146 results found with an empty search
- Pentingnya Komunitas dari Sudut Pandang Berbagai Generasi
Dari generasi ke generasi, komunitas yang baik esensial untuk bertahan di tengah perbedaan zaman. Para pembaca Samaritan yang terkasih dalam Tuhan Yesus, sebagai seorang pengikut Kristus kita pasti sudah tidak asing dengan istilah komunitas. Komunitas sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu. Komunitas secara umum telah dipercaya menjadi hal yang bisa menguatkan seseorang mengatasi tantangan dalam hidup, khususnya tantangan dari luar. Hal ini dapat terlihat dari sejarah peradaban mula-mula, di mana orang tergabung dalam komunitas untuk menghadapi bahaya yang tidak bisa dihadapi bila berjuang sendiri (seperti bahaya binatang liar dan sebagainya). Lebih lanjut, kepentingan komunitas juga tercermin dalam peribahasa yang umum dipahami di Indonesia, seperti bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, banyak mencontohkan pentingnya komunitas untuk menghadapi tantangan dari luar di tengah perbedaan zaman. Di Perjanjian Lama, kisah tentang Sadrakh, Mesakh, dan Abednego merupakan salah satu contoh kekuatan komunitas. Kisah mereka dapat kita temukan di Daniel 3, ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dihadapkan pada sebuah pilihan: tunduk kepada patung emas yang dibuat Raja Nebukadnezar atau terbakar habis dalam perapian yang menyala-nyala. Pernyataan iman mereka dalam ayat 17–18 sangat menguatkan: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja, tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Kita sudah mengetahui akhir dari cerita ini: alih-alih terbakar, Raja Nebukadnezar melihat empat orang yang berjalan dalam api, dan ketika mereka keluar, mereka tidak terikat dan tidak terluka. Melalui kekuatan komunitas yang berdiri bersama di dalam api, pada akhirnya raja Nebukadnezar mengakui Allah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego (ayat 29), karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu. Di Perjanjian Baru, pentingnya komunitas dapat kita lihat dari cara hidup jemaat mula-mula sebagaimana tergambar dalam Kisah Para Rasul 2:41–47, di mana melalui komunitas tersebut nama Kristus semakin tersebar, sebagaimana tercantum dalam ayat 47: “Dan mereka disukai semua orang.” Dari contoh Alkitab di atas dapat kita lihat bahwa, walaupun generasi berbeda, komunitas tetap merupakan hal yang penting untuk bertahan di tengah perbedaan zaman. Untuk mengetahui apakah kebenaran yang ada di dalam Alkitab ini juga masih diimani di masa sekarang, penulis mengadakan sebuah survei sederhana. Survei ini penulis lakukan di komunitas Saline Serukam Trainer yang terdiri dari berbagai generasi. Komunitas ini juga dipilih karena di Saline Process sangat ditekankan tentang pentingnya komunitas, di mana hal yang mendasarinya adalah bahwa Tuhan menghendaki kita menjadi saksi-Nya sebagai bagian dari komunitas. Sehingga menjadi bagian dari komunitas lokal dan global merupakan hal yang selalu digaungkan, misalnya melalui komunitas Saline Online dan lain sebagainya. Survei diadakan melalui tautan Google Form . Dari 24 trainer yang diberikan kuesioner, terkumpul 20 responden (83,3%). Berdasarkan profesi, responden terbanyak adalah perawat (8 orang/40%), disusul penginjil (4 orang/20%), dokter (3 orang/15%), apoteker (2 orang/10%), serta masing-masing 1 orang (5%) untuk administrasi, elektromedis, dan fisioterapis. Berdasarkan jenis kelamin, survei didominasi perempuan (13 orang/65%) dibanding laki-laki (7 orang/35%). Berdasarkan generasi, paling banyak adalah generasi milenial (kelahiran 1981–1996) sebanyak 15 orang (75%), disusul generasi X (1965–1980) sebanyak 3 orang (15%), dan generasi Z (1997–2012) sebanyak 2 orang (10%). Tidak ada responden dari generasi Baby Boomers (1946–1964) maupun generasi Alfa (2012–2025). Di tengah keragaman profesi, jenis kelamin, dan generasi, ketika mereka ditanya: “Apakah Anda setuju bahwa komunitas yang baik esensial (penting) untuk bertahan tetap teguh dengan iman dalam Tuhan di tengah perbedaan zaman?” Hasilnya: 100% (20 responden) secara bulat menyatakan setuju. Berikut beberapa kesaksian responden: “Karena tujuan komunitas itu untuk membangun pengaruh hidup nyata kekristenan ke dunia yang belum mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan.” (dokter, laki-laki, generasi X) “Tanpa dukungan komunitas, pelayanan sulit dilakukan.” (elektromedis, perempuan, generasi X) “Tujuan kita adalah berjalan bersama tanpa melihat siapa yang lebih dulu sampai atau siapa yang mendapat penghargaan. Tetapi dalam kebersamaan kita menjadi satu tim yang menyelesaikan rintangan.” (fisioterapis, laki-laki, generasi milenial) “Dukungan doa sebuah komunitas selalu menjadi penguat di dalam melewati situasi sulit, baik fisik maupun psikologis.” (perawat, perempuan, generasi milenial) “Bisa saling menghargai pendapat dan argumentasi dalam komunitas.” (perawat, laki-laki, generasi Z) “Saya beberapa kali sudah putus asa dan merasa ingin lari dari Tuhan, tapi karena doa dan tuntunan keluarga saya, saya bisa bertahan dan sekarang bisa melayani Tuhan sebagai dokter.” (dokter, perempuan, generasi Z) Dari survei tersebut, penulis juga menanyakan hal-hal apa saja yang menggambarkan sebuah komunitas yang baik, sehingga seseorang bisa bertahan di dalamnya. Jawabannya beragam, tetapi secara garis besar adalah: adanya persekutuan doa, dukungan dan kerja sama, berbagi pengetahuan dan ilmu dengan tetap sopan dan santun, keterbukaan untuk berdiskusi dua arah dengan kejujuran, saling membangun dan saling menjaga. Semoga melalui artikel ini para pembaca Samaritan diingatkan kembali untuk aktif dalam komunitas Kristen dengan beragam aktivitasnya, sebagai sarana kita bisa bertumbuh dalam Tuhan. Sebagaimana firman Tuhan dalam Ibrani 10:25: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang. Tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Bagi pembaca Samaritan yang mungkin saat ini merasa jauh dari komunitas, semoga melalui artikel ini termotivasi untuk bergabung dalam komunitas Kristen terdekat. Minimal, carilah “Harun dan Hur” yang bisa menopang kita saat kita lelah, sebagaimana yang terjadi pada Musa di Keluaran 17:12: “Maka penatlah tangan Musa; sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya. Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain.” Tidak perlu jauh mencari, kiranya melalui Samaritan dapat terbentuk komunitas Kristen yang saling mendukung, demi Kerajaan Allah terus diberitakan di muka bumi, baik melalui para pembaca, para penulis, para editor, dan orang-orang lain yang berkontribusi dalam terbitnya artikel ini. Sehat selalu dan tetap semangat untuk kita semua. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
- Komunitas Perjamuan Makan
Mari kita mengingat, kapan terakhir kita duduk makan bersama teman-teman alumni, gereja atau sesama dokter Kristen? Makan sambil berbagi cerita, beban, pergumulan, firman Tuhan, atau hal apa saja. Sesungguhnya hidup dalam persekutuan komunitas umat Allah merupakan ciri khas orang Kristen. Bahkan sejak di Perjanjian Lama , perayaan-perayaan bangsa Israel dikenal dengan perayaan yang sarat dengan acara makan bersama. Sebut saja perayaan Paskah, perayaan Pondok Daun dan lainnya. Bagi orang Yahudi makan bersama semeja adalah tanda persekutuan. Yesus, selama tahun pelayanan-Nya, sangat sering melakukan perjamuan makan bersama, baik dengan murid-murid-Nya, sahabat-sahabat-Nya dan orang-orang yang dilayani-Nya (Matius 9:10-11). Perjamuan makan bersama keduabelas murid dilakukan-Nya menjelang kematian-Nya di salib. Ketika Yesus menampakkan diri pada murid-murid-Nya di Emaus dan di tepi Danau Tiberias, juga, Yesus lakukan dengan makan bersama. Jika kita melihat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita akan melihat betapa Allah sangat memandang penting persekutuan umat-Nya, kebersamaan yang ditandai dengan perjamuan makan bersama. Persekutuan dengan hidangan makanan (memecah-mecahkan roti) menjadi gaya hidup jemaat mula-mula (lihat Kis. 2:41-47). Lukas mengisahkan gaya hidup jemaat masa itu yang hidup sebagai keluarga besar, berkumpul, berbagi, makan bersama, beribadah, dan Tuhan membuat mereka bertambah-tambah. Tuhan berkenan dengan gaya hidup mereka. Cara hidup tetap dalam persekutuan seperti ini terus dilakukan sampai berabad-abad berikutnya dan merupakan rahasia kekuatan jemaat abad pertama di tengah penganiayaan. Seperti yang diceritakan oleh beberapa surat ini. Surat kepada Diognetus, suatu surat yang berisikan apologetik terhadap gereja abad 1-2. …Mereka bernikah dan mempunyai anak seperti orang lain; tapi mereka tidak membunuh bayi yang tidak direncanakan. Mereka membagi meja makan tapi tidak membagi tempat tidur. Mereka hadir di dalam daging tapi tidak hidup menurut daging. Mereka melewati hari-hari mereka di bumi tapi mereka rakyat surgawi. Mereka menaati hukum dan bahkan melampaui hukum di dalam kehidupan mereka. Surat bernada sama juga ditulis oleh C. Plinius Caecilus Secundus, seorang negarawan yang diutus oleh Kaisar Trayan tahun 111 untuk menyelidiki kehidupan orang Kristen masa itu. Saat itu terjadi berbagai tuduhan palsu terhadap ajaran Kristen dan penganiayaan pada Gereja. Plinius, antara lain menulis demikian dalam laporannya kepada kaisar: Namun demikian, waktu hamba meneliti dengan seksama tentang kesalahan dan kesesatan yang diakui mereka pada masa lampau itu, ternyata mereka hanya menjawab sebagai berikut: Bahwa kebiasaan mereka ialah berkumpul sebelum fajar menyingsing pada suatu hari yang ditentukan, dan bernyanyi dengan nyanyian rohani kepada Kristus sebagai dewa; bahwa mereka mengucapkan sumpah tetapi bukan sumpah untuk berbuat jahat. Justru sebaliknya, mereka bersumpah untuk tidak mencuri, tidak menyamun, tidak melanggar janjinya, tidak menolak untuk mengembalikan gadai jika diminta. Sesudah itu biasanya mereka bubar, lalu bertemu kembali untuk makan bersama , tetapi dengan memakan hanya makanan yang biasa dan tidak berbahaya. (dikutip dari Semakin Dibabat Semakin Merambat; C Ira, 2001). Gaya hidup dalam suatu komunitas bersama: berkumpul, beribadah, dan makan bersama secara rutin menjadi karakteristik mereka dan menarik perhatian banyak orang kala itu. Persekutuan dalam komunitas bersama ini merupakan hal yang tidak saja menguatkan mereka menghadapi penderitaan dalam masa penganiayaan, namun juga menjadi kesaksian bagi orang lain. Sayangnya, gaya hidup bersama seperti ini mulai ditinggalkan (tidak tahu sejak kapan) dan hanya sesekali dilakukan oleh komunitas gereja modern saat ini. Seberapa penting gaya hidup persekutuan dalam komunitas bagi hidup kristiani kita? Banyak dari kita saat ini menganggapnya tidak lagi penting dan bahkan sebagai sesuatu yang merugikan waktu tenaga dan dana saja. Beberapa tahun lalu ketika saya mengunjungi seorang teman di Belanda, saya cukup terkejut ketika dia menjawab pertanyaan saya di mana dia bergereja, “Saya lebih sering gereja online, dok”. Saat itu, gereja online sudah mulai bermunculan, bahkan ketika taksi online belum marak. Firman Tuhan dan sejarah gereja sudah menjadi saksi bagaimana hidup dalam persekutuan komunitas orang Kristen merupakan gaya hidup yang Allah rancangkan bagi umat-Nya. Bukan hanya itu, persekutuan umat Allah yang ditandai dengan makan bersama merupakan masa depan kita kelak dalam kekekalan, seperti apa yang dinubuatkan oleh Yesaya: “TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya.”(Yesaya 25:6) Yesus di Injil Lukas juga menjanjikan, “bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku”. (Lukas 22:30a) Karena itu, mari kita hidupkan kembali gaya hidup umat Allah yang Allah inginkan terjadi. Gaya hidup dalam komunitas kebersamaan: berkumpul, beribadah dan makan bersama. Saya menantikan undangan Saudara! /kb
