top of page

Refleksi KMdNM XXIV 2026: Healed to Be Healers

5 hours ago
7 min read

Menjadi tenaga medis membawa kita pada proses belajar yang panjang. Di tengah tuntutan akademik, keterampilan, dan pelayanan, ada satu pertanyaan yang mungkin perlahan terlupakan: mengapa Tuhan menempatkan saya di bidang ini?

Melalui KMdNM XXIV 2026, pertanyaan tentang panggilan, arah perjalanan setelah lulus, hingga bagaimana menjalani profesi sebagai murid Kristus kembali muncul dalam refleksi para peserta. Tiga tulisan berikut merupakan refleksi pribadi Nicky, May, dan Catherine setelah mengikuti KMdNM XXIV 2026.

 


Menemukan Panggilan dan Menuai dalam Ladang Tuhan

Nicky B. Patoding, FK Unibraw 2023

‎"Bahwa keduabelas murid tidak dipanggil karena kesiapannya, namun Yesus yang mempersiapkan mereka, dan mengutus mereka menjadi imam bagi bangsa-bangsa."

‎ ‎Pernyataan tersebut saya dengar dalam sebuah expo KMdNM XXIV 2026, dan saat ini meninggalkan bekas di dalam hati saya. Genap tiga tahun saya berkutat sebagai mahasiswa kedokteran, namun tidak sekalipun saya pernah merenung mengapa Tuhan menempatkan saya dalam bidang ini. Barangkali karena waktu dan kesibukan kampus tidak menyisakan ruang bagi saya melakukan hal tersebut atau memang saya bukan sosok yang gemar merenungkan kehidupan sendiri, saya juga tidak tahu. Kerap kali pertanyaan "mengapa kamu masuk jurusan yang kamu pilih?" selalu berhasil saya tepis dengan jawaban singkat dan diplomatis seperti "disuruh orang tua" atau "karena kebetulan diterima". Namun setelah sesi diskusi KMdNM yang saya ikuti untuk pertama kalinya, pertanyaan tersebut mengalami sedikit modifikasi. "Mengapa Tuhan menempatkanmu di jurusanmu saat ini?". Saya pun masih kesulitan menjawab. Setelahnya, terdapat sebuah hal yang saya bulatkan dalam hati saya, yakni mendapat jawaban pertanyaan tersebut segera di akhir lokakarya ini.

‎ ‎Sayangnya hal tersebut hanya menjadi wacana belaka. Sebab rupanya, saya mendapat jawaban pertanyaan tersebut baru ketika refleksi ini ditulis (mungkin kegembiraan yang saya dapat dari persekutuan bersama teman-teman mengaburkan pesan sesungguhnya dari acara itu). Kamp Medis Nasional Mahasiswa XXIV 2026 mengusung tema "Healed to Be Healers", tema yang saya pikir tampak seperti permainan kata tentunya panitia sangat pandai dalam pemilihan kata) namun sejatinya sarat akan makna. Mahasiswa kesehatan yang mengabaikan kesehatannya sendiri, bukanlah sebuah ironi yang asing ditelinga sejawat kesehatan. Jadwal kuliah dan ekstrakulikuler yang begitu padat, ambisi untuk mengejar predikat "A" pada lembar hasil studi, ataupun kebutuhan untuk mempertebal portofolio melalui organisasi dan perlombaan nampaknya sudah menjadi biang kerok dalam permasalahan ini.

Meski begitu, masalah sejati yang sayangnya justru luput dari perhatian kita sehari-hari adalah kesehatan rohani yang selama ini kita abaikan. Kesehatan jasmani yang berulang kali digadaikan dengan jam tidur dan kesibukan perkuliahan membuat kita lupa bahwa kesejahteraan rohani kita barangkali belum pernah mendapat hak-haknya. Luka batin dan berhala hati yang selama ini tidak sempat terselesaikan melalui saat-saat teduh dan HPdT tanpa kita sadari menjadi kelambu yang mengaburkan hikmat Allah dalam hati kita untuk memahami rancangan Tuhan dalam kehidupan kita. ‎Puji Tuhan, KMdNM dipersiapkan begitu baik untuk membantu mahasiswa menghadapi pergumulan tersebut dan menjawabnya. Expo, talkshow dan kapita selekta yang disiapkan berhasil menyajikan kepada saya bingkai permasalahan kesehatan, yang didalamnya membutuhkan kehadiran kita sebagai tenaga kesehatan sekaligus orang percaya untuk dituntaskan. Melalui sempil, saya juga semakin diperlengkapi untuk menghadapi dunia dengan kacamata iman. Benar saja, memang begitu banyak masalah yang saya sadari menjadi tantangan yang akan kita temukan sebagai tenaga kesehatan. Angka kematian ibu dan anak, angka penyakit menular dan tidak menular, permasalahan bioetik, kelompok-kelompok rentan, dan masyarakat terabaikan, semuanya merupakan tuaian yang membutuhkan kita, pekerja-pekerja Allah, untuk menggarap bagian-bagian yang telah disediakan-Nya.

