top of page

Pengaruh Lingkungan Terhadap Konsep Pernikahan Bagian 3: Memaknai Kembali Arti Keluarga

Aug 19
4 min read

Dampak Psikologis dan Spiritual 


Bagi anak-anak, keluarga adalah keseluruhan realitas mereka. Tanpa orang tua, mereka tidak akan dicintai, tidak dilindungi, tidak punya tempat tinggal, tidak diberi makan, dan terus menerus hidup dalam teror. Anak-anak menyadari bahwa mereka tidak akan bertahan hidup jika sendirian. Dalam keluarga disfungsional anak-anak dipaksa mengerti dan membiarkan perilaku orang tua yang kacau, tidak stabil, sulit diprediksi dan tidak sehat (Nelson, 2019). 


Anak-anak tidak mampu mengungkapkan pengalaman mereka secara verbal, membedakan antara perilaku sehat dan tidak sehat, serta memahami semuanya (Matthews, 2020). Mereka mungkin menafsirkan situasi tersebut sebagai hal yang normal, sehingga semakin melanggengkan disfungsi tersebut. Misalnya mereka mengatakan, “Tidak, saya tidak dipukuli. Saya hanya dipukul.” atau “Ayah saya tidak melakukan kekerasan; itu hanya caranya saja.” Mereka bahkan mungkin merasa bertanggung jawab atas kekerasan yang dilakukan orang tuanya, agar kenyataan tersebut bisa terasa masuk akal baginya. Semakin sering mereka melakukan hal ini, semakin besar kemungkinan mereka salah mengartikan diri mereka sendiri dan mengembangkan konsep diri yang negatif. Misalnya, “Benar juga sih. Saya bukan anak yang baik.” 


Pelecehan dan penelantaran mempengaruhi kemampuan anak untuk mempercayai dunia, orang lain dan dirinya sendiri. Anak-anak yang terus menerus diejek akan tumbuh menjadi orang yang menilai dirinya sendiri dengan kasar, berbohong dan terus mencari persetujuan dan penegasan. Anak-anak mungkin takut ditinggalkan, percaya bahwa mereka tidak dapat dicintai/tidak cukup baik, dan merasa kesepian/disalahpahami. Saat dewasa, mereka menghadapi kesulitan dalam membentuk ikatan profesional, sosial, dan romantis, dan dipandang sebagai orang yang patuh, suka mengontrol, berlebihan, atau bahkan tidak terikat dalam hubungan. Untuk mematikan perasaannya, mereka mungkin menyalahgunakan narkoba atau alkohol dan melakukan perilaku berisiko lainnya, misalnya mengemudi sembarangan, seks tidak aman, dan lainnya (Watson dkk., 2013). Oleh sebab itu, menyadari pola-pola disfungsional di masa lalu dan pengaruhnya terhadap cara individu berpikir dan bertindak sekarang ini, adalah langkah pertama yang penting. 


Elizabeth Marquardt menulis sebuah artikel di The Christian Century, (February 7, 2006, hlm. 15-23). Tulisan ini merupakan bagian dari bukunya yang berjudul Between Two Worlds (2006). Isinya adalah percakapannya dengan orang dewasa muda yang orang tuanya bercerai. Mereka memberitahu Marquardt dampak spiritual dari perceraian orang tua membuat mereka sulit mengerti hal-hal benar dan salah. Selain itu sulit memahami bagaimana caranya memohon pertolongan Allah. Ini adalah hal yang harus dipelajari dan ditemukan sendiri.


Dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga utuh, ada perbedaan 14% anak dari keluarga bercerai tidak terlibat dalam aktivitas keagamaan atau gereja, khususnya ketika mereka masih kecil. Jangankan untuk anak-anak, status cerai itu sendiri menyulitkan orang tua untuk tetap terhubung dengan komunitas apa pun, termasuk gereja. 


Anak-anak dari keluarga disfungsional juga sulit memahami Tuhan sebagai Bapa bagi mereka. Apalagi jika dikatakan “Tuhan selalu hadir” padahal orang tua mereka hampir tidak hadir, atau orang tuanya adalah ayah dan ibu yang menakutkan bagi mereka. Ada kesulitan untuk menjelaskan bagian Alkitab, misalnya Perumpamaan Anak yang Hilang di kelas Sekolah Minggu, bagi anak-anak dari keluarga disfungsional. Orang tualah yang meninggalkan keluarga, atau yang selalu berangkat kerja atau berkencan. Jika ada yang tinggal di rumah menunggu seseorang kembali, itu adalah si anak yang menunggu ibu dan ayah pulang. 


Membahas tentang kasih Tuhan di antara keluarga disfungsional perlu dilakukan dengan memandangnya dari kacamata mereka. Ada sesuatu yang terputus dalam cara mereka melihat kasih Tuhan, karena mereka sendiri tidak merasakannya di dalam keluarga. Keterputusan ini yang membuat mereka semakin jauh dari gereja. 


