top of page
Subscribe
Instagram
Facebook
Donation

143 results found with an empty search

  • Nyanyian Malaikat

    Painting of Govert Flinck, Angels Announcing Christ's Birth to the Shepherds. ( Doxa  Mendahului Eirene  : Manifesto Langit di Malam Kudus) Peristiwa nyanyian malaikat merupakan salah satu momen paling ikonik dalam narasi kelahiran Yesus Kristus. Kisah ini tercatat dalam Injil Lukas 2:8–14, di mana para malaikat, utusan surgawi yang biasanya hadir dalam konteks penghukuman atau pewahyuan ilahi kini muncul untuk memberitakan kabar sukacita besar bagi seluruh bangsa. Inilah momen ketika langit menyentuh bumi. Nyanyian mereka yang kini kita kenal sebagai Gloria in Excelsis Deo , bukanlah sekadar senandung pengantar tidur bagi Sang Bayi. Itu adalah sebuah proklamasi agung: sebuah manifesto ilahi yang memetakan kembali hubungan antara Pencipta dan ciptaan-Nya. Penerima pertama kabar kelahiran Sang Mesias adalah gembala di padang dekat Betlehem, orang-orang yang justru dipandang rendah dalam masyarakat, mereka dianggap kotor, tidak dapat dipercaya, dan secara sosial terpinggirkan. Namun, justru kepada merekalah berita sukacita untuk dunia disampaikan. Dalam “Christmas: Why the Birth of Jesus Matters”, Timothy Keller menangkap ironi ilahi tersebut dengan jelas: “Malaikat tidak muncul kepada para imam di Yerusalem atau para pejabat di Roma, tetapi kepada gembala, orang yang dianggap kotor dan tidak layak. Mengapa? Karena kabar baik Natal bukan untuk orang ‘baik’, melainkan untuk mereka yang sadar bahwa mereka membutuhkan anugerah.” Allah sengaja memilih yang terlupakan untuk menerima kabar yang paling mulia—bukan karena mereka layak, tetapi justru karena mereka tahu betapa kecil dan tak layaknya mereka di mata dunia. Di dalam kerendahan itulah hati mereka terbuka untuk menerima anugerah, dan di sanalah Allah memilih untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Lukas menggambarkan momen pertama kemunculan malaikat dengan momen yang sarat ketegangan: “tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar melingkupi mereka” (Lukas 2:9). Respons para gembala tidak digambarkan sebagai sukacita spontan, melainkan ketakutan yang sangat besar (“mereka sangat ketakutan” – ephybēthēsan phobon megan ). Kata Yunani phobos  di sini bukan sekadar “takut”, tetapi mengacu pada rasa gentar yang mendalam di hadapan Ilahi; sesuatu yang memicu kesadaran akan ketidaklayakan manusia di hadapan kemuliaan Allah. Namun, pesan yang disampaikan justru berlawanan dengan rasa takut itu: “Jangan takut!” (Mē phobeisthe!). Dalam bahasa Yunani, kalimat tersebut  bukan larangan biasa, melainkan ajakan yang bersifat transformasional, sebuah perintah ilahi yang sekaligus menenangkan. Kabar itu bukan hanya untuk “umat Israel”, tetapi “bagi seluruh bangsa” (pasin tō laō), menegaskan universalitas Injil. Lalu, muncullah “pujian multitud malaikat”— yang dalam teks Yunani disebut sebagai plēthos stratias ouraniou (“banyak pasukan surgawi”). Mereka tidak menyanyi dalam pengertian musikal modern, melainkan berseru bersama dalam doksologi surgawi: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi bagi manusia yang berkenan kepada-Nya.” Kalimat tersebut bukan hanya sekadar nyanyian pujian yang megah melainkan juga suatu deklarasi teologis dimana dalam satu nafas, para malaikat menyatukan dua realitas yang tampaknya terpisah: kemuliaan Allah di surga dan damai sejahtera di bumi. Ini mencerminkan inti Injil: Allah yang Mahatinggi tidak tinggal terpisah dari dunia yang jatuh, tetapi masuk ke dalamnya melalui kelahiran seorang Bayi di palungan untuk merestorasi semua ciptaan yang telah rusak karena dosa. Doxa: Bobot Kemuliaan Allah Kata pertama yang memecah keheningan malam itu adalah "Kemuliaan". Dalam naskah Yunani, kata yang digunakan adalah Doxa . Istilah ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pujian atau cahaya terang. Dalam tradisi Yahudi yang melatarbelakanginya, konsep kemuliaan (Ibrani: Kabod ) berkaitan erat dengan makna "bobot" atau "berat". Ketika malaikat berseru Doxa , mereka sedang memproklamirkan seberapa besar kehormatan, dan reputasi Allah yang tak terhingga. Pesan ini sangat penting karena sering kali makna Natal dipersempit menjadi sekedar perayaan besar di bulan Desember yang berfokus pada keramaian gerejawi, dan kebahagiaan pribadi dan keluarga. Namun, "pasukan" surgawi ini menegaskan bahwa fokus utama dari inkarnasi Kristus adalah Allah itu sendiri. Kelahiran Yesus di bumi bukan semata-mata untuk membuat manusia merasa nyaman dan aman, tetapi untuk mengembalikan Doxa  bagi Bapa yang telah lama diabaikan oleh dunia yang berdosa. Malaikat mengajarkan kita satu prinsip fundamental: Kita tidak akan pernah bisa memahami makna Natal yang sejati jika kita tidak menempatkan Allah pada posisi terbesar dan terpenting dalam hidup kita. Eirene : Damai di Tengah Kekacauan Setelah kemuliaan bagi Allah ditegakkan di tempat yang maha tinggi, nyanyian surgawi itu turun menyentuh bumi dengan kalimat yang mengguncang sejarah ”... dan damai sejahtera di bumi”. Kata Yunani yang dipakai di kalimat tersebut adalah ”eirene” yang bukan sekedar istilah untuk ketenangan atau ketiadaan perang. Dalam konteks dunia abad pertama, ungkapan ini mengandung kontras yang radikal. Kekaisaran Romawi, di bawah pemerintahan Kaisar Agustus sedang membanggakan Pax Romana ”damai ala Romawi” yang dipaksakan melalui kekuatan militer, pajak yang menindas dan pedang yang siap menghukum pengkhianat. Damai versi dunia masa itu lahir dari ketakutan dan penaklukan, bukan dari kasih dan pemulihan. Namun, Eirene yang dinyanyikan malaikat di padang Betlehem sama sekali berbeda. Kata ini adalah padanan dari konsep Ibrani ”shalom” yang merupakan sebuah kondisi yang jauh melampaui kedamaian karena senjata atau ketenangan psikologis yang sesaat. Eirene berbicara tentang tatanan ciptaan yang dipulihkan, keadilan yang ditegakan dan hubungan yang direkatkan kembali baik secara vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan sesama manusia.  Seperti diingatkan Max Lucado dalam Allah Datang Mendekat,  damai sejahtera yang dinyanyikan malaikat bukanlah impian dunia tanpa masalah, tetapi juga bahwa Allah telah datang dan tinggal dekat dengan manusia. Bukan di istana mewah Roma, bukan di bait suci yang megah, melainkan di antara jerami dan ternak, di tengah malam yang dingin. Bukan hanya untuk para imam, raja atau orang suci, melainkan untuk gembala yang letih yang  terlupakan dan dianggap tidak layak seperti kita yang juga kadang mengalami kesepian, kecemasan, dan  kegagalan hidup. Doxa mendahului Eirene Inilah urutan ilahi yang diajarkan para malaikat di malam Natal: doxa mendahului eirene . Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, lalu diikuti damai sejahtera di bumi. Dunia, di sepanjang sejarahnya, selalu ingin membalik urutan ini. Dunia merindukan eirene : kedamaian, keamanan, harmoni, dan kesejahteraan, tetapi menolak memberikan doxa : kemuliaan, penghormatan, dan terutama otoritas mutlak kepada Allah. Akibatnya, perdamaian yang dibangun manusia sering rapuh, sementara, dan rentan runtuh saat tekanan datang akibat dibangun di atas pasir keinginan diri sendiri, dan bukanlah di atas batu kemuliaan Allah. Ketika kita dengan tulus memuliakan Allah sebagai Tuhan atas segala sesuatu yaitu menempatkan Dia sebagai pusat gravitasi kehidupan kita, maka eirene  akan mengalir turun, bukan sebagai hasil usaha kita, melainkan sebagai buah dari penyembahan yang benar.  Bagi manusia yang berkenan kepada-Nya Banyak terjemahan Alkitab mengatakan bahwa damai sejahtera diberikan ”bagi manusia yang berkenan kepadaNya”, seolah hanya untuk orang-orang tertentu yang dianggap layak oleh Tuhan. Tetapi, penelitian terhadap naskah Alkitab tertua menunjukan sesuatu yang jauh lebih menakjubkan. Frasa asli pernyataan tersebut dalam bahasa Yunani adalah ”en anthropos eudokias” yang lebih tepat diterjemahkan sebagai ”diantara manusia, Allah menyatakan kerelaan-Nya. Jadi, bukan Allah memberi damai kepada orang yang layak, tetapi Allah sendiri memilih untuk berkenan meskipun manusia tidak layak mendapatkannya. Kelahiran Yesus justru membuktikan bahwa Allah berkenan pada dunia yang memberontak kepada-Nya seperti yang ditulis dalam Yohanes 3:16, ”karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini...”. Respon Gembala Seperti diingatkan John Stott, apakah kita mendengar “Nyanyian Malaikat” hanya di setiap bulan Desember, lalu kembali hidup seolah-olah Kristus belum datang. Lihatlah para gembala, mereka tidak hanya terpesona. Alkitab mencatat, mereka segera pergi “dengan cepat” ke Betlehem, menunjukkan respon iman yang aktif. Setelah melihat Bayi Yesus, mereka “menyebarkan kabar” --dari saksi yang tidak diperhitungkan kesaksiannya menjadi saksi dan pewarta pertama dari kelahiran Sang Juruselamat dan “semua orang yang mendengarnya heran”. Bagi Stott, inilah pola iman sejati yaitu bukan sekedar merayakan Natal, tetapi menanggapi kabar damai itu dengan hidup yang diubahkan dan mulut yang berani bersaksi meski dianggap kecil oleh dunia. Penutup Pada akhirnya, Natal adalah panggilan untuk menata ulang hidup kita sesuai urutan surgawi: Doxa  mendahului Eirene . Mari berhenti mengejar damai sejahtera semu yang ditawarkan dunia, dan mulailah memberikan kemuliaan tertinggi hanya kepada Allah. Sebab hanya ketika Dia bertahta di tempat yang mahatinggi dalam hati kita, damai sejahtera yang sejati akan mengalir memulihkan hidup kita. Gloria in excelsis Deo, Selamat Merayakan Natal.

  • Nyanyian Zakharia

    https://greatbibletales.com/wp-content/uploads/2024/04/zech.jpg (Lukas 1:68–79) Natal tidak diawali dengan sorak sorai tetapi dimulai dengan sunyi. Sebelum para malaikat bernyanyi di padang Efrata, ada seorang imam tua bernama Zakharia yang dibisukan. Zakharia hidup di masa yang berat. Israel berada di bawah penjajahan Romawi, keadilan terasa jauh, dan nubuat seolah berhenti berbicara. Sudah sekitar empat ratus tahun Allah terasa diam sejak nabi Maleakhi. Dalam konteks itulah malaikat Gabriel datang membawa kabar yang terlalu besar untuk dipercaya: Elisabet, istrinya yang mandul dan sudah lanjut usia, akan melahirkan seorang anak yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Zakharia ragu, dan keraguan itu membungkamnya. Nyanyian Zakharia, yang dikenal sebagai Benedictus, bukanlah pujian yang lahir dari hidup yang mudah. Nyanyian ini keluar dari mulut seorang imam yang pernah direnggut suaranya, seorang ayah yang menanti dalam diam, dan seorang hamba Tuhan yang belajar kembali mempercayai janji Allah. Karena itu, nyanyian ini bukan hanya indah, tetapi juga menyiratkan makna yang dalam. Dari perikop ini, setidaknya ada tiga hal penting  yang dapat kita gali, renungkan, dan hidupi pada masa kini. 1. Allah adalah Allah yang Datang dan Setia Menggenapi JanjiNya (Lukas 1:68–73) Zakharia membuka nyanyiannya dengan deklarasi iman: “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia telah melawat umat-Nya dan membawa kelepasan.”  Kata “melawat” mengungkapkan Allah yang aktif datang, bukan Allah yang jauh dan pasif. Dalam iman Kristen, keselamatan selalu dimulai dari inisiatif Allah. Manusia tidak menaiki tangga menuju Allah; justru Allah yang turun ke dalam sejarah manusia. Zakharia lalu menempatkan peristiwa kelahiran ini dalam garis panjang sejarah perjanjian kepada Daud dan Abraham. Dengan demikian, ia menegaskan bahwa karya Allah tidak pernah terputus oleh waktu, atau kegagalan manusia, juga dalam keheningan panjang. Bahkan ketika janji itu tampak tertunda, Allah tetap setia. Iman Kristen berakar pada Allah yang konsisten dengan firman-Nya. Keselamatan bukan kejutan tanpa konteks, melainkan penggenapan janji yang telah diucapkan sejak lama. Natal bukan sentimentalitas, tetapi peristiwa teologis tentang kesetiaan Allah. Nyanyian ini mengajak kita belajar menantikan dengan iman. Dalam dunia yang terbiasa dengan kecepatan dan hasil instan, kita sering tergoda mengukur kesetiaan Allah dari seberapa cepat doa dijawab. Nyanyian Zakharia menegur kita untuk percaya bahwa diamnya Allah bukanlah absennya Allah. Ia tetap datang, tepat pada waktu-Nya 2. Keselamatan Membebaskan Kita untuk Hidup Tanpa Takut dan Beribadah dengan Utuh (Lukas 1:74–75) Zakharia menegaskan: “supaya kita dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran seumur hidup kita.”  Keselamatan tidak berhenti pada pembebasan dari musuh, tetapi pemulihan relasi manusia dengan Allah. Takut adalah tema yang sangat manusiawi, takut akan masa depan, takut gagal, takut kehilangan, bahkan takut kepada Allah sendiri. Dalam nyanyian ini, keselamatan dimaknai sebagai kebebasan dari ketakutan yang melumpuhkan, sehingga manusia dapat kembali hidup secara utuh di hadapan Allah. Keselamatan bersifat transformasional. Allah tidak hanya menyelamatkan kita dari  sesuatu, tetapi untuk  sesuatu, yakni hidup yang kudus, benar, dan berkenan kepada-Nya. Iman sejati selalu menghasilkan perubahan arah hidup. Kita diajak memeriksa kembali kualitas ibadah kita. Apakah hidup kita sungguh mencerminkan kebebasan yang Allah berikan, atau justru masih dikendalikan oleh rasa takut dan kepentingan diri? Nyanyian Zakharia memanggil kita untuk menjadikan seluruh hidup sebagai ibadah, dalam pekerjaan, relasi, keputusan etis, dan cara kita memperlakukan sesama. 3. Keselamatan Berakar pada Belas Kasihan Allah dan Membawa Terang bagi Dunia yang Gelap (Lukas 1:77–79) Pusat nyanyian ini terletak pada pengakuan bahwa keselamatan sejati adalah pengampunan dosa  yang lahir dari rahmat dan belas kasihan Allah . Zakharia memahami bahwa akar terdalam masalah manusia bukan penindasan eksternal, tetapi keterpisahan dari Allah. Ia lalu melukiskan Mesias sebagai Surya pagi dari tempat yang tinggi  yang menyinari mereka yang duduk dalam kegelapan dan bayang-bayang maut. Gambaran ini penuh harapan dan kedalaman eskatologis: terang Allah datang bukan kepada mereka yang merasa kuat, tetapi kepada mereka yang berada dalam kegelapan. Keselamatan adalah anugerah semata. Tidak ada manusia yang layak menerimanya, tetapi semua manusia membutuhkannya. Kita dipanggil untuk hidup sebagai pembawa terang.  Di tengah dunia yang penuh luka, ketidakadilan, dan kelelahan rohani -  kita dipanggil untuk memantulkan belas kasih Allah, melalui sikap yang penuh empati, kata-kata yang membangun, dan tindakan yang membawa damai. Penutup Nyanyian Zakharia mengajarkan kita bahwa iman sejati lahir dari penantian yang dipelihara oleh kesetiaan Allah, dan diwujudkan dalam hidup yang memuliakan Dia. Dalam dunia yang sering gelap dan bising, nyanyian ini mengundang kita untuk kembali percaya: Allah tetap datang menyelamatkan, terang-Nya tetap bersinar, dan damai-Nya tetap tersedia bagi semua yang mau menantikan Dia dengan setia.

