Akar Segala Kejatuhan: Keinginan Daging, Mata dan Keangkuhan Hidup (Bagian 2)
- dr. Maria Irawaty Simanjuntak, SpPD-KGH, KIC
- 2 days ago
- 4 min read

Pencobaan III: Keinginan Mata
Selanjutnya, Iblis mencobai Yesus dengan memperlihatkan seluruh kerajaan dunia dan berjanji akan memberikan semuanya jika Yesus mau menyembah Iblis. Lukas menyusun peristiwa ini sebagai pencobaan kedua. Sebagai seorang tabib, kemungkinan ia mengurutkan pencobaan ini sebagai kelanjutan langsung dari keinginan daging (hal-hal yang bersifat indrawi).
Iblis, si "bapak segala dusta" (Yohanes 8:44), kembali melancarkan tipu dayanya dengan berpura-pura seolah dialah pemilik mutlak dunia beserta isinya. Memang benar Yesus menyebut Iblis sebagai penguasa dunia (Yohanes 12:31) dan Paulus menyebutnya sebagai penguasa kerajaan angkasa (Efesus 2:2). Namun, kekuasaan Iblis terbatas pada wilayah kejahatan dan periode tertentu saja; ia bukanlah pemilik mutlak, karena seisi dunia adalah milik Allah.
Tipu daya serupa dilakukan kepada Adam dan Hawa. Iblis mengatakan bahwa mereka tidak akan mati, padahal Allah dengan tegas menyatakan mereka akan mati jika memakan buah itu. Hawa melihat buah yang "sedap kelihatannya" dan jatuh ke dalam keinginan mata yang dikemas dalam kebohongan Iblis.
Kematian yang Allah maksudkan adalah kematian rohani (pemisahan dari Allah), namun Iblis menyelewengkannya dengan mengarahkan pemahaman pada kematian fisik saja. Fokus Iblis selalu pada hal-hal yang bersifat sementara, sedangkan fokus Allah adalah kekekalan. Kerap kali dalam hidup, kita tertipu oleh bujukan iblis karena mengalihkan fokus pada pemuasan hasrat yang bersifat sementara, bukan pada hal yang kekal. Inilah hakikat keinginan mata. Kebanggaan memiliki mobil mewah, kesenangan seksual, atau tumpukan uang—semua itu pada akhirnya bergantung pada apa yang terlihat. Ketika hal-hal tersebut tidak lagi tampak di hadapan mata, rasa puas yang semula ada pun perlahan menghilang.
Dalam pencobaan ini, Yesus menegaskan: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"
Dua kata kunci yang sangat mendalam adalah menyembah (proskuneo) yang secara harfiah berarti sikap tubuh yang membungkuk hingga ke tanah, menggambarkan ketundukan total seperti seekor anjing yang menjilati tangan tuannya. Hal ini menunjukkan sikap hati yang tunduk sepenuhnya kepada Allah. Kata lainnya adalah berbakti (Latreuo) yang berarti melayani atau mengabdi (to serve). Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menyerahkan hidupnya untuk melayani tuannya.
Menyembah dan berbakti berarti secara sikap dan tindakan kita sepenuhnya tunduk kepada Allah. Tidak ada agenda pribadi selain agenda Allah. Fokus pada agenda Bapa inilah yang membuat Yesus tidak tergoda oleh tawaran Iblis.
Pertanyaan reflektif bagi kita adalah: Kepada siapa kita tunduk dan agenda siapa yang kita kerjakan dalam hidup ini? Saat menentukan masa depan pendidikan, saat memilih tempat berkarir dan saat menetapkan prioritas antara keluarga, karier, dan pelayanan, kepada siapa fokus kita tertuju?Tidak Hanya di Padang Gurun
Setelah gagal dengan pencobaan-pencobaan tersebut, Iblis mundur bukan karena menyerah, melainkan untuk menunggu "waktu yang baik" (Lukas 4:13). Rasul Petrus menuliskan dalam 1 Petrus 5:8, bahwa Iblis seperti singa yang mengaum-aum, berjalan keliling mencari orang yang dapat ditelannya.
Injil mencatat beberapa kali Iblis berusaha menggagalkan rencana Allah melalui Yesus. Salah satunya terekam dalam Markus 8:33, ketika Yesus menegur Petrus dengan keras: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Teguran ini terjadi karena Petrus mencoba menghalangi jalan penderitaan yang harus ditempuh Yesus. Bahkan saat di atas kayu salib, kalimat Iblis: "Jika Engkau Anak Allah" kembali terulang melalui ejekan para prajurit dan bahkan penjahat yang tergantung di sebelah Yesus sebagai upaya terakhir untuk menggoyahkan ketaatan-Nya.
Pencobaan di Era Post Modern
Jika terhadap Yesus saja Iblis terus berusaha menggagalkan rencana Allah, apalagi dalam hidup kita. Sampai hari ini, si bapa pendusta terus melancarkan tipu dayanya. Sebagai anak-anak Allah yang dipakai untuk mengerjakan misi-Nya, kita pun tidak akan lepas dari incaran dan upaya penggagalan oleh Iblis.
Meski zaman telah berubah, hakikat godaannya tetap sama. Di era kontemporer ini—yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi serta perubahan sosial-politik yang sangat cepat—wajah godaan tersebut bertransformasi:
Keinginan Daging: Masa kini mungkin bukan lagi soal roti secara harfiah. Godaan ini muncul dalam bentuk pengejaran healing yang berlebihan, obsesi pada mental health tanpa melibatkan Tuhan, atau pengejaran stabilitas finansial yang membuat manusia menjadi egosentris. Fokus hidup beralih sepenuhnya pada pemuasan diri (self-gratification).
Keinginan Mata: Di era digital, pandangan mata seolah tidak berbatas. Segala sesuatu ada dalam genggaman tangan. Dunia memanfaatkan teknologi ini untuk menjatuhkan manusia pada hedonisme, pornografi, dosa seksual, dan konsumerisme. Kita tidak lagi menyembah dan berbakti kepada Allah, melainkan berbakti pada kesenangan yang sementara.
Keangkuhan Hidup: Validasi jati diri kini melampaui batas budaya Barat dan Timur. Akibat kemajuan teknologi, manusia hidup semakin individualis (soliter) secara fisik namun terhubung secara siber. Budaya komunitas yang dulu ditentukan oleh geografis kini digantikan oleh komunitas minat di ruang digital, di mana "pencitraan" dan pengakuan manusia sering kali menjadi berhala baru.
Kemenangan di Dalam Kristus
Menang terhadap godaan di masa kini mungkin terlihat sulit, namun kemenangan Yesus adalah bukti bahwa kita pun mampu menang atas dunia. Kuncinya adalah terus berjaga-jaga dan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (Efesus 6:10-18). Mari meneladani cara Yesus mematahkan tipu daya Iblis dengan selalu berpijak pada Firman Tuhan: "Ada tertulis." Sangat penting bagi kita untuk terus belajar, mengenali, merenungkan, dan menghidupi Firman Tuhan setiap hari.
"Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (1 Yohanes 2:15-17)
/kb






Comments