Di sisi lain, meskipun pada umumnya orang dewasa muda dari keluarga bercerai kurang religius dibandingkan anak-anak yang berasal dari keluarga utuh, ada sebagian dari mereka yang justru menjadi lebih religius. Ada temuan, ternyata banyak anak-anak dari keluarga bercerai yang mencari gereja karena mereka menemukan makna dan stabilitas di sana. Selain itu, ada sebagian anak berhasil menjadi penyintas dari pengalaman yang menghancurkan, akhirnya justru menjadi lebih tangguh karenanya. Sedangkan sebagian lainnya hancur dan terus dihantui oleh pengalaman buruk disfungsional keluarganya -- jika kami berhasil melewatinya, jangan dikira bahwa kami baik-baik saja. Karena jika Anda berpikir demikian, Anda tidak mengerti kedalaman hati manusia, betapa besarnya kehilangan-kehilangan itu (Marquardt, 2006).



Memaknai Kembali Arti Keluarga 


Ada enam langkah untuk membantu individu atau keluarga dalam perjalanan mereka menuju keutuhan (Cloud & Cloud, 2011:26-30). 


Pertama, proaktif mengambil tindakan. Bergabung dengan kelompok pendukung yang punya masalah serupa. Membaca buku tentang pemulihan dan penyembuhan akan sangat membantu. Demikian juga membentuk kelompok kecil dengan orang-orang yang berkomitmen untuk berbagi secara jujur dan terbuka, yang bersedia mendukung ketika bantuan diperlukan, dan yang berkomitmen untuk saling mendoakan. 


Kedua, penyembuhan luka membutuhkan waktu. Beberapa rasa sakit hati, kemarahan, dan trauma tidak akan hilang dengan segera. Penyembuhan bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan tergesa-gesa, bagaimana pun usaha yang dilakukan. 


Ketiga, menyerap pembelajaran dan informasi baru. Sulit untuk mengetahui apa yang “normal” bagi mereka yang berasal dari keluarga disfungsional. Jika selama seseorang tumbuh dewasa yang dilihat hanyalah perkelahian dan kekacauan, akan sulit baginya untuk menyelesaikan konflik dengan sehat. Seorang pria akan sulit berbagi perasaan dan relasi dengan pasangan dan anak jika dia tidak melihat orang tuanya melakukan hal yang sama. 


Keempat, melakukan apa pun yang diperlukan. Tidak ada solusi ajaib. Ketekunan akan membuahkan hasil ketika seseorang bertekad untuk menjadi sehat secara emosional dan melakukan semua yang bisa dilakukannya untuk membantu keluarga melakukan hal yang sama. Sikap pasif dan tidak aktif hanya akan menambah masalah bagi individu, biasanya dalam bentuk penderitaan yang berkepanjangan. 


Kelima, membuang rasa malu (karena memandang masalah sebagai aib). Seringkali titik awal penyembuhan adalah membuang yang tidak berguna, yaitu rasa malu yang merupakan bentuk rasa bersalah palsu. Dalam keluarga disfungsional perasaan yang berkembang adalah, “Saya cacat, tidak memadai, dan tidak berharga sebagai pribadi.” Rasa malu biasanya ditimpakan oleh orang lain, bukan oleh Tuhan. Ini berbeda dengan rasa bersalah normal yang menuntun kita untuk mengaku, bertobat, dan menebus kesalahan. Dibutuhkan upaya untuk beralih dari sistem keluarga yang berbasis rasa malu ke sistem yang saling menghormati orang lain dalam keluarga. 


Keenam, kembangkan komitmen spiritualitas yang murni, tidak manipulatif. Tidak ada perubahan yang bertahan lama tanpa bantuan Tuhan dan karya Roh Kudus. Itu adalah anugerah Tuhan semata-mata. Namun manusia bertanggung jawab untuk mengikuti Dia, terutama pada masa pemulihan. Siapa pun dapat jujur kepada Tuhan, tidak peduli betapa kacaunya  hidupnya.


Comments


Hubungi Kami
Dukung Kami

Bagi yang tergerak untuk mendukung, donasi dapat disalurkan melalui

BCA 106 999 5550 a/n Yayasan Perkantas

Hai Samareaders,

Ada yang bisa kami bantu?

Subject
download-jukebox-bg-removed.png

Media Samaritan merupakan media publikasi naungan Perkantas Medis Nasional dan Perkantas Nasional yang hadir untuk memperlengkapi Tenaga Kesehatan Kristen di Indonesia untuk menghidupi dan menyuarakan Kebenaran.

© 2026 Samaritan PMdN. Hak cipta dilindungi.

bottom of page