  • Nyanyian Maria

    https://www.oursundayvisitor.com/why-marys-magnificat-is-a-call-to-mission-for-each-of-us/ "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari tahtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." ( Lukas 1: 46-55) Nyanyian Maria dikenal sebagai  Magnificat,  sesuai dengan kata pertama dalam bahasa Latin dari nyanyian tersebut : Magnificat anima mea Dominum.  Sebuah lagu yang berisikan pengagungan akan Allah: sifat dan tindakan-Nya yang besar. Lukas mencatat, dinyanyikan oleh Maria pada saat ia mengunjungi Elisabet yang sedang mengandung Yohanes Pembaptis (Lukas 1:39-45). Elisabet berkata bahwa bayi dalam kandungannya melonjak kegirangan mendengar salam Maria saat memasuki rumahnya. Maria seperti mendapatkan konfirmasi tentang bayi yang ada dalam kandungannya, dia pun menyanyikan Magnificat  ini. Maria adalah gadis Yahudi yang hidup di tengah masyarakat dengan nilai-nilai budaya Kehormatan dan Aib yang merupakan hal sentral yang mendasari seluruh interaksi sosial, status dan perilaku mereka, baik dalam lingkungan inti keluarga maupun masyarakat luas. Kehormatan adalah komoditas yang paling berharga melebihi materi. Kehormatan seseorang dinilai dari ketaatannya pada hukum Taurat dan tradisi. Sedangkan aib adalah kebalikannya, yakni kondisi yang harus dihindari dengan segala cara. Rasa malu muncul ketika seseorang melanggar norma sosial, agama atau etika. Tidak mudah bagi seorang gadis muda yang dibesarkan dalam masyarakat Yahudi dengan budaya Kehormatan dan Aib, menyanyikan lagu seperti ini di tengah berita kehamilannya sebelum dia menikah dengan Yusuf. Disamping itu, Maria diperhadapkan pada risiko hukuman bagi seorang gadis Yahudi jika hamil sebelum menikah, yaitu dilempari batu sampai mati (Ulangan 22:23,24). Sukacita dan rasa takjub yang besar membuatnya seperti tidak peduli dengan hal tersebut, Maria pun menyanyikan kidung pengagungan ini. A. Allah Sentral Sukacita  . Pribadi Allah itu sendiri yang menjadi penyebab Maria bersukacita, bukan yang lain, ketika dia menyanyikan jiwaku bergembira karena Allah juruselamatku (Lukas 1:47). Ketegaran Maria menghadapi berita kehamilannya adalah karena pengenalannya akan Allah. Yang dirayakan oleh Maria bukan berkat-berkat Allah semata, tetapi Allah itu sendiri. Allah menjadi hal sentral dalam pujian-Nya. Ia mengagungkan sifat Allah dan perbuatan-perbuatanNya. Kata-kata dalam nyanyian ini banyak kemiripannya dengan kalimat dalam kitab para nabi, mazmur dan bahkan dengan nyanyian pujian Hana (1 Samuel 2:1-10). Kita bisa berkesimpulan bahwa nyanyian ini timbul karena pengenalannya akan Allah melalui kitab suci yang dia baca dan hafalkan. Pengenalan akan Allah yang terus menerus melalui firman-Nya adalah kunci yang memampukan kita tetap bersukacita di tengah permasalahan dan tantangan kehidupan. Bangsa Israel mengenal Allah sebagai juruselamat. Sejarah bangsa ini membuktikan bahwa  Allah berulang kali menolong mereka dari penindasan dan agresi musuh. Maria memahami bahwa Allah sedang melakukan penyelamatan terhadap bangsanya dan Allah melibatkan dirinya dalam peristiwa besar tersebut. Di tengah penjajahan bangsa-bangsa yang silih berganti menjajah bangsa Israel (Persia, Yunani dan Romawi), mereka mengalami penderitaan tidak hanya secara fisik atau pun materi, tetapi juga secara spiritual. Masa Maria hidup adalah masa yang dikenal sebagai masa keheningan 400 tahun, masa dimana seolah-olah Allah mendiamkan bangsa ini. Sudah lama tidak ada nubuatan nabi dan hal-hal supranatural dalam kehidupan mereka. Pada masa seperti ini tentu berita kehamilannya yang dibawa oleh malaikat Gabriel ini membawa sukacita yang amat besar. “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan bayi laki-laki dan hendaklah engkau menamai-Nya Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Maha Tinggi. Dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”( Lukas 1: 30-33) Sukacita besar yang timbul dari berita tersebutlah yang mendorong Maria menyanyikan lagu pengagungan ini dan membuatnya tidak peduli akan budaya Kehormatan dan Aib  serta ancaman hukuman terhadap dirinya. B.   Allah yang Berpihak pada yang Lemah, Rendah dan Miskin . Kitab Perjanjian Lama, kitab para nabi dan mazmur sarat dengan keberpihakan Allah terhadap yang lemah, rendah dan miskin. Dalam nyanyiannya, Maria mengatakan            Ia mencerai beraikan orang congkak Ia menurunkan orang berkuasa dari tahtanya Ia meninggikan orang yang rendah  Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar Ia menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa  Bagian ini merupakan nubuatan akan misi bayi yang dikandungnya. Maria memahami benar maksud kedatangan bayi Kristus. Tiga puluh tahun kemudian, Sang Anak mengucapkan hal yang senada ketika Dia memproklamirkan kedatanganNya dalam Lukas 4:18: “... untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan orang-orang tertawan, penglihatan bagi orang buta, membebaskan orang tertindas dan tahun Rahmat Tuhan telah datang.” Ketika Yohanes pembaptis mempertanyakan apakah Yesus benar Mesias yang dijanjikan itu, Yesus kembali memberikan jawaban yang senada: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik “ (Lukas 7:18-22) Nyanyian Maria mengungkapkan makna kedatangan Kristus yang utuh: kedatangan-Nya bukan hanya untuk menyelamatkan jiwa manusia yang berdosa, tetapi juga memperbaiki tatanan sosial  dan keadilan yang dirusak oleh dosa. C. Kesetiaan Allah Yang Tak Berkesudahan   Allah yang setia kini menggenapi janji-Nya pada Abraham ribuan tahun yang lalu bahwa Dia akan memberkati keturunan Abraham. Ketika itu bangsa Israel seperti jauh dari kondisi terberkati: sedang dijajah oleh pemerintahan Romawi. Berita yang dibawa malaikat Gabriel kepadanya, dan nama anak yang dikandungnya, Yesus , membuat Maria mampu melihat bahwa Allah sedang bekerja memenuhi janji-Nya. Ratusan tahun terlihat senyap, tetapi Allah tidak lupa akan perjanjian tersebut. Penutup Ketika kita bersyukur, siapakah yang menjadi sentral dari rasa sukacita kita? Seperti Maria, seharusnya yang menjadi hal utama rasa syukur kita adalah Allah itu sendiri (karakter-Nya dan perbuatan-Nya), bukanlah berkat-berkat-Nya semata. Sering kali saat mensyukuri berkat-berkat Tuhan (kesehatan, kecukupan, kelulusan, promosi jabatan dll), fokus kita beralih bukan pada Allah. Ketika berkat-berkat tersebut belum terjadi dalam kehidupan atau pun hilang, maka menjadi sulit bagi kita untuk mengagungkan Allah. Sangatlah penting untuk kita terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah melalui firman-Nya. Mengenal Allah, karakter-Nya dan perbuatan-Nya, menjadi rahasia kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup.  Nyanyian Magnificat oleh Maria mengingatkan kita akan makna Natal yang sejati: keberpihakan Allah pada yang lemah, miskin, tertindas dan tertawan, dan otoritas-Nya terhadap nilai-nilai dunia. Kelahiran-Nya tidak semata untuk menyelamatkan jiwa manusia berdosa, tetapi juga membawa pembaharuan pada tatanan sosial yang dirusak oleh dosa. KedatanganNya bertujuan untuk menghadirkan kerajaan Allah di bumi yang sudah dirusak oleh dosa. Misi Sang Bayi Natal ini seharusnya dilanjutkan oleh kita umat-Nya. Sebagai pengikut Kristus, mari kita terus melanjutkan misi Kristus: keberpihakan terhadap yang lemah, rendah dan miskin. Mari bersama menghadirkan kerajaan Allah yang sudah, sedang dan akan datang. /kb

  • Suara Iman di Tengah Dilema Medis (Bagian 2): Implikasi Praktis bagi Profesional Medis Kristen

