top of page

Tuhan Tetap Memegang Kendali: Eksposisi Ester Bagian Kedua



Kepedihan atas vonis kematian

Sebuah pesan di Whatsapp muncul dari seseorang yang pernah kami kunjungi. Pesannya singkat, “Kak, ibu saya masuk Rumah Sakit”. Beberapa waktu kemudian saya baru punya waktu berkunjung setelah ibu itu kembali dari RS. Kondisinya melemah, hanya bisa berbaring, dan tubuhnya sangat kurus berbalut tulang yang menyusut setiap harinya. Di rumah itu, suaminya juga terbaring di kamar yang lain, sambil terkadang berteriak-teriak kesakitan, karena sedang menderita sakit ginjal. Kondisi mereka tergolong tidak mampu. Anaknya bercerita, untuk membeli makanan saja mereka sangat kesulitan. Saya menitipkan beras dan sedikit bahan makanan untuk mereka, sembari memasukkan data mereka ke sebuah aplikasi bernama Jangkau yang digunakan untuk mengajukan permohonan kursi roda dan beras secara gratis. Seminggu kemudian, saya mendapat kabar ibu itu meninggal dunia.


Ester 4-7

Kepedihan atas kematian adalah salah satu kepedihan yang tidak bisa terelakkan. Air mata menetes tak terbendung ketika orang yang kita kenal atau kasihi meninggal dunia. Kematian adalah sesuatu yang menakutkan. Dalam kitab Ester, ketakutan mencekam akan vonis kematian juga membayang-bayangi seluruh orang Yahudi di tanah Persia di zaman Ester. Haman, orang kedua setelah Raja Artahsasta di Kerajaan Persia memerintahkan untuk memusnahkan, membunuh, membinasakan semua orang Yahudi dari yang tua hingga yang muda, termasuk anak-anak dan perempuan, dalam satu hari saja di tanggal 13 bulan Adar. Seluruh harta benda mereka juga akan dirampas. Haman memberikan 10.000 telenta perak kepada raja untuk memuluskan rencananya.


Mordekhai yang mendengar titah Raja itu, mengoyakkan pakaiannya, memakai kain kabung, keluar berjalan di tengah kota sambil melolong dengan suara nyaring dan pedih. Perintah raja yang disusun oleh Haman itu telah disahkan dengan cincin materai raja yang tidak bisa dibatalkan bahkan oleh raja sendiri. Kegemparan, kepedihan dan ketakutan terjadi di kalangan semua orang Yahudi di semua provinsi kerajaan Persia pada masa itu. Mereka berpuasa, berkabung, menangis dan meratap, ada yang mengenakan kain kabung dan abu.


Redemptive Action

Disisi yang lain, disinilah sebuah “puzzle” dalam hidup Ester perlahan mulai menampakkan bentuknya. Ester saat itu menjadi ratu di Persia, namun identitasnya sebagai orang Yahudi tersembunyi. Ada sebuah kesempatan untuk menolong, tetapi pintu kesempatan itu sangat sempit dan mungkin harus dibayar mahal dengan nyawanya sendiri. Ester bersedia maju untuk menyelamatkan orang Yahudi. Aksi Ester ini bisa termasuk dalam aksi redemptive yang didefinisikan oleh Praxis Lab sebagai “Wherever there is loss, brokenness, unfairness, injustice, waste, or harm—and someone willingly enters into the situation by bearing a cost or taking a risk to help the person, resource, or system to be restored or repaired—that’s redemptive action.”1


Banyak orang yang bertanya: “Mengapa saya ada di dunia ini?”, “Apa tujuan hidup saya?”. Belajar dari kitab Ester ini, yang dikenang pada diri Ester bukanlah statusnya sebagai ratu Persia dengan segala kemewahannya. Yang dikenang dalam diri Ester adalah keberanian dan pengorbanannya untuk menyelamatkan bangsa Israel dari sebuah genosida pemusnahan. Saya yakin, salah satu hal yang dikenang dalam hidup seseorang setelah ia mati adalah tindakan Redemptive yang dia lakukan selama hidup, bagaimana ia berkorban untuk menolong orang lain.


Kita juga menarik refleksi kita kepada klimaks pelayanan Kristus di bumi melalui pengorbananNya di atas kayu salib untuk menebus orang berdosa, mengangkat kita dari kuasa maut dan membawa kita kepada hidup yang kekal. Karya penebusan-Nya (Redemptive work) adalah menebus kita menjadi anak-Nya, memulihkan kita dari kondisi yang mati dan rusak, menjadi ciptaan yang baru dan terluput dari kematian dan kengerian kekal. Dari sinilah kita bisa berefleksi tentang apa makna dari hidup.