- Tujuh Mil yang Mengubah Hidup
Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" (Lukas 24:27, 32, TB) Setelah melewati apa yang terjadi di Yerusalem pada hari-hari terakhir yang menyisakan pertanyaan, kecewa, takut dan kehilangan - hari pertama minggu setelah penguburan Yesus merupakan hari yang membingungkan bagi para murid. Mengejutkan. Beberapa perempuan telah pergi ke kubur saat pagi buta, tidak menemukan mayat-Nya, namun bertemu malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Yesus hidup. Mengikuti kronologi perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit, Dia mula-mula menampakkan diri kepada Maria Magdalena, sesudah itu kepada dua orang dari murid-murid-Nya yang sedang dalam perjalanan ke luar kota. Dan pada akhirnya, menampakkan diri kepada sebelas murid ketika mereka sedang makan. [1] Kisah pada hari minggu pertama ini selain menyatakan Yesus yang bangkit, dikaji dari sisi emansipasi wanita dimana Yesus memilih perempuan sebagai saksi mula-mula sebagai pembaharuan bagi pandangan Yudaisme. Yesus yang tidak membedakan lingkar murid, bukan tiga murid, juga bukan dua belas atau tujuh puluh puluh murid. Kajian lain tentang proses penampakan Yesus kepada seseorang, berdua dan kolektif. Saya meyakini Kitab Suci menyimpan mutiara-mutiara tak terbatas yang bisa ditemukan pada penggalian yang benar dan bertanggungjawab. Bagi saya muncul pertanyaan, apakah maksud dan pesan Yesus menampakkan diri-Nya di perjalanan Emaus? Mengapa Lukas memutuskan membukukan hasil penyelidikan saksi mata peristiwa ini dalam bukunya? Memang sama seperti tujuan penulisan Yohanes, Lukas juga bertujuan untuk menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, menunjukkan penderitaan-Nya, tanda yang membuktikan bahwa Ia hidup dan tentang Kerajaan Allah. [2] Ini adalah peristiwa penampakan kedua Yesus, bukan kepada tiga murid-Nya, juga bukan kepada sebelas murid. Dari kutipan Markus dan Lukas dapat disimpulkan bahwa dua murid Yesus ini tidak mengetahui bahwa Maria Magdalena sudah melihat Yesus. [3] Barangkali hal ini merupakan alasan utama mengapa mereka tidak pernah terpikir akan bertemu Yesus yang bangkit. [4] Mereka sedang bercakap-cakap (talking, dialoguing) [5] dan bertukar pikiran (discussing, debating, questioning) 9, [6] saat Yesus atas inisiatif-Nya mendekati mereka, berjalan bersama-sama dengan mereka dan bertanya untuk memulai perbincangan. Seberapa penting homileo dan suzeteo ini bagi Yesus, bagi Kleopas dan teman? Bukankah lebih efektif jika Yesus menampakkan diri kepada mereka sama seperti yang dilakukan-Nya kepada Maria Magdalena? Tidak. Kita sering menyanyikan lirik sebuah lagu “kubur kosong membuktikan Dia hidup”, benarkah? [7] Terdapat logical fallacy di dalam pernyataan di atas, slippery slope atau false dichotomy . [8] Kubur kosong hanya membuktikan bahwa jasad Yesus tidak ada. Kubur kosong tidak mampu membuktikan Yesus bangkit dan hidup. Jika kubur kosong mampu membuktikan Yesus bangkit maka tidak perlu ada penampakan diri-Nya. 13 Alkitab mencatat satu pernyataan logis yang membuat saksi-saksi menerima kubur kosong karena kebangkitan. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. (Mat 28:6, TB) Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu." (Mar 16:7, TB) Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea." (Mar 14:28, TB) Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga." Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu. (Luk 24:6-8, TB) Tanpa pernyataan ini kubur kosong hanya membuat mereka percaya bahwa kubur benar-benar kosong. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. 9 Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. (Joh 20:8-9, TB) Perkataan malaikat “dikatakan-Nya” membuat mereka menerima peristiwa kebangkitan. Selanjutnya mereka membutuhkan bukti kebangkitan yaitu Yesus yang hidup. Kembali ke jalan Emaus, Yesus melakukan eksperimen, tidak mengajukan bukti dan tanda tetapi mengajukan pengertian. Setelah menegur dengan: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" [9] Lalu Ia menjelaskan [10] kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. [11] Hati mereka berkobar-kobar, ketika Yesus menerangkan Kitab Suci sebelum mereka mengenali Yesus. [12] Kronologi kisah ini adalah; mereka mendengar berita sahih tentang kebangkitan, lalu bingung, memperdebatkan, bertemu tetapi tidak mengenal Yesus, Yesus menjelaskan dan menerangkan Kitab Suci, pikiran terbuka, mengerti Kitab Suci, hati yang berkobar-kobar, mengenali Yesus dan kembali ke Yerusalem. Penampakan diri Yesus kepada Maria Magdalena membuktikan Dia bangkit dan hidup tetapi “percaya” murid-murid diselubungi oleh ketidakpercayaan. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. [13] Mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Jadi menjadi saksi adalah satu hal dan mengerti adalah hal yang lain. Lalu Yesus membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti isi Kitab Suci. [14] Bukti membutuhkan penjelasan dan pengertian untuk sampai ke tingkat percaya. Seeing tidak otomatis believing , percaya dan iman sendiri adalah dasar dan bukti [15] . Bodoh dan lamban hati berkorelasi erat dengan pikiran, sedangkan mengerti berkorelasi erat dengan homileo dan suzeteo . Inilah alasan mengapa kita sangat membutuhkan diermeneuo . Hermeneutik dalam penggalian Kitab Suci. Berlanjut dengan kisah Tomas, dalam paradigma “mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati” tidak percaya kepada kesaksian orang-orang yang telah menyaksikan, kita memahami perkataan Yesus: Jesus said to him, "Have you believed because you have seen me? Blessed are the people who have not seen and yet have believed." (John 20:29 NET) Jesus said to him, "The basis for your believing was seeing. Blessed are those who without having seen, nevertheless believed." (Joh 20:29 MIT) Dalam pernyataan di atas Yesus seolah-olah berkata, “memang engkau bisa percaya setelah melihat?” Tomas menuntut paradigma lama, bukti. Mencucukkan jari pada bekas paku dan lambung. Yesus menawarkan paradigma baru, mengerti. Eksperimen Emaus terbukti bisa. Hati mereka berkobar-kobar tanpa melihat Yesus. Dengan demikian melalui pemahaman yang benar, penggalian yang bertanggungjawab atas Kitab Suci, kita bisa percaya walau tidak melihat. Kita tidak akan pernah lagi bisa menjadi saksi mata hidup atas kematian dan kebangkitan Yesus tetapi kita bisa percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia dan menulis kitab sesudah kebangkitan-Nya. Kita tidak akan pernah lagi menjadi saksi pendengar atas kesaksian para murid tetapi kita bisa percaya dari catatan mereka yang kita baca hari ini. Dengan demikian kita bisa juga menjadi pewarta dengan hati yang berkobar-kobar. Sepanjang sejarah kekristenan, Yesus yang mati, Yesus yang bangkit, Yesus yang hidup dan ketuhanan Yesus, menjadi fokus serangan apologi non-kristen. Topik ini tak tergoyahkan karena dibangun di atas kesaksian dan pengajaran. Yesus sendiri meneguhkannya sebelum Dia naik ke surga. Pengajaran meneguhkan kesaksian. Sendiri atau hanya salah satu darinya membuat lemah dan tidak seimbang tetapi kesaksian tanpa pengajaran menjadi pengalaman subjektif. Hadirnya Roh Kudus setelah Yesus naik ke surga, sebagai kuasa, Penolong yang lain, Roh Kebenaran yang menyertai dan diam selama lamanya di dalam murid-murid menjadi peneguhan yang dijanjikan. [16] Bagaimana dengan kita sekarang? Kisah di jalan ke Emaus mengajar kita untuk memiliki paradigma baru membuka pikiran, mengerti, memperbincangkan, bertukar pikiran dan menggali untuk mendapatkan penjelasan Kitab Suci dalam mengalami Tuhan. Lukas dalam suratnya mencatat orang-orang Yahudi di kota Berea lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima Firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci. [17] Paulus mengingatkan Timotius untuk berusaha supaya layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang terus terang [18] , [19] memberitakan perkataan kebenaran. Terus terang yang berarti mengajar kebenaran secara langsung, lurus dan benar. Perkembangan teknologi saat ini dapat memudahkan kita untuk mendapat tuntunan dan referensi dalam penggalian Alkitab. Menemukan tulisan bapa-bapa gereja pasca rasul bukan hal yang sulit bagi kaum awam sekarang ini. Hanya membutuhkan kemauan dan kebersamaan dalam menggali. Di sisi lain, teknologi bisa menjadi ancaman bagi iman Kristen. Hadirnya ChatGPT saat ini yang dinilai memberikan kemudahan jawaban aktual, mudah dan komprehensif atas masalah dan pertanyaan. Saatnya tiba tantangan Kekristenan bukan lagi pertentangan teologis tentang Allah atau penolakan Yesus adalah Tuhan, keselamatan, atau Alkitab bukan Firman Tuhan tetapi sinkretisme kepercayaan, relativitas post-modern, popular dan holistik berdasar algoritma yang mungkin tidak Alkitabiah sama sekali atau hanya mengandung kebenaran parsial yang tercampur dan tidak mudah dikenali [20] . Pada akhirnya, pemahaman Alkitab yang bertanggungjawab disertai perbincangan terhadap isu-isu aktual haruslah menjadi budaya setiap kita sebagai murid Kristus. Melalui cara tersebut, para murid dapat hidup dengan memandang dan menyikapi pengalaman rohani agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh isu-isu dunia yang datang dalam lompatan kuantum teknologi dan gulungan gelombang peradaban. /kb [1] Mar 16:9,12,14 [2] Kis 1:1-3 [3] Yoh 20:18. “… benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." (Luk 24:24) [4] Alasan lain oleh Markus menyebutkan; menampakkan diri dalam rupa yang lain ( heteros morphe ) (Mar 16:12) tetapi tidak diterangkan bagaimana maksud rupa lain [5] Yun: homileo: 4) to converse with, talk about: with one. Homelitic from Greek homilētikos cordial, from homilein to converse with 9 Yun: suzeteo . Kata yang digunakan untuk “bersoal jawab” antara Stefanus dengan Yahudi (Kis 6:9) dan Paulus dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani yang berusaha membunuh dia (9:28) [6] Luk 24:15 [7] Mat 28:5-6, luk 24:1-9, Yoh 20:1-2 [8] Slippery slope ; ada loncatan logika antara pernyataan satu dan dua. Pernyataan satu dan dua tidak selalu terhubung atau sebab akibat. False dichotomy hanya menghadirkan dua pilihan atau dua sisi [9] Lamban; anoetos: 1) not understood, unintelligible 2) not understanding, unwise, foolish bodoh; anoetos dan bradus: 1) slow 2) metaph. dull, inactive, in mind 2a) stupid, slow to apprehend or believe [10] Diermeneuo: Dia “through” and hermeneuo “to interpret”. 1) to unfold the meaning of what is said, explain, expound 2) to translate [11] Luk 24:25-27,32 [12] Luk 24:32 [13] Mar 16:14 [14] Luk 24:45 [15] Ibrani 11:1. Iman tidak membutuhkan bukti, iman tentu dibuktikan jika dibutuhkan [16] Yoh 14:16-17 [17] Kis 17:11 [18] Berterus terang; orthotomeo: 1) to cut straight, to cut straight ways 1a) to proceed on straight paths, hold a straight course, equiv. to doing right 2) to make straight and smooth, to handle aright, to teach the truth directly and correctly [19] Ti 2:15 [20] Kekristenan menghadapi dunia yang semakin berpikir manusiawi. Beradab berarti menjunjung tinggi kebebasan dalam privasi, ide dan nilai-nilai. Baik kejahatan maupun moralitas semakin menjauh dari kebenaran Kristus.
