top of page
Subscribe
Instagram
Facebook
Donation

Nyanyian Maria


"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari tahtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." ( Lukas 1: 46-55)

Nyanyian Maria dikenal sebagai Magnificat, sesuai dengan kata pertama dalam bahasa Latin dari nyanyian tersebut : Magnificat anima mea Dominum. Sebuah lagu yang berisikan pengagungan akan Allah: sifat dan tindakan-Nya yang besar. Lukas mencatat, dinyanyikan oleh Maria pada saat ia mengunjungi Elisabet yang sedang mengandung Yohanes Pembaptis (Lukas 1:39-45). Elisabet berkata bahwa bayi dalam kandungannya melonjak kegirangan mendengar salam Maria saat memasuki rumahnya. Maria seperti mendapatkan konfirmasi tentang bayi yang ada dalam kandungannya, dia pun menyanyikan Magnificat ini.


Maria adalah gadis Yahudi yang hidup di tengah masyarakat dengan nilai-nilai budaya Kehormatan dan Aib yang merupakan hal sentral yang mendasari seluruh interaksi sosial, status dan perilaku mereka, baik dalam lingkungan inti keluarga maupun masyarakat luas. Kehormatan adalah komoditas yang paling berharga melebihi materi. Kehormatan seseorang dinilai dari ketaatannya pada hukum Taurat dan tradisi. Sedangkan aib adalah kebalikannya, yakni kondisi yang harus dihindari dengan segala cara. Rasa malu muncul ketika seseorang melanggar norma sosial, agama atau etika. Tidak mudah bagi seorang gadis muda yang dibesarkan dalam masyarakat Yahudi dengan budaya Kehormatan dan Aib, menyanyikan lagu seperti ini di tengah berita kehamilannya sebelum dia menikah dengan Yusuf. Disamping itu, Maria diperhadapkan pada risiko hukuman bagi seorang gadis Yahudi jika hamil sebelum menikah, yaitu dilempari batu sampai mati (Ulangan 22:23,24). Sukacita dan rasa takjub yang besar membuatnya seperti tidak peduli dengan hal tersebut, Maria pun menyanyikan kidung pengagungan ini.


A. Allah Sentral Sukacita .

Pribadi Allah itu sendiri yang menjadi penyebab Maria bersukacita, bukan yang lain, ketika dia menyanyikan jiwaku bergembira karena Allah juruselamatku (Lukas 1:47). Ketegaran Maria menghadapi berita kehamilannya adalah karena pengenalannya akan Allah. Yang dirayakan oleh Maria bukan berkat-berkat Allah semata, tetapi Allah itu sendiri. Allah menjadi hal sentral dalam pujian-Nya. Ia mengagungkan sifat Allah dan perbuatan-perbuatanNya. Kata-kata dalam nyanyian ini banyak kemiripannya dengan kalimat dalam kitab para nabi, mazmur dan bahkan dengan nyanyian pujian Hana (1 Samuel 2:1-10). Kita bisa berkesimpulan bahwa nyanyian ini timbul karena pengenalannya akan Allah melalui kitab suci yang dia baca dan hafalkan. Pengenalan akan Allah yang terus menerus melalui firman-Nya adalah kunci yang memampukan kita tetap bersukacita di tengah permasalahan dan tantangan kehidupan.


Bangsa Israel mengenal Allah sebagai juruselamat. Sejarah bangsa ini membuktikan bahwa  Allah berulang kali menolong mereka dari penindasan dan agresi musuh. Maria memahami bahwa Allah sedang melakukan penyelamatan terhadap bangsanya dan Allah melibatkan dirinya dalam peristiwa besar tersebut. Di tengah penjajahan bangsa-bangsa yang silih berganti menjajah bangsa Israel (Persia, Yunani dan Romawi), mereka mengalami penderitaan tidak hanya secara fisik atau pun materi, tetapi juga secara spiritual. Masa Maria hidup adalah masa yang dikenal sebagai masa keheningan 400 tahun, masa dimana seolah-olah Allah mendiamkan bangsa ini. Sudah lama tidak ada nubuatan nabi dan hal-hal supranatural dalam kehidupan mereka. Pada masa seperti ini tentu berita kehamilannya yang dibawa oleh malaikat Gabriel ini membawa sukacita yang amat besar.