‎ ‎Matius 9:37-38: Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. ‎Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Saya rasa inilah panggilan yang Tuhan sediakan bagi saya. Tidak pernah terbesit dibenak saya bahwa saya dapat berbuah bagi sesama saya melalui apa yang saya kerjakan. Namun disinilah saya ditempatkan Tuhan, dan saya percaya bukan tanpa alasan Ia melakukannya. Barangkali melalui pendidikan kedokteran, Tuhan membentuk saya sebagai pekerja yang siap menuai di ladangnya, menjadi dokter yang siap memulihkan jiwa-jiwa. Maka satu-satunya tugas saya adalah menerima dan menghidupi panggilan tersebut. ‎

Melalui tulisan ini, saya secara pribadi ingin mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan KMdNM XXIV 2026, baik itu panitia yang bekerja dibelakang panggung, pendamping kelompok, maupun kakak-kakak pembicara yang telah tergerak hatinya menuntun adik-adiknya mempersiapkan diri menjadi tenaga kesehatan yang bermisi. Semoga kita semua senantiasa diberikan hati seorang pekerja yang setia melayani bagi sesama. Kemuliaan hanya bagi Tuhan.


Melangkah dalam Panggilan Tuhan

May Belline R. Japanto, FK Unsrat 2024

Banyak hal yang saya dapatkan lewat Kamp Medis Nasional Mahasiswa 2026. Tuhan juga membukakan beberapa hal yang perlu saya pelihara dalam mempersiapkan diri  sebelum menjadi tenaga kesehatan. Firman Tuhan dalam Markus 5 : 21 - 43 mengajarkan saya bahwa dalam perjalanan-Nya Yesus bertemu banyak orang. Yesus adalah Healer dan Dia mau kita dilatih dengan berjalan bersama-Nya. Dalam perikop ini terdapat perbedaan status sosial,  antara Yarius dan seorang perempuan yang sakit perdarahan. Yairus adalah seorang terhormat dan perempuan tersebut yang dianggap masyarakat najis karena perdarahan yang dia alami, tetapi persamaannya adalah mereka berdua sama-sama membutuhkan Yesus untuk dipulihkan. Kisah ini mengajarkan saya bahwa Yesus bukanlah tabib yang hanya mengurung diri-Nya di ruangan steril, tetapi Yesus menunjukkan kasih-Nya dengan membiarkan diri-Nya disentuh oleh kawanan yang termarginalkan, seperti kita yang tidak layak oleh dosa kita, tetapi Dia rela turun ke dalam dunia untuk memulihkan kita. Yesus memperlihatkan pemulihan secara spritual, ekonomi dan sosial bahkan kesembuhan secara holistik.

Saya juga dibukakan melalui seminar pilihan  “Memilih Profesi setelah lulus : kesempatan atau kebutuhan?”. Sebagai tenaga medis, saya melihat Tuhan memanggil kita dalam berbagai bidang atau ladang yang telah Dia sediakan untuk kita bajak. Lewat seminar pilihan ini saya belajar melihat apakah ada kesempatan? apakah kebutuhan dapat terpenuhi? bagaimana minat dan kemampuan saya?. Tetapi lebih dari semua itu, apakah hal tersebut hanyalah sebuah ambisi semata atau benar-benar kehendak Ilahi yang Tuhan berikan  untuk saya kerjakan. Saya juga belajar bahwa panggilan Tuhan lebih dari kemampuan dan waktu saya yang terbatas. Lewat kisah Ishak yang mau taat kepada Tuhan dengan tidak pergi ke Mesir dan tetap tinggal di Kanaan, saya melihat bagaimana Tuhan memberkati ketaatannya seratus kali lipat. Dari kisah ini, saya belajar bahwa hidup kita pun dapat dipakai Tuhan menjadi kesaksian tentang Tuhan yang tidak terbatas. Bahkan ketika kekhawatiran datang dalam kehidupan, Tuhan mengingatkan kita melalui burung-burung di udara dan bunga bakung di padang: mereka tidak bekerja dan tidak menenun, tetapi Tuhan tetap memelihara mereka. Mungkin saat ini saya tidak tahu jalan mana yang akan saya pilih setelah lulus. Namun, di tengah ketidakpastian itu, saya percaya bahwa His Everlasting Arm akan selalu menopang, mencukupkan dan memelihara saya.

Melalui berbagai hal yang dibukakan saya disadarkan bahwa Tuhan membawa saya di KMdNM bukan hanya sekadar untuk menjadi perwakilan dari daerah, tetapi juga diproses untuk menjadi perwakilan-Nya di ladang Medis. Saya percaya, melalui proses ini Tuhan ingin saya mulai mengambil langkah untuk menjalankan panggilan-Nya sebagai tenaga medis yang penuh belas kasih, seperti Yesus yang “touch the untouchable, berintegritas, dan menjadi berkat bagi sesama.

