top of page
Subscribe
Instagram
Facebook
Donation
Painting of Govert Flinck, Angels Announcing Christ's Birth to the Shepherds.
Painting of Govert Flinck, Angels Announcing Christ's Birth to the Shepherds.

(Doxa Mendahului Eirene : Manifesto Langit di Malam Kudus)


Peristiwa nyanyian malaikat merupakan salah satu momen paling ikonik dalam narasi kelahiran Yesus Kristus. Kisah ini tercatat dalam Injil Lukas 2:8–14, di mana para malaikat, utusan surgawi yang biasanya hadir dalam konteks penghukuman atau pewahyuan ilahi kini muncul untuk memberitakan kabar sukacita besar bagi seluruh bangsa. Inilah momen ketika langit menyentuh bumi. Nyanyian mereka yang kini kita kenal sebagai Gloria in Excelsis Deo, bukanlah sekadar senandung pengantar tidur bagi Sang Bayi. Itu adalah sebuah proklamasi agung: sebuah manifesto ilahi yang memetakan kembali hubungan antara Pencipta dan ciptaan-Nya.


Penerima pertama kabar kelahiran Sang Mesias adalah gembala di padang dekat Betlehem, orang-orang yang justru dipandang rendah dalam masyarakat, mereka dianggap kotor, tidak dapat dipercaya, dan secara sosial terpinggirkan. Namun, justru kepada merekalah berita sukacita untuk dunia disampaikan. Dalam “Christmas: Why the Birth of Jesus Matters”, Timothy Keller menangkap ironi ilahi tersebut dengan jelas:

“Malaikat tidak muncul kepada para imam di Yerusalem atau para pejabat di Roma, tetapi kepada gembala, orang yang dianggap kotor dan tidak layak. Mengapa? Karena kabar baik Natal bukan untuk orang ‘baik’, melainkan untuk mereka yang sadar bahwa mereka membutuhkan anugerah.”

Allah sengaja memilih yang terlupakan untuk menerima kabar yang paling mulia—bukan karena mereka layak, tetapi justru karena mereka tahu betapa kecil dan tak layaknya mereka di mata dunia. Di dalam kerendahan itulah hati mereka terbuka untuk menerima anugerah, dan di sanalah Allah memilih untuk menyatakan kemuliaan-Nya.


Lukas menggambarkan momen pertama kemunculan malaikat dengan momen yang sarat ketegangan: “tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar melingkupi mereka” (Lukas 2:9). Respons para gembala tidak digambarkan sebagai sukacita spontan, melainkan ketakutan yang sangat besar (“mereka sangat ketakutan” – ephybēthēsan phobon megan). Kata Yunani phobos di sini bukan sekadar “takut”, tetapi mengacu pada rasa gentar yang mendalam di hadapan Ilahi; sesuatu yang memicu kesadaran akan ketidaklayakan manusia di hadapan kemuliaan Allah.


Namun, pesan yang disampaikan justru berlawanan dengan rasa takut itu: “Jangan takut!” (Mē phobeisthe!). Dalam bahasa Yunani, kalimat tersebut  bukan larangan biasa, melainkan ajakan yang bersifat transformasional, sebuah perintah ilahi yang sekaligus menenangkan. Kabar itu bukan hanya untuk “umat Israel”, tetapi “bagi seluruh bangsa” (pasin tō laō), menegaskan universalitas Injil.


Lalu, muncullah “pujian multitud malaikat”— yang dalam teks Yunani disebut sebagai plēthos stratias ouraniou (“banyak pasukan surgawi”). Mereka tidak menyanyi dalam pengertian musikal modern, melainkan berseru bersama dalam doksologi surgawi:

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi bagi manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Kalimat tersebut bukan hanya sekadar nyanyian pujian yang megah melainkan juga suatu deklarasi teologis dimana dalam satu nafas, para malaikat menyatukan dua realitas yang tampaknya terpisah: kemuliaan Allah di surga dan damai sejahtera di bumi. Ini mencerminkan inti Injil: Allah yang Mahatinggi tidak tinggal terpisah dari dunia yang jatuh, tetapi masuk ke dalamnya melalui kelahiran seorang Bayi di palungan untuk merestorasi semua ciptaan yang telah rusak karena dosa.


Doxa: Bobot Kemuliaan Allah

Kata pertama yang memecah keheningan malam itu adalah "Kemuliaan". Dalam naskah Yunani, kata yang digunakan adalah Doxa. Istilah ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pujian atau cahaya terang. Dalam tradisi Yahudi yang melatarbelakanginya, konsep kemuliaan (Ibrani: Kabod) berkaitan erat dengan makna "bobot" atau "berat". Ketika malaikat berseru Doxa, mereka sedang memproklamirkan seberapa besar kehormatan, dan reputasi Allah yang tak terhingga. Pesan ini sangat penting karena sering kali makna Natal dipersempit menjadi sekedar perayaan besar di bulan Desember yang berfokus pada keramaian gerejawi, dan kebahagiaan pribadi dan keluarga. Namun, "pasukan" surgawi ini menegaskan bahwa fokus utama dari inkarnasi Kristus adalah Allah itu sendiri.


Kelahiran Yesus di bumi bukan semata-mata untuk membuat manusia merasa nyaman dan aman, tetapi untuk mengembalikan Doxa bagi Bapa yang telah lama diabaikan oleh dunia yang berdosa. Malaikat mengajarkan kita satu prinsip fundamental: Kita tidak akan pernah bisa memahami makna Natal yang sejati jika kita tidak menempatkan Allah pada posisi terbesar dan terpenting dalam hidup kita.