- “Wa Wa Wa”: Menjawab Panggilan Pelayanan di Tanah Terluar
Dokumentasi Pribadi oleh dr. Hendriko Kabanga – Puskesmas Landikma, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan Saat Indonesia merayakan 80 tahun kemerdekaannya, kita diajak merenungkan apa arti kemerdekaan sejati – termasuk bagi saudara-saudara kita yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan, dan terdalam (3T). Di balik gegap gempita perayaan nasional, salah satunya lagu viral Tabola Bale yang ‘menggoyang’ Istana Merdeka, realita di Papua berbicara lain. Ada banyak anak yang belum mendapatkan hak dasarnya: kesehatan. Saya saat ini melayani sebagai dokter di Puskesmas Landikma, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan – salah satu dari 30 kabupaten di Papua yang masuk kategori 3T. Di sini, program imunisasi dasar masih jauh dari merata. Anak-anak tumbuh tanpa perlindungan dasar terhadap penyakit. Dokter umum dan spesialis langka. Keamanan tidak terjamin. Banyak tempat hanya bisa dicapai dengan pesawat. Ada kisah-kisah kelam tentang kekerasan dan kriminalitas yang membuat tenaga kesehatan akhirnya enggan bertahan dan memilih mundur, meninggalkan medan pelayanan yang sesungguhnya sangat membutuhkan kehadiran mereka. Di tengah semua itu, saya percaya bahwa pelayanan di tempat seperti ini bukan semata-mata soal pekerjaan, tapi soal panggilan hidup. Panggilan untuk menjadi terang, untuk menghadirkan kasih Kristus yang menyembuhkan dan merawat, di tempat-tempat yang dianggap “ujung dunia”. Menggumulkan Panggilan: Bukan Soal Nyaman, Tapi Taat Bagi rekan-rekan tenaga kesehatan Kristen, mungkin banyak yang sedang atau pernah bergumul dengan pertanyaan ini: “Tuhan, di mana Engkau ingin aku melayani?” Jawaban Tuhan tidak selalu membawa kita ke tempat yang nyaman. Kadang, justru sebaliknya. Terlepas dari banyaknya pergumulan yang dihadapi ketika akan melangkah atau bertahan di suatu tempat, kita dapat belajar bahwa ketaatan kepada panggilan Tuhan tidak ditentukan oleh seberapa siap kita secara manusia, tapi seberapa besar kita percaya bahwa Dia yang memanggil juga akan memampukan. Di tempat-tempat seperti Kabupaten Yalimo, pelayanan bukan soal skill medis semata, tetapi tentang membagikan harapan. Menjadi saksi hidup bahwa Tuhan tidak melupakan siapa pun, termasuk anak-anak kecil di pedalaman Papua sekali pun. Kasih Kristus yang Mendorong Kita Maju Di tengah keterbatasan, hanya belas kasihan Allah yang dapat menopang seseorang untuk tetap bertahan. Hanya anugerah-Nya yang memungkinkan kami dan juga banyak sejawat seperjuangan lainnya untuk terus melanjutkan pelayanan, hari demi hari. Merespon panggilan Allah untuk melangkah pergi bukan karena mereka menyenangkan, tetapi karena Kristus lebih dulu mengasihi. Rasul Paulus pernah berkata: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami...” (2 Korintus 5:14) Inilah kekuatan sejati yang mendorong kita untuk tetap berdiri, tetap melayani, tetap berharap. Kerinduan untuk kasih-Nya yang telah menguasai kita boleh menjangkau dan menguasai mereka yang tinggal di tempat yang sulit dijangkau sekali pun. Karena pelayanan ini bukan tentang kita, tapi tentang Kristus yang bekerja melalui kita. Generasi Sehat, Papua Bangkit Kalau kita ingin melihat Papua bangkit, maka kita harus mulai dengan membangun generasi yang sehat dan cerdas. Anak-anak di tanah ini adalah masa depan. Mereka yang akan menjadi guru, pemimpin, dokter, dan hamba Tuhan di masa depan. Mereka layak mendapatkan kesempatan yang sama – dan itu dimulai dari pelayanan kita hari ini. Pelayanan yang holistik, bukan hanya dilayani secara fisik, melainkan juga jiwa yang boleh mengenal Kristus yang sejati. Bagi setiap kita yang mungkin sedang bergumul dengan panggilan Tuhan untuk melayani di tempat seperti Papua, ingatlah bahwa Tuhan tidak mencari yang hebat, tapi yang bersedia. Dia sanggup memperlengkapi setiap orang yang mau berkata, “Ini aku, utuslah aku!” Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Kiranya Injil Kerajaan Allah terus diberitakan sampai ke ujung bumi – termasuk Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan. Wa Wa Wa! Soli Deo Gloria. /kb
- Truth and Health
A Missing Pillar Saat sharing atau khotbah tentang pelayanan medis dan kesehatan, maka atribut Ilahi yang sering dikaitkan adalah kasih — belas kasihan terhadap pasien, berempati terhadap mereka yang menderita. Tapi pernahkah kita sejenak bertanya: di mana peran “kebenaran” dalam pelayanan kesehatan? Mengapa kata yang begitu sentral dalam iman kita ini— truth —jarang muncul dalam seminar dan retreat pelayanan medis atau bahkan dalam mimbar gereja ketika kita bicara soal pelayanan kesehatan? Tulisan ini tidak sedang membuat dikotomi kasih dan kebenaran. Justru sebaliknya, ingin menunjukkan bahwa kasih dan kebenaran berjalan beriringan, dan bahwa pilar kebenaran yang sering terabaikan itu sesungguhnya adalah unsur sentral dalam pelayanan kesehatan dari masa lalu hingga hari ini. Apakah kebenaran penting dalam dunia kesehatan? Perkembangan dunia kesehatan, termasuk dunia kedokteran di dalamnya sampai saat ini merupakan hasil dari pencarian kebenaran, penyataan kebenaran dan konsistensi kebenaran yang dijalankan oleh insan kesehatan yang bertekun di dalamnya. Apa itu kebenaran? Menurut Aristoteles, “Mengatakan tentang apa yang ada bahwa itu ada, dan mengatakan tentang apa yang tidak ada bahwa itu tidak ada, adalah kebenaran.” Ini berarti kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan kenyataan yang dikaji melalui akal dan logika serta kejadian dan observasi. Dalam nilai kekristenan, kebenaran bukan hanya fakta logis tetapi juga prinsip moral dan spiritual. Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” (Yohanes 14:6), yang berarti kebenaran lebih jauh lagi akhirnya ditemukan dalam keadilan, integritas, dan hikmat ilahi. Kebenaran adalah salah satu dari atribut Allah sendiri. Truth in Health: Discovery and Learning from Mistakes Kemajuan dunia kesehatan tidak lahir secara kebetulan, melainkan dari semangat pencarian kebenaran. Penemuan mikroskop oleh Antonie van Leeuwenhoek (1670) dan teori infeksi oleh Louis Pasteur (1857-1865) dan Robert Koch (1876–1884) membuka jalan bagi dasar dari ilmu mikrobiologi dan ilmu penyakit infeksi. Penemuan antibiotik – Penisilin oleh Alexander Fleming (1928) merupakan revolusi dalam pengobatan infeksi kuman. Penemuan DNA (1953) oleh Watson dan Crick, membuka era genetika medis. Pengembangan Vaksin mRNA (2020), misalnya pada vaksin COVID-19 oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna membuka era teknologi baru dalam imunisasi. Semua penemuan besar dunia kesehatan tersebut diawali oleh upaya dan kerja keras orang-orang tertentu untuk meneliti, menganalisis rangkaian fakta, menyimpulkan dan kemudian menyampaikan apa yang benar. Namun sejarah juga mengajarkan bahwa ketika kebenaran diabaikan, dampaknya bisa sangat tragis. Kasus skandal obat Thalidomide pada akhir tahun 1950-an hingga awal 1960-an menjadi pengingat penting bagi dunia kesehatan. Obat ini awalnya dipasarkan sebagai penenang dan pereda mual untuk ibu hamil, tetapi efek sampingnya menyebabkan ribuan bayi lahir dengan cacat bawaan serius (phocomelia) . Salah satu tokoh penting dalam mengungkap kebenaran ini adalah Dr. William McBride, seorang dokter kandungan asal Australia, yang pada tahun 1961 mencermati hubungan antara obat ini dan terjadinya phocomelia dan memutuskan menerbitkan temuannya di jurnal the Lancet dan sekaligus memperingatkan komunitas dunia kesehatan. Akhirnya thalidomide dilarang di seluruh dunia pada awal 1960-an dan peristiwa ini kemudian menjadi dasar pijakan untuk sistem uji klinis yang ketat, transparansi data, dan kejujuran dalam mengkomunikasikan risiko dalam penerbitan obat baru. Artikel Dr. Andrew Wakefield yang kontroversial diterbitkan di jurnal the Lancet pada tahun 1998 mengklaim adanya hubungan antara vaksin MMR (campak, gondongan, rubella) dan autisme. Penelitian ini memicu kontroversi besar dan menyebabkan penurunan tajam dalam cakupan vaksinasi, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan kasus campak. Namun, reaksi muncul dari komunitas riset dan klinisi yang tidak menemukan fakta dari yang disampaikan Wakefield. Setelah lewat penyelidikan dan mendapatkan bukti yang kuat, the Lancet menarik kembali artikel tersebut pada tahun 2010 karena ditemukan ketidakakuratan dan pelanggaran etika, dimana ditemukan adanya konflik kepentingan finansial. Namun kerusakan sudah sempat terjadi, banyaknya korban kematian balita akibat campak tak terelakkan. Ini pelajaran penting: kebenaran yang ditunda bisa berakibat fatal. Refleksi bagi kita: apakah kita berani menyampaikan kebenaran fakta observasi, penelitian dan analisa yang tidak populer demi kebaikan pasien dan masyarakat luas? Margin of error and Humility Kebenaran ilmiah bersifat dinamis. Dalam ilmu statistik, margin of error (MoE) adalah sebuah ukuran yang menunjukkan batas ketidakpastian dari suatu hasil survei atau estimasi. Ini sebuah pengakuan bahwa hasil yang kita peroleh dari suatu sampel tidak akan pernah persis mewakili populasi secara mutlak. Kita membuat estimasi, dan MoE memberi tahu kita seberapa besar kemungkinan kesalahan atau ketidakpastian dalam estimasi itu. Rumus MoE mendukung kebenaran teologis, dimana manusia tidak pernah benar-benar tahu secara mutlak—selalu ada ruang untuk keraguan, kesalahan, atau kekeliruan. Kita percaya bahwa kebenaran yang mutlak ada pada Tuhan. Manusia hanya bisa mencoba mendekati kebenaran, mengukurnya, menafsirkannya, tetapi tidak pernah memilikinya secara penuh. Oleh karena itu maka perlu ada kerendahan hati dan keterbukaan untuk mau terus belajar. 