top of page
Subscribe
Instagram
Facebook
Donation

146 results found with an empty search

  • Gereja yang Tak Tergantikan

    Lima hingga sepuluh tahun lalu, pernahkah kita membayangkan bahwa beribadah di gereja tidak selalu berarti benar-benar pergi dan bisa dilakukan di rumah melalui layar? Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa akan ada masanya dimana beribadah dapat dilakukan secara online dengan kemajuan teknologi. Saat pandemi COVID-19 begitu kritis, kita tentu bersyukur dengan adanya teknologi yang memungkinkan kita untuk tetap beribadah tanpa meningkatkan risiko penularan yang saat itu masih sangat tinggi dan vaksin masih dalam proses pengembangan. Namun, fenomena ”gereja online” pada masa itu membuat saya justru semakin meyakini satu hal: pertemuan fisik dan persekutuan dengan orang percaya lainnya di gereja itu tak akan pernah tergantikan. Komunitas yang berharga Saat kita beriman pada kematian dan kebangkitan Kristus, kita menerima anugerah Roh Kudus dan menjadi anggota keluarga kerajaan Allah (Efesus 1:5,13). Kita pun menjadi bagian dari pekerjaan Tuhan melalui gereja-Nya di dunia dan juga dipanggil untuk bersekutu dan melayani dalam gereja lokal tempat kita beribadah. Kristus sendiri begitu mengasihi gereja-Nya, Dia memenangkannya dengan darah-Nya sendiri (Kisah Para Rasul 20:28). Ia memberi jaminan bahwa alam maut tak akan berkuasa atas jemaat-Nya (Matius 16:18). Adakah komunitas lain dibentuk oleh dunia ini yang demikian? Jika kita berkata kita mengasihi Kristus, sudah sepatutnya kita pun mengasihi gereja yang dikasihi-Nya. Lantas, apa yang kurang dengan gereja virtual? Bukankah secara esensi sama saja dengan gereja seperti biasa? Bukankah hal tersebut telah menjadi solusi saat pandemi dan mungkin menjadi jalan keluar bagi kaum profesional dengan jadwal yang sibuk, termasuk para tenaga medis? Sesungguhnya, ada banyak yang hilang jika kita hanya mengandalkan pertemuan ibadah secara daring. Dalam gereja, kita bisa menyembah Allah bersama-sama sebagai satu tubuh. Kita adalah bagian dari gereja, tetapi Tuhanlah kepalanya. Mengikuti ibadah di gereja memberikan kita kesempatan untuk benar-benar duduk, diam, tenang, mendengar firman, sesuatu yang sangat sulit dilakukan di waktu lain dalam hari-hari kita yang kerap dipenuhi dengan gawai, sosial media, berbagai pertemuan pekerjaan. Mendedikasikan waktu dua jam penuh untuk menyembah dan mendengar Tuhan dalam gereja pun melatih pikiran dan jiwa kita untuk tidak dipusingkan dengan hal-hal dunia yang merenggut sukacita dan belajar untuk berserah pada Allah yang memegang kendali. Gereja juga memberikan lingkungan yang baik untuk bertumbuh sebagai orang Kristen. Di dalam gereja, kita akan bertemu, bertegur sapa, dan bertukar hidup dengan orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Dalam organisasi profesi mungkin akan cukup mudah memahami cara pikir rekan sejawat kita karena berasal dari profesi yang serupa, tetapi dalam gereja, mungkin diperlukan seni tersendiri untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain yang berasal dari profesi yang berbeda-beda. Kita dapat mempertajam karakter kita ketika bergaul dengan anggota tubuh Kristus yang berbeda karakter dan cara pandang. Kita belajar untuk mengakui kesalahan, memberi pengampunan, dan meneruskan kasih karunia kepada sesama kita dalam gereja karena mereka juga adalah saudara di dalam Kristus. Gereja memang bukanlah komunitas yang sempurna. Tak jarang kita mendengar banyak hal tak menyenangkan terjadi di dalam gereja bahkan mungkin kita melihat atau mengalaminya sendiri. Namun, jika kita hanya fokus melihat cacat dari gereja saja, maka bisa jadi kita telah terjatuh dalam tipuan si jahat. Salah satu pekerjaan Iblis adalah membuat mata kita tertutup dari keindahan gereja dan membuat kita merasa gereja sudah begitu bobrok dan tak ada yang bisa diperjuangkan lagi di dalamnya. Syukur kepada Allah bahwa di dalam Kristus, kita tetap memiliki pengharapan bahwa Dia sendirilah yang terus menjaga gereja-Nya hingga Dia datang kembali. Oleh kuasa Roh Kudus, kita akan ditolong untuk terus mengasihi gereja, bagaimanapun tak sempurnanya ia. Gereja online telah Tuhan pakai untuk menjaga umat-Nya bahkan memperluas kerajaan-Nya selama masa pandemi. Namun, gereja secara fisik tetap tak tergantikan dan kehadiran kita pun terus dinanti (Ibrani 10:24-25). Betapapun padatnya pekerjaan Anda sepanjang minggu, betapapun lelahnya perjalanan menuju tempat ibadah, bagaimanapun tidak sempurnanya gereja Anda, teruslah berjuang untuk hadir, menyembah, melayani, dan bersaksi di dalam dan melalui gereja. *Penulis melayani sebagai ibu rumah tangga dan bekerja sebagai medical editor paruh waktu /stl

  • Melakukan Pekerjaan-Pekerjaan yang Lebih Besar, Mission Impossible or Possible?

