Ketika Segalanya Terasa Berat

Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Matius 9:37-38, TB).
Lelah.
Itulah yang sering kali saya rasakan ketika menjadi tenaga kesehatan yang dipanggil Tuhan untuk melayani di daerah terpencil. Kebutuhannya begitu banyak, sementara pekerja sedikit. Belum lagi fasilitas yang serba terbatas. Istirahat? Bukan tidak mau, tetapi memang tidak bisa. Pasien selalu ada, pekerjaan terus menumpuk, belum lagi urusan administrasi yang harus diselesaikan. Lantas, bagaimana mungkin bisa beristirahat?
Awalnya, beban yang banyak itu tidak terasa sebagai sesuatu yang berat. Ini pekerjaan Tuhan, suatu kehormatan dapat mengerjakan panggilan-Nya. Sukacita melimpah. Namun seiring dengan waktu, sukacita itu perlahan hilang. Ketika idealisme terbentur dengan keterbatasan. Ketika kita mulai menerapkan standar kita kepada orang lain. Ketika motivasi yang baik tidak dipahami. Ketika tampaknya, orang lain bekerja tidak lebih baik daripada kita, namun mereka tampak bersenang-senang dan menikmati hidupnya.
Sebagai anak Tuhan, kita diajarkan untuk selalu memberikan yang terbaik, walk the extra mile, dan melakukan segala sesuatu dengan benar dan bertanggung jawab. Sesuatu yang benar dan alkitabiah rasanya. Namun ketika mengerjakannya, seringkali kita lupa bahwa Tuhan tidak meminta kita untuk mengerjakannya sendirian. Dia tidak pernah meminta kita untuk berjalan dengan kekuatan kita sendiri. Terlebih, Dia tidak pernah meminta kita untuk berjalan tanpa Dia. Pekerjaan yang menumpuk dan orang yang sedikit itu tidak seharusnya kita tanggung sendirian. Tidak semuanya yang terjadi harus berada di dalam kendali kita. Tidak semuanya harus berjalan sesuai cara yang kita inginkan.
Lucunya, ketika saya berteriak pada Tuhan dan protes bahwa saya sudah tidak sanggup lagi, pekerjaan itu tidak berkurang. Ada satu waktu ketika saya harus melayani pasien poli yang banyak, namun pasien yang perlu di-visit di bangsal juga sedang banyak-banyaknya. Tidak hanya banyak, namun sebagian besar pasien saya memerlukan perawatan di high care unit ataupun di intensive care unit. Jam tidur yang tidak teratur karena harus menerima dan menjawab konsulan setiap malam, visitasi pasien yang terburu-buru karena harus melayani pasien di poliklinik, juga jam-jam pulang terlambat karena harus kembali melihat dan meninjau ulang pasien yang mengalami perburukan. Di tengah kelelahan, beberapa kali terpikir untuk, “ah, sudahlah, tidak perlu di-visit lagi di sore hari, toh sudah di-visit tadi pagi. Dokter lain di RS lain pun visit hanya sekali.” Namun setiap kali Tuhan mengingatkan untuk terus melakukan apa yang benar, dan setiap kali visit, selalu ada hal yang bisa dilakukan lebih untuk pasien-pasien ini.
Mengandalkan Tuhan. Ah, kalimat klise yang seringkali kita ucapkan, tapi tidak kita renungkan. Mengandalkan Tuhan berarti percaya penuh dengan rasa aman, bersandar kepada Tuhan, dan bergantung penuh karena menyadari kita terbatas. Mengandalkan Tuhan artinya kita tidak sedang bekerja sendirian, namun bekerja bersama dengan Allah dan melihat pekerjaan-Nya dilakukan melalui keterbatasan kita. Mengandalkan Tuhan juga berarti melepaskan kendali kita atas banyak hal. Melepaskan respons dan pendapat orang lain terhadap kita. Melepaskan ekspektasi bahwa orang lain harus melakukan apa yang kita lakukan sesuai dengan cara yang kita inginkan. Melepaskan kendali atas hasil yang mungkin tidak sesuai dengan yang kita harapkan, dan percaya bahwa apa pun yang terjadi, semua ada di dalam pengawasan Dia yang baik, adil, dan penuh kasih.
Pekerjaan mungkin tidak menjadi lebih sedikit. Di tengah keterbatasan tenaga dan waktu, saya ingat ada satu pasien kami yang dirawat di ICU karena sakit jantung dan infeksi paru-paru mengalami perbaikan. Sesuatu yang tidak saya perkirakan. Kondisinya saat masuk ke ICU begitu buruk hingga saya berpikir bapak ini tidak akan bertahan. Namun perlahan, infeksi dan jantungnya membaik. Dan akhirnya bapak ini bisa dipindahkan ke ruang biasa dan pulang ke rumahnya. Puji Tuhan. Tuhan dapat melampaui segala keterbatasan medis! Namun tentu tidak semua pekerjaan berakhir baik. Di lain waktu, ada juga pasien yang saya perkirakan bisa pulih dengan baik, namun ternyata mengalami perburukan dan meninggal. Dengan usaha dan perhatian yang sama, hasil akhirnya ternyata berbeda. Dan di situlah saya kembali diingatkan bahwa hasil akhir memang tidak pernah ada di dalam kendali kita. Namun di tengah kesedihan dan kekecewaan, Tuhan memperlihatkan bagaimana semua yang bisa dilakukan untuk pasien telah dilakukan. Bagaimana Tuhan menempatkan rekan kerja yang baik, sehingga pelayanan dapat berjalan. Juga selalu ada pelajaran yang bisa diambil agar kita bisa melayani lebih baik.
Sebagai tenaga medis, saya mengerti bahwa waktu bersama Tuhan mungkin tidak dapat dilakukan sesuai jadwal tertentu dan durasi tertentu karena begitu banyak hal yang tidak selalu bisa diprediksi. Pasien yang tiba-tiba mengalami perburukan sehingga kita perlu ke rumah sakit segera. Atau interupsi-interupsi lainnya. Namun itu bukan berarti tidak ada waktu sama sekali. Suatu waktu saya pergi ke poli dengan kondisi hati yang buruk. Perawat saya melihat itu dan berkata, “Dokter, sebelum mulai, ayo kita berdoa bersama dulu.” Suatu teguran untuk saya. Kesibukan bukan alasan untuk tidak berdoa. Justru ketika saya memutuskan untuk menyempatkan waktu mendoakan pasien, saya kembali menemukan sukacita, kekaguman akan pekerjaan dan kebesaran-Nya. Renungan singkat yang saya baca ketika berangkat kerja, momen refleksi kecil saat berjalan pulang dari rumah sakit dengan langit sore yang indah, atau kata-kata semangat yang diberikan ketika saya merasa sedih, semuanya dapat Dia pakai untuk mengingatkan betapa besar kasih-Nya kepada saya. Ini juga yang pada akhirnya memulihkan semangat saya dalam melayani.
Mungkin salah satu penyebab terbesar kelelahan adalah ketika kita merasa harus mengerjakan semuanya sendirian. Ketika kita merasa semua harus berjalan baik, semua harus berhasil, dan semua harus ada di dalam kendali kita. Tapi sebenarnya, kita tidak pernah sendiri. Tuhan ada, dan selalu ada. Dan Tuhan memegang kendali atas segala sesuatu yang terjadi. Kita hanya perlu berjalan bersama Dia dan menikmati Dia.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28, TB).





Comments