1 Korintus 13:9–10 (TB): "Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap." Dalam pengalaman karir saya, orang yang benar-benar ahli selalu memberi ruang ketidakyakinan ( margin of error ) dalam tulisan atau komentarnya. Sebaliknya, orang bodoh biasanya selalu yakin. Dalam praktik sehari-hari, kesalahan diagnosis, tatalaksana atau tindakan intervensi memang bisa terjadi. Namun, itulah momen di mana kejujuran menjadi titik tolak untuk memperbaiki sistem yang ada. Mengakui terjadi satu kesalahan bukan hanya tentang keterbukaan menerima kekurangan, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap kepercayaan pasien dan etika. Transparansi adalah fondasi bagi perbaikan sistem untuk lebih meningkatkan mutu layanan. Salah satu bentuk transparansi yang krusial dalam layanan kesehatan adalah kejujuran dalam melaporkan kasus-kasus near missed , yaitu insiden yang hampir menyebabkan cedera pada pasien tetapi berhasil dicegah sebelum fatal—merupakan indikator penting dalam upaya patient safety . Pelaporan yang jujur dan terbuka terhadap near missed memungkinkan fasilitas kesehatan untuk melakukan analisis akar masalah, mencegah terulangnya kesalahan yang sama, dan membangun budaya keselamatan pasien yang lebih kuat. Betapa pentingnya kejujuran itu dinyatakan dalam sistem layanan kesehatan. Sebab kejujuran menyelamatkan banyak nyawa. Kejujuran tidak hanya berdampak pada sistem layanan kesehatan secara kolektif, tetapi juga membawa pengaruh yang nyata terhadap kondisi kesehatan individu. Sebuah studi tentang “ Science of Honesty ” oleh Profesor Anita Kelly dari University of Notre Dame yang dipublikasikan tahun 2012 menunjukkan bahwa mengurangi kebohongan dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Dalam studi ini, para peserta yang mengurangi kebohongan mengalami penurunan stres, keluhan fisik, dan peningkatan kesejahteraan secara keseluruhan. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa kejujuran memiliki manfaat kesehatan yang nyata dan signifikan, baik secara fisik maupun mental. A scientist can be wrong, but he must not lie Tak pelak kebenaran merupakan pondasi utama dalam dunia kesehatan. Walaupun tenaga kesehatan tidak pernah benar-benar tahu kebenaran ilmu pengetahuan secara mutlak—selalu ada ruang untuk kesalahan, atau kekeliruan, namun dia tidak boleh bohong atau menutupi fakta. Pesan mendalam dari Erwin Chargaff dalam bukunya Heraclitean Fire: Sketches from a Life Before Nature (1978) tetap relevan: "Seorang ilmuwan bisa salah, tetapi dia tidak boleh berbohong." Chargaff mengingatkan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses pencarian kebenaran. Namun, yang tak pernah bisa ditoleransi adalah kebohongan atau manipulasi atau menyembunyikan data atau informasi yang disengaja. Sejarah dunia kesehatan menunjukkan bahwa beberapa kali perkembangannya dijegal oleh individu atau korporasi yang melakukan kebohongan atau menyembunyikan fakta untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Ini berakibat penderitaan dan keselamatan banyak orang. William Osler, seorang Bapak Kedokteran Modern pernah menegaskan ,"Truth is not only violated by falsehood; it may be outraged by silence." Dengan kata lain, ketidakbenaran bisa datang bukan hanya dari kebohongan, tetapi juga dari keengganan untuk menyatakan kebenaran atau “diam demi aman” ketika itu diperlukan. Dalam konteks ini, penting disadari bahwa kebohongan dalam dunia kesehatan tidak selalu berbentuk laporan klinis yang dimanipulasi—namun bisa juga berupa sistem yang rusak akibat praktik korupsi. WHO dalam publikasi-nya A study on the public health and socioeconomic impact of substandard and falsified medical products (2012) mencatat bahwa peredaran obat palsu dan substandar erat kaitannya dengan tingginya tingkat korupsi suatu negara atau daerah. Lemahnya tata kelola, pengawasan, dan kapasitas teknis menciptakan ruang bagi praktik penipuan yang secara langsung mengorbankan mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Ketika sistem gagal menjamin akses terhadap produk yang aman dan berkualitas, masyarakatlah yang menanggung akibatnya. Mengingat skandal korupsi di Pertamina baru- baru ini, kita pasti marah. Kalau kita tidak marah, mungkin hati nurani kita sudah tumpul. Melihat negara dirampok sekitar Rp 193,7 triliun per tahun oleh beberapa pejabat dan melihat saudara atau keluarga kita ikut antrian gas LPG 3 kg berdesakan dan berpanas-panasan, kita geram. Kalau dibuat perbandingan besarnya angka korupsi, koruptor-koruptor itu kira-kira merampok anggaran kesehatan satu tahun (tahun 2024 berjumlah Rp 187,5 triliun) dan itu berjalan sudah beberapa tahun. Bayangkan kalau dana itu dipakai seluruhnya untuk bidang kesehatan, betapa majunya pembangunan kesehatan negeri ini. Atau kalau berpikir terbalik, kalau dana itu tidak dikorupsi, maka mungkin sudah banyak kematian yang tercegah sepanjang tahun 2024. Oleh karena itu, kebenaran termasuk didalamnya transparansi menjadi kunci, bukan hanya dalam praktik pelayanan kesehatan, tetapi juga dalam menjaga sistem kesehatan secara keseluruhan. Find, Articulate and Implement Truth: A Sacred Calling Dunia kesehatan terus berubah dan kompleks dengan munculnya penyakit-penyakit baru dengan potensi menyebar secara global (pandemi). Dalam situasi ini kebenaran tetap menjadi senjata kita dalam menghadapinya. Seorang tenaga kesehatan yang memilih jalan kebenaran—meskipun harus menghadapi risiko kritik atau konsekuensi—pada akhirnya akan mendapatkan kepercayaan yang tak ternilai dari masyarakat dan komunitas dunia. Perjalanan panjang karir saya menunjukkan hal itu, walaupun kadang waktunya lama baru terjadi. Tenaga medis Kristen dipanggil bukan hanya mengasihi pasien, tetapi juga untuk hidup mencari kebenaran dan menyatakan kebenaran serta menjalankannya. Kasih tanpa kebenaran bisa jatuh menjadi bentuk kasih yang sentimental dan permisif; sedangkan kebenaran tanpa kasih bisa melukai. Tetapi kasih yang berpijak pada kebenaran adalah kekuatan yang menyelamatkan . Kita juga perlu jujur dan kritis terhadap fenomena yang terjadi di antara para tenaga kesehatan Kristen. Bukankah tidak sedikit yang bersembunyi di balik frase “panggilan Tuhan” sebagai dasar untuk melayani di kota besar—padahal justru banyak daerah yang kekurangan tenaga kesehatan atau keahlian tertentu. Jika semua orang ‘dipanggil’ hanya di kota-kota besar, maka terlihat seolah-olah Tuhan tak bijak—karena memanggil anak-anak-Nya hanya di wilayah yang sudah padat tenaga kesehatannya, sementara membiarkan wilayah-wilayah lain kosong dan terabaikan. Panggilan hidup dalam kebenaran dari dimensi moral dan spiritual juga mencakup keberanian untuk hadir di tempat yang dibutuhkan, bukan hanya tempat yang diinginkan. Dan kebenaran seringkali begitu sederhana, hanya cukup dengan melihat data distribusi tenaga kesehatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan dan menjalankannya dengan melayani di sana. Sudah saatnya kita kembali mengarusutamakan topik tentang kebenaran—baik dari aspek logika dan rasionalitas, maupun dari dimensi moral dan spiritual—dalam pendidikan kedokteran dan pendidikan tenaga kesehatan lainnya. Sudah saatnya kita menjadikan topik kebenaran kembali menjadi sentral diskusi dalam seminar, pelatihan medis, etika profesi, bahkan mimbar khotbah dan Persekutuan untuk membangun budaya profesi yang menjunjung kebenaran termasuk transparansi, dan keberanian menyuarakan yang benar. Sudah saatnya kita untuk benar-benar menyembah Allah yang adalah Roh dan Kebenaran dalam dunia profesi kita.
- Ketika Allah Memanggil, Apakah Kita Mengeraskan Hati?