Eirene: Damai di Tengah Kekacauan

Setelah kemuliaan bagi Allah ditegakkan di tempat yang maha tinggi, nyanyian surgawi itu turun menyentuh bumi dengan kalimat yang mengguncang sejarah ”... dan damai sejahtera di bumi”. Kata Yunani yang dipakai di kalimat tersebut adalah ”eirene” yang bukan sekedar istilah untuk ketenangan atau ketiadaan perang. Dalam konteks dunia abad pertama, ungkapan ini mengandung kontras yang radikal. Kekaisaran Romawi, di bawah pemerintahan Kaisar Agustus sedang membanggakan Pax Romana ”damai ala Romawi” yang dipaksakan melalui kekuatan militer, pajak yang menindas dan pedang yang siap menghukum pengkhianat. Damai versi dunia masa itu lahir dari ketakutan dan penaklukan, bukan dari kasih dan pemulihan. Namun, Eirene yang dinyanyikan malaikat di padang Betlehem sama sekali berbeda. Kata ini adalah padanan dari konsep Ibrani ”shalom” yang merupakan sebuah kondisi yang jauh melampaui kedamaian karena senjata atau ketenangan psikologis yang sesaat. Eirene berbicara tentang tatanan ciptaan yang dipulihkan, keadilan yang ditegakan dan hubungan yang direkatkan kembali baik secara vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan sesama manusia. 


Seperti diingatkan Max Lucado dalam Allah Datang Mendekat, damai sejahtera yang dinyanyikan malaikat bukanlah impian dunia tanpa masalah, tetapi juga bahwa Allah telah datang dan tinggal dekat dengan manusia. Bukan di istana mewah Roma, bukan di bait suci yang megah, melainkan di antara jerami dan ternak, di tengah malam yang dingin. Bukan hanya untuk para imam, raja atau orang suci, melainkan untuk gembala yang letih yang  terlupakan dan dianggap tidak layak seperti kita yang juga kadang mengalami kesepian, kecemasan, dan  kegagalan hidup.


Doxa mendahului Eirene

Inilah urutan ilahi yang diajarkan para malaikat di malam Natal: doxa mendahului eirene. Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, lalu diikuti damai sejahtera di bumi. Dunia, di sepanjang sejarahnya, selalu ingin membalik urutan ini. Dunia merindukan eirene: kedamaian, keamanan, harmoni, dan kesejahteraan, tetapi menolak memberikan doxa: kemuliaan, penghormatan, dan terutama otoritas mutlak kepada Allah. Akibatnya, perdamaian yang dibangun manusia sering rapuh, sementara, dan rentan runtuh saat tekanan datang akibat dibangun di atas pasir keinginan diri sendiri, dan bukanlah di atas batu kemuliaan Allah. Ketika kita dengan tulus memuliakan Allah sebagai Tuhan atas segala sesuatu yaitu menempatkan Dia sebagai pusat gravitasi kehidupan kita, maka eirene akan mengalir turun, bukan sebagai hasil usaha kita, melainkan sebagai buah dari penyembahan yang benar. 


Bagi manusia yang berkenan kepada-Nya

Banyak terjemahan Alkitab mengatakan bahwa damai sejahtera diberikan ”bagi manusia yang berkenan kepadaNya”, seolah hanya untuk orang-orang tertentu yang dianggap layak oleh Tuhan. Tetapi, penelitian terhadap naskah Alkitab tertua menunjukan sesuatu yang jauh lebih menakjubkan. Frasa asli pernyataan tersebut dalam bahasa Yunani adalah ”en anthropos eudokias” yang lebih tepat diterjemahkan sebagai ”diantara manusia, Allah menyatakan kerelaan-Nya. Jadi, bukan Allah memberi damai kepada orang yang layak, tetapi Allah sendiri memilih untuk berkenan meskipun manusia tidak layak mendapatkannya. Kelahiran Yesus justru membuktikan bahwa Allah berkenan pada dunia yang memberontak kepada-Nya seperti yang ditulis dalam Yohanes 3:16, ”karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini...”.


Respon Gembala

Seperti diingatkan John Stott, apakah kita mendengar “Nyanyian Malaikat” hanya di setiap bulan Desember, lalu kembali hidup seolah-olah Kristus belum datang. Lihatlah para gembala, mereka tidak hanya terpesona. Alkitab mencatat, mereka segera pergi “dengan cepat” ke Betlehem, menunjukkan respon iman yang aktif. Setelah melihat Bayi Yesus, mereka “menyebarkan kabar” --dari saksi yang tidak diperhitungkan kesaksiannya menjadi saksi dan pewarta pertama dari kelahiran Sang Juruselamat dan “semua orang yang mendengarnya heran”. Bagi Stott, inilah pola iman sejati yaitu bukan sekedar merayakan Natal, tetapi menanggapi kabar damai itu dengan hidup yang diubahkan dan mulut yang berani bersaksi meski dianggap kecil oleh dunia.


Penutup

Pada akhirnya, Natal adalah panggilan untuk menata ulang hidup kita sesuai urutan surgawi: Doxa mendahului Eirene. Mari berhenti mengejar damai sejahtera semu yang ditawarkan dunia, dan mulailah memberikan kemuliaan tertinggi hanya kepada Allah. Sebab hanya ketika Dia bertahta di tempat yang mahatinggi dalam hati kita, damai sejahtera yang sejati akan mengalir memulihkan hidup kita.

Gloria in excelsis Deo, Selamat Merayakan Natal.





Comments


Hubungi Kami

Dapatkan update artikel SAMARITAN terbaru yang dikirimkan langsung ke email Anda.

Daftar menjadi Samareaders sekarang!

Instagram
Facebook
Media Samaritan
Media Samaritan

 Media Samaritan 2022

bottom of page