2012, saya membulatkan tekad untuk keluar dari salah satu rumah sakit swasta di Jakarta dan memesan tiket pesawat ke Papua. Singkat cerita, saya tinggal dengan keluarga yang dikenalkan oleh salah satu teman di Jakarta sambil membantu pelayanan mereka di Kota Sentani dan Koya Barat, dekat perbatasan negara Papua New Guinea. Namun setelah tiga bulan, saya belum juga mendapat pekerjaan, lalu berseru kepada Tuhan, “Tuhan, uang saya menipis. Kalau sampai 1 April 2013 ini saya belum bekerja, saya akan kembali ke Jawa dan itu berarti bahwa semua ini bukan panggilan-Mu tapi hanya keinginan dan emosi saya semata”. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya (Mazmur 91:15). Janji-Nya tersebut digenapi, tidak lama setelah saya berdoa, melalui seorang siswa yang sedang sakit, saya mendapat informasi lowongan kerja dari dokter di puskesmas. Puji Tuhan! Tepat pada 1 April 2013 saya mulai bekerja untuk Penanganan HIV di empat kabupaten/kota; yaitu Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. Saya merenungkan peristiwa sebelas tahun yang lalu tentang bagaimana Tuhan mampu mengubah suka duka yang saya alami dengan tidak ada satupun yang Dia sia-siakan. Bahkan Dia pakai semuanya itu untuk membentuk karakter saya seperti Kristus. Bersyukur Tuhan terus mempercayakan perkara-perkara kecil dan akhirnya Dia juga mempercayakan perkara-perkara yang lebih besar lagi kepada saya serta memperlihatkan apa yang sedang Dia kerjakan di Tanah Papua. “Barang siapa yang bekerja di tanah ini dengan setia, jujur dan dengar-dengaran; maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain.” (Pendeta Izaac Samuel Kijne - 1947) Sentani - 10 Mei 2024
- Beyond Judgement Day (episode 2)
Telaah Kitab Zefanya Pada bagian pertama (pasal 1) kita telah melihat Zefanya mewartakan berita penghukuman kepada orang Yehuda. Pada pasal 2 dan 3, Zefanya tetap mewartakan berita penghukuman. Kali ini kepada bangsa-bangsa asing yaitu bangsa Filistin, Moab, Ethiopia, Asyur. Kemudian dilanjutkan dengan berita hukuman kepada Yerusalem (Kerajaan Yehuda) dan ditutup dengan penghukuman universal. Namun pada akhir kitab Allah tetap menyediakan harapan bagi kita. Zefanya, pasal 2 dan 3 menjadi pengingat tentang panggilan Allah untuk bertobat dan janji pemulihan bagi umat-Nya. Dalam kedua pasal ini, kita menemukan pesan yang kuat yang berbicara tentang realita dosa, penghakiman, dan pengampunan melalui kasih karunia-Nya. 2. Penghukuman Allah bagi bangsa-bangsa (pasal 2) Penghukuman Allah dimulai dari rumah Tuhan (1 Pet. 4:17) dan berlanjut pada bangsa-bangsa lain. Bangsa-bangsa yang disebutkan dalam kitab Zefanya mewakili bangsa-bangsa di seluruh dunia. Bangsa Asyur dibelah utara, bangsa Ethiopia (cush) di sebelah Selatan, Moab dan Amon di sebelah timur dan Filistin di sebelah barat. 1. Penghukuman atas bangsa Filistin. Pada ayat 5 tertulis “celakalah kamu bangsa Kreti”. Kreti adalah sebuah klan dari bangsa Filistin, yang merupakan musuh bebuyutan orang israel. Sebuah catatan dalam kitab Amos menunjukkan bagaimana bangsa ini menangkap dan menjual orang Israel sebagai budak. Allah mendengar teriakan dan membela umat-Nya. Ayat 5 juga menuliskan hukuman Allah bagi bangsa Kreti ini. Mereka akan binasa, kota-kota meraka akan kosong, tidak aada lagi penduduk di sana. 2. Penghukuman atas bangsa Moab dan Amon. Kedua bangsa yang tinggal di sisi timur Yudea ini merupakan keturunan Lot sesudah mereka selamat dari hukuman Sodom dan Gomora. Ayat 8 mencatat kedua bangsa ini mencela dan menista umat Tuhan dan menyombongkan diri atas tanah Kanaan. Kedua bangsa ini akan berakhir seperti Sodom dan Gomora. Demikian hukuman Tuhan. 3. Penghukuman atas bangsa Ethiopia Bangsa “cush” atau Ethiopia yang juga merupakan musuh bebuyutan umat Isarel ini tidak lepas dari hukuman Tuhan. Allah memakai tangan bangsa Babil menghukum mereka dengan pedang (Yesaya 18 dan Yehezkiel 30:4-9). 4. Penghukuman atas bangsa Asyur Pada masa itu, Asyur merupakan bangsa yang mempunyai kekuatan milter terbesar di kawasan itu. Sebelum kebangkitan Babilonia, maka Asyur merupakan superpower diantara bangsa-bangsa. Satu setengah abad yang lalu, bangsa Asyur, dengan ibukotanya Niniwe bertobat sebagai buah pelayanan Yunus, namun seiring dengan berjalannnya waktu mereka kembali kepada perilaku yang jahat dan kejam. Sang superpower pun tidak luput dari hukuman Tuhan. Niniwe dan semua kota dihancurkan tahun 612 SM. Dalam waktu kurang dari 10 tahun kekaisaran Asyur tidak ada bekas-bekasnya lagi. Zefanya menyaksikan hal tersebut di depan matanya Jika nubuatan Zefanya atas kota-kota telah tergenapi, maka perkataan sang nabi atas “judgement day” telah menjadi kenyataan. Tak ada sebuah superpower pun dapat menghindar. Hukuman Allah bagi bangsa kita sendiri dan bagi bangsa-bangsa di dunia ini pasti akan tiba. Kembali kita diingatkan bahwa Allah akan menghukum umat-Nya atas ketidaktaatan mereka. Kita memang dipanggil untuk menjadi berbeda dan tidak serupa dengan dunia ini (Roma 12:2). Hal kedua kita juga diingatkan Allah adalah Allah yang membela kita. Dia membela kita di hadapan bangsa bangsa yang menganiaya umat-Nya. Ketiga, Firman Allah selalu digenapi pada waktunya. Kita dapat bergantung sepenuhnya pada kebenaran Firman 3. Yang setia yang dijagai-Nya Hukuman atas Yerusalam (Zefanya 3:1-8) Setelah menyampaikan pesan hukuman atas bangsa bangsa lain, Zefanya kembali kepada isu utama yaitu dosa dosa di Yerusalem. Alih-alih sebagai kota suci, Yerusalem telah terpolusi oleh orang-orang berdosa yang cemar, menindas dan tidak mau mendengarkan teguran memberontak (ayat 1), mereka sudah tidak beribadah lagi kepada dan bahkan tidak mempercayai Allah lagi (ayat 2). Akar masalah orang berdosa ini adalah kesombongan (pride) dan self-esteem yang berlebihan. Mereka merasa tidak memerlukan Tuhan lagi. Polusi yang kedua adalah pemimpin dan pemuka masyarakat yang tidak takut akan Tuhan. Para pemimpin yang diharapkan bisa menjadi model dan panutan rohani serta mengarahkan umat untuk semakin dekat kepada Tuhan justru mempunyai kelakuan seperti binatang. Seperti singa dan serigala yang rakus (ayat 3) dan mengambil keuntungan pribadi dari rakyatnya. Para nabi telah berkhianat dan memperkosa hukum Taurat (ayat 4), tidak lagi mendengar dan memberitakan kebenaran jalan Tuhan yang benar. Ayat 8 menutup kisah tentang dosa Yerusalem ini dengan sebuah ilustrasi pengadilan dimana Dia akan menjadi saksi bagi atas kejahatan umat-Nya dan akan menumpahkan kegeramannya atas Yerusalem dan bangsa-bangsa. Allah tetap Allah yang adil dan berdaulat dalam menjalankan keadilan-Nya Pengharapan untuk yang setia (Zefanya 3:9-20) Meskipun kesetiaan Allah dan peringatan-Nya disampaikan berulang-ulang, kota itu tetap keras kepala, ditandai oleh penindasan, ketidakjujuran, dan dosa yang tak bertobat. Namun, bahkan di