Akar Segala Kejatuhan: Keinginan Daging, Mata dan Keangkuhan Hidup (Bagian 1)
- dr. Maria Irawaty Simanjuntak, SpPD-KGH, KIC
- Mar 25
- 5 min read

Banyak orang merasa heran dan cenderung menghakimi ketika seorang anak Tuhan jatuh ke dalam dosa. Kita seolah lupa bahwa sejak manusia pertama, Iblis selalu berusaha menjatuhkan manusia. Diawali oleh Adam dan Hawa, kemudian dari generasi ke generasi, manusia terus mengalami kegagalan. Namun, tidak demikian dengan Yesus Kristus. Yesus tidak jatuh ke dalam pencobaan Iblis.
Markus mencatat bahwa peristiwa pencobaan ini terjadi segera setelah Yesus dibaptis oleh Yohanes. Yesus dipimpin oleh Roh ke padang gurun dan tinggal di sana selama empat puluh hari. Masa berpuasa ini merupakan persiapan bagi Yesus sebelum memulai karya pelayanan-Nya sebagai manusia. Lukas, Matius, dan Markus sepakat bahwa setelah masa pencobaan inilah, Yesus memulai pelayanan-Nya. Peristiwa di sinagoge saat Yesus membaca Kitab Yesaya 61:1—yang dikenal sebagai Manifesto Nazaret—terjadi tepat setelah pencobaan di padang gurun tersebut.
Di padang gurun, selain berpuasa, Yesus juga dicobai oleh Iblis (Markus 1:12-13). Matius menuliskan dengan jelas bahwa Roh-lah yang membawa Yesus ke padang gurun untuk dicobai (Matius 4:1). Hal ini menunjukkan bahwa pencobaan di padang gurun merupakan bagian dari rencana Allah yang harus dilewati Yesus. Kata "dicobai" berasal dari kata yang sama dengan "pencobaan" dalam Yakobus 1:12, yaitu Peirazo, yang berarti menguji atau membuktikan, baik dengan maksud baik (memurnikan) maupun maksud buruk (membujuk untuk berdosa).
Mengapa Yesus Harus Dicobai?
Terdapat beberapa alasan teologis, yaitu:
Membuktikan Ketaatan-Nya sebagai Adam Baru. Yesus harus menunjukkan ketaatan yang sempurna untuk membawa pembenaran bagi manusia. Rasul Paulus menulis: "Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar." (Roma 5:19).
Memperlihatkan Kemanusiaan-Nya yang Sejati. Dengan mengalami pencobaan, Yesus menunjukkan bahwa Dia sepenuhnya manusia yang dapat merasakan pencobaan, hanya saja Dia tidak berbuat dosa (Ibrani 4:15).
Memberikan Teladan dalam Menghadapi Godaan. Para murid, khususnya Matius dan Markus, tidak menyaksikan langsung peristiwa ini. Catatan ini ada karena Yesus menceritakannya kepada para murid agar menjadi teladan bagi orang percaya bagaimana menghadapi cobaan.
Menggenapi Sejarah Israel. Peristiwa ini mengingatkan tentang perjalanan bangsa Israel di padang gurun selama 40 tahun menuju Tanah Perjanjian. Namun, berbeda dengan bangsa Israel yang gagal, Yesus menang melawan pencobaan dari Iblis.
Tiga Tipu Muslihat Iblis
Iblis mencoba menjatuhkan Yesus melalui tiga hal:
Mengubah batu menjadi roti
Menantang validasi jati diri: Meminta Yesus menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah demi membuktikan status-Nya sebagai Anak Allah.
Menawarkan kuasa dunia: Memperlihatkan keseluruhan kerajaan dunia dan menjanjikan seluruh kerajaan dunia tersebut asalkan Yesus mau menyembah Iblis.
Jika kita melihat kembali ke Taman Eden, Adam dan Hawa jatuh karena gagal dalam tiga pola yang serupa:
Buah itu baik untuk dimakan.
Buah itu sedap kelihatannya.
Menarik hati karena memberi pengertian seperti Allah.
Pencobaan Yesus dan alasan kejatuhan manusia pertama ini sesuai dengan apa yang disebut rasul Yohanes sebagai mengasihi dunia yaitu: keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. (1 Yohanes 2:15-17)
Pencobaan I: Keinginan Daging
Puasa Supranatural: Musa, Elia, dan Yesus
Selain Yesus, berpuasa total selama 40 hari 40 malam hanya pernah dilakukan oleh Musa di Gunung Sinai dan Elia saat mendaki Gunung Horeb. Secara fisik, hampir tidak mungkin seseorang bertahan hidup tanpa makan dan minum selama itu. Dapat disimpulkan bahwa Yesus, Musa, dan Elia melakukan puasa tersebut dengan kekuatan supranatural.
Musa melakukannya saat berada dalam hadirat Allah di Gunung Sinai, begitu pula Elia mampu melakukannya setelah Allah memberinya makan dan minum (1 Raja-raja 19:8). Dengan membandingkan pengalaman Musa dan Elia, kita dapat menyimpulkan bahwa Yesus berpuasa sebagai bentuk pemusatan konsentrasi penuh pada Allah sebagai persiapan memasuki masa pelayanan-Nya.
