top of page

Pesan Menteri Kesehatan di Hari Kesehatan Nasional



Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-58 Tahun 2022 bertemakan “Bangkit Indonesiaku, Sehat Negeriku” yang menggambarkan bangkitnya semangat dan optimisme seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam menghadapi masa pandemi COVID-19. Dengan kebersamaan, bahu membahu, semangat gotong royong, masyarakat Indonesia akan dapat kembali beraktivitas dan produktif agar Indonesia juga kembali bangkit dan kembali sehat.


Dalam pidatonya, Bapak Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa Indonesia termasuk lima besar negara dengan vaksinasi terbanyak di dunia, dengan total 442 juta dosis vaksin telah disuntikkan sampai dengan Oktober 2022. Dengan ini bisa dikatakan bahwa Indonesia termasuk negara yang mampu menghadapi krisis global dan berhasil mengendalikan pandemi COVID-19. Meski begitu, Menkes juga berpesan agar kita tidak boleh lengah karena masih ditemukan adanya kenaikan kasus COVID-19 yang mana data kematian menunjukkan 4 dari 5 pasien meninggal belum divaksinasi booster. Oleh sebab itu, Menkes terus menghimbau masyarakat untuk melengkapi vaksinasi COVID-19 dengan booster.


Menkes menyatakan bahwa sebenarnya Pandemi juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk terus berbenah. Saat ini Kemenkes sendiri juga sedang melakukan transformasi sistem kesehatan yang berfokus pada 6 pilar, untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, mandiri, produktif, dan berkeadilan, sekaligus sebagai bentuk kesiapan pemerintah dalam menghadapi masalah kesehatan di masa yang akan datang.


Apa saja keenam pilar tersebut?


Pilar 1

Upaya integrasi dan revitalisasi pelayanan kesehatan primer, termasuk standar jaringan, standar layanan, serta digitalisasi sistem pelaporan. Transformasi pelayanan kesehatan primer harus mendapat perhatian khusus serta investasi kesehatan yang besar, dengan fokus pada upaya promotif dan preventif. Salah satu prioritasnya yaitu melalui penguatan sekitar 1,5 juta kader dan 300.000 Posyandu yang menjadi ujung tombak pemberian layanan kesehatan. Menkes menghimbau juga agar terus membangun gerakan yang mendorong perubahan perilaku masyarakat diikuti dengan dukungan dan peran serta pemerintah daerah beserta seluruh elemen masyarakat untuk mewujudkan pelayanan kesehatan dasar yang mudah diakses oleh seluruh masyarakat.


Pilar 2

Transformasi layanan rujukan. Hal ini bertujuan untuk mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat. Kementerian Kesehatan mengembangkan jejaring layanan rujukan untuk penanganan penyakit katastropik yang menjadi penyebab kematian tinggi dan beban pembiayaan besar, antara lain stroke, kanker, jantung, ginjal, serta kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Pada pilar ini, Menkes menyebutkan akan memperkuat sisi supply melalui peningkatan kapasitas infrastruktur dan kompetensi SDM dalam menyediakan layanan kesehatan, sehingga layanan rujukan tersedia dan dapat diakses di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota.


Pilar 3

Transformasi sistem ketahanan kesehatan, percepatan ketahanan farmasi dan alat kesehatan. Hal ini terus dilakukan, agar produk obat, vaksin, dan alat kesehatan dapat diproduksi dari hulu ke hilir dan dimanfaatkan di dalam negeri. Di samping ketersediaan produk farmasi dan alat kesehatan, pemerintah juga mendorong kesiapsiagaan menghadapi krisis kesehatan melalui tenaga cadangan kesehatan. Partisipasi tenaga kesehatan dan non-kesehatan sewaktu-waktu dapat diaktifkan ketika terjadi krisis. Oleh sebab itu, akan dilakukan pendataan tenaga cadangan dan pelatihan untuk dapat melengkapi keterampilan yang diperlukan saat terjadi krisis. Serta melakukan koordinasi dan mobilisasi tenaga cadangan di skala kabupaten/kota, provinsi, maupun nasional dengan cepat dan tepat.