tengah-tengah pemberontakan seperti itu, ada cahaya harapan. Zefanya berbicara tentang sisa yang setia di dalam Yerusalem, beberapa yang rendah hati dan benar yang akan dipelihara dan dilindungi Allah di tengah penghakiman. Pada ayat 9 dan 10 Zefanya menawarkan pesan harapan dan pemulihan. Allah berjanji untuk menyucikan bibir umat-Nya, agar mereka dapat menyembah-Nya dengan tulus dan bersatu. Dia berjanji untuk mengumpulkan yang terdispersi dan memulihkan kekayaan sisa-Nya yang setia. Selanjutnya suasana pekat penghukuman berubah menjadi kecerahan sukacita saat Zefanya membayangkan masa depan di mana Allah diam di tengah-tengah umat-Nya, saat mereka bersukacita karena diselamatkan dari ketakutan dan penindasan. Perikop ini menjabarkan 3 stanza pemberitaan penebusan setelah hukuman Allah. Pertama, tentang jaminan bahwa bangsa bangsa akan dipulihkan, umat yang setia akan di restorasi, Jerusalem dibersihkan (9-13). Kedua, sukacita dipulihkan, puteri Sion akan bersorak bersukacita (14-15), tidak ada lagi ketakutan karena Allah ada bersama mereka (16-17). Ketiga, ayat 18-20 menyimpulkan semua pemulihan yang dilakukan Tuhan. Zefanya 2-3 berfungsi sebagai panggilan yang kuat untuk bertobat dan kesaksian akan kedaulatan dan rahmat Allah. Melalui kata-kata nabi itu, kita diingatkan akan konsekuensi dosa, kepastian penghakiman, dan janji pemulihan bagi mereka yang berbalik kepada Allah dengan rendah hati dan iman. Kiranya kita memperhatikan peringatan Zefanya, merangkul pertobatan, dan dengan sabar menanti pemenuhan rencana penebusan Allah dalam hidup kita dan di dunia. Kiranya Allah, sumber pengharapan memenuhi kita dengan sukacita dan damai sejahtera dalam Roh Kudus serta berlimpah dalam pengharapan.
- Dampak Waktu Layar pada Kesehatan Mata
Di era digital saat ini, layar telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari kita, mulai dari ponsel pintar dan komputer hingga tablet dan televisi. Meskipun perangkat-perangkat ini menawarkan kenyamanan dan konektivitas, paparan yang berkepanjangan terhadap layar dapat memiliki implikasi yang signifikan bagi kesehatan mata. Maka dari itu, penting untuk kita mempertimbangkan antara manfaat dan juga kerugian bagi kesehatan manusia saat menggunakan perangkat. Memahami efek waktu layar pada mata adalah penting dalam mempromosikan kesadaran dan mengadopsi langkah-langkah preventif untuk menjaga kesejahteraan okular. Strain Mata Digital: Periode yang panjang dari penggunaan layar dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai strain mata digital atau sindrom visi komputer. Fokus yang konstan pada layar dapat membuat mata bekerja lebih keras, menyebabkan kelelahan dan ketidaknyamanan. Beberapa gejala Strain Mata Digital yang dapat terjadi adalah: Ketidaknyamanan Mata: Mata terasa kering, gatal, atau teriritasi. Penglihatan Kabur: Penglihatan menjadi buram, terutama setelah penggunaan layar yang berkepanjangan. Sakit Kepala: Terutama di bagian dahi atau daerah sekitar mata. Nyeri Leher dan Bahu: Akibat postur tubuh yang tidak tepat saat menggunakan perangkat digital. Sulit Berkonsentrasi: Kemampuan kognitif dan produktivitas dapat terpengaruh oleh ketidaknyamanan mata. Terjadinya strain mata digital ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: Kedekatan dengan Layar: Jarak dekat antara mata dan layar, serta waktu yang lama dalam posisi ini, dapat menyebabkan mata bekerja lebih keras. Cahaya Biru: Paparan cahaya biru yang dipancarkan oleh layar elektronik dapat mengganggu ritme sirkadian dan menyebabkan kelelahan mata. Kurangnya Istirahat Mata: Ketika menggunakan layar, kita cenderung mengurangi frekuensi berkedip, yang dapat mengakibatkan mata menjadi kering dan iritasi. Paparan Cahaya Biru: Layar-layar memancarkan cahaya biru yang terlihat (HEV), yang dapat menembus mata secara dalam. Paparan yang berkepanjangan terhadap cahaya biru telah dikaitkan dengan strain mata digital, gangguan pola tidur, dan kerusakan retina jangka panjang yang potensial. Paparan cahaya biru, terutama sebelum waktu tidur, dapat mengganggu produksi melatonin, mempengaruhi kualitas tidur dan ritme sirkadian. Dampak pada Anak-Anak: Anak-anak dan remaja sangat rentan terhadap efek dari waktu layar yang berlebihan karena sistem visual mereka sedang berkembang. Peningkatan penggunaan layar di kalangan demografi ini telah dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap miopia (rabun dekat). Prevalensi miopia meningkat secara global, menimbulkan kekhawatiran tentang implikasi jangka panjang bagi kesehatan mata dan kebutuhan koreksi penglihatan. Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan sebagai upaya preventif, antara lain: Ikuti Aturan 20-20-20: Untuk meredakan strain mata digital, beristirahatlah secara teratur dengan mengikuti aturan 20-20-20—setiap 20 menit, lihatlah jauh dari layar pada objek yang berjarak 20 kaki setidaknya selama 20 detik. Praktik ini membantu mengurangi kelelahan dan strain mata. Optimalkan Ergonomi Layar: Letakkan layar pada tingkat mata dan pertahankan jarak yang sesuai untuk mengurangi strain mata. Sesuaikan kecerahan layar dan pengaturan kontras untuk meminimalkan silau dan refleksi, terutama di lingkungan yang terang. Gunakan Filter Cahaya Biru: Pertimbangkan untuk menggunakan filter cahaya biru atau pelindung layar untuk mengurangi paparan terhadap emisi cahaya biru yang berbahaya. Beberapa perangkat menawarkan pengaturan filter cahaya biru bawaan yang dapat diaktifkan selama jam malam untuk mempromosikan kebersihan tidur yang lebih baik. Mendorong Aktivitas Luar Ruangan: Dorong anak-anak dan remaja untuk terlibat dalam aktivitas luar ruangan untuk mengurangi risiko perkembangan miopia. Menghabiskan waktu di luar ruangan telah terbukti memiliki efek perlindungan terhadap perkembangan miopia. Pemeriksaan Mata Komprehensif: Jadwalkan pemeriksaan mata reguler dengan optometris atau oftalmologis untuk memantau kesehatan mata dan mengatasi masalah yang terkait dengan penglihatan. Deteksi dan intervensi dini dapat membantu mencegah atau mengelola kondisi mata yang terkait dengan waktu layar. Kebiasaan Layar yang Sehat: Dorong individu untuk berprilaku bijaksana dalam menggunakan layar dengan menetapkan batasan waktu layar, beristirahat secara teratur, dan mengadopsi aktivitas yang mempromosikan relaksasi mata, seperti latihan berkedip dan pijatan mata. Sebagai kesimpulan, meskipun layar telah merevolusi cara kita bekerja, belajar, dan berkomunikasi, waktu layar yang berlebihan dapat menimbulkan tantangan bagi kesehatan mata. Dengan mengadopsi langkah-langkah proaktif untuk mengurangi strain mata digital, meminimalkan paparan terhadap cahaya biru, dan mempromosikan kebiasaan layar yang sehat, individu dapat melindungi kesejahteraan okular mereka dan menjaga penglihatan yang sehat di era digital ini.
