top of page
Subscribe
Instagram
Facebook
Donation

Resensi Buku: Perjalanan Berantakan namun Penuh Anugerah dari Pekerja Profesional menjadi Ibu Rumah Tangga

Detoured: The Messy, Grace-Filled Journey from Working Professional to Stay-at-Home Mom by Jen Babakhan. Harvest House Publishers, 2019. Genre: Christian, Parenting, Nonfiksi.
Detoured: The Messy, Grace-Filled Journey from Working Professional to Stay-at-Home Mom by Jen Babakhan. Harvest House Publishers, 2019. Genre: Christian, Parenting, Nonfiksi.

Bagi banyak perempuan berlatar belakang medis, keputusan untuk tinggal di rumah bersama anak bukanlah hal mudah karena menyinggung identitas dan rasa “berguna”. Di musim ketika hidup terasa berbelok dari rencana semula, Detoured hadir sebagai refleksi jujur bahwa arah baru ini bukanlah kemunduran, melainkan cara Tuhan mengarahkan ulang tujuan, panggilan, dan makna hidup seorang ibu.


Di bagian awal, buku ini menggugah satu pemikiran penting: “having it all isn’t the goal”. Kita sering mengejar pengakuan, pencapaian, atau validasi dari dunia luar namun pada akhirnya, hanya Kristus yang mampu memenuhi jiwa kita yang membutuhkanNya. Di tengah keputusan besar—seperti meninggalkan karir untuk hadir penuh bagi anak—muncul perasaan yang campur aduk: kuatir, lega, bahkan excited. Justru di situlah iman ibu diuji: berani percaya bahwa Kristus cukup, bahkan untuk kebutuhan finansial dan masa depan.


Salah satu kekuatan buku ini adalah kejujurannya. Ia tidak memoles motherhood menjadi sesuatu yang manis tanpa beban. Justru sebaliknya—ia memberi ruang untuk mengakui bahwa ini tidak mudah: melepaskan mimpi, menghadapi kehilangan identitas, hingga pergumulan harga diri tanpa “titel” adalah bagian nyata dari perjalanan ini. Namun di tengah semua itu, ada kebenaran yang menenangkan: identitas kita tidak pernah ditentukan oleh profesi kita. Baik mengganti popok maupun melakukan operasi besar—kita tetap milik Kristus, dan itu cukup.


Sebagai tenaga medis (atau yang pernah ada di dunia itu), kita terbiasa dengan hal-hal besar: menyelamatkan nyawa dan membuat keputusan penting bagi hidup orang lain. Tapi Detoured mengajak kita melihat ulang hal-hal kecil—membereskan mainan, menemani anak belajar, hadir secara emosional, melayani keluarga—bukan sekadar tugas domestik, tetapi tanggung jawab kudus yang bernilai kekal. Di sinilah perspektif diubah: dari rutinitas yang melelahkan menjadi ibadah yang bermakna.


Buku ini juga jujur soal kesepian yang tak jarang dialami ibu rumah tangga. Transisi ke rumah seringkali membuat relasi sosial berubah, bahkan hilang. Ada rasa “tidak terlihat”, apalagi ketika inner circle masih aktif bekerja di luar. Tapi di sini kita diingatkan bahwa Tuhan Allah adalah El Roi—Dia yang melihat. Bahkan air mata dan rasa kehilangan pun tidak sia-sia; semuanya memiliki tempat dalam rencana-Nya.


Hal lain yang cukup melegakan yang disampaikan dalam buku ini adalah pengingat bahwa kita tetap boleh punya ruang untuk diri sendiri. Menjadi ibu bukan berarti kehilangan diri. Justru, saat kita merawat jiwa kita—entah lewat menulis, membaca, atau sekadar duduk diam dengan Tuhan—kita jadi bisa memberi dari hati yang penuh, bukan kosong.


Bagi para ibu—terutama yang sedang berada di persimpangan antara panggilan keluarga dan impian pribadi—buku ini terasa seperti teman seperjalanan. Ia tidak memberi jawaban instan, tetapi menawarkan sesuatu yang lebih dalam: pengharapan, kejujuran, dan undangan untuk kembali menemukan identitas sejati hanya di dalam Kristus.


Pada akhirnya, Detoured bukan buku tentang berhenti berkarya atau alih profesi, tapi tentang percaya bahwa musim ini, meski terasa lambat atau “tidak produktif” di mata dunia, sebenarnya penuh makna di mata Tuhan. Dan mungkin, seperti yang terasa dari refleksi pribadi dalam perjalanan ini: bahwa semua yang kita lakukan bagi anak-anak kita hari ini, meski tampak kecil dan tak terlihat, adalah investasi kekal yang tak ternilai.


Comments


Cari Artikel Menarik Lainnya melalui Kategori di Bawah Ini...

Hubungi Kami
bottom of page