Momen Pencobaan: Sunteleo
Lukas mencatat: "Setelah waktu itu Yesus merasa lapar." Kata "setelah waktu itu" menggunakan kata Yunani Sunteleo, yang berarti mengakhiri atau menyelesaikan (bandingkan dengan Matius 4:2). Iblis mencobai-Nya tepat ketika Yesus telah menyelesaikan masa puasanya dan merasa lapar. Sebagai manusia seutuhnya, adalah wajar bagi Yesus untuk mencari makanan saat lapar. Secara kuasa pun, bukanlah hal sulit bagi Yesus untuk mengubah batu menjadi roti, dan Iblis tahu benar siapa Yesus.
Mengapa mengubah batu menjadi roti dianggap salah pada saat itu? Letak kesalahannya adalah pada inisiatornya. Perintah untuk mengubah batu menjadi roti datang dari Iblis, bukan dari Bapa. Jika Yesus melakukannya, Ia akan bertindak di luar kehendak Allah demi memuaskan keinginan diri sendiri atas desakan Iblis.
Karena itulah Yesus menolak dan menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Kutipan ini diambil dari Ulangan 8:3, saat Musa menceritakan bagaimana Allah membiarkan bangsa Israel lapar di padang gurun lalu memberi mereka Manna, makanan yang tidak mereka kenal sebelumnya.
Manusia pertama jatuh ketika melihat bahwa buah pohon itu "baik untuk dimakan". Mereka merasa tidak puas dengan segala sesuatu yang telah Allah sediakan secara melimpah untuk mereka makan. (Kejadian 2:16). Dari sini kita belajar bahwa pemenuhan kebutuhan apa pun dalam hidup manusia haruslah berdasarkan inisiasi Allah, bukan pihak lain. Kata "hidup" di sini berasal dari kata Zao, yang merujuk pada kehidupan secara fisik. Apa pun yang kita lakukan, pikirkan, dan capai seharusnya bersumber dari Allah sebagai Sang Inisiator.
Relevansi bagi Kita
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali tanpa sadar kita berfokus pada materi (makanan, pakaian, uang, harta, tabungan dan lainnya) sebagai satu-satunya sumber kehidupan. Manusia sering lupa bahwa Allah adalah sumber dan pemelihara kehidupan kita. Terdapat ungkapan, "uang bukan segalanya, tetapi segala sesuatu membutuhkan uang." Pandangan ini sering kali mengaburkan pandangan kita terhadap Allah. Padahal, Dialah sumber hidup sejati yang mampu memenuhi kebutuhan kita dengan cara-Nya.
Pencobaan II: Keangkuhan Hidup
Pencobaan kedua ini dimulai Iblis dengan kalimat: "Jika Engkau Anak Allah." Seolah-olah Iblis sedang menantang Yesus untuk membuktikan kebenaran status-Nya sebagai Anak Allah dengan mengutip Mazmur 91:11-12. Sebagai manusia yang baru akan memulai masa pelayanan-Nya, tantangan untuk mendapatkan validasi atau pengakuan eksternal ini merupakan godaan yang sangat besar.
Ketika godaan serupa dialami manusia pertama dalam Kejadian 3, mereka gagal. Hawa tergoda oleh bujukan ular: "Waktu kamu memakannya matamu akan terbuka dan kamu menjadi seperti Allah." Perempuan itu menganggap buah tersebut menarik hati karena "memberi pengertian". Jika Adam dan Hawa gagal, tidak demikian halnya dengan Yesus. Ia menolaknya dengan tegas: "Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" Dari jawaban Yesus ini, kita belajar bahwa status dan harga diri kita di hadapan Allah tidak memerlukan validasi dari pihak mana pun selain dari Allah sendiri.
Jati Diri di Tengah Tuntutan Dunia
Dunia tempat kita tinggal selalu menuntut validasi jati diri. Nilai seseorang sering kali dihargai berdasarkan standar adat dan budaya tertentu:
Budaya Masyarakat Timur dikenal dengan nilai budaya Honour and shame. Kita sejak kecil diajar untuk memvalidasi diri kita dengan nilai-nilai kehormatan dalam masyarakat seperti harta, nama besar, kekayaan, serta menghindari hal yang berupa aib seperti kemiskinan, perbuatan tidak sesuai adat, tidak memiliki keturunan, dan banyak hal lainnya. Di lain pihak, masyarakat Barat mengejar validasi jati diri melalui ketaatan pada tuntutan moral dalam nurani pribadi. Sebagai manusia kita memiliki kecenderungan mengikuti tuntutan dunia untuk mendapatkan validasi jati diri kita sesuai dengan nilai budaya di mana kita dibesarkan dan tinggal. Manusia berusaha mengejar kekayaan, kompetensi tertinggi dalam keilmuan, kekuasaan, jabatan dan pengaruh untuk mendapatkan validasi tersebut.
Berharga di hadapan Kristus
Tanpa sadar, kita sering terjebak dalam tipu daya Iblis yang mengalihkan fokus kita dari jati diri yang sesungguhnya. Di dalam Kristus, kita adalah umat kepunyaan-Nya, berharga, dan mulia. Sama seperti Kristus, validasi diri kita seharusnya diperoleh dari Allah, bukan dari pemenuhan nilai-nilai duniawi.
/kb






Comments