    Eksposisi Yohanes 14:12-17 Beberapa hari belakangan ini saya membantu seorang anak Kelompok Tumbuh Bersama (KTB), yang bergumul dengan sebuah penugasan dari atasannya. Dia ditunjuk menjadi salah satu utusan dari beberapa kantor pemerintah daerah di Indonesia dalam konferensi perubahan iklim di Paris akhir November nanti. Anak KTB saya ini merasa kemampuannya berbahasa Inggris masih kurang, apalagi bila nanti harus presentasi dan berdiskusi dalam konferensi itu. Dan ini pertama kalinya dia diutus ke luar negeri. Penugasan ini jadi suatu “mission impossible” buat dia, meskipun dia sadar ini adalah kesempatan istimewa untuk kerjakan panggilan Tuhan dalam profesinya. Sesungguhnya pergumulan seperti ini sering kita hadapi sebagai murid-murid Kristus yang berusaha taati panggilan-Nya. Maka penting bagi kita untuk bisa hadapi pergumulan ini dengan benar. Bila kita simak isi pasal keempatbelas Injil Yohanes, tampak pada bagian intinya Yesus memberikan suatu penugasan yang saya pikir akan menjadi suatu “mission imposible” bagi murid-murid-Nya saat itu—maupun juga kita murid-murid-Nya saat ini. Ia berkata kepada mereka, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu” (Yoh. 14:12). Bila kita perhatikan konteksnya dalam Injil Yohanes, pasal ini terdapat dalam suatu bagian besar di mana Yesus membukakan diri-Nya lebih lagi secara eksklusif kepada murid-murid-Nya, terkait Ia akan kembali kepada Bapa-Nya. Ia juga telah memberitakan kepada mereka tentang kematian-Nya dan bahwa Ia akan dikhianati (Yoh. 12:20-36, 13:18-30). Yesus tahu perasaan dan pikiran murid-murid-Nya mendengar hal itu. Sebab itu Ia berusaha menenangkan kegelisahan hati mereka, dan meminta mereka percaya bahwa Dia pergi untuk menyiapkan tempat di rumah Bapa, dan akan kembali untuk membawa mereka ke sana (Yoh. 14:1-3). Dan untuk bisa menikmati itu, hanya 1 syarat yang harus dipenuhi mereka: percaya kepada Yesus dan pekerjaan-pekerjaan-Nya (Yoh. 14:4-11). Sungguh menenangkan bukan? Tetapi saya pikir, pasti murid-murid jadi gelisah lagi saat mendengar pernyataan Yesus di ayat 12 tadi. “Mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Yesus secara lebih besar lagi? Mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sama besar saja sulit, bagi kami yang masih baru magang saja dalam misi Yesus, banyak kelemahan, banyak kekurangan. Belum lagi kondisi sekitar tak mendukung. Yesus saja bilang Dia akan dikhinati dan mati, karena pekerjaan-pekerjaan-Nya. Apalagi kalau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi”, mungkin demikian pikir mereka. Saya yakin, kita juga berpikir demikian. Melihat kemampuan diri. Melihat kelemahan dan kegagalan diri. Melihat kondisi keluarga. Melihat kondisi dunia saat ini. Melihat orang-orang yang Tuhan percayakan untuk kita layani. Mission impossible juga itu. Ya tentu akan demikian adanya bila kita hanya memandang kepada hal-hal di atas. Tetapi akan lain halnya bila kita memandang kepada Yesus dan apa yang Ia firmankan itu. Pertama, mari simak apa yang Yesus maksud dengan “melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu”. Kata yang digunakan pakai untuk “pekerjaan-pekerjaan” itu dipakai berulang kali dalam pelayanan Yesus yang tercatat di Injil Yohanes: (1) menginjili perempuan Samaria [4:34]; (2) Menyembuhkan orang lumpuh di kolam Bethesda [5:20; 7:21]; (3) Menyembuhkan orang yang buta dari lahir [9:3,4]; (4) Beragam mujizat [7:3; 10:25,32,33,37,38; 14:11,12; 15:24]; (5) Pengajaran Yesus [10]; (6) Keseluruhan pelayanan Yesus [5:36; 17:4]. Jadi, “pekerjaan-pekerjaan” ini menyangkut segala bentuk pelayanan yang Yesus kerjakan. Jika dikaitkan dengan kita, maka akan mencakup segala macam pekerjaan yang Tuhan percayakan untuk kita kerjakan sebagai bagian dari misi-Nya. Kedua, simak frase “yang lebih besar dari pada itu”. Frase ini diterjemahkan dari kata “meizona”, yang artinya lebih besar dalam kualitas, lebih bernilai penting, atau lebih impresif. Mengapa pekerjaan-pekerjaan ini lebih besar dalam kualitas, lebih bernilai penting, lebih impressif? Dan pekerjaan macam apa ini? Jawabannya bisa kita dapat dari apa yang ada di ujung ayat 12, “Sebab Aku pergi kepada Bapa”. Bagaimana caranya Yesus pergi kepada Bapa? Melalui kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pekerjaan Yesus, yang Yesus katakan akan kita kerjakan itu, adalah meyaksikan lewat perkataan dan perbuatan kita, sesuai dengan panggilan dan karunia-Nya kepada kita masing-masing, tentang karya-Nya yang telah selesai sempurna di kayu salib, dan tentang Kerajaan-Nya yang telah Dia hadirkan. Pekerjaan pelayanan Yesus sebelum kematian dan kebangkitan-Nya, hanyalah awal dari dua hal tersebut. Sebab itu, pekerjaan pelayanan yang kita kerjakan karena Dia sudah mati dan bangkit itu, “lebih besar” dari pekerjaan pelayanan-Nya itu. Nah, sekarang tinggal melihat apakah ini tepat kita pandang sebagai suatu “mission impossible” atau “mission possible”? Untuk hal ini, Yesus telah memberikan pertolongan besar bagi kita lewat 4 hal yang Dia nyatakan. Kita sudah dimungkinkan untuk mengerjakan pekerjaaan-pekerjaan yang lebih besar itu. Lihat Yesus berkata “Sebab Aku pergi kepada Bapa” (14:12). Bagi murid-murid-Nya saat itu, Dia baru akan pergi kembali kepada Bapa-Nya, lewat kematian dan kebangkitan-Nya. Tetapi bagi kita, murid-murid-Nya yang hidup di zaman ini, jelas Dia telah mati dan bangkit, dan telah kembali kepada Bapa. Jadi kita sudah dimungkinkan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pekerjaan-pekerjaan-Nya. Kedua, Kita berdoa saja sehingga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar itu jadi “mission possible”. Lihat Yesus berkata, “dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya. (14:13-14)" Ketika kita menaikkan permohonan “dalam nama Yesus”, yang artinya melalui Yesus, yang telah ada di surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, sebagai perantaraan, maka Yesus sendiri yang akan memberikan apa yang kita minta itu. Perhatikan dua kali Yesus katakan “Aku akan melakukannya”. Dia yang telah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Bapa perintahkan dalam misi-Nya di dunia ini, akan terus mengerjakannya. Mengerjakan pekerjaan-pekerjaan besar itu dari surga sebagai respon terhadap doa-doa yang kita murid-murid-Nya naikkan dari dunia ini. Dia mengerjakan-Nya di dalam dan melalui kita. So, mission possible! Hanya saja, masihkan kita mengerjakan tugas panggilan kita dengan sikap dalam nama-Nya? Ketiga, supaya Dia bisa mengerjakan itu di dalam dan melalui kita, kita diminta “…mengasihi Aku, … menuruti segala perintahKu”. Ingat bahwa pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar itu adalah kesaksian kita akan karya-Nya yang telah selesai sempurna di kayu salib, dan tentang Kerajaan-Nya yang telah Dia hadirkan. Sudah jelas kita harus menunjukkan Dia adalah Sang Raja dalam hidup kita dengan menaati perintah-perintah-Nya. So, mission possible jika kita taati segala perintah-Nya. Hidup dan melayani sesuai Injil-Nya. Hanya, masihkan kita terus taati segala perintah-Nya, ketika godaan dan tantangan datang mengancam? Dan itu lahir dari kasih kita kepada-Nya? Keempat, sebagai pamungkas, Yesus menjanjikan “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu (14:16-17)” Yesus janjikan Roh Kudus, yang disebut sebagai “seorang Penolong yang lain”. Kata Yunaninya Parakletos. Kata ini lebih cocok diterjemahkan seperti dalam New English Translation, “another Advocate”. Sebab Yesus sedang menggunakan gambaran situasi dalam ruang sidang pengadilan. Seorang advokat akan memberikan advokasi-advokasi atau dukungan-dukungan terhadap posisi atau sudut pandang orang yang didampinginya dalam proses pengadilan. Dan ini dilakukan terus selama proses pengadilan itu. Ini peran yang dimainkan Roh Kudus terhadap murid-murid ketika mereka mengerjakan misi yang Yesus berikan. Sebelum Yesus kembali kepada Bapa, Dialah yang memainkan peran ini bagi murid-murid-Nya. Setelah Yesus kembali kepada Bapa, Roh Kudus akan menggantikan Yesus jalankan peran itu. Itu sebabnya Yesus bilang “seorang Advokat yang lain”. Dan, Advokat Pengganti ini akan mendampingi murid-murid selamanya, berdiam di dalam murid-murid-Nya. Di dalam kita juga tentunya. Dan Advokat ini telah diberikan kepada kita bukan? Kurang apa lagi agar pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar itu jadi mission possible? Hanya apakah kita mendengarkan dan menerima advokasi-advokasi Advokat kita ini? Dan kita terus berdoa dan berjuang hidup kudus, agar Advokat kita ini bisa terus bekerja di dalam kita? Kiranya anugerah Tuhan cukup bagi kita masing-masing, sehingga kita dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Yesus yang lebih besar lagi, dan dunia bisa mendengar serta melihat Dia, karya-Nya yang telah selesai sempurna di kayu salib, serta Kerajaan-Nya yang sudah, sedang dan akan datang. *Penulis merupakan staf Perkantas Jakarta /stl

  • Meneliti Manusia dan Mengenal Allah

    Pada tahun 1972 sekelompok peneliti menghentikan sementara proses penelitian teknologi DNA rekombinan. Sebuah teknologi yang menjadi pintu gerbang dan salah satu teknologi kunci untuk penelitian-penelitian canggih saat ini. Peristiwa tersebut merupakan penghentian kali pertama yang dilakukan oleh peneliti secara sukarela. Para peneliti saat itu takut bahwa penelitian mereka akan menghasilkan “Frankencells” yang mungkin saja resisten terhadap antibiotik, menimbulkan wabah, atau menginduksi terjadinya kanker. Kita tidak mengetahui pasti proses diskusi para peneliti saat itu, mungkin ada pro dan kontra ketika mereka akhirnya memutuskan penghentian sementara karena alasan kemungkinan dampak buruk dan dampak sosial yang mungkin dihasilkan. Selanjutnya, mereka membuat komite multidisiplin untuk menilai berbagai kemungkinan dan mencegah terjadinya dilema maupun konsekuensi etik dalam penelitian tersebut. Langkah yang sangat langka, menarik, dan akhirnya berdampak bagi dunia penelitian. Saat ini kita dapat menjumpai berbagai protokol penelitian, forum diskusi, badan penelaah, lembaga, dan pusat studi bioetika yang sangat membantu peneliti, khususnya saat menghadapi dilema etik dalam penelitian. Saat ini, peneliti bukan saja dapat menggunakan teknologi DNA rekombinan seperti yang dikembangkan pada tahun 1972. Publikasi penelitian telah menggambarkan betapa jauhnya penelitian telah berkembang dengan adanya sel punca embrionik manusia yang dapat dikembangkan menjadi “apa saja”. Dengan teknologi yang ada manusia dengan mudah dapat mempelajari, memodifikasi, dan memperbaiki gen. Manusia juga dapat “menciptakan” berbagai organ untuk pendidikan maupun terapi berbagai penyakit. Di satu sisi kemampuan manusia untuk menciptakan dan melakukan penelitian terhadap model telah membantu mengatasi dilema etik dibandingkan dengan penelitian yang harus dilakukan pada manusia yang hidup. Namun, di sisi lain perkembangan risiko terjadinya dilema etik juga semakin berkembang karena kemungkinan terciptanya “Frankencells” akan terus ada dan risikonya semakin tinggi seiring dengan bertambahnya jumlah dan perkembangan teknologi. Dalam menghadapi dilema etik secara umum kita mengenal beberapa prinsip seperti: (1) Removal (penghindaran total) terhadap seluruh hal yang terkait dengan kondisi tersebut; (2) Disclosure (pengungkapan) terhadap hal-hal yang mungkin menempatkan kita pada kondisi konflik kepentingan (misalnya pengungkapan terhadap hal-hal atau dukungan yang kita dapatkan); (3) Recusal (abstain) yaitu tidak ikut dalam pengambilan keputusan bila ada konflik kepentingan yang terjadi; (4) Penggunaan pihak ketiga dalam kondisi konflik kepentingan. Untuk dilema etik dalam proses penelitian prinsip disclosure dan penggunaan pihak ketiga untuk menilai batasan etik merupakan praktik standar yang saat ini telah diterapkan sebelum penelitian dimulai dengan adanya penilaian etik oleh lembaga independen. Selain melakukan tinjauan etik secara ilmiah dan nalar manusia, sebagai anak Tuhan tentu kita juga perlu mempelajari beberapa prinsip Alkitab terkait penelitian dan penciptaan. Dalam Perjanjian Lama kita mengetahui bahwa Allah menciptakan manusia “sempurna” yang serupa dan segambar dengan Allah, berkuasa, dan diberkati (Kejadian 1:26-30). Awal kisah indah manusia yang kemudian diganti dengan dosa dan segala akibatnya (Kejadian 3). Dalam perjanjian baru kita menerima penebusan Kristus dan pemulihan manusia. Rangkaian penciptaan-kejatuhan-penebusan-pemulihan menjadi dasar cara pandang kristiani dalam memaknai karya Allah dalam hidup manusia. Dalam hal penelitian, perkembangan teknologi, dan ilmu kesehatan, seharusnya kita senantiasa melakukan refleksi berdasarkan cara pandang tersebut. Dalam meneliti maupun berkarya dalam hidup ini kita perlu menelaah kembali apakah kita melakukan untuk membuktikan kemampuan kita, mendapatkan pengakuan dari orang lain, atau murni kita melakukan karena panggilan dan rencana Allah dalam hidup kita? Seringkali dan berulangkali kita tidak menyadari bahwa dosa dan ego dalam kehidupan kita begitu dominan dan menjauhkan kita dari pimpinan Roh Kudus. Dalam konteks penelitian di Indonesia saat ini teknologi dan sistem penelitian kita masih tertinggal dari negara-negara yang jauh lebih maju, tetapi tidak menutup kemungkinan anak Tuhan untuk terlibat langsung maupun ikut menelaah perkembangan yang terjadi. Tentu kita tidak menyatakan bahwa penelitian dan penemuan baru yang terkait dengan manusia adalah hal yang salah. Kita yakin dan percaya bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala perkembangan yang ada dalam kehidupan kita. Namun, jangan sampai kita terlelap atau terbenam dalam kecanggihan teknologi dan menjauhkan diri dari pimpinan Roh Kudus. *) Penulis saat ini bekerja sebagai dokter manajerial di RS UKRIDA /stl

