top of page

Siapa yang Mau ke Puskesmas? Menjawab panggilan Tuhan ke Pedalaman Papua


“Akan selalu ada dokter yang mau ke rumah sakit. Tetapi siapa yang mau ke Puskesmas?”


Pertanyaan itu bukan sekadar kalimat yang lewat begitu saja. Bagi dr. Hendriko, pertanyaan tersebut menjadi sebuah panggilan. Sebuah panggilan yang membawanya meninggalkan kenyamanan dan memilih untuk melayani di Puskesmas Ladikma, di Provinsi Papua Pegunungan—di sebuah tempat yang tidak mudah dijangkau, dengan segala keterbatasan dan tantangannya. Di sanalah ia belajar bahwa menjadi seorang dokter bukan hanya tentang mengobati mereka yang datang mencari pertolongan. Menjadi dokter juga berarti bersedia pergi kepada mereka yang mungkin tidak mampu datang.

 

Sebuah Perjalanan Panjang

Puskesmas adalah fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menjadi salah satu wajah pelayanan kesehatan khas Indonesia. Kehadirannya digagas untuk menjangkau masyarakat hingga ke daerah-daerah yang jauh, terpencil, dan terluar, agar pelayanan kesehatan dapat dirasakan secara lebih merata di seluruh pelosok negeri.

Gagasan tentang pelayanan kesehatan yang menjangkau masyarakat luas tidak dapat dilepaskan dari sosok dr. Johannes Leimena, seorang dokter Kristen yang mengabdikan hidupnya bagi bangsa, politik, Gereja, dan terutama bagi Tuhan. Dari kehidupan beliau, kita belajar bahwa seorang percaya—terlebih seorang dokter Kristen—yang menangkap visi Allah dapat mengambil bagian dalam sesuatu yang jauh lebih besar daripada profesinya sendiri. Ia dapat menjadi bagian dari perubahan dan bahkan turut mengubah peradaban sebuah bangsa.

Perkenalkan, saya dr. Hendrico Kabanga. Saya adalah dokter lulusan Universitas Cenderawasih angkatan 2012. Saat ini, Tuhan mempercayakan saya untuk melayani di Puskesmas Ladikma, Provinsi Papua Pegunungan. Keputusan untuk datang dan melayani di tempat ini adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya. Panggilan itu mulai tumbuh ketika saya bertugas sebagai dokter PTT di RSUD Er Dabi.

Pada tahun kedua pelayanan, saya bertemu dengan seorang pasien yang berasal dari Distrik Ladikma. Ia datang dengan berjalan kaki selama hampir empat hari hanya untuk bertemu dengan seorang dokter.

Pengalaman itu sangat membekas dalam hati saya. Saat itu, Tuhan seakan bertanya kepada saya: “Akan selalu ada dokter yang mau datang ke rumah sakit. Tetapi siapa yang mau ke Puskesmas?”

Dan saya menjawab: “Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.” Sejak keputusan itu, saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Tuhan memimpin setiap langkah. Selangkah demi selangkah Tuhan menuntun, memberkati, dan meneguhkan keputusan yang saya ambil.

 

Menjadi Dokter Puskesmas di Era Integrasi Layanan Primer

Di era Integrasi Layanan Primer, tugas seorang dokter Puskesmas tidak lagi berdiri sendiri atau terpisah dari berbagai program kesehatan lainnya. Tanggung jawab seorang dokter menjadi jauh lebih besar, tetapi pada saat yang sama juga jauh lebih bermakna.

Dokter bertanggung jawab memastikan lima kluster layanan berjalan secara bersama-sama—mulai dari pelayanan ibu dan anak, usia produktif, lanjut usia, hingga penanggulangan penyakit dan kesehatan lingkungan.

Dokter tidak hanya datang untuk mengobati pasien. Ada target-target yang harus dikejar: cakupan imunisasi, pelayanan ibu hamil, penemuan kasus TBC, pelayanan gigi, cek kesehatan gratis, dan berbagai indikator kesehatan lainnya. Dokter juga terlibat dalam perencanaan, monitoring, hingga evaluasi setiap capaian Puskesmas. Karena pada akhirnya, capaian kinerja sebuah Puskesmas bukan hanya mencerminkan pekerjaan seorang dokter. Itu adalah cerminan kerja kita bersama.

 

Jas Putih yang Menanamkan Harapan

Bagi saya, sneli atau jas kerja dokter bukan sekadar pakaian yang menunjukkan identitas dan profesionalitas. Di tengah masyarakat pedalaman, jas dokter dapat memiliki makna yang jauh lebih luas. Di tempat seperti Ladikma, jas itu membawa pesan yang lebih besar.

Saya ingin mereka melihat bahwa suatu hari, merekalah yang akan menjadi dokter, melayani masyarakat mereka sendiriSebab pembangunan kesehatan di daerah seperti ini tidak mungkin selamanya bergantung pada orang-orang yang datang dari luar.

