143 results found with an empty search
- “Wa Wa Wa”: Menjawab Panggilan Pelayanan di Tanah Terluar
Dokumentasi Pribadi oleh dr. Hendriko Kabanga – Puskesmas Landikma, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan Saat Indonesia merayakan 80 tahun kemerdekaannya, kita diajak merenungkan apa arti kemerdekaan sejati – termasuk bagi saudara-saudara kita yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan, dan terdalam (3T). Di balik gegap gempita perayaan nasional, salah satunya lagu viral Tabola Bale yang ‘menggoyang’ Istana Merdeka, realita di Papua berbicara lain. Ada banyak anak yang belum mendapatkan hak dasarnya: kesehatan. Saya saat ini melayani sebagai dokter di Puskesmas Landikma, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan – salah satu dari 30 kabupaten di Papua yang masuk kategori 3T. Di sini, program imunisasi dasar masih jauh dari merata. Anak-anak tumbuh tanpa perlindungan dasar terhadap penyakit. Dokter umum dan spesialis langka. Keamanan tidak terjamin. Banyak tempat hanya bisa dicapai dengan pesawat. Ada kisah-kisah kelam tentang kekerasan dan kriminalitas yang membuat tenaga kesehatan akhirnya enggan bertahan dan memilih mundur, meninggalkan medan pelayanan yang sesungguhnya sangat membutuhkan kehadiran mereka. Di tengah semua itu, saya percaya bahwa pelayanan di tempat seperti ini bukan semata-mata soal pekerjaan, tapi soal panggilan hidup. Panggilan untuk menjadi terang, untuk menghadirkan kasih Kristus yang menyembuhkan dan merawat, di tempat-tempat yang dianggap “ujung dunia”. Menggumulkan Panggilan: Bukan Soal Nyaman, Tapi Taat Bagi rekan-rekan tenaga kesehatan Kristen, mungkin banyak yang sedang atau pernah bergumul dengan pertanyaan ini: “Tuhan, di mana Engkau ingin aku melayani?” Jawaban Tuhan tidak selalu membawa kita ke tempat yang nyaman. Kadang, justru sebaliknya. Terlepas dari banyaknya pergumulan yang dihadapi ketika akan melangkah atau bertahan di suatu tempat, kita dapat belajar bahwa ketaatan kepada panggilan Tuhan tidak ditentukan oleh seberapa siap kita secara manusia, tapi seberapa besar kita percaya bahwa Dia yang memanggil juga akan memampukan. Di tempat-tempat seperti Kabupaten Yalimo, pelayanan bukan soal skill medis semata, tetapi tentang membagikan harapan. Menjadi saksi hidup bahwa Tuhan tidak melupakan siapa pun, termasuk anak-anak kecil di pedalaman Papua sekali pun. Kasih Kristus yang Mendorong Kita Maju Di tengah keterbatasan, hanya belas kasihan Allah yang dapat menopang seseorang untuk tetap bertahan. Hanya anugerah-Nya yang memungkinkan kami dan juga banyak sejawat seperjuangan lainnya untuk terus melanjutkan pelayanan, hari demi hari. Merespon panggilan Allah untuk melangkah pergi bukan karena mereka menyenangkan, tetapi karena Kristus lebih dulu mengasihi. Rasul Paulus pernah berkata: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami...” (2 Korintus 5:14) Inilah kekuatan sejati yang mendorong kita untuk tetap berdiri, tetap melayani, tetap berharap. Kerinduan untuk kasih-Nya yang telah menguasai kita boleh menjangkau dan menguasai mereka yang tinggal di tempat yang sulit dijangkau sekali pun. Karena pelayanan ini bukan tentang kita, tapi tentang Kristus yang bekerja melalui kita. Generasi Sehat, Papua Bangkit Kalau kita ingin melihat Papua bangkit, maka kita harus mulai dengan membangun generasi yang sehat dan cerdas. Anak-anak di tanah ini adalah masa depan. Mereka yang akan menjadi guru, pemimpin, dokter, dan hamba Tuhan di masa depan. Mereka layak mendapatkan kesempatan yang sama – dan itu dimulai dari pelayanan kita hari ini. Pelayanan yang holistik, bukan hanya dilayani secara fisik, melainkan juga jiwa yang boleh mengenal Kristus yang sejati. Bagi setiap kita yang mungkin sedang bergumul dengan panggilan Tuhan untuk melayani di tempat seperti Papua, ingatlah bahwa Tuhan tidak mencari yang hebat, tapi yang bersedia. Dia sanggup memperlengkapi setiap orang yang mau berkata, “Ini aku, utuslah aku!” Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Kiranya Injil Kerajaan Allah terus diberitakan sampai ke ujung bumi – termasuk Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan. Wa Wa Wa! Soli Deo Gloria. /kb
- Truth and Health
A Missing Pillar Saat sharing atau khotbah tentang pelayanan medis dan kesehatan, maka atribut Ilahi yang sering dikaitkan adalah kasih — belas kasihan terhadap pasien, berempati terhadap mereka yang menderita. Tapi pernahkah kita sejenak bertanya: di mana peran “kebenaran” dalam pelayanan kesehatan? Mengapa kata yang begitu sentral dalam iman kita ini— truth —jarang muncul dalam seminar dan retreat pelayanan medis atau bahkan dalam mimbar gereja ketika kita bicara soal pelayanan kesehatan? Tulisan ini tidak sedang membuat dikotomi kasih dan kebenaran. Justru sebaliknya, ingin menunjukkan bahwa kasih dan kebenaran berjalan beriringan, dan bahwa pilar kebenaran yang sering terabaikan itu sesungguhnya adalah unsur sentral dalam pelayanan kesehatan dari masa lalu hingga hari ini. Apakah kebenaran penting dalam dunia kesehatan? Perkembangan dunia kesehatan, termasuk dunia kedokteran di dalamnya sampai saat ini merupakan hasil dari pencarian kebenaran, penyataan kebenaran dan konsistensi kebenaran yang dijalankan oleh insan kesehatan yang bertekun di dalamnya. Apa itu kebenaran? Menurut Aristoteles, “Mengatakan tentang apa yang ada bahwa itu ada, dan mengatakan tentang apa yang tidak ada bahwa itu tidak ada, adalah kebenaran.” Ini berarti kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan kenyataan yang dikaji melalui akal dan logika serta kejadian dan observasi. Dalam nilai kekristenan, kebenaran bukan hanya fakta logis tetapi juga prinsip moral dan spiritual. Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” (Yohanes 14:6), yang berarti kebenaran lebih jauh lagi akhirnya ditemukan dalam keadilan, integritas, dan hikmat ilahi. Kebenaran adalah salah satu dari atribut Allah sendiri. Truth in Health: Discovery and Learning from Mistakes Kemajuan dunia kesehatan tidak lahir secara kebetulan, melainkan dari semangat pencarian kebenaran. Penemuan mikroskop oleh Antonie van Leeuwenhoek (1670) dan teori infeksi oleh Louis Pasteur (1857-1865) dan Robert Koch (1876–1884) membuka jalan bagi dasar dari ilmu mikrobiologi dan ilmu penyakit infeksi. Penemuan antibiotik – Penisilin oleh Alexander Fleming (1928) merupakan revolusi dalam pengobatan infeksi kuman. Penemuan DNA (1953) oleh Watson dan Crick, membuka era genetika medis. Pengembangan Vaksin mRNA (2020), misalnya pada vaksin COVID-19 oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna membuka era teknologi baru dalam imunisasi. Semua penemuan besar dunia kesehatan tersebut diawali oleh upaya dan kerja keras orang-orang tertentu untuk meneliti, menganalisis rangkaian fakta, menyimpulkan dan kemudian menyampaikan apa yang benar. Namun sejarah juga mengajarkan bahwa ketika kebenaran diabaikan, dampaknya bisa sangat tragis. Kasus skandal obat Thalidomide pada akhir tahun 1950-an hingga awal 1960-an menjadi pengingat penting bagi dunia kesehatan. Obat ini awalnya dipasarkan sebagai penenang dan pereda mual untuk ibu hamil, tetapi efek sampingnya menyebabkan ribuan bayi lahir dengan cacat bawaan serius (phocomelia) . Salah satu tokoh penting dalam mengungkap kebenaran ini adalah Dr. William McBride, seorang dokter kandungan asal Australia, yang pada tahun 1961 mencermati hubungan antara obat ini dan terjadinya phocomelia dan memutuskan menerbitkan temuannya di jurnal the Lancet dan sekaligus memperingatkan komunitas dunia kesehatan. Akhirnya thalidomide dilarang di seluruh dunia pada awal 1960-an dan peristiwa ini kemudian menjadi dasar pijakan untuk sistem uji klinis yang ketat, transparansi data, dan kejujuran dalam mengkomunikasikan risiko dalam penerbitan obat baru. Artikel Dr. Andrew Wakefield yang kontroversial diterbitkan di jurnal the Lancet pada tahun 1998 mengklaim adanya hubungan antara vaksin MMR (campak, gondongan, rubella) dan autisme. Penelitian ini memicu kontroversi besar dan menyebabkan penurunan tajam dalam cakupan vaksinasi, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan kasus campak. Namun, reaksi muncul dari komunitas riset dan klinisi yang tidak menemukan fakta dari yang disampaikan Wakefield. Setelah lewat penyelidikan dan mendapatkan bukti yang kuat, the Lancet menarik kembali artikel tersebut pada tahun 2010 karena ditemukan ketidakakuratan dan pelanggaran etika, dimana ditemukan adanya konflik kepentingan finansial. Namun kerusakan sudah sempat terjadi, banyaknya korban kematian balita akibat campak tak terelakkan. Ini pelajaran penting: kebenaran yang ditunda bisa berakibat fatal. Refleksi bagi kita: apakah kita berani menyampaikan kebenaran fakta observasi, penelitian dan analisa yang tidak populer demi kebaikan pasien dan masyarakat luas? Margin of error and Humility Kebenaran ilmiah bersifat dinamis. Dalam ilmu statistik, margin of error (MoE) adalah sebuah ukuran yang menunjukkan batas ketidakpastian dari suatu hasil survei atau estimasi. Ini sebuah pengakuan bahwa hasil yang kita peroleh dari suatu sampel tidak akan pernah persis mewakili populasi secara mutlak. Kita membuat estimasi, dan MoE memberi tahu kita seberapa besar kemungkinan kesalahan atau ketidakpastian dalam estimasi itu. Rumus MoE mendukung kebenaran teologis, dimana manusia tidak pernah benar-benar tahu secara mutlak—selalu ada ruang untuk keraguan, kesalahan, atau kekeliruan. Kita percaya bahwa kebenaran yang mutlak ada pada Tuhan. Manusia hanya bisa mencoba mendekati kebenaran, mengukurnya, menafsirkannya, tetapi tidak pernah memilikinya secara penuh. Oleh karena itu maka perlu ada kerendahan hati dan keterbukaan untuk mau terus belajar. 