Pengaruh Lingkungan Terhadap Konsep Pernikahan Bagian 1: Memahami Konsep Keluarga

Keluarga adalah bagian terkecil dari sistem kemasyarakatan yang belakangan ini dilanda perubahan drastis. Hal ini terjadi karena dalam perjalanan waktu, faktor-faktor yang membentuk keluarga mengalami perubahan, demikian juga tanggung jawab dan tujuan pembentukan keluarga. Beberapa literatur dan jurnal melaporkan berbagai perubahan tersebut, yang mengancam kelangsungan keluarga dan tujuan mula-mula Allah terhadap keluarga.
Memahami Keluarga
Keluarga adalah lembaga yang sengaja dibentuk dan dipelihara, punya sistem tata nama, termasuk perhitungan garis keturunan. Keluarga memiliki mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan mereka; juga berkaitan dengan kemampuan untuk memiliki keturunan dan jumlah anak. Selain itu, pengertian “keluarga” juga mencakup tempat tinggal, rumah atau rumah tangga bersama (MacIver & Page dalam Awaru, 2021:6-7). Burgess dalam Clara & Wardani (2020: 32 33) berpendapat, keluarga terdiri dari individu yang terikat oleh perkawinan dan keturunan. Anggota keluarga tinggal bersama dalam suatu rumah. Keluarga juga membangun kebiasaan dan tradisi yang diwariskan dari budaya suku dan masyarakatnya. Aquinas & Locke dalam Laura W. Kane (2019:69) menulis, mewariskan kepercayaan kepada anggota keluarga lainnya juga dipandang sebagai komponen penting untuk mempertahankan keluarga. Dalam pemahaman ini orang tua adalah pendidik terbaik bagi anak-anak mereka dan punya hak eksklusif untuk mendidik anak-anak mereka dan melindungi kepentingan anak-anak tersebut dengan cara mereka sendiri.
Orang tua memiliki hak untuk secara bebas membentuk nilai-nilai yang dipegang oleh anak-anaknya dan mengarahkan perkembangan rencana hidup mereka. Untuk mencapai tujuan ini, seseorang mungkin akan memilih pasangan hidup yang memiliki keyakinan yang sama sehingga nantinya mereka dapat menyampaikan pesan-pesan yang konsisten kepada keturunannya; atau seseorang mungkin mempertimbangkan orang lain menjadi anggota keluarganya hanya jika orang tersebut terus menganut nilai dan tradisi yang sama. Dalam hal ini, “keluarga” tercipta melalui komitmen untuk menjunjung tinggi kepercayaan dan/atau keyakinan agama seseorang, dan keluarga dipertahankan melalui aktivitas mewariskan keyakinan, nilai nilai, dan tradisi tersebut kepada orang lain (Charles Fried, 1976:154-155).
Dalam pengajarannya, Vittorio Hösle (2021) mengutip pandangan Plato yang mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah mempertahankan kelangsungan spesiesnya (karenanya ada kebutuhan seksual) dan kekuasaan untuk bertahan. Keluarga, seperti institusi sosial lainnya (misalnya ekonomi, politik), didasarkan pada kebutuhan biologis. Organisme perlu bereproduksi agar suatu spesies dapat bertahan hidup, karena setiap individu bersifat fana. Namun dalam kasus manusia, yang terlibat bukan sekadar reproduksi fisik, melainkan reproduksi budaya juga. Perbedaan manusia dengan spesies lain adalah: individu (manusia) memerlukan waktu yang lebih lama bersama anak-anaknya agar mereka tumbuh dalam keakraban dengan budayanya sendiri. Selain itu, kebutuhan seksual manusia tidak terikat pada musim/kebiasaan, sehingga lebih mungkin terwujud komitmen jangka panjang terhadap pasangan. Prinsip selfish gene (pandangan evolusi yang berpusat pada genetik manusia) dalam teori evolusi menunjukkan pentingnya genetika agar manusia bisa bertahan, dengan demikian bisa dimengerti mengapa hubungan kekeluargaan menjadi hal yang sungguh penting. Meskipun demikian, selalu ada pilihan budaya yang terlibat dalam definisi kekerabatan. Hubungan yang berlangsung lama antar orang tua dalam membesarkan anak-anaknya menciptakan ikatan pribadi yang istimewa, yang memampukan mereka bertahan dalam tugas bersama mendidik anak anaknya.
Dengan berbagai pemikiran di atas, disimpulkan bahwa keluarga adalah hakikat hidup tiap manusia di dunia ini. Dalam keluarga manusia lahir, bertumbuh, belajar, memperoleh rasa berguna, disayangi. Idealnya, keluarga juga yang membentuk jati diri, identitas, iman, masa depan, dan semua kebutuhan seseorang untuk mandiri. Sayangnya, di dalam keluarga juga seseorang mengalami berbagai hal buruk, misalnya tidak dihargai, dilecehkan, mengalami tindak kekerasan, agresi, luka, pembiaran, dan sebagainya.




Comments