 

Jika Yesus Menjadi Tenaga Medis

Catherine Ivory, FKG USU 2020

Selama mengikuti Kamp Medis Nasional Mahasiswa 2026, saya kembali diingatkan mengapa sejak awal saya memilih jalan ini. Ditengah proses pendidikan yang sering kali dipenuhi dengan tuntutan akademik, praktikum, ujian, keterampilan klinis, diagnosis, dan berbagai hal teknis lainnya, saya terkadang begitu fokus pada bagaimana menjadi seorang tenaga medis yang kompeten sampai lupa bertanya kembali: siapa yang sebenarnya memanggilku untuk berada di jalan ini? Kamp Medis seperti menjadi sebuah jeda, kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan dan kembali melihat panggilan ini dari perspektif yang lebih dalam. Berkali-kali aku diingatkan bahwa menjadi tenaga medis bukan semata-mata tentang profesi yang kupilih, tetapi tentang Tuhan yang terlebih dahulu memanggil.

Selama mengikuti rangkaian KMdNM 2026, baik dalam eksposisi, kapita selekta, seminar pilihan, diskusi panel dan diskusi dikelompok kecil, saya semakin menyadari bahwa dunia kesehatan sebenarnya bukan hanya sekedar tentang ilmu, diagnosis, tindakan, atau kesembuhan. Dibalik setiap pasien, ada manusia yang sedang membawa ketakutan, keterbatasan, harapan, bahkan pergumulan yang mungkin sering kali terlihat tetapi diabaikan. Disitulah saya mulai bertanya, “Jika Yesus menjadi seorang tenaga medis, Ia akan menjadi dokter yang seperti apa? Dokter gigi seperti apa? Atau perawat, radiografer, apoteker seperti apa? Mungkin kita akan membayangkan Yesus sebagai tenaga medis yang paling ahli. Ia pasti memiliki pengetahuan yang sempurna, tangan yang sangat terampil, dan kemampuan menyembuhkan yang luar biasa. Tetapi jika kita membaca berbagai kisah Yesus menyembuhkan orang-orang, maka ada sesuatu hal yang jauh lebih dalam, yaitu Yesus melihat manusia sebelum melihat penyakitnya.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin memahami mengapa tema KMdNM 2026 adalah “Healed to be Healer.”  Sebab sebelum aku dipanggil untuk menjadi alat pemulihan bagi orang lain, aku sendiri terlebih dahulu membutuhkan pemulihan dari Tuhan. Aku tidak melayani karena aku sudah sempurna. Aku melayani karena aku tahu bahwa hidupku sendiri adalah hasil dari kasih karunia. Aku tidak menjadi healer karena aku adalah sumber kesembuhan. Aku menjadi healer karena Tuhan, Sang Penyembuh, berkenan memakai hidupku sebagai alat-Nya.

Selama KMdNM 2026 bukan hanya materi yang aku dapatkan, bukan hanya pengalaman bersama teman-teman lain selama mengikuti rangkaian kegiatan, tetapi juga sebuah panggilan untuk kembali mengingat alasan mula-mula saya ada di tempat ini. Ketika nanti kesibukan, kelelahan, atau rasa tidak mampu datang, saya ingin mengingat bahwa Tuhanlah yang memanggil saya, dan Dia juga yang memperlengkapi saya. Dan, ketika suatu hari saya berdiri sebagai seorang dokter gigi, saya ingin melihat profesi ini bukan sekadar sebagai sesuatu yang berhasil saya capai, tetapi sebagai panggilan yang Tuhan percayakan.

Pertanyaan yang awalnya saya tujukan kepada Yesus akhirnya berbalik kepada diri saya sendiri. Bukan lagi, “Jika Yesus menjadi seorang tenaga medis, Ia akan menjadi tenaga medis yang seperti apa?”, tetapi, “Jika saya mengaku sebagai murid Yesus dan suatu hari menjadi seorang tenaga medis, seperti apa seharusnya saya melihat dan memperlakukan manusia yang Tuhan percayakan kepada saya?” KMdNM kembali mengingatkan saya bahwa menjadi tenaga medis adalah kesempatan untuk melayani, bukan sekadar sebuah pekerjaan.

Jika suatu hari seseorang bertanya, “Kamu ingin menjadi dokter gigi seperti apa?”, saya akan menjawab, “Saya ingin menjadi dokter gigi yang membuat orang lain merasa dilihat, dihargai, dan dikasihi, yang tidak hanya merawat penyakit, tetapi melihat manusia secara utuh, dan yang melalui hidup serta profesinya, orang lain dapat melihat kasih Kristus, Sang Tabib yang terlebih dahulu menyembuhkan saya.” Sama seperti tema KMdNM 2026: Healed to be Healer.


Comments


Hubungi Kami
Dukung Kami

Bagi yang tergerak untuk mendukung, donasi dapat disalurkan melalui

BCA 106 999 5550 a/n Yayasan Perkantas

Hai Samareaders,

Ada yang bisa kami bantu?

Subject
download-jukebox-bg-removed.png

Media Samaritan merupakan media publikasi naungan Perkantas Medis Nasional dan Perkantas Nasional yang hadir untuk memperlengkapi Tenaga Kesehatan Kristen di Indonesia untuk menghidupi dan menyuarakan Kebenaran.

© 2026 Samaritan PMdN. Hak cipta dilindungi.

bottom of page