top of page
Subscribe
Instagram
Facebook
Donation

Puskesmas: Batu Loncatan atau Ladang Panggilan?


Saya pernah bertanya kepada seorang dokter yang sedang menjalani masa internship tentang rencananya setelah lulus. Ia menjawab, “Saya sedang memikirkan mau ambil spesialis apa ke depannya.” Lalu saya menanyakan pendapatnya tentang bekerja di Puskesmas. Jawabannya membuat saya terdiam cukup lama. Menurutnya, saat ini hampir tidak ada dokter yang benar-benar bercita-cita menjadikan puskesmas sebagai karier. Puskesmas dianggap tak punya masa depan, hanya sekadar tempat persinggahan sementara sebelum karier “yang sesungguhnya” dimulai di rumah sakit besar atau setelah meraih gelar spesialis.


Begitulah realita dunia medis kita hari ini. Ada narasi yang sudah lama terbentuk: bahwa keberhasilan karier seorang dokter diukur dari seberapa besar rumah sakit tempat ia bekerja, seberapa banyak gelar yang ia sandang, dan seberapa ternama institusi tempat ia bekerja. Di tengah kemilau dunia kesehatan yang berpusat di kota-kota besar, puskesmas sering kali dipandang sebelah mata. Ia menjadi anak tiri dalam sistem, tempat yang jarang disebut dalam seminar kedokteran, jarang dilirik dalam pameran karir, bahkan cenderung dijadikan pilihan terakhir. Atau lebih sering disebut sebagai tempat sementara bagi dokter baru atau sekadar batu loncatan sebelum "karir yang sesungguhnya" dimulai.


Namun, apakah benar bagi seorang dokter kristen, puskesmas hanya sekadar stasiun sementara dalam perjalanan panjang karir seorang dokter? Atau justru merupakan medan pelayanan bagi mereka yang terpanggil untuk menyentuh hidup masyarakat?


Puskesmas: Mengalami, Menggumuli, Meyakini

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, puskesmas merupakan tempat mereka pertama kali bertemu dengan sistem kesehatan. Bagi seorang dokter, disanalah kita belajar mengenai berbagai hal mulai dari layanan yang paling dasar, berjumpa dengan beragam penyakit sekaligus mengenal berbagai karakter dan latar belakang masyarakat. Puskesmas bukan sekadar tempat mengobati penyakit, tapi pusat kehidupan masyarakat dimana tenaga medis dapat membangun relasi yang kuat dan berkelanjutan dengan pasien dan masyarakat. Walaupun terkadang, semua ini dilakukan dalam keterbatasan fasilitas dan sumber daya.


Perjalanan saya untuk bisa melihat ini semua tidaklah instan. Pergumulan yang cukup panjang bahkan di awal karir saya sebagai dokter gigi, tidak pernah terbayangkan bahwa saya akan bekerja di Puskesmas. Tahun 2013 saya memulai praktik di sebuah klinik gigi swasta, lalu pada tahun 2015–2017 menjadi dokter gigi PTT di salah satu Puskesmas di NTT. Setelah itu, saya sempat kembali ke kota dan bekerja di rumah sakit swasta. Tiga tempat berbeda, tiga pengalaman yang justru mengantar saya semakin yakin ke mana Tuhan memanggil saya. 


Profesi dokter gigi sering dianggap sebagai pelayanan untuk kalangan atas karena biaya layanan yang relatif cukup mahal. Dalam perjalanan saya di klinik, rumah sakit, dan puskesmas, saya bertemu dengan masyarakat yang berbeda-beda. Hari demi hari,  pertemuan dengan pasien, menumbuhkan beban yang lebih spesifik, yakni melayani masyarakat menengah ke bawah, dan beban pelayanan tersebut akan lebih strategis dilakukan jika saya bekerja di puskesmas. Hal itu yang semakin meneguhkan saya akan panggilan ini: dokter gigi puskesmas.