    “Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” — Mazmur 119:105 Prinsip-Prinsip Etis Kristen dalam Praktik Medis Empat Pilar Etika Medis dari Perspektif Alkitabiah Di bangku kuliah saat mempelajari etika medis modern kita diajarkan tentang empat prinsip dasar bioetika yaitu otonomi, beneficence , non-maleficence , dan justice . Namun, ijinkan penulis menambahkan kerangka kerja di atas dengan perspektif Alkitabiah: Otonomi dalam Relasi : Kemerdekaan pilihan pasien harus dipandang dalam konteks hubungan dengan Allah dan sesama. Kejadian 2:18 menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk relasi, bukan isolasi. Beneficence  yang Berpusat Kristus : Kebaikan sejati tidak hanya menghilangkan penderitaan tetapi juga memajukan kesejahteraan holistik—rohani, emosional, dan fisik seperti yang diajarkan oleh Yesus dalam pelayanan-Nya. Non-maleficence  yang Komprehensif : "Do no harm" tidak hanya berarti menghindari kerusakan fisik, tetapi juga melindungi martabat spiritual pasien, seperti yang digambarkan dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Justice yang Redemptif : Keadilan Kristen tidak hanya distributif (pemerataan sumberdaya) tetapi juga redemptif—memperhatikan mereka yang paling terpinggirkan, sebagaimana Yesus secara konsisten membela yang lemah. Prinsip Penatalayanan ( Stewardship ) Sumber Daya Kesehatan Salah satu tantangan etis terbesar dalam medis modern adalah alokasi sumberdaya kesehatan yang sangat terbatas. Dengan biaya kesehatan yang terus meningkat secara global, profesional medis Kristen perlu mempertimbangkan konsep penatalayanan ( stewardship ) Alkitabiah. Kisah 12:44-46 tentang gereja mula-mula yang "memiliki segala sesuatu bersama" menawarkan model distribusi sumberdaya yang berdasarkan kebutuhan, bukan kemampuan membayar. Prinsip ini menantang sistem medis yang sering kali didasarkan pada kapasitas ekonomi pasien. Dr. Ben C. Ong, seorang dokter umum di Singapura, mempraktikkan prinsip ini melalui kliniknya yang melayani komunitas miskin dengan biaya minimal. "Saya tidak bisa mengubah sistem kesehatan global, tapi saya bisa menunjukkan alternatif Kristen dalam praktik saya sehari-hari. Setiap pasien, kaya atau miskin, adalah citra Allah yang sama berharganya," katanya. Mempraktikkan Etika Medis Kristen di Dunia Global Konteks Budaya dan Relativisme Etis Salah satu tantangan terbesar etika medis Kristen adalah penerapan universal dalam konteks budaya yang beragam. Prinsip yang jelas di Barat mungkin tidak sejelas di Asia atau Afrika. Pauline Muchina, seorang perawat asal Kenya yang sekarang praktik di Chicago, berbagi pengalamannya: "Konsep individual choice  yang menonjol dalam etika medis Barat seringkali bertentangan dengan kolektivisme Afrika. Namun, prinsip Kristen tentang martabat manusia dan kasih dapat menemukan ekspresi yang berbeda namun sama kuatnya dalam berbagai budaya."  Keadilan Global dan Akses Kesehatan Kesenjangan global dalam akses kesehatan adalah salah satu skandal etis terbesar zaman modern. Sementara negara kaya menghabiskan miliaran dolar untuk perawatan terminal, negara miskin masih berjuang dengan penyakit yang dapat dicegah. Perspektif Kristen menawarkan kerangka kerja yang unik untuk mengatasi ketidakadilan ini: Imago Dei universal : Semua manusia, tanpa memandang geografi atau ekonomi, adalah citra Allah Penatalayanan ( stewardship ) global : Sumber daya kesehatan adalah amanat yang harus dikelola untuk kebaikan bersama Preferential option for the poor : Mengikuti contoh Yesus yang secara konsisten memihak kaum yang terpinggirkan Dr. James Appiah, seorang dokter Ghana yang memimpin organisasi kesehatan Kristen Afrika, mempraktikkan prinsip ini melalui program "Health Bridge" yang menghubungkan rumah sakit di negara maju dengan klinik di daerah terpencil. "Kesehatan bukan hak yang harus dibeli, melainkan anugerah yang harus dibagikan," katanya. Implikasi Praktis bagi Profesional Medis Kristen Membangun Komunitas Dukungan Etis Profesional medis Kristen tidak bisa berjalan sendirian dalam menavigasi dilema etis. Penting untuk membangun komunitas yang dapat memberikan dukungan dan akuntabilitas. Dr. Michael Egnor, seorang ahli bedah saraf di New York, membagi pengalamannya: "Saya hampir keluar dari profesi kedokteran karena tekanan untuk melakukan prosedur yang melawan keyakinan saya. Tapi kemudian saya menemukan kelompok dokter Kristen yang bertemu bulanan untuk membicarakan kasus etis. Komunitas ini menyelamatkan panggilan saya." Dalam konteks Indonesia, menemukan komunitas medis Kristen yang ada, baik berupa PMdK, PMK Medis, Persekutuan Kristen lainnya tentu dapat menjadi salah satu jawaban dalam menemukan komunitas untuk mendapat dukungan etis. Beberapa praktik efektif untuk membangun komunitas ini tentunya tidak dapat hanya dibatasi oleh persekutuan rutin, pertemuan KTB, tetapi dapat diperluas meliputi hal-hal sebagai berikut : Kelompok studi etika yang membahas kasus aktual. PMdN saat ini bekerja sama dengan ICMDA secara berkala menggelar Bioethics Course  bagi tenaga medis Kristen Indonesia. Di sini kita akan secara bersama-sama belajar dan menggumuli banyak isu-isu bioetika yang kita hadapi sehari-hari  Mentoring  antar generasi profesional medis Kristen ; ajang sharing dalam berbagai interest group  dalam PMdN termasuk interest group  bioetika tentunya dapat kita gunakan untuk melakukan mentoring antar generasi terkait isu bioetika Konseling spiritual  untuk mengatasi burnout  etis. Komunitas medis Kristen bersama-sama dengan para senior yang masih terus memelihara iman dan saudara seiman lain dalam satu profesi, merupakan suatu keniscayaan yang bisa kita lakukan Advokasi kolektif  untuk kebijakan kesehatan yang sesuai nilai kekristenan. Telah berbagai hal dilakukan oleh PMdN Perkantas dan organisasi Kristen lain untuk melakukan advokasi di bidang bioetika, termasuk masalah aborsi yang masih marak di Indonesia Pengembangan Spiritualitas Profesional Etika medis Kristen tidak hanya tentang aturan dan regulasi, melainkan tentang pembentukan karakter spiritual. Profesi medis memerlukan integritas yang teruji dalam situasi-situasi ekstrem. Ada beberapa latihan spiritual yang mungkin relevan bagi profesional medis Kristen dalam melatih integritas dalam bioetika Kristen antara lain : Refleksi harian dalam saat teduh  yang merefleksikan keputusan medis dalam terang firman Doa untuk pasien  sebelum konsultasi atau prosedur Studi Alkitab ( Bible Study ) tematik  tentang penyembuhan dan penderitaan Retreat tahunan  untuk pembaharuan panggilan medis Dr. Rebecca Oyewole, seorang ahli anestesi dari Nigeria, mempraktikkan rutinitas spiritual ini. "Setiap pagi, saya berdoa untuk lima pasien pertama saya hari itu. Ini mengubah cara saya melihat mereka—bukan sekadar kasus medis, melainkan jiwa yang berharga bagi Allah." Beradvokasi untuk Kebijakan Kesehatan yang Adil Panggilan Kristen dalam medis tidak berhenti di ruang praktik pribadi, melainkan meluas ke arena publik. Profesional medis Kristen dipanggil untuk menjadi "garam dan terang" dalam pembentukan kebijakan kesehatan. Beberapa area advokasi yang relevan dan dimungkinkan kita lakukan meliputi: Perlindungan hak hati nurani  bagi profesional medis Akses kesehatan universal  untuk kaum yang terpinggirkan Regulasi teknologi reproduksi  yang etis Pendanaan riset  yang sejalan nilai kehidupan Dr. Mark C. Hogue, seorang dokter keluarga yang menjadi legislator di Carolina Utara, membuktikan pengaruh yang bisa dimiliki profesional medis Kristen di arena kebijakan. "Saya melihat begitu banyak kebijakan kesehatan yang dibuat oleh orang yang tidak memahami realitas medis. Sebagai Kristen, kita memiliki kewajiban untuk membawa keahlian dan nilai-nilai kita ke ruang publik." Kesimpulan: Berjalan dengan Hikmat Ilahi di Era Medis Modern Navigasi etika medis Kristen di abad ke-21 adalah perjalanan yang menuntut keseimbangan antara iman dan ilmu, belas kasihan dan conviction , kasih karunia dan kebenaran. Firman Tuhan tidak memberikan formula detail untuk setiap dilema teknologi medis, namun ia memberikan prinsip-prinsip tak lekang waktu yang dapat membimbing kita melalui kompleksitas modern. Panggilan kita sebagai profesional medis Kristen adalah untuk: Memegang teguh kebenaran Alkitab  tentang martabat manusia dan kekudusan kehidupan Menunjukkan kasih Kristus  yang merangkul semua pasien tanpa syarat Mengembangkan hikmat  yang membedakan antara teknologi yang membantu dan yang menggantikan Membangun komunitas  yang mendukung integritas dalam tekanan profesional Menjadi advokat  bagi yang tidak memiliki suara dalam sistem kesehatan Di tengah dilema medis yang semakin kompleks, kita memiliki jaminan Firman: "Jikalau kamu kurang hikmat, mintalah kepada Allah" (Yakobus 1:5). Janji ini menjadi jangkar saat kita menavigasi lautan etika medis modern dengan iman yang teguh dan kasih yang tulus. Sebagaimana dikatakan oleh Dr. Paul Tournier, dokter Kristen legendaris dari Swiss: "Tuhan tidak memanggil kita untuk berhasil dalam pelayanan medis, melainkan untuk setia—setia kepada panggilan, setia kepada pasien, dan terutama, setia kepada-Nya yang adalah Penyembuh Agung." Referensi Christian Medical Fellowship. (2024). Christian Ethics in Modern Medicine . London: CMF Publications. John Stott. (2022). The Cross of Christ and Medical Ethics . Downers Grove: IVP Academic. International Christian Medical and Dental Association. (2023). Global Health Ethics: A Christian Perspective . ICMDA Report. Patrick, J. (2023). "Imago Dei and Medical Practice." Journal of Christian Medicine  45(2): 112-128. Sulmasy, D. P. (2021). The Reconstructible Christian: Moral Reflection and Medicine . Oxford: Oxford University Press. Tournier, P. (2022). The Meaning of Persons . New York: HarperCollins. World Health Organization. (2023). Global Report on Assisted Reproductive Technology . Geneva: WHO Press. Zylstra, R. (2022). Bioethics: A Christian Approach in a Pluralistic Age . Grand Rapids: Eerdmans.

  • Suara Iman di Tengah Dilema Medis (Bagian 1): Bagaimana Firman Tuhan Menuntun Keputusan Etik Kita

    “Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” — Mazmur 119:105 Pendahuluan: Kebenaran di Tengah Dilema Medis Sebagai seorang dokter anestesi yang menghabiskan waktu lebih banyak di ruangan resusitasi instalasi gawat darurat dan ruang perawatan intensif di suatu rumah sakit vertikal, di tengah bisingnya bunyi monitor alat-alat medis serta aroma antiseptik khas rumah sakit yang menyengat, penulis sering diperhadapkan dengan banyak pertanyaan dari keluarga pasien tentang hal yang tidak mudah dijawab oleh ilmu pengetahuan kedokteran semata. “Apakah keluarga saya yang kesadarannya menurun (koma) bisa mendengarkan kami? Apakah bisa pasien dibawa pulang dengan selang bantu nafas ( endotracheal tube ) masih berada di mulut?” dan masih banyak pertanyaan lain. Penulis percaya bahwa sebagai tenaga medis, kita semua yang bergelut dalam dunia kedokteran modern—dari ruang bersalin hingga ICU, dari laboratorium genetika hingga ruang direksi—sering diperhadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan etika yang muncul setiap hari: Kapan kehidupan dimulai? Kapan perawatan intensif boleh dihentikan? Apa batas teknologi medis yang bisa diberikan kepada keluarga saya? Sebagai orang percaya yang terjun di dunia medis—baik sebagai dokter, perawat, maupun pasien—kita menghadapi persimpangan jalan di mana iman dan teknologi bertemu, kadang bertabrakan. Lebih lanjut lagi, siapa yang dapat kita dengarkan atau minta pendapatnya ketika harus memutuskan hal-hal sulit tentang hidup, sakit, dan mati ini? Sebagai orang Kristen, menjawab berbagai persoalan hidup tentu bukan cukup dengan mengikuti kata “hati nurani” atau “ilmu pengetahuan” yang kita miliki, melainkan kita meyakini bahwa firman Tuhan-lah yang membentuk cara kita memakai nurani, memakai ilmu, dan melayani sesama. Firman Tuhan menuntun umat percaya untuk mengambil keputusan dengan kasih, keadilan, dan hikmat yang bersumber dari Kristus. Alkitab memberi kita panduan yang tak lekang oleh waktu, namun penerapannya dalam konteks medis modern membutuhkan kebijaksanaan dan hikmat yang luar biasa. Bagaimana firman Tuhan dapat menjadi penuntun kita saat menghadapi dilema etis yang kompleks di era teknologi medis yang semakin canggih? Dalam artikel ini, penulis akan mencoba menggali bagaimana prinsip-prinsip Alkitabiah dapat diterapkan dalam isu-isu bioetika kontemporer, mulai dari fertilisasi in vitro  hingga keputusan akhir kehidupan. Mari kita menjelajahi bagaimana iman Kristen dapat memberikan kerangka etis yang kokoh namun penuh belas kasih di tengah tsunami kemajuan medis abad ke-21. Fondasi Alkitabiah untuk Etika Medis Otoritas Kebenaran yang Tidak Berubah Firman Tuhan menjadi standar tertinggi moralitas. Ketika opini publik berubah, ketika tekanan sosial dan ekonomi mempengaruhi sistem kesehatan, orang percaya tetap berpijak pada prinsip kebenaran Allah yang kekal. Mazmur 119:105 menegaskan bahwa firman menjadi “pelita dan terang”, memberi arah dalam kegelapan moral. Manusia adalah Citra dan Rupa Allah (Imago Dei) Prinsip fundamental etika Kristen dalam medis dimulai dari pemahaman bahwa setiap manusia diciptakan "menurut citra dan rupa Allah" (Kejadian 1:27). Ini bukan sekadar konsep teologis abstrak, melainkan dasar ontologis yang memberi nilai intrinsik pada setiap kehidupan manusia—tanpa terkecuali. Inilah dasar semua bioetika Kristen: setiap manusia bernilai sama, tidak tergantung kemampuan, usia, atau status kesehatan. Maka, kehidupan manusia di awal (embrio) dan di akhir (pasien terminal) memiliki nilai yang sama tinggi di hadapan Tuhan. Dr. John Patrick, mantan profesor kedokteran klinis di University of Ottawa, sering menekankan bahwa pemahaman ini mengubah cara kita melihat pasien. "Ketika Anda menyadari bahwa pasien Anda, tidak peduli seberapa parah kondisinya, adalah citra Allah yang rusak akibat dosa namun masih berharga bagi-Nya, maka Anda akan memperlakukannya dengan martabat yang tak ternilai," Prinsip ini memberikan jawaban tegas terhadap pandangan utilitarianisme yang sering mendominasi etika medis sekuler. Manusia tidak bisa diukur dengan "quality-adjusted life years" atau utilitas ekonomisnya. Setiap nyawa memiliki nilai yang tak terbatas karena pembuatnya sendiri memberikan harga dengan darah-Nya di kayu salib. Kasih sebagai Inti Etika dan Pelayanan Medis Kristen Meskipun Kejadian 1:27 memberikan fondasi ontologis, Matius 22:39 memberikan suatu landasan yang kuat dalam  pelayanan medis Kristen: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Perintah ini tidak hanya mengubah motivasi pelayanan medis dari sekadar profesi menjadi panggilan suci, tetapi juga memberikan standar etis yang transendental. Kasih kepada Allah dan sesama (Mat. 22:37–39) bukan teori emosional, tetapi dasar moral tindakan medis. Kasih menuntun kita untuk melindungi yang lemah, bersikap jujur pada pasien, dan mengambil keputusan demi kebaikan sejati, bukan sekadar kenyamanan atau keuntungan. Dr. Christina Yan, seorang dokter spesialis anak di Los Angeles, membagikan pengalamannya: "Suatu hari, saya merasa sangat frustasi dengan pasien yang tidak kooperatif. Tapi kemudian saya teringat perintah ini—bagaimana saya ingin dirawat jika posisinya terbalik? Perubahan perspektif ini mengubah cara saya berinteraksi dengan setiap pasien." Kasih Kristen dalam konteks medis bukanlah perasaan sentimental, melainkan komitmen untuk bertindak demi kebaikan pasien bahkan ketika tidak nyaman, tidak menguntungkan, atau tidak dihargai. Ini adalah kasih yang menunjuk pada contoh tertinggi—Kristus yang "menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua" (1 Timotius 2:6). Hikmat dari Roh Kudus Yakobus 1:5 mengajarkan agar kita meminta hikmat dari Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Dalam ruang pengambilan keputusan bioetika, hikmat itu juga bisa berarti mendengarkan pasien, menimbang bukti ilmiah, dan mempertimbangkan nilai-nilai moral yang berakar pada firman. Bagaimana kita bisa mendapatkan hikmat dari Allah? Tentunya melalui hubungan pribadi yang intens dengan Allah setiap hari melalui kehidupan doa dan saat teduh. Dapatkah kita melakukannya secara konsisten dalam kehidupan kita sebagai tenaga medis yang sangat menyita waktu. Keadilan dan Kebenaran Sosial Yang Alkitabiah Mikha 6:8 menyerukan agar kita “berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.” Dalam konteks kebijakan kesehatan, ini berarti memperjuangkan akses yang adil, menghindari diskriminasi terhadap yang miskin atau disabilitas, dan menolak komersialisasi hidup manusia. Dilema Medis Kontemporer dan Respons Iman Fertilisasi In Vitro: Harapan atau Tantangan? Teknologi reproduksi berbantuan hadir sebagai berkah bagi pasangan yang tidak subur, namun juga membawa serangkaian dilema etis yang kompleks. Menurut data dari International Committee Monitoring Assisted Reproductive Technology (ICMART), lebih dari 8 juta bayi telah lahir melalui IVF sejak 1978, namun proses ini seringkali melibatkan pembuatan dan pembuangan embrio yang berpotensi hidup. Perspektif Kristen memerlukan keseimbangan antara belas kasih terhadap pasangan yang ingin membangun keluarga dan perlindungan terhadap kehidupan yang baru dimulai. Beberapa pertimbangan Alkitabiah meliputi: Status embrio : Mazmur 139:13-16 menunjukkan bahwa Allah mengenal kita bahkan sebelum kita terbentuk secara sempurna di rahim, memberikan perlindungan sejak awal kehidupan. Stewardship : Meskipun teknologi adalah pemberian Allah, kita harus bertanggung jawab atas penggunaannya. Dr. John Stott menulis, "Kita diperbolehkan menggunakan teknologi untuk memperbaiki kondisi alami yang rusak, bukan untuk menggantikan rencana Allah." Adopsi sebagai alternatif : Yakobus 1:27 mengingatkan kita akan pentingnya merawat anak yatim, memberikan alternatif etis bagi pasangan Kristen. Organisasi seperti Christian Medical and Dental Associations (CMDA) telah mengembangkan panduan etis yang membantu profesional medis Kristen menavigasi isu ini dengan integritas iman. Aborsi: Perlindungan Kehidupan yang Paling Rapuh Kontroversi aborsi mungkin merupakan isu bioetika yang paling memecah belah dalam masyarakat modern. Bagi orang Kristen, posisi ini relatif jelas namun implementasinya seringkali rumit. Alkitab secara konsisten menegaskan perlindungan terhadap kehidupan yang tak bersalah. Keluaran 20:13—jangan membunuh—berlaku bahkan untuk kehidupan yang belum lahir. Mazmur 139:13-16 menunjukkan keterlibatan pribadi Allah dalam pembentukan janin di rahim, sementara Yeremia 1:5 menyatakan bahwa Allah mengenal dan menguduskan nabi bahkan sebelum ia terbentuk dalam rahim. Namun, respons Kristen terhadap isu ini tidak berhenti pada sikap atau pandangan politik saja ( pro life  atau pro choice ), sebagai orang Kristen kita ditantang berjalan satu mil lebih lagi untuk mengatasi isu ini, beberapa upaya yang telah dilakukan antara lain : Memberikan dukungan holistik  bagi wanita yang menghadap kehamilan yang tidak direncanakan Menawarkan alternatif konkret  melalui pusat kehamilan dan program adopsi Menyembuhkan luka  bagi mereka yang telah melakukan aborsi melalui pelayanan pemulihan Dr. Kathi A. Ault, seorang obgyn Kristen, menekankan: "Kita tidak bisa hanya mengatakan 'jangan melakukan aborsi' tanpa menawarkan bantuan nyata bagi wanita yang merasa tidak memiliki pilihan lain. Ini adalah komponen penting dari pro-life ethic yang holistik." Euthanasia dan Akhir Hayat: Dignitas dalam Penderitaan Dengan populasi yang menua dan kemajuan medis yang memperpanjang hidup, isu euthanasia  dan physician-assisted suicide  menjadi semakin relevan. Seperti yang dilaporkan oleh World Health Organization , negara-negara yang melegalkan euthanasia menunjukkan peningkatan signifikan dalam kasus yang dilaporkan selama dekade terakhir. Perspektif Kristen menyajikan pandangan yang berbeda tentang penderitaan dan kematian. Daripada menghindari penderitaan melalui pengakhiran hidup, iman Kristen menawarkan: Redemptive suffering : 2 Korintus 4:17-18 menunjukkan bahwa penderitaan sementara ini menghasilkan kemuliaan kekal Community care   : Gereja diminta untuk menggendong yang lemah (Galatia 6:2), bukan membiarkan mereka mati sendirian Hope beyond death : Kebangkitan Kristus memberikan harapan yang melampaui kondisi fisik saat ini Dr. Margaret Cottle, seorang anesthesiologist asal Kanada yang aktif dalam debat euthanasia, berbagi: "Saya telah merawat banyak pasien terminal, dan saya selalu terkesan bagaimana komunitas iman dapat mengubah pengalaman akhir hidup dari proses yang menakutkan menjadi transisi yang damai dan bermakna." (lanjut bagian kedua) Referensi Christian Medical Fellowship. (2024). Christian Ethics in Modern Medicine . London: CMF Publications. John Stott. (2022). The Cross of Christ and Medical Ethics . Downers Grove: IVP Academic. International Christian Medical and Dental Association. (2023). Global Health Ethics: A Christian Perspective . ICMDA Report. Patrick, J. (2023). "Imago Dei and Medical Practice." Journal of Christian Medicine  45(2): 112-128. Sulmasy, D. P. (2021). The Reconstructible Christian: Moral Reflection and Medicine . Oxford: Oxford University Press. Tournier, P. (2022). The Meaning of Persons . New York: HarperCollins. World Health Organization. (2023). Global Report on Assisted Reproductive Technology . Geneva: WHO Press. Zylstra, R. (2022). Bioethics: A Christian Approach in a Pluralistic Age . Grand Rapids: Eerdmans.