- Bijak Memilih
Pernah nggak membuat suatu pilihan yang disesali atau disyukuri? Biasanya yang lebih melekat yang disesali ya, “aduh, kenapa dulu nggak ambil jurusan ini aja ya?” Tanpa disadari, setiap hari kita membuat pilihan. Memilih mendaftar ke jurusan apa, menjalin hubungan dengan siapa, dan masih banyak pilihan lainnya. Semua pilihan ada konsekuensinya, baik itu panjang atau pendek dan baik atau buruk. Kalau salah potong rambut, mungkin konsekuensinya pendek karena dalam beberapa bulan sudah tumbuh lagi. Tapi, kalau salah pilih teman hidup? Cukup panjang konsekuensinya. Tahun 2024 ini adalah tahun yang sangat bersejarah karena kita akan banyak membuat pilihan. Untuk pertama kalinya Indonesia akan mengadakan Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di tahun yang sama. Pada Pemilu tanggal 14 Februari nanti, pemilih akan mencoblos 5 surat suara (4 bagi warga DKI Jakarta) dan pada Pilkada tanggal 27 November nanti kita akan memilih gubernur-wakil gubernur serta bupati-wakil bupati atau wali kota-wakil wali kota. Bagi banyak orang, membuat pilihan sebanyak ini pasti akan membuat kewalahan. Jika kita tidak bijaksana dalam memilih, maka konsekuensinya minimal lima tahun ke depan. Tapi, apa yang dimaksud bijaksana memilih? Bijaksana Pertama kita awali dengan definisi kata bijaksana. Kata dalam bahasa Ibrani untuk bijaksana yang lazim digunakan dalam perjanjian lama adalah Chokma. Menurut D.M. Welton (1897), bijaksana adalah kualitas etika yang kuat, yang berakar pada takut akan Tuhan, dan menerapkan kebenaran wahyu ilahi kepada berbagai hubungan dan keadaan kehidupan. Schroeder (2023) mendefinisikan bijaksana sebagai keterampilan moral untuk hidup yang diungkapkan melalui Firman Tuhan, yang mengajarkan kita tentang bagaimana bertindak sesuai keinginan-Nya. Definisi singkat, yang saya dapatkan dari buku karakter untuk anak adalah thinking God’s way, yang terjemahannya berpikir sesuai cara Tuhan berpikir atau melihat melalui lensaNya. Apa perbedaan antara pengetahuan dan kebijaksanaan? Pengetahuan berkaitan dengan informasi dan kecerdasan. Penalaran dan pengalaman menambah apa yang kita ketahui. Sedangkan, kebijaksanaan memampukan kita untuk menggunakan pengetahuan tersebut dan membuat penilaian serta keputusan yang tepat. Keterampilan untuk menerapkan pengetahuan menunjukkan kebijaksanaan seseorang. Langkah agar Bijaksana Memilih Karena sistem negara kita adalah demokrasi, maka suara rakyat adalah suara terkuat. Makna harfiah demokrasi ditekankan oleh Abraham Lincoln ketika ia mendefinisikan demokrasi sebagai "pemerintahan oleh, untuk, dan dari rakyat" (Colby, 2017, 25). Demokrasi adalah kondisi di mana “rakyat harus memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan publik penting ... harus berbagi dalam merumuskan kebijakan dan bukan hanya meratifikasi keputusan yang telah dibuat seorang pemimpin sebelum pemungutan suara dilakukan” (Wittke, 1941, h. 1-2). Berdasarkan definisi tersebut, maka kita sebagai rakyat memiliki hak untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan publik penting, termasuk di dalamnya menentukan siapa yang akan menjadi Presiden-Wakil Presiden, Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tingkat 1, dan DPRD tingkat 2. Berikutnya adalah langkah-langkah bagaimana kita mengaplikasikan bijaksana dalam memilih di Pemilu 2024. 1. Baca Firman Tuhan agar Standar Moral kita dalam Memilih Sejalan dengan Standarnya Tuhan. Firman Tuhan pada Yeremia 29:7 mengatakan, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Perintah tersebut diberikan kepada bangsa Israel yang kala itu sedang dalam masa pembuangan akibat ketidaktaatan mereka yang seharusnya hidup bagi misinya Tuhan untuk merefleksikan kemuliaanNya di tengah bangsa lain yang tidak percaya. Namun yang mereka lakukan adalah hidup bagi diri sendiri. Atas kasih karuniaNya, Yeremia 29:7 menunjukkan bahwa misi Tuhan bagi bangsa Israel masih berlaku, yaitu menjadi berkat bagi bangsa Babilonia. Kita sebagai orang Kristen di Indonesia juga memiliki misi yang sama, yaitu untuk menjadi berkat bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu menjadikan Alkitab sebagai referensi dalam membuat pilihan agar mengerti standar Tuhan bagi seorang pemimpin seperti apa. 2. Punya Mimpi untuk Indonesia. Coba pejamkan mata dan imajinasikan Indonesia seperti apa yang ideal. Buka mata, kemudian mulai lakukan pekerjaan penting meriset kandidat mana yang dapat mewujudkan impian tersebut. Penting juga untuk mempelajari cita-cita Bapak-Bapak Bangsa ketika mewujudkan Indonesia merdeka dan ini bisa dimulai dengan membaca pidato Bung Karno pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, di mana Bung Karno mengatakan mimpinya, “Kita hendak mendirikan suatu Negara semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua.” Kita dapat memilih pemimpin yang dapat melanjutkan estafet mimpi tersebut. 3. Riset kandidat yang dapat Mewujudkan Mimpi Tersebut. Melakukan riset dapat dilakukan dengan mengikuti berita, menonton debat, menyelidiki rekam jejak, mempelajari partai pendukung, dan menganalisis visi-misi masing-masing kandidat. Jangan lupa juga melakukan riset untuk masing-masing calon legislatif yang berada di Daerah Pemilihan (Dapil) kita. 4. Pastikan dapat memilih di hari H Kategori pemilih pada pemilu ada tiga, yaitu (1) Daftar Pemilih Tetap (DPT), yaitu pemilih yang telah ditetapkan oleh KPU Kabupaten/Kota dan untuk memeriksanya dapat mengunjungi situs KPU berikut https://cekdptonline.kpu.go.id/; (2) Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), yaitu pemilih yang karena suatu alasan memberikan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) lain di luar TPS di mana ia terdaftar, dan; (3) Daftar Pemilih Khusus (DPK), yaitu daftar pemilih yang memiliki identitas kependudukan tetapi belum terdaftar dalam DPT atau DPTb. Jangan khawatir, untuk kategori terakhir ini, Anda tetap dapat datang ke TPS untuk memilih dari jam 12.00-13.00 WIB. 5. Bantu awasi penghitungan suara Sebaiknya jangan langsung pulang setelah memilih, tapi bantu pantau penghitungan suara. Pastikan kertas suara yang tidak terpakai agar tidak disalahgunakan. Jika ada 60 surat suara saja disalahgunakan di 820.161 TPS dalam negeri, maka akan seharga lebih dari 49 juta suara. Manfaatkan ponsel untuk mendokumentasikan dan segera laporkan jika ditemukan pelanggaran. Laporan dugaan pelanggaran pemilu bisa disampaikan kepada pengawas Pemilu sesuai tingkatan dan wilayah kerjanya paling lambat tujuh hari sejak diketahui dan/atau ditemukannya pelanggaran Pemilu. Adapun untuk melaporkan kecurangan Pemilu dapat dilakukan melalui Bawaslu, baik mendatangi kantornya langsung atau dilakukan