Dari Kurban ke Pesta Makan: Profesi Medis dalam Rencana Penebusan Allah

Dalam budaya Indonesia, pesta makan memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengisi perut. Ketika sebuah keluarga mengadakan selamatan, syukuran, atau perayaan pernikahan, inti acaranya bukanlah makanan itu sendiri. Yang terpenting adalah kebersamaan. Orang-orang yang sebelumnya berjauhan kembali berkumpul. Relasi diperbarui. Sukacita dibagikan. Pesta makan menjadi tanda bahwa hubungan sedang dirayakan.
Gambaran inilah yang menolong kita memahami sistem kurban dalam Perjanjian Lama. Ketika membaca kitab Imamat, kita sering kali melihat berbagai jenis kurban sebagai ritual yang rumit dan jauh dari kehidupan kita. Ada kurban bakaran, kurban sajian, kurban keselamatan, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Namun jika kita melihat lebih dekat, ternyata tujuan kurban bukan hanya pengampunan dosa. Tujuan akhirnya adalah pemulihan hubungan antara Allah dan umat-Nya.
Dosa telah merusak persekutuan manusia dengan Allah. Karena itu Allah menyediakan jalan agar umat-Nya dapat kembali mendekat kepada-Nya. Menariknya, beberapa jenis kurban diakhiri dengan makan bersama. Setelah kurban dipersembahkan dan pendamaian terjadi, umat dapat menikmati sebuah pesta makan di hadapan Tuhan.
Dengan kata lain, kurban bukanlah tujuan akhir. Kurban adalah jalan menuju pesta. Hal ini juga membantu kita memahami mengapa kitab Imamat berulang kali menyebut kurban sebagai "bau yang menyenangkan bagi TUHAN." Tentu Allah tidak membutuhkan makanan. Namun bahasa ini menggambarkan bahwa Allah berkenan menerima umat-Nya kembali. Seolah-olah aroma kurban itu menjadi tanda bahwa meja persekutuan kembali dibuka. Hubungan yang rusak dipulihkan. Allah menyambut umat-Nya kembali dalam persekutuan.
Jadi, sejak awal, tujuan Allah bukanlah sekadar menghapus dosa manusia. Tujuan-Nya adalah membawa manusia kembali ke dalam persekutuan dengan-Nya. Allah ingin mengundang manusia ke pesta-Nya. Semua kurban dalam Perjanjian Lama sebenarnya hanyalah bayangan dari sesuatu yang lebih besar. Ketika Yesus datang, Ia menjadi penggenapan dari seluruh sistem kurban tersebut. Melalui kematian-Nya di kayu salib, Ia menjadi kurban yang sempurna dan final. Tidak ada lagi kurban yang perlu ditambahkan. Dosa telah ditanggung. Jalan menuju Allah telah dibuka. Menariknya, setelah kita memasuki Perjanjian Baru, kita menemukan bahwa Yesus sangat sering makan bersama orang lain.
Ia makan bersama pemungut cukai. Ia makan bersama orang berdosa. Ia makan bersama para murid. Bahkan setelah kebangkitan-Nya, Ia masih makan bersama mereka. Jika kita membaca Injil dengan saksama, kita akan menemukan bahwa banyak peristiwa penting terjadi di sekitar meja makan. Ini bukan kebetulan. Melalui semua perjamuan itu, Yesus sedang menunjukkan tujuan kedatangan-Nya. Ia datang untuk mengundang manusia kembali ke pesta Allah. Ia datang untuk memulihkan mereka yang terasing, terluka, berdosa, dan tersingkir agar dapat kembali duduk di meja yang sama dengan Sang Pencipta.
Puncaknya terjadi dalam Perjamuan Terakhir ketika Yesus mengambil roti dan anggur dan menghubungkannya dengan tubuh dan darah-Nya yang akan dikorbankan. Melalui salib, Yesus membuka jalan menuju pesta yang lebih besar. Bahkan kitab Wahyu menggambarkan akhir sejarah sebagai Perjamuan Kawin Anak Domba—sebuah pesta besar ketika umat Allah menikmati persekutuan yang sempurna dengan Kristus.
Dari Kejadian hingga Wahyu, Alkitab menceritakan satu kisah besar: Allah sedang mengundang manusia kembali ke pesta-Nya. Lalu apa hubungannya dengan profesi medis?
Sering kali kita memandang pekerjaan medis hanya sebagai upaya mengobati penyakit atau memperpanjang kehidupan. Tentu itu sangat penting. Namun dalam perspektif Alkitab, profesi medis memiliki makna yang jauh lebih besar. Profesi medis merupakan bagian dari rencana penebusan Allah bagi dunia.
Penyakit, penderitaan, kerusakan tubuh, dan kematian adalah bagian dari realitas dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Karena itu setiap tindakan yang memulihkan kesehatan, mengurangi penderitaan, merawat yang lemah, dan menjaga kehidupan merupakan bagian dari karya pemulihan yang sedang Allah kerjakan di dunia.
Kita tentu tidak dapat menyelamatkan dunia. Hanya Kristus yang dapat melakukannya. Namun kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam karya penebusan-Nya. Ketika seorang dokter berjuang menyembuhkan pasien, ketika seorang perawat mendampingi pasien yang ketakutan, ketika seorang apoteker, peneliti, atau tenaga kesehatan bekerja dengan integritas dan kasih, mereka sedang memberikan tanda-tanda kecil dari Kerajaan Allah yang akan datang. Mereka sedang membantu lebih banyak orang tetap hadir di pesta Allah.
Lebih jauh lagi, para profesional medis dipanggil menjadi tuan rumah bagi pesta tersebut. Tentu bukan dalam arti menyelamatkan orang lain, melainkan menciptakan ruang di mana kasih, penerimaan, dan pemulihan Allah dapat dirasakan.
Setiap ruang praktik, ruang rawat inap, klinik, laboratorium, dan rumah sakit dapat menjadi tempat di mana orang mengalami secercah keramahan Allah. Ketika kita mendengarkan pasien dengan sungguh-sungguh, memperlakukan mereka dengan hormat, memberi perhatian kepada keluarga yang cemas, atau tetap menunjukkan belas kasihan di tengah tekanan pekerjaan, kita sedang membuka ruang bagi orang lain untuk merasakan bahwa mereka tidak sendirian. Kita sedang menjadi tuan rumah yang mengundang orang-orang yang terluka untuk mencicipi sedikit sukacita dari pesta Allah yang akan datang.
Inilah sebabnya Rasul Paulus mengajak orang percaya untuk mempersembahkan hidup sebagai persembahan yang hidup kepada Allah. Karena Kristus telah menjadi kurban yang sempurna, kini seluruh hidup kita menjadi persembahan syukur. Bagi para profesional medis, persembahan itu tidak hanya diwujudkan melalui ibadah di gereja, tetapi juga melalui pelayanan sehari-hari kepada mereka yang menderita.
Pada akhirnya, panggilan kita bukan sekadar mengobati penyakit. Kita dipanggil untuk menjadi saksi, bahwa Allah sedang memulihkan dunia. Kita dipanggil untuk menjadi pelayan-pelayan Sang Raja yang mengundang manusia kembali ke pesta-Nya. Dan setiap kali kita melayani dengan kasih, integritas, dan belas kasihan, kita sedang mengambil bagian dalam karya besar Allah yang suatu hari akan mencapai puncaknya dalam pesta yang tidak akan pernah berakhir: Perjamuan Kawin Anak Domba bersama Kristus.



Comments