Puskesmas:  Pelayanan Primer bagi Masyarakat

Jumlah puskesmas terus bertambah dari tahun ke tahun, dan hampir semuanya sudah terdaftar dalam sistem BPJS.1,2 Ini artinya, puskesmas menjadi pintu pertama bagi jutaan peserta JKN, terutama mereka yang masuk dalam kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI), yang bahkan membayar iuran saja tidak mampu. Di tengah fakta ini, saya semakin menyadari bahwa Puskesmas bukan sekadar institusi pelayanan kesehatan, melainkan representasi kehadiran negara dan lebih lagi, kesempatan pelayanan yang sering kali menjadi satu-satunya harapan mereka yang tak mampu menjangkau layanan kesehatan swasta atau rumah sakit besar. 

“If imagining our health system was a tree, primary health care would be its roots. Without strong roots, the tree cannot grow, let alone blossom… At its heart, primary health care is about the people… who remain with you throughout your life.”  Dr. Hans Kluge, WHO Regional Director for Europe

Sayangnya, tidak sedikit juga masyarakat yang memiliki pengalaman buruk dengan puskesmas. Ada anak yang tertusuk paku dan ditolak dengan alasan “sudah tutup”, padahal masih dalam jam operasional.3 Ada ibu yang ditolak berobat karena tidak membawa KTP, meskipun prosedur menyatakan bahwa pasien harus tetap ditangani terlebih dahulu.4 Ada pasien tidak sadar yang diledek sebagai "mabuk" oleh perawat.5 Dan saya juga pernah membaca berita yang sungguh memilukan. Ada bayi datang ke salah satu puskesmas dengan demam tinggi yang sempat kejang, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Namun, saat itu terdapat keterbatasan sarana dan respons yang membuat penanganan kasus tersebut tidak dapat ditangani secara optimal. Pada akhirnya keluarga diarahkan untuk segera membawa anak tersebut ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap.6 Saat melihat berita tersebut, saya tercekat: beginikah realitas yang harus dihadapi oleh mereka yang kecil dan tidak tahu apa-apa?


Kala itu saya bertanya dalam hati, bagaimana jika setiap tenaga kesehatan yang berada di situ dan pihak yang berkepentingan benar-benar menyadari bahwa setiap pasien adalah pribadi yang berharga di hadapan Tuhan? Bagaimana jika perawat, dokter dan pimpinan instansi  adalah seorang yang takut akan Tuhan? Mungkin saja, ujungnya akan berbeda walau hanya dalam bentuk kecil, keluarga mendapatkan informasi yang sejelas-jelasnya.


Di momen itu, saya memahami bahwa mutu pelayanan memang dipengaruhi oleh sistem dan ketersediaan sumber daya, tetapi juga ditentukan oleh hati orang-orang yang ada di dalamnya. Dan hati yang takut akan Tuhan itulah, yang membedakannya.


Puskesmas: Tantangan dan Harapan

Seperti ladang pelayanan lainnya, puskesmas juga tidak lepas dari tantangan. Bekerja di puskesmas pasti bersentuhan dengan dinamika birokrasi dan regulasi yang kompleks, seperti halnya berbagai institusi pelayanan publik lainnya. Ada kalanya aturan terasa berubah-ubah, koordinasi tidak berjalan mulus, dan komunikasi antarpihak tidak selalu sehat. Tidak jarang, idealisme dan realitas sistem berjalan di dua jalur yang berbeda. 

Secara pribadi, saya pun pernah berada di titik-titik lelah itu. Sering sekali saya ingin menyerah. Setiap kali saya merasa kurang sejalan dengan dinamika yang ada, setiap kali upaya yang saya lakukan tidak berjalan seperti yang diharapkan, dan setiap kali nilai yang saya pegang terasa berbenturan dengan praktik yang ada, hati saya gelisah, patah hati bahkan seperti hampir hilang harapan. Setiap kali perasaan tersebut datang,  keinginan untuk resign juga datang bersamaan.

	Namun, Tuhan selalu menghadirkan alasan untuk saya tetap tinggal. Tuhan menghadirkan pasien untuk mengingatkan saya kembali akan panggilanNya.

