top of page

Depresi dan Iman Kristen Bagian Pertama: Pengertian dan Neurobiologi Depresi



Seorang pendeta muda bernama Ibu Mary, dikenal oleh jemaat dan keluarganya sebagai sosok yang penuh kasih dan hangat. Mary, yang besar di keluarga Kristen, selalu merasakan kasih Tuhan sejak di bangku sekolah. Hidupnya seperti selalu bergandengan dengan Tuhan, dengan motivasi tinggi untuk mengubah dunia dan melayani Tuhan. Namun, hidupnya berubah drastis setelah suaminya kehilangan pekerjaan, diikuti berbagai masalah di tempat pelayanannya, dan pergumulan pribadi yang semakin menumpuk. Mary mendapati dirinya terjebak dalam kegelapan yang asing, dengan perasaan sedih dan putus asa yang mendalam. Setiap hari menjadi perjuangan berat bagi Mary; bahkan untuk bangun dari tidur pun, ia harus melawan pikiran negatif yang menghantuinya. Bahkan doa, yang biasanya menjadi sumber damai baginya, terasa kehilangan kuasanya. Hingga suatu hari, terlintas di benaknya pikiran untuk mengakhiri hidup agar cepat bertemu Tuhan. Pikiran itu membuat Mary tertegun dan bertanya dalam hati, apakah imannya yang mengecewakannya, ataukah dirinya yang telah mengecewakan imannya?


Akhir-akhir ini, isu kesehatan jiwa menjadi pembicaraan publik, baik di media mainstream maupun media sosial. Salah satu kondisi yang paling dikenal adalah gangguan depresi (Major Depressive Disorder/MDD, nomenklatur resmi dalam DSM-5). Depresi begitu familiar dan terkadang menjadi bahan gurauan ketika hidup terasa berat. Acap kali guyonan,”Duuh, besok hari Senin lagi. Rasanya aku langsung depresi!” menjadi hal yang lumrah kita ucapkan setiap akhir pekan telah usai. Namun, apakah kita benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan depresi? Depresi adalah gangguan kesehatan mental serius yang mempengaruhi perasaan, cara berpikir, dan tindakan seseorang. Gejalanya dapat menyebabkan perasaan sedih yang mendalam, hilangnya minat atau kesenangan dalam aktivitas sehari-hari, bahkan pikiran untuk bunuh diri. Depresi bukan sekadar perasaan sedih yang biasa kita alami, melainkan kondisi medis yang membutuhkan perhatian dan perawatan. Sehingga, penting bagi kita untuk memahami bagaimana depresi bisa terjadi dan bagaimana iman kepada Kristus dapat menolong kita dalam menghadapinya.


Neurobiologi Depresi

Depresi adalah gangguan kesehatan mental yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek dari faktor genetik, biologis, sosial, dan psikologis. Beberapa faktor psikologis internal, seperti kepribadian yang kurang percaya diri, dependen, kritik diri yang tinggi, atau sikap pesimis, dapat berkontribusi terhadap gejala depresi. Faktor sosial juga cukup berpengaruh pada kemungkinan timbulnya depresi, yaitu adanya peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, seperti terjadinya trauma, kehilangan seseorang, masalah interpersonal, serta masalah finansial.

Neurobiologi dari depresi berfokus pada pemahaman bagaimana perubahan dalam fungsi dan struktur otak berkontribusi terhadap gejala-gejala depresi. Beberapa studi menunjukkan adanya beberapa mekanisme yang terlibat, yaitu perubahan atau ketidakseimbangan neurotransmitter (sistem serotonin, noradrenergik, dopamin, dan glutamat), neuro inflamasi, abnormalitas Aksis HPA (hypothalamic-pituitary-adrenal), perubahan vaskular, serta penurunan neurogenesis dan neuroplastisitas.


Neurotransmitter merupakan bahan kimia di otak yang bertugas untuk mengirimkan sinyal antar neuron. Teori yang sudah cukup umum diketahui mengenai ketidakseimbangan neurotransmitter pada depresi adalah hipotesis monoamin, yang melibatkan serotonin (5-HT), norepinefrin (NE), dan dopamin (DA). Menurunnya kadar serotonin ditemukan pada pasien dengan depresi. Hal ini dapat dilihat dari membaiknya gejala pasien bila mengkonsumsi obat SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) dan SNRI (selective serotonin reuptake inhibitor) yang meningkatkan level serotonin di otak. Neurotransmitter norepinefrin (NE) juga memiliki peran dalam regulasi mood, sebagaimana dibuktikan oleh fakta bahwa obat-obatan yang menghambat reabsorbsi NE, seperti TCA, SNRI, dan NDRI serta obat yang meningkatkan sekresi NE, seperti mirtazapin, merupakan antidepresan yang efektif. Selain itu, stres yang berkepanjangan juga dapat merubah sistem noradrenergik dan berpengaruh pada neuroendokrin dan sistem imun.