  • Panggilan Menjadi Seorang Ayah

    “Pa, aku sudah cerita dua dari lima rahasiaku saat ini”. Demikian petikan percakapan malam hari menjelang tidur antara saya dan anak sulung kami yang menginjak usia remaja. Situasi ini mengingatkan saya beberapa tahun silam ketika kami mulai belajar sebuah buku dalam kelompok parenting . Buku ini meletakkan “mandat untuk ayah” di bab awal bagi pembacanya. 1  Masih jelas di ingatan dalam diskusi kami saat itu betapa pentingnya peran dan tanggung jawab ayah dalam pertumbuhan si kecil. Begitu banyak studi yang menggambarkan betapa pentingnya hubungan ayah dan anak dalam membentuk kehidupan bermasyarakat, bahkan berbangsa! Ya, sebesar itu pengaruhnya, hai para ayah. Bagaimana hubungan tersebut dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental, isu sosiokultural, prestasi dan gratifikasi, bahkan hingga menyentuh kehidupan spiritual (doa, kehadiran dalam gereja, dan kesetiaan membaca Kitab Suci). 2  Apakah peran ibu menjadi tidak penting? Dalam banyak kasus sepertinya karena justru ibu telah ada di sana melakukan peran mengasuh anak; maka ibu dianggap lebih mudah untuk diakses oleh anak baik dalam hal komunikasi maupun penerimaan. Sedangkan para ayah bergumul bagaimana mereka dapat membangun hubungan dengan anak-anak mereka, hubungan yang dilandasi saling percaya.   Saat anak sulung kami mempercayakan rahasianya kepada saya, begitu melegakan momen tersebut bagi saya. Walaupun dua dari lima rahasia secara statistik masih belum memuaskan, namun kami melihat anugerah Allah ada di sana. Adalah benar bahwa membangun kepercayaan dalam hubungan tidak mungkin dapat dikerjakan dalam semalam. Hal ini memerlukan investasi waktu dan upaya, sekaligus membutuhkan karya Allah melalui perenungan dan ketaatan kepada Firman Tuhan (Yohanes 17:17) dan doa (Matius 7:11). Hal ini berlaku bagi kita sebagai ayah dan anak kita (termasuk ibu tentu saja). Parenting  merupakan jalur dua arah: kita menajamkan anak-anak kita (Mazmur 127:4), di saat bersamaan, mereka telah membentuk kita (Amsal 27:17). Mari perhatikan masa yang dinamakan periode Jendela yang Terbuka  (rasanya ini mirip dengan golden period  yang kita kenal di bangku kuliah), sebuah masa di mana anak kita sedang membuka diri dan mengundang kita masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Berikanlah hati dan pikiran kita untuk mulai mendengar apa yang menjadi kegelisahan serta pergumulan hidupnya. Mungkin kadang akan terdengar sepele. Namun, itulah seluruh hidupnya, seluruh kepercayaan dan keyakinannya. Yakinilah bahwa seiring ia beranjak dewasa, apa yang dibagikannya akan semakin signifikan bagi perjalanan hidupnya, baik itu rencana, pilihan hidup, bahkan imannya. Berikanlah kesempatan untuk ia menceritakan kegagalan, keteledoran, kealpaan, dan kebodohannya. Bagikanlah pengalaman kita yang serupa saat kita seusianya; bagaimana kita pernah gagal, bagaimana kita bergumul dengan Firman, serta bagaimana anugerah Tuhan menopang kita di saat seperti itu. Masih segar dalam ingatan saya ketika ayah saya mengirimkan secarik kertas (walaupun teknologi email sudah dipakai) yang berisi nasihat ketika saya pertama kali merantau. Masih ada penggalan kalimat yang sangat relevan dengan pergumulan saya bahkan sampai saat ini. Di dalam suratnya ia menuliskan dengan jujur bahwa tidak selamanya ia bisa bersama saya. Namun, ia mengingatkan kepada Siapa kita bersandar, yaitu kepada Pribadi yang setia dan sanggup bertanggung jawab akan hidup anak-anak-Nya. Apakah kita mampu hadir dalam setiap tahapan hidup anak kita? Saya yakin kita sepakat menjawab tidak dan memang tidak akan mungkin. Allah yang memanggil kita dalam peran sebagai ayah telah memberikan pola hubungan diri-Nya sebagai Bapa yang mengasihi Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus (Matius 3:17), sekaligus Bapa yang memberikan terbaik bagi anak-anak-Nya 3  (Matius 7:11, Yakobus 1:17). Bukankah ini memberikan harapan bagi kita yang sering kali merasa gentar dan tak berdaya menjalani panggilan ini? Pengertian ini meneguhkan dan memampukan kita, bahwa bahkan meskipun kita tidak memiliki figur ayah yang dapat diteladani, ketiadaan petunjuk bagaimana seharusnya menjadi seorang ayah, termasuk kegagalan kita menjadi ayah di masa lampau atau saat ini, Bapa di surga telah menyatakannya di dalam Alkitab. Dialah yang menjadi ayah yang sejati bagi anak-anak kita, bahkan di kala kita tidak dapat mendampingi mereka. Kiranya anak-anak kita mengalami dan menikmati perjumpaan dengan Pribadi Bapa yang sempurna yang melindungi dan memelihara anak-anak-Nya. Dengan segala pemahaman yang telah kita terima tersebut, panggilan yang sedemikian agung tetap diletakkan di pundak kita para ayah, panggilan untuk menjadi serupa dengan Bapa di surga (Matius 5:48). Panggilan mulia ini mengindikasikan perlunya pengenalan akan Allah yang memanggil. Jika tanpa pengenalan akan Allah, maka kita hanya akan berkeliling tanpa arah dan membawa anak-anak kita kepada kebingungan identitas diri, menyerah kepada tekanan relasi pertemanan, hingga menafikan otoritas Firman dalam hidup mereka. Inilah semangat zaman yang melawan Allah. Kiranya Allah berbelas kasih dan beranugerah bagi banyak keluarga Kristen di tengah arus zaman yang sedemikian. Kiranya makin banyak ayah yang merindukan dan menjadi seperti yang Allah inginkan dalam menjalankan peran mereka di dalam keluarga. Akhirnya, dengan rendah hati, mari kita mengingat bahwa kasih Kristus kepada jemaat menggambarkan kasih suami yang seharusnya kepada istri (sebuah poin penting yaitu kepercayaan anak kepada ayahnya ternyata dipengaruhi oleh perilaku ayah kepada ibu mereka), serta bagaimana seharusnya para ayah membesarkan anak-anak dengan disiplin dan pengajaran akan Firman Tuhan (Efesus 6:4). Betapa bagian ini menegaskan bahwa sumber kekuatan kita adalah di dalam Kristus dan Firman-Nya. Kebenaran Kristus diperhitungkan kepada kita orang percaya, ini bukan hasil usaha manusia melainkan hasil kasih karunia oleh iman kepada-Nya (Filipi 3:9). Alkitab menegaskan bahwa Tuhan memakai keluarga Kristen sebagai pembawa pesan bagi dunia tentang bagaimana hubungan Allah dan umat-Nya. Sebuah kehormatan dan tanggung jawab yang besar bagi kita para ayah untuk menjadi serupa Kristus yang adalah mempelai pria bagi gereja-Nya. Kiranya Allah memimpin dan menopang kita dalam menjalankan panggilan menjadi seorang ayah. Soli Deo Gloria. Referensi: Growing Kids God’s Way.  Gary & Anne Marie Ezzo. 2001 Sacred Parenting.  Gary L. Thomas. 2004 The Father Connection.  Josh Mc Dowell. 2009

