top of page
Subscribe
Instagram
Facebook
Donation

Nyanyian Zakharia

(Lukas 1:68–79)


Natal tidak diawali dengan sorak sorai tetapi dimulai dengan sunyi. Sebelum para malaikat bernyanyi di padang Efrata, ada seorang imam tua bernama Zakharia yang dibisukan. Zakharia hidup di masa yang berat. Israel berada di bawah penjajahan Romawi, keadilan terasa jauh, dan nubuat seolah berhenti berbicara. Sudah sekitar empat ratus tahun Allah terasa diam sejak nabi Maleakhi. Dalam konteks itulah malaikat Gabriel datang membawa kabar yang terlalu besar untuk dipercaya: Elisabet, istrinya yang mandul dan sudah lanjut usia, akan melahirkan seorang anak yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Zakharia ragu, dan keraguan itu membungkamnya.


Nyanyian Zakharia, yang dikenal sebagai Benedictus, bukanlah pujian yang lahir dari hidup yang mudah. Nyanyian ini keluar dari mulut seorang imam yang pernah direnggut suaranya, seorang ayah yang menanti dalam diam, dan seorang hamba Tuhan yang belajar kembali mempercayai janji Allah. Karena itu, nyanyian ini bukan hanya indah, tetapi juga menyiratkan makna yang dalam. Dari perikop ini, setidaknya ada tiga hal penting yang dapat kita gali, renungkan, dan hidupi pada masa kini.


1. Allah adalah Allah yang Datang dan Setia Menggenapi JanjiNya (Lukas 1:68–73)

Zakharia membuka nyanyiannya dengan deklarasi iman: “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia telah melawat umat-Nya dan membawa kelepasan.” Kata “melawat” mengungkapkan Allah yang aktif datang, bukan Allah yang jauh dan pasif. Dalam iman Kristen, keselamatan selalu dimulai dari inisiatif Allah. Manusia tidak menaiki tangga menuju Allah; justru Allah yang turun ke dalam sejarah manusia.


Zakharia lalu menempatkan peristiwa kelahiran ini dalam garis panjang sejarah perjanjian kepada Daud dan Abraham. Dengan demikian, ia menegaskan bahwa karya Allah tidak pernah terputus oleh waktu, atau kegagalan manusia, juga dalam keheningan panjang. Bahkan ketika janji itu tampak tertunda, Allah tetap setia.


Iman Kristen berakar pada Allah yang konsisten dengan firman-Nya. Keselamatan bukan kejutan tanpa konteks, melainkan penggenapan janji yang telah diucapkan sejak lama. Natal bukan sentimentalitas, tetapi peristiwa teologis tentang kesetiaan Allah. Nyanyian ini mengajak kita belajar menantikan dengan iman. Dalam dunia yang terbiasa dengan kecepatan dan hasil instan, kita sering tergoda mengukur kesetiaan Allah dari seberapa cepat doa dijawab. Nyanyian Zakharia menegur kita untuk percaya bahwa diamnya Allah bukanlah absennya Allah. Ia tetap datang, tepat pada waktu-Nya


2. Keselamatan Membebaskan Kita untuk Hidup Tanpa Takut dan Beribadah dengan Utuh (Lukas 1:74–75)

Zakharia menegaskan: “supaya kita dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran seumur hidup kita.” Keselamatan tidak berhenti pada pembebasan dari musuh, tetapi pemulihan relasi manusia dengan Allah.


Takut adalah tema yang sangat manusiawi, takut akan masa depan, takut gagal, takut kehilangan, bahkan takut kepada Allah sendiri. Dalam nyanyian ini, keselamatan dimaknai sebagai kebebasan dari ketakutan yang melumpuhkan, sehingga manusia dapat kembali hidup secara utuh di hadapan Allah.


Keselamatan bersifat transformasional. Allah tidak hanya menyelamatkan kita dari sesuatu, tetapi untuk sesuatu, yakni hidup yang kudus, benar, dan berkenan kepada-Nya. Iman sejati selalu menghasilkan perubahan arah hidup. Kita diajak memeriksa kembali kualitas ibadah kita. Apakah hidup kita sungguh mencerminkan kebebasan yang Allah berikan, atau justru masih dikendalikan oleh rasa takut dan kepentingan diri? Nyanyian Zakharia memanggil kita untuk menjadikan seluruh hidup sebagai ibadah, dalam pekerjaan, relasi, keputusan etis, dan cara kita memperlakukan sesama.


3. Keselamatan Berakar pada Belas Kasihan Allah dan Membawa Terang bagi Dunia yang Gelap (Lukas 1:77–79)

Pusat nyanyian ini terletak pada pengakuan bahwa keselamatan sejati adalah pengampunan dosa yang lahir dari rahmat dan belas kasihan Allah. Zakharia memahami bahwa akar terdalam masalah manusia bukan penindasan eksternal, tetapi keterpisahan dari Allah. Ia lalu melukiskan Mesias sebagai Surya pagi dari tempat yang tinggi yang menyinari mereka yang duduk dalam kegelapan dan bayang-bayang maut. Gambaran ini penuh harapan dan kedalaman eskatologis: terang Allah datang bukan kepada mereka yang merasa kuat, tetapi kepada mereka yang berada dalam kegelapan.


Keselamatan adalah anugerah semata. Tidak ada manusia yang layak menerimanya, tetapi semua manusia membutuhkannya. Kita dipanggil untuk hidup sebagai pembawa terang.  Di tengah dunia yang penuh luka, ketidakadilan, dan kelelahan rohani -  kita dipanggil untuk memantulkan belas kasih Allah, melalui sikap yang penuh empati, kata-kata yang membangun, dan tindakan yang membawa damai.


Penutup

Nyanyian Zakharia mengajarkan kita bahwa iman sejati lahir dari penantian yang dipelihara oleh kesetiaan Allah, dan diwujudkan dalam hidup yang memuliakan Dia. Dalam dunia yang sering gelap dan bising, nyanyian ini mengundang kita untuk kembali percaya: Allah tetap datang menyelamatkan, terang-Nya tetap bersinar, dan damai-Nya tetap tersedia bagi semua yang mau menantikan Dia dengan setia.


Recent Posts

See All

Comments


Hubungi Kami

Dapatkan update artikel SAMARITAN terbaru yang dikirimkan langsung ke email Anda.

Daftar menjadi Samareaders sekarang!

Instagram
Facebook
Media Samaritan
Media Samaritan

 Media Samaritan 2022

bottom of page