secara online melalui laman resmi https://www.bawaslu.go.id/ maupun melalui aplikasi Gowaslu. Penutup Untuk menjadi generasi muda Kristen yang cakap mengusahakan kesejahteraan kota dan bangsanya bukan proses instan. Kecakapan ini dapat diasah dimulai dengan memilih pada Pemilu 2024 ini. Buat Anda yang menjadi pemilih pemula, mari pergunakan hak memilih ini dengan penuh tanggung jawab. Pada tanggal 14 Februari 2024, di kala dunia merayakan hari kasih sayang, kita akan merayakan kasih kita buat bangsa Indonesia dengan datang ke TPS dan memilih dengan bijak. No one is born a good citizen, no nation is born a democracy. Rather, both are processes that continue to evolve over a lifetime. Young people must be included from birth. -Kofi Annan- Referensi Aspara, D. (2023, May 11). Catat! Ini Cara Lapor Kecurangan Pemilu 2024. beritasatu.com. https://www.beritasatu.com/bersatu-kawal-pemilu/1043779/catat-ini-cara-lapor-kecurangan-pemilu-2024 Colby, Anne, et. al. (2007). Educating for Democracy: Preparing Undergraduates for Responsible Political Engagement. California: Jossey-Bass A Wiley Imprint. Schroeder, S. (2023, January 20). What does the Bible say about wisdom?. Christianity.com. https://www.christianity.com/wiki/bible/what-bible-say-about-wisdom.html#:~:text=Filled%20with%20wise%20sayings%2C%20Proverbs,to%20act%20as%20He%20desires. Welton, D. M. (1897). The Old Testament Wisdom (Chokma). The Biblical World, 10(3), 183–189. http://www.jstor.org/stable/3140110 Wittke, Carl Frederick, et. al. (1941). Democracy is Different: Democracy Over Against Communism, Fascism, and Nazism. New York: Harper & Brothers Publishers. Penulis merupakan Co-Founder Beneran Indonesia
- Refleksi Christian Global Health in Perspective
Selama ini, bagaimana kita menghidupi iman dalam dunia profesional; apakah artinya menjadi dokter Kristen? Rasanya hal ini tidak cukup dipuaskan dengan sekedar menambahkan beberapa ciri dan aktivitas Kristen ke dalam keseharian kita. Diperlukan suatu cara pandang Kristen yang merubah cara kita melihat segala aspek dunia medis secara menyeluruh. Pelajaran-pelajaran di Christian Global Health in Perspective (CGHiP) telah memberikan kepada saya permulaan yang baik dalam perjalanan mengerti perspektif Allah mengenai kesehatan. CGHiP membahas mengenai banyak hal: teologi penyakit dan kesehatan, sejarah pelayanan medis, pengaruh budaya terhadap kesehatan, serta strategi yang diadopsi gereja dalam mempromosikan kesehatan. Dalam tulisan singkat ini, saya akan membagikan empat poin untuk memancing rasa penasaran saudara terkait CGHiP. Kesehatan perlu untuk kita definisikan agar kita mengetahui apa yang kita tuju. Secara tidak sadar, kita memandang kesehatan sebagai tidak adanya penyakit, sehingga kita berhenti pada menyembuhkan penyakit dan tidak selalu melakukan upaya lain. Apakah akan terdapat perbedaan jika kita mengerti kesehatan sebagai shalom yang Tuhan sediakan saat penciptaan? Apakah semua kelemahan fisik dapat kita kategorikan sebagai penyakit, dan sebaliknya, apakah seseorang tanpa kelemahan fisik selalu dianggap sehat? Apakah upaya yang dapat kita lakukan jika kita mengerti kesehatan sebagai hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama, alam, dan diri sendiri? Seperti yang sudah kita pelajari dalam pendidikan kedokteran, memastikan etiologi merupakan suatu hal yang amat penting dalam menentukan tatalaksana definitif suatu penyakit. Sebagai contoh, pemberian antipiretik pada kasus infeksi bakterial hanya bersifat simtomatik, sedangkan pemberian antibiotik bersifat definitif, karena langsung menargetkan penyebab (root cause) penyakit yang diderita. Jika demikian, apakah perbedaan yang dapat kita lihat jika kita mulai mengerti bahwa etiologi dari semua penyakit (dis-ease atau hilangnya shalom) adalah dosa? Bagaimana patomekanisme dosa dalam menimbulkan berbagai penyakit dan bagaimana kita dapat menentukan tatalaksana yang definitif? Selama ini, bagaimana kita memandang pelayanan medis dengan pelayanan spiritual (penginjilan, pemuridan, dan sebagainya)? Apakah signifikansi pelayanan medis dalam iman Kristen? Masyarakat umum pada zaman Yesus dan para Rasul memandang Kekristenan sebagai agama orang sakit, karena walaupun agama lain menolak orang sakit, hanya Kekristenan yang menerima orang sakit dan menyembuhkan mereka. Pelayanan kesembuhan sangatlah umum dilakukan, dan menunjukkan kontras dengan agama lain yang hanya terpaut pada masalah spiritual atau non-fisik. Bagaimana pemahaman kita akan berubah setelah mengetahui bahwa Yesus tidak hanya menebus roh, tetapi juga tubuh kita? Bagaimana sikap kita dalam menyembuhkan jika kita mulai mengerti bahwa setiap pelayanan medis adalah kesaksian terhadap “the corporeality of salvation”? Bagaimana pengaruh faktor sosial dan budaya terhadap kesehatan individu? Tuhan menciptakan seluruh ciptaan sebagai suatu kesatuan dan akan menebus keseluruhannya pada hari Tuhan (Kolose 1:19-20). Penyakit suatu individu dapat dimengerti sebagai gejala dari komunitas yang sakit, sama seperti gejala individual dapat memberi petunjuk pada penyakit suatu individu. Orang Kristen dalam beberapa abad terakhir memiliki andil yang begitu besar dalam mengembangkan bidang kesehatan masyarakat, karena menyadari adanya ikatan yang erat antara ketidakadilan sistemik yang diakibatkan dosa dengan fenomenologi penyakit yang dapat diobservasi secara langsung. Bagaimanakah pengertian akan keterikatan faktor sosial terhadap kesehatan merubah persepktif dan strategi kita dalam mengupayakan kesehatan? Demikian empat poin yang dapat saya bagikan dalam artikel ini. Masih banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan melalui CGHiP dan saya sangat mendorong teman-teman dan kakak-kakak untuk diperlengkapi juga melalui CGHiP. Kiranya Tuhan menganugerahkan kesempatan dan terus memperlengkapi anak-anak-Nya demi menyatakan supremasi Kristus atas dunia kesehatan. /aas
- Beyond Judgement Day: Telaah Kitab Zefanya