Kita membutuhkan anak-anak dari tanah ini yang kelak kembali, membawa ilmu, keterampilan, dan hati untuk membangun masa depan keluarga, kampung dan tanahnya sendiri.

Saya mungkin tidak akan selamanya bertugas di Ladikma. Bisa jadi saya hanya berada di sini untuk beberapa tahun. Atau bisa juga dibutuhkan bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sampai ada dokter lain yang bersedia datang dan ditempatkan di tempat ini. Karena itu, saya ingin terus berlari. Saya terus belajar melalui pelatihan dan seminar. Saya berusaha membagikan sebanyak mungkin ilmu yang saya miliki. Sebab saya ingin pelayanan ini dapat terus berjalan, dengan ataupun tanpa kehadiran seorang dokter. Yang saya harapkan bukanlah ketergantungan kepada satu orang, tetapi lahirnya sebuah pelayanan yang dapat terus bertumbuh dan diteruskan oleh generasi berikutnya.

 

Di Tengah Pelayanan Kesehatan dan Pergumulan Iman

Salah satu hal yang paling saya syukuri di tempat ini adalah lahir dan bertumbuhnya Gereja lokal sebagai buah dari pengorbanan para misionaris puluhan tahun yang lalu. Namun, perjalanan pelayanan di sini belum selesai. Tantangan masih nyata. Okultisme masih mengakar dalam kehidupan sebagian masyarakat. Masih ada kepercayaan bahwa penyakit yang mereka alami disebabkan oleh kiriman dari seseorang atau bahkan dari kampung tertentu. Karena itu, pelayanan kesehatan di tempat ini tidak hanya berbicara tentang obat dan penyakit. Ada persoalan yang jauh lebih dalam—tentang cara pandang, kepercayaan, kehidupan sosial, dan pergumulan rohani masyarakat. Di tengah segala keterbatasan dan tantangan itu, saya menemukan satu hal yang membuat saya tetap bertahan: hubungan pribadi dengan Tuhan.

Di tempat yang terisolasi, ketika suasana begitu sunyi dan banyak hal terasa berat, saya menikmati Firman Tuhan dalam keheningan. Di sanalah saya mendapatkan kekuatan. Bukan karena saya kuat. Tetapi karena saya tahu kepada siapa saya bergantung.

Ada sebuah kalimat yang terus mengingatkan saya:

“Kepada penglihatan yang dari surga itu, tidak pernah aku tidak taat.”

Kalimat itu menjadi refleksi tentang panggilan. Sebab pada akhirnya, pelayanan di pedalaman bukan sekadar tentang keberanian meninggalkan kenyamanan. Ini adalah tentang ketaatan.

Ada tempat-tempat yang mungkin tidak banyak dikenal orang. Ada kampung-kampung yang jarang muncul dalam berita. Ada masyarakat yang harus berjalan berhari-hari untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Tetapi di tempat-tempat seperti itulah kita belajar bahwa setiap kehidupan memiliki nilai yang tidak ternilai. Di tempat di mana fasilitas terbatas, jarak begitu jauh, dan tenaga kesehatan sangat sedikit, satu nyawa menjadi begitu berarti.

 

Ladang Itu Luas

Kepada setiap murid Kristus, dengarlah… “Persembahkanlah masa mudamu sebagai buah sulung. Betapa indah kedatangan mereka yang membawa kabar baik.” Kristus datang untuk mengajar dan menyembuhkan. Dan hari ini, Ia juga memanggil kita untuk melakukan hal yang sama. Bukan hanya di kota-kota besar. Tetapi juga di pedalaman. Melayani mereka yang terlupakan. Melayani mereka yang tak terjangkau. Melayani di tempat di mana satu nyawa sangat berarti.

Sebab ladang itu luas. Dan Tuhan sedang mencari pekerja-Nya. Mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Apakah ada kebutuhan di sana?” Kita sudah tahu jawabannya. Pertanyaannya adalah: “Siapa yang bersedia pergi?”

Dan mungkin, seperti jawaban yang pernah saya berikan, kita pun dapat berkata:

“Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.”

Comments


Hubungi Kami
Dukung Kami

Bagi yang tergerak untuk mendukung, donasi dapat disalurkan melalui

BCA 106 999 5550 a/n Yayasan Perkantas

Hai Samareaders,

Ada yang bisa kami bantu?

Subject
download-jukebox-bg-removed.png

Media Samaritan merupakan media publikasi naungan Perkantas Medis Nasional dan Perkantas Nasional yang hadir untuk memperlengkapi Tenaga Kesehatan Kristen di Indonesia untuk menghidupi dan menyuarakan Kebenaran.

© 2026 Samaritan PMdN. Hak cipta dilindungi.

bottom of page