  • Kita Perlu Menginjak Rem

    Pandemi Covid-19 merupakan suatu tantangan bagi tenaga medis. Tidak ada kata istirahat bagi sebagian yang masih bekerja sebagai klinisi garda depan. Bergelut dibalik pengapnya menggunakan alat pelindung diri yang tidak hanya membuat nafas terasa begitu sesak, tetapi juga pikiran yang mulai penat. Ketika fenomena bekerja dari mana saja mulai menjadi suatu kebiasaan hidup new normal yang lama kelamaan menjadi kenyamanan bagi sebagian orang, tentunya ini tidak dirasakan bagi tenaga medis. Belakangan kondisi berangsur-angsur mulai kembali normal. Aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Namun, ini pun juga bukan waktunya tenaga medis untuk beristirahat. Jadwal praktik dan tindakan yang awalnya dikurangi atau ditunda mulai penuh kembali. Beberapa pasien yang mulanya tidak berani berobat, mulai kembali berdatangan. Janji pasien kontrol mulai memenuhi agenda. Banyak rencana-rencana tertunda yang kemudian ingin kita realisasikan. Dunia begitu sibuk dan waktu berjalan terus. Berpindah dari satu tempat praktik ke tempat praktik berikutnya, banyak pekerjaan dan tindakan perawatan yang menunggu untuk diselesaikan. Hal ini menyebabkan dua puluh empat jam sehari semakin terasa tidak cukup. Kita berlari berkejaran dengan waktu dengan pandangan lurus ke depan tanpa tengok kanan kiri. Hiruk pikuk kesibukan ini kemudian menyedot banyak energi dan bermuara pada fase burn-out. Bagaimana jika kesibukan pekerjaan ini hanya untuk aktualisasi diri sendiri? Bagaimana jika kebisingan dunia kita gunakan untuk menutup mata dan telinga terhadap sekitar? Atau bagaimana jika alasan kita menyibukan diri sebenarnya karena sedang mencoba menghindari sesuatu? Daripada jujur ​​kepada Tuhan dan diri sendiri tentang luka, dosa, dan kekecewaan yang dialami, kita justru menumpulkan kepekaan hati dengan kesibukan. Bekerja menjadi pelarian dan kita jadi tidak peduli dengan sekitar. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika Tuhan mengharapkan kita untuk tidak terlalu sibuk dengan profesi kita? Bagaimana jika Tuhan malah mengharapkan kita untuk memiliki jeda sejenak, menikmati istirahat, lepas dari kebisingan dan punya kehidupan dengan ritme yang lebih lambat? Kehidupan tenang yang dapat membantu menghubungkan kita kembali dengan Tuhan.Layaknya berkendara, mungkin kita memang perlu menginjak rem untuk memperlambat kecepatan atau bahkan sampai kendaraan kita berhenti untuk sejenak. Kurangi Kecepatan Hanya dengan memperlambat ketika memeriksa pasien misalnya, kita jadi lebih teliti dan lebih bisa memberikan telinga untuk mendengarkan mereka. Dengan mengurangi kecepatan, kita jadi bisa belajar melihat keadaan sekitar dan menyadari pemeliharaan Tuhan. Belajar untuk mendengarkan voice bukan noise. Belajar untuk lebih peka dalam mendengar suara Tuhan. Berjalan dengan lebih lambat, memungkinkan kita untuk bisa mendengar orang lain, melakukan evaluasi diri dan kontemplasi. Berhenti sejenak Banyak orang mengartikan istirahat sebagai waktu untuk bermalas-malasan. Malas memiliki kecenderungan untuk menghindari kerja, atau tidak mau bekerja. Beristirahat berarti pemulihan energi dan pembaruan diri. Dalam Markus 1:35, Yesus dalam kesibukannya telah memberikan teladan untuk pergi ke tempat sunyi, sendiri, dan berdoa. Bukankah Yesus berkata “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11:28)? Tenaga medis pun perlu melakukan ini. Berhenti dari aktivitas dan datang kepada Tuhan. Kita perlu mengingat kembali akan tujuan hidup manusia, yaitu menikmati Tuhan, melalui kasih karunia-Nya dan kehadiran-Nya. Habiskan waktu istirahat kita bersama Tuhan, dapatkan ketenangan, dan dari sana akan terbangun kekuatan. Ruang untuk bertumbuh Kesibukan dapat menghambat pertumbuhan rohani kita. Kurangi kecepatan dan beristirahat sejenak memberi ruang kepada hati kita untuk bertumbuh dan dibentuk. Kita perlu bertumbuh. Sebagai dokter Kristen, yang memiliki profesi strategis, kita bisa melakukan teaching, preaching, dan healing. Pertumbuhan rohani sangatlah penting untuk terus kita perjuangkan. Berikan ruang untuk kita menikmati persekutuan dengan Tuhan dan merenungkan Firman Tuhan. Makin kita karib dengan Tuhan, makin kita mengenal pribadi-Nya. Niscaya kita akan kembali beroleh kekuatan baru. “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:31). Kurangi kecepatan, berhenti sejenak, berikan hati kita ruang untuk makin bertumbuh mengenal Tuhan. Pulihkanlah diri dari kebisingan dunia. Jangan sampai kesibukan mengalihkan hidup kita. Dapatkan ketenangan, dengarkan suara-Nya, sadari providensia-Nya. Ingat, nilai kehidupan tertinggi dari Tuhan bukanlah dari produktivitas kita, tetapi kasih. Kasihilah Tuhan dan sesama. Pandanglah salib-Nya, pandanglah sekitar. (Matius 22:37-39; 1 Korintus 16:14). *Penulis bekerja dalam bidang manajemen di salah satu grup rumah sakit swasta. /stl