  • Berani Gunakan Kesempatan yang Tuhan Buka

    " Membangun Pelayanan Bertahan dalam Berbagai Ancaman " (bagian kedua) “Ketika Anda menyerang dengan baik, Anda akan bertahan dengan baik. Kami bertahan 40 m dari gawang, kami ingin bermain dengan cara tersebut. Saya selalu percaya ketika bola jauh dari gawang, kami aman,” kata Pep Guardiola, pelatih Manchester City, ketika tim asuhannya itu berhasil mengamankan babak semifinal FA CUP tahun 2017. Dalam tulisan bagian pertama, kita telah belajar dari Daniel 1 cara pertama bagaimana kita dapat membangun pelayanan yang bertahan dalam berbagai ancaman yaitu dengan berani tidak kompromi karena meyakini Allah berdaulat penuh. Lalu apa lagi yang Allah kehendaki kita lakukan? Saya setuju dengan pernyataan Pep Guardiola. Ketika kita menyerang dengan baik, kita akan bertahan dengan baik. Ini cara kedua bagaimana kita dapat membangun pelayanan yang bertahan dalam ancaman. Bukankah kita yakin, dan banyak kali juga alami, bahwa Tuhan berdaulat penuh? Ini seharusnya mendorong kita untuk berani “ menyerang ”. Berani menggunakan setiap kesempatan yang Tuhan buka bagi kita untuk hadirkan Kerajaan-Nya, di tiap tempat di mana Dia telah tempatkan kita. Ini dapat kita lihat dalam bagian-bagian selanjutnya dari kitab Daniel. Dalam Daniel pasal 1 dapat dikatakan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya hanya bertahan menghadapi serangan-serangan musuh berupa tindakan isolasi, indoktrinasi, asimilasi dan disorientasi. Tetapi dalam pasal 2 hingga 6, narator menceritakan bagaimana ketika Tuhan membuka kesempatan, maka keempat pemuda umat-Nya itu melakukan serangan balik dan mencetak skor gemilang, yang kian menampakkan kedaulatan Allah yang terus menghadirkan Kerajaan-Nya di tengah dunia. Raja-raja dunia dan kerajaan-kerajaan dunia kalah. Tuhan dan Kerajaan-Nya adalah sang juaranya. Dalam Daniel 2, narator menceritakan bagaimana Tuhan membuka kesempatan dengan memberikan sebuah mimpi  kepada raja Nebukadnezar. Mimpi itu membuat dia sangat tertekan dan alami insomnia (2:1). Pada masa itu, sebuah mimpi dianggap sesuatu yang sangat penting, sebab merupakan sarana para dewa-dewi memberikan petunjuk tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu, ia meminta para pakar andalannya, yaitu “ orang-orang berilmu, ahli jampi, ahli sihir dan pada Kasdim ” untuk memberitahukan apa mimpinya dan artinya (2:2-3). Bila tidak dapat, maka mereka akan dipenggal dan rumah mereka akan dihancurkan (2:5). Tapi mereka tak berdaya untuk menolong raja kerajaan terbesar di dunia itu (2:10-11). Maka Nebukadnezar jadi geram dan murka, serta memerintahkan agar semua orang berilmu di Babel dieksekusi seperti yang sudah ia titahkan. Dan ini berarti termasuk Daniel dan Kawan-kawannya. Ariokh, Komandan pengawal raja, datang untuk mengeksekusi Daniel dan 3 orang kawannya. Dengan berani dan bijak, Daniel mengajukan pertanyaan kepada sang komandan, “Why is the decree from the king so urgent?”  (NET, 2:15). Ariokh memberitahukan mengapa. Mendengar itu, Daniel pergi menghadap raja dan meminta diberi waktu guna dapat memberitahu mimpi raja serta maknanya (2:16). Padahal raja telah murka karena memandang orang-orang Kasdim telah coba mengulur-ngulur waktu dalam memberitahu mimpinya serta maknanya (2:8). Keren! Daniel, seorang pemuda, seorang buangan, seorang yang masuk dalam daftar eksekusi raja kafir yang kejam, bertindak penuh iman dan berani. Dengan penuh iman pula, Daniel, bersama Hananya, Misael dan Azarya, berdoa memohon belas kasihan Allah Semesta Langit mengenai mimpi raja dan artinya, agar mereka, dan juga orang-orang berilmu yang lain di Babel tidak dieksekusi (2:17). Sesudah itu, Daniel dan kawan-kawan mengambil satu tindakan penuh iman dan berani, yaitu: tidur. Dan Tuhan pun berkenan menyingkapkan mimpi Nebukadnezar serta artinya dalam suatu penglihatan di saat ia tidur itu (2:19). Lalu Daniel memuji Allah Semesta Langit, yang telah memberikan dia “ wisdom and power ” (NET), dan memberitahukan kepadanya mimpi Nebukadnezar serta maknanya (2:20-23). Kemudian ia pergi kepada Ariokh, meminta agar orang-orang berilmu jangan dieksekusi, dan membawa dia kepada raja untuk memberitahukan mimpinya serta maknanya (2:24-25). Ketika raja Nebukadnezar bertanya ”Sanggupkah engkau memberitahukan kepadaku mimpi yang telah kulihat itu dengan maknanya juga?”  Daniel menjawab, ” Rahasia, yang ditanyakan tuanku raja, tidaklah dapat diberitahukan kepada raja oleh orang bijaksana, ahli jampi, orang berilmu atau ahli nujum . Tetapi   di sorga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasi a; Ia telah memberitahukan kepada tuanku raja Nebukadnezar apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang .” (2:26-28). Keren! Pemuda Israel itu menggunakan kesempatan itu untuk menyatakan kemahakuasaan Tuhan kepada raja negeri kafir itu. Dalam mimpinya Nebukadnezar melihat sebuah patung yang amat besar, berkilauan dan menakutkan. Kepala patung itu dari emas murni, dada dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, pahanya dari besi, dan sebagian kakinya dari besi, sebagian lagi dari tanah liat. Lalu sebuah batu terpotong tanpa perbuatan manusia, dan jatuh menimpa patung itu hingga remuk serta hilang lenyap ditiup angin laksana sekam ditiup angin. Sedangkan batu yang menimpa patung itu menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi (2:31-35). Dengan berani pula Daniel menyatakan bahwa kepala patung yang dari emas itu adalah raja Nebukadnezar. Dia bisa berkuasa adalah karena Allah Semesta Langit memberikan kerajaan, kekuasaan, kekuatan dan kemuliaan. Allah juga telah menentukan batas-batas kekuasaannya. Sesudah kerajaan Babel berjaya, akan muncul empat kerajaan lain, yang kekuatannya makin lebih kecil. Tetapi semuanya bernasib sama: akan hancur diremukkan oleh batu yang menimpa mereka. Dan batu itu adalah Kerajaan Allah (dengan Kristus sebagai Sang Raja, bila kita melihat bagian-bagian lain Alkitab) yang tidak akan akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaannya tidak akan beralih kepada yang lain (2:36-45). Keren! Seorang pemuda yang berani mengambil kesempatan yang Tuhan buka, telah dipakai Tuhan untuk nyatakan kemahakuasaan-Nya serta rencana-Nya hadirkan Kerajaan-nya yang kekal. Dan itu membuat Nebukadnezar berkata, ” Sesungguhnyalah, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raj a, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia , sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu”  (2:47). Sayangnya, dia belum mau menyembah Allah. Dia hanya sujud menyembah dan mempersembahkan korban serta wangi-wangian kepada Daniel (2:46). Bila kita masuk ke dalam Daniel 3, kita kembali melihat Tuhan membuka sebuah kesempatan. Kali ini bagi Hananya, Misael dan Azarya. Raja Nebukadnezar membangun patung setinggi 27,4 meter, yang dari kepala hingga kaki terbuat dari emas. Kemungkinan ini adalah patung dirinya, dan merupakan responnya terhadap pernyataan Tuhan dalam mimpinya di Daniel 2. Tampaknya dia hendak menyatakan, “ Engkau bilang kekuasaanku hanya sementara saja? Tidak. Aku akan berkuasa selamanya. Ini tandanya: patungku kubuat seluruhnya dari emas, dan lihatlah para penguasa serta orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, semuanya sujud menyembahnya. Sujud menyembah aku!”  Semuanya? Tidak semua. Hananya, Misael dan Azarya, tidak sujud menyembah! Meskipun diancam dilemparkan ke tanur tempat peleburan logam!  Nebukadnezar murka, dan secara langsung mengancam melemparkan trio pemuda Israel itu ke dalam tanur peleburan logam jika tidak mau menyembah patungnya itu. Ia juga menantang dan merendahkan Allah, dengan berkata,”  “ Emangnya Allah-mu itu sungguh-sungguh ada dan sanggup lepaskan kalian dari tanganku? ” (parafrase 3:16). Hananya, Misael dan Azarya melihat ini sebagai kesempatan yang Tuhan buka untuk menyatakan siapa Dia dan iman mereka kepada-Nya. Kepada Nebukadnezar, dengan didengar orang-orang Kasdim serta sekalian orang dari segala bangsa, suku dan bahasa yang telah memilih menyembah patung raja itu, mereka berkata:  “We do not need to give you a reply concerning this. If our God whom we are serving exists, he is able to rescue us from the furnace of blazing fire, and he will rescue us, O king, from your power as well. But if not, let it be known to you, O king, that we donʼt serve your gods, and we will not pay homage to the golden statue that you have erected.” (3:16-18, NET).   Kami percaya Allah kami ada. Kami percaya Dia sanggup serta mau selamatkan kami. Kami serahkan keselamatan kami pada rencana providensia-Nya, sebab kami takut karena hormat kepada-Nya. Kami telah dan tetap akan takut kepada Allah kami. Bukan kepadamu atau lainnya. Untuk hal ini, kami bersedia mati bagi DIA. Inilah pilihan kami. Ini kesaksian kami.  Dan Tuhan berkenan akan keberanian mereka menggunakan kesempatan yang Ia buka itu. Dia mengonfirmasi kesaksian mereka. Meski dilemparkan ke tanur yang bernyala-nyala, mereka tidak terbakar, sedangkan prajurit-prajurit Babel yang melemparkan mereka itu mati terbakar (3:19-23). Bahkan Dia hadir dan berjalan-jalan bersama mereka di tengah tanur yang bernyala-nyala itu (3:24-25). Sehingga Nebukadnezar mengaku, ” Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego!  Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka . Sebab itu aku mengeluarkan perintah , bahwa setiap orang  dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego , akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing , karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu ” (3:28-29). Sayangnya, dia hanya mau mengakui Allah sebagai “ Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego ”, bukan sebagai “ Allah-ku ”.  Namun Allah tidak berhenti sampai di situ. Ia terus berusaha menjangkau Nebukadnezar dengan anugerah-Nya. Karena itu, dalam Daniel 4, kita melihat kembali Ia membuka kesempatan bagi Daniel untuk beraksi. Dia kembali memberikan sebuah mimpi bagi Nebukadnezar. Kembali Nebukadnezar jadi gelisah luar biasa. Kembali ia meminta orang-orang berilmu, ahli jampi, para Kasdim dan ahli nujum memberitahukan arti mimpinya. Kembali orang-orang yang diandalkannya itu tak dapat memberitahukan arti mimpinya. Kembali dia terpaksa berpaling kepada Daniel untuk menerangkan arti mimpinya (4:1-9). Ia bermimpi melihat di tengah bumi ada sebuah pohon yang tinggi, dan yang bertambah besar serta kuat, hingga terlihat dari ujung-ujung bumi. Daun-daunnya indah dan buah-buahnya berlimpah, menjadi makanan bagi semua yang hidup. Di bawahnya binatang-binatang bernaung dan di dahan-dahannya bersarang burung-burung. Lalu seorang penjaga kudus turun dari langit dan memerintahkan agar pohon itu ditebang, hingga tak lagi jadi tempat hidup banyak mahluk. Tetapi tunggul pohon itu tetap dibiarkan ada dan dilindungi dengan rantai besi serta tembaga. Tunggul itu dibiarkan dibasahi embun dari langit, dan bersama-sama binatang-binatang, makan rumput. Hati manusianya berubah menjadi hati Binatang. Demikian berlaku selama tujuh masa. Dan itu terjadi supaya orang-orang yang hidup tahu, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, bahkan orang yang paling kecil sekalipun dapat diangkat-Nya untuk kedudukan itu (4:10-17).  Dengan berani dan penuh hikmat Daniel menerangkan bahwa pohon itu adalah Nebudkanezar sendiri. Mimpi itu akan dialami oleh Nebukadnezar, supaya dia mengakui bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya (4:19-25). Daniel juga memakai kesempatan itu untuk menasehati raja kafir itu agar bertobat, meninggalkan dosa-dosa, dengan berlaku adil dan menunjukkan belas kasihan kepada orang yang tertindas (4:27). Keren! Daniel dengan berani berkata demikian kepada seorang penguasa dunia yang terus-menerus melawan Allah, serta biasa berlaku tak adil dan kejam. Tuhan kembali berkenan atas Daniel yang berani menggunakan kesempatan yang Ia buka itu. Nebukadnezar benar-benar alami apa yang dinubuatkan dalam mimpi itu. Ia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu, tubuhnya basah oleh embun, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu rajawali dan kukunya seperti kuku burung (4:33). Setelah tujuh masa berlalu, dan Nebukadnezar menengadah ke langit, mengakui Yang Mahatinggi, maka akal budinya kembali. Para Menteri dan pembesar menjemput dia, serta mengembalikan kerajaan kepadanya. Hingga dia berkata, ” Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga , yang segala perbuatan-Nya adalah benar   dan jalan-jalan-Nya adalah adil , dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak ” (4:37). Dia akhirnya percaya dan menyembah Tuhan.  Mari lanjut ke dalam Daniel 5. Sudah 20 tahun lamanya Daniel tersingkirkan dari ring 1 kerajaan Babel. Dia tak lagi menjadi penguasa tertinggi di bawah raja. Nebukadnezar telah mati, dan digantikan oleh anaknya Nabopolasar. Kemudian karena ketidakmampuan Nabopolasar memimpin, maka anaknya, yaitu Belsyazar, naik tahta memerintah bersamanya. Dalam masa pemerintahan ini, Tuhan kembali membuka kesempatan bagi Daniel untuk menjadi alat-Nya. Suatu hari Belsyazar mengadakan perjamuan besar untuk para pembesarnya. Ketika mabuk oleh anggur, ia memerintahkan agar perkakas-perkakas emas dan perak Bait Allah, yang dulu dirampas oleh Nebukadnezar, dipakai untuk minum oleh dia, para pembesarnya, serta para istri dan gundiknya, sambil memuji-muji dewa-dewi mereka (5:1-4). Ini suatu penghinaan besar bagi Allah. Allah tak tinggal diam. Maka tampaklah jari-jari tangan manusia menulis pada kapur dinding istana. Belsyazar jadi ketakutan, pucat pasi dan gelisah, hingga gemetar serta tak kuat berdiri. Kembali para ahli jampi, para Kasdim dan para ahli nujum dipanggil menghadap dan diminta membaca dan mengartikan tulisan di dinding itu, dengan iming-iming hadiah jubah kain ungu, kalung rantai emas, serta akan dijadikan “ orang ketiga ”, memerintah bersama Nabopolasar dan Belsyazar. Tapi mereka yang sanggup. Raja itu pun menjadi kian cemas dan pucat (5:5-9). Mendengar itu, ibu suri masuk dan menyarankan agar Belsyazar memanggil Daniel, untuk membaca dan menerangkan arti tulisan itu. Maka Daniel pun dipanggil. Meski sudah tersingkirkan dari ring 1 selama 20 tahun, Daniel tetap berani menggunakan kesempatan yang Tuhan buka. Dia memulai dengan tegas menolak iming-iming hadiah yang ditawarkan Belsyazar, tanda ia tahu bahwa kesempatan telah Tuhan buka bukan untuk dia dapat keuntungan pribadi, tetapi untuk dia dapat jalankan misi-Nya di Babel. Lalu dia lanjut dengan menjelaskan bahwa tulisan di dinding itu Tuhan tampilkan sebab Belsyazar telah meninggikan diri di hadapan Tuhan, Sang Pemberi Kekuasaan. Belsyazar juga tak belajar dari kakeknya, yaitu Nebukadnezar, yang pernah meninggikan diri sedemikian rupa, hingga direndahkan sedemikian rupa oleh Allah. Tulisan di dinding itu, “ Mene, mene, tekel ufarsin ”, artinya pemerintahan Belsyazar telah dihitung dan diakhiri oleh Allah, sebab telah ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan, tidak sesuai standar Allah. Dan karena itu kerajaannya diberikan kepada orang Media Persia (5:17-28). Keren! Daniel, yang sudah disingkirkan dari ring 1 selama 20 tahun, berani tampil dan menyatakan pesan Allah kepada seorang raja kafir yang berani rendahkan Allah.   Dan Allah berkenan atas Daniel yang berani menggunakan kesempatan yang Ia buka itu. Pada malam itu juga, pasukan kerajaan Media Persia berhasil menyusup masuk dan menaklukkan kerajaan Babel. Belsyazar terbunuh. Dan Darius, orang Media, naik tahta (5:30-6:1). Daniel dipakai-Nya untuk menyatakan pada dunia, bahwa kalau Babel dikalahkan Media Persia, itu karena Dia bekerja genapi rencana-Nya, hadirkan Kerajaan-Nya, seperti yang sudah disampaikan dalam mimpi yang Ia berikan kepada Nebukadnezar. Terakhir, lihat Daniel 6. Daniel telah berusia sekitar 80 tahun-an. Tuhan kembali buka kesempatan untuk berkarya dan bersaksi tentang Dia, dalam sebuah kerajaan baru, kerajaan Media Persia, dengan seorang rajanya yang baru, raja Darius. Daniel tak sia-siakan kesempatan itu. Dia terpilih jadi salah satu dari “ tiga pejabat tinggi ”, yang membawahi “ seratus dua puluh wakil-wakil raja ” agar “ raja jangan dirugikan ” (6:1-3). Daniel raih prestasi tinggi serta integritas tinggi, sehingga Darius hendak mengangkatnya menjadi pejabat tertinggi yang membawahi seluruh kerajaan (6:4). Saat kedua “ pejabat tinggi ” dan para “ wakil-wakil raja ” jadi iri dan hendak menjatuhkan dia dengan perangkap kebiasaannya berdoa kepada Tuhan, Daniel memakainya sebagai kesempatan untuk menyaksikan siapa Tuhan dan imannya kepada-Nya. Serupa dengan ketiga orang sahabatnya di waktu muda saat dipaksa menyembah patung emas Nebukadzar atau dilemparkan ke tanur yang menyala-nyala, Daniel tua meski hanya seorang diri berhadapan dengan singa-singa dalam gua, berani menyatakan bahwa Tuhan adalah Allah yang berkuasa, dan dia siap jadi korban untuk nyatakan itu. Demikianlah saudaraku, kehendak Tuhan bagi kita yang disampaikan lewat teladan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Karena itu, marilah kita menyerang dengan baik, agar dapat bertahan dengan baik dalam menghadapi setiap ancaman di pelayanan kita. Entah kita masih muda, atau sudah memasuki usia tua. Entah kita belum masuk ring 1, sudah di dalam ring 1, ataupun telah sempat dikeluarkan dari ring 1. Entah berhadapan dengan tanur api yang bernyala-nyala, maupun berhadapan dengan gua penuh singa. Mari berani gunakan setiap kesempatan yang Tuhan buka, agar kita dapat saksikan siapa Dia dan iman kita kepada-Nya. Dan banyak orang akhirnya berkata, “ Jadi, sekarang aku, … memuji dan meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak .”

