top of page

Eksposisi Pengkhotbah Bagian 3: Ibadah yang Berkenan bagi Allah

May 21
2 min read

Pengkhotbah 4:17 menyatakan “Jagalah langkahmu ketika engkau berjalan ke Rumah Allah! Mendekat untuk mendengar lebih baik daripada mempersembahkan kurban yang dilakukan orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu bahwa mereka berbuat jahat”.


Perhatikan bahwa orang bodoh yang disebut di sini adalah bagian dari umat Allah, yang membawa persembahan ke Rumah Allah. Dalam Alkitab, orang bodoh bukan berarti orang yang tidak berpendidikan, melainkan orang bebal, orang yang tidak takut akan Allah. Ketika Alkitab berbicara tentang orang bodoh, lebih sering yang dimaksudkan adalah umat Allah yang bebal, yang hidup dengan tidak takut akan Allah, dan bukan mereka yang ada di luar umat Allah. Ini berarti kita yang mengaku percaya kepada Kristus, yang mengaku sebagai orang Kristen, bisa merupakan orang bodoh di mata Allah.


Ayat ini menunjukkan bahwa hanya karena seseorang mempersembahkan kurban kepada Allah, bukan berarti bahwa Allah pasti berkenan dengan kurbannya. Dalam Taurat Musa, kurban harus tidak bercacat cela, dan harus sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Tapi bukan hanya itu, Allah juga menuntut umat yang mempersembahkan kurban datang dengan hati yang bertobat.


Mazmur 51:18 menyatakan, Allah tidak berkenan pada kurban yang dipersembahkan. Ini seharusnya membuat kita bingung karena Allah yang menuntut umat untuk mempersembahkan kurban. Jawaban atas ketidakperkenanan Allah terlihat dalam ayat 19, yang menunjukkan karena umat tidak melakukannya dengan jiwa yang hancur, dan hati yang remuk-redam, yaitu dengan mengerti betapa berdosanya mereka dan datang dengan kerendahan hati untuk meminta pengampunan.


Sebagai orang Kristen kita tidak perlu lagi mempersembahkan kurban karena Kristus telah mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban yang sempurna untuk menebus dosa orang percaya. Tapi prinsip bahwa apa pun yang kita persembahkan kepada Allah haruslah benar secara lahiriah dan batiniah tetap berlaku. Ini berarti apa pun yang kita persembahkan kepada Allah, baik waktu, tenaga, maupun dana kita, jika kita tidak melakukannya secara benar, kita sudah “berbuat jahat”. Perhatikan, bukan hanya perbuatan kita dianggap nol, tidak ada nilainya, tapi dianggap “berbuat jahat”.


Paulus menekankan bahwa seluruh hidup kita seharusnya merupakan ibadah yang kita persembahkan kepada Allah (Rm. 12:1). Apa yang kita lakukan dalam membina keluarga kita, dalam bekerja di market place, dalam pelayanan di gereja, maupun aktivitas untuk komunitas kita, itu adalah ibadah kepada Allah, yang perlu kita lakukan dengan benar. Melakukan dengan benar berarti kita juga harus melakukannya dengan “iman” yang benar, karena “segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa” (Rm. 14:23b). Karena itu marilah kita berupaya untuk melakukan apapun yang kita kerjakan dengan mengingat bahwa kita melakukannya sebagai ibadah kepada Allah, dan kita perlu melakukannya dengan benar. Ketika Allah berkenan memakai kita orang berdosa yang penuh kelemahan, dalam kapasitas apapun, ini semata-mata karena anugerah Allah.


Sesuai dengan tuntutan Allah, dan sebagai ucapan syukur atas anugerah Allah yang begitu berlimpah bagi kita, marilah kita melakukan setiap tugas dan peran yang Allah berikan kepada kita dengan iman yang benar, dengan motivasi yang benar, dan dengan tindakan yang benar. Kiranya semua yang kita lakukan berkenan kepada Allah, dan memuliakan nama-Nya.

Comments


Hubungi Kami
Dukung Kami

Bagi yang tergerak untuk mendukung, donasi dapat disalurkan melalui

BCA 106 999 5550 a/n Yayasan Perkantas

Hai Samareaders,

Ada yang bisa kami bantu?

Subject
download-jukebox-bg-removed.png

Media Samaritan merupakan media publikasi naungan Perkantas Medis Nasional dan Perkantas Nasional yang hadir untuk memperlengkapi Tenaga Kesehatan Kristen di Indonesia untuk menghidupi dan menyuarakan Kebenaran.

© 2026 Samaritan PMdN. Hak cipta dilindungi.

bottom of page