  • Biblical Parenting in Postmodern World : Faithful Parent

    Ilmu parenting begitu mudah ditemukan saat ini, mulai dari yang formal hingga melalui konten populer sosial media. Ilmu tentang pola asuh memang begitu menarik, apalagi bagi kita yang baru mulai menjadi orang tua. Selain karena urusan sehari-hari, tidak dipungkiri juga, pola asuh memberikan dampak yang signifikan pada kehidupan anak. Begitu besar pengaruhnya, hingga seringkali permasalahan yang terjadi pada anak adalah refleksi dari pola asuh dan kehidupan orang tua yang bermasalah. Bahkan banyak perilaku dan karakteristik orang tua diturunkan kepada keturunannya melalui pola asuh. Tipe pola asuh authoritative populer di kalangan orang tua karena berkaitan dengan well-being anak secara keseluruhan. Pola asuh ini dianggap sebagai gaya pengasuhan yang paling diinginkan dan ideal dengan memadukan responsiveness (kehangatan) dan demandingness (tuntutan) orang tua. Orang tua bersikap tegas dan konsisten. Mereka mengontrol dan memberikan standar yang jelas, namun juga mahir menunjukkan kehangatan. Ilustrasi macam-macam tipe pola asuh Walaupun begitu, dalam penerapan sehari-hari tidaklah semudah ilmunya. Tidak mudah bagi orang tua untuk mengaplikasikannya dalam berbagai macam situasi dan berdasarkan tahapan perkembangan anak. Ada juga banyak hal lain yang turut mempengaruhi keberhasilan parenting, mulai dari karekteristik anak, lingkungan, kepribadian dan isu-isu orang tua itu sendiri. Lebih jauh lagi, orang tua saat ini ditantang dengan postmodernisme yang antiotoritas dan relatif terhadap standar kebenaran. Apalagi dengan kemajuan digital age, berbagai worldview semakin luas bertebaran melalui sosial media. Anak, terutama pada masa remaja, juga semakin kehilangan jati diri karena larut dalam sosial media yang cenderung tidak jujur menampilkan identitas diri seutuhnnya. Tantangan-tantangan ini semakin meyakinkan kita, bahwa anak tidak sekedar membutuhkan parenting yang baik, mereka membutuhkan Tuhan dan kebenaran-Nya. Sebagaimana pola asuh authoritative yang menyeimbangkan antara responsiveness dan demandingness, marilah kita juga mengintegrasikan dan mempertajamnya melalui kacamata injil. Kita meyakini Firman Tuhan cukup dan memberikan prinsip yang tetap relevan sepanjang jaman. 1. Responsiveness sebagai bentuk Kasih Begitu pentingnya kasih sehingga tanpanya semua usaha parenting akan percuma. Berbagai studi menujukkan, banyak dampak buruk yang timbul akibat kurangnya kasih sayang orang tua.seperti perilaku agresif, anti-sosial dan self-esteem rendah. Namun, orang tua bukan sembarangan mengasihi. Di era postmodern ini, kasih orang tua bisa semakin relatif mengikuti apa yang masyarakat anggap benar. Contohnya, saat ini, orang tua bisa dianggap tidak mengasihi anak jika membatasi preferensi seksual anak. Orang tua tidak sekedar menerima, tapi justru diharapkan dapat mendorong anak untuk bebas menentukannya sendiri. Kasih yang sejati tidak bisa terlepas dari kebenaran, dan kebenaran kita berdasar pada Firman Tuhan. Sebagai orang tua kita pun bertidak sebagai wakil Allah untuk menyatakan kasih Allah kepada mereka. Kita perlu menunjukkan kasih Allah yang suci dan benar. Kasih Allah yang lebih dahulu mengasihi bahkan ketika masih berdosa. Kasih yang mau menerima anak kita apa adanya, namun terus mengarahkannya untuk menjadi pribadi yang semakin berkenan. Melalui 1 Korintus 13:4-7 kita dapat juga belajar menerapkan bentuk kasih secara nyata dalam pola asuh. Parenting menguji seluruh bentuk kasih kita hingga pada batasnya. Menantang kesabaran kita, menuntut pengorbanan kita, merendahkan hati kita, memaksa kita melepaskan pengampunan lagi dan lagi dan masih banyak dalam hal lainnya. Selain itu, orang tua perlu mengingat bahwa kita pernah menjadi anak, maka seharusnya dapat lebih mengerti bagaimana mengasihi layaknya seorang anak perlu dikasihi. Mengasihi anak bisa saja melelahkan, apalagi jika secara tidak sadar menjadikan anak untuk mengisi kekosongan hati kita. Karena itu, cukupkanlah kita di dalam kasih Allah sehingga kita dapat memancarkan kasih Allah, bahkan di saat-saat sulit. 2. Demandingness sebagai bentuk Mendidik Kasih harus disertai dengan didikan. Tanpanya, bukanlah suatu bentuk kasih dan justru menghancurkan anak. Mendidik anak adalah perintah Tuhan bagi orang tua, karena itu orang tua perlu bertanggung jawab menjadi figur yang paling berinisiatif untuk mendidik anak. Pendidikan diawali dari membawa anak takut akan Tuhan (Amsal 1:7, Ul 6:6-7). Lindsay Bell mengatakan “The goal of parenting isn't to create perfect kids. It's to point them towards a perfect God.” Parenting yang baik mungkin dapat menghasilkan anak yang secara moralitas dan well-being baik. Namun hal itu pun sia-sia tanpa disertai pengenalan akan Allah. Justru di tengah jaman postmodern ini, kita semakin sadar bahwa anak kita tidak sekedar butuh orang tua yang baik, tapi mereka perlu orang tua yang beriman yang mengarahkan mereka kepada Tuhan dan kebenaran-Nya. Orang tua jangan saja berhenti pada didikan yang menghasilkan perilaku yang baik, karena mungkin saja hal itu tidak benar-benar terjadi. Alkitab terutama berfokus pada transformasi individu di dalam Kristus. Kita harus menyadari ada batasan peran sebagai orang tua, dan hanya Tuhan yang dapat bekerja. Di sisi lain, transformasi bukan saja pada anak, tetapi seharusnya dimulai dari orang tua itu sendiri. Buah parenting yang baik berasal dari orang tua yang diubahkan. Lebih dari sekedar pola asuh, pendidikan anak berbicara mengenai value apa yang ditanamkan. Orang tua perlu peka dengan worldview dunia yang “memukau” namun “kosong”. Bagaimana bisa orang tua menuntut anak tidak terbawa jaman, jika kita pun goyah dengan didikan kita. Bisa jadi tanpa sadar worldview dunia yang tertanam pada anak justru berasal dari kita sendiri yang tercemar di jaman postmodern ini. Orang tua perlu lebih dahulu beriman teguh kepada Firman Tuhan bahwa kebenaran Allah itu sempurna dan baik adanya. Dengan demikian anak-anak dapat melihat langsung teladan orang tua dalam menghidupinya. Seperti contoh, anak akan sulit memprioritaskan Allah, jika nilai yang orang tua hargai adalah materi. Hasil bukan karakter. Pencapaian bukan tanggungjawab. Kesulitan lain dalam mendidik adalah ketika orang tua harus memberikan disiplin saat mendidik anak. Dalam Efesus 6:4, bahkan dinyatakan secara khusus bagi Ayah agar berhati-hati dalam mendidik. Seringkali cara yang salah membuat pendidikan tidak efektif. Intensi baik saja seringkali disalahartikan apalagi yang ceroboh hingga membangkitkan amarah yang memahitkan. Bereskanlah isu-isu pribadi kita agar tidak kita lanjutkan pada anak. Memang tidak mudah. Jika jujur berkaca, rasanya kita tidak pernah akan cukup baik menjadi orang tua di tengah jaman ini. Banyak isu-isu pribadi, karakter dan banyak hal lain yang menghambat kita menjadi orang tua yang efektif. Namun, it’s okay, kita memang tidak sempurna. Oleh karena itu kita perlu membesarkan anak di dalam anugerah Tuhan sebagaimana mereka pun adalah anugerah dari Tuhan. Bertanggungjawablah sebaik-baiknya dengan terus memperlengkapi diri, namun jangan lupa untuk bersandar pada anugerah kekuatan dan hikmat dari Tuhan. Inilah teladan terbaik, ketika kita menjadi orang tua yang bersandar dan berharap kepada Tuhan. Ingatlah, peran kita sebagai orang tua akan semakin berkurang seiring waktu. Nikmatilah waktu-waktu ini. Parenting bukanlah perlombaan, melainkan suatu perjalanan pribadi yang bukan saja untuk mendewasakan mereka, tetapi mendewasakan kita di hadapan Tuhan. *Penulis saat ini melayani di Bandung. /stl

  • Menjadi Terang Mulai dari Tempat Kerja

    Kita tentu tahu, tujuan kita bekerja adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia. Setiap harinya kita menghabiskan sebagian besar waktu hidup kita di tempat kerja, bahkan terkadang lebih banyak dibandingkan waktu bersama keluarga. Karena itu, kita harus mulai melihat tempat kerja sebagai tempat di mana kita harus memberi yang terbaik dari diri kita. Menjadi saksi Kristus di tempat kerja berarti bagaimana kita mengenal orang-orang di sekeliling kita, dan dikenal oleh mereka. Tantangan bekerja di dunia medis Sebagai tenaga kesehatan yang melayani pasien setiap harinya, kerap kali kita harus menangani pasien dalam jumlah yang sangat banyak, sehingga kita seringkali kekurangan waktu. Hal ini juga menimbulkan kelelahan, kejenuhan, kurang teliti, dan juga dapat menumpulkan kepekaan hati kita untuk melihat kebutuhan jiwa mereka. Waktu terbatas, sedangkan yang harus dikerjakan sangat banyak sekali. Akibatnya, sering kita tergoda untuk mengerjakannya asal saja, yang penting pekerjaan saya selesai. Apa yang dapat kita lakukan? Dengan kondisi pekerjaan demikian, bagaimana kita sebagai dokter Kristen dapat menjadi terang? Bekerja keras dan profesional Dalam 1 Korintus 10:31 dikatakan: ”Apapun yang kamu kerjakan, kerjakanlah untuk kemuliaan Tuhan.” Sebagai orang Kristen, kita harus memberi yang terbaik dalam segala hal yang kita kerjakan, sesuai keilmuan terbaik yang kita kuasai, sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah yang empunya kehidupan. Untuk ini tentu ada harga yang harus dibayar. Mungkin kita harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk menjelaskan ke pasien dan keluarga mengenai kondisi penyakit mereka, memberi tenaga ekstra untuk mengisi rekam medis dengan baik dan lengkap. Kita mungkin tak akan diperhatikan ketika melakukan hal-hal kecil, tidak ada pujian ataupun apresiasi. Namun, kita memang dituntut untuk mengerjakan segala sesuatunya yang terbaik, sesuai dengan standar Allah, bahkan ketika tidak ada orang lain yang melihat/memperhatikan. Senyum dan sapa Meski sederhana, senyum dan sapa dapat berdampak besar. Sebagai orang Kristen, sumber sukacita kita adalah Kristus yang ada dalam hati kita, bukan kondisi yang terjadi di sekitar kita. Sehingga, dalam kondisi selelah dan sesibuk apapun, kita bisa tetap tersenyum dan menyapa orang-orang di sekitar kita. Di tempat kerja kita, kita berelasi dengan banyak orang, mulai dari pasien, perawat, teman sejawat dokter, farmasi, petugas laboratorium, petugas keamanan, hingga petugas kebersihan. Relasi ini kita bangun melalui komunikasi. Hendaknya kita menyampaikan nilai-nilai dan cara pandang Kristen dalam komunikasi kita setiap saat. Jangan menyembunyikan terangmu di bawah keranjang, biarlah terangmu bersinar secara alamia dan dengan penuh sukacita. Tunjukkan kasih dan selalu bersedia menolong Kesibukan dan kelelahan sering membuat kita menjadi orang yang egois dan mengasihani diri sendiri. Terkadang kita menjadi marah dan berusaha menunjukkan pada semua orang betapa sibuk dan lelahnya kita. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk selalu mengandalkan Dia. Biar Allah yang menjadi sumber kekuatan kita yang tiada habisnya untuk menolong orang-orang di sekitar kita yang memerlukan. Layanilah sesamamu. Membantu perawat membawa status rekam medis yang menumpuk banyak. Membantu pasien yang kesulitan turun tangga. Memesankan taksi online untuk mengantar pasien yang kebetulan sedang mau pulang setelah rawat inap. Berikan perhatianmu bagi hidup orang lain. Jadilah seseorang yang peduli. Kasihi teman kerjamu sehingga mereka bisa mengenal Sumber Kasihmu. Rendah hati Profesi dokter hingga saat ini masih dianggap mulia dan terhormat. Namun, sebagai pengikut Kristus, kita harus belajar dari Yesus yang rendah hati. Ia yang adalah Allah, mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang Hamba. Hendaklah kita senantiasa mengingat siapa diri kita –manusia berdosa, supaya kita selalu memanusiakan orang lain yang adalah sesama kita. Hendaknya kita tidak merasa diri paling tahu dan paling benar. Selalu mau mendengar dan belajar, terbuka untuk dikritik dan menerima masukan dari pasien/teman sejawat. Disiplin, jujur dan berintegritas Berjuang untuk tepat waktu, baik dalam hal visit pasien rawat inap, poliklinik, maupun janji rapat/pertemuan. Biarlah kita menjadi orang-orang yang menghidupi apa yang kita katakan, jujur dan dapat dipercaya. Dimulai dari hal kecil. Menjadi orang yang penuh syukur Di tempat kerja kita pasti ada banyak hal yang tidak ideal dan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Hal ini sering membuat kita tergoda untuk mengeluh, mengomel, dan pahit hati. Firman Tuhan terus dan terus mengingatkan kita untuk bersyukur senantiasa. Jadilah orang yang selalu bersyukur. Biarlah syukurmu melimpah dalam sikap hati, kata-kata, dan perbuatanmu. Jika Yesus adalah sumber sukacita kita yang terbesar, tentunya itu akan tampak dalam pekerjaan kita. Orang-orang di sekitar kita yang mengenal kita akan melihat dan mengetahui apa yang paling berarti bagi kita. Dengan menginvestasikan hidup kita di tempat kerja kita –bekerja keras, percaya, dan memberi yang terbaik, kita memuliakan Allah lewat pekerjaan kita dan membuka kesempatan untuk membagikan Kabar Baik. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16). *)Penulis bekerja sebagai dokter spesialis penyakit dalam di RS Hermina, Bandung Diadaptasi dari majalah Samaritan cetak edisi III tahun 2019 dengan beberapa perubahan.