  • Integritas Hidup

    Integritas menurut KBBI edisi keempat (2008) adalah mutu, sifat, atau keadaan yang enunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan. Menjadi seorang yang berintegritas berarti menjadi seorang paripurna atau utuh dalam berbagai aspek hidupnya, luar-dalam, kata-perbuatan, serta pikiran-tindakan yang serasi dan selaras. Di Alkitab istilah integritas tidak muncul, tetapi dipakai kata-kata seperti kejujuran (Mzm.25:21; Ams. 2:9; Yes.11:4; Mal.2:6; Mark.12:14) dan ketulusan (Mzm. 25:21;26:1, 11; 41:13; Ams. 11:3; 14:32; 2 Kor.1:12). Jujur dimengerti sebagai keserasian kata dengan perbuatan/fakta. Tulus adalah keserasian hati dengan kata dan perbuatan (Ams. 23:7). Berliku-liku jalan si penipu, tetapi orang yang jujur lurus perbuatannya (Ams. 21:8). Orang yang jujur tidak menyembunyikan kenyataan sehingga orang lain memercayai apa yang dia katakan sebagai kebenaran. Sebaliknya orang yang berwatak penipu, apa yang dia katakan tidak dapat dipegang, selalu ada alasan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Bibir yang benar dikenan raja, dan orang yang berbicara jujur dikasihi-Nya (Ams. 16:10). Kejujuran merupakan faktor utama kepercayaan dan penghargaan orang lain, terutama pimpinan kita terhadap diri kita. ... orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ (Ams. 2:21). Bagaimana menjalani hidup yang berintegritas? Mempertahankan hidup yang tidak bercela, penuh integritas dan berani tampil beda di tengah manusia, dunia yang korup atau sistem yang sudah rusak oleh dosa tidaklah mudah. Tidak sedikit orang yang akhirnya terseret mengikuti arus dunia sehingga menjadi orang yang gagap atau hidup menurut kelakuan orang fasik. Ted W. Engstrom, seorang pengarang Kristen menulis bahwa orang-orang yang mempunyai integritas sangat dibutuhkan: Dunia Membutuhkan Orang-Orang** yang tidak bisa dibeli: yang perkataan-perkataannya bisa diandalkan; yang lebih menghargai karakter dari pada kekayaan yang mempunyai pendapat sendiri dan berkemauan keras; yang lebih besar dari jabatannya; yang tidak gentar untuk mengambil risiko; yang tidak kehilangan individualitasnya dalam kumpulan massa; yang jujur terhadap soal-soal yang kecil maupun yang besar; yang tidak mengadakan kompromi dengan yang jahat; yang tidak hanya memikirkan kepentingannya sendiri; yang tidak mengatakan bahwa mereka melakukan sesuatu, karena "tiap orang melakukannya" yang setia kepada kawan-kawannya dalam keadaan susah dan senang; yang tidak percaya bahwa kelicikan, keras kepala, dan tipu muslihat adalah cara-cara untuk mencapai sukses; yang tidak malu atau takut untuk berpegang pada kebenaran meskipun tidak populer, dan yang dapat berkata "tidak" dengan tegas, meskipun seluruh dunia berkata "ya"... Orang mempunyai integritas seperti itu kalau hati nuraninya senada dengan kehendak Allah. Persekutuan yang setia dengan Tuhan - memberi integritas kepada sikap dan kelakuannya. Ia tidak munafik. Sikap lahiriah yang kelihatan sama dengan sikap batiniah yang tidak kelihatan. Ia yakin bahwa yang terpenting dalam kehidupannya bukan pendapat orang lain, tetapi hubungannya dengan Tuhan Allah. *Ditulis kembali berdasarkan wawancara dengan dr. Merki Rundengan **Terjemahan oleh D. Susilaradeya dalam buku Hai Pemuda, Pilihlah!; BPK GM; hal. 82. /tp

  • Berani Tidak Kompromi Karena Yakin Allah Berdaulat Penuh

    "Membangun Pelayanan Bertahan dalam Berbagai Ancaman" Bagian 1 “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33b) Demikian pesan Yesus kepada murid-muridnya di penghujung serangkaian nasehat-Nya agar mereka bertekun ketika nanti Dia telah tunaikan misi dan kembali bertahta. Bagaimana wujud nyata penerapannya dalam mengerjakan panggilan pelayanan yang Tuhan berikan pada kita dengan berbagai ancaman yang ada? Saya melihat Tuhan memberikannya dalam kitab Daniel. Mari lihat apa dinyatakan dalam Daniel 1. Empat pemuda Israel, yaitu Daniel, Hananya, Misael dan Azarya, menghadapi serangkaian ancaman besar. Nebukadnezar, raja Babel yang kejam dan telah mengalahkan banyak kerajaan, kini telah menyerang kerajaan Yehuda. Yerusalem dihancurkan, Bait Allah dijarah, dibakar dan perkakas-perkakasnya diboyong serta diletakan sebagai trofi kemenangan rumah dewa Babel. Kemungkinan dewa Marduk, yang adalah dewa utama Babel. Ini cara Babel untuk menyatakan, “Dewa kami lebih baik dan lebih kuat daripada Allah-mu, hai orang Israel . ” Kita pun seringkali menghadapi serangan-serangan serupa, dalam beragam bentuknya, yang coba meluluhlantakkan iman kita akan kuasa Allah kita. Semuanya itu masih ditambah beberapa ancaman lagi. Yang pertama, Isolasi (Dan. 1:3). Dengan ditawan dan dibuang ke Babel, empat pemuda Israel itu dipisahkan dari Tanah Perjanjian, keluarga serta komunitas mereka. Ini mengguncangkan dan menghancurleburkan dunia mereka. Membuat mereka sangat terisolasi dari apa yang familiar,  serta sangat rentan terhadap nilai-nilai dunia kafir yang akan mereka hadapi. Pada masa kini pun, orang-orang dunia ini dengan berbagai strateginya coba mengisolasi kita dari Tuhan, firman-Nya, serta  umat-Nya, agar kita jadi sangat rentan terhadap cara pandang serta budaya mereka. Yang kedua, Indoktrinasi  (Dan. 1:4). Keempat pemuda Israel itu dimasukkan dalam pendidikan di Universitas Negeri Babel, yang akan memberikan mereka pendidikan sekuler dalam bahasa, filsafat, literatur, sains, sejarah dan astrologi Babel. Kepercayaan Babel juga merupakan bagian dari kurikulumnya, demikian pula mitologi, kebesaran dewa Marduk dan kumpulan dewa-dewa dunia timur kuno. Interpretasi mimpi dan pertanda-pertanda gaib termasuk muatan wajibnya.  Jelas indoktrinasi ini juga telah dan terus mengancam kita, lewat pendidikan formal, diklat pelatihan, seminar, film, musik, buku, dan beragam sosial media. Yang ketiga, Asimilasi (Dan. 1:5). Babel tak hanya berusaha mengubah pemikiran keempat pemuda Israel itu. Gaya hidup Ibrani mereka juga coba ubah. Tiap hari mereka diberikan jatah makanan dan anggur minuman raja Babel. Bila tidak mau, akan ada konsekuensi yang berat diberikan Nebukadnezar (Dan. 1:10). Gaya hidup yang baru ini akan menjerat mereka dengan beragam kenikmatan dan hak Istimewa. Membuat mereka menyerah, dan meninggalkan kehidupan sebagai umat Allah. Pada zaman kita, ancaman ini kian dahsyat. Memiliki gaya hidup dunia yang terkini, sudah menjadi dambaan, bahkan keharusan bila mau diterima. Tak sedikit orang percaya terjebak dan terbenam dalam gaya hidup duniawi. Bahkan tak sedikit gereja atau persekutuan yang telah mengadopsi gaya hidup duniawi, demi mendapatkan pengikut. Yang keempat, Disorientasi  (Dan. 1:6-7). Pemimpin pegawai istana Babel dengan paksa mengganti nama keempat pemuda Israel itu, dari nama yang artinya menghormati satu-satunya Allah yang sejati, yaitu Yahweh, menjadi nama yang artinya menghormati dewa-dewi Babel. Daniel (artinya Elohim [Allah] adalah Hakimku) diganti menjadi Beltsazar (artinya Belti [dewi yang merupakan istri dewa Bel], lindungilah sang raja) . Hananya (artinya Yahweh itu penuh kasih karunia) diganti jadi Sadrakh (artinya perintah dari Aku [dewa Bulan]). Misael (artinya siapa yang seperti Allah?) diganti jadi Mesakh (artinya  siapa yang seperti dewa Aku?). Azarya (artinya Yahweh adalah penolong) diganti jadi Abednego (artinya pelayan dari dia yang bersinar cemerlang —dewa Nebo). Nama mereka adalah identitas dan patokan kehidupan mereka. Penggantian nama itu berusaha memaksakan perubahan identitas dan patokan hidup. Disorientasi dari Yahweh kepada berhala-berhala Babel. Dunia kita pun secara halus maupun kasar, berusaha mendisorientasi kita, dengan memberikan identitas-identitas baru, agar berhala-berhala mereka jadi patokan hidup kita. Bagaimana kita dapat menghadapi ancaman-ancaman tersebut? Kepada dunia yang berkata, “Berhala-berhala kami lebih baik dan lebih kuat dari Allahmu” , kita harus berani berkata seperti Daniel dan kawan-kawannya, “Tidak, Allah kami adalah Allah yang sejati, Dia Berdaulat penuh atas segala sesuatu” . Narator menunjukkan bahwa inilah keyakinan empat pemuda Israel itu di tengah pelbagai ancaman yang menimpa mereka. Pada ayat 2 dia menyatakannya kepada kita: “Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya .” Bukan Nebukadnezar dan dewanya yang lebih baik dan berkuasa, sehingga dapat menaklukkan Yerusalem dan jarah Rumah Allah. Tetapi Allah yang menyerahkan itu; Dia-lah yang terbaik dan paling berkuasa! Keyakinan itu dipertunjukkan secara nyata oleh keempat pemuda Israel itu dengan sejak dini membuat tekad bulat kuat di hati “ untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu supaya ia tidak usah menajiskan dirinya .” (Daniel 1:8). Sejak dini mereka buat ketetapan dalam hati dan perbuatan untuk tidak mengkompromikan keyakinan-keyakinan dan komitmen-komitmen hidup mereka kepada Allah. Allah berkenan atas tekad bulat dan kuat dari empat pemuda Israel itu. Ia mengarunikan kepada Daniel dan Kawan-kawan kasih  dan sayang dari Pemimpin Pegawai Istana Nebukadnezar, sehingga mengizinkan ada percobaan hanya makan sayur dan minum air selama 10 hari (Dan. 1:10-14). Setelah masa percobaan lewat, perawakan mereka lebih baik dan kelihatan lebih gemuk daripada semua orang muda yang telah makan santapan raja, sehingga kepada mereka selanjutnya hanya diberikan makan sayur dan air. Dan Tuhan karuniakan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai tulisan serta hikmat. Khusus bagi Daniel, Tuhan karuniakan pengertian tentang beragam penglihatan dan mimpi (Dan. 1:15-17). Dan Tuhan tidak berhenti di situ. Pada akhir masa pendidikan mereka, raja Nebukadnezar tidak mendapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya, dan mengangkat mereka menjadi pegawainya (Dan. 1:19). Juga setelah berdinas di istana, saat raja menanyakan hal-hal yang memerlukan kebijaksaan dan pengertian, didapatinya mereka berempat itu 10 kali lebih cerdas daripada semua orang berilmu dan ahli jampi di seluruh kerajaannya (Dan. 1:20). Siapa Allah yang lebih baik dan lebih berkuasa dipertontonkan dengan nyata. Dan Dia dapat leluasa menjalankan rencana-Nya di dalam dan melalui empat pemuda Israel itu. Ingin membangun pelayanan yang bertahan dalam berbagai ancaman? Miliki dan bangun terus keyakinan bahwa Allah yang kita layani itu, adalah satu-satunya Allah sejati yang berdaulat. Dan wujud nyatakan keyakinanmu itu dengan memahatkan tekad bulat dan kuat untuk tidak mengkompromikan keyakinan-keyakinan serta komitmen-komitmen hidupmu sebagai murid Kristus dalam menghadapi setiap ancaman yang ada.