Zefanya adalah seorang nabi yang melayani pada masa raja Yosia, raja Yehuda yang memerintah pada tahun 640-609 Sebelum Masehi (SM), ia juga turut berperan dalam masa pemerintahan Manasye yang memerintah pada tahun 696-642 SM. Zefanya termasuk sezaman dengan nabi-nabi Yehuda lainnya, seperti Mikha dan Yesaya. Pada awal pemerintahan Yosia, Zefanya mulai menantang pola jahat diantara umat Yehuda. Pola jahat yang dimulai sejak pemerintahan raja Manasye dan Amon. Zefanya memperingatkan masyarakat akan penghakiman yang akan terjadi. Dia mendapat dukungan dari raja Yosia sehingga saat itu terjadi reformasi rohani secara nasional, namun reformasi ini tidak berlangsung lama. Gelombang kejahatan kembali berlanjut, dosa terus merajalela, penyembahan berhala dan praktek menduakan Tuhan masih berlangsung. Hal ini membuat sang nabi meramalkan bahwa Tuhan akan menggunakan orang luar (yaitu Nebukadnezar) sebagai penghukuman. Berita penghukuman Zefanya mencakup penghukuman atas orang Yehuda (pasal 1), penghukuman atas bangsa-bangsa asing (pasal 2) dan penghukuman atas Jerusalem/Kerajaan Yehuda (pasal 3). Kitab ini ditutup dengan sebuah catatan pengharapan dibalik penghukuman. Hope beyond the Judgement Day. Kitab Zefanya menawarkan pesan yang kuat tentang penghakiman, pertobatan, dan pemulihan. Hal ini merupakan pengingat bahwa Tuhan itu adil, namun penuh belas kasihan, dan bahwa setiap orang dan setiap bangsa bertanggung jawab atas tindakan mereka. Di sisi lain kita juga dapat melihat bagaimana Zefanya menerapkan kepemimpinannya dalam mengemban amanat Allah yang dipercayakan kepadanya. Penghukuman atas orang Yehuda – tiga ilustrasi Hari penghukuman atau judgement Day merupakan ajaran yang penting dalam kekristenan terutama agar kita dapat hidup benar dan mempersiapkan diri menghadapinya. Zefanya mengawali narasi tentang hari penghukuman ini dengan memakai 3 ilustrasi – the great sweep away (sapu bersih), the great sacrifice (perjamuan besar) dan the great battle (pertempuran besar). a. Sapu bersih (ayat 1-6) Keseriusan berita yang disampaikan Zefanya nampak dari istilah yang dipakainya “sapu bersih” (sweep away- NIV). Minimal 3x disebut dalam ayat 2 dan 3. Kata yang sama juga dipakai saat banjir besar pada masa Nuh. Apa saja yang akan disapu bersih dari muka bumi? Manusia dan hewan, burung di udara dan ikan di laut, orang fasik dan penyembah berhala. Dengan kata lain semua makhluk hidup akan lenyap dari muka bumi ini. Ini adalah ungkapan murka Allah atas dosa dosa manusia. Allah tidak berdiam diri seperti yang dikatakan sebagian orang. Allah menunjukkan ketidaksukaannya terhadap dosa. Bukan hanya manusia tetapi hewan yang telah dimandatkan kepada manusia juga akan dilenyapkan. Tuhan menyapu bersih seluruh ciptaan-Nya. Saat Allah merentangkan tangan-Nya (mengacungkan-TB) maka bukan hanya ciptaan-Nya saja tapi ilah-ilah sesembahan juga dihancurkan oleh Tuhan. Ilah-ilah yang telah menawan hati banyak orang seperti Baal, dewa hujan orang Kanaan, dan Milkom, dewa orang Amon juga disapu bersih. Tidak ketinggalan para imam berhala yang memimpin pemujaan kepada ilah-ilah juga dibabat habis. Ada juga kelompok yang mendua hati, bersumpah setia pada Tuhan namun bersumpah setia juga pada dewa Milkam. Kelompok ini juga menjadi sasaran kemarahan Tuhan. Allah adalah Allah yang menginginkan kesetiaan Tunggal. b. Great sacrifice – perjamuan besar (ay 7-13) Istilah sacrifice atau perjamuan (Alkitab TB) sangat familiar dalam tata kehidupan orang Yehuda. Mereka sering melakukan upacara dengan membawa persembahan. Allah memakai ilustrasi ini untuk menggambarkan apa yang akan dialami orang Yehuda. Allah sendiri yang mempersiapkan perjamuan dan mengkuduskan para undangan-Nya (ayat 7), namun dalam perjamuan tersebut justru Allah menghukum undangan tersebut. Siapakah mereka? Mereka adalah (i) para pemuka (ii) keluarga kerajaan (iii) para pedagang dan (iv) orang-orang yang suka berdalih atau selalu mencari-cari alasan (excuse). Para pemuka yang telah membawa rakyat pada kesesatan. Para keluarga kerajaan dihukum karena kesombongan mereka. Kedua kelompok ini telah melanggar batas-batas kewenangan mereka (melompati pagar) dan merampas hak-hak sesamanya. Para pedagang dan saudagar yang tamak harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Hari itu akan segera tiba, hari dimana Allah membuat kita hanya bisa berdiam diri (ay.7), hari dimana Allah menghukum para pemimpin (ay.8), hari dimana seluruh penduduk kota meratap sedih (ay. 10), hari dimana orang kaya dan berada akan kehilangan semua milik mereka (ay.13). Hari Tuhan segera datang dan tidak akan ada yang bisa menahannya. Ironisnya, hukuman Allah tersebut dapat dihindari jika orang Yehuda kembali kepada Allah dan menyembahnya sebagai Tuhan mereka. Mereka adalah umat kesayangan Tuhan, namun mereka menolak pesan yang diberikan Allah melalui nabinya. Keangkuhan dan polusi penyembahan berhala telah menutup telinga mereka akan berita keselamatan. c. Great Battle – pertempuran besar (ay 14-18) Ilustrasi ketiga menggambarkan akan kesusahan dan kehancuran seperti sebuah kondisi paska perang. Sebuah kondisi dimana Yerusalem diserbu oleh pasukan asing Hari penghukuman akan datang dengan cepat (ay.14). Zefanya telah menubuatkan tentang hari penghakiman Allah tersebut, sekarang dia menekankan betapa dekat dan cepatnya hari itu datang. Orang-orang pandai dan gagah pun tidak berdaya dan tidak dapat melindungi. Mereka bukan tandingan Tuhan. Hari penghukuman datang dengan sangat mengerikan (ay.15). Sebuah hari kemurkaan dan kesusahan, hari kesia-siaan dan kehancuran, hari kegelapan dan kesuraman, hari mendung dan kegelapan pekat. Hari yang diilustrasikan sebagai perang (ay. 16), sebuah peringatan terhadap kota-kota berpagar dan terhadap menara-menara tinggi. Terompet ditiup untuk mengumpulkan rakyat saat akan berperang. Menara-menara tinggi menjadi tempat para prajurit berusaha menangkal serangan namun hal itu tidak akan ada gunanya. Mereka tidak bisa melawan Tuhan. Hari penghukuman datang membawa pemusnahan (ay.17). Mereka akan berjalan seperti orang buta. Sebuah kebutaan rohani karena dosa terhadap Tuhan. Darah mereka akan tertumpah seperti debu, dan daging mereka seperti kotoran. Hari penghukuman datang dan tidak bisa dielakan oleh siapapun (ay.18). Api akan turun untuk membersihkan. Mereka akan disucikan oleh api Tuhan. Bumi akan dihancurkan oleh api. Ketiga ilustrasi tersebut memperlihatkan betapa Allah sangat serius tentang dosa dan hukuman dosa. Allah adalah Allah yang bertindak namun Allah juga selalu memberikan harapan kepada umat-Nya jika mereka bertobat dan kembali kepadan-Nya. Lesson learnt dari kisah Zefanya dan kepemimpinannya Allah bukanlah Allah yang berdiam diri atas segala dosa dan kejahatan umat manusia. Hari penghakiman akan datang. Hari yang penuh kengerian. Tuhan adalah Tuhan yang adil dan mencintai kebenaran. Manusia berdosa karena menyembah ilah lain (sin of commissions) dan mengabaikan Tuhan (sin of omission). Allah tidak suka bahkan murka atas dosa-dosa terutama penyembahan berhala. Bagi kita, saat ini, Ilah-ilah lain tersebut bukan lagi berupa patung atau ukiran namun bisa berbentuk ponsel, pekerjaan, karir bahkan pelayanan itu sendiri. Mari kita telaah dengan cermat siapakah yang kita sembah dalam hidup ini? Allah selalu terbuka untuk mengampuni jika kita percaya dan datang mohon ampun dan menyembah Dia. Selalu ada harapan jika