  • Keadilan yang Menjadi Tanggung Jawab Kita (Bagian 2)

    Penulis: dr. Maria Simanjuntak, SpPD, KGH-KIC dr. Bobby Simarmata, M.Sc Menegakkan Keadilan di Era JKN Era JKN memang sudah memberi peluang bagi seluruh masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan untuk dapat mengakses layanan kesehatan yang memadai. Tetapi masih banyak yang masih perlu terus kita perjuangkan. Contoh-contoh kasus ini membuat kita perlu memikirkan kembali apa itu keadilan di layanan kesehatan yang menjadi tanggung jawab kita . Seorang rekan yang tinggal di Eropa selama hampir 9 tahun menceritakan salah satu alasan mereka menetap di sana adalah karena gagal jantung akibat kardiomiopati peripartum yang dialaminya usai melahirkan anak semata wayang mereka. Sejak itu dia bertahan hidup normal dengan support LVAD (Left Ventricular Assist Device) yang konon kabarnya di negeri ini belum ada tim yang khusus menangani LVAD. Bagaimana dengan pasien dengan kondisi serupa yang tinggal di Indonesia? Mungkin hanya akan bertahan dengan medikamentosa dan memiliki kualitas hidup yang terbatas, angka rawat inap yang tinggi, bahkan mungkin sebagian meninggal. Cerita yang lain, seorang dosen di salah satu universitas ternama di Jabodetabek datang ke RS bertaraf internasional di kawasan Tangerang dengan keluhan mendadak tidak bisa bicara. Pemeriksaan MRI pun segera dilakukan dan dalam hitungan menit terdeteksi adanya infark akut dan segera dilakukan tindakan trombolitik dengan pemberian rtPA di unit gawat darurat dalam waktu yang juga cepat. Dosen tersebut kini sudah bekerja kembali. Jika kasus serupa terjadi di rumah sakit daerah, apakah pasien akan mendapatkan terapi dan tindakan dalam kecepatan yang sama? Seorang teman pekerja misi pemberdayaan masyarakat bercerita kisahnya mendampingi seorang bapak yang dicurigai menderita carcinoma nasopharing di RS khusus kanker di Jakarta dengan menggunakan JKN–BPJS. Dari fasilitas kesehatan pratamanya di kawasan Tangerang, bapak ini dirujuk ke Rumah Sakit tipe B di Tangerang. Setelah mengantri 2 minggu, pasien tersebut akhirnya dirujuk ke RS khusus kanker di Jakarta . Di sana pun harus mengantri dan singkat cerita dia menjalani rangkaian pengobatan yang sangat panjang selama kurang lebih 1 tahun. Untuk mendapatkan antrian konsultasi ke dokter saja harus beradu cepat dengan pasien lain, karena adanya pembatasan kuota bagi pasien BPJS. Belum lagi dengan rangkaian pemeriksaan yang harus dijalani sebelum akhirnya dilakukan tindakan kemoterapi dan radioterapi. Pasien harus menunggu antrian yang panjang juga untuk satu rangkaian pemeriksaan, belum lagi dengan rangkaian pemeriksaan lainnya. Untuk sampai menjalani proses kemoterapi pasien menunggu lebih dari 5 bulan. Memang semua rangkaian pemeriksaan dan pengobatan tidak mengeluarkan biaya sama sekali, tetapi dengan antrian-antrian dan kuota yang terbatas membuat pasien penderita kanker ini lama sekali ditangani. Seorang teman yang tinggal di Amerika mengatakan bahwa dia harus menjalani operasi hemikolektomi oleh karena ditemukannya carcinoma colon insitu di ususnya tanpa gejala gangguan pencernaan. Hal tersebut diketahui karena asuransi kesehatannya mewajibkan untuk dilakukan kolonoskopi pada setiap peserta usia 50 tahun. Suatu langkah preventif yang dibiayai oleh sisten jaminan kesehatan. Di Indonesia , hal ini masih merupakan hal yang mewah karena jaminan kesehatan BPJS masih hanya menanggung pengobatan bukan pencegahan. Seorang penderita ginjal kronik tahap akhir dirujuk dari Bangka Belitung ke RSUD Tarakan Jakarta untuk dilakukan pembuatan akses vascular dialisis. Ada pula seorang pasien di Kalimantan tengah, harus menempuh perjalanan 6 jam untuk dapat menjalani hemodialisa di kota palangkaraya. Dalam seminggu 2 kali pasien ini menempuh perjalanan pulang dan pergi selama 10 jam untuk menjalani hemodialisa. Pasien ini kemudian dilakukan CAPD yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah sehingga dia hanya perlu datang 1x sebulan untuk kontrol ke dokter di Palangkaraya. Sementara itu di Amerika, pasien dapat melakukan hemodialisa mandiri di rumahnya pada malam hari atau melakukan automatic PD (APD) dengan mesin cycler sehingga proses PD dilakukan selama pasien tersebut sedang tidur di malam hari. Layanan ini belum tersedia di negeri kita. Ternyata masih banyak layanan kesehatan yang sudah menjadi standard layanan di dunia tetapi belum bisa diakses oleh masyarakat Indonesia saat ini. Dengan kata lain akses kepada layanan kesehatan (access to care) belum dirasakan merata. Penchanski dan Thomas 40 tahun yang lalu menuliskan suatu konsep akses dalam kerangka ”5A” yang masih relevan untuk kita sekarang. Affordability (keterjangkauan) ditentukan oleh bagaimana biaya kesehatan dihubungkan dengan kemampuan dan kemauan klien (pasien dan keluarganya) untuk membayar. Availability (ketersediaan) mengukur sejauh mana layanan kesehatan memiliki sumber daya yang diperlukan, seperti personel dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan klien. Accessibility (aksesibilitas) mengacu pada aksesibilitas geografis, seberapa mudah klien dapat secara fisik mencapai lokasi layanan kesehatan. Accomodation (akomodasi) mencerminkan sejauh mana layanan kesehatan diatur untuk dapat menerima klien, contohnya jam operasional layanan, bagaimana komunikasi antara penyedia layanan dan klien, dan kemampuan klien untuk tetap menerima layanan tanpa janji sebelumnya. Acceptability (akseptabilitas) menangkap sejauh mana hubungan ekspektasi penyedia layanan dan klien terpenuhi. Kelima A tersebut ibarat mata rantai. Menegakkan keadilan di era JKN tidak bisa hanya menguatkan satu atau hanya beberapa mata rantai di atas. Kita tidak bisa memperbaiki affordability (terus menambah jumlah peserta BPJS sampai target 98% di tahun 2024), tanpa memperbaiki availability layanan dasar seperti persalinan, misalnya. Leon Wyszewianski mengatakan “The Five A's of access can be thought of as a chain which is only as strong as its weakest link.” Penutup Mudah bagi kita untuk menjadi tawar hati dan pesimis dengan kondisi di negara kita, terutama bila mendengar cerita-cerita di atas. Memang, masih banyak ketidak adilan di layanan kesehatan yang harus diperjuangkan. Ketidakadilan di bidang layanan kesehatan pun tidak semata-mata karena pembiayaan, ada banyak faktor lain yang berperan, mulai dari lemahnya kebijakan dan implementasinya, keterbatasan jumlah dan kompetensi tenaga kesehatan serta akses terhadap layanan kesehatan yang masih tidak merata. Namun, sebagai orang Kristen kita tidak pernah kehilangan pengharapan. Tuhan kita adalah Tuhan yang setia dan mau memakai kita, umatNya. Mari teman–teman, lihatlah di bagian apa dirimu bisa berperan memperjuangkannya bagi bangsa ini. Bukan persembahan ribuan kurban yang menyenangkan Allah dan bukan ritual keagamaan yang saleh yang menyukakan-Nya melainkan: memperjuangkan keadilan, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Biarlah kalimat yang diucapkan nabi Mika ribuan tahun yang lalu selalu ada di hati kita: He has told you, O man, what is good; and what does the Lord require of you but to do justice, and to love kindness, and to walk humbly with your God? (Micah 6:8 ESV) /stl

  • Keadilan yang Menjadi Tanggung Jawab Kita (Bagian 1)

