• dr. Apriani Oendari, MKM

Potret Kesenjangan dan Ketidakadilan di Amerika Serikat: Mampukah Berlaku Adil dan Berbelas Kasih?

(Bagian 2)



Pesan Tuhan bagi Saya

Kitab Mikha diawali dengan kemarahan Tuhan atas penindasan oleh para pemimpin, imam, dan orang kaya di Israel terhadap rakyat yang lemah. Tuhan membenci ketidakadilan. Diskriminasi rasial, kesenjangan kesejahteraaan, dan kesenjangan kesehatan merupakan bentuk-bentuk ketidakadilan dalam konteks kesehatan masyarakat di tempat saya berada sekarang. Saya bersyukur Tuhan membuka wawasan saya tentang kondisi ini dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang hidupnya didedikasikan untuk berjuang melawan diskriminasi dan menciptakan keadilan kesehatan dalam kapasitas mereka masing-masing. Merenungkan perintah Tuhan untuk berlaku adil dalam Mikha 6:8, menyadarkan saya, bahwa banyak hal yang saya sudah tahu tetapi sedikit yang sudah saya kerjakan. Saya berdoa agar Tuhan terus memberi kepekaan, keresahan, dan kemarahan akan ketidakadilan di sekitar saya serta memampukan saya untuk berkontribusi melawan ketidakadilan dengan ilmu, keahlian, dan pengalaman yang telah Ia anugerahkan.


Kontras dengan pengalaman banyak imigran lain, betapa banyak privileges yang bisa saya nikmati. Saya beruntung memiliki rekan-rekan kerja yang menghargai keberagaman dan mendorong saya untuk terus berkembang. Ketika menghadapi tantangan terkait identitas saya sebagai imigran, ada orang-orang yang bersedia membantu. Saya juga bisa leluasa memilih pelayanan kesehatan yang terbaik dan selama ini mendapat perlakuan cukup baik dari tenaga kesehatan yang merawat saya. Banyak orang kulit berwarna tidak seberuntung saya. Saya akan sulit berbelas kasihanbila tidak menyadari privileges ini. Saya tidak pernah mengalami dan tidak bisa sepenuhnya mengerti pengalaman mereka yang rasa sakitnya kerap diabaikan, frustrasi pasien yang tidak bisa berobat karena tidak mampu membayar, kebingungan pasien yang tidak berbahasa Inggris dalam memahami kerumitan sistem kesehatan di AS, atau keputusan pasien untuk tidak menebus resep demi menyediakan makanan untuk keluarga. Bintik buta ini bisa menjadikan saya salah satu dari tenaga kesehatan yang mendiskriminasi pasien-pasien tersebut. Saya bersyukur Tuhan menganugerahkan pemahaman ini saat saya memulai perjalanan karir di negara ini. Kiranya ketika saya melangkah lebih jauh, Tuhan memampukan untuk terus mengoreksi bintik buta di dalam diri saya dan meniru belas kasih-Nya kepada umat yang sakit, lemah, dan tertindas.


Kitab Mikha ditutup dengan pengharapan akan janji Tuhan yang akan menyelamatkan Israel, yang juga merupakan nubuat tentang Yesus Kristus. Hidup dalam dunia yang penuh ketidakadilan, pengharapan menjadi satu-satunya penopang. Kitab Mikha mengingatkan saya bahwa Tuhanlah yang menyempurnakan pekerjaan anak-anak-Nya. Hanya Dia yang berkuasa mewujudkan keadilan yang sempurna. Mungkin karena inilah kita diminta untuk hidup dalam kerendahan hati di hadirat-Nya. Tanpa kerendahan hati, saya akan terjebak dalam ilusi. Merasa membela perkara Tuhan saat yang saya kerja adalah ambisi pribadi. Atau frustrasi, melihat ketidakadilan di mana-mana dan merasa pekerjaan yang saya lakukan tidak berarti. Atau terdesensitisasi, berhenti mengevaluasi diri, tidak lagi memeriksa bias-bias pribadi, dan akhirnya menjadi bagian dari sistem yang menindas mereka yang lemah.


Berlaku adil dan berbelas kasih mustahil dilakukan tanpa kerendahan hati. Tuhan telah terlebih dahulu berbelas kasih kepada saya yang penuh dosa dan berkenan melibatkan saya yang lemah dalam pekerjaan-Nya menciptakan keadilan di dunia. Bisa mengambil bagian kecil dalam misi besar ini merupakan kehormatan dan sukacita bagi saya. Kiranya seperti Nabi Mikha, Tuhan terus memperlengkapi saya dengan kekuatan dan Roh-Nya (Mikha 3:8) untuk bekerja dengan setia dan memuliakan nama-Nya.


*) Penulis saat ini bekerja sebagai research consultant untuk Center for Community Health Education Research and Service (CCHERS), sebuah organisasi nirlaba yang melakukan riset, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan advokasi untuk menciptakan keadilan kesehatan (health equity) bagi komunitas underserved. Bersama suami tinggal di kota Boston, AS.


/stl

43 views0 comments
Contact us