Neurotransmiter berikutnya adalah neuron dopaminergik (DA) yang berasal dari jalur mesolimbik dan mengatur reward pathway and motivation. Adanya gangguan transmisi dopaminergik dan jalur mesolimbik berkontribusi pada patofisiologi depresi, terutama pada gejala anhedonia (ketidakmampuan merasakan kesenangan). Ketiga neurotransmiter tersebut saling terkait dan mempengaruhi konsentrasi satu sama lain di dalam otak. Dopamin telah terbukti memiliki efek inhibisi terhadap pelepasan NE dari locus ceruleus, sementara NE memiliki efek eksitatori dan inhibitori terhadap pelepasan dopamin di area tegmentalis ventralis. Selain itu, NE dan dopamin juga meningkatkan pelepasan serotonin secara berturut-turut. Oleh karena itu, adanya perubahan pada salah satu neurotransmitter ini kemungkinan mempengaruhi fungsi dua neurotransmitter lainnya[1].

Selain ketiga neurotransmiter tersebut, glutamat juga diduga memiliki peran dalam regulasi suasana hati. Hal ini diduga dari ketamin yang merupakan antagonis reseptor NMDA dapat bertindak sebagai antidepresan yang kuat. Cara kerja ketamin adalah melalui antagonisme reseptor NMDA pada interneuron GABA yang mengurangi inhibisi pelepasan glutamat sehingga meningkatkan produksi glutamat di tubuh. Glutamat kemudian akan mengikat secara selektif pada reseptor AMPA sehingga akan mengarah pada peningkatan neuroplastisitas otak. Hal ini berhubungan dengan neurobiologi berikutnya yaitu, adanya penurunan neurogenesis dan neuroplastisitas pada pasien dengan depresi.

Neuroinflamasi juga berperan pada depresi, dimana terdapat peningkatan kadar penanda inflamasi seperti IL-1β, IL-2, IL-6, TNF-α, CRP, dan PGE2 yang dapat disebabkan oleh stress psikologis dan bersifat proinflamatori. Mekanisme inflamasi dan depresi diduga merupakan respon adaptif terhadap inflamasi. Disfungsi Aksis HPA (hypothalamic-pituitary-adrenal) memiliki hubungan terjadinya depresi melalui mekanisme stres. Respon stres dapat menyebabkan depresi melalui abnormalitas HPA, yaitu terjadi hipersekresi corticotropin-releasing hormone (CRH) dari hipotalamus, hiperkolestrolemia akibat hipersensitivitas HPA axis, dan disregulasi negative feedback dari hormon CRH. Selain itu, stres kronik dapat memicu kaskade neurobiologis yang mempengaruhi kemampuan hipokampus untuk beradaptasi dengan lingkungan stresor, sehingga mengurangi neuroplastisitas dan potensi jangka panjang neuron hipokampus. Pada stres kronik, dapat terjadi kondisi yang disebut sebagai diathesis-stress model yang menyatakan terdapat predisposisi (dapat bersifat genetik atau epigenetik) yang dapat menyebabkan depresi bila terpicu oleh faktor lingkungan reaksi maladaptif. Selain itu, hiperkortisolemia dalam otak juga mengubah jalur emosi kognitif dengan berpengaruh pada amygdala dari hipokampus (pembelajaran adaptif) dan meningkatkan konektivitas dengan striatum (pembelajaran habitual). Hal ini menyebabkan anhedonia, kurangnya motivasi, dan gejala depresi[2] .

Faktor neurobiologi terakhir adalah pada neuroplastisitas. Otak manusia memiliki kemampuan plastisitas, dimana dapat menciptakan, menghilangkan, dan mengubah sirkuit fungsional dalam proses adaptasi. Salah satu faktor molekuler yang dibutuhkan untuk neuroplastisitas yang sehat adalah brain-derived neurotrophic factor (BDNF). BDNF merupakan neurotrofin yang membantu mendukung kelangsungan hidup neuron dan mendorong pertumbuhan serta diferensiasi neuron dan sinaps baru. Pada pasien terdiagnosa MDD, ditemukan adanya kadar serum BDNF yang berkurang.

Tatalaksana depresi berupa kombinasi antara terapi obat dan psikoterapi. Antidepresan dapat membantu menyeimbangkan neurotransmitter kimia di otak yang kurang seimbang sehingga pada akhirnya bermanifestasi sebagai suasana hati dan emosi yang sedih dan putus asa. Selain itu, psikoterapi, seperti terapi kognitif-perilaku (CBT), dapat membantu pasien memahami dan mengubah pola pikir negatif yang berperan signifikan terhadap depresi.


Penulis merupakan Wakil Dekan Kemahasiswaan, Kepala Departemen Psikiatri, FK UPH - Siloam Hospitals Lippo Village.


/tp


Sumber:

[1] Dean J, Keshavan M. The neurobiology of depression: An integrated view. Vol. 27, Asian Journal of Psychiatry. Elsevier B.V.; 2017. p. 101–11.

[2] Maletic, V., Robinson, M., Oakes, T., Iyengar, S., Ball, S. G., & Russell, J. (2007). Neurobiology of depression: an integrated view of key findings. International journal of clinical practice, 61(12), 2030–2040. https://doi.org/10.1111/j.1742-1241.2007.01602.x



135 views0 comments

Recent Posts

See All

コメント


bottom of page