Banyak orang Kristen sering mendengar, bahkan membahas tentang 'panggilan hidup'. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan panggilan hidup bagi orang Kristen? Panggilan hidup orang Kristen dapat dibedakan menjadi panggilan umum dan panggilan khusus. Berdasarkan Kitab Yohanes 17:18, “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku (Yesus) ke dalam dunia, demikian pula Aku (Yesus) telah mengutus mereka ke dalam dunia.” Ayat ini menyatakan dengan jelas panggilan umum orang Kristen adalah menjadi saksi Kristus di mana pun mereka berada (ditempatkan). Hal yang selanjutnya yang perlu untuk dibahas lebih mendalam adalah panggilan khusus. Beberapa orang dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di tempat tertentu, mungkin ke tempat dengan budaya yang berbeda, atau bahkan pergi bermisi ke tempat terpencil. Panggilan bermisi merupakan respon setiap orang percaya terhadap cinta kasih Kristus yang menyelamatkan dari hukuman dosa. Pada Kitab 1 Korintus 9:16, Rasul Paulus melihat misi untuk memberitakan Injil sebagai konsekuensi dari kasih karunia keselamatan yang telah ia terima, bukan beban hidup atau pilihan yang bersifat opsional (bisa ya, bisa tidak). Pertanyaannya adalah: sebagai orang Kristen yang telah mengalami kelahiran baru dan menerima kasih karunia keselamatan, sudahkah kita sungguh-sungguh menggumulkan panggilan hidup kita? Ataukah justru kita sedang menjalani panggilan hidup versi kita sendiri, yang tidak sesuai dengan standar Allah? Apakah kita malah sering menuntut Allah untuk memenuhi keinginan dan standar kita, padahal seharusnya kitalah yang menyesuaikan diri dengan standar Allah? Allah memang berdaulat dan Mahakuasa , namun dalam kasih dan hikmat-Nya, Ia memilih bekerja melalui manusia —ciptaan-Nya yang dicipta segambar dengan-Nya (Imago Dei)—untuk melaksanakan rencana-Nya di dunia. Kitab Kejadian 2:15, “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Sejak awal, manusia ditunjuk menjadi mitra kerja Allah : mewakili-Nya untuk memelihara ciptaan dan menjalankan kehendak-Nya di bumi. Panggilan Allah adalah kasih karunia , bukan karena manusia mampu, tapi karena Allah ingin melibatkan umat-Nya dalam rencana penebusan dunia. Dari Kitab Efesus 2:10, “Kita ini adalah ciptaan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.” Allah bukan hanya menyelamatkan kita, tapi juga memanggil kita untuk menjadi alat kasih dan kebenaran-Nya di dunia ini. Allah memanggil manusia untuk melakukan kehendak-Nya agar dunia melihat siapa Dia melalui hidup orang percaya . “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16). Misi kita di dunia adalah memantulkan kemuliaan Allah , bukan untuk diri sendiri, tapi supaya orang lain tertarik kepada Dia. Sebagai dokter Kristen yang telah menerima kasih karunia keselamatan, sudah seharusnya kita merespons panggilan itu dengan melayani pasien-pasien kita dalam semangat misi Kristen. Pelayanan misi bukan hanya soal memberitakan Injil melalui pelayanan kesehatan, tetapi juga berupaya untuk memberikan pelayanan yang holistik—menyentuh seluruh aspek kebutuhan pasien. Kita perlu peka terhadap kebutuhan mereka dan hadir untuk menjawab kebutuhan nyata yang mereka hadapi. Kita belajar dari teladan Kristus yang menyembuhkan orang sakit (Luk. 10:9), memberi makan kepada yang lapar (Mat. 25:35–40), dan membela mereka yang tertindas (Yes. 1:17). Marilah kita setia menggumulkan dan menjalani panggilan hidup yang Tuhan percayakan kepada kita. Jangan mengeraskan hati atau membiarkan ego menguasai diri. Peliharalah iman kita sebagai orang Kristen, dan tetaplah peka terhadap suara dan panggilan Allah. Teruslah menguji dan menegaskan panggilan hidup kita di hadapan-Nya. Jangan sampai kita hidup sedemikian rupa hingga Allah memalingkan wajah-Nya dan tidak lagi mengindahkan kita. “Soli Deo Gloria” — segala kemuliaan hanya bagi Allah , yang dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dialah segala sesuatu (Roma 11:36) /ff
- “Creation Care: Bagaimana Seharusnya?”
Untuk kesekian kalinya, seruan penutupan pabrik kertas milik PT Toba Pulp Lestari di Kabupaten Toba Sumatra Utara yang kali ini disuarakan oleh Ephorus HKBP Pdt Dr Victor Tinambunan dilakukan, karena dampaknya yang begitu besar terhadap kerusakan lingkungan. Sementara itu, Pulau Raja Ampat yang merupakan kawasan konservasi yang dilindungi negara, dieksploitasi secara masif - sekitar 500 hektar hutannya dibabat dan tanahnya dikeruk. Masyarakat setempat juga telah menuntut penutupan perusahaan nikel yang beroperasi di sana. Dua fakta yang sempat viral tersebut, sayangnya menguap begitu saja tanpa tindak lanjut yang signifikan. Sesungguhnya, lingkungan hidup dimana kita tinggal dan hidup sedang tidak baik-baik saja: hilangnya hutan mengakibatkan punahnya berbagai spesies tumbuhan dan hewan ( biodiversity ), terjadinya degradasi lingkungan dan pencemaran air, serta naiknya permukaan air laut. Semua akibat kegagalan manusia dan negara menjalankan mandat penatalayanan ( stewardship ). Akibat ulah manusia, semua ciptaan baik manusia dan non-manusia pun mengerang. Pada umumnya motivasi dari gerakan kepedulian alam didasarkan pada perspektif antropologi dimana pemeliharaan alam semata-mata demi manusia, misalnya untuk menjaga keindahan, kebersihan, kesehatan dan warisan untuk generasi masa depan. Namun, apakah hanya sebatas itu mengingat orang Kristen malah terkesan lambat dalam menanggapi permasalahan ekologi? Bagaimanakah seharusnya memelihara ciptaan Tuhan? Menyadari beberapa pemahaman yang salah Pemahaman yang tidak tepat tentang ciptaan lainnya antara lain: menganggap hewan dan tumbuhan tidak punya masa depan ( future ) dan eksistensinya hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Anggapan bahwa Allah lebih memedulikan dan mengasihi manusia sehingga tindakan penyelamatan Allah hanya untuk manusia dan tidak ada hubungannya dengan ciptaan lainnya. Pemahaman lainnya adalah pemahaman eskatologi (akhir zaman) yang menekankan bahwa menangani isu ekologi membuang waktu karena dunia nantinya akan hancur. Selanjutnya, tindakan satu orang atau beberapa orang tidak akan memberikan dampak apa-apa. Pemahaman yang salah ini, hanya akan melemahkan perjuangan pemeliharaan ciptaan dan mengabaikan tugas panggilan penatalayan yang Allah embankan. Mengakui Allahlah sang pemilik bumi, bukan manusia Dalam Mazmur 24:1 dikatakan: “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” Dialah yang menopang seluruh ciptaan-Nya sejak penciptaan (Kolose 1:16-17), di dalam tangan-Nya, terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia (Ayub 12:10). Sebagai sang pemilik, Tuhan adalah tuan dan raja atas semuanya. Dalam kebijaksanaan-Nya, Tuhan mengatur tata letak, batas, ragam, dan fungsi semua ciptaan-Nya. Dia juga mendesain relasi dan saling kebergantungan di antara ciptaan-Nya. Manusia tidak dapat hidup tanpa tumbuhan dan hewan, demikian sebaliknya. Manusia juga tidak dapat dipisahkan dari alam semesta, karena berasal dari alam yaitu debu. Terdapat hubungan timbal balik (interconnection) antara manusia dan ciptaan lainnya. Allah sungguh menikmati keindahan dan keharmonisan hasil karya-Nya. Dia tidak hanya berkenan menerima nyanyian pujian dari manusia melainkan juga menikmati pujian dari pohon yang bergoyang dan burung yang berkicau. Bahkan, di akhir zaman semua makhluk di bumi dan di surga akan memuji Yesus, Anak Domba yang duduk di atas takhta (Wahyu 5:13). Dia tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya dan tidak satu pun luput dari perhatian-Nya, bahkan burung pipit pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak-Nya (Matius 10:29). Oleh karena itu, Allah memercayakan tugas penatalayanan ( stewardship ) kepada manusia sebagai makhluk yang membawa gambar dan rupa Allah, untuk mewakili-Nya mengelola ciptaan lainnya. Allah menghendaki bumi dikelola dengan cara mengusahakan (Ibrani: abad=serve ) dan memelihara (Ibrani: shamar=keep/protect ), bukan untuk memiliki apalagi menjadi tuan atas ciptaan Allah (Kejadian 1:28; 2:15). Dengan demikian tindakan pembiaran, pasif, dan ketidakpedulian, apalagi eksploitasi terhadap ciptaan Allah adalah bentuk perlawanan terhadap Allah dan dosa di hadapan Sang Pemilik bumi dan segala isinya. Alasan memelihara ciptaan Tuhan Kepedulian terhadap ciptaan (creation care) meliputi kepedulian terhadap manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan karena kerusakan alam bukan hanya berdampak negatif terhadap manusia, melainkan juga terhadap tumbuhan dan hewan. Bila dalam ekosistem terdapat satu bagian yang rusak, maka semua akan kesakitan. Misalnya, penggundulan hutan akan mengakibatkan longsor dan banjir yang dapat membunuh binatang dan manusia. Allah peduli terhadap seluruh ciptaan-Nya . Allah menghendaki umat-Nya melakukan kebenaran dan menegakkan keadilan bagi sesama (Mikha 6:8). Dia juga memerintahkan Israel untuk menjaga produktivitas tanah dengan mencanangkan tahun Yobel (Imamat 25). Sebelum air bah, Nuh diperintahkan Allah untuk membawa ke dalam bahtera semua jenis binatang berpasang-pasangan (Kejadian 6:20). Selanjutnya, karya penebusan Kristus tidak hanya untuk manusia, melainkan untuk pembaharuan seluruh ciptaan (Kis. 3:21). Dengan menatalayani ciptaan Tuhan, sesungguhnya kita sedang merefleksikan karakter Allah dalam memperlakukan ciptaan-Nya, menghargai hasil karya Allah serta mendemonstrasikan ketundukan kita pada perintah Sang Pencipta, serta berpartisipasi dalam pekerjaan Allah dalam merestorasi dunia ciptaan yang rusak karena dosa manusia. Kita merupakan bagian dari ciptaan. Kita perlu menyadari akan status dan posisi kita dalam tatanan ciptaan Tuhan dan bahwa kita tidak dapat dipisahkan dari ciptaan lainnya. Oleh karena itu, kita harus mendatangkan kebaikan bagi ciptaan lainnya dengan cara menatalayaninya sesuai kemampuan dan keterampilan yang dianugerahkan Tuhan. Allah mengatakan semua yang dijadikan-Nya sungguh amat baik. Dalam pandangan-Nya, dunia ciptaan sudah sesuai kehendak-Nya dan memuaskan hati-Nya. Dengan menatalayani ciptaan Tuhan, kita sedang mendemonstrasikan identitas kita sebagai part of creation dan good steward atas ciptaan Tuhan. Pemeliharaan ciptaan adalah masalah Injil. Ed Brown, Direktur Eksekutif dari Creation Care dalam IFES World Assembly tahun 2023 di Jakarta, menyatakan bahwa creation care is a matter of the Gospel . Creation care bukan hanya isu lingkungan, ilmu, politik atau ekonomi, melainkan masalah rohani. Gereja-gereja yang bergabung dalam Lausanne Movement telah menyusun pernyataan akan alasan mempedulikan ciptaan yaitu “bumi diciptakan, dipelihara, dan ditebus oleh Kristus. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Allah sementara mengabaikan ciptaan-Nya. Kita seharusnya memakai ciptaan dengan bertanggung jawab. Hubungan kita dengan Allah tidak terpisah dari cara kita memperlakukan bumi.” Wujud kepedulian terhadap orang miskin. Orang miskinlah yang paling banyak kena dampak kerusakan lingkungan sekalipun mereka paling sedikit menyebabkan kerusakan alam dibandingkan orang pada umumnya yang memiliki konsumsi besar setiap harinya. Ingat, kita lebih banyak memproduksi sampah daripada mereka yang miskin. Dengan memelihara ciptaan, kita sedang mengurangi dampak negatif kerusakan lingkungan terhadap orang miskin. Wujud memenuhi panggilan disiplin ilmu. Pemeliharaan ciptaan merupakan panggilan mengintegrasikan disiplin ilmu dalam bentuk tindakan dan dalam keikutsertaan menatalayani ciptaan Tuhan. Sebagai kaum intelektual, kita ditantang untuk mengimplikasikan keilmuan yang kita miliki secara kreatif dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, di bidang kesehatan, selain menangani kesehatan manusia dan mengobati penyakit, juga berpartisipasi dalam aktivitas kesehatan lingkungan misalnya dengan penanaman pohon, pemilahan sampah, dan pengelolaan sampah, termasuk penyuluhan tentang hubungan penyakit dengan kerusakan lingkungan dan usulan kebijakan untuk umum. Berbagai aktivitas dapat dilakukan antara lain pengobatan, pencegahan, penyebarluasan informasi, juga usulan kebijakan publik di bidang kesehatan. Tindakan praktis memelihara ciptaan Sekalipun yang kita lakukan kecil dan sepertinya tidak berpengaruh, tetapi semangatnya adalah menatalayani ciptaan Tuhan. Beberapa hal sederhana yang dapat segera kita lakukan adalah membangun gaya hidup dan tindakan sehari-hari dalam melakukan 3R ( reducing, reusing, dan recycling ). Kita perlu memeriksa cara membeli dan mengkonsumsi: Apakah kita telah mempraktekkan tindakan menghormati Allah dan memperdulikan alam? Melakukan evaluasi terhadap kebiasaan konsumsi dengan memperhatikan apakah produk yang dibeli aman bagi lingkungan (environment friendly) , membuat kompos dari sampah rumah tangga, mendaur ulang dan mengurangi penggunaan plastik dengan menggunakan tas belanja dan membawa botol minuman, memilih naik sepeda daripada mengendarai mobil, serta memilah sampah sebelum dibuang. Terdapat kisah nyata di tempat pembuangan akhir di Bandung dimana seorang pemulung sampah terluka tangannya akibat pecahan gelas (beling) yang dimasukkan dalam kantong yang berisi sisa makanan. Kita dapat bergabung dengan gerakan kebersihan lingkungan dan mendukung komunitas yang melakukan inisiatif pelestarian alam yang dilakukan oleh gereja, lembaga atau komunitas, maupun menggagas atau menginisiasi kegiatan pelestarian, juga mengadvokasi kebijakan dan praktek melindungi lingkungan. Kita juga dapat melakukan edukasi untuk mempromosikan tindakan pemeliharaan yang berkelanjutan. Melalui mimbar, liturgi dan doa, jemaat diajarkan tentang peran memelihara alam dan kemudian tergerak untuk mengatasi masalah lingkungan di sekitarnya termasuk menciptakan area hijau di sekitar rumah, gereja, dan komunitas. Digerakkan melalui Kelompok Pemuridan Creation care is a fundamental part of our identity as followers of Jesus Christ . Kepedulian terhadap ciptaan sebagai bagian dari pemuridan - dalam kelompok kecil, akan membentuk pola pikir yang alkitabiah dan mengakar kuat serta membangun gaya hidup dari anggota kelompok. Namun pada umumnya, bahan diskusi dan penelaahan Alkitab tentang penatalayan sering difokuskan hanya pada pengelolaan uang dan talenta, jarang mengarah pada penatalayanan terhadap ciptaan. Dalam kelompok, penelaahan alkitab seharusnya diikuti dengan mendiskusikan cara sederhana dan praktis untuk memelihara alam, termasuk langkah membentuk gaya hidup seorang penatalayan. Lebih lanjut, pemuridan di kalangan mahasiswa dan profesional perlu membahas implikasi berbagai disiplin ilmu terhadap pemeliharaan ciptaan misalnya di bidang kesehatan, tehnologi, tehnik, pertanian, peternakan, ekonomi bisnis, dlsb. Jadi, tindakan memelihara ciptaan seharusnya keluar dari hati yang beribadah kepada Tuhan, dan kasih kepada Tuhan dan ciptaan-Nya. Pemuridan akan menggerakan dan memampukan setiap anggota melakukan pemeliharaan ciptaan sebagai tindakan iman, bukan sekedar tindakan sosial atau kepedulian semata, melainkan juga menjadi tindakan partisipatif dari seluruh umat Tuhan - tua-muda, besar-kecil, dan bukan sekedar sekelompok orang yang memiliki interes yang sama. Yesuslah Tuhan atas segalanya dan semua ciptaan berada di bawah kekuasaan-Nya, karena itu marilah menatalayani ciptaan milik Tuan kita. Sumber: Ephorus HKBP Victor Tinambunan Serukan Penutupan Permanen PT Toba Pulp Lestari pada Rakorwil PSBI - Tribun-medan.com . Sabtu (17/5/2025). https://nasional.kompas.com/read/2025/06/09/10493731/polemik-tambang-di-raja-ampat-rusak-alam-diprotes-masyarakat-dan-dalih . Christopher Wright, The Mission of God’s People, Zondervan, USA, 2010 Dave Bookless, PlanetWise-Dare to Care for God’s World, Inter-Varsity Press, England, 2008 Ed Brown, Plenary Session, IFES World Assembly di Jakarta, YouTube, 2023 Creation Care and the Gospel - Lausanne Movement
- Ketika Bejanamu Penuh dan Hendak Bermisi
Ketika muda, sebagai seorang dokter Kristen, saya sering berpikir untuk memperlengkapi diri dengan banyak ilmu dan keterampilan, supaya dapat memberikan pelayanan kesehatan yang baik di tempat saya bermisi. Saya ingin cerita tentang seorang dokter Kristen bernama dr. Ragland Arul Chandran Paul (RAC Paul) dan istrinya, dr. Iris Grace Rajakumari yang menjadi misionaris pada tahun 1971 di Malkangiri, sebuah distrik kecil di India. Mereka membuka klinik sederhana dan melayani masyarakat Bondo sambil menterjemahkan Alkitab ke Bahasa Bondo agar suku tersebut dapat mengenal Injil. Ketika remaja, RAC Paul pernah mengalami sakit serius dan hampir meninggal. Hanya karena pertolongan Tuhan, RAC Paul berhasil melewati pengalaman hidup dan mati tersebut. Pengalaman itu kemudian mendorongnya untuk bersungguh-sungguh menjalani kehidupan iman Kristen dan menerima panggilan sebagai seorang misionaris sekaligus dokter Kristen bagi suku Bondo. Ia pun bertemu dengan calon istrinya dr. Iris Grace Rajakumari yang juga terpanggil untuk menjadi dokter misi. Mereka akhirnya menikah dan bersama menjalani panggilan Tuhan untuk melayani Suku Bondo. Di masa akhir hidupnya, RAC Paul mengalami gagal ginjal yang membuatnya menjalani banyak pengobatan, termasuk prosedur transplantasi ginjal, dan dalam sakitnya, ia tetap giat mengabarkan Injil kepada banyak pasien yang ia temui saat dirawat bersama. Setelah RAC Paul dipanggil Tuhan, pelayanan misinya tidak berhenti, tetapi dilanjutkan oleh istri dan anak-anaknya. Pada tahun 1994, dr. Iris mendirikan Reaching Hand Society (RHS), yang hingga kini telah menjangkau lebih dari 700 dari 926 desa di Malkangiri, melakukan pengeboran sebanyak 300 sumur, menurunkan angka kasus polio menjadi 0%, dan pada akhirnya mendirikan St. Luke’s Hospital. Kini kita mengenal bagaimana sepasang suami istri dokter dipakai Tuhan untuk suku Bondo di sebuah distrik kecil di India. Bagaimana dengan kita? Apakah kita terpanggil menjadi dokter Kristen yang bermisi ke daerah terpencil untuk membawa kisah kasih Kristus kepada banyak orang yang belum mengenal-Nya? Ataukah kita masih bergumul dengan bejana kosong dimana kita masih merasa kurang pintar atau pun kurang ahli, sehingga ragu untuk melangkah pergi? dr. RAC Paul dan dr. Iris Grace mungkin merasa membawa bejana yang kosong tetapi dalam kepenuhan iman dan kuasa Kristus. Mereka meninggalkan kehidupan yang nyaman dan memilih berespon terhadap panggilan Allah untuk membangun dan mengelola sebuah klinik kecil untuk dapat melayani suku Bondo secara holistik termasuk membuat Injil dapat dipahami dalam Bahasa Bondo. Di lain pihak, ketika kita merasa sudah siap dengan membawa bejana yang sudah penuh dengan begitu banyak pencapaian, kepintaran, keahlian, dan kemapanan hidup, dan hendak pergi untuk pelayanan misi, maka tundalah keinginan itu dan kosongkan bejana yang penuh dengan segala kelebihan dan ego diri sendiri tersebut. Sebaliknya, isilah bejana hidup dengan Iman dan kasih Kristus, dan pergilah menjalani panggilan misi sebagai dokter Kristen. 2 Korintus 4:7, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Penting untuk diingat bahwa modal awal untuk bermisi adalah Iman dan Panggilan Allah, dan dalam menjalani misi tersebut, Kristus sendiri yang akan mengisi terus bejana hidup kita dan memperlengkapi kita. Sebagai dokter Kristen, marilah kita tetap setia menggumuli panggilan Tuhan dalam hidup kita, dan bertekun dalam menjalaninya, sampai akhir Tuhan memanggil kita pulang. “Soli Deo Gloria” — segala kemuliaan hanya bagi Allah, yang dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dialah segala sesuatu (Roma 11:36) /kb
- Ketika Rumah Sakit Misi Menurunkan Layar dan Kehilangan Awaknya
credit : rawpixel.com Ketika dokter Kristen mendengar tentang Rumah Sakit Misi Kristen, saya berharap yang kita pikirkan adalah Rumah Sakit yang melayani pasien-pasiennya dengan semangat misi kristiani dan memberikan pelayanan kesehatan kepada sesama tanpa memandang perbedaan, pemberitaan Injil, dan melayani sesama seperti teladan Kristus. Semoga saja generasi sekarang ini, ketika mendengar tentang Rumah Sakit Misi Kristen, tidak mendadak alergi, karena berpikir harus pergi ke tempat yang terpencil, bekerja keras, dibayar murah, dan hidup jauh dari kenyamanan dunia, dan akhirnya menjauhi beritanya, panggilan-Nya, atau bahkan menganggap segala sesuatu tentang Rumah Sakit Misi Kristen itu seperti alergen untuk tubuh yang harus dihindari. Kitab Matius, 9:36 “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” dan Kitab Matius 14:14, “Ketika Yesus mendarat dan melihat orang banyak yang besar jumlahnya, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.” Kita sebagai dokter Kristen belajar dari teladan Kristus untuk tidak hanya melayani pasien-pasien kita karena belas kasih kita kepada mereka yang membutuhkan pengobatan semata, tetapi kita juga terpanggil untuk melayani mereka yang terhilang secara rohani seperti domba yang tidak bergembala. Rumah Sakit Misi Kristen dibentuk untuk menjadi “menara gading” pengabaran Injil melalui pelayanan kesehatan yang mengedepankan teladan kasih Kristus. Begitu sulit pengelolaan keuangan rumah sakit karena sebagian besar 'keuntungan' habis terpakai untuk menolong pasien-pasien yang tidak mampu atau sekedar menutup dana jaminan kesehatan yang memang tidak sesuai. Rumah Sakit Misi Kristen biasanya sederhana, tidak memiliki banyak alat canggih, karena semakin sederhana dan efektif pelayanannya, maka semakin banyak hasil keuntungan pelayanan yang bisa dipakai kembali untuk memberkati banyak pasien-pasien yang tidak mampu. Ketika kita sebagai Dokter Kristen masa kini berpikir, ah jaman sekarang kan sudah ada jaminan kesehatan pemerintah yang gratis, tetapi pernahkah kita berpikir bahwa akses transportasi pasien yang jauh ke pusat kesehatan yang layak dan biaya transportasi yang menurut orang kota itu murah, di daerah terpencil bisa menjadi sangat mahal. Saya pernah menangis dalam hati karena seorang pasien yang sesak napas tidak memiliki uang dua puluh ribu rupiah untuk menyewa ojek motor ke rumah sakit. Akhirnya, ia meninggal di rumah dalam kesendirian, dan ditangisi oleh anak remajanya yang baru pulang dari bekerja di ladang yang mendapati ayahnya sudah meninggal. Sebagai tenaga kesehatan Kristen, mungkin yang saat ini sedang menikmati kenyamanan hidup dan beribadah, pernahkah terpikirkan tentang masih banyaknya rumah sakit misi Kristen yang memerlukan bantuan tenaga untuk dapat melayani domba-domba yang tidak bergembala? Atau, mungkinkah kita pernah menepis pemikiran yang merasa tidak cukup melayani Tuhan bahkan ketika kita sudah melayani secara aktif di Gereja lokal dan aktif dalam penginjilan pribadi kepada orang-orang di sekitar kita? Seorang dokter senior Kristen pernah membahas cerita tentang persembahan janda miskin (Markus 12:41-44), di mana seorang janda miskin memberi dari kekurangannya dan kata Tuhan Yesus, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.” Dalam konteks pelayanan misi di daerah terpencil, maukah kita meneladani janda miskin tersebut dengan memberikan waktu hidup kita yang hanya satu kali ini untuk melayani Allah dengan bekerja di rumah sakit misi Kristen? Seperti ada tertulis, jika Allah yang memanggil dan mengutus, maka Ia sendiri yang akan membuka jalan . Tak ada rintangan yang terlalu besar, tak ada hati yang terlalu keras, ketika tangan Tuhan yang bekerja. “Soli Deo Gloria” — segala kemuliaan hanya bagi Allah, yang dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dialah segala sesuatu (Roma 11:36). /kb