    Penulis : dr. Maria Simanjuntak, SpPD, KGH-KIC dr. Bobby Simarmata, M.Sc Seorang influencer Indonesia ternama pernah berkata dalam salah satu YouTube-nya, “Hidup mengajarkan bahwa keadilan itu adalah bonus, hadiah. Kalau dapat ‘Alhamdulilah’, kalau tidak ‘That’s life’”. Pernyataan tersebut diucapkan saat mengomentari hukuman yang dijatuhkan hakim pada para pengeroyoknya. Seolah-olah menurutnya ketidakadilan dalam putusan peradilan di Indonesia adalah hal yang biasa. Terhadap ketidakadilan yang terjadi di bidang hukum mungkin kita berkata: ”Itu bukan ranah kita sebagai tenaga kesehatan”. Sementara itu, Mikha menyerukan dalam kitab Mikha 6:8 “Wahai manusia, engkau telah diberitahu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN daripadamu selain menegakkan keadilan, mencintai kesetiaan , dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.”(Terjemahan VAB) Apakah tuntutan TUHAN untuk menegakkan keadilan tidak berlaku untuk tenaga kesehatan seperti kita ? Menegakkan Keadilan di Bidang Layanan Kesehatan Adanya Sistem Jaminan Sosial Nasional bidang Kesehatan (BPJS) sejak 31 Desember 2013 merupakan oase bagi ketidak adilan layanan kesehatan di Indonesia. Layanan kesehatan yang dulu hanya mampu dijangkau masyarakat menengah atas atau setidaknya yang memiliki asuransi (ASKES atau asuransi swasta) kini dapat diakses oleh mayarakat ekonomi lemah. Berawal dari seorang tokoh bernama Prof. Dr. Gerrit Augustinus Siwabessy yang adalah menteri kesehatan di era presiden Soekarno setelah dr. Leimena tahun 1966-1978. Beliau adalah seorang dokter ahli radiologi nuklir kelahiran Maluku 1914, lulusan sekolah kedokteran NIAS (Neederlandsch Indische Artsen School) Surabaya (kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga). Oleh dr. Leimena, yang merupakan menteri kesehatan RI kala itu, dr. G. A. Siabessy dikirim untuk belajar radiologi ke Universitas London dan Rumah Sakit Hammersmith London dengan beasiswa British Council. Disanalah dr. G. A. Siwabessy mempelajari sistem kesejahteraan di bidang kesehatan. Ketika menjabat sebagai menteri kesehatan, beliau pun mengembangkan Asuransi Kesehatan (Askes) yang merupakan cikal bakal BPJS. Hal ini kemudian berlanjut pada Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2000, saat Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan tentang Pengembangan Konsep Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), sesuai dengan UUD 1945 dan perubahannya tahun 2002. Melalui proses yang panjang, akhirnya Presiden Megawati mengesahkan UU No. 40 tahun 2004 tentang SJSN pada 19 Oktober 2004, sehingga Indonesia masuk dalam daftar ‘negara dengan jaminan sosial’. Dalam melaksanakan UU SJSN, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk program JKN, sebuah program layanan kesehatan yang berkualitas dan berkesinambungan bagi seluruh penduduk Indonesia, yang mulai berlaku pada 1 Januari 2014. Tahun 1999, penderita penyakit ginjal kronik tahap akhir yang tidak memiliki uang atau asuransi tidak akan dapat menjalani terapi pengganti ginjal seperti hemodialisa, CAPD apalagi transplantasi. Jika tidak memiliki uang atau asuransi, maka seorang penderita jantung koroner tidak dapat menjalani operasi jantung bypass. Begitu juga tindakan kesehatan lainnya seperti kemoterapi dan radioterapi maupun pemeriksaan seperti CT scan, MRI, endoskopi. Dahulu pemeriksaan dan tindakan tersebut amat terbatas untuk dirasakan oleh mereka yang tak memiliki asuransi kesehatan. Berkat BPJS, tindakan dan pemeriksaan tersebut kini bisa dinikmati. Dahulu poliklinik penyakit kronis hanya dapat diakses oleh mereka yang mampu, peserta ASKES atau jaminan perusahaan. Kini, semua itu bisa diakses oleh masyarakat ekonomi lemah tanpa harus menjual segala kepunyaannya. Inilah yang disebut “Do Justly” di bidang layanan kesehatan. Lantas, apakah layanan kesehatan setelah era JKN sudah benar-benar berjalan dengan baik dan adil bagi seluruh rakyat Indonesia? (bersambung ke bagian 2) /stl

  • Apakah yang Dituntut Tuhan: Eksposisi Mikha bagian 3

    Kala kita makan, minum, bernapas dan menghadapi berbagai pergumulan, siapakah pemberi dan penolong hidup kita? Ingatkah kita selalu pada pemberi berkat dan pertolongan ini? Atau kita menikmati dan menganggapnya itu kekuatan dan hikmat diri sendiri. Kitab Mikha pasal 6 diawali dengan pengaduan sekaligus pertanyaan keras dari Tuhan, Baiklah dengar firman yang diucapkan TUHAN: Bangkitlah, lancarkanlah pengaduan di depan gunung-gunung, dan biarlah bukit-bukit mendengar suaramu! Dengarlah, hai gunung-gunung, pengaduan TUHAN, dan pasanglah telinga, hai dasar-dasar bumi! Sebab TUHAN mempunyai pengaduan terhadap umat-Nya, dan Ia beperkara dengan Israel. "Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku! (ayat 1-3) Pengaduan yang disampaikan Tuhan melalui nabi Mikha sungguh suatu pengaduan yang sangat menyedihkan (God is in pain) kepada umat-Nya, Israel. Apakah yang sedang terjadi? Nabi Mikha menyampaikan beberapa isu yang bertolak belakang antara Israel dengan Tuhan. 1. Adakah yang jahat Tuhan lakukan bagi mereka? Tidak ada! Sebaliknya, Ia telah melakukan hal-hal yang baik bagi mereka, tetapi mereka membalas dengan penolakan dan pemberontakan, kasih dibalas dengan kemunafikan, kejahatan, serta pemberontakan. 2. Bahkan lebih lagi, Tuhan telah menyelamatkan Israel dari perbudakan yang kejam, dari penjajahan Mesir melalui hamba-hamba-Nya: Musa, Harun dan Miryam keluar ke tempat yang penuh harapan dan berkat (ay. 4). Israel menjadi umat Allah dan Allah telah menjadi Tuhan mereka. 3. Mereka dilepaskan dari berbagai usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Balak (raja Moab), Tuhan intervensi agar Bileam tidak melakukan kutukan pada Israel dari Sitim sampai Gilgal (Bilangan 22-24). Begitu luar biasanya Tuhan melindungi umat-Nya (ay.5). Seandainya Israel mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan yang luar biasa mengasihi dan menyelamatkan dari berbagai kesusahan dan marabahaya, hal ini akan membawa mereka makin mengenal Allah dan perbuatan-perbuatan keadilan Tuhan dan bersyukur memuliakan Tuhan (5). Mengingat karya dan kebaikan Tuhan menolong untuk kita belajar peduli pada manusia lainnya yang mengalami ketidakadilan secara ekonomi, sosial, rohani dan lain sebagainya, bukan acuh tak acuh melihat penderitaan/kesengsaraan orang lain, tapi menolong mereka keluar dari penderitaan dan memberikan pengharapan baru. Raja Daud mengingatkan jiwanya “Puji Tuhan hai jiwaku dan janganlah lupakan segala kebaikan Tuhan...” (Maz. 103). Sayangnya, kebaikan Tuhan yang demikian tidak diingat dan disyukuri oleh umat-Nya. Mereka justru secara lahiriah beribadah pada Tuhan, tetapi dalam perbuatan sehari-hari banyak melakukan ketidakadilan. Bukan kemunafikan yang Tuhan berkenan, melainkan hidup ibadah yang benar. Tuhan berkata pada nabi Yesaya ”Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! (Yesaya 58:6-7). Hal serupa juga dikatakan nabi Mikha “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”(6:8). Ibadah syukur yang benar dilanjutkan dengan misi peduli pada sesama, mengasihani manusia yang terbelenggu dari berbagai kelaliman, ketidakadilan, membela yang lemah, memberikan pengharapan baru dalam kehidupan, sama seperti yang Tuhan lakukan bagi mereka. Setia berlaku ramah, mengampuni sangatlah dibutuhkan dalam kehidupan penuh kebencian, kemunafikan, dan perselisihan. Umat Allah yang mengalami kasih setia Tuhan memiliki hati yang selalu terbuka dan siap melakukan kebaikan bagi sesama sehingga melalui kehadiran komunitas umat Allah, shalom dialami oleh banyak orang yang sengsara di sekitarnya. Beribadah yang benar membawa pada kesadaran hidup adalah anugerah Tuhan, bukan kehebatan, kepintaran, dan kesuksesan kita. Melainkan selalu mengingat penebusan-Nya membawa pada kerendahan hati dan terbuka menerima dan menolong yang susah. Kerendahan hati membawa kita bersedia ‘inkarnasi’ seperti Kristus bersedia turun dan bergaul dengan yang susah dan menderita, serta mengangkat mereka keluar dari lembah kekelaman. Itulah panggilan sejati yang berkenan pada Tuhan bagi kita umat-Nya. Spurgeon menyebut, "Kerendahan hati yang sejati adalah memikirkan diri sendiri dengan benar, bukan dengan kejam. Ketika Anda telah menemukan siapa Anda sebenarnya, Anda akan menjadi rendah hati, karena Anda bukanlah apa-apa untuk dibanggakan. Menjadi rendah hati akan membuat Anda aman. Menjadi rendah hati akan membuatmu bahagia. Menjadi rendah hati akan membuat musik di hati Anda ketika Anda pergi tidur. Menjadi rendah hati di sini akan membuat Anda bangun bertumbuh makin menyerupai Kristus.” 4. Mikha mengakhiri seruannya dengan mengajak umat kembali pada Tuhan yang kasih setia-Nya tidak pernah berubah, yang mengampuni, memperbaharui dan akan menggembalakan umat-Nya setelah mengijinkan mereka dibuang. Masa pembuangan adalah proses melembutkan hati mereka yang keras, membentuk kembali karakter, dan membawa pertobatan sejati. Ia bersedia kembali menggembalakan umat-Nya, ini suatu berita bahagia, berita baik, memberikan pengharapan luar biasa melalui kehadiran Mesias yang melayani, melepaskan, mati dan bangkit. “... Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10). Refleksi: Kiranya kita selalu mengingat kasih dan penebusan Allah, membawa pengucapan syukur mendalam, serta dengan rendah hati bangkit melepaskan yang tertawan dari berbagai tekanan sosial, ekonomi, politik, rohani secara keseluruhan, itulah yang berkenan kepada Tuhan. “Datanglah kerajaan-Mu!” *)Penulis adalah executive director Indonesian Care /stl