Doa puasa dan komunitas

Di dalam kitab Ester, tidak ada nama Tuhan Allah disebut. Dalam kitab ini, kita juga tidak menemukan malaikat Tuhan yang membawa pesan atau Allah yang berfirman secara langsung. Tuhan tampaknya absen. Tetapi dalam kitab ini kita melihat Allah yang mengatur dan memegang kendali atas umat-Nya. Kondisi seperti ini juga bisa terjadi dihidup kita. Tetapi jika kita renungkan, ada banyak pekerjaan dan pimpinan Tuhan yang terjadi dalam hidup kita di tengah kondisi yang tampaknya Tuhan tidak hadir. Tuhan tetaplah memegang kendali. Cobalah mengambil waktu untuk mengingat kasih dan tuntunan Tuhan itu di masa-masa krisis anda itu!


Di masa krisis, Ester meminta kepada Mordekhai agar semua orang Yahudi di puri Susa berpuasa tiga hari lamanya untuknya. Berpuasa bersama, berdoa dan meminta kepada Allah. Tiga hari yang cukup untuk berdoa, berkabung, tetapi juga untuk memikirkan langkah-langkah yang harus dilakukan. Bagaimana menyelesaikan sebuah yang permasalahan rumit ini? Tentu membutuhkan sebuah rencana, strategi yang hati-hati namun tepat. Bagaimana cara Ester menyampaikan kepada raja kondisi yang sesungguhnya?


Menyelesaikan masalah dengan cara yang bijak

Ester menunda hingga 3 kali perihal menyampaikan permohonannya kepada raja. Dia tidak tergesa-gesa, namun menunggu momentum yang tepat. Hingga pertanyaan ketiga kalinya, baru Ester menyampaikan isi hatinya. Kehati-hatian Ester dalam menyelesaikan masalah ini adalah hal yang penting, ia mengeksekusi apa yang sudah ia rencanakan dengan hati-hati.


Poin yang penting dari permintaan Ester kepada raja adalah ia meminta perlindungan atas nyawanya, setelah itu ia meminta perlindungan atas bangsanya. Ester menyuarakan kebenaran atas apa yang sedang terjadi. Ia berdiri membela dan melindungi bangsanya. Tentulah raja tidak mau kehilangan permaisuri untuk keduakalinya karena sebuah “kesalahan” kebijakan yang ia buat sendiri. Ini akan membahayakan kerajaannya. Di saat itu raja meninggalkan anggurnya dan pergi ke taman untuk menenangkan hatinya.


Dari kitab ini setidaknya kita belajar, serumit-rumitnya masalah, kita masih bisa mencari jalan keluar. Mungkin kita bisa ambil waktu seperti Ester untuk berpuasa dan berdoa, bersama orang percaya lainnya, untuk mencari penyelesaian atas masalah kita. Memang sangat penting bagi kita untuk mengambil waktu berdiam, berpuasa, berdoa, berefleksi dan mencari jalan keluar untuk permasalahan-permasalahan rumit yang sedang kita hadapi. Terlebih ketika kita ada di tengah dunia yang tidak mengenal Allah, ada banyak permasalahan yang muncul yang diluar kendali kita. Mungkin ada upaya-upaya yang berusaha untuk menekan bahkan menjatuhkan kita. Kita melihat Ester menggunakan cara pendekatan yang lembut, dialog, negosiasi untuk mempengaruhi sebuah kebijakan yang tidak bisa dirubah. Dia tidak menggunakan cara kekerasan, tetapi dia menggunakan seluruh potensi yang ada pada dirinya secara tepat.


Penutup

Tenaga medis adalah salah satu pekerjaan yang selalu diperhadapkan dengan situasi sulit antara hidup dan mati, sembuh dan sakit. Saya teringat sharing seorang adik dokter yang waktu itu baru masuk ke spesialis jantung bertahun-tahun yang lalu. Saya mengenalnya sebagai seorang yang sangat cerdas dan nilainya tertinggi di antara teman-temannya. Dia menceritakan bagaimana dia harus belajar membuat keputusan yang cepat ditengah emergency, padahal butuh waktu untuk menganalisis dengan hati-hati. Dan ini membutuhkan hikmat dan latihan.


Salah satu dosen saya di Fuller Seminary, Michaella O’ Donnell, dalam bukunya menuliskan tentang pentingnya “action and reflection”. Ia mengatakan “the only way to keep moving forward is to reflect on where you’ve been.”2 Karena itu ia menekankan pentingnya ritme “action, reflection, action”.3 Di tengah kondisi yang sangat kacau setiap harinya kita tetap membutuhkan ritme untuk bekerja, beristirahat, waktu tenang, refleksi dan aksi agar kondisi kerohanian dan jiwa kita tetap terjaga. Selain itu, tetap penting bagi kita alumni untuk punya komunitas orang percaya yang ikut menjaga kita.


Di tengah tantangan di kehidupan dunia sekuler yang kejam ini, kiranya kita bisa tetap mengambil peran menjadi pemimpin-pemimpin yang mengubah keadaan, ikut menjadi solusi atas berbagai permasalahan, dan membawa semakin banyak orang mengenal Tuhan lewat kesaksian dan pelayanan kita.


/stl


Referensi:

  1. Michaela O'Donnell. Make Work Matter: Your Guide to Meaningful Work in a Changing World, (Grand Rapids: Baker Books, 2021), 113

  2. Ibid, 114


188 views0 comments

Recent Posts

See All

Comments


bottom of page