  • Pentingnya Komunitas dari Sudut Pandang Berbagai Generasi

    Dari generasi ke generasi, komunitas yang baik esensial untuk bertahan di tengah perbedaan zaman. Para pembaca Samaritan  yang terkasih dalam Tuhan Yesus, sebagai seorang pengikut Kristus kita pasti sudah tidak asing dengan istilah komunitas. Komunitas sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai   kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu. Komunitas secara umum telah dipercaya menjadi hal yang bisa menguatkan seseorang mengatasi tantangan dalam hidup, khususnya tantangan dari luar. Hal ini dapat terlihat dari sejarah peradaban mula-mula, di mana orang tergabung dalam komunitas untuk menghadapi bahaya yang tidak bisa dihadapi bila berjuang sendiri (seperti bahaya binatang liar dan sebagainya). Lebih lanjut, kepentingan komunitas juga tercermin dalam peribahasa yang umum dipahami di Indonesia, seperti bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, banyak mencontohkan pentingnya komunitas untuk menghadapi tantangan dari luar di tengah perbedaan zaman. Di Perjanjian Lama, kisah tentang Sadrakh, Mesakh, dan Abednego merupakan salah satu contoh kekuatan komunitas. Kisah mereka dapat kita temukan di Daniel 3, ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dihadapkan pada sebuah pilihan: tunduk kepada patung emas yang dibuat Raja Nebukadnezar atau terbakar habis dalam perapian yang menyala-nyala. Pernyataan iman mereka dalam ayat 17–18 sangat menguatkan: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan  kami, maka Ia akan melepaskan  kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja, tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Kita sudah mengetahui akhir dari cerita ini: alih-alih terbakar, Raja Nebukadnezar melihat empat orang yang berjalan dalam api, dan ketika mereka keluar, mereka tidak terikat dan tidak terluka. Melalui kekuatan komunitas yang berdiri bersama di dalam api, pada akhirnya raja Nebukadnezar mengakui Allah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego (ayat 29), karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu. Di Perjanjian Baru, pentingnya komunitas dapat kita lihat dari cara hidup jemaat mula-mula sebagaimana tergambar dalam Kisah Para Rasul 2:41–47, di mana melalui komunitas tersebut nama Kristus semakin tersebar, sebagaimana tercantum dalam ayat 47: “Dan mereka disukai semua orang.” Dari contoh Alkitab di atas dapat kita lihat bahwa, walaupun generasi berbeda, komunitas tetap merupakan hal yang penting untuk bertahan di tengah perbedaan zaman. Untuk mengetahui apakah kebenaran yang ada di dalam Alkitab ini juga masih diimani di masa sekarang, penulis mengadakan sebuah survei sederhana. Survei ini penulis lakukan di komunitas Saline Serukam Trainer  yang terdiri dari berbagai generasi. Komunitas ini juga dipilih karena di Saline Process  sangat ditekankan tentang pentingnya komunitas, di mana hal yang mendasarinya adalah bahwa Tuhan menghendaki kita menjadi saksi-Nya sebagai bagian dari komunitas. Sehingga menjadi bagian dari komunitas lokal dan global merupakan hal yang selalu digaungkan, misalnya melalui komunitas Saline Online  dan lain sebagainya. Survei diadakan melalui tautan Google Form . Dari 24 trainer yang diberikan kuesioner, terkumpul 20 responden (83,3%). Berdasarkan profesi, responden terbanyak adalah perawat (8 orang/40%), disusul penginjil (4 orang/20%), dokter (3 orang/15%), apoteker (2 orang/10%), serta masing-masing 1 orang (5%) untuk administrasi, elektromedis, dan fisioterapis. Berdasarkan jenis kelamin, survei didominasi perempuan (13 orang/65%) dibanding laki-laki (7 orang/35%). Berdasarkan generasi, paling banyak adalah generasi milenial (kelahiran 1981–1996) sebanyak 15 orang (75%), disusul generasi X (1965–1980) sebanyak 3 orang (15%), dan generasi Z (1997–2012) sebanyak 2 orang (10%). Tidak ada responden dari generasi Baby Boomers (1946–1964) maupun generasi Alfa (2012–2025). Di tengah keragaman profesi, jenis kelamin, dan generasi, ketika mereka ditanya: “Apakah Anda setuju bahwa komunitas yang baik esensial (penting) untuk bertahan tetap teguh dengan iman dalam Tuhan di tengah perbedaan zaman?” Hasilnya: 100% (20 responden) secara bulat menyatakan setuju. Berikut beberapa kesaksian responden: “Karena tujuan komunitas itu untuk membangun pengaruh hidup nyata kekristenan ke dunia yang belum mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan.” (dokter, laki-laki, generasi X) “Tanpa dukungan komunitas, pelayanan sulit dilakukan.” (elektromedis, perempuan, generasi X) “Tujuan kita adalah berjalan bersama tanpa melihat siapa yang lebih dulu sampai atau siapa yang mendapat penghargaan. Tetapi dalam kebersamaan kita menjadi satu tim yang menyelesaikan rintangan.” (fisioterapis, laki-laki, generasi milenial) “Dukungan doa sebuah komunitas selalu menjadi penguat di dalam melewati situasi sulit, baik fisik maupun psikologis.” (perawat, perempuan, generasi milenial) “Bisa saling menghargai pendapat dan argumentasi dalam komunitas.” (perawat, laki-laki, generasi Z) “Saya beberapa kali sudah putus asa dan merasa ingin lari dari Tuhan, tapi karena doa dan tuntunan keluarga saya, saya bisa bertahan dan sekarang bisa melayani Tuhan sebagai dokter.” (dokter, perempuan, generasi Z) Dari survei tersebut, penulis juga menanyakan hal-hal apa saja yang menggambarkan sebuah komunitas yang baik, sehingga seseorang bisa bertahan di dalamnya. Jawabannya beragam, tetapi secara garis besar adalah: adanya persekutuan doa, dukungan dan kerja sama, berbagi pengetahuan dan ilmu dengan tetap sopan dan santun, keterbukaan untuk berdiskusi dua arah dengan kejujuran, saling membangun dan saling menjaga. Semoga melalui artikel ini para pembaca Samaritan  diingatkan kembali untuk aktif dalam komunitas Kristen dengan beragam aktivitasnya, sebagai sarana kita bisa bertumbuh dalam Tuhan. Sebagaimana firman Tuhan dalam Ibrani 10:25: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang. Tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Bagi pembaca Samaritan yang mungkin saat ini merasa jauh dari komunitas, semoga melalui artikel ini termotivasi untuk bergabung dalam komunitas Kristen terdekat. Minimal, carilah “Harun dan Hur” yang bisa menopang kita saat kita lelah, sebagaimana yang terjadi pada Musa di Keluaran 17:12: “Maka penatlah tangan Musa; sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya. Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain.” Tidak perlu jauh mencari, kiranya melalui Samaritan  dapat terbentuk komunitas Kristen yang saling mendukung, demi Kerajaan Allah terus diberitakan di muka bumi, baik melalui para pembaca, para penulis, para editor, dan orang-orang lain yang berkontribusi dalam terbitnya artikel ini. Sehat selalu dan tetap semangat untuk kita semua. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

  • Komunitas Perjamuan Makan

    Mari kita mengingat, kapan terakhir kita duduk makan bersama teman-teman alumni, gereja atau sesama dokter Kristen? Makan sambil berbagi cerita, beban, pergumulan, firman Tuhan, atau hal apa saja.  Sesungguhnya hidup dalam persekutuan komunitas umat Allah merupakan ciri khas orang Kristen. Bahkan sejak di Perjanjian Lama , perayaan-perayaan bangsa Israel dikenal dengan perayaan yang sarat dengan acara makan bersama. Sebut saja perayaan Paskah, perayaan Pondok Daun dan lainnya. Bagi orang Yahudi makan bersama semeja adalah tanda persekutuan.   Yesus, selama tahun pelayanan-Nya, sangat sering melakukan perjamuan makan bersama, baik dengan murid-murid-Nya, sahabat-sahabat-Nya dan orang-orang yang dilayani-Nya (Matius 9:10-11). Perjamuan makan bersama keduabelas murid dilakukan-Nya menjelang kematian-Nya di salib. Ketika Yesus menampakkan diri pada murid-murid-Nya di Emaus dan di tepi Danau Tiberias, juga, Yesus lakukan dengan makan bersama.   Jika kita melihat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita akan melihat betapa Allah sangat memandang penting persekutuan umat-Nya, kebersamaan yang ditandai dengan perjamuan makan bersama. Persekutuan dengan hidangan makanan (memecah-mecahkan roti) menjadi gaya hidup jemaat mula-mula (lihat Kis. 2:41-47). Lukas mengisahkan gaya hidup jemaat masa itu yang hidup sebagai keluarga besar, berkumpul, berbagi, makan bersama, beribadah, dan Tuhan membuat mereka bertambah-tambah. Tuhan berkenan dengan gaya hidup mereka. Cara hidup tetap dalam persekutuan seperti ini terus dilakukan sampai berabad-abad berikutnya dan merupakan rahasia kekuatan jemaat abad pertama di tengah penganiayaan. Seperti yang diceritakan oleh beberapa surat ini. Surat kepada Diognetus, suatu surat yang berisikan apologetik terhadap gereja abad 1-2. …Mereka bernikah dan mempunyai anak seperti orang lain; tapi mereka tidak membunuh bayi yang tidak direncanakan. Mereka membagi meja makan tapi tidak membagi tempat tidur. Mereka hadir di dalam daging tapi tidak hidup menurut daging. Mereka melewati hari-hari mereka di bumi tapi mereka rakyat surgawi. Mereka menaati hukum dan bahkan melampaui hukum di dalam kehidupan mereka. Surat bernada sama juga ditulis oleh C. Plinius Caecilus Secundus, seorang negarawan yang diutus oleh Kaisar Trayan tahun 111 untuk menyelidiki kehidupan orang Kristen masa itu. Saat itu terjadi berbagai tuduhan palsu  terhadap ajaran Kristen dan penganiayaan pada Gereja. Plinius, antara lain menulis demikian dalam laporannya kepada kaisar: Namun demikian, waktu hamba meneliti dengan seksama tentang kesalahan dan kesesatan yang diakui mereka pada masa lampau itu, ternyata mereka hanya menjawab sebagai berikut: Bahwa kebiasaan mereka ialah berkumpul sebelum fajar menyingsing pada suatu hari yang ditentukan, dan bernyanyi dengan nyanyian rohani kepada Kristus sebagai dewa; bahwa mereka mengucapkan sumpah tetapi bukan sumpah untuk berbuat jahat. Justru sebaliknya, mereka bersumpah untuk tidak mencuri, tidak menyamun, tidak melanggar janjinya, tidak menolak untuk mengembalikan gadai jika diminta. Sesudah itu biasanya  mereka bubar, lalu bertemu kembali untuk makan bersama , tetapi dengan memakan hanya makanan yang biasa dan tidak berbahaya. (dikutip dari Semakin Dibabat Semakin Merambat;  C Ira, 2001). Gaya hidup dalam suatu komunitas bersama: berkumpul, beribadah, dan makan bersama secara rutin menjadi karakteristik mereka dan menarik perhatian banyak orang kala itu. Persekutuan dalam komunitas bersama ini merupakan hal yang tidak saja menguatkan mereka menghadapi penderitaan dalam masa penganiayaan, namun juga menjadi kesaksian bagi orang lain. Sayangnya, gaya hidup bersama seperti ini mulai ditinggalkan (tidak tahu sejak kapan) dan hanya sesekali dilakukan oleh komunitas gereja modern saat ini. Seberapa penting gaya hidup persekutuan dalam komunitas bagi hidup kristiani kita? Banyak dari kita saat ini menganggapnya tidak lagi penting dan bahkan sebagai sesuatu yang merugikan waktu tenaga dan dana saja.  Beberapa tahun lalu ketika saya mengunjungi seorang teman di Belanda, saya cukup terkejut ketika dia menjawab pertanyaan saya di mana dia bergereja, “Saya lebih sering gereja online, dok”. Saat itu, gereja online sudah mulai bermunculan, bahkan ketika taksi online belum marak. Firman Tuhan dan sejarah gereja sudah menjadi saksi bagaimana hidup dalam persekutuan komunitas orang Kristen merupakan gaya hidup yang Allah rancangkan bagi umat-Nya. Bukan hanya itu, persekutuan umat Allah yang ditandai dengan makan bersama merupakan masa depan kita kelak dalam kekekalan, seperti apa yang dinubuatkan oleh Yesaya: “TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya.”(Yesaya 25:6) Yesus di Injil Lukas juga menjanjikan,  “bahwa kamu akan makan dan minum semeja  dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku”. (Lukas 22:30a) Karena itu, mari kita hidupkan kembali gaya hidup umat Allah yang Allah inginkan terjadi. Gaya hidup dalam komunitas kebersamaan: berkumpul, beribadah dan makan bersama. Saya menantikan undangan Saudara! /kb

