top of page

Aku, Kamu, dan Kesalehan Kristus


“Saya tertarik kepada dia pertama-tama karena iman dan keseriusan spiritualitasnya yang tampak dari karakter, value, dan takut akan Tuhan yang jelas. Saya juga merasa Tuhan begitu murah hati memberikan pasangan yang menarik secara fisik”. Begitulah ungkapan salah seorang pembina pelayanan mahasiswa di kota Jakarta saat diwawancara terkait pasangan hidup. Melihat fenomena banyaknya anak muda Kristen yang tak kunjung berpasangan meski tampaknya dalam banyak sisi sudah cukup mapan, timbul pertanyaan: apakah muda-mudi Kristen tak lagi menarik bagi lawan jenisnya saat ini?


Ketertarikan fisik = tidak rohani?

Dari kutipan di atas, menarik untuk disorot bahwa ketertarikan fisik juga menjadi suatu hal yang penting dan hal ini wajar. Allah menciptakan manusia memiliki sex, laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. Seksualitas pun diberikan sebagai anugerah yang baik di dalam pernikahan. Banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai orang yang rohani, memiliki ketertarikan fisik pada lawan jenis seakan terasa tabu. Hal-hal yang berbau fisik dianggap seperti duniawi dan kurang mulia, bahkan ekstremnya dipandang sebagai dosa.


Namun, sejatinya Allah menciptakan kita bukan hanya jiwa, tapi juga tubuh yang berdaging. Pandangan bahwa tubuh ini bagian dari keberdosaan, sedangkan jiwa adalah lebih mulia serta kekal. Seringkali, konsep ini dibumbui sedemikian rupa hingga terkesan rohani. Nyatanya, konsep ini sebenarnya salah dan bukan pengertian yang Alkitabiah. Lebih cocok dengan pandangan Plato, yang mengatakan bahwa tubuh adalah penjara jiwa. Sebaliknya di dalam kekristenan, pribadi Allah kedua berinkarnasi menjadi manusia yang berdaging. Dalam narasi besar Allah pun nantinya di dalam langit dan bumi yang baru, manusia pun diberikan tubuh yang baru.


Bukan hanya fisik

Ketertarikan fisik, meskipun punya andil dalam relasi, tentu bukanlah segalanya. Christ-like character menjadi daya tarik yang begitu kuat, suatu keindahan yang tidak dapat ditahan bahkan dengan menutup mata. Ribka tidak hanya elok parasnya, tapi juga memiliki karakter yang begitu menarik. Hati yang mudah digerakkan oleh belas kasihan, dan ditopang oleh kesungguhan menolong orang membuat Eliezer yakin untuk memilih Ribka bagi anak tuannya. Mengapa? Menimba air untuk 10 ekor unta minum bukan pekerjaan mudah. Satu unta diperkirakan dapat minum 30-50 galon air, atau setara dengan 115-200 liter air. Memberi minum 10 ekor unta jelas bukan pekerjaan mudah bagi seorang gadis muda seperti Ribka. Namun, seorang ramah, pekerja keras, tidak mudah mengeluh, tangan yang ringan membantu didorong oleh hati yang berbelas kasihan, itulah pesona utama Ribka.


Tidak berbeda jauh dari deskripsi perempuan ideal menurut Amsal 31. Dalam berbagai interview dengan pembina-pembina persekutuan mahasiswa pun, banyak pria/suami yang mengaku bahwa ia sangat menghargai istrinya karena kebaikan hatinya, karena perjuangan sang istri di dalam keluarga. Nilai dari kebaikan hati seorang perempuan itu melebihi kecantikan parasnya. Petrus dalam suratnya yang pertama bagi orang-orang Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia kecil dan Bitinia juga mengajarkan bahwa perhiasan seorang perempuan janganlah hanya dari perhiasan lahiriah, tetapi hendaklah ia mempercantik dirinya secara batiniah juga, yaitu dengan roh yang lemah lembut dan tenteram, sebagai perhiasan yang sangat berharga di mata Allah. Dalam terjemahan bahasa Inggrisnya, kata yang dipakai adalah ”the unfading beauty of gentle and quiet spirit”. Quiet spirit bukan berarti seorang yang pendiam, namun seorang perempuan yang dapat mendengar. Kelembutan hati yang terpancar dari pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri, namun di dalam kerendahan hati mau mendengar orang lain ketika berbeda pendapat, berbeda kepentingan, bahkan ketika dikoreksi. Dan hal yang paling ultimate dari gentle and quiet spirit ini adalah untuk dapat tenang, lembut hati, dan mau mendengar Allah. Kekuatan seorang perempuan ditemukan dalam kekuatannya untuk bergumul, bergelut bersama Allah dalam tenang dan anggunnya sikap hidupnya. Tidak dikuasai oleh kegelisahan hatinya, atau dorongan untuk mengontrol segala sesuatu, namun sikap yang mau berdiam, menunggu di kaki Allah, dan mengharapkan pertolonganNya. Dalam banyak masalah ia tidak menjadi kasar, but to wait upon the Lord, adalah kekuatan seorang perempuan yang mengagumkan bahkan untuk seorang laki-laki.