- Taat dan Percaya
Misionaris. Bermisi. Dua kata yang terasa begitu asing. Tak pernah terbayang akan melayani di tempat yang berjarak 1.600 km dari kampung halaman. Hal yang tidak mungkin terpikirkan bagi saya yang baru terlibat aktif melayani di gereja di usia 15 tahun dan kemudian bergabung dengan Persekutuan Mahasiswa Kristen di bangku kuliah. Pengalaman ke daerah terpencil? Belum pernah. Pelayanan ke luar yang pernah dilakukan hanyalah sesekali ikut dalam pelayanan kesehatan ke panti asuhan atau panti jompo. Sehingga menjadi seorang dokter misi di daerah terpencil terasa sangat mustahil. Bahkan untuk sekadar mendoakannya pun, saya tidak berani. Alasan yang sering muncul: “Masih banyak hal yang bisa dikerjakan di sini.” Tahun 2017 menjadi titik balik penting dalam perjalanan sebagai dokter. Masa internship baru saja selesai, dan pergumulan soal tempat kerja mulai muncul. Di tengah masa pencarian itu, seorang kakak KTB mengingatkan tentang Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam—dan permintaan sederhana pun muncul: “Doakan, ya.” Meskipun hati dipenuhi rasa takut dan keraguan, doa itu pun dimulai dan dijawab dengan panggilan Tuhan untuk melangkah keluar dari zona nyaman: menjadi seorang dokter di Serukam, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Pada akhirnya, panggilan Tuhan ditaati. Menjadi dokter umum di Serukam bukan perkara mudah. Banyak pasien datang dalam kondisi berat, sementara fasilitas sangat terbatas. Pekerjaan tak pernah habis: visite pasien di bangsal, siap sedia terhadap panggilan dari IGD, membantu di poliklinik, menjadi asisten operasi, bahkan sesekali mengajar di Akademi Keperawatan. Kadang dikirim melayani ke desa-desa terpencil bersama tim. Di tengah semua itu, persiapan akreditasi pun harus dilakukan—tak jarang malam dilalui di rumah sakit demi menyelesaikan pekerjaan. Lelah? Sudah pasti. Doa penuh keluh pun sampai tak terhitung dinaikkan: “Tuhan, ini terlalu berat. Saya tidak sanggup.” Dan Tuhan menjawab melalui berbagai cara. Dia beranugerah dengan menyatakan kemahakuasaan-Nya melalui mukjizat. Pasien yang dirawat berbulan-bulan, akhirnya pulih dan pulang dengan senyum. Terkadang Tuhan juga menjawab lewat rekan-rekan kerja: “Terima kasih ya, sudah berjuang.” Kadang juga jawaban datang lewat teladan para konsulen: di tengah kesibukan, mereka selalu mengingatkan kami untuk mendoakan pasien. Bahkan keindahan langit saat pulang ke rumah menjadi hiburan dari-Nya—pengingat akan karya-Nya yang agung dan luar biasa. Jawaban Tuhan datang dalam berbagai bentuk, namun pesannya tetap satu: “Ini bukan tentang kamu. Ini tentang Aku dan pekerjaan-Ku. Aku yang memanggil kamu, Aku pula yang akan menolongmu menyelesaikannya.” Kini, setelah menyelesaikan pendidikan sebagai Spesialis Penyakit Dalam, pelayanan akan dilanjutkan kembali di Serukam—dengan tantangan yang mungkin lebih besar. Tapi satu hal pasti: Tuhan masih berkarya. Sungguh suatu kehormatan bila Tuhan masih berkenan memakai seorang pribadi yang penuh kelemahan dan menjadi bagian dari karya-Nya yang ajaib melalui pelayanan misi. Syukur dan pujian hanya bagi Tuhan. "Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya." — 1 Tesalonika 5:24
- Bagian Pertama: Menantikan Sang Mesias dengan Respon yang benar
Saat ini kita kembali memasuki masa Natal di penghujung tahun 2024. Pertanyaan yang patut kita renungkan sebagai orang percaya adalah apa yang sudah ataupun sedang kita persiapkan? Siapakah atau apakah yang kita nantikan? Bagaimana kita meresponi masa Natal ini? Sembari kita merefleksikan pertanyaan-pertanyaan di atas, penulis mengajak untuk kita dapat melihat kembali apa yang tertulis di Alkitab tentang tiga kelompok orang yang berespon terhadap berita lahirnya Sang Mesias yaitu kelompok orang yang tidak menantikan, ingin terlihat seakan menantikan, dan yang benar menantikan kehadiran Sang Mesias. Bagaimana respon mereka dan hal apa yang dapat kita pelajari dari mereka (baca Matius 2:1-18). Setelah bangsa Israel secara bertahap kembali ke Yerusalem dari pembuangan di Babel sejak tahun 537/538 SM, pembangunan Bait Allah dan pembacaan Taurat kembali dilakukan setelah sekian lama. Namun, pengembalian jati diri dan identitas sebagai umat Allah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengaruh budaya asing dan penyembahan ilah-ilah dari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah rupanya begitu kental mempengaruhi bangsa Israel. Kawin campur, pelanggaran pada hukum Taurat seperti pengabaian perpuluhan dan hari Sabat, serta moralitas yang rusak akibat pengaruh budaya asing, terutama dari budaya Helenistik yang dominan, menjadi gambaran kondisi buruk bangsa Israel saat itu. Ditambah lagi dengan bangsa-bangsa lain yang menjajah mereka silih berganti dari Persia, Yunani, sampai dengan Romawi. Di masa-masa tersebut, orang Yahudi merasa begitu terpuruk dan menderita sehingga janji akan keselamatan oleh Sang Mesias menjadi pengharapan mereka satu-satunya. Sayangnya, masa-masa penantian tersebut diperburuk dengan tidak adanya suara Tuhan. Masa tersebut disebut sebagai masa keheningan 400 tahun, yaitu sejak 420 SM (masa Maleakhi) sampai abad ke 1. Inilah salah satu masa terburuk bagi bangsa Israel, bukan hanya karena kondisi hidup mereka, tetapi juga karena ketiadaan wahyu Allah. Yang tidak menantikan Sang Mesias Respon pertama atas berita kelahiran Sang Mesias yang akan kita pelajari adalah respon dari Herodes. Para majus dari timur tiba di Yerusalem untuk menemukan Sang Mesias. Namun, respon Herodes malah terkejut (Mat. 2:3). Kata “terkejut” tersebut menggunakan bahasa Yunani ταράσσω, yang menurut Craig Bloomberg seorang teolog Perjanjian Baru, lebih tepat diterjemahkan sebagai “dalam kekacauan” atau bahkan “ketakutan”. Kenapa Herodes ketakutan? Herodes, raja Yudea saat itu, merupakan keturunan Edom yang cukup familiar terhadap nubuatan Sang Mesias dan Kerajaan-Nya. Setelah 35 tahun bertahta sebagai raja kecil, kabar penggenapan janji Allah membuatnya iri hati dan takut kehilangan jabatannya sebagai ‘raja’. Bukan saja ia berharap bahwa penggenapan janji tersebut gagal, Herodes tidak ragu untuk melakukan segala cara demi menggagalkan hadirnya Sang Mesias dengan caranya sendiri. Ia menggali informasi dari para majus dan bahkan mengumpulkan imam kepala dan para ahli Taurat bangsa Yahudi untuk bisa mendapatkan lokasi dan waktu yang tepat terkait lahirnya Sang Raja. Hati jahatnya pun mengakibatkan tangis dan ratapan yang teramat sedih bagi para ibu yang kehilangan anak akibat rasa takut dan cemburu si raja kecil (Mat. 2:16-18). Bagaimana dengan kita saat ini? Mungkin sebagian dari kita berkata “Jelas aku bukan seperti Herodes yang ingin membunuh Yesus!”. Namun dengan tidak menempatkan Kristus sebagai satu-satunya Raja dalam kehidupan kita, kita tidak berbeda dengan Herodes. Sikap hati yang ingin bebas mendefinisikan apapun, tidak mau tunduk pada kebenaran Firman Tuhan, dan hanya mau mendengarkan apa yang mau kita dengar, merupakan ciri sikap hati “raja kecil” yang menganggap kebenaran Allah sebagai ancaman terhadap otoritas keakuan diri kita, yang pada akhirnya secara sadar atau tidak menjadikan Tuhan sebagai “musuh” yang kehadiran-Nya merupakan gangguan bagi kenyamanan diri dalam keberdosaan. Yang sepertinya menantikan Sang Mesias Kelompok orang yang kedua adalah para imam kepala dan ahli Taurat. Menariknya di masa ketika Allah ”diam”, bangkitlah dua kelompok keagamaan utama Yahudi yaitu yang disebut Farisi yang terkenal legalistik dan kelompok Saduki yang dikenal sangat liberal. Para Imam dan ahli Taurat ini tentu bisa menjawab dengan sangat akurat saat Herodes bertanya di mana Mesias akan dilahirkan, “Di Bethlehem, di tanah Yudea…” seperti yang tertulis di Mikha 5:1. Imam kepala merupakan pemimpin agama Yahudi dengan jabatan tertinggi yang mengemban tugas utama untuk mengawasi jalannya ibadah di Bait Suci, sedangkan ahli Taurat memang bertugas untuk mempelajari hukum Taurat (atau Perjanjian Lama bagi orang Kristen). Sehingga, sudah tidak heran mereka begitu memahami nubuat terkait kedatangan Mesias yang dijanjikan. Dan sebagai pemimpin agama, seharusnya pengetahuan mereka diikuti dengan kerinduan yang teramat dalam akan datangnya Sang Mesias ”untuk membebaskan umat Allah dari penjajahan bangsa Romawi kala itu” (hal ini pun merupakan interpretasi superfisial dan keliru). Namun, respon imam kepala dan para ahli Taurat hanya berhenti di situ. Mereka menjawab pertanyaan Herodes yang sedang kebakaran jenggot tentang Kristus yang sudah lahir. Lalu, mereka mungkin kembali ke aktivitas hidup keagamaan mereka tanpa aksi apapun. Sebagai pemimpin yang harusnya sadar akan kondisi buruk bangsanya, mereka harusnya jadi pihak yang paling merindukan penggenapan janji kedatangan Mesias. Sudah seharusnya mereka berespon dengan segera ikut para majus untuk menyambut kehadiran Sang Raja. Mesias yang dinanti-nantikan telah lahir, tunggu apa lagi?! Sangat disayangkan, mereka tidak melakukan apa-apa. Pemahaman kognitif yang dalam tentang Firman Tuhan tidak serta merta membuahkan respon yang benar di hadapan Tuhan. Orang Kristen yang sepertinya terlihat rajin menggali kebenaran Alkitab dan pergi beribadah, belum tentu benar-benar menanti-nantikan Kristus. Banyak yang melakukannya hanya untuk memuaskan otak atau memuaskan perasaan atau memang sekedar mencari nafkah dengan profesi rohaniawan. Kristus hanya penting selama mendatangkan keuntungan. Sudah sejauh mana kita mempersiapkan diri di masa Natal ini? Benarkah Sang Mesias yang kita nanti-nantikan? Sejauh mana kita menyadari kemerosotan kita sehingga menyadari signifikansi kedatangan Kristus? Kiranya refleksi dari tulisan ini mendorong setiap kita yang membaca untuk sungguh-sungguh merindukan pengenalan yang sejati akan Allah melalui momen Natal di bulan ini. Minggu depan, kita akan melanjutkan untuk mempelajari respon kelompok orang yang ketiga yaitu yang menantikan Sang Mesias dan berespon dengan benar atas kelahiran Sang Raja Damai.