  • Tujuh Mil yang Mengubah Hidup

    Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" (Lukas 24:27, 32, TB)  Setelah melewati apa yang terjadi di Yerusalem pada hari-hari terakhir yang menyisakan pertanyaan, kecewa, takut dan kehilangan - hari pertama minggu setelah penguburan Yesus merupakan hari yang membingungkan bagi para murid. Mengejutkan. Beberapa perempuan telah pergi ke kubur saat pagi buta, tidak menemukan mayat-Nya, namun bertemu malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Yesus hidup.   Mengikuti kronologi perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit, Dia mula-mula menampakkan diri kepada Maria Magdalena, sesudah itu kepada dua orang dari murid-murid-Nya yang sedang dalam perjalanan ke luar kota. Dan pada akhirnya, menampakkan diri kepada sebelas murid ketika mereka sedang makan. [1]   Kisah pada hari minggu pertama ini selain menyatakan Yesus yang bangkit, dikaji dari sisi emansipasi wanita dimana Yesus memilih perempuan sebagai saksi mula-mula sebagai pembaharuan bagi pandangan Yudaisme. Yesus yang tidak membedakan lingkar murid, bukan tiga murid, juga bukan dua belas atau tujuh puluh puluh murid. Kajian lain tentang proses penampakan Yesus kepada seseorang, berdua dan kolektif. Saya meyakini Kitab Suci menyimpan mutiara-mutiara tak terbatas yang bisa ditemukan pada penggalian yang benar dan bertanggungjawab. Bagi saya muncul pertanyaan, apakah maksud dan pesan Yesus menampakkan diri-Nya di perjalanan Emaus? Mengapa Lukas memutuskan membukukan hasil penyelidikan saksi mata peristiwa ini dalam bukunya? Memang sama seperti tujuan penulisan Yohanes, Lukas juga bertujuan untuk menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, menunjukkan penderitaan-Nya, tanda yang membuktikan bahwa Ia hidup dan tentang Kerajaan Allah. [2]   Ini adalah peristiwa penampakan kedua Yesus, bukan kepada tiga murid-Nya, juga bukan kepada sebelas murid. Dari kutipan Markus dan Lukas dapat disimpulkan bahwa dua murid Yesus ini tidak mengetahui bahwa Maria Magdalena sudah melihat Yesus. [3] Barangkali hal ini merupakan alasan utama mengapa mereka tidak pernah terpikir akan bertemu Yesus yang bangkit. [4] Mereka sedang bercakap-cakap (talking, dialoguing) [5]  dan bertukar pikiran (discussing, debating, questioning) 9, [6]   saat Yesus atas inisiatif-Nya mendekati mereka, berjalan bersama-sama dengan mereka dan bertanya untuk memulai perbincangan. Seberapa penting homileo  dan suzeteo  ini bagi Yesus, bagi Kleopas dan teman? Bukankah lebih efektif jika Yesus menampakkan diri kepada mereka sama seperti yang dilakukan-Nya kepada Maria Magdalena? Tidak. Kita sering menyanyikan lirik sebuah lagu “kubur kosong membuktikan Dia hidup”, benarkah? [7] Terdapat logical fallacy  di dalam pernyataan di atas, slippery slope  atau false dichotomy . [8] Kubur kosong hanya membuktikan bahwa jasad Yesus tidak ada. Kubur kosong tidak mampu membuktikan Yesus bangkit dan hidup. Jika kubur kosong mampu membuktikan Yesus bangkit maka tidak perlu ada penampakan diri-Nya. 13  Alkitab mencatat satu pernyataan logis yang membuat saksi-saksi menerima kubur kosong karena kebangkitan.    Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. (Mat 28:6, TB) Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu." (Mar 16:7, TB) Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea." (Mar 14:28, TB) Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga." Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu.  (Luk 24:6-8, TB)   Tanpa pernyataan ini kubur kosong hanya membuat mereka percaya bahwa kubur benar-benar kosong.   Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. 9 Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. (Joh 20:8-9, TB)   Perkataan malaikat “dikatakan-Nya” membuat mereka menerima peristiwa kebangkitan. Selanjutnya mereka membutuhkan bukti kebangkitan yaitu Yesus yang hidup.    Kembali ke jalan Emaus, Yesus melakukan eksperimen, tidak mengajukan bukti dan tanda tetapi mengajukan pengertian. Setelah menegur dengan:    "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" [9]   Lalu Ia menjelaskan [10] kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. [11] Hati mereka berkobar-kobar, ketika Yesus menerangkan Kitab Suci sebelum mereka mengenali Yesus. [12] Kronologi kisah ini adalah; mereka mendengar berita sahih tentang kebangkitan, lalu bingung, memperdebatkan, bertemu tetapi tidak mengenal Yesus, Yesus menjelaskan dan menerangkan Kitab Suci, pikiran terbuka, mengerti Kitab Suci, hati yang berkobar-kobar, mengenali Yesus dan kembali ke Yerusalem.  Penampakan diri Yesus kepada Maria Magdalena membuktikan Dia bangkit dan hidup tetapi “percaya” murid-murid diselubungi oleh ketidakpercayaan. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. [13]     Mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Jadi menjadi saksi adalah satu hal dan mengerti adalah hal yang lain. Lalu Yesus membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti isi Kitab Suci. [14] Bukti membutuhkan penjelasan dan pengertian untuk sampai ke tingkat percaya. Seeing  tidak otomatis believing , percaya dan iman sendiri adalah dasar dan bukti [15] . Bodoh dan lamban hati berkorelasi erat dengan pikiran, sedangkan mengerti berkorelasi erat dengan homileo dan suzeteo . Inilah alasan mengapa kita sangat membutuhkan diermeneuo . Hermeneutik dalam penggalian Kitab Suci.   Berlanjut dengan kisah Tomas, dalam paradigma “mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati” tidak percaya kepada kesaksian orang-orang yang telah menyaksikan, kita memahami perkataan Yesus:   Jesus said to him, "Have you believed because you have seen me? Blessed are the people who have not seen and yet have believed." (John 20:29 NET) Jesus said to him, "The basis for your believing was seeing. Blessed are those who without having seen, nevertheless believed." (Joh 20:29 MIT)   Dalam pernyataan di atas Yesus seolah-olah berkata, “memang engkau bisa percaya setelah melihat?” Tomas menuntut paradigma lama, bukti. Mencucukkan jari pada bekas paku dan lambung. Yesus menawarkan paradigma baru, mengerti. Eksperimen Emaus terbukti bisa. Hati mereka berkobar-kobar tanpa melihat Yesus. Dengan demikian melalui pemahaman yang benar, penggalian yang bertanggungjawab atas Kitab Suci, kita bisa percaya walau tidak melihat.    Kita tidak akan pernah lagi bisa menjadi saksi mata hidup atas kematian dan kebangkitan Yesus tetapi kita bisa percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia dan menulis kitab sesudah kebangkitan-Nya. Kita tidak akan pernah lagi menjadi saksi pendengar atas kesaksian para murid tetapi kita bisa percaya dari catatan mereka yang kita baca hari ini. Dengan demikian kita bisa juga menjadi pewarta dengan hati yang berkobar-kobar.   Sepanjang sejarah kekristenan, Yesus yang mati, Yesus yang bangkit, Yesus yang hidup dan ketuhanan Yesus, menjadi fokus serangan apologi non-kristen. Topik ini tak tergoyahkan karena dibangun di atas kesaksian dan pengajaran. Yesus sendiri meneguhkannya sebelum Dia naik ke surga. Pengajaran meneguhkan kesaksian. Sendiri atau hanya salah satu darinya membuat lemah dan tidak seimbang tetapi kesaksian tanpa pengajaran menjadi pengalaman subjektif. Hadirnya Roh Kudus setelah Yesus naik ke surga, sebagai kuasa, Penolong yang lain, Roh Kebenaran yang menyertai dan diam selama lamanya di dalam murid-murid menjadi peneguhan yang dijanjikan. [16]     Bagaimana dengan kita sekarang? Kisah di jalan ke Emaus mengajar kita untuk memiliki paradigma baru membuka pikiran, mengerti, memperbincangkan, bertukar pikiran dan menggali untuk mendapatkan penjelasan Kitab Suci dalam mengalami Tuhan. Lukas dalam suratnya mencatat orang-orang Yahudi di kota Berea lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima Firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci. [17]   Paulus mengingatkan Timotius untuk berusaha supaya layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang terus terang [18] , [19] memberitakan perkataan kebenaran. Terus terang yang berarti mengajar kebenaran secara langsung, lurus dan benar.    Perkembangan teknologi saat ini dapat memudahkan kita untuk mendapat tuntunan dan referensi dalam penggalian Alkitab. Menemukan tulisan bapa-bapa gereja pasca rasul bukan hal yang sulit bagi kaum awam sekarang ini. Hanya membutuhkan kemauan dan kebersamaan dalam menggali. Di sisi lain, teknologi bisa menjadi ancaman bagi iman Kristen. Hadirnya ChatGPT saat ini yang dinilai memberikan kemudahan jawaban aktual, mudah dan komprehensif atas masalah dan pertanyaan. Saatnya tiba tantangan Kekristenan bukan lagi pertentangan teologis tentang Allah atau penolakan Yesus adalah Tuhan, keselamatan, atau Alkitab bukan Firman Tuhan tetapi sinkretisme kepercayaan, relativitas post-modern, popular dan holistik berdasar algoritma yang mungkin tidak Alkitabiah sama sekali atau hanya mengandung kebenaran parsial yang tercampur dan tidak mudah dikenali [20] .    Pada akhirnya, pemahaman Alkitab yang bertanggungjawab disertai perbincangan terhadap isu-isu aktual haruslah menjadi budaya setiap kita sebagai murid Kristus. Melalui cara tersebut, para murid dapat hidup dengan memandang dan menyikapi pengalaman rohani agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh isu-isu dunia yang datang dalam lompatan kuantum teknologi dan gulungan gelombang peradaban. /kb [1]  Mar 16:9,12,14 [2]  Kis 1:1-3 [3]  Yoh 20:18. “… benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." (Luk 24:24) [4]  Alasan lain oleh Markus menyebutkan; menampakkan diri dalam rupa yang lain ( heteros morphe ) (Mar 16:12) tetapi tidak diterangkan bagaimana maksud rupa lain  [5]  Yun: homileo: 4) to converse with, talk about: with one. Homelitic from Greek homilētikos cordial, from homilein to converse with 9  Yun: suzeteo . Kata yang digunakan untuk “bersoal jawab” antara Stefanus dengan Yahudi (Kis 6:9) dan Paulus dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani yang berusaha membunuh dia (9:28) [6]  Luk 24:15 [7]  Mat 28:5-6, luk 24:1-9, Yoh 20:1-2 [8]   Slippery slope ; ada loncatan logika antara pernyataan satu dan dua. Pernyataan satu dan dua tidak selalu terhubung atau sebab akibat. False dichotomy  hanya menghadirkan dua pilihan atau dua sisi [9]  Lamban; anoetos:  1) not understood, unintelligible 2) not understanding, unwise, foolish   bodoh; anoetos dan bradus:  1) slow 2) metaph. dull, inactive, in mind 2a) stupid, slow to apprehend or believe   [10]   Diermeneuo: Dia “through” and hermeneuo “to interpret”. 1) to unfold the meaning of what is said, explain, expound 2) to translate [11]  Luk 24:25-27,32 [12]  Luk 24:32 [13]  Mar 16:14 [14]  Luk 24:45 [15]  Ibrani 11:1. Iman tidak membutuhkan bukti, iman tentu dibuktikan jika dibutuhkan  [16]  Yoh 14:16-17 [17]  Kis 17:11 [18]  Berterus terang; orthotomeo: 1) to cut straight, to cut straight ways 1a) to proceed on straight paths, hold a straight course, equiv. to doing right 2) to make straight and smooth, to handle aright, to teach the truth directly and correctly [19]  Ti 2:15 [20]  Kekristenan menghadapi dunia yang semakin berpikir manusiawi. Beradab berarti menjunjung tinggi kebebasan dalam privasi, ide dan nilai-nilai. Baik kejahatan maupun moralitas semakin menjauh dari kebenaran Kristus.

Hubungi Kami

Dapatkan update artikel SAMARITAN terbaru yang dikirimkan langsung ke email Anda.

Daftar menjadi Samareaders sekarang!

Instagram
Facebook
Media Samaritan
Media Samaritan

 Media Samaritan 2022

bottom of page