Wahai Kekasihku, Ikutlah Teladanku: Ekposisi Filipi Bagian 3
- Dr. Pelita H. Surbakti, S.T, M.Th
- Jul 24, 2025
- 3 min read
Updated: Jul 25, 2025

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari tiga seri eksposisi surat Filipi. Pada eksposisi pertama telah diperlihatkan bahwa saat menulis surat ini, rasul Paulus tengah berada di tahanan rumah di Roma. Dengan demikian, surat ini dituliskan tidak terlalu lama sebelum ia akhirnya menjadi martir di Roma. Dalam Perjanjian Baru, diperlihatkan setidaknya ada dua kematian kemenangan, yaitu kematian Yesus Kristus (Yoh. 19:30) dan kematian rasul Paulus (2 Tim. 4:6-8). Saat menjelang kematiannya, sang rasul menilai dirinya telah menyelesaikan tugas yang dimandatkan oleh Allah di dunia. Mungkinkah kita seperti Paulus?
Dalam sebuah ibadah yang saya hadiri, pendeta yang berkhotbah bertanya kepada jemaat, “Siapa di antara kita yang selalu berdoa agar anaknya kelak seperti dirinya”. Setelah mengajukan pertanyaan itu, dia lalu melanjutkannya dengan, “Atau kita justru selalu berdoa agar anaknya tidak seperti dirinya”. Pertanyaan ini sebenarnya menyiratkan sebuah ujian mengenai autentisitas sebagai orang Kristen. Seberapa beranikah kita meminta orang-orang yang kita kasihi, misalnya anak-anak kita, meneladani hidup kita? Rasul Paulus berkata pada jemaat Filipi, “Ikutilah teladanku” (Fil. 3:17). Kata kerja perintah (imperative) dalam bentuk kala kini (present tense) ini tentu bisa juga diartikan, “hendaklah kamu sekalian terus menerus meneladani atau meniru cara hidupku.” Beranikah kita menyatakan hal demikian kepada anak-anak serta kepada mereka yang kita kasihi seraya berdoa kepada Tuhan agar mereka senantiasa meneladani kita?
Keteladanan Paulus (Fil. 4:1-9)
Dalam hal apakah rasul Paulus meminta jemaat meneladaninya? Hal tersebut masih berkaitan dengan konteks jemaat yang hidup di tengah-tengah angkatan yang bengkok dan sesat sebagaimana yang telah diulas pada eksposisi sebelumnya (Fil. 2:15). Ciri hidup dari angkatan yang bengkok tersebut diulas secara lebih jelas dalam bagian ini, yaitu tuhan mereka adalah perut mereka, kemuliaan mereka adalah aib mereka, dan pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi (Fil. 3:18-19). Ketiga bagian ini bermuara pada cara hidup yang mengutamakan segala hal yang bersifat duniawi nan fana yang umumnya menjadi tujuan utama kehidupan dari sebagian besar manusia. Cara hidup seperti itu bahkan sering dinilai sebagai kewajaran bahkan keniscayaan di dunia yang penuh persaingan ini. Berbeda dengan sang rasul, ia justru telah mempraktikkan tiga paradoks dalam kehidupan Kristen seperti yang diulas pada eksposisi pertama. Terkait dengan ketiga cara hidup di atas, beranikah kita meminta agar anak-anak serta mereka yang kita kasihi meneladani kita?
Pada bagian selanjutnya, Paulus kembali meminta agar pemimpin jemaat yaitu Euodia dan Sintikhe, serta Sunsugos dan seluruh jemaat untuk meneladani dirinya. Setelah memberi sejumlah nasihat seperti: menolong mereka yang membutuhkan (ay. 3), ajakan untuk tetap bersukacita (ay. 4), berbaik hati kepada semua orang (ay. 5), tidak diperbudak oleh kekhawatiran (ay. 6), dan selalu memikirkan yang baik (ay. 8). Rasul Paulus menyatakan, “Apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu.” (Fil. 4:9). Dia tidak hanya meminta jemaat untuk melakukan apa yang dia ajarkan, namun yang terutama juga melakukan apa yang mereka lihat dalam diri Paulus (… seen in me). Maksud dari hal ini tentu saja adalah keteladanan Paulus yang telah mereka saksikan sendiri. Dalam hidupnya, rasul Paulus melakukan apa yang dia ajarkan, dan mengajarkan apa yang dia lakukan.
Sampai di sini, tidak mengherankan mengapa rasul Paulus akhirnya berani meminta jemaat dan para pemimpin yang ada di Filipi untuk meneladaninya. Mereka telah melihat bahwa Paulus memang benar-benar telah memberikan teladan. Ia telah melakukan tiga paradoks yang telah diulas pada eksposisi pertama. Inilah sosok Kristen yang autentik.
Buah Keteladanan Paulus (Fil. 4:10-23)
Jemaat Filipi adalah contoh buah keteladanan rasul Paulus (hal ini telah diulas pada eksposisi pertama). Salah satu yang diajarkan dan diteladankan oleh rasul Paulus adalah mengenai ketidak khawatiran. Ia berkata, “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Fil. 4:6). Paulus memang sering mengalami kekurangan bahkan penganiayaan yang sangat berat hingga hampir mati; ia juga kerap kali kelaparan dan terpaksa berpuasa (bdk. 2 Kor. 11:23-28). Karena itulah ia menyatakan, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Fil. 4:12-13). Rasul Paulus sangat bangga terhadap jemaat Filipi. Mereka adalah buah keteladanan rasul Paulus. Dalam segala penderitaan dan kekurangan, jemaat Filipi telah beberapa kali memberikan dana kepada Paulus (Fil. 4:14-16), bahkan mereka pun mengirimkan Epafroditus untuk melayani Paulus selama dia di tahanan rumah di Roma (Fil. 4:18).
Seperti halnya rasul Paulus dan jemaat Filipi, semoga anak-anak kita serta mereka yang kita kasihi juga kelak menjadi buah keteladanan kita. Mulailah memberanikan diri untuk berdoa kepada Tuhan secara jujur agar anak-anak kita serta mereka yang kita kasihi dapat terus-menerus meneladani kita berkaitan dengan sejumlah cara hidup yang telah disebutkan di atas.







Comments