Pengaruh Lingkungan Terhadap Konsep Pernikahan Bagian 2: Keluarga Disfungsional

Keluarga Disfungsional
Dalam kehidupan masyarakat sekarang ini, kita mendapati keluarga-keluarga yang beragam – ada keluarga-keluarga menyediakan kasih, dukungan dan stabilitas, namun kita juga menemui semakin banyak keluarga yang bergelut dengan berbagai masalah disfungsi. Sebuah keluarga akhirnya menjadi disfungsi karena berbagai hal, di antaranya:
Pertama, terjadi pergeseran nilai dalam memaknai sebuah keluarga. Keluarga masa kini tidak menempatkan pernikahan sebagai hal yang utama untuk memulai sebuah keluarga. Dengan demikian ikatan emosi dan hukum tidak dibangun di atas dasar yang benar.
Kedua, pergeseran nilai keluarga yang berkaitan dengan gender. Masalah ini sebenarnya sudah ada sejak masa Sodom dan Gomora (Kejadian 19:5), tetapi belakangan pergeseran ini makin diterima oleh masyarakat luas, termasuk gereja dan negara. Di beberapa tempat pernikahan sesama jenis diakui banyak negara di Eropa, Amerika, Australia (Rakpong Sansri dkk., 2022:103). Gereja-gereja juga menerima dan memberkati pernikahan sesama jenis (Ohio Capital Journal, Juni 7, 2023). Di beberapa negara, orang tua tidak diizinkan menentukan jenis kelamin anaknya karena pertimbangan hak asasi. Keputusan tentang jenis kelamin ini ada di tangan anak ketika menginjak usia 18 tahun (Ammaturo & Moscati, 2021:146).
Ketiga, dalam masyarakat modern, selain keluarga inti, terdapat apa yang disebut oleh Neil McDonald (1996) sebagai "keluarga alternatif". Yang termasuk dalam kategori ini adalah salah satu orang tua telah berpisah dari yang lain dan menikah lagi atau menjalin hubungan dengan pasangan baru. Keluarga alternatif akan hidup dengan anak tiri, saudara tiri atau ayah dan ibu tiri. Keharmonisan hubungan dalam keluarga alternatif ini akan bergantung pada cara bersikap, perilaku, dan penerimaan para anggota baru kepada satu sama lain. Seringkali keluarga-keluarga seperti ini menjadi korban dari kegagalan perkawinan, dibiarkan memikul beban yang mereka anggap sangat berat, bahkan ketika mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah kondisi ekonomi yang sangat sulit.
Keempat, masuknya perempuan ke dunia kerja berbayar yang ada di luar lingkup rumah tangganya mengakibatkan rusaknya pola keluarga tradisional. Saat perempuan menjadi lebih aktif di dunia kerja, perempuan menjadi semakin tinggi wewenangnya dan semakin berdaya. Harbison & Robinson (2003:46) menekankan bahwa saat sebuah unit keluarga semakin terlibat dalam interaksi terus-menerus dengan kekuatan dunia kerja di luar rumah tangganya, maka kohesi internal dan jumlah anak yang dilahirkan dalam keluarga itu akan semakin rendah. Fungsi-fungsi pengasuhan anak dan upaya membangun attachment dan bonding antara orang tua dan anak menjadi sulit. Akibatnya anak-anak kehilangan figur orang tua yang berfungsi dan yang darinya mereka dapat belajar.
Kelima, sistem kepercayaan dan nilai-nilai yang tidak rasional dan ketinggalan zaman, yang dipelajari di rumah maupun didapat akibat adanya pengaruh lain dari lingkungan dan komunitas. Berpegang teguh pada sistem kepercayaan dan nilai-nilai tersebut dapat menjadi sumber stres dan mengakibatkan rendahnya harga diri (LuAnn Pierce, 2018). Hal ini dapat terjadi turun temurun, dari generasi ke generasi.
Keenam, keluarga menjadi disfungsi karena perkawinan tidak disiapkan dengan baik. Pasangan yang menikah tidak saling mengenal dengan baik, tidak memahami genogram keluarga pasangannya. Banyak juga pasangan menikah tanpa tujuan yang benar.
