top of page

Hati-hati di Jalan



Sungguh panjang perjalanan menjadi seorang dokter. Pendidikan yang ditempuh selama minimal lima tahun, belum lagi jika ingin sekolah lanjut, apalagi mengambil pendidikan spesialis tertentu. Sebuah perjalanan yang panjang dan tidak mudah. Seumpama perjalanan di padang gurun. Perjalanan di padang gurun tidaklah mudah. Ada masa dimana terus-menerus merasa haus dan kehilangan kesabaran. Ada masa dimana emosi dibawa ke sisi yang berbeda ketika malam mulai datang. Semua perjalanan ini adalah sebuah proses.


Tuhan membebaskan bangsa Israel dari Mesir dengan ajaib. Namun, ini tidaklah cukup bagi bangsa Israel untuk percaya terhadap perlindungan dan penyertaan Tuhan. Dalam tiga hari perjalanan ke Tanah Perjanjian, bangsa Israel mengeluh kepada Musa karena air di Mara terasa pahit dan tidak dapat diminum (Keluaran 15:22-24). Mulai dari saat itu, orang Israel mengeluh dan tidak patuh kepada Musa. Maka dari itu, perjalanan ke Tanah Perjanjian yang seharusnya 40 hari menjadi 40 tahun.


Hal yang sama, Tuhan juga mengizinkan kita untuk diterima di fakultas kedokteran. Namun dalam perjalanan, seringkali kita merasa putus asa, tidak mampu, bahkan frustasi dan marah kepada Tuhan ketika mendapati kesulitan didalamnya. Padang gurun bukanlah tujuan akhir bangsa Israel, tetapi sebuah transisi dan pemurnian iman. Begitu juga dengan perjalanan kita sebagai dokter atau tenaga medis.


Jalan Terus

Ketika kita sudah berhasil menjadi seorang dokter, kita merasa perjalanan kita selesai. Bekerja melayani pasien dari satu tempat ke tempat lain. Sesungguhnya, perjalanan kita belum usai, tetapi yang kita kerap lakukan adalah berhenti dan membangun tenda. Mungkin karena nyaman, merasa tidak punya kesempatan, atau kebingungan? Atau perjalanan di “padang gurun” ini terasa begitu melelahkan sehingga kita tidak sanggup untuk melangkah? Ingat, padang gurun ini bukan tujuan akhir kita. Untuk menyelesaikan perjalanan iman dengan baik, kita perlu tahu kapan harus berhenti, beristirahat, dan pulih. Datanglah kepada Tuhan, belajarlah untuk mengalihkan fokus kepada-Nya dan arahkan telinga kepada apa yang Dia perintahkan untuk kita lakukan. Terkadang Tuhan berbicara kepada kita bukan dengan cara yang dramatis, malah sangat sederhana - dengan suara yang halus dan bisikan yang lembut. Untuk mendengar bisikan, kita perlu mendekat ke sumbernya. Datanglah kepada-Nya dan bertanya apa yang bisa aku perbuat lagi? Aku harus kemana lagi?


Pernah Terjebak

Mungkin kita bukannya bermaksud mau berhenti dan bangun tenda saja. Namun, kita pernah mencoba melangkah dan tidak berhasil. Coba mendaftar sekolah lanjut, tapi gagal. Coba melamar ke pekerjaan lain, tetapi tidak ada kesempatan atau panggilan kerja. Kita jadi terjebak dalam situasi yang nampak datar, di tempat yang tampak biasa-biasa saja dan tanpa tujuan, begini-begini saja, yang kemudian dapat menjadi zona nyaman kita. Jika kita berada di situasi itu, tetap setia, jangan putus asa, arahkahlah pandangan dan terbukalah kepada kesempatan yang lain. Tuhan tidak pernah menetapkan sesuatu yang sia-sia untuk hidup kita.