Pilar 4

Transformasi pembiayaan kesehatan untuk memastikan pembiayaan yang cukup, adil, efektif, dan efisien yang dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, mempercepat produksi National Health Account (NHA) untuk kebijakan pembiayaan kesehatan yang lebih berbasis bukti. Kedua, menjaga kualitas layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui reviu tahunan tarif JKN. Ketiga, kendali mutu dan biaya yang berbasis bukti untuk pelayanan kesehatan yang lebih efektif dan efisien melalui peningkatan penerapan Penilaian Teknologi Kesehatan (Health Technology Assessment - HTA). Keempat, memperkuat sinergi pembiayaan kesehatan antara pemerintah pusat, daerah, swasta dan organisasi lainnya melalui Konsolidasi Pembiayaan Kesehatan.


Pilar 5

Transformasi SDM Kesehatan dalam peningkatan jumlah, pemerataan, serta meningkatkan kualitas tenaga kesehatan, untuk memberikan pelayanan kesehatan berkualitas hingga pelosok Indonesia. Dalam hal ini, Menkes menyebutkan target optimis dengan angka ideal dokter 1 banding 1.000 populasi dan pemenuhan nakes di Puskesmas dan RSUD sesuai standar. Beberapa program unggulan tengah dilakukan, yaitu melalui implementasi Academic Health System, pemberian 10.000+ beasiswa bagi dokter, spesialis, dan fellowship, serta peningkatan kualitas melalui pelatihan yang terintegrasi sesuai kebutuhan pelayanan.


Pilar 6.

Transformasi teknologi kesehatan di Indonesia menuju sistem kesehatan yang tangguh dan terintegrasi. Transformasi ini dilakukan salah satunya dengan melakukan integrasi data rekam medis pasien di fasyankes ke dalam satu platform Indonesia Health Services (IHS) yang diberi nama SATUSEHAT. Selain itu juga dilakukan inovasi bioteknologi, yakni Biomedical Genome-Based Science Initiative (BGS-I), untuk menerapkan pengobatan yang lebih personal dan presisi. Menkes menyatakan bahwa Kementerian Kesehatan memulai dengan melakukan 10.000 sekuensing DNA, berbasis penyakit kanker, stroke, genetik, diabetes, dan wellness and beauty. Indonesia nantinya akan membangun bank data dari genomik penduduk Indonesia yang akan terintegrasi dengan data medisnya.


Menkes berharap dengan implementasi keenam pilar tersebut sistem kesehatan Indonesia, bahkan dunia, dapat bertransformasi menjadi sistem kesehatan yang tangguh terhadap krisis kesehatan, termasuk pandemi. Dalam mencapai semua ini, kita semua masih perlu terus berjuang dalam membangun kesehatan Indonesia. Kita perlu memiliki visi yang sama demi mewujudkan transformasi kesehatan di Indonesia. Seperti yang disampaikan juga oleh Menkes dalam pidatonya bahwa kita harus terus mendorong masyarakat untuk terbangunnya gerakan masyarakat hidup bersih dan sehat, melalui konsumsi makanan bergizi seimbang, melakukan aktifitas fisik setiap hari, dan mencuci tangan dengan sabun; mendorong masyarakat untuk memeriksakan kesehatannya secara rutin, baik pemeriksaan ibu hamil, pemantauan tumbuh kembang balita, imunisasi, pemeriksaan penyakit-penyakit sesuai siklus hidup; dan kita juga perlu untuk terus mengembangkan diri dan organisasi dalam kompetensi dan memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat.


Sebagai insan kesehatan Kristiani yang sudah menerima anugerah Kristus, kita juga perlu untuk terus menajamkan dan menyelaraskan visi kita. Siapkah kita untuk menjadi ujung tombak dalam transformasi kesehatan ini? Indonesia membutuhkan transformasi, tidak hanya transformasi, tetapi sebenarnya lebih dari itu, yaitu penebusan Kristus. Mari kita ambil bagian melalui profesi yang kita tekuni saat ini demi terwujudkan transformasi kesehatan di Indonesia. Kalau tidak dimulai dari diri kita, siapa lagi?


PS: Pidato Menkes dapat dilihat melalui situs berikut https://youtu.be/FiTX6K8asnw


/knd

14 views0 comments

Recent Posts

See All
Contact us
bottom of page