“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan bayi laki-laki dan hendaklah engkau menamai-Nya Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Maha Tinggi. Dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”( Lukas 1: 30-33)

Sukacita besar yang timbul dari berita tersebutlah yang mendorong Maria menyanyikan lagu pengagungan ini dan membuatnya tidak peduli akan budaya Kehormatan dan Aib serta ancaman hukuman terhadap dirinya.


B. Allah yang Berpihak pada yang Lemah, Rendah dan Miskin.

Kitab Perjanjian Lama, kitab para nabi dan mazmur sarat dengan keberpihakan Allah terhadap yang lemah, rendah dan miskin. Dalam nyanyiannya, Maria mengatakan           

  • Ia mencerai beraikan orang congkak

  • Ia menurunkan orang berkuasa dari tahtanya

  • Ia meninggikan orang yang rendah 

  • Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar

  • Ia menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa 

Bagian ini merupakan nubuatan akan misi bayi yang dikandungnya. Maria memahami benar maksud kedatangan bayi Kristus. Tiga puluh tahun kemudian, Sang Anak mengucapkan hal yang senada ketika Dia memproklamirkan kedatanganNya dalam Lukas 4:18:

“... untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan orang-orang tertawan, penglihatan bagi orang buta, membebaskan orang tertindas dan tahun Rahmat Tuhan telah datang.”

Ketika Yohanes pembaptis mempertanyakan apakah Yesus benar Mesias yang dijanjikan itu, Yesus kembali memberikan jawaban yang senada:

“Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik “ (Lukas 7:18-22)

Nyanyian Maria mengungkapkan makna kedatangan Kristus yang utuh: kedatangan-Nya bukan hanya untuk menyelamatkan jiwa manusia yang berdosa, tetapi juga memperbaiki tatanan sosial  dan keadilan yang dirusak oleh dosa.


C. Kesetiaan Allah Yang Tak Berkesudahan 

Allah yang setia kini menggenapi janji-Nya pada Abraham ribuan tahun yang lalu bahwa Dia akan memberkati keturunan Abraham. Ketika itu bangsa Israel seperti jauh dari kondisi terberkati: sedang dijajah oleh pemerintahan Romawi. Berita yang dibawa malaikat Gabriel kepadanya, dan nama anak yang dikandungnya, Yesus, membuat Maria mampu melihat bahwa Allah sedang bekerja memenuhi janji-Nya. Ratusan tahun terlihat senyap, tetapi Allah tidak lupa akan perjanjian tersebut.


Penutup

Ketika kita bersyukur, siapakah yang menjadi sentral dari rasa sukacita kita? Seperti Maria, seharusnya yang menjadi hal utama rasa syukur kita adalah Allah itu sendiri (karakter-Nya dan perbuatan-Nya), bukanlah berkat-berkat-Nya semata. Sering kali saat mensyukuri berkat-berkat Tuhan (kesehatan, kecukupan, kelulusan, promosi jabatan dll), fokus kita beralih bukan pada Allah. Ketika berkat-berkat tersebut belum terjadi dalam kehidupan atau pun hilang, maka menjadi sulit bagi kita untuk mengagungkan Allah. Sangatlah penting untuk kita terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah melalui firman-Nya. Mengenal Allah, karakter-Nya dan perbuatan-Nya, menjadi rahasia kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup. 

Nyanyian Magnificat oleh Maria mengingatkan kita akan makna Natal yang sejati: keberpihakan Allah pada yang lemah, miskin, tertindas dan tertawan, dan otoritas-Nya terhadap nilai-nilai dunia. Kelahiran-Nya tidak semata untuk menyelamatkan jiwa manusia berdosa, tetapi juga membawa pembaharuan pada tatanan sosial yang dirusak oleh dosa. KedatanganNya bertujuan untuk menghadirkan kerajaan Allah di bumi yang sudah dirusak oleh dosa. Misi Sang Bayi Natal ini seharusnya dilanjutkan oleh kita umat-Nya. Sebagai pengikut Kristus, mari kita terus melanjutkan misi Kristus: keberpihakan terhadap yang lemah, rendah dan miskin. Mari bersama menghadirkan kerajaan Allah yang sudah, sedang dan akan datang.


/kb










Comments


Hubungi Kami

Dapatkan update artikel SAMARITAN terbaru yang dikirimkan langsung ke email Anda.

Daftar menjadi Samareaders sekarang!

Instagram
Facebook
Media Samaritan
Media Samaritan

 Media Samaritan 2022

bottom of page