Mengapa Allah Mengizinkan Penderitaan
- dr. Finish Fernando, Sp.OG
- Mar 4
- 4 min read

“Dok, bayi saya dalam kandungan, dari semalam tidak bergerak...”
Mendengar kalimat di atas saat praktik di poliklinik kandungan terasa seperti mengalami mimpi buruk, terlebih bila pemeriksaan lanjutan dengan Ultrasonografi (USG) mengonfirmasi bahwa jantung janin sudah tidak berdetak, tidak terdapat aliran darah dalam jantung, dan tidak ada pergerakan bayi selama pengamatan saat pemeriksaan. Mimpi buruk tersebut kemudian diikuti dengan proses konseling kepada pasangan suami istri yang tentunya tidak mudah, dan kerap kali penuh isak tangis, terlebih lagi kejadian ini tidak ada dalam bayangan mereka karena kontrol rutin mereka di dokter sebelumnya dinyatakan bahwa bayi sangat sehat. Konseling dilakukan untuk menjelaskan kondisi saat ini, kemungkinan penyebab, dan tindakan yang selanjutnya akan dikerjakan yaitu melahirkan bayi tersebut. Proses ini menjadi pergumulan baru karena sebisa mungkin bayi yang sudah meninggal tersebut dilahirkan per vaginam kecuali terdapat indikasi obstetri lain. Kesulitan secara emosional pun berlanjut pasca melahirkan karena si ibu akan dirawat gabung dengan pasien lain yang melahirkan bayi sehat. Menyaksikan begitu banyak penderitaan yang dialami oleh pasangan suami istri, ketika harapan akan kehadiran buah hati pupus, membuat saya bertanya, ”Mengapa Allah yang baik dan penuh kasih mengizinkan adanya penderitaan di dunia ini?”
Seketika, tokoh Ayub dalam Alkitab kembali menguatkan saya. Penderitaan merupakan sebuah tema besar dalam kitab Ayub: walaupun Ayub tidak memiliki kesalahan, ia kehilangan kekayaannya, anak – anaknya, dan kesehatannya. Bahkan teman – temannya sendiri yakin bahwa Ayublah penyebab seluruh penderitaan yang ia alami. Namun, pencobaan terbesar baginya bukanlah rasa sakit badani atau pun kehilangan anak-anak terkasih, melainkan ketidakmampuan dalam memahami mengapa Allah mengizinkannya menderita.
Salah satu alasan penting kitab Ayub dimasukkan ke dalam Alkitab adalah untuk mengajarkan bahwa penderitaan tidak selalu merupakan akibat dari hukuman atas dosa manusia. Maka, sebaliknya, kemakmuran pun tidak selalu merupakan hasil dari kebaikan manusia di hadapan Allah. Fakta yang jelas adalah bahwa mereka yang mengasihi Tuhan tidak selalu terbebas dari masalah kehidupan. Walaupun saat ini kita mungkin belum dapat sepenuhnya memahami penderitaan yang kita alami—karena jika Allah yang tak terbatas dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia yang terbatas, Ia bukan lagi Allah yang tak terbatas—hal itu tetap dapat membawa kita untuk kembali menemukan Tuhan.
“Kesalehan Ayub dicoba” merupakan judul perikop yang diberikan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) pada Ayub 1:1–22 (TB), agar kita dapat belajar mengapa Allah mengizinkan penderitaan. Ketika membaca kitab Ayub, kita mengetahui adanya percakapan antara Tuhan dan Iblis, sementara tokoh utamanya sendiri, yaitu Ayub, tidak mengetahuinya. Ayub mengalami segala penderitaan tanpa memahami alasan di baliknya, dan melalui proses itulah imannya dibentuk.
Kita pun pasti pernah mengalami penderitaan dalam hidup ini, dan mungkin tidak mengerti mengapa hal itu terjadi. Namun, apakah kita—seperti Ayub—akan tetap percaya kepada Tuhan apa pun yang terjadi, atau justru jatuh ke dalam pencobaan dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak peduli?
Ketika kita mempelajari penderitaan melalui kitab Ayub, kita perlu mengingat bahwa kita hidup di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, di mana perilaku baik tidak selalu mendapat penghargaan dan perilaku buruk tidak selalu menerima hukuman. Saat kita melihat orang jahat mengalami kemakmuran atau anak yang tidak bersalah menderita, kita merasa ada sesuatu yang tidak beres. Hal ini terjadi karena dosa telah memutarbalikkan keadilan, sehingga dunia menjadi rusak dan tidak dapat diperkirakan.
Namun, kisah Ayub tidak berakhir dengan kesedihan. Melalui hidupnya, kita dapat melihat bahwa iman kepada Tuhan adalah sandaran utama, bahkan ketika situasi tampak tanpa harapan. Iman yang didasarkan pada penghargaan atau kemakmuran pada dasarnya adalah iman yang hampa. Untuk memiliki iman yang teguh, iman harus berakar pada kepercayaan bahwa tujuan Allah—yaitu damai sejahtera—pada akhirnya akan terwujud.
Ayub adalah teladan dalam hal kepercayaan dan ketaatan kepada Tuhan, namun Tuhan tetap mengizinkan Iblis untuk mencobainya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Tuhan mengasihi kita, percaya dan taat kepada-Nya tidak berarti kita akan terhindar dari penderitaan hidup. Kemunduran, tragedi, dan penderitaan dapat menimpa siapa saja, baik orang Kristen maupun bukan. Namun, di dalam setiap ujian dan pencobaan, Tuhan menghendaki agar kita menyatakan iman kita kepada dunia. Bagaimanakah sikap kita ketika menghadapi penderitaan? Apakah kita berseru kepada Tuhan, “Mengapa saya?” atau kita berseru, “Pakai saya untuk menyatakan kemuliaan-Mu dalam setiap ujian yang saya alami?”
Dalam alasannya untuk menyerang Ayub, Iblis menyoroti motivasi Ayub dalam menaati Tuhan. Menurut Iblis, Ayub tidak memiliki alasan untuk tidak taat karena hidupnya berkecukupan dan tidak kekurangan apa pun. Pandangan ini didasarkan pada pengamatan bahwa banyak orang mengikuti Tuhan ketika segala sesuatu berjalan baik atau ketika mereka menerima berkat dari-Nya. Ujian hidup dapat menghancurkan iman yang dangkal seperti ini. Namun, di sisi lain, ujian juga dapat dipakai untuk memperkuat iman seseorang, yaitu dengan membangun hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan dan berakar di dalam-Nya, sehingga mampu menghadapi pergumulan dan badai kehidupan.
Percakapan antara Tuhan dan Iblis yang tidak diketahui oleh Ayub mengajarkan kita satu kebenaran penting tentang Allah: Ia mengetahui dengan sempurna setiap usaha Iblis untuk mendatangkan penderitaan dan kesulitan. Meskipun Tuhan mungkin mengizinkan kita mengalami hal-hal yang berada di luar pemahaman kita, Ia tidak pernah terkejut oleh penderitaan kita dan selalu menunjukkan belas kasihan. Hal ini terlihat ketika Tuhan membatasi Iblis dengan berkata agar tidak mengulurkan tangan terhadap diri Ayub, bahkan untuk menjaga nyawanya (Ayub 2). Kiranya tulisan ini dapat menolong kita dalam menghadapi penderitaan di dunia, baik yang kita alami sendiri maupun yang dialami oleh orang-orang di sekitar kita. Amin.
/kb








Comments