Saya pernah melayani seorang remaja yang menangis di ruang praktik karena mengingat bagaimana ayahnya harus mencari pinjaman untuk membayar biaya pencabutan gigi di praktik dokter gigi swasta. Saya pernah mendengar pasien yang berkali-kali mengucap terima kasih karena saya menyapanya dengan ramah dan memberi waktu mendengarkan ketakutannya, hal yang menurutnya adalah barang mewah untuk didapatkannya di puskesmas. Saya pernah menemani seorang remaja perempuan yang kehilangan harapan karena divonis penyakit yang cukup serius. Di tengah kebingungannya, saya membagikan pengharapan akan hidup. Serta cerita-cerita pasien lainnya yang membuat saya kembali berpikir dan diteguhkan. Menjadi dokter gigi puskesmas bukan sekedar profesi tapi panggilan untuk menyaksikan Tuhan bagi hidup orang lain.


Pertemuan-pertemuan ini mengingatkan saya bahwa saya tidak berada di tempat yang salah. Bahwa menikmati Dia melalui pasien-pasien yang saya temui di puskesmas menjadi alasan kuat bagi saya untuk berada di Puskesmas.  Sambil mendoakan pasien tersebut, sambil Tuhan berkata, “Inilah masyarakat yang akan kau temui, haruskah mereka bertemu dengan dokter lain?” Tentulah kecil kemungkinan untuk saya dapat bertemu dengan pasien-pasien tersebut jika saya tidak bekerja di puskesmas. Lalu, bagaimana saya bisa berpaling dari mereka?


Iblis dengan segala cara akan terus menggoda kita bahkan dengan cara yang terasa begitu masuk akal (2 Korintus 11:14) dan jika kita tidak mengikuti dinamika yang berjalan, dunia akan melabeli kita tidak memiliki kasih, tidak bersimpatik pada yang lain. Untuk tetap taat dan tidak mengikuti dunia ini, pastilah tidak mudah karena akan ada yang kita korbankan. Godaan untuk membiarkan saja dinamika tersebut tanpa ingin memperbaikinya juga cukup besar, karena kita akan merasa bahwa apa yang kita lakukan seorang diri saja tidak akan berdampak apapun. Tapi nilai-nilai kristiani yang kita pegang dan hati yang mau terus melekat padaNya serta pertolongan teman-teman di dalam komunitas kristen (Galatia 6:2) akan menolong kita untuk terus belajar melakukan apa yang benar bagiNya walau harus jatuh bangun, walau terkadang rasanya doa kita tidak terjawab dan harapan terasa amat jauh. Namun, teruslah berdoa (1 Tesalonika 5:17) dan bekerja keras (Galatia 6:9) sehingga di tengah kesulitan tersebut pun, kita akan dipuaskan oleh Sang Sumber Hidup.


Saya tidak tahu sampai kapan saya akan di puskesmas. Apakah seumur hidup saya? Atau Tuhan percayakan pelayanan yang mungkin berbeda. Namun, satu hal yang saya ketahui adalah bahwa Ia akan terus menemani (Matius 28:20) dan memberikan kekuatan (Filipi 4:13) untuk mengerjakan apapun dan dimanapun sesuai kehendak-Nya.


Mungkin tidak semua orang dipanggil ke tempat ini (Puskesmas), tapi jika kamu adalah salah satunya, mari terus berdoa dan bergumul. Puskesmas-puskesmas di Indonesia sangat membutuhkan dokter dan dokter gigi kristen yang takut akan Tuhan, yang memberikan pelayanan terbaik tanpa membedakan. Walau dunia anggap ini hanyalah pekerjaan kecil, tapi di mata-Nya, sangatlah berharga. 


Sumber :


/kb

Comments


Hubungi Kami

Dapatkan update artikel SAMARITAN terbaru yang dikirimkan langsung ke email Anda.

Daftar menjadi Samareaders sekarang!

Instagram
Facebook
Media Samaritan
Media Samaritan

 Media Samaritan 2022

bottom of page