kita menghampiri-Nya. Hal lain yang dapat kita pelajari dari kepemimpinan Zefanya adalah walau ia termasuk berdarah biru, seorang keturunan raja, dia meninggalkan fasilitas kebangsawanan-nya untuk turun ke jalan mewartakan pesan Tuhan. Dia setia pada panggilan dan memilih menjadi pembawa berita walau beritanya tidak disukai oleh banyak orang. Sebuah keteladanan yang baik. Prinsip-prinsip kepemimpinan dapat diambil dari Zefanya, khususnya dalam bidang akuntabilitas, kerendahan hati, dan upaya mencapai keadilan. Penekanan Zefanya pada konsekuensi ketidaktaatan dan seruan untuk bertobat menggarisbawahi pentingnya kepemimpinan etis dan perlunya pemimpin membimbing pengikutnya dengan cara yang selaras dengan prinsip-prinsip spiritual. Pengaruh Zefanya terhadap raja Yosia sangat besar. Hal ini yang membuat sang raja mengadakan reformasi Rohani besar-besaran di Yehuda. Walaupun reformasi tersebut tidak langgeng namun kemampuan Zefanya untuk berkomunikasi dan berbagi visi dengan Yosia sangat baik. Kepemimpinan adalah pengaruh. Komunikasi adalah bagaimana menerapkan pengaruh tersebut dengan baik. Zefanya mempunyai ketrampilan komunikasi yang bisa kita teladani. /stl
- Etika Kristen dalam Pelayanan Kesehatan: Harmoni dengan Kecerdasan Buatan
Dalam era transformasi digital, kecerdasan buatan (AI) telah memainkan peran sentral dalam merevolusi berbagai sektor, termasuk pelayanan kesehatan di Indonesia. Perkembangan pesat dalam teknologi AI membawa potensi luar biasa untuk meningkatkan diagnosis, pengobatan, dan manajemen penyakit. Di tengah tantangan sistem kesehatan yang kompleks, AI menawarkan solusi inovatif untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan aksesibilitas layanan kesehatan. Namun, sementara AI menjanjikan transformasi positif, penggunaannya juga membawa sejumlah pertanyaan etis dan tantangan yang perlu diperhatikan dengan cermat. Artikel ini akan mengeksplorasi peran evolusioner AI dalam pelayanan kesehatan, menyoroti dampak positifnya, sekaligus membahas aspek etika yang penting dalam menggabungkan kecerdasan buatan dengan nilai-nilai kesehatan dan kemanusiaan. Manfaat yang dihadirkan oleh kecerdasan buatan dalam pelayanan kesehatan Indonesia sangat besar dan beragam. Pertama, AI meningkatkan akurasi diagnosis dengan menganalisis data medis secara mendalam dan mengidentifikasi pola yang sulit dideteksi oleh mata manusia. Hal ini dapat mempercepat proses pengambilan keputusan klinis dan mengarah pada penanganan penyakit yang lebih efektif. Selain itu, sistem AI dapat digunakan untuk memprediksi risiko penyakit dan memberikan intervensi dini, memberikan potensi untuk pencegahan penyakit secara lebih efektif. Penggunaan chatbot atau asisten virtual juga mempermudah pasien dalam mendapatkan informasi kesehatan secara instan dan dapat menjadi sumber dukungan emosional. Secara umum, implementasi AI di pelayanan kesehatan bukan hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memberikan harapan untuk meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan akses masyarakat terhadap perawatan kesehatan yang berkualitas. Beberapa contoh pemanfaatan AI yang telah dilakukan adalah penggunaan platform kesehatan berbasis AI untuk memberikan konsultasi medis secara virtual, pengembangan smart hospital untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas perawatan pasien, dan peningkatan kemampuan diagnostik berbagai penyakit seperti kanker dan retinopati diabetik. Dalam pandemi COVID-19 pemanfaatan AI berkembang dengan sangat pesat. Peranan penting AI dalam mengelola big data menjadi sangat signifikan, baik untuk pemantauan penyebaran virus secara global, pengembangan vaksin, deteksi citra radiologi, analisis prediktif kapasitas layanan kesehatan, serta berbagai analisis untuk mendukung penetapan kebijakan publik dalam penanganan pandemi global. Namun, seiring dengan manfaat yang dihadirkan oleh kecerdasan buatan dalam pelayanan kesehatan, terdapat pula sejumlah risiko dan tantangan yang perlu diperhatikan dengan serius. Salah satunya adalah ketidakjelasan dalam penentuan tanggung jawab. Meskipun AI dapat memberikan rekomendasi dan mendukung pengambilan keputusan, tanggung jawab akhir tetap harus berada pada para profesional kesehatan seperti dokter dan tenaga medis. Sejalan dengan prinsip etika Kristen, di mana setiap orang memiliki tanggung jawab moral atas tindakan dan keputusan mereka, perlu dipastikan bahwa kehadiran AI tidak mengaburkan garis tanggung jawab manusia. Selain itu, risiko pelanggaran privasi dan keamanan data tetap menjadi keprihatinan utama. Dalam pengumpulan dan pengolahan data medis oleh sistem AI, ada potensi besar bagi pelanggaran privasi pasien. Hal ini menuntut kehati-hatian ekstra dalam merancang kebijakan dan infrastruktur yang melindungi informasi pribadi dan medis secara cermat, sesuai dengan nilai-nilai etika Kristen yang menghormati privasi dan integritas setiap individu. Ketergantungan yang berlebihan pada AI juga menjadi risiko yang perlu diatasi. Alkitab mengingatkan kita dalam Kitab Mazmur 146:3, "Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan." Ketergantungan yang berlebihan pada teknologi dapat menyebabkan kehilangan kemandirian dan kebijaksanaan manusia. Sebagai umat Kristen, perlu mempertimbangkan dengan bijak bagaimana teknologi dapat mendukung, bukan menggantikan, peran manusia dalam pelayanan kesehatan demi memelihara nilai-nilai moral dan spiritual. Pemerintah Indonesia telah proaktif merumuskan kebijakan terkait Kecerdasan Buatan melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial. Dalam surat tersebut disampaikan bahwa penyelenggaraan teknologi AI harus memperhatikan nilai etika yang meliputi inklusivitas, kemanusiaan, keamanan, aksesibilitas, transparansi, kredibilitas dan akuntabilitas, perlindungan data pribadi, pembangunan dan lingkungan berkelanjutan, dan kekayaan intelektual. Kecerdasan buatan dalam pelayanan kesehatan memberikan kita akses terhadap knowledge yang luar biasa. Kalimat ini mengingatkan saya pada 3 peristiwa dalam Alkitab, yaitu (1) pohon pengetahuan (Kejadian 2), menara Babel (Kejadian 11), dan pencobaan ketiga Iblis kepada Tuhan Yesus (Matius 4). Ketiga peristiwa tersebut memiliki kesamaan tema, yaitu power dan knowledge yang secara duniawi sangat menggoda manusia. Manusia ingin mengetahui segala hal seperti Allah, manusia ingin membangun bangunan yang paling tinggi untuk melihat segala sesuatu dan menjadi tidak tertandingi, serta kekuasaan terhadap seluruh dunia yang ditawarkan oleh Iblis untuk menggoda Tuhan Yesus dan menggagalkan rencana besar penebusan Allah bagi manusia. Pada bagian lain di Alkitab kita dapat belajar salah satu kisah menarik