  • Melayani Tuhan di tengah Bangsa

    “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45) merupakan kalimat yang disampaikan Yesus saat murid-muridNya, Yakobus dan Yohanes serta yang lainnya ingin mendapatkan kedudukan tinggi dan mulia bersama Dia. Ambisi manusia kerap membuat seseorang mencari keuntungan dan nama sebesar-besarnya untuk diri sendiri. Dengan kata lain, ambisi kita mempengaruhi mata dalam melihat dan hati dalam merasakan sehingga betapa pentingnya kita memikirkan tujuan hidup kita yang sebenarnya, sama seperti Yesus dalam kehadiran-Nya di dunia ini. Mari belajar dari Teladan Agung kita bagaimana melayani Tuhan di tengah dunia. Panggilan dan kehadiran Kristus di dunia Markus 10:45 memperlihatkan bahwa Kristus datang bukan untuk diriNya sendiri, melainkan untuk dunia yang telah jatuh dalam dosa. Sejak awal, Dia sudah memahami bahwa kehadiran-Nya di dunia adalah untuk melayani (memberi diri) sepenuhnya bagi pergumulan manusia yang menderita karena dosa, bahkan Ia akan memberikan nyawa-Nya mati di atas kayu salib menebus untuk menggantikan hukuman murka Allah yang harusnya ditimpakan pada semua umat berdosa. Itu sebabnya Ia hadir di kota-kota dan desa-desa bertemu dengan manusia yang bergumul secara fisik, mental, rohani, politik, ekonomi, dan lain sebagainya (Mat. 9:35). Sebagai orang percaya, kita hadir di dunia bukanlah kebetulan semata dan juga bukan untuk diri sendiri. Allah menciptakan kita menurut ‘gambar dan rupa-Nya’ serta memberi ‘kuasa’ (tanggung jawab) memelihara dunia ini. Hidup bukan untuk berdiam, melainkan berkarya bersama Dia memelihara ciptaan-Nya (Kej. 1:26-28; 2:15). Panggilan seperti ini membuat kita akan peduli pada penderitaan yang sedang dialami banyak orang di sekitar kita. Penglihatan Kristus yang begitu tajam Kitab Injil mencatat bagaimana Yesus mengajar, memberitakan Injil Kerajaan Surga, melenyapkan penyakit dan kelemahan, membawa kelepasan bagi manusia. Apa yang dilakukan-Nya keluar dari hati-Nya yang paling dalam, karena ‘melihat’ mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Yesus melihat manusia begitu rapuh (fragile) dan dalam keberdosaannya, mereka tidak ada kekuatan untuk menyelamatkan diri sendiri. Kita bisa belajar dari Yesus bagaimana Dia melihat dunia ini. Belajar dari-Nya, kita perlu peduli melihat keberadaan masyarakat di bangsa ini yang menderita, ada banyak hal bisa kita telusuri, melalui televisi, internet, dan media massa lainnya, mendengar dari tetangga atau melihatnya sendiri. Penyakit, kemiskinan, pergumulan, penderitaan adalah hal-hal yang kita bisa lihat di sekitar kita, jika kita membuka mata dan hati kita. Hati yang penuh belas kasihan (Compassion) “Maka tergeraklah Yesus oleh belas kasihan (compassion) kepada mereka.” Inilah hati yang peduli, Dia tidak bisa tinggal diam di tengah-tengah kekalutan dan penderitaan yang terjadi dan untuk itulah Ia datang. Ia menghampiri dan ikut serta merasakan pergumulan penderitaan manusia, serta membawa mereka keluar dari penderitaan tersebut dengan kehadiran-Nya, penghiburan-Nya bahkan kuasa-Nya yang menyembuhkan. Ia membawa manusia mengalami pertolongan dan jalan keluar sehingga mereka menikmati kasih sayang Tuhan yang luar biasa. Adakah hati kita dipenuhi dengan kasih seperti ini setiap melihat manusia yang mengalami kesakitan, kebingungan, dan ketakuatan karena ancaman kematian? Atau hati menjadi dingin, beku, bahkan tidak peduli? Kita perlu meminta pada-Nya hati yang dapat ikut merasakan, bukan hanya sekedar emosi/perasaan, melainkan sakit yang kita rasakan sampai pada ginjal (kidney), sehingga kita tidak bisa hanya diam berpangku tangan, melainkan mendorong kita bertindak untuk menolong, melepaskan yang menderita dari kesakitan atau pergumulannya. Melayani dengan berkorban Dari waktu ke waktu Yesus bekerja tanpa kenal lelah, merasakan kepedihan dan kesusahan manusia dan Ia tidak peduli pada cemoohan, kehinaan yang menghampiri sepanjang hidupnya. Yesus dengan tekun berkarya sampai memikul salib dan kematian di bukit Golgota. Ia tahu resiko besar yang akan dialami, bahkan dengan cinta-Nya yang melampaui keberdosaan manusia (unconditional). Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut Aku” (Mat. 16:24). Panggilan sebagai orang percaya, bukan untuk hidup bagi diri sendiri, bukan untuk kenikmatan, melainkan kita yang sudah ditebus oleh darah-Nya yang mahal adalah hidup bagi Kristus. Kematian bukanlah merupakan ketakutan (sekalipun secara fisik itu bukanlah hal yang mudah) namun karena Kristus telah mengalahkan maut, maka dibalik kematian akan ada kebangkitan dan kehidupan selama-lamanya (bdk. Filipi 1:21 Tak ada yang mengatakan bahwa melayani Tuhan di tengah dunia yang penuh dengan penderitaan dapat dilakukan dengan mudah. Akan ada banyak pergumulan, tantangan, bahkan pengorbanan yang kerap perlu kita hadapi dan lakukan. Namun, teladan Kristus dan pertolongan dari Roh Kudus kiranya memampukan dan menolong kita untuk melakukannya dalam hidup dan profesi kita hingga kita dapat berkata seperti Rasul Paulus ”…jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (Filipi 1:22). *)Penulis adalah Executive Director Indonesian Care Diadaptasi dari majalah Samaritan cetak edisi II tahun 2020 dengan beberapa perubahan.