Demikian juga halnya laki-laki yang memancarkan karakter Kristus menjadi begitu menarik bagi perempuan yang saleh. Seorang laki-laki yang bekerja keras, menyatakan kasih dalam sifat rela berkorban, rela memikul salib – bahkan demi pertumbuhan orang lain, bersabar dengan kelemahan orang lain, merupakan benih-benih dari karakter Kristus yang nampak dari sikap hidupnya sehari-hari. Lelaki yang demikian jauh lebih menarik, dibandingkan yang hanya menonjolkan rupa, harta, maupun tahta. Dalam naik turunnya badai pernikahan, banyak istri mengaku diyakinkan kembali akan cinta sang suami ketika melihat bukti nyata dalam ia menyangkal diri demi mengasihi istrinya. Bukankah ini adalah refleksi dari peristiwa salib? Ketika Kristus karena kasihNya akan gerejaNya, rela menempuh jalan salib demi menembus, dan memimpin GerejaNya kepada kekudusan. Bagi seorang perempuan yang sungguh-sungguh mencintai Kristus, ketika melihat bayang-bayang dari karakter Kristus dalam diri seorang manusia yang tidak sempurna pun, menjadi daya tarik yang tidak dapat dipungkiri dan kunci dari kebertundukan diri.


Ketika seseorang mengasihi Kristus sedalam hatinya, ketika ia sungguh-sungguh memiliki mata rohani yang memandang kepada keindahan yang sejati, maka kesalehan menjadi hal yang begitu menarik bagi hatinya. Godliness is attractive for Godly people. Jebakan bagi para kaum muda adalah sering kali menganggap kesalehan itu sebagai natur bawaan. Padahal kesalehan adalah perpaduan antara anugerah Allah yang disambut dengan ketaatan kita. Artinya, ada perjuangan melawan natur awal kita yang berdosa. Artinya, wajar jika kita maupun orang lain belum sempurna. Artinya, kita pun perlu bersabar akan proses pertumbuhan orang lain, sebagaimana kita juga telah menerima kesabaran demi kesempatan. Tidak ada kesalehan yang instan.


Selain itu, kesalehan yang sejati tidak dapat dipalsukan. Tindak tanduk di luar tentu dapat dikondisikan, bahkan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Tetapi kerinduan hati bagi Allah yang tidak dapat dipadamkan, air mata pertobatan, juga hati yang pedih ketika kita kembali jatuh dalam dosa, atau secara singkat - respon hati kita di hadapan kebenaran, bukanlah suatu hal yang dapat dibuat-buat. Lihatlah akan hal yang sedemikian dalam diri calon pasangan kita.


Kapan dan dimana kutemukan pasangan hidup?

Pertanyaan selanjutnya, kapankah kita menemukan orang yang sedemikian? Bukankah selama ini kita telah menanti, berdoa, berusaha, dan tidak menemukannya? Benar bahwa “kapan” menjadi pertanyaan yang lebih sulit dijawab. Namun, sebagai orang beriman kita percaya bahwa rencana Tuhan akan indah pada akhirnya.


Sementara itu, pertanyaan “di mana” mungkin menjadi hal yang lebih dapat didiskusikan. Di manakah kita dapat menemukan orang yang tepat bagi kita? Belajar dari kisah-kisah Alkitab, ternyata sumur pada zaman perjanjian lama bukan hanya tempat menimba air, tapi juga pusat peradaban, tempat perkumpulan, tempat bertemu, berkenalan, bersosialisasi, bahkan tempat orang mencari jodoh. Ribka ditemukan bagi Yakub di sumur. Menarik garis merah sampai ke zaman ini, kita bisa menerapkan strategi yang sama. Jika kita ingin bertemu dengan orang lain, datanglah ke tempat di mana orang-orang berkumpul.


Percakapan singkat dengan para pembina mahasiswa pun menyatakan hal yang serupa. Sebagian besar dari mereka bertemu pasangan hidupnya di gereja, retret, pelayanan kampus, atau ladang pelayanan lainnya. Di zaman sekarang ini, apakah “sumur” ini masih menjadi tempat orang-orang berkumpul? Apakah gereja, pelayanan mahasiswa, retret, dll masih menjadi prioritas bagi anak-anak Tuhan di zaman ini? Sangat memprihatinkan bila kita melihat gereja mulai kosong dan anak-anak muda justru ditemukan di club, bar, café, atau lapangan olah raga.


Beberapa wejangan penting yang dapat diperhatikan adalah, pertama, it is okay to ask for help, it is okay to be helped. Kadang kita membutuhkan pertolongan orang lain dalam fase perkenalan, itu adalah suatu hal yang normal. Tidak perlu malu atau ragu. Fokuslah pada memperluas pergaulan, memperdalam relasi dalam komunitas dengan visi yang telah Tuhan nyatakan kepada setiap kita. Kadang kita ditolong orang lain, kadang kita menolong orang lain. Tidak ada yang salah ataupun aneh dengan itu.


Kedua, kita hidup di jaman yang dipenuhi dengan cynicism and suspicion. Namun, kasih mengharapkan yang terbaik, kasih melihat yang terbaik dalam diri orang lain. Love sees the best in people. Sulit bagi kita untuk memulai relasi, ataupun menjalin relasi jangka panjang saat jiwa kita dipenuhi kecurigaan dan ketidak percayaan. Kita menjadi manusia yang sulit untuk dihadapi bagi orang lain, bahkan diri sendiri. Karenanya, kita perlu mengasah kasih dalam hidup sehari-hari, bahkan dalam internal practice di dalam komunikasi dengan diri. Mewarnai hati dan sudut pandang dengan kasih itu perlu terus dilakukan dari hari ke hari, hingga akhirnya kita sendiri semakin serupa Kristus yang penuh kasih.


Banyak anak muda bergumul akan pasangan hidup, tetapi kiranya pergumulan ini diarahkan dan membawa kita kepada pertumbuhan yang benar. Jangan mencari jalan pintas yang akhirnya menghantar pada penyesalan. Dalam setiap langkah, isilah dengan komitmen untuk menghargai dan memuliakan Tuhan yang telah mati dan bangkit bagi kita.


/stl


108 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page