dalam Kitab Daniel 1, khususnya ayat ke-8, “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.” Beberapa penafsir menyatakan bahwa peristiwa tersebut setidaknya menggambarkan 3 hal utama yang dapat dipelajari: (1) Daniel patuh terhadap hukum makanan taurat, identitas budaya, serta agama yang ia percaya; kita tidak mengetahui secara pasti jenis santapan dan anggur apa yang akan diberikan kepada Daniel, tetapi untuk tidak berkompromi dan menjaga ketaatannya pada hukum yang dipercaya Daniel memilih untuk makan sayur dan minum air saja. Selain itu, Daniel dan rekannya percaya bahwa makanan yang telah ditetapkan oleh hukum Taurat akan memberikan keberkahan dan menjaga kemurnian roh dan tubuh mereka, sesuai dengan ajaran yang mereka percaya. (2) Daniel berani menyampaikan apa yang ia percaya, meskipun ia tahu konsekuensi dari perbuatannya dapat membahayakan dirinya sendiri. (3) Daniel mempertahankan penghormatannya pada Tuhan; dengan menolak makanan yang mungkin dikorbankan kepada dewa-dewa Babel, mereka menyatakan ketaatan dan pengabdian pada Tuhan mereka sebagai satu-satunya Allah yang sejati. Ketika kita diperhadapkan pada akses pengetahuan yang luar biasa, apakah kita akan sepenuhnya bergantung pada hal tersebut? Sebagaimana Daniel memilih jalan kemandirian dengan tidak bergantung sepenuhnya pada kebijaksanaan manusia, tenaga kesehatan perlu mempertimbangkan bahwa meskipun AI memberikan dukungan yang signifikan, tanggung jawab utama tetap berada di tangan mereka. Seperti yang tertulis dalam Amsal 4:7, “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian.” Kita diilhami untuk terus mengasah kebijaksanaan dan pengetahuan, sehingga teknologi hanya menjadi alat yang mendukung, bukan menggantikan, peran kritis kita dalam membuat keputusan terkait profesi kita di dunia kesehatan. Untuk mengambil pelajaran dari kisah Daniel dalam konteks pemanfaatan AI dalam pelayanan kesehatan, kita diajak untuk bersandar pada nilai-nilai etika Kristen dan memperdalam hubungan spiritual kita dengan Tuhan. Seperti Daniel yang tetap setia dalam berdoa, para tenaga kesehatan dapat menemukan kekuatan dan hikmat melalui hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan. Saran praktis yang dapat diambil adalah menjadwalkan waktu saat teduh dan refleksi secara rutin, di mana kita dapat menenangkan pikiran dan merenungkan bagaimana kita dapat mengintegrasikan nilai-nilai etika Kristen dalam penggunaan teknologi AI. Selain itu, penting bagi tenaga kesehatan untuk terus meningkatkan pengetahuan mereka tentang perkembangan terkini dalam bidang teknologi AI dan etika kesehatan. Pelatihan lanjutan dan keterlibatan dalam diskusi etika dapat membantu mengatasi tantangan dan risiko yang mungkin timbul. Selalu membawa prinsip-prinsip etika Kristen ke dalam ruang kerja dan mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai ini akan membantu menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan panggilan untuk memberikan perawatan bermartabat dan berintegritas. Dengan demikian, kita dapat menjadi pionir dalam pemanfaatan AI yang bertanggung jawab, menghormati nilai-nilai etika Kristen, dan memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi. /aas
- Untuk Apa Yesus Lahir (Manifesto Nazaret)
Pada suatu perayaan natal, seorang pengkotbah memulai renungan dengan bertanya: “Apa yang terjadi kalau Yesus tidak lahir sampai hari ini?” Pertanyaan itu membuat saya terkesima, karena saya belum pernah memikirkannya. Banyak dari kita akan menjawab: “aku akan tetap binasa dalam neraka” atau “tidak akan ada keselamatan“ atau “kita bukan anak –anak Allah”, “hampir seluruh dunia masih menyembah berhala”, atau jawaban-jawaban lain yang berfokus pada hubungan pribadi dengan Allah. Benarkah Yesus hanya lahir untuk pribadi demi pribadi? Benarkah sukacita gegap gempita nyanyian malaikat di padang rumput 2000 tahun yang lalu untuk itu saja? Untuk Apa Yesus Lahir Apa yang Yesus proklamirkan di sinagoge Nazaret, masa awal pelayanan-Nya mungkin dapat menjawabnya. Setelah Dia berpuasa dan dicobai Iblis, Yesus memulai pelayanan mesianik-Nya. Dia datang ke Nazaret. Pada hari sabat, di sinagoge, Yesus membacakan bagian Firman Tuhan yang dikutip dari Yesaya 61: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku , untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Lukas 4: 18-19) Yesaya menulis ratusan tahun sebelumnya, yakni suatu nubuat akan datangnya kerajaan Allah oleh sang Mesias, Yang Diurapi. Kelak bagian ini disebut orang sebagai Manifesto Nazaret, suatu pernyataan sikap yang diproklamirkan di Nazareth oleh sang Raja, Yesus Kristus. Sebagai yang diurapi oleh Allah, sang Mesias, Yesus memproklamasikan datangnya kerajaan-Nya pada hari itu: “hari ini, genaplah nats ini.” Hari itu kerajaan Allah sudah datang, bukan akan datang. Tim Keller menuliskan Kerajaan Allah itu adalah pembaruan dari seluruh dunia melalui masuknya kekuatan supernatural. Saat segala sesuatu dibawa kembali di bawah wewenang Kristus, semua akan dipulihkan menjadi sehat, indah, dan bebas. Merenungkan hal ini membuat kita mengerti mengapa malaikat surga menyanyi gegap gempita di malam kelahiran Kristus. Kelahiran yang menghadirkan kerajaan Allah di bumi yang gelap. Kerajaan Allah yang bagaimana yang Yesus hadirkan? Manifesto Nazaret 1. Kabar baik bagi orang miskin Apakah Yesus hanya datang buat orang miskin? Apa yang dimaksud miskin disini? Kata miskin yan dipakai adalah ptokhos artinya sangat miskin: yang berharap pada Tuhan, yang tidak berguna. Dalam buku Mengasihi Tanpa Menyakiti, Steve Corbet dan Brian Fikkert menuliskan bahwa kemiskinan terjadi karena rusaknya 4 hubungan dasar akibat masuknya dosa dalam dunia: Hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya, manusia dengan manusia lain, manusia dengan alam semesta. Dosa merusak keempat hubungan itu dan membuat setiap umat manusia menderita kemiskinan: kemiskinan keintiman rohani, kemiskinan diri, kemiskinan komunitas, dan kemiskinan penatalayanan. Keempat relasi yang pada mulanya Allah ciptakan untuk membuat manusia dan seisi ciptaan hidup penuh damai sejahtera dan sukacita. Keempat kemiskinan tersebut pada sebagian orang menyebabkan kemiskinan materi, kemiskinan budaya, kemiskinan pendidikan, kemiskinan sosial, dan kemiskinan di berbagai segi kehidupan. Kemiskinan penatalayan membuat sebagian orang jatuh dalam gila kerja, eksploitasi manusia lain dan alam. Kemiskinan rohani membuat manusia jatuh lebih dalam lagi pada kemiskinan di berbagai sektor. Yah, itulah kabar baik itu. Itulah mengapa disebut kabar baik karena semua ciptaan yang jatuh dalam kemiskinan ini sedang menantikan datangnya kabar ini: pembebasan, pemulihan dan pembaharuan. 