  • Lewati Quarter Life Crisis Bersama Sang Guru

    Quarter life crisis? Ya! Ini fenomena yang sangat dekat dengan kita orang muda. Entah kita sudah melewati, sedang mengalami, atau akan menjalaninya di kemudian hari. Quarter life crisis adalah krisis akibat rasa kuatir, kegelisahan, dan kebingungan mengenai arah dan tujuan hidup. Umumnya dialami pemuda usia 18-30 tahun mengenai persoalan karier, pasangan hidup, dan kehidupan sosial. Pemicunya bisa berasal dari internal diri kita sendiri, misal karena kita kuatir tentang masa depan yang sepertinya tidak jelas, sedangkan teman-teman sebaya sudah meraih mimpinya masing-masing. Bisa juga berasal dari eksternal, misalnya karena tuntutan orang tua, ataupun tekanan sosial dari teman serta kerabat. Quarter life crisis ini bisa kita alami sejak masih kuliah, tetapi akan bertambah intensitasnya ketika sudah lulus. Ketika masih masa kuliah, kita masih memiliki satu goal yang jelas, yaitu lulus. Tetapi setelah lulus, apa goal selanjutnya? Buat yang sudah lulus jadi dokter, ada begitu banyak pilihan. Bekerja di mana? Sebagai klinisi atau peneliti? Atau opsi untuk jadi entrepreneur, sepertinya oke juga. Kalau mau lanjut sekolah juga ada banyak pilihan jurusan baik di dalam maupun di luar negeri. Ini baru masalah karir, belum lagi ada masalah percintaan dan keluarga. Kita dihadapkan dengan pertanyaan yang harus kita jawab: “Di mana posisi saya di dunia ini? Apa langkah yang harus saya ambil?” Pertanyaan tersebut akan terus membingungkan bila kita melupakan identitas kita yang paling mendasar, yaitu identitas sebagai murid Kristus. Tanpa kesadaran ini, kita tidak akan memiliki tujuan hidup yang berkenan kepada Allah. Bila kita sadar bahwa kita murid Kristus, pertanyaan kita seharusnya: “Di mana Tuhan mau membentuk saya? Di mana Tuhan mau saya berkarya, menikmati, dan memuliakan-Nya?” Pergumulan menjadi murid ini juga dialami oleh murid-murid Yesus di abad pertama. Mari kita melihat secara singkat bagaimana Yesus mendidik para murid-Nya. Pertama, Yesus memanggil murid-Nya satu-persatu dan memberi mereka identitas yang baru. Mereka bukan lagi penjala ikan. Mereka bukan “orang Zelot” yang menentang keras penjajahan Romawi, dan mereka juga bukan pemungut cukai yang menjadi antek Romawi. Bukankah orang Zelot dan pemungut cukai tidak akan akur bila masih memegang identitas lama mereka? Kini mereka memiliki identitas yang sama, yaitu murid Yesus. Mereka adalah penjala manusia; garam dan terang dunia. Mereka adalah ranting-ranting yang perlu terus tinggal pada pokok anggur supaya dapat berbuah. Identitas inilah yang menjadi dasar bagaimana mereka harus hidup dan membuat keputusan. Kedua, Yesus mendidik para murid-Nya melalui berbagai pengajaran dan perumpamaan mengenai Kerajaan Allah. Iman timbul dari pendengaran akan Firman. Apakah saat ini Anda merasa iman Anda sedang mandek bahkan merosot? Sangat mungkin salah satu penyebabnya kita tidak lagi menikmati merenungkan Firman Tuhan. Bila kita terlalu sibuk hingga “tak ada waktu” untuk merenungkan Alkitab, hati-hati, sudah pasti kesibukan Anda melampaui apa yang Tuhan kehendaki bagi Anda. Ketiga, Yesus “membiarkan” murid-murid-Nya mengambil langkah yang salah. Yesus tidak menempatkan mereka di kondisi tanpa kebimbangan, di mana semua serba pasti hingga mereka tidak dapat berbuat salah. Sebaliknya para murid kerap salah dalam bertindak, mereka salah motivasi, mereka salah memahami arti Kerajaan Allah, mereka kurang iman dan meragukan Sang Guru. Namun Yesus terus mendidik mereka dengan teguran supaya mereka belajar mengenal kebenaran. Mengikut Tuhan bukan berarti perjalanan hidup kita akan selalu lancar tanpa hambatan. Seringkali ada belokan di sana dan di sini. Kadang ada belokan yang diakibatkan kesalahan kita karena gagal memahami kehendak Allah. Namun yang lebih penting apakah kesalahan tersebut membentuk kita untuk lebih tangguh dan peka kehendak Allah atau tidak. Lebih dari itu, kadang ada hal yang kita sangka belokan ternyata bukan. Kadang kita ditempatkan di posisi yang tidak kita sukai sehingga kita merasa terjebak. Sangat mudah bagi kita untuk menganggapnya sebagai kesalahan dan berusaha untuk segera keluar. Namun bagaimana bila Tuhan memang ingin kita melayani di tempat itu? Sebab kehendak kita yang berdosa seringkali bertentangan dengan kehendak Allah. Hendaknya kita tidak buru-buru meninggalkannya sebelum kita berusaha menjalaninya dengan hati yang rela dan taat. Selanjutnya baru kita mempergumulkan kembali apakah memang melayani di posisi itu adalah kehendak Allah atau bukan. Keempat, ada kalanya murid-murid kecewa dan kembali ke kehidupannya yang lama. Setelah Yesus ditangkap dan disalibkan, para murid tercerai-berai. Petrus kembali ke kehidupan lamanya sebagai nelayan. Namun setelah kebangkitan-Nya, Yesus sekali lagi memanggilnya untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:1-19). Ada kalanya dalam perjalanan hidup, kita mengalami kekecewaan yang membuat kita terjatuh terlalu dalam. Namun seperti gembala yang mencari domba-Nya yang hilang, Tuhan juga akan menarik kita kembali untuk mengikut Dia. Jadi, mungkinkahkita survive melalui quarter life crisis? Adalahsuatu hal yang wajar ketika kita memiliki kekuatiran akan masa kini maupun masa depan. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah, bersama siapa kita menghadapi krisis kekuatiran tersebut? Berjalan bersama Tuhan bukan berarti semua jalan di depan akan menjadi jelas. Bukankah bila semuanya jelas, kita mudah untuk merasa tidak perlu Tuhan lagi? Mengikut Tuhan berarti berjalan selangkah-demi selangkah, setia mengerjakan apa yang ada di depan mata kita. Tidak perlu tengok kanan-kiri adu nasib dengan teman atau kerabat kita. Fokus mengerjakan apa yang Tuhan percayakan pada kita, di sini dan saat ini. Ketika Tuhan membuka satu langkah di depan dan kita taat, Dia akan membukakan langkah berikutnya. Berjalan menjadi murid Kristus merupakan perjalanan yang nyaman. Kita tidak tahu apa yang ada di depan, tetapi kita tahu bahwa masa depan kita berada dalam tangan Dia yang Pengasih. Satu hal terakhir, bagaimana bila kita sudah berjalan menyimpang terlalu jauh dari jalan Tuhan? Bagaimana bila kita sudah terjerumus terlalu dalam? Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan domba-Nya. Mungkin membaca artikel ini adalah cara Tuhan untuk mengingatkan Anda bahwa ada Tuhan yang penuh kasih yang menunggu Anda untuk kembali. Jangan biarkan iblis terus mendakwa nurani Anda bahwa tidak ada lagi harapan untuk kembali. Iblis memang terus berusaha mengintimidasi, membuat Anda merasa terlalu berdosa sehingga tidak mungkin diampuni. Bila Anda terus percaya kebohongan tersebut, selamanya Anda benar-benar tidak dapat kembali. Seperti anak bungsu yang hilang, bila dia tidak percaya bahwa bapa-nya penuh kasih, selamanya dia tidak akan berani kembali dan berakhir mati di kandang babi. Segera kembali, bertobatlah dan minta kepada Bapa untuk mengampuni dosa Anda. Memang untuk itulah Yesus Kristus mati di kayu salib. Supaya kita disucikan dan dapat kembali hidup mengikuti jalan-Nya. Kiranya Roh Kudus boleh memberi penghiburan dalam perjalanan kita menjadi murid Kristus! *)Penulis merupakan anggota tim redaksi Samaritan.

  • Potret Kesenjangan dan Ketidakadilan di Amerika Serikat: Mampukah Berlaku Adil dan Berbelas Kasih?

    (Bagian 2) Pesan Tuhan bagi Saya Kitab Mikha diawali dengan kemarahan Tuhan atas penindasan oleh para pemimpin, imam, dan orang kaya di Israel terhadap rakyat yang lemah. Tuhan membenci ketidakadilan. Diskriminasi rasial, kesenjangan kesejahteraaan, dan kesenjangan kesehatan merupakan bentuk-bentuk ketidakadilan dalam konteks kesehatan masyarakat di tempat saya berada sekarang. Saya bersyukur Tuhan membuka wawasan saya tentang kondisi ini dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang hidupnya didedikasikan untuk berjuang melawan diskriminasi dan menciptakan keadilan kesehatan dalam kapasitas mereka masing-masing. Merenungkan perintah Tuhan untuk berlaku adil dalam Mikha 6:8, menyadarkan saya, bahwa banyak hal yang saya sudah tahu tetapi sedikit yang sudah saya kerjakan. Saya berdoa agar Tuhan terus memberi kepekaan, keresahan, dan kemarahan akan ketidakadilan di sekitar saya serta memampukan saya untuk berkontribusi melawan ketidakadilan dengan ilmu, keahlian, dan pengalaman yang telah Ia anugerahkan. Kontras dengan pengalaman banyak imigran lain, betapa banyak privileges yang bisa saya nikmati. Saya beruntung memiliki rekan-rekan kerja yang menghargai keberagaman dan mendorong saya untuk terus berkembang. Ketika menghadapi tantangan terkait identitas saya sebagai imigran, ada orang-orang yang bersedia membantu. Saya juga bisa leluasa memilih pelayanan kesehatan yang terbaik dan selama ini mendapat perlakuan cukup baik dari tenaga kesehatan yang merawat saya. Banyak orang kulit berwarna tidak seberuntung saya. Saya akan sulit berbelas kasihanbila tidak menyadari privileges ini. Saya tidak pernah mengalami dan tidak bisa sepenuhnya mengerti pengalaman mereka yang rasa sakitnya kerap diabaikan, frustrasi pasien yang tidak bisa berobat karena tidak mampu membayar, kebingungan pasien yang tidak berbahasa Inggris dalam memahami kerumitan sistem kesehatan di AS, atau keputusan pasien untuk tidak menebus resep demi menyediakan makanan untuk keluarga. Bintik buta ini bisa menjadikan saya salah satu dari tenaga kesehatan yang mendiskriminasi pasien-pasien tersebut. Saya bersyukur Tuhan menganugerahkan pemahaman ini saat saya memulai perjalanan karir di negara ini. Kiranya ketika saya melangkah lebih jauh, Tuhan memampukan untuk terus mengoreksi bintik buta di dalam diri saya dan meniru belas kasih-Nya kepada umat yang sakit, lemah, dan tertindas. Kitab Mikha ditutup dengan pengharapan akan janji Tuhan yang akan menyelamatkan Israel, yang juga merupakan nubuat tentang Yesus Kristus. Hidup dalam dunia yang penuh ketidakadilan, pengharapan menjadi satu-satunya penopang. Kitab Mikha mengingatkan saya bahwa Tuhanlah yang menyempurnakan pekerjaan anak-anak-Nya. Hanya Dia yang berkuasa mewujudkan keadilan yang sempurna. Mungkin karena inilah kita diminta untuk hidup dalam kerendahan hati di hadirat-Nya. Tanpa kerendahan hati, saya akan terjebak dalam ilusi. Merasa membela perkara Tuhan saat yang saya kerja adalah ambisi pribadi. Atau frustrasi, melihat ketidakadilan di mana-mana dan merasa pekerjaan yang saya lakukan tidak berarti. Atau terdesensitisasi, berhenti mengevaluasi diri, tidak lagi memeriksa bias-bias pribadi, dan akhirnya menjadi bagian dari sistem yang menindas mereka yang lemah. Berlaku adil dan berbelas kasih mustahil dilakukan tanpa kerendahan hati. Tuhan telah terlebih dahulu berbelas kasih kepada saya yang penuh dosa dan berkenan melibatkan saya yang lemah dalam pekerjaan-Nya menciptakan keadilan di dunia. Bisa mengambil bagian kecil dalam misi besar ini merupakan kehormatan dan sukacita bagi saya. Kiranya seperti Nabi Mikha, Tuhan terus memperlengkapi saya dengan kekuatan dan Roh-Nya (Mikha 3:8) untuk bekerja dengan setia dan memuliakan nama-Nya. *) Penulis saat ini bekerja sebagai research consultant untuk Center for Community Health Education Research and Service (CCHERS), sebuah organisasi nirlaba yang melakukan riset, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan advokasi untuk menciptakan keadilan kesehatan (health equity) bagi komunitas underserved. Bersama suami tinggal di kota Boston, AS. /stl

Hubungi Kami

Dapatkan update artikel SAMARITAN terbaru yang dikirimkan langsung ke email Anda.

Daftar menjadi Samareaders sekarang!

Instagram
Facebook
Media Samaritan
Media Samaritan

 Media Samaritan 2022

bottom of page