top of page
Subscribe
Instagram
Facebook
Donation

146 results found with an empty search

  • Kisah yang Indah – Eksposisi Efesus 1

    Kisah yang indah dalam Efesus 1 ini dapat kita bagi menjadi tiga cerita indah. Cerita pertama tentang perkenalan Paulus dan penerima suratnya sampai kepada kita (Ayat 1-2). Penulis memulai suratnya dengan memperkenalkan dirinya: Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah. Bagian ini memberi kita pemahaman bahwa wibawanya sebagai pengajar adalah wibawa dari Kristus dan demi nama Kristus. Ceritanya dilanjutkan dengan kepada siapa surat tersebut ditujukan, yaitukepada orang-orang kudus di Efesus,orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. Paulus menyebut mereka “kudus” sebab mereka milik Allah. Paulus juga menyebut mereka “orang percaya” sebab mereka percaya kepada Kristus, dan mereka itu berada di dalam Kristus. Tentu saja hal ini dapat diterapkan kepada semua orang percaya yang dikuduskan dan dikhususkan hidup bagi Allah di setiap zaman. Cerita Paulus dibagian ini dibarengi dengan salam dan berkat: Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. Cerita kedua, tentang Puji-pujian kepada Allah atas karya kasih karuniaNya bagi kita (Ayat 3-14) Pada bagian ini Paulus menyatakan puji-pujianan kepada Tritunggal dan sekaligus menegaskan peranNya: Pertama, Allah Bapa adalah sumber dari semua berkat yang kita nikmati. Dialah yang memprakarsai penyelamatan. Dialah yang mengaruniakan berkat (ayat 3). Dialah yang memilih kita (ayat 4). Dialah yang menentukan kita menjadi anak-anakNya (ayat 5). Dialah yang mengaruniakan anugrahNya dengan melimpah (ayat 7-8). Dialah yang menyatakan rahasia kehendakNya kepada kita (ayat 9) dan Dia bekerja menurut keputusan kehendakNya (ayat 11). Dengan kata lain, Allah Bapa yang mengasihi dan memberkati kita dengan kasih karuniaNya dan sedang mengerjakan rencanaNya yang abadi. Kedua, Kristus. Kita dimungkinkan menerima semua berkat Ilahi tersebut karena “di dalam Kristus”. Hal ini menegaskan bahwa dulu kita semua berada “di dalam Adam”, artinya kita beranggotakan kemanusiaan yang sudah jatuh ke dalam dosa. Sekarang, kita berada di dalam Kristus, artinya kita beranggotakan kemanusiaan baru yang telah ditebus. Di dalam Kristus, Allah memberkati kita di waktu kini dan memilih kita dalam kekekalan (ayat 3-4). Di dalam Dia yang dikasihNya, Allah mengaruniakan anugrahNya kepada kita sehingga di dalam Dia kita beroleh penebusan dan pengampunan (ayat 7). Di dalam Dia orang Yahudi dan non Yahudi yang percaya menjadi umat Allah dan dimateraikan menjadi umat Allah (ayat 11-14) Ketiga, Roh Kudus, bekerja dan berkarya sedemikian rupa dalam rangkaian karya kasih karuniaNya bagi kita. Cerita ketiga, tentang panggilanNya, warisanNya dan kuasaNya yang hebat atas kita (Ayat 15-22) Dalam bagian ini Paulus menyatakan syukurnya kepada Allah atas iman dan kasih mereka, bahwa mereka, para pembaca-penerima surat ini telah mengambil bagian dalam berkat-berkat penyelamatan Allah, dan itu dilakukannya dengan berdoa untuk mereka. Secara khusus Paulus berdoa supaya mereka mengerti tiga hal berikut: Pertama, “Pengharapan yang terkandung dalam panggilanNya. Panggilan Ilahi bukanlah sembrono. Dia memanggil dengan tujuan mulia seperti: Allah memanggil kita supaya menjadi milikNya (Roma1:6). Dia memanggil menjadi anggota dalam persekutuan denganNya (1 Kor 1:9). Allah juga memanggil kita untuk dijadikan orang-orang kudus dengan panggilan kudus dan meneladaniNya hidup kudus (Roma 1:7, 1 Kor 1:2, 2 Tim 1:9, 1 Pet 1:16). Allah memanggil kita untuk merdeka. Salah satu sifat dari orang kudus adalah kelepasan dari hukum Taurat dan kuk perhambaan (Gal 5:1,13). Allah memanggil kita hidup berpadanan dengan panggilan itu, dipanggil dalam satu tubuh, tidak mempermasalahkan ras, dan status sosial (Ef 4:1, Kol 3:15). Allah memanggil kita mengikuti jejakNya, siap menderita (1 Pet 2:21). Allah memanggil kita ke dalam kerajaan dan kemulianNya yang kekal (1 Tes 2:12, 1 Pet 5:10) Semua itu seperti satu paket saat Allah memanggil kita. Ia memanggil kita kepada Kristus dan kekudusan, kepada kemerdekaan dan damai, dan kepada penderitaan dan kemuliaan. Kita dipanggil untuk hidup dengan cara baru yaitu kehidupan yang mengenal, mengasihi, menaati dan melayani Kristus. Kita menikmati persekutuan dengan Dia dan dengan satu sama lain. Kita memandang dan meyadari penderitaan saat ini tapi juga pandangan kita sampai pada kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Demikianlah pengharapan yang terkandung dalam panggilanNya. Paulus berdoa supaya mata hati kita melek dan kita mengerti Kedua, “Betapa kayanya kemuliaan warisanNya” Jika panggilan Allah merujuk kepada permulaan kehidupan kita sebagai Kristen, maka warisanNya merujuk kepada kesudahannya. Roh Kudus adalah jaminan bahwa kita akan menerima warisan itu kelak (ayat 14). Warisan yang dilukiskan Petrus tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu (1 Pet 1:4) Ketiga, “Betapa hebat kuasaNya” Antara panggilanNya yang merujuk permulaan dan warisanNya yang merujuk pada kesudahannya, Paulus mengajak kita untuk menyadari bahwa hanya kuasa Allah yang dapat memenuhi pengharapan yang terkandung dalam panggilanNya dan kuasa itu pula yang akan membawa kita dengan selamat kepada kekayaan dari kemuliaan warisan yang akhirnya akan kita terima dari Allah. Paulus yakin bahwa kuasa Allah cukup untuk tujuan itu sehingga ia menulis tentang kuasa Allah dan kekuatan kuasaNya dan ia berdoa supaya kita mengerti betapa hebat kuasaNya bagi kita yang percaya Refleksi Kisah yang indah ini masih terus berlanjut, mari menjadi bagian dari kisah yang indah ini. Mensyukuri karya kasih karunia dan kuasaNya yang hebat atas kita serta melakukan bagian kita dengan sukacita, semangat, tekun dan setia. Referensi: Donald Guthrie at all, The New Bible Commentary, IVP London /Tafsiran Alkitab Masa Kini (1994), Yayasan Komunikasi Binakasih /OMF Jakarta Jhon R.W Stott, The Messagr Of Ephesians The Bible Speak Today, IVP England/ Efesus, (2000), Yayasan Komunikasi Binakasih /OMF Jakarta Warren W W Outline and Comments, Calvary Baptist Church, Covington, Kentucky /stl