1 Korintus 13:9–10 (TB): "Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap." Dalam pengalaman karir saya, orang yang benar-benar ahli selalu memberi ruang ketidakyakinan ( margin of error ) dalam tulisan atau komentarnya. Sebaliknya, orang bodoh biasanya selalu yakin. Dalam praktik sehari-hari, kesalahan diagnosis, tatalaksana atau tindakan intervensi memang bisa terjadi. Namun, itulah momen di mana kejujuran menjadi titik tolak untuk memperbaiki sistem yang ada. Mengakui terjadi satu kesalahan bukan hanya tentang keterbukaan menerima kekurangan, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap kepercayaan pasien dan etika. Transparansi adalah fondasi bagi perbaikan sistem untuk lebih meningkatkan mutu layanan. Salah satu bentuk transparansi yang krusial dalam layanan kesehatan adalah kejujuran dalam melaporkan kasus-kasus near missed , yaitu insiden yang hampir menyebabkan cedera pada pasien tetapi berhasil dicegah sebelum fatal—merupakan indikator penting dalam upaya patient safety . Pelaporan yang jujur dan terbuka terhadap near missed memungkinkan fasilitas kesehatan untuk melakukan analisis akar masalah, mencegah terulangnya kesalahan yang sama, dan membangun budaya keselamatan pasien yang lebih kuat. Betapa pentingnya kejujuran itu dinyatakan dalam sistem layanan kesehatan. Sebab kejujuran menyelamatkan banyak nyawa. Kejujuran tidak hanya berdampak pada sistem layanan kesehatan secara kolektif, tetapi juga membawa pengaruh yang nyata terhadap kondisi kesehatan individu. Sebuah studi tentang “ Science of Honesty ” oleh Profesor Anita Kelly dari University of Notre Dame yang dipublikasikan tahun 2012 menunjukkan bahwa mengurangi kebohongan dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Dalam studi ini, para peserta yang mengurangi kebohongan mengalami penurunan stres, keluhan fisik, dan peningkatan kesejahteraan secara keseluruhan. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa kejujuran memiliki manfaat kesehatan yang nyata dan signifikan, baik secara fisik maupun mental. A scientist can be wrong, but he must not lie Tak pelak kebenaran merupakan pondasi utama dalam dunia kesehatan. Walaupun tenaga kesehatan tidak pernah benar-benar tahu kebenaran ilmu pengetahuan secara mutlak—selalu ada ruang untuk kesalahan, atau kekeliruan, namun dia tidak boleh bohong atau menutupi fakta. Pesan mendalam dari Erwin Chargaff dalam bukunya Heraclitean Fire: Sketches from a Life Before Nature (1978) tetap relevan: "Seorang ilmuwan bisa salah, tetapi dia tidak boleh berbohong." Chargaff mengingatkan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses pencarian kebenaran. Namun, yang tak pernah bisa ditoleransi adalah kebohongan atau manipulasi atau menyembunyikan data atau informasi yang disengaja. Sejarah dunia kesehatan menunjukkan bahwa beberapa kali perkembangannya dijegal oleh individu atau korporasi yang melakukan kebohongan atau menyembunyikan fakta untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Ini berakibat penderitaan dan keselamatan banyak orang. William Osler, seorang Bapak Kedokteran Modern pernah menegaskan ,"Truth is not only violated by falsehood; it may be outraged by silence." Dengan kata lain, ketidakbenaran bisa datang bukan hanya dari kebohongan, tetapi juga dari keengganan untuk menyatakan kebenaran atau “diam demi aman” ketika itu diperlukan. Dalam konteks ini, penting disadari bahwa kebohongan dalam dunia kesehatan tidak selalu berbentuk laporan klinis yang dimanipulasi—namun bisa juga berupa sistem yang rusak akibat praktik korupsi. WHO dalam publikasi-nya A study on the public health and socioeconomic impact of substandard and falsified medical products (2012) mencatat bahwa peredaran obat palsu dan substandar erat kaitannya dengan tingginya tingkat korupsi suatu negara atau daerah. Lemahnya tata kelola, pengawasan, dan kapasitas teknis menciptakan ruang bagi praktik penipuan yang secara langsung mengorbankan mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Ketika sistem gagal menjamin akses terhadap produk yang aman dan berkualitas, masyarakatlah yang menanggung akibatnya. Mengingat skandal korupsi di Pertamina baru- baru ini, kita pasti marah. Kalau kita tidak marah, mungkin hati nurani kita sudah tumpul. Melihat negara dirampok sekitar Rp 193,7 triliun per tahun oleh beberapa pejabat dan melihat saudara atau keluarga kita ikut antrian gas LPG 3 kg berdesakan dan berpanas-panasan, kita geram. Kalau dibuat perbandingan besarnya angka korupsi, koruptor-koruptor itu kira-kira merampok anggaran kesehatan satu tahun (tahun 2024 berjumlah Rp 187,5 triliun) dan itu berjalan sudah beberapa tahun. Bayangkan kalau dana itu dipakai seluruhnya untuk bidang kesehatan, betapa majunya pembangunan kesehatan negeri ini. Atau kalau berpikir terbalik, kalau dana itu tidak dikorupsi, maka mungkin sudah banyak kematian yang tercegah sepanjang tahun 2024. Oleh karena itu, kebenaran termasuk didalamnya transparansi menjadi kunci, bukan hanya dalam praktik pelayanan kesehatan, tetapi juga dalam menjaga sistem kesehatan secara keseluruhan. Find, Articulate and Implement Truth: A Sacred Calling Dunia kesehatan terus berubah dan kompleks dengan munculnya penyakit-penyakit baru dengan potensi menyebar secara global (pandemi). Dalam situasi ini kebenaran tetap menjadi senjata kita dalam menghadapinya. Seorang tenaga kesehatan yang memilih jalan kebenaran—meskipun harus menghadapi risiko kritik atau konsekuensi—pada akhirnya akan mendapatkan kepercayaan yang tak ternilai dari masyarakat dan komunitas dunia. Perjalanan panjang karir saya menunjukkan hal itu, walaupun kadang waktunya lama baru terjadi. Tenaga medis Kristen dipanggil bukan hanya mengasihi pasien, tetapi juga untuk hidup mencari kebenaran dan menyatakan kebenaran serta menjalankannya. Kasih tanpa kebenaran bisa jatuh menjadi bentuk kasih yang sentimental dan permisif; sedangkan kebenaran tanpa kasih bisa melukai. Tetapi kasih yang berpijak pada kebenaran adalah kekuatan yang menyelamatkan . Kita juga perlu jujur dan kritis terhadap fenomena yang terjadi di antara para tenaga kesehatan Kristen. Bukankah tidak sedikit yang bersembunyi di balik frase “panggilan Tuhan” sebagai dasar untuk melayani di kota besar—padahal justru banyak daerah yang kekurangan tenaga kesehatan atau keahlian tertentu. Jika semua orang ‘dipanggil’ hanya di kota-kota besar, maka terlihat seolah-olah Tuhan tak bijak—karena memanggil anak-anak-Nya hanya di wilayah yang sudah padat tenaga kesehatannya, sementara membiarkan wilayah-wilayah lain kosong dan terabaikan. Panggilan hidup dalam kebenaran dari dimensi moral dan spiritual juga mencakup keberanian untuk hadir di tempat yang dibutuhkan, bukan hanya tempat yang diinginkan. Dan kebenaran seringkali begitu sederhana, hanya cukup dengan melihat data distribusi tenaga kesehatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan dan menjalankannya dengan melayani di sana. Sudah saatnya kita kembali mengarusutamakan topik tentang kebenaran—baik dari aspek logika dan rasionalitas, maupun dari dimensi moral dan spiritual—dalam pendidikan kedokteran dan pendidikan tenaga kesehatan lainnya. Sudah saatnya kita menjadikan topik kebenaran kembali menjadi sentral diskusi dalam seminar, pelatihan medis, etika profesi, bahkan mimbar khotbah dan Persekutuan untuk membangun budaya profesi yang menjunjung kebenaran termasuk transparansi, dan keberanian menyuarakan yang benar. Sudah saatnya kita untuk benar-benar menyembah Allah yang adalah Roh dan Kebenaran dalam dunia profesi kita.
- Ketika Allah Memanggil, Apakah Kita Mengeraskan Hati?
