Eksposisi Pengkhotbah Bagian 3: Panggilan Pengkhotbah
- Ev. Inawaty Teddy, M.Th

- Jun 24
- 3 min read
(Pengkhotbah 11:1-12:8)
Hidup yang fana berarti kita harus cepat mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup ini. Untuk itu Pengkhotbah memberikan kita tiga panggilan dalam pasal-pasal terakhir tulisannya.
Pertama, Pengkhotbah mengajak kita untuk hidup dengan berani (11:1-6). Kita harus hidup dengan berani memberi (1). Kita perlu memberi bahkan apa yang penting bagi kita, yaitu “roti”. Berikanlah kepada sebanyak mungkin orang karena kita tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi (2). Kecenderungan kita adalah banyak menyimpan karena tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Tapi pikirkan tentang Ayub. Apakah Ayub dulu banyak memberi atau tidak, ketika malapetaka terjadi, semua hartanya habis. Karena ia dulu banyak memberi dan menolong orang, maka banyak saudara dan kenalannya datang dan masing-masing memberikannya uang satu kesita dan satu cincin emas (Ayb. 42:11), yang memampukan dia untuk bangkit kembali. Kita tidak tahu kapan kita butuh pertolongan orang lain, karena itu kita perlu banyak menolong orang ketika kita mampu.
Kita juga perlu berani bertindak, walau tidak ada tindakan yang tidak berisiko. Jika kita senantiasa menunggu sampai tidak ada risiko, maka kita tidak akan pernah bertindak (4-5). Karena kita tidak tahu apakah usaha yang ini atau yang itu yang akan berhasil, maka bekerjalah dengan lebih rajin (6). Hiduplah dengan berani, lakukan apa yang kita tahu sebagai tindakan yang benar yang Allah mau kita kerjakan.
Kedua, Pengkhotbah mengajak kita untuk hidup dengan sukacita (11:7-10). Pengkhotbah terutama mengajak pemuda, karena menurutnya masa muda adalah masa yang paling indah. Sepertinya karena pemuda sudah cukup dewasa untuk dapat melakukan banyak hal, tapi tanggung jawab belum sebesar seperti nanti setelah berkeluarga. Untuk itu Pengkhotbah mengajak para pemuda untuk melakukan “menurut keinginan hati dan pandangan mata” mereka. Tapi hati-hati, karena untuk segala hal ini Allah akan membawa ke dalam penghakiman (9). Dengan demikian, tindakan yang dimaksudkan bukan tindakan yang melanggar hukum Allah, tapi lebih seperti melakukan petualangan yang biasanya hanya dapat dilakukan anak muda. Karena masa muda ini singkat, maka “buanglah kekesalan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu” (10). Alkitab tidak pernah memerintahkan kita untuk sengaja mencari penderitaan, tapi sedapat mungkin hiduplah dengan sukacita, jangan habiskan waktu dalam kesedihan ataupun kepahitan, karena Allah mau kita menikmati hidup ini.
Ketiga, Pengkhotbah mengajak kita untuk hidup dengan saleh (12:1-8). Kita perlu mengingat akan Pencipta kita, yang berarti melakukan apa yang Allah perintahkan (1). Lakukan ini sedini mungkin, terutama pada masa mudamu (1), karena keadaan, fisik, dan waktu akan membuat komitmen kita untuk hidup saleh menjadi semakin sulit. Panggilan yang urgen ini dinyatakan dengan menunjukkan tiga kali “sebelum” hal-hal yang disebutkan terjadi.
(i). Sebelum tiba hari-hari dan keadaan yang penuh kesulitan sehingga kamu mengatakan “tidak ada kesenangan bagiku di dalamnya” (1). Makin dewasa, makin hidup ini penuh dengan tanggung jawab, dan kita akan makin sulit hidup dengan saleh jika kita tidak berkomitmen
secepatnya.
(ii). Sebelum kita menua, dan fisik menjadi semakin sulit, sehingga apa yang tadinya menyenangkan seperti matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi gelap (2). Hidup menjadi semakin banyak kesulitan karena kesulitan datang silih berganti (2b). Gambaran kelemahan fisik ditunjukkan dalam ayat 3-5, karena manusia menua dan menuju ke
rumahnya yang kekal dan para peratap sudah menunggu (5).
(iii) Sebelum akhirnya kita meninggal, dan waktu sudah tidak memungkinkan, dan napas hidup (harafiah: “roh”) kita kembali kepada Allah yang mengaruniakannya (6-7). Pengkhotbah kemudian menekankan kembali betapa fananya (LAI: sia-sia) hidup ini (8).
Hidup ini fana, karena itu Pengkhotbah mengajak kita untuk hidup dengan berani: berani memberi dan berani berupaya melakukan apa yang Allah mau kita kerjakan, walau memang ada risikonya. Hidup dengan sukacita, jangan hidup penuh dengan kekesalan dan kepahitan hati, tapi hiduplah dengan hati yang bersyukur karena Allah telah memberikan kita banyak anugerah bahkan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini. Hiduplah juga dengan saleh, lakukan pekerjaan baik yang Allah telah persiapkan bagi kita (lih. Ef. 2:10). Kiranya kehidupan kita yang fana ini memuliakan Allah sambil kita menikmati relasi yang indah bersama-Nya serta berkat dan anugerah-Nya.




Comments