Tuhan juga tidak menyerah terhadap diri kita. Selama melalui masa-masa sulit, kita perlu belajar untuk menundukkan kepala, kuatkanlah hati dan lakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh. Pertemuan Musa dengan Tuhan melalui semak duri menjadi penentuan hidup Musa setelah menghabiskan 40 tahun dalam hidupnya menjadi seorang gembala di padang gurun Midian. Tuhan memberikan Musa satu tujuan dan Musa berani melangkah. Ijinkanlah waktu di “padang gurun” ini menjadi tempat pertemuan secara pribadi dengan Tuhan dan menilik kembali apa yang Tuhan mau kita kerjakan.


Kenali karakter-Nya

Dalam perjalanan kehidupan kita yang mungkin nampak seperti melewati padang gurun, Tuhan mengijinkan cobaan datang untuk melihat apakah kita bisa percaya kepada karakter Tuhan yang tidak akan pernah berubah. Kita bisa mengenal karakter Tuhan melalui Firman-Nya. Disaat kita mengenal Dia secara pribadi, kita bisa percaya kepada Dia dengan sepenuhnya.


Tidak sampai disitu, iblis menyerah tanpa henti. Iblis membawa dan menantang Yesus untuk membuktikan identitas-Nya sebagai Anak Allah. Yesus yakin sepenuhnya dengan identitas-Nya sebagai Anak Allah. Dia tidak perlu membuktikannya dan Dia percaya sepenuhnya terhadap apa yang Allah telah katakan. Meragukan identitas kita adalah cara iblis untuk membuat kita berkelana tanpa tujuan bahkan sengsara di padang gurun dan mencegah kita untuk menikmati janji Allah. Rasa tidak aman akan datang ketika kita mulai meragukan siapa diri kita sehingga kita merasa perlu membuktikan identitas diri. Kita mulai takut atas apa yang orang pikirkan terhadap kita.


Temukan identitas di dalam Dia

Kita semua bercela dan rusak. Mengapa harus bergantung pada penerimaan orang lain yg sama rusaknya dengan kita? Berhenti menjadi pribadi yang dibentuk orang lain, berubah lah menjadi pribadi yg dirancang Tuhan atas kita. Hidup kita tidak ditentukan oleh apa yang dilakukan atau dikerjakan, tidak juga oleh gelar dan pencapaian. Kita bebas menerima kasih Tuhan, terlepas dari apapun latar kita. Tuhan menerima kita bukan karena apa yang sudah kita perbuat. Kepercayaan diri kita berada dalam sebuah kebenaran bahwa kita adalah anak Allah. Itulah yang memberikan identitas kita.


Saudara mungkin sedang dalam perjalanan yang terasa seperti di padang gurun. Bagi Anda yang baru lulus atau di tahun-tahun awal lulus dari pendidikan dokter atau dokter gigi, perjalanan ke depan sering tampak buram, tiada ujung, dan membuat Anda bingung. Namun yakinlah bahwa Tuhan mungkin mengizinkan kita melaluinya untuk melatih kita. Seringkali kita punya masa-masa putus asa dan ketakutan. Kemudian kita cenderung memilih untuk menghindari, lari, atau menyerah. Takut penolakan, takut kegagalan. Tapi, bagaimana jika perjalanan melewati padang gurun itu adalah anugerah terselubung? Bagaimana jika ketika kita menerobos padang gurun itu dan terus berjuang adalah jalan untuk menemukan tanah perjanjian? Alih-alih melarikan diri atau menyerah, berlarilah ke arah-Nya dan Tuhan akan memeluk kita. Genggamlah Tuhan, jangan lepaskan, sampai kita dituntun karena Tuhan memberikan diri-Nya bagi kita.


Gurun dunia tak lagi menakutkan

Kristus t’lah menang atas pencobaan

Anugerah dib’ri berjalan dengan iman

Sampai tiba di Tanah Perjanjian

(Sepenggal lagu: Dipanggil untuk kemuliaan-Nya, KNM Perkantas 2013)



*Penulis bekerja dalam bidang manajemen di salah satu grup rumah sakit swasta


/stl

110 views0 comments

Recent Posts

See All

コメント


bottom of page