Eksposisi Pengkhotbah Bagian 1: Nikmatilah Hidup yang Fana Ini
- Ev. Inawaty Teddy, M.Th

- Feb 25
- 2 min read

Kitab Pengkhotbah sering disalahpahami sebagai kitab yang menggambarkan kehidupan orang tidak percaya (di bawah matahari) sebagai hidup yang sia-sia. Tapi setiap bagian dalam Alkitab adalah ditujukan kepada umat Allah, sehingga pemikiran yang seperti itu tidak masuk akal. Penafsiran demikian terutama karena ada dua kesalahpahaman. Pertama adalah kata hevel yang diterjemahkan sebagai sia-sia. Tapi kata ini berkaitan dengan nama Habel, yang jelas hidupnya tidak sia-sia. Kata ini memiliki arti “nafas” atau “uap”, menekankan singkatnya dan kefanaan hidup ini. Kedua, hidup di bawah matahari bukan kehidupan orang tidak percaya, karena orang percaya juga hidup di bawah matahari, bukan di atas matahari atau di langit. Di bawah matahari, menekankan kehidupan di bumi yang sudah dirusak oleh dosa, tidak seperti kehidupan di surga. Bandingkan dengan Doa Bapa Kami “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Mat. 6:10). Kehidupan di bumi adalah kehidupan yang penuh dengan ketidakadilan (lih. Pkh. 3:16; 4:1) karena umumnya manusia tidak menjalankan kehendak Allah.
Kitab Pengkhotbah mengacu kepada hukuman Allah kepada manusia (Adam) dalam kejatuhan, yaitu bahwa manusia harus bekerja dengan susah payah dan cucuran keringat, dan akhirnya kembali menjadi debu (Kej. 3:17-19). Inilah yang merupakan pergumulan Pengkhotbah, dalam kehidupan di bumi yang penuh kefanaan (hevel hevelim; 1:2) ini. Pertanyaan yang terus digumulkan oleh Pengkhotbah adalah, jika demikian “apa gunanya bagi manusia segala jerih payah yang dilakukannya di bawah matahari?” (Pkh.1:3; 3:9).
Ini tidak boleh dimengerti sebagai pergumulan orang yang tidak berhasil, tapi sebaliknya, pergumulan seorang yang dengan jerih payahnya telah berhasil melakukan apa yang penting bagi dirinya. Tapi karena ia harus mati, ia dengan sedih mengeluh karena walau ia telah “berjerih payah dengan hikmat, pengetahuan, dan keterampilan, ia harus meninggalkan bagiannya kepada orang yang tidak berjerih payah untuk itu. Inipun kefanaan (LAI: kesia-siaan) dan kemalangan yang besar” (2:21). Lagipula, “siapa yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh?” (2:19). Jika seperti yang dimengerti sebagian ahli, bahwa penulis kitab ini adalah Salomo karena ia adalah satu-satunya anak Daud yang menjadi raja atas Israel di Yerusalem (1:1, 12), maka pergumulannya sangat masuk akal.
Jika Salomo menulis kitab Pengkhotbah pada masa tuanya, sepertinya setelah bertobat dari dosa penyembahan berhala-nya karena teguran Allah, maka ia mengetahui bahwa setelah ia mati, kerajaannya akan dicabik. Ini tentu merupakan pukulan besar terhadap dirinya, dan karena itu ia menggambarkan pergumulannya dalam kitab Pengkhotbah ini.Apa solusi yang diberikan Pengkhotbah bagi orang percaya ketika harus hidup dengan susah payah, kemudian kuatir apa yang akan terjadi dengan segala hasil jerih payahnya setelah ia pergi?
Kitab Pengkhotbah memberikan 6 refrain yang intinya sama, yaitu “tidak ada yang lebih baik bagi manusia daripada makan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?” (2:24-25; lih. 3:12-13, 22; 5:17-18; 8:15; 9:7-9).
Jadi solusi dalam kehidupan di bumi ini, bahkan sebagai orang percaya yang juga harus hidup dengan berjerih payah (Kej. 5:28-29) dan kemudian mati (Rm. 6:23), maka hiduplah dengan takut akan Allah (Pkh. 12;13-14), dan nikmatilah apa yang telah Allah berikan kepada kita dengan penuh anugerah dalam kehidupan yang sulit dan fana ini. Ini pun adalah pemberian Allah.








Comments