  • Kasih Karunia Demi Kasih Karunia

    Kasih karunia. Kata ini sering disebut juga dengan anugerah dan sering diterjemahkan sebagai Grace dalam bahasa Inggris. Kata ini merupakan salah satu dari kata yang terpenting dalam Alkitab dan Kekristenan. Perjanjian lama dan perjanjian baru memakai kata yang berbeda untuk kasih karunia. Dalam Perjanjian Lama kata yang diterjemahkan sebagai kasih karunia adalah: Khen. Khen ini barasal dari kata Khanan yang berarti memberi kasih karunia. Kata ini berarti juga perbuatan seorang atasan yang menunjukkan kepada bawahannya kasih karunia, padahal sebenarnya bawahannya itu tidak layak menerimanya, misal Kejadian 6:8; Keluaran 33:17; Bilangan 6:25. Memang, tidak ada manusia yang dapat menunjukkan khen kepada Allah. Kata ini digunakan untuk menggambarkan kebaikan Allah kepada orang-orang yang sebenarnya tidak layak menerima kebaikan itu. Di Perjanjian Baru, kata Yunani kasih karunia ini adalah kharis , yang berarti anugerah, kasih karunia atau kemurahan hati. Menurut Kevin J Conner, kasih karunia muncul dari kebiasaan orang Yunani ketika mereka akan memberikan hadiah dan itu dari kemurahan hati yang murni, tanpa berpikir akan imbalan, maka kata yang digunakan adalah “Kharis.” Dalam Perjanjian Baru kata kharis dipakai untuk menggambarkan keselamatan dari Allah kepada manusia berdosa yang tidak layak menerimanya. Kata kasih karunia ini sering disamakan dengan belas kasihan. Sebenarnya kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Kasih karunia adalah pemberian Allah yang tidak selayaknya diberikan kepada kita karena kita tidak pantas menerimanya. Sedangkan belas kasihan yang disebut juga rahmat adalah tindakan Allah yang tidak memberikan kepada kita apa yang sepatutnya kita terima. Belas kasihan akan cukup pada penerimaan kembali anak yang telah pulang. Namun Kasih karunia menyongsong dari kejauhan, memberikan cincin dan jubah terbaik dan mengadakan pesta penyambutan. Belas kasihan akan menyirami dengan minyak dan anggur lalu membalut luka-luka orang yang terbaring setengah mati di jalan menuju Yerikho dan membawanya ke penginapan. Kasih karunia yang menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan untuk perawatan orang itu dan berjanji akan kembali lagi untuk membayarkan kelebihannya. Kasih karunia tidak banyak tertulis dalam Alkitab, dari 783.137 kata di Alkitab, kata kasih karunia hanya disebut 170 kali, 39 kali di Perjanjian Lama dan 131 kali di Perjanjian Baru. Namun Kasih karunia ini merupakan isi dari Alkitab sehingga Alkitab disebut juga sebagai buku Kasih karunia. Paulus menyebut berita injil sebagai injil kasih karunia. Lukas menulis berita yang diberitakan sebagai berita kasih karunia. Bukan Hanya Pengampunan Saat manusia pertama jatuh dalam dosa di taman Eden , Allah tidak membiarkan manusia terpisah dengan diri-Nya. Dengan kasih karunia, Ia merencanakan penyelamatan manusia. Allah yang marah dan menyesal setelah melihat kejahatan manusia namun memberikan kasih karunia pada Nuh dan keluarganya, selamat dari bencana air bah. Kasih karunia ini berlanjut