- Paradoks dalam Kehidupan Kristen: Eksposisi Filipi Bagian 1
Filipi 1:1-2:11 Jika kita membaca berbagai tulisan mengenai surat Filipi, kita akan menemukan sejumlah paradoks – sesuatu yang berlawanan dengan pendapat umum. Bagaimana mungkin bersukacita dalam penderitaan? Bagaimana mungkin memberi dalam kekurangan? Bagaimana mungkin menghibur dalam kedukaan? Bagaimana mungkin peduli kepada persoalan orang lain dalam persoalan diri sendiri yang tidak kunjung usai? Surat kepada jemaat Filipi ini dikirimkan melalui Epafroditus. Ia akhirnya diutus Paulus untuk kembali ke Filipi setelah ia pulih dari sakitnya yang begitu parah, bahkan hampir mati (Fil. 2:25-28). Oleh karena pekerjaan Kristus, Epafroditus hampir saja kehilangan jiwanya, kata Paulus (Fil. 2:30). Surat ini sendiri ditulis oleh Paulus saat ia berada di penjara di Roma (Fil. 1:7, 13-14; 2:17). Selayaknya dalam penjara, tentu saja Paulus juga mengalami berbagai pergumulan, keterbatasan, dan bahkan penderitaan. Kita bisa bandingkan saat Paulus di Filipi dan yang akhirnya dipenjarakan. Saat itu pakaiannya dikoyakkan, didera berulang-ulang, dan dipenjarakan dalam kondisi kaki terpasung (Kis. 16:22-24). Gambaran seperti ini tentu saja jauh berbeda dengan penjara saat ini. Berkaca dari peristiwa itulah mengapa jemaat Filipi akhirnya mengirim Epafroditus untuk membantu Paulus dalam kesukarannya sekaligus menitipkan sejumlah uang yang akan sangat diperlukan oleh Paulus (Bdk. Fil. 2:25; 4:15-16; 18). Walau pemenjaraan di Filipi berbeda dengan pemenjaraan Paulus di Roma oleh karena di sana ia berada di tahanan rumah (Kis. 28:16, 30-31), kondisi Paulus tetap tidak mudah. Apalagi tradisi gereja meyakini bahwa Paulus akhirnya mati martir di Roma tidak terlalu lama setelah surat ini dikirimkan. Jadi, jika kita menarik situasi Paulus ini ke masa dimana kita berada, sangat sulit memahami Paulus akhirnya tetap bersyukur, bersukacita, dan tetap dikasihi dan dihormati. Apa yang membuat Paulus bersyukur? (1:1-11) Setelah menuliskan salam pembuka, Paulus menaikkan ucapan syukurnya atas kondisi jemaat di Filipi. Jika ia mengingat jemaat ini dalam doanya, Paulus tidak henti-hentinya mengucap syukur. Paulus mengingat kembali saat mereka diperkenalkan kepada berita Injil. Sejak saat itu iman mereka terus bertumbuh. Pertumbuhan itu tidak bersifat abstrak dan sekadar ritus, tetapi juga tampak dari kerelaan mereka memberi dalam kekurangan; peduli kepada orang lain dalam persoalan diri yang sangat berat. Bukankah ini paradoks? Teladan jemaat Filipi, yang menjadi bagian dari jemaat Makedonia, bahkan digunakan Paulus untuk mengingatkan serta memotivasi jemaat Korintus untuk menuntaskan janji persembahan mereka. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Mereka bahkan meminta dan mendesak Paulus untuk ikut ambil bagian dalam pengumpulan dana bagi jemaat Yerusalem. Tidak hanya itu, mereka bahkan memberikan lebih banyak dari pada yang diharapkan (Bdk. 2 Kor. 8:2-5). Kini setelah menerima kabar dan pemberian jemaat Filipi lewat Epafroditus, Paulus kembali mengucap syukur kepada Allah yang telah memulai pelayanan di Filipi dan kini buah pelayanan itu tampak dari kepedulian dan kasih di tengah berbagai persoalan dan bahkan penderitaan. Sulit dibayangkan, tapi itulah yang terjadi dalam jemaat, dan itu pula yang membuat Paulus lupa akan penderitaannya. Apa yang membuat Paulus bersukacita? (1:12-26) Selain ucapan syukur, Paulus juga menaikkan rasa sukacitanya. Paling tidak ada 12 kali Paulus memakai kata sukacita dalam suratnya ini. Jika ucapan syukurnya dikarenakan pertumbuhan rohani jemaat Filipi, sukacita Paulus pada bagian ini dikarenakan pemenjaraannya. Karena kesukaran dalam pemenjaraannya ini, sebagai manusia biasa, pernah terbersit dalam benak Paulus untuk meninggalkan dunia ini (Fil. 1:23). Namun semua itu berhasil ia atasi dan ia pun akhirnya bersukacita oleh karena pemenjaraannya akhirnya kembali menghasilkan buah (Fil. 1:12-14). Oleh karena pemenjaraan ini begitu banyak orang mengenal Kristus. Dalam proses kontemplasi itu, Paulus bahkan akhirnya menilai hidup atau mati sama saja. Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan kata Paulus (Fil. 1:21). Hikmat yang lahir dari kesetiaan serta ketaatan kepada pesan Injil membuat Paulus selalu bersukacita dalam segala hal. Dasar sukacitanya tidak lagi seperti halnya dasar sukacita manusia pada umumnya, yaitu hal-hal lahiriah nan fana. Bukankah ini paradoks? Apa yang membuat Paulus dikasihi dan dihormati? (1:27-2:11) Pada bagian selanjutnya tergambar secara jelas bahwa jemaat Filipi mengalami penderitaan (Bdk. Fil. 1:29-30). Penderitaan yang dimaksud tentu saja oleh karena Injil Yesus Kristus, yaitu kesetiaan dan ketaatan kepada pesan Injil tersebut. Dalam penderitaan itu, Paulus mengajak jemaat Filipi untuk terus berjuang dan menilai penderitaan karena Injil adalah anugerah (Fil. 1:29). Bukankah ini juga paradoks? Secara umum manusia menilai penderitaan sebagai kelemahan bahkan kebodohan. Tidak sedikit orang justru dihina oleh karena memperjuangkan prinsip yang diyakininya. Kesetiaan dinilai sebagai sikap yang tidak adaptif dan realistis yang justru akan menjerumuskan manusia. Orang mungkin berkata, bagaimana mungkin hidup ideal di tengah-tengah dunia yang jauh dari ideal! Pada kelanjutan surat ini, Paulus justru menyampaikan sebuah doktrin Kristen yang sangat terkenal yaitu “pengosongan diri” ( kenōsis ). Dalam peristiwa inkarnasi, Kristus dimaknai Paulus telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang Hamba yang akhirnya disalibkan. Sekali lagi, dalam dunia yang semakin kompetitif ini, sikap semacam ini tentulah paradoks. Manusia pada umumnya berlomba untuk saling mengalahkan bahkan adakalanya saling “membunuh”. Berkompetisi dan berjuang untuk mengungguli orang lain adalah hikmat dunia yang sangat dimaklumi bahkan dianjurkan jika mau bertahan dalam dunia yang disruptif ini. Namun dalam rangka kesatuan umat, Paulus justru meminta jemaat untuk mengutamakan orang lain, tidak boleh mementingkan diri sendiri tetapi kepentingan orang lain juga (Fil. 2:4). Lagi-lagi, hal ini Paulus tekankan bukan sebagai bentuk kelemahan diri, tetapi oleh karena teladan Kristus yang terlebih dahulu telah memberi teladan (Fil. 2:5). Apakah Paulus juga telah melakukannya? Ya! Hal itu tampak jelas dalam Filipi 3:4b-8. Dengan demikian, jika Kristus akhirnya sangat ditinggikan karena “pengosongan diri” ini (Fil. 2:9-11), maka itu pulalah yang membuat Paulus sangat dikasihi dan dihormati. Pengosongan diri adalah hal yang membuat manusia dikasihi dan dihormati, bukan saja saat ia hidup namun juga saat ia telah mati kelak.
