2. Pembebasan pada tawanan, penglihatan pada yang buta dan membebaskan orang yang tertindas. Buta, tawanan, dan tertindas tidak hanya dalam hal jasmani tetapi juga secara sosial budaya dan rohani. Yesus tidak semata menyembuhkan orang yang buta secara fisik tetapi memberi pandangan kepada mereka yang buta secara rohani atau memberi pengertian kepada mereka yang tidak sanggup mengerti kebenaran. Tawanan yang berarti tawanan perang: Yesus datang untuk memberi pengampunan dan pembebasan pada yang tertawan karena dosa. Lukas 4: 18-19 dibaca dari Yesaya 60: 1-2. Pada bagian sebelumnya Yesaya menuliskan kemarahan Tuhan pada bangsa Israel (Yesaya 58-60). Bagian ini difirmankan Tuhan sebagai teguran karena bangsa Israel mengabaikan keadilan sosial saat mereka menjalankan kegiatan keagamaan. Orang Israel masa itu mengabaikan anak yatim, janda dan orang asing. Jelaslah bahwa makna tawanan, tertindas pada bagian ini tidak semata merujuk pada hal rohani namun juga hal sosial. Sesungguhnya miskin, buta, tertawan dan tertindas menggambarkan kehidupan manusia di luar Kristus. 3. Memberitakan tahun rahmat Tuhan telah tiba Dalam tradisi bangsa Israel, setiap tahun ke-50 merupakan tahun Yobel, tahun pembebasan atau disebut juga tahun rahmat Tuhan. Pada tahun ini setiap tanah yang sudah digadaikan dikembalikan pada pemiliknya, budak-budak dibebaskan, hutang-hutang dihapuskan. Tahun ini menggambarkan pemulihan: semua yang hilang dikembalikan, semua yang rusak diperbaiki dan dipulihkan. Dengan mengatakan ini Yesus memproklamirkan dimulainya kehadiran kerajaan Allah, kerajaan yang membawa hasrat Allah untuk menyembuhkan, merestorasi dan memperbaharui (Healing – Restoration – Renewal). Ya! Bersukacitalah, gegap gempitalah, sebab Kerajaan Allah telah datang, sedang datang, dan akan menuju kesempurnaannya pada saat kedatangan Kristus kedua. Kerajaan yang Telah, Sedang dan akan Datang Sejak kehadiran Yesus, dunia tak pernah lagi sama. Yang miskin diberi makan. Yang miskin relasi diri dan sosial seperti Zakehus dan perempuan Samaria dipulihkan serta dibebaskan dari keterasingan dan citra diri yang rusak. Yang sakit disembuhkan, yang buta dicelikkan matanya, yang tidak memahami kebenaran diberi pengertian, yang tertawan oleh roh jahat dibebaskan. Hingga pada puncaknya rusaknya hubungan dengan Allah (kemiskinan rohani) dipulihkan melalui penyaliban dan kebangkitan-Nya. Layaknya manifesto; pernyataan sikap suatu kelompok, maka apa yang Yesus kerjakan diteruskan oleh para murid-muridnya hingga hari ini. Hadirnya Roh Kudus memampukan para murid, jemaat mula mula, dan orang orang percaya sampai hari ini untuk meneruskan Manifesto Nazaret ini. Pengikut Kristus meneruskan hadirnya kerajaan Allah dalam dunia – dari satu tempat ke tempat lain sampai ke seluruh dunia, dari abad satu ke abad lain, dari suatu peradaban ke peradaban lain, dari satu bidang kehidupan ke berbagai bidang kehidupan. Sejarah mencatat bahwa pelayanan kesehatan, Samaritan law, tatanan hukum, penghapusan perbudakan, pemerataan pendidikan dan tingkat sosial, tatanan sosial, penghapusan perbudakan, undang-undang pernikahan yang mengatur monogami, perlindungan anak yatim dan kaum yang rentan, perkembangan seni dan ilmu pengetahuan sangat dipengaruhi oleh pengikut Kristus atau kekristenan. Sesungguhnya, sampai hari ini, dunia dengan segala kekurangan di sana sini, Kekristenan telah membawa dampak besar pada dunia. Penutup Apa yang terjadi jika Yesus belum lahir sampai hari ini? Ijinkan saya menjawab: Saya tetap hidup dalam dosa, tidak mengenal dan memiliki relasi dengan Allah. Saya dan keluarga saya mungkin akan menyembah berhala, baik berhala kuno maupun ilah-ilah modern. Saya akan hidup hanya untuk hari ini, tanpa tahu untuk apa saya hidup. Pasti saya akan bekerja tanpa ada libur di hari Minggu. Saya akan total mengejar karir, bisa jadi sampai mengabaikan anak dan suami. Mungkin malah sebaliknya, saya tidak bisa memiliki pendidikan tinggi seperti yang saya mau karena tidak diperuntukan untuk wanita atau untuk kelas sosial dimana saya berada. Saya akan hidup dalam kecemasan dan rasa takut di tengah dunia yang semakin jahat. Relasi keluarga saya buruk satu sama lain. Kehidupan pernikahan yang bebas atau mungkin tanpa pernikahan. Mungkin saya akan lahir dari keluarga yang poligami atau bisa saja pernikahan saya pun adalah pernikahan poligami. Saya akan berada di pemerintahan yang mungkin semena-mena dan perbudakan yang masih berlangsung di masyarakat. Saya akan hidup dalam tatanan hukum yang jauh dari kebenaran dan keadilan. Sarana layanan masyarakat (kesehatan, pendidikan, lingkungan pemukiman, dan lainnya) mungkin tidak dapat secara adil saya nikmati karena adanya pembedaan kelas dan golongan masyarakat. Alam ini mungkin sudah jauh lebih rusak: tidak akan ada yang mengkampanyekan ‘Go Green’, akan ada banyak rekayasa genetika yang berdampak buruk bagi kemanusiaan karena mungkin tidak ada kajian etik yang menahannya, peperangan akan lebih banyak lagi terjadi, dan mungkin masih banyak penjajahan di berbagai tempat. Ada banyak kemungkinan yang kita dapat tambahkan. Puji Tuhan! Kristus lahir dan kerajaan-Nya pun telah datang. Kehadiran kerajaan Allah 2000 tahun yang lalu, terus berlangsung sampai hari ini dan menuju kesempurnaannya pada kedatangan Kristus kedua kali. Kita umat percaya yang sudah terhisap di dalam warga kerajaan Allah, harus menghadirkan kerajaan Allah ini ke sekitar kita dan memberi kesempatan pada orang di sekitar kita mencicipi Kerajaan Allah yang telah hadir itu: menyembuhkan, memulihkan, dan memperbaharui. Seperti Kristus melakukannya dalam semua aspek kehidupan: rohani, jasmani, sosial, budaya, politik, kesehatan, dan ilmu pengetahuan. Seperti para murid dan orang percaya mula-mula, mari kita teruskan Manifesto Nazaret sampai sang Raja datang kembali. Melakukannya tidak sekedar berdiri di mimbar memberitakan pemulihan relasi dengan Allah, tetapi hidup di antara dan bersama manusia lain: menghadirkan kerajaan Allah melalui profesi, pertemanan, hobi, kegiatan sehari-hari, keluarga, lingkungan tempat tinggal, bangsa dan negara. Melakukannya tidak dengan mengasingkan diri agar tetap kudus, tetapi berani keluar memberi warna untuk menghadirkan proses penyembuhan, restorasi dan pembaharuan. Melakukannya mungkin tidak pada sejumlah besar orang tetapi seusai dengan apa dan siapa yang Tuhan percayakan dan bawa pada kita. Membawa kebenaran dan keadilan yang Kristus telah hadirkan untuk dapat dicicipi oleh orang di sekitar kita. Semuanya mungkin karena Allah telah hadir dan diam di dalam kita. Imanuel. Penulis adalah seorang konsultan ginjal dan hipertensi di RSUD Tarakan, Jakarta. /aas
