Keluarga disfungsional umumnya terlihat baik dan kompak di mata masyarakat dan gereja, tetapi tidak demikian halnya saat mereka di rumah. Seorang ayah dapat tampil sebagai sosok yang bertanggung jawab karena dia memenuhi sebagian besar kebutuhan keluarga. Namun jika dia seorang alkoholik, kebiasaannya minum-minum akan mengurangi kemampuannya untuk berfungsi penuh sebagai suami dan ayah. Hal ini akan berdampak negatif pada kesehatan emosi seluruh keluarganya. Ayah yang tampaknya bertanggung jawab ini dapat tiba-tiba menjadi kasar secara verbal dan kadang juga secara fisik. Perubahan perilaku ini menakutkan bagi seisi rumahnya, terutama anak-anak. Perilaku yang berbeda ini menghancurkan rasa aman mereka. Oleh karena mereka masih anak-anak, maka pada umumnya mereka kesulitan menghubungkan antara adiksi sang ayah dengan kehancuran emosi mereka. Kebanyakan anak selalu merasa bersalah atas ketidakberfungsian keluarga mereka (Marquardt, 2001). Rasa tidak mampu dan tidak berdaya akan mematahkan semangat anak-anak di rumah yang seperti ini.
Jika dikaitkan dengan anak, sebuah keluarga disfungsional akan menunjukkan bahwa peran yang seharusnya dijalankan oleh orang tua, tidak berlangsung dengan baik. Misalnya orang tua tidak hadir bagi anak (baik salah satu, ayah atau ibu maupun keduanya sekaligus), ada pengabaian atau ada kontrol yang berlebihan (Woititz, 1983, Margareth Smith & Rowena Fong, 2004: 59). Suami-istri (atau salah satunya) punya ketergantungan pada alkohol, obat obatan/drugs, dan semacamnya (Janet G. Woititz, 1983:6-7). Suami yang tidak bertanggung jawab atas kebutuhan finansial keluarga juga termasuk dalam kategori disfungsional (Michael E. Lamb, 2014:127). Gangguan mental, spiritual, atau moral yang dihadapi oleh salah satu anggota keluarga dapat membuat keluarga menjadi disfungsional (Hunt, 2014:5).
Saat terjadi konflik dalam sebuah perkawinan, orang tua mengalami stres, merasa tidak dihargai, dan mungkin kurang mampu memberikan kasih sayang kepada anaknya. Pengasuhan anak menjadi terganggu, dan orang tua mungkin menjadi lebih kurang sepakat mengenai pengasuhan anak. Selain itu, kesulitan yang dihadapi para ibu dalam menghadapi suaminya akan sangat menguras tenaga sehingga para ibu menjadi sering tidak konsisten dalam memberikan reaksi terhadap tuntutan dan perilaku buruk anak mereka (Easterbrooks dkk, 1994:162).
Orang-orang yang berasal dari keluarga disfungsional seringkali merasa tidak berdaya. Mereka kesulitan mendapat teladan dalam berperilaku dan membangun hal-hal positif dalam hidupnya. Mereka merasa ditakdirkan untuk mengulangi kesalahan dan perilaku yang sama seperti orang tuanya (Hunt, 2014). Perilaku maladaptif yang mereka lakukan disebabkan karena kesepian jiwa dan raga, mereka merasa terkucil, terputus, dan terkosongkan secara emosional (Hunt, 2014). Orang tua yang disfungsional cenderung memicu transisi menyakitkan dalam kehidupan mereka sendiri, termasuk perceraian. Banyak dari antara orang tua disfungsional ini yang membuat anak anak-mereka terpapar akibat-akibat negatif, dibesarkan dalam pengasuhan yang buruk sebelum dan sesudah terjadinya perceraian, dan hidup di tengah lingkungan yang penuh stres (Capaldi & Patterson, 1991).
Salah satu hal yang berbahaya dalam keluarga disfungsional adalah terjadinya pengulangan kebiasaan (Robertson, 2009). Jika anak-anak dari keluarga ini tidak mengalami intervensi yang berarti, maka di masa dewasanya mereka dapat mengulangi kebiasaan-kebiasaan orang tuanya dan melahirkan keluarga disfungsional yang baru. Anak-anak dengan latar belakang keluarga disfungsional, membutuhkan hadirnya orang-orang yang menjangkau mereka dan mengajarkan keterampilan hidup, termasuk menanamkan rasa bahwa “mereka penting” (Marquardt, 2001).
Bila tidak dipulihkan, suami dan istri dari keluarga disfungsional berpotensi bercerai (Marquardt, 2005:241). Dalam kesimpulan penelitiannya Marquardt menulis, anak-anak yang berasal dari keluarga bercerai mempunyai kemungkinan 75% lebih besar untuk bercerai dibandingkan anak-anak yang berasal dari keluarga utuh. Ini terjadi karena anak-anak belajar memperlakukan semua hubungan mereka di masa depan berdasarkan hubungan yang mereka alami dalam keluarga asal mereka sendiri (Shannon E. Perkins, 2014:12-13). Namun kabar baiknya adalah jika perkawinan bertahan selama empat atau lima tahun pertama, kemungkinan perceraian pada tahun-tahun berikutnya cukup rendah, bahkan bagi anak-anak dari keluarga yang bercerai (Marquardt, 2005:242).


Comments