top of page

Resensi Buku: KERJA, Sebuah Perspektif Kerajaan Allah

Judul : Kerja: Sebuah Perspektif Kerajaan Allah

Penerbit: Literatur Perkantas

Tebal: 260 halaman

Penulis: Ben Witherington III


"Tuhan, sebenarnya kenapa Engkau menaruh aku di sini?"

Barangkali sebagian dari kita pernah menggumulkan pertanyaan itu. Ada yang sedang memilih karier, ada yang mulai kehilangan semangat bekerja, ada pula yang diam-diam bertanya apakah rutinitas yang dijalani setiap hari sungguh memiliki arti di hadapan Tuhan. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat menarik sebuah buku berjudul KERJA: Sebuah Perspektif Kerajaan Allah karya Ben Witherington III.


Terus terang, saya sempat menduga buku ini akan terasa "berat". Dugaan itu ternyata tidak sepenuhnya salah. Witherington memang menulis dengan kedalaman seorang teolog. Ia mengajak pembaca menelusuri Alkitab secara cermat, berdialog dengan berbagai pandangan tentang kerja, lalu menguji semuanya satu per satu. Namun yang mengejutkan, saya tidak pernah merasa dipaksa membaca buku akademik yang kaku. Terjemahan Literatur Perkantas membuat alurnya tetap enak diikuti, bahkan ketika pembahasannya cukup teologis.


Mungkin salah satu alasan buku ini terasa hidup adalah karena pergumulan itu pernah dialami penulisnya sendiri. Sebelum dikenal sebagai professor di bidang Perjanjian Baru, Ben Witherington III pernah mempersiapkan diri untuk menjadi dokter. Ia tahu rasanya mencari arah, mempertanyakan panggilan, lalu belajar melihat bahwa rencana Tuhan sering kali lebih luas daripada yang kita bayangkan.


Yang saya sukai, buku ini tidak berhenti pada pertanyaan, "Pekerjaan apa yang Tuhan kehendaki?" Justru pertanyaan itu diperluas. Witherington mengajak kita memikirkan: mengapa manusia bekerja, bagaimana memandang talenta, mengapa kemalasan begitu serius dalam perspektif Alkitab, apa arti menjadi hamba yang setia, bahkan bagaimana seharusnya orang Kristen memahami istirahat, bermain, dan pensiun. Saya sempat tersenyum ketika menemukan pembahasan tentang keseimbangan antara bekerja dan beristirahat. Di tengah begitu banyak buku yang membahas work-life balance dari sudut psikologi atau produktivitas, di sini saya menemukannya dibahas oleh seorang profesor teologi—dan ini menjadi hal yang fundamental dalam buku ini.


Namun bagian yang paling lama tinggal dalam pikiran saya, justru sederhana. Buku ini mengingatkan bahwa bekerja bukan sekadar cara mencari nafkah atau mengejar pencapaian. Allah terlebih dahulu bekerja di dalam diri kita—membentuk kemauan, memberi kemampuan, lalu mengundang kita mengambil bagian dalam karya-Nya. Saya belum pernah memakai kacamata yang memandang pekerjaan dari sudut yang seindah ini. Ternyata, kita bukan sekadar bekerja untuk Tuhan; kita sedang dipakai Tuhan untuk mengerjakan sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri.


Karena itu, saya rasa buku ini layak dibaca baik bagi mahasiswa yang sedang mencari arah hidup, para profesional yang sedang kehilangan makna dalam pekerjaannya, maupun mereka yang sedang bertanya: apakah pekerjaan yang dijalaninya hari ini benar-benar merupakan panggilan Tuhan. Buku ini memang tidak menawarkan jawaban-jawaban instan; sebaliknya, ini menolong kita mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: Bagaimana saya dapat memuliakan Tuhan melalui pekerjaan yang telah Ia percayakan hari ini? Dan jika sebuah buku mampu membuat kita melangkah ke meja kerja pada hari Senin dengan cara pandang yang berbeda, rasanya buku ini sudah melakukan sesuatu yang sangat berharga, bukan?

Comments


Hubungi Kami
Dukung Kami

Bagi yang tergerak untuk mendukung, donasi dapat disalurkan melalui

BCA 106 999 5550 a/n Yayasan Perkantas

Hai Samareaders,

Ada yang bisa kami bantu?

Subject
download-jukebox-bg-removed.png

Media Samaritan merupakan media publikasi naungan Perkantas Medis Nasional dan Perkantas Nasional yang hadir untuk memperlengkapi Tenaga Kesehatan Kristen di Indonesia untuk menghidupi dan menyuarakan Kebenaran.

© 2026 Samaritan PMdN. Hak cipta dilindungi.

bottom of page