Banyak orang Kristen sering mendengar, bahkan membahas tentang 'panggilan hidup'. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan panggilan hidup bagi orang Kristen? Panggilan hidup orang Kristen dapat dibedakan menjadi panggilan umum dan panggilan khusus. Berdasarkan Kitab Yohanes 17:18, “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku (Yesus) ke dalam dunia, demikian pula Aku (Yesus) telah mengutus mereka ke dalam dunia.” Ayat ini menyatakan dengan jelas panggilan umum orang Kristen adalah menjadi saksi Kristus di mana pun mereka berada (ditempatkan). Hal yang selanjutnya yang perlu untuk dibahas lebih mendalam adalah panggilan khusus. Beberapa orang dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di tempat tertentu, mungkin ke tempat dengan budaya yang berbeda, atau bahkan pergi bermisi ke tempat terpencil. Panggilan bermisi merupakan respon setiap orang percaya terhadap cinta kasih Kristus yang menyelamatkan dari hukuman dosa. Pada Kitab 1 Korintus 9:16, Rasul Paulus melihat misi untuk memberitakan Injil sebagai konsekuensi dari kasih karunia keselamatan yang telah ia terima, bukan beban hidup atau pilihan yang bersifat opsional (bisa ya, bisa tidak). Pertanyaannya adalah: sebagai orang Kristen yang telah mengalami kelahiran baru dan menerima kasih karunia keselamatan, sudahkah kita sungguh-sungguh menggumulkan panggilan hidup kita? Ataukah justru kita sedang menjalani panggilan hidup versi kita sendiri, yang tidak sesuai dengan standar Allah? Apakah kita malah sering menuntut Allah untuk memenuhi keinginan dan standar kita, padahal seharusnya kitalah yang menyesuaikan diri dengan standar Allah? Allah memang berdaulat dan Mahakuasa , namun dalam kasih dan hikmat-Nya, Ia memilih bekerja melalui manusia —ciptaan-Nya yang dicipta segambar dengan-Nya (Imago Dei)—untuk melaksanakan rencana-Nya di dunia. Kitab Kejadian 2:15, “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Sejak awal, manusia ditunjuk menjadi mitra kerja Allah : mewakili-Nya untuk memelihara ciptaan dan menjalankan kehendak-Nya di bumi. Panggilan Allah adalah kasih karunia , bukan karena manusia mampu, tapi karena Allah ingin melibatkan umat-Nya dalam rencana penebusan dunia. Dari Kitab Efesus 2:10, “Kita ini adalah ciptaan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.” Allah bukan hanya menyelamatkan kita, tapi juga memanggil kita untuk menjadi alat kasih dan kebenaran-Nya di dunia ini. Allah memanggil manusia untuk melakukan kehendak-Nya agar dunia melihat siapa Dia melalui hidup orang percaya . “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16). Misi kita di dunia adalah memantulkan kemuliaan Allah , bukan untuk diri sendiri, tapi supaya orang lain tertarik kepada Dia. Sebagai dokter Kristen yang telah menerima kasih karunia keselamatan, sudah seharusnya kita merespons panggilan itu dengan melayani pasien-pasien kita dalam semangat misi Kristen. Pelayanan misi bukan hanya soal memberitakan Injil melalui pelayanan kesehatan, tetapi juga berupaya untuk memberikan pelayanan yang holistik—menyentuh seluruh aspek kebutuhan pasien. Kita perlu peka terhadap kebutuhan mereka dan hadir untuk menjawab kebutuhan nyata yang mereka hadapi. Kita belajar dari teladan Kristus yang menyembuhkan orang sakit (Luk. 10:9), memberi makan kepada yang lapar (Mat. 25:35–40), dan membela mereka yang tertindas (Yes. 1:17). Marilah kita setia menggumulkan dan menjalani panggilan hidup yang Tuhan percayakan kepada kita. Jangan mengeraskan hati atau membiarkan ego menguasai diri. Peliharalah iman kita sebagai orang Kristen, dan tetaplah peka terhadap suara dan panggilan Allah. Teruslah menguji dan menegaskan panggilan hidup kita di hadapan-Nya. Jangan sampai kita hidup sedemikian rupa hingga Allah memalingkan wajah-Nya dan tidak lagi mengindahkan kita. “Soli Deo Gloria” — segala kemuliaan hanya bagi Allah , yang dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dialah segala sesuatu (Roma 11:36) /ff
- “Creation Care: Bagaimana Seharusnya?”
Untuk kesekian kalinya, seruan penutupan pabrik kertas milik PT Toba Pulp Lestari di Kabupaten Toba Sumatra Utara yang kali ini disuarakan oleh Ephorus HKBP Pdt Dr Victor Tinambunan dilakukan, karena dampaknya yang begitu besar terhadap kerusakan lingkungan. Sementara itu, Pulau Raja Ampat yang merupakan kawasan konservasi yang dilindungi negara, dieksploitasi secara masif - sekitar 500 hektar hutannya dibabat dan tanahnya dikeruk. Masyarakat setempat juga telah menuntut penutupan perusahaan nikel yang beroperasi di sana. Dua fakta yang sempat viral tersebut, sayangnya menguap begitu saja tanpa tindak lanjut yang signifikan. Sesungguhnya, lingkungan hidup dimana kita tinggal dan hidup sedang tidak baik-baik saja: hilangnya hutan mengakibatkan punahnya berbagai spesies tumbuhan dan hewan ( biodiversity ), terjadinya degradasi lingkungan dan pencemaran air, serta naiknya permukaan air laut. Semua akibat kegagalan manusia dan negara menjalankan mandat penatalayanan ( stewardship ). Akibat ulah manusia, semua ciptaan baik manusia dan non-manusia pun mengerang. Pada umumnya motivasi dari gerakan kepedulian alam didasarkan pada perspektif antropologi dimana pemeliharaan alam semata-mata demi manusia, misalnya untuk menjaga keindahan, kebersihan, kesehatan dan warisan untuk generasi masa depan. Namun, apakah hanya sebatas itu mengingat orang Kristen malah terkesan lambat dalam menanggapi permasalahan ekologi? Bagaimanakah seharusnya memelihara ciptaan Tuhan? Menyadari beberapa pemahaman yang salah Pemahaman yang tidak tepat tentang ciptaan lainnya antara lain: menganggap hewan dan tumbuhan tidak punya masa depan ( future ) dan eksistensinya hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Anggapan bahwa Allah lebih memedulikan dan mengasihi manusia sehingga tindakan penyelamatan Allah hanya untuk manusia dan tidak ada hubungannya dengan ciptaan lainnya. Pemahaman lainnya adalah pemahaman eskatologi (akhir zaman) yang menekankan bahwa menangani isu ekologi membuang waktu karena dunia nantinya akan hancur. Selanjutnya, tindakan satu orang atau beberapa orang tidak akan memberikan dampak apa-apa. Pemahaman yang salah ini, hanya akan melemahkan perjuangan pemeliharaan ciptaan dan mengabaikan tugas panggilan penatalayan yang Allah embankan. Mengakui Allahlah sang pemilik bumi, bukan manusia Dalam Mazmur 24:1 dikatakan: “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” Dialah yang menopang seluruh ciptaan-Nya sejak penciptaan (Kolose 1:16-17), di dalam tangan-Nya, terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia (Ayub 12:10). Sebagai sang pemilik, Tuhan adalah tuan dan raja atas semuanya. Dalam kebijaksanaan-Nya, Tuhan mengatur tata letak, batas, ragam, dan fungsi semua ciptaan-Nya. Dia juga mendesain relasi dan saling kebergantungan di antara ciptaan-Nya. Manusia tidak dapat hidup tanpa tumbuhan dan hewan, demikian sebaliknya. Manusia juga tidak dapat dipisahkan dari alam semesta, karena berasal dari alam yaitu debu. Terdapat hubungan timbal balik (interconnection) antara manusia dan ciptaan lainnya. Allah sungguh menikmati keindahan dan keharmonisan hasil karya-Nya. Dia tidak hanya berkenan menerima nyanyian pujian dari manusia melainkan juga menikmati pujian dari pohon yang bergoyang dan burung yang berkicau. Bahkan, di akhir zaman semua makhluk di bumi dan di surga akan memuji Yesus, Anak Domba yang duduk di atas takhta (Wahyu 5:13). Dia tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya dan tidak satu pun luput dari perhatian-Nya, bahkan burung pipit pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak-Nya (Matius 10:29). Oleh karena itu, Allah memercayakan tugas penatalayanan ( stewardship ) kepada manusia sebagai makhluk yang membawa gambar dan rupa Allah, untuk mewakili-Nya mengelola ciptaan lainnya. Allah menghendaki bumi dikelola dengan cara mengusahakan (Ibrani: abad=serve ) dan memelihara (Ibrani: shamar=keep/protect ), bukan untuk memiliki apalagi menjadi tuan atas ciptaan Allah (Kejadian 1:28; 2:15). Dengan demikian tindakan pembiaran, pasif, dan ketidakpedulian, apalagi eksploitasi terhadap ciptaan Allah adalah bentuk perlawanan terhadap Allah dan dosa di hadapan Sang Pemilik bumi dan segala isinya. Alasan memelihara ciptaan Tuhan Kepedulian terhadap ciptaan (creation care) meliputi kepedulian terhadap manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan karena kerusakan alam bukan hanya berdampak negatif terhadap manusia, melainkan juga terhadap tumbuhan dan hewan. Bila dalam ekosistem terdapat satu bagian yang rusak, maka semua akan kesakitan. Misalnya, penggundulan hutan akan mengakibatkan longsor dan banjir yang dapat membunuh binatang dan manusia. Allah peduli terhadap seluruh ciptaan-Nya . Allah menghendaki umat-Nya melakukan kebenaran dan menegakkan keadilan bagi sesama (Mikha 6:8). Dia juga memerintahkan Israel untuk menjaga produktivitas tanah dengan mencanangkan tahun Yobel (Imamat 25). Sebelum air bah, Nuh diperintahkan Allah untuk membawa ke dalam bahtera semua jenis binatang berpasang-pasangan (Kejadian 6:20). Selanjutnya, karya penebusan Kristus tidak hanya untuk manusia, melainkan untuk pembaharuan seluruh ciptaan (Kis. 3:21). Dengan menatalayani ciptaan Tuhan, sesungguhnya kita sedang merefleksikan karakter Allah dalam memperlakukan ciptaan-Nya, menghargai hasil karya Allah serta mendemonstrasikan ketundukan kita pada perintah Sang Pencipta, serta berpartisipasi dalam pekerjaan Allah dalam merestorasi dunia ciptaan yang rusak karena dosa manusia. Kita merupakan bagian dari ciptaan. Kita perlu menyadari akan status dan posisi kita dalam tatanan ciptaan Tuhan dan bahwa kita tidak dapat dipisahkan dari ciptaan lainnya. Oleh karena itu, kita harus mendatangkan kebaikan bagi ciptaan lainnya dengan cara menatalayaninya sesuai kemampuan dan keterampilan yang dianugerahkan Tuhan. Allah mengatakan semua yang dijadikan-Nya sungguh amat baik. Dalam pandangan-Nya, dunia ciptaan sudah sesuai kehendak-Nya dan memuaskan hati-Nya. Dengan menatalayani ciptaan Tuhan, kita sedang mendemonstrasikan identitas kita sebagai part of creation dan good steward atas ciptaan Tuhan. Pemeliharaan ciptaan adalah masalah Injil. Ed Brown, Direktur Eksekutif dari Creation Care dalam IFES World Assembly tahun 2023 di Jakarta, menyatakan bahwa creation care is a matter of the Gospel . Creation care bukan hanya isu lingkungan, ilmu, politik atau ekonomi, melainkan masalah rohani. Gereja-gereja yang bergabung dalam Lausanne Movement telah menyusun pernyataan akan alasan mempedulikan ciptaan yaitu “bumi diciptakan, dipelihara, dan ditebus oleh Kristus. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Allah sementara mengabaikan ciptaan-Nya. Kita seharusnya memakai ciptaan dengan bertanggung jawab. Hubungan kita dengan Allah tidak terpisah dari cara kita memperlakukan bumi.” Wujud kepedulian terhadap orang miskin. Orang miskinlah yang paling banyak kena dampak kerusakan lingkungan sekalipun mereka paling sedikit menyebabkan kerusakan alam dibandingkan orang pada umumnya yang memiliki konsumsi besar setiap harinya. Ingat, kita lebih banyak memproduksi sampah daripada mereka yang miskin. Dengan memelihara ciptaan, kita sedang mengurangi dampak negatif kerusakan lingkungan terhadap orang miskin. Wujud memenuhi panggilan disiplin ilmu. Pemeliharaan ciptaan merupakan panggilan mengintegrasikan disiplin ilmu dalam bentuk tindakan dan dalam keikutsertaan menatalayani ciptaan Tuhan. Sebagai kaum intelektual, kita ditantang untuk mengimplikasikan keilmuan yang kita miliki secara kreatif dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, di bidang kesehatan, selain menangani kesehatan manusia dan mengobati penyakit, juga berpartisipasi dalam aktivitas kesehatan lingkungan misalnya dengan penanaman pohon, pemilahan sampah, dan pengelolaan sampah, termasuk penyuluhan tentang hubungan penyakit dengan kerusakan lingkungan dan usulan kebijakan untuk umum. Berbagai aktivitas dapat dilakukan antara lain pengobatan, pencegahan, penyebarluasan informasi, juga usulan kebijakan publik di bidang kesehatan. Tindakan praktis memelihara ciptaan Sekalipun yang kita lakukan kecil dan sepertinya tidak berpengaruh, tetapi semangatnya adalah menatalayani ciptaan Tuhan. Beberapa hal sederhana yang dapat segera kita lakukan adalah membangun gaya hidup dan tindakan sehari-hari dalam melakukan 3R ( reducing, reusing, dan recycling ). Kita perlu memeriksa cara membeli dan mengkonsumsi: Apakah kita telah mempraktekkan tindakan menghormati Allah dan memperdulikan alam? Melakukan evaluasi terhadap kebiasaan konsumsi dengan memperhatikan apakah produk yang dibeli aman bagi lingkungan (environment friendly) , membuat kompos dari sampah rumah tangga, mendaur ulang dan mengurangi penggunaan plastik dengan menggunakan tas belanja dan membawa botol minuman, memilih naik sepeda daripada mengendarai mobil, serta memilah sampah sebelum dibuang. Terdapat kisah nyata di tempat pembuangan akhir di Bandung dimana seorang pemulung sampah terluka tangannya akibat pecahan gelas (beling) yang dimasukkan dalam kantong yang berisi sisa makanan. Kita dapat bergabung dengan gerakan kebersihan lingkungan dan mendukung komunitas yang melakukan inisiatif pelestarian alam yang dilakukan oleh gereja, lembaga atau komunitas, maupun menggagas atau menginisiasi kegiatan pelestarian, juga mengadvokasi kebijakan dan praktek melindungi lingkungan. Kita juga dapat melakukan edukasi untuk mempromosikan tindakan pemeliharaan yang berkelanjutan. Melalui mimbar, liturgi dan doa, jemaat diajarkan tentang peran memelihara alam dan kemudian tergerak untuk mengatasi masalah lingkungan di sekitarnya termasuk menciptakan area hijau di sekitar rumah, gereja, dan komunitas. Digerakkan melalui Kelompok Pemuridan Creation care is a fundamental part of our identity as followers of Jesus Christ . Kepedulian terhadap ciptaan sebagai bagian dari pemuridan - dalam kelompok kecil, akan membentuk pola pikir yang alkitabiah dan mengakar kuat serta membangun gaya hidup dari anggota kelompok. Namun pada umumnya, bahan diskusi dan penelaahan Alkitab tentang penatalayan sering difokuskan hanya pada pengelolaan uang dan talenta, jarang mengarah pada penatalayanan terhadap ciptaan. Dalam kelompok, penelaahan alkitab seharusnya diikuti dengan mendiskusikan cara sederhana dan praktis untuk memelihara alam, termasuk langkah membentuk gaya hidup seorang penatalayan. Lebih lanjut, pemuridan di kalangan mahasiswa dan profesional perlu membahas implikasi berbagai disiplin ilmu terhadap pemeliharaan ciptaan misalnya di bidang kesehatan, tehnologi, tehnik, pertanian, peternakan, ekonomi bisnis, dlsb. Jadi, tindakan memelihara ciptaan seharusnya keluar dari hati yang beribadah kepada Tuhan, dan kasih kepada Tuhan dan ciptaan-Nya. Pemuridan akan menggerakan dan memampukan setiap anggota melakukan pemeliharaan ciptaan sebagai tindakan iman, bukan sekedar tindakan sosial atau kepedulian semata, melainkan juga menjadi tindakan partisipatif dari seluruh umat Tuhan - tua-muda, besar-kecil, dan bukan sekedar sekelompok orang yang memiliki interes yang sama. Yesuslah Tuhan atas segalanya dan semua ciptaan berada di bawah kekuasaan-Nya, karena itu marilah menatalayani ciptaan milik Tuan kita. Sumber: Ephorus HKBP Victor Tinambunan Serukan Penutupan Permanen PT Toba Pulp Lestari pada Rakorwil PSBI - Tribun-medan.com . Sabtu (17/5/2025). https://nasional.kompas.com/read/2025/06/09/10493731/polemik-tambang-di-raja-ampat-rusak-alam-diprotes-masyarakat-dan-dalih . Christopher Wright, The Mission of God’s People, Zondervan, USA, 2010 Dave Bookless, PlanetWise-Dare to Care for God’s World, Inter-Varsity Press, England, 2008 Ed Brown, Plenary Session, IFES World Assembly di Jakarta, YouTube, 2023 Creation Care and the Gospel - Lausanne Movement
- Ketika Bejanamu Penuh dan Hendak Bermisi
Ketika muda, sebagai seorang dokter Kristen, saya sering berpikir untuk memperlengkapi diri dengan banyak ilmu dan keterampilan, supaya dapat memberikan pelayanan kesehatan yang baik di tempat saya bermisi. Saya ingin cerita tentang seorang dokter Kristen bernama dr. Ragland Arul Chandran Paul (RAC Paul) dan istrinya, dr. Iris Grace Rajakumari yang menjadi misionaris pada tahun 1971 di Malkangiri, sebuah distrik kecil di India. Mereka membuka klinik sederhana dan melayani masyarakat Bondo sambil menterjemahkan Alkitab ke Bahasa Bondo agar suku tersebut dapat mengenal Injil. Ketika remaja, RAC Paul pernah mengalami sakit serius dan hampir meninggal. Hanya karena pertolongan Tuhan, RAC Paul berhasil melewati pengalaman hidup dan mati tersebut. Pengalaman itu kemudian mendorongnya untuk bersungguh-sungguh menjalani kehidupan iman Kristen dan menerima panggilan sebagai seorang misionaris sekaligus dokter Kristen bagi suku Bondo. Ia pun bertemu dengan calon istrinya dr. Iris Grace Rajakumari yang juga terpanggil untuk menjadi dokter misi. Mereka akhirnya menikah dan bersama menjalani panggilan Tuhan untuk melayani Suku Bondo. Di masa akhir hidupnya, RAC Paul mengalami gagal ginjal yang membuatnya menjalani banyak pengobatan, termasuk prosedur transplantasi ginjal, dan dalam sakitnya, ia tetap giat mengabarkan Injil kepada banyak pasien yang ia temui saat dirawat bersama. Setelah RAC Paul dipanggil Tuhan, pelayanan misinya tidak berhenti, tetapi dilanjutkan oleh istri dan anak-anaknya. Pada tahun 1994, dr. Iris mendirikan Reaching Hand Society (RHS), yang hingga kini telah menjangkau lebih dari 700 dari 926 desa di Malkangiri, melakukan pengeboran sebanyak 300 sumur, menurunkan angka kasus polio menjadi 0%, dan pada akhirnya mendirikan St. Luke’s Hospital. Kini kita mengenal bagaimana sepasang suami istri dokter dipakai Tuhan untuk suku Bondo di sebuah distrik kecil di India. Bagaimana dengan kita? Apakah kita terpanggil menjadi dokter Kristen yang bermisi ke daerah terpencil untuk membawa kisah kasih Kristus kepada banyak orang yang belum mengenal-Nya? Ataukah kita masih bergumul dengan bejana kosong dimana kita masih merasa kurang pintar atau pun kurang ahli, sehingga ragu untuk melangkah pergi? dr. RAC Paul dan dr. Iris Grace mungkin merasa membawa bejana yang kosong tetapi dalam kepenuhan iman dan kuasa Kristus. Mereka meninggalkan kehidupan yang nyaman dan memilih berespon terhadap panggilan Allah untuk membangun dan mengelola sebuah klinik kecil untuk dapat melayani suku Bondo secara holistik termasuk membuat Injil dapat dipahami dalam Bahasa Bondo. Di lain pihak, ketika kita merasa sudah siap dengan membawa bejana yang sudah penuh dengan begitu banyak pencapaian, kepintaran, keahlian, dan kemapanan hidup, dan hendak pergi untuk pelayanan misi, maka tundalah keinginan itu dan kosongkan bejana yang penuh dengan segala kelebihan dan ego diri sendiri tersebut. Sebaliknya, isilah bejana hidup dengan Iman dan kasih Kristus, dan pergilah menjalani panggilan misi sebagai dokter Kristen. 2 Korintus 4:7, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Penting untuk diingat bahwa modal awal untuk bermisi adalah Iman dan Panggilan Allah, dan dalam menjalani misi tersebut, Kristus sendiri yang akan mengisi terus bejana hidup kita dan memperlengkapi kita. Sebagai dokter Kristen, marilah kita tetap setia menggumuli panggilan Tuhan dalam hidup kita, dan bertekun dalam menjalaninya, sampai akhir Tuhan memanggil kita pulang. “Soli Deo Gloria” — segala kemuliaan hanya bagi Allah, yang dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dialah segala sesuatu (Roma 11:36) /kb
- Ketika Rumah Sakit Misi Menurunkan Layar dan Kehilangan Awaknya
credit : rawpixel.com Ketika dokter Kristen mendengar tentang Rumah Sakit Misi Kristen, saya berharap yang kita pikirkan adalah Rumah Sakit yang melayani pasien-pasiennya dengan semangat misi kristiani dan memberikan pelayanan kesehatan kepada sesama tanpa memandang perbedaan, pemberitaan Injil, dan melayani sesama seperti teladan Kristus. Semoga saja generasi sekarang ini, ketika mendengar tentang Rumah Sakit Misi Kristen, tidak mendadak alergi, karena berpikir harus pergi ke tempat yang terpencil, bekerja keras, dibayar murah, dan hidup jauh dari kenyamanan dunia, dan akhirnya menjauhi beritanya, panggilan-Nya, atau bahkan menganggap segala sesuatu tentang Rumah Sakit Misi Kristen itu seperti alergen untuk tubuh yang harus dihindari. Kitab Matius, 9:36 “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” dan Kitab Matius 14:14, “Ketika Yesus mendarat dan melihat orang banyak yang besar jumlahnya, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.” Kita sebagai dokter Kristen belajar dari teladan Kristus untuk tidak hanya melayani pasien-pasien kita karena belas kasih kita kepada mereka yang membutuhkan pengobatan semata, tetapi kita juga terpanggil untuk melayani mereka yang terhilang secara rohani seperti domba yang tidak bergembala. Rumah Sakit Misi Kristen dibentuk untuk menjadi “menara gading” pengabaran Injil melalui pelayanan kesehatan yang mengedepankan teladan kasih Kristus. Begitu sulit pengelolaan keuangan rumah sakit karena sebagian besar 'keuntungan' habis terpakai untuk menolong pasien-pasien yang tidak mampu atau sekedar menutup dana jaminan kesehatan yang memang tidak sesuai. Rumah Sakit Misi Kristen biasanya sederhana, tidak memiliki banyak alat canggih, karena semakin sederhana dan efektif pelayanannya, maka semakin banyak hasil keuntungan pelayanan yang bisa dipakai kembali untuk memberkati banyak pasien-pasien yang tidak mampu. Ketika kita sebagai Dokter Kristen masa kini berpikir, ah jaman sekarang kan sudah ada jaminan kesehatan pemerintah yang gratis, tetapi pernahkah kita berpikir bahwa akses transportasi pasien yang jauh ke pusat kesehatan yang layak dan biaya transportasi yang menurut orang kota itu murah, di daerah terpencil bisa menjadi sangat mahal. Saya pernah menangis dalam hati karena seorang pasien yang sesak napas tidak memiliki uang dua puluh ribu rupiah untuk menyewa ojek motor ke rumah sakit. Akhirnya, ia meninggal di rumah dalam kesendirian, dan ditangisi oleh anak remajanya yang baru pulang dari bekerja di ladang yang mendapati ayahnya sudah meninggal. Sebagai tenaga kesehatan Kristen, mungkin yang saat ini sedang menikmati kenyamanan hidup dan beribadah, pernahkah terpikirkan tentang masih banyaknya rumah sakit misi Kristen yang memerlukan bantuan tenaga untuk dapat melayani domba-domba yang tidak bergembala? Atau, mungkinkah kita pernah menepis pemikiran yang merasa tidak cukup melayani Tuhan bahkan ketika kita sudah melayani secara aktif di Gereja lokal dan aktif dalam penginjilan pribadi kepada orang-orang di sekitar kita? Seorang dokter senior Kristen pernah membahas cerita tentang persembahan janda miskin (Markus 12:41-44), di mana seorang janda miskin memberi dari kekurangannya dan kata Tuhan Yesus, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.” Dalam konteks pelayanan misi di daerah terpencil, maukah kita meneladani janda miskin tersebut dengan memberikan waktu hidup kita yang hanya satu kali ini untuk melayani Allah dengan bekerja di rumah sakit misi Kristen? Seperti ada tertulis, jika Allah yang memanggil dan mengutus, maka Ia sendiri yang akan membuka jalan . Tak ada rintangan yang terlalu besar, tak ada hati yang terlalu keras, ketika tangan Tuhan yang bekerja. “Soli Deo Gloria” — segala kemuliaan hanya bagi Allah, yang dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dialah segala sesuatu (Roma 11:36). /kb
- Taat dan Percaya
Misionaris. Bermisi. Dua kata yang terasa begitu asing. Tak pernah terbayang akan melayani di tempat yang berjarak 1.600 km dari kampung halaman. Hal yang tidak mungkin terpikirkan bagi saya yang baru terlibat aktif melayani di gereja di usia 15 tahun dan kemudian bergabung dengan Persekutuan Mahasiswa Kristen di bangku kuliah. Pengalaman ke daerah terpencil? Belum pernah. Pelayanan ke luar yang pernah dilakukan hanyalah sesekali ikut dalam pelayanan kesehatan ke panti asuhan atau panti jompo. Sehingga menjadi seorang dokter misi di daerah terpencil terasa sangat mustahil. Bahkan untuk sekadar mendoakannya pun, saya tidak berani. Alasan yang sering muncul: “Masih banyak hal yang bisa dikerjakan di sini.” Tahun 2017 menjadi titik balik penting dalam perjalanan sebagai dokter. Masa internship baru saja selesai, dan pergumulan soal tempat kerja mulai muncul. Di tengah masa pencarian itu, seorang kakak KTB mengingatkan tentang Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam—dan permintaan sederhana pun muncul: “Doakan, ya.” Meskipun hati dipenuhi rasa takut dan keraguan, doa itu pun dimulai dan dijawab dengan panggilan Tuhan untuk melangkah keluar dari zona nyaman: menjadi seorang dokter di Serukam, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Pada akhirnya, panggilan Tuhan ditaati. Menjadi dokter umum di Serukam bukan perkara mudah. Banyak pasien datang dalam kondisi berat, sementara fasilitas sangat terbatas. Pekerjaan tak pernah habis: visite pasien di bangsal, siap sedia terhadap panggilan dari IGD, membantu di poliklinik, menjadi asisten operasi, bahkan sesekali mengajar di Akademi Keperawatan. Kadang dikirim melayani ke desa-desa terpencil bersama tim. Di tengah semua itu, persiapan akreditasi pun harus dilakukan—tak jarang malam dilalui di rumah sakit demi menyelesaikan pekerjaan. Lelah? Sudah pasti. Doa penuh keluh pun sampai tak terhitung dinaikkan: “Tuhan, ini terlalu berat. Saya tidak sanggup.” Dan Tuhan menjawab melalui berbagai cara. Dia beranugerah dengan menyatakan kemahakuasaan-Nya melalui mukjizat. Pasien yang dirawat berbulan-bulan, akhirnya pulih dan pulang dengan senyum. Terkadang Tuhan juga menjawab lewat rekan-rekan kerja: “Terima kasih ya, sudah berjuang.” Kadang juga jawaban datang lewat teladan para konsulen: di tengah kesibukan, mereka selalu mengingatkan kami untuk mendoakan pasien. Bahkan keindahan langit saat pulang ke rumah menjadi hiburan dari-Nya—pengingat akan karya-Nya yang agung dan luar biasa. Jawaban Tuhan datang dalam berbagai bentuk, namun pesannya tetap satu: “Ini bukan tentang kamu. Ini tentang Aku dan pekerjaan-Ku. Aku yang memanggil kamu, Aku pula yang akan menolongmu menyelesaikannya.” Kini, setelah menyelesaikan pendidikan sebagai Spesialis Penyakit Dalam, pelayanan akan dilanjutkan kembali di Serukam—dengan tantangan yang mungkin lebih besar. Tapi satu hal pasti: Tuhan masih berkarya. Sungguh suatu kehormatan bila Tuhan masih berkenan memakai seorang pribadi yang penuh kelemahan dan menjadi bagian dari karya-Nya yang ajaib melalui pelayanan misi. Syukur dan pujian hanya bagi Tuhan. "Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya." — 1 Tesalonika 5:24
- Bagian Pertama: Menantikan Sang Mesias dengan Respon yang benar
Saat ini kita kembali memasuki masa Natal di penghujung tahun 2024. Pertanyaan yang patut kita renungkan sebagai orang percaya adalah apa yang sudah ataupun sedang kita persiapkan? Siapakah atau apakah yang kita nantikan? Bagaimana kita meresponi masa Natal ini? Sembari kita merefleksikan pertanyaan-pertanyaan di atas, penulis mengajak untuk kita dapat melihat kembali apa yang tertulis di Alkitab tentang tiga kelompok orang yang berespon terhadap berita lahirnya Sang Mesias yaitu kelompok orang yang tidak menantikan, ingin terlihat seakan menantikan, dan yang benar menantikan kehadiran Sang Mesias. Bagaimana respon mereka dan hal apa yang dapat kita pelajari dari mereka (baca Matius 2:1-18). Setelah bangsa Israel secara bertahap kembali ke Yerusalem dari pembuangan di Babel sejak tahun 537/538 SM, pembangunan Bait Allah dan pembacaan Taurat kembali dilakukan setelah sekian lama. Namun, pengembalian jati diri dan identitas sebagai umat Allah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengaruh budaya asing dan penyembahan ilah-ilah dari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah rupanya begitu kental mempengaruhi bangsa Israel. Kawin campur, pelanggaran pada hukum Taurat seperti pengabaian perpuluhan dan hari Sabat, serta moralitas yang rusak akibat pengaruh budaya asing, terutama dari budaya Helenistik yang dominan, menjadi gambaran kondisi buruk bangsa Israel saat itu. Ditambah lagi dengan bangsa-bangsa lain yang menjajah mereka silih berganti dari Persia, Yunani, sampai dengan Romawi. Di masa-masa tersebut, orang Yahudi merasa begitu terpuruk dan menderita sehingga janji akan keselamatan oleh Sang Mesias menjadi pengharapan mereka satu-satunya. Sayangnya, masa-masa penantian tersebut diperburuk dengan tidak adanya suara Tuhan. Masa tersebut disebut sebagai masa keheningan 400 tahun, yaitu sejak 420 SM (masa Maleakhi) sampai abad ke 1. Inilah salah satu masa terburuk bagi bangsa Israel, bukan hanya karena kondisi hidup mereka, tetapi juga karena ketiadaan wahyu Allah. Yang tidak menantikan Sang Mesias Respon pertama atas berita kelahiran Sang Mesias yang akan kita pelajari adalah respon dari Herodes. Para majus dari timur tiba di Yerusalem untuk menemukan Sang Mesias. Namun, respon Herodes malah terkejut (Mat. 2:3). Kata “terkejut” tersebut menggunakan bahasa Yunani ταράσσω, yang menurut Craig Bloomberg seorang teolog Perjanjian Baru, lebih tepat diterjemahkan sebagai “dalam kekacauan” atau bahkan “ketakutan”. Kenapa Herodes ketakutan? Herodes, raja Yudea saat itu, merupakan keturunan Edom yang cukup familiar terhadap nubuatan Sang Mesias dan Kerajaan-Nya. Setelah 35 tahun bertahta sebagai raja kecil, kabar penggenapan janji Allah membuatnya iri hati dan takut kehilangan jabatannya sebagai ‘raja’. Bukan saja ia berharap bahwa penggenapan janji tersebut gagal, Herodes tidak ragu untuk melakukan segala cara demi menggagalkan hadirnya Sang Mesias dengan caranya sendiri. Ia menggali informasi dari para majus dan bahkan mengumpulkan imam kepala dan para ahli Taurat bangsa Yahudi untuk bisa mendapatkan lokasi dan waktu yang tepat terkait lahirnya Sang Raja. Hati jahatnya pun mengakibatkan tangis dan ratapan yang teramat sedih bagi para ibu yang kehilangan anak akibat rasa takut dan cemburu si raja kecil (Mat. 2:16-18). Bagaimana dengan kita saat ini? Mungkin sebagian dari kita berkata “Jelas aku bukan seperti Herodes yang ingin membunuh Yesus!”. Namun dengan tidak menempatkan Kristus sebagai satu-satunya Raja dalam kehidupan kita, kita tidak berbeda dengan Herodes. Sikap hati yang ingin bebas mendefinisikan apapun, tidak mau tunduk pada kebenaran Firman Tuhan, dan hanya mau mendengarkan apa yang mau kita dengar, merupakan ciri sikap hati “raja kecil” yang menganggap kebenaran Allah sebagai ancaman terhadap otoritas keakuan diri kita, yang pada akhirnya secara sadar atau tidak menjadikan Tuhan sebagai “musuh” yang kehadiran-Nya merupakan gangguan bagi kenyamanan diri dalam keberdosaan. Yang sepertinya menantikan Sang Mesias Kelompok orang yang kedua adalah para imam kepala dan ahli Taurat. Menariknya di masa ketika Allah ”diam”, bangkitlah dua kelompok keagamaan utama Yahudi yaitu yang disebut Farisi yang terkenal legalistik dan kelompok Saduki yang dikenal sangat liberal. Para Imam dan ahli Taurat ini tentu bisa menjawab dengan sangat akurat saat Herodes bertanya di mana Mesias akan dilahirkan, “Di Bethlehem, di tanah Yudea…” seperti yang tertulis di Mikha 5:1. Imam kepala merupakan pemimpin agama Yahudi dengan jabatan tertinggi yang mengemban tugas utama untuk mengawasi jalannya ibadah di Bait Suci, sedangkan ahli Taurat memang bertugas untuk mempelajari hukum Taurat (atau Perjanjian Lama bagi orang Kristen). Sehingga, sudah tidak heran mereka begitu memahami nubuat terkait kedatangan Mesias yang dijanjikan. Dan sebagai pemimpin agama, seharusnya pengetahuan mereka diikuti dengan kerinduan yang teramat dalam akan datangnya Sang Mesias ”untuk membebaskan umat Allah dari penjajahan bangsa Romawi kala itu” (hal ini pun merupakan interpretasi superfisial dan keliru). Namun, respon imam kepala dan para ahli Taurat hanya berhenti di situ. Mereka menjawab pertanyaan Herodes yang sedang kebakaran jenggot tentang Kristus yang sudah lahir. Lalu, mereka mungkin kembali ke aktivitas hidup keagamaan mereka tanpa aksi apapun. Sebagai pemimpin yang harusnya sadar akan kondisi buruk bangsanya, mereka harusnya jadi pihak yang paling merindukan penggenapan janji kedatangan Mesias. Sudah seharusnya mereka berespon dengan segera ikut para majus untuk menyambut kehadiran Sang Raja. Mesias yang dinanti-nantikan telah lahir, tunggu apa lagi?! Sangat disayangkan, mereka tidak melakukan apa-apa. Pemahaman kognitif yang dalam tentang Firman Tuhan tidak serta merta membuahkan respon yang benar di hadapan Tuhan. Orang Kristen yang sepertinya terlihat rajin menggali kebenaran Alkitab dan pergi beribadah, belum tentu benar-benar menanti-nantikan Kristus. Banyak yang melakukannya hanya untuk memuaskan otak atau memuaskan perasaan atau memang sekedar mencari nafkah dengan profesi rohaniawan. Kristus hanya penting selama mendatangkan keuntungan. Sudah sejauh mana kita mempersiapkan diri di masa Natal ini? Benarkah Sang Mesias yang kita nanti-nantikan? Sejauh mana kita menyadari kemerosotan kita sehingga menyadari signifikansi kedatangan Kristus? Kiranya refleksi dari tulisan ini mendorong setiap kita yang membaca untuk sungguh-sungguh merindukan pengenalan yang sejati akan Allah melalui momen Natal di bulan ini. Minggu depan, kita akan melanjutkan untuk mempelajari respon kelompok orang yang ketiga yaitu yang menantikan Sang Mesias dan berespon dengan benar atas kelahiran Sang Raja Damai.
- Paradoks dalam Kehidupan Kristen: Eksposisi Filipi Bagian 1
Filipi 1:1-2:11 Jika kita membaca berbagai tulisan mengenai surat Filipi, kita akan menemukan sejumlah paradoks – sesuatu yang berlawanan dengan pendapat umum. Bagaimana mungkin bersukacita dalam penderitaan? Bagaimana mungkin memberi dalam kekurangan? Bagaimana mungkin menghibur dalam kedukaan? Bagaimana mungkin peduli kepada persoalan orang lain dalam persoalan diri sendiri yang tidak kunjung usai? Surat kepada jemaat Filipi ini dikirimkan melalui Epafroditus. Ia akhirnya diutus Paulus untuk kembali ke Filipi setelah ia pulih dari sakitnya yang begitu parah, bahkan hampir mati (Fil. 2:25-28). Oleh karena pekerjaan Kristus, Epafroditus hampir saja kehilangan jiwanya, kata Paulus (Fil. 2:30). Surat ini sendiri ditulis oleh Paulus saat ia berada di penjara di Roma (Fil. 1:7, 13-14; 2:17). Selayaknya dalam penjara, tentu saja Paulus juga mengalami berbagai pergumulan, keterbatasan, dan bahkan penderitaan. Kita bisa bandingkan saat Paulus di Filipi dan yang akhirnya dipenjarakan. Saat itu pakaiannya dikoyakkan, didera berulang-ulang, dan dipenjarakan dalam kondisi kaki terpasung (Kis. 16:22-24). Gambaran seperti ini tentu saja jauh berbeda dengan penjara saat ini. Berkaca dari peristiwa itulah mengapa jemaat Filipi akhirnya mengirim Epafroditus untuk membantu Paulus dalam kesukarannya sekaligus menitipkan sejumlah uang yang akan sangat diperlukan oleh Paulus (Bdk. Fil. 2:25; 4:15-16; 18). Walau pemenjaraan di Filipi berbeda dengan pemenjaraan Paulus di Roma oleh karena di sana ia berada di tahanan rumah (Kis. 28:16, 30-31), kondisi Paulus tetap tidak mudah. Apalagi tradisi gereja meyakini bahwa Paulus akhirnya mati martir di Roma tidak terlalu lama setelah surat ini dikirimkan. Jadi, jika kita menarik situasi Paulus ini ke masa dimana kita berada, sangat sulit memahami Paulus akhirnya tetap bersyukur, bersukacita, dan tetap dikasihi dan dihormati. Apa yang membuat Paulus bersyukur? (1:1-11) Setelah menuliskan salam pembuka, Paulus menaikkan ucapan syukurnya atas kondisi jemaat di Filipi. Jika ia mengingat jemaat ini dalam doanya, Paulus tidak henti-hentinya mengucap syukur. Paulus mengingat kembali saat mereka diperkenalkan kepada berita Injil. Sejak saat itu iman mereka terus bertumbuh. Pertumbuhan itu tidak bersifat abstrak dan sekadar ritus, tetapi juga tampak dari kerelaan mereka memberi dalam kekurangan; peduli kepada orang lain dalam persoalan diri yang sangat berat. Bukankah ini paradoks? Teladan jemaat Filipi, yang menjadi bagian dari jemaat Makedonia, bahkan digunakan Paulus untuk mengingatkan serta memotivasi jemaat Korintus untuk menuntaskan janji persembahan mereka. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Mereka bahkan meminta dan mendesak Paulus untuk ikut ambil bagian dalam pengumpulan dana bagi jemaat Yerusalem. Tidak hanya itu, mereka bahkan memberikan lebih banyak dari pada yang diharapkan (Bdk. 2 Kor. 8:2-5). Kini setelah menerima kabar dan pemberian jemaat Filipi lewat Epafroditus, Paulus kembali mengucap syukur kepada Allah yang telah memulai pelayanan di Filipi dan kini buah pelayanan itu tampak dari kepedulian dan kasih di tengah berbagai persoalan dan bahkan penderitaan. Sulit dibayangkan, tapi itulah yang terjadi dalam jemaat, dan itu pula yang membuat Paulus lupa akan penderitaannya. Apa yang membuat Paulus bersukacita? (1:12-26) Selain ucapan syukur, Paulus juga menaikkan rasa sukacitanya. Paling tidak ada 12 kali Paulus memakai kata sukacita dalam suratnya ini. Jika ucapan syukurnya dikarenakan pertumbuhan rohani jemaat Filipi, sukacita Paulus pada bagian ini dikarenakan pemenjaraannya. Karena kesukaran dalam pemenjaraannya ini, sebagai manusia biasa, pernah terbersit dalam benak Paulus untuk meninggalkan dunia ini (Fil. 1:23). Namun semua itu berhasil ia atasi dan ia pun akhirnya bersukacita oleh karena pemenjaraannya akhirnya kembali menghasilkan buah (Fil. 1:12-14). Oleh karena pemenjaraan ini begitu banyak orang mengenal Kristus. Dalam proses kontemplasi itu, Paulus bahkan akhirnya menilai hidup atau mati sama saja. Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan kata Paulus (Fil. 1:21). Hikmat yang lahir dari kesetiaan serta ketaatan kepada pesan Injil membuat Paulus selalu bersukacita dalam segala hal. Dasar sukacitanya tidak lagi seperti halnya dasar sukacita manusia pada umumnya, yaitu hal-hal lahiriah nan fana. Bukankah ini paradoks? Apa yang membuat Paulus dikasihi dan dihormati? (1:27-2:11) Pada bagian selanjutnya tergambar secara jelas bahwa jemaat Filipi mengalami penderitaan (Bdk. Fil. 1:29-30). Penderitaan yang dimaksud tentu saja oleh karena Injil Yesus Kristus, yaitu kesetiaan dan ketaatan kepada pesan Injil tersebut. Dalam penderitaan itu, Paulus mengajak jemaat Filipi untuk terus berjuang dan menilai penderitaan karena Injil adalah anugerah (Fil. 1:29). Bukankah ini juga paradoks? Secara umum manusia menilai penderitaan sebagai kelemahan bahkan kebodohan. Tidak sedikit orang justru dihina oleh karena memperjuangkan prinsip yang diyakininya. Kesetiaan dinilai sebagai sikap yang tidak adaptif dan realistis yang justru akan menjerumuskan manusia. Orang mungkin berkata, bagaimana mungkin hidup ideal di tengah-tengah dunia yang jauh dari ideal! Pada kelanjutan surat ini, Paulus justru menyampaikan sebuah doktrin Kristen yang sangat terkenal yaitu “pengosongan diri” ( kenōsis ). Dalam peristiwa inkarnasi, Kristus dimaknai Paulus telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang Hamba yang akhirnya disalibkan. Sekali lagi, dalam dunia yang semakin kompetitif ini, sikap semacam ini tentulah paradoks. Manusia pada umumnya berlomba untuk saling mengalahkan bahkan adakalanya saling “membunuh”. Berkompetisi dan berjuang untuk mengungguli orang lain adalah hikmat dunia yang sangat dimaklumi bahkan dianjurkan jika mau bertahan dalam dunia yang disruptif ini. Namun dalam rangka kesatuan umat, Paulus justru meminta jemaat untuk mengutamakan orang lain, tidak boleh mementingkan diri sendiri tetapi kepentingan orang lain juga (Fil. 2:4). Lagi-lagi, hal ini Paulus tekankan bukan sebagai bentuk kelemahan diri, tetapi oleh karena teladan Kristus yang terlebih dahulu telah memberi teladan (Fil. 2:5). Apakah Paulus juga telah melakukannya? Ya! Hal itu tampak jelas dalam Filipi 3:4b-8. Dengan demikian, jika Kristus akhirnya sangat ditinggikan karena “pengosongan diri” ini (Fil. 2:9-11), maka itu pulalah yang membuat Paulus sangat dikasihi dan dihormati. Pengosongan diri adalah hal yang membuat manusia dikasihi dan dihormati, bukan saja saat ia hidup namun juga saat ia telah mati kelak.
- Tetaplah Mengerjakan Keselamatanmu di Dunia: Eksposisi Filipi Bagian 2
Filipi 2:12-3:16 Bagian ini diawali dengan tuntutan rasul Paulus agar jemaat tetap taat dan “tetap mengerjakan keselamatan mereka” (ay. 12). Apa yang mendasari perintah untuk “tetap mengerjakan keselamatan”? Untuk memahaminya ada baiknya kita mengetahui konteks mengapa tuntutan itu akhirnya muncul, dalam hal ini adalah “mereka hidup di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat” (Fil. 2:15). Pada edisi eksposisi sebelumnya, kepada kita telah diperlihatkan sejumlah paradoks dalam kehidupan Kristen. Di dalam bagian ini, urgensi membukakan paradoks itu semakin terlihat. Frasa “angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat” berkaitan dengan tiga paradoks yang telah diulas pada eksposisi sebelumnya yaitu: Semakin banyak orang yang tidak bisa bersyukur; semakin banyak orang yang bersukacita untuk hal-hal yang lahiriah nan fana; serta semakin banyak orang tidak mau mengosongkan diri namun malah menyombongkan diri di hadapan orang lain. Hal ini sangat jauh dari teladan Kristus yang telah diuraikan rasul Paulus pada Filipi 2:5-8. Efek dari cara hidup seperti ini tersirat dalam Filipi 2:14 yaitu hidup bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Tuntutan rasul Paulus saat mengawali bagian itu tentu saja menyiratkan bahwa praktik hidup dari angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat di atas sangat mengancam dan menggoda orang-orang percaya seperti kita. Karena itulah rasul Paulus melanjutkan tuntutannya tersebut dengan kalimat, “bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” (Fil. 2:12). Godaan begitu kuat. Lalu apa yang dilakukan oleh sang rasul untuk menolong jemaat? Memberi teladan (2:17-18) Pada bagian ini Paulus mengingatkan jemaat tentang dirinya yang telah mengalami berbagai penderitaan. Jika penderitaan itu pun masih berlanjut, demi pertumbuhan jemaat ia rela. Ibadah adalah pertemuan atau interaksi antara Allah dan manusia (umat). Dalam ibadah kala itu, lazim diisi dengan pencurahan darah korban. Karena itu agar jemaat bisa berinteraksi dan semakin mengenal Allah, Paulus rela darahnya dicurahkan (Fil. 2:17). Jemaat tentu saja sudah sangat mengetahui bahkan menyaksikan sendiri penderitaan Paulus di Filipi dan juga telah mendengar penderitaan Paulus di tempat-tempat lain. Tapi dia tetap bersukacita. Inilah teladan yang disampaikan rasul Paulus kepada jemaatnya yang hidup di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan sesat itu. Rela berkorban agar jemaat semakin mengenal Allah. Mengutus Timotius dan Epafroditus (2:19-3:1a) Kehidupan Kristen yang akhirnya menjadi sama dengan dunia ini ternyata tidak hanya dialami oleh jemaat biasa, tetapi juga oleh para pelayan. Hal ini terindikasi dalam kalimat Paulus saat hendak mengirim Timotius. Mengapa Timotius? Karena semuanya hanya mencari kepentingannya sendiri, kata Paulus (Fil. 2:21). Tidak mudah mencari pelayan yang setia dan teruji seperti Timotius (Fil. 2:22). Gambaran kehidupan para pelayan yang akhirnya juga menjadi sama dengan dunia ini tentu semakin menguatkan Paulus mengapa jemaat Filipi diminta untuk taat dan terus berjuang mengerjakan keselamatan mereka. Mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah satu sisi, tapi pada sisi lain ancaman dan godaan untuk menjadi serupa dengan dunia ini juga tidak kalah penting untuk dilawan. Itulah alasan mengapa Paulus hendak mengirim Timotius sebelum ia kembali mengunjungi jemaat Filipi (Fil. 2:23-24). Namun, untuk sementara ini Paulus mengirim Epafroditus sekaligus yang membawa surat ini. Berhati-hati pada ajaran yang beredar (3:1b-16) Gambaran angkatan yang bengkok hatinya dan sesat diperlihatkan oleh rasul Paulus dalam bagian ini. Paulus menyebut mereka sebagai anjing-anjing, pekerja-pekerja yang jahat, dan penyunat-penyunat yang palsu (3:2). Ada satu ciri ajaran sesat yang sengaja Paulus sorot dalam bagian ini yaitu orang yang begitu membanggakan hal-hal yang lahiriah. Inilah realitas angkatan yang bengkok hatinya dan sesat itu. Apakah Anda menemukan pengajaran yang seperti ini? Apakah Anda sedang tergoda dengan ajaran yang seperti ini? Ada banyak media yang digunakan untuk mengajarkan hal-hal seperti ini. Kita senantiasa terpapar oleh ajaran-ajaran seperti ini. Berhati-hatilah kata Paulus! Selanjutnya Paulus kembali mengajak jemaat untuk melihat teladannya. Paulus mengakui bahwa dia dulunya juga sangat membanggakan hal-hal lahiriah. Sebagai orang Yahudi dan penganut Yudaisme, dia adalah orang yang tidak bercacat (Bdk. 3:4-6). Dia merupakan golongan elit dalam orang Ibrani. Pengetahuan dan wawasannya juga sangat luas. Dari sisi keberanian dalam membela imannya, dia tidak tertandingi. Tindakannya memimpin penganiayaan terhadap pengikut Kristus adalah bagian dari keberaniannya dalam menjaga kemurnian iman orang Yahudi. Semua hal-hal yang dituntut dalam hukum dan tradisi Yahudi telah dilakukannya. Secara pencapain di dunia, dia pantas bangga dan banyak orang bangga kepadanya. Namun pengenalan akan Kristus membuat semua hal-hal yang lahiriah itu dianggapnya sampah (ay. 8). Saudara-saudara, mengganggap segala pencapaian di dunia sebagai sampah bukan berarti bagi Paulus mengajarkan bahwa semuanya itu tidak perlu dikejar dan tidak berguna. Kita harus melihatnya dari perspektif apakah itu semua membuat kita semakin mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya atau tidak. Hal ini dikarenakan semua pencapaian itu bisa membawa kita kepada kesombongan dan mengganggap bahwa kita tidak membutuhkan Kristus dan kuasa-Nya lagi. Paulus menjelaskan bahwa cara pandangnya tersebut kini telah berubah oleh karena pengenalan akan Kristus (ay. 7). Dia tidak mau jika hal-hal lahiriah itu akhirnya membuatnya tidak memperoleh Kristus (ay. 8). Pada ayat 10, Paulus menegaskan kembali bahwa yang dia kehendaki adalah pengenalan akan Kristus serta kuasa kebangkitan-Nya. Jadi cukup jelas bahwa semua pencapaian di dunia bukannya tidak penting. Yang menjadi acuannya adalah apakah semua itu membawa kita kepada pengenalan akan Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Jika tidak, semuanya itu adalah sampah! Berhati-hatilah!
- Wahai Kekasihku, Ikutlah Teladanku: Ekposisi Filipi Bagian 3
Tulisan ini adalah bagian terakhir dari tiga seri eksposisi surat Filipi. Pada eksposisi pertama telah diperlihatkan bahwa saat menulis surat ini, rasul Paulus tengah berada di tahanan rumah di Roma. Dengan demikian, surat ini dituliskan tidak terlalu lama sebelum ia akhirnya menjadi martir di Roma. Dalam Perjanjian Baru, diperlihatkan setidaknya ada dua kematian kemenangan, yaitu kematian Yesus Kristus (Yoh. 19:30) dan kematian rasul Paulus (2 Tim. 4:6-8). Saat menjelang kematiannya, sang rasul menilai dirinya telah menyelesaikan tugas yang dimandatkan oleh Allah di dunia. Mungkinkah kita seperti Paulus? Dalam sebuah ibadah yang saya hadiri, pendeta yang berkhotbah bertanya kepada jemaat, “Siapa di antara kita yang selalu berdoa agar anaknya kelak seperti dirinya”. Setelah mengajukan pertanyaan itu, dia lalu melanjutkannya dengan, “Atau kita justru selalu berdoa agar anaknya tidak seperti dirinya”. Pertanyaan ini sebenarnya menyiratkan sebuah ujian mengenai autentisitas sebagai orang Kristen. Seberapa beranikah kita meminta orang-orang yang kita kasihi, misalnya anak-anak kita, meneladani hidup kita? Rasul Paulus berkata pada jemaat Filipi, “Ikutilah teladanku” (Fil. 3:17). Kata kerja perintah ( imperative ) dalam bentuk kala kini ( present tense ) ini tentu bisa juga diartikan, “hendaklah kamu sekalian terus menerus meneladani atau meniru cara hidupku.” Beranikah kita menyatakan hal demikian kepada anak-anak serta kepada mereka yang kita kasihi seraya berdoa kepada Tuhan agar mereka senantiasa meneladani kita? Keteladanan Paulus (Fil. 4:1-9) Dalam hal apakah rasul Paulus meminta jemaat meneladaninya? Hal tersebut masih berkaitan dengan konteks jemaat yang hidup di tengah-tengah angkatan yang bengkok dan sesat sebagaimana yang telah diulas pada eksposisi sebelumnya (Fil. 2:15). Ciri hidup dari angkatan yang bengkok tersebut diulas secara lebih jelas dalam bagian ini, yaitu tuhan mereka adalah perut mereka, kemuliaan mereka adalah aib mereka, dan pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi (Fil. 3:18-19). Ketiga bagian ini bermuara pada cara hidup yang mengutamakan segala hal yang bersifat duniawi nan fana yang umumnya menjadi tujuan utama kehidupan dari sebagian besar manusia. Cara hidup seperti itu bahkan sering dinilai sebagai kewajaran bahkan keniscayaan di dunia yang penuh persaingan ini. Berbeda dengan sang rasul, ia justru telah mempraktikkan tiga paradoks dalam kehidupan Kristen seperti yang diulas pada eksposisi pertama. Terkait dengan ketiga cara hidup di atas, beranikah kita meminta agar anak-anak serta mereka yang kita kasihi meneladani kita? Pada bagian selanjutnya, Paulus kembali meminta agar pemimpin jemaat yaitu Euodia dan Sintikhe, serta Sunsugos dan seluruh jemaat untuk meneladani dirinya. Setelah memberi sejumlah nasihat seperti: menolong mereka yang membutuhkan (ay. 3), ajakan untuk tetap bersukacita (ay. 4), berbaik hati kepada semua orang (ay. 5), tidak diperbudak oleh kekhawatiran (ay. 6), dan selalu memikirkan yang baik (ay. 8). Rasul Paulus menyatakan, “Apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku , lakukanlah itu.” (Fil. 4:9). Dia tidak hanya meminta jemaat untuk melakukan apa yang dia ajarkan, namun yang terutama juga melakukan apa yang mereka lihat dalam diri Paulus ( … seen in me) . Maksud dari hal ini tentu saja adalah keteladanan Paulus yang telah mereka saksikan sendiri. Dalam hidupnya, rasul Paulus melakukan apa yang dia ajarkan, dan mengajarkan apa yang dia lakukan. Sampai di sini, tidak mengherankan mengapa rasul Paulus akhirnya berani meminta jemaat dan para pemimpin yang ada di Filipi untuk meneladaninya. Mereka telah melihat bahwa Paulus memang benar-benar telah memberikan teladan. Ia telah melakukan tiga paradoks yang telah diulas pada eksposisi pertama. Inilah sosok Kristen yang autentik. Buah Keteladanan Paulus (Fil. 4:10-23) Jemaat Filipi adalah contoh buah keteladanan rasul Paulus (hal ini telah diulas pada eksposisi pertama). Salah satu yang diajarkan dan diteladankan oleh rasul Paulus adalah mengenai ketidak khawatiran. Ia berkata, “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Fil. 4:6). Paulus memang sering mengalami kekurangan bahkan penganiayaan yang sangat berat hingga hampir mati; ia juga kerap kali kelaparan dan terpaksa berpuasa (bdk. 2 Kor. 11:23-28). Karena itulah ia menyatakan, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Fil. 4:12-13). Rasul Paulus sangat bangga terhadap jemaat Filipi. Mereka adalah buah keteladanan rasul Paulus. Dalam segala penderitaan dan kekurangan, jemaat Filipi telah beberapa kali memberikan dana kepada Paulus (Fil. 4:14-16), bahkan mereka pun mengirimkan Epafroditus untuk melayani Paulus selama dia di tahanan rumah di Roma (Fil. 4:18). Seperti halnya rasul Paulus dan jemaat Filipi, semoga anak-anak kita serta mereka yang kita kasihi juga kelak menjadi buah keteladanan kita. Mulailah memberanikan diri untuk berdoa kepada Tuhan secara jujur agar anak-anak kita serta mereka yang kita kasihi dapat terus-menerus meneladani kita berkaitan dengan sejumlah cara hidup yang telah disebutkan di atas.
- Respons Orang Kristen terhadap Kondisi Perekonomian Indonesia: Panggilan untuk Bertindak secara Holistik
Pada saat jemaat mula-mula bertambah, muncullah ketikdakpuasan di kalangan jemaat karena perbedaan perlakuan di antara mereka (Kisah Para Rasul 6:1-7). Sebagian dilayani dan diperhatikan dengan baik, secara rohani maupun jasmani. Pelayanan Firman adalah penting, namun pelayanan “meja” juga tidak kalah penting. Demikianlah para rasul memandang, dan demikian pulalah kegerakan Kristen semestinya kita tiru. Sebagai komunitas yang berakar pada nilai kasih, keadilan, dan pelayanan, orang Kristen dipanggil untuk memberikan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan ini secara holistik. Tantangan bangsa Indonesia datang silih berganti. Memang rasanya tidak semestinya kita berharap tantangan berhenti; tantangan akan selalu ada. Tahun 2025 kita diterpa dengan berbagai hal: perang tarif impor, perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan angka pengangguran. Walau dalam situasi berbeda, prinsip para rasul perlu kita tiru dalam menghadirkan pelayanan secara holistik. Kita dipanggil untuk merespons. Mengutip C.S. Lewis, “ God whispers to us in our pleasures, speaks in our conscience, but shouts in our pains: it is his megaphone to rouse a deaf world .” Walau benar bahwa perubahan masif lebih efisien melalui kebijakan pemerintah/institusional untuk mengintervensi, tetapi bisakah individu mengubah perkara yang besar? Tentu bisa. Kebijakan pemerintah tidak akan berarti bila tidak mendapat dukungan dari warga masyarakat. Dari sisi ekonomi, salah satu cara konkret untuk memperkuat ekonomi nasional adalah dengan mempromosikan dan menggunakan produk lokal. Dengan membeli produk dalam negeri, kita tidak hanya membantu UMKM bertahan dan berkembang, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru. Langkah ini sejalan dengan prinsip kasih dalam iman Kristen, yaitu mengasihi sesama dengan tindakan nyata. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang pada Februari 2025, meningkat sekitar 83 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai respons, gereja dan komunitas Kristen dapat menyelenggarakan pelatihan keterampilan untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja. Kita juga bisa mendorong kewirausahaan dengan memberikan modal dan pendampingan bagi anggota jemaat yang ingin memulai usaha. UMKM merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia. UMKM menyerap 97% tenaga kerja di Indonesia, dan diperkirakan 99% total unit usaha di Indonesia berbentuk UMKM. Namun, banyak di antaranya yang kesulitan dalam akses permodalan dan pemasaran. Orang Kristen atau gereja dapat berperan dengan membentuk koperasi gereja untuk menyediakan pinjaman mikro bagi pelaku UMKM. Banyak gereja juga telah menyediakan ruang usaha di lingkungan gereja untuk bazar atau pameran produk UMKM. Di era digital ini, pelatihan manajemen usaha dan pemasaran digital sangat dibutuhkan dan generasi muda gereja sangat berpotensi untuk berkontribusi di area ini. Pemberdayaan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari aspek kesehatan. Gereja dapat menginisiasi program seperti klinik kesehatan gratis untuk masyarakat kurang mampu. Dari sisi pendidikan, beasiswa bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera juga akan sangat membantu. Seminar literasi keuangan juga potensial untuk diselenggarakan untuk mengedukasi jemaat dalam mengelola keuangan pribadi dan usaha. Fenomena beberapa waktu lalu #KaburAjaDulu mencerminkan kekecewaan generasi muda terhadap kondisi dalam negeri. Sebagai komunitas iman, gereja harus menjadi tempat yang menawarkan harapan dan solusi dengan menyediakan ruang diskusi bagi pemuda untuk menyuarakan aspirasi dan mencari solusi bersama. Gereja agar turut mengayomi dan mendorong partisipasi aktif dalam pembangunan komunitas lokal, serta menjadi teladan dalam integritas dan pelayanan publik. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam bagi dunia, termasuk dalam bidang ekonomi. Dengan tindakan nyata yang berlandaskan kasih dan keadilan, kita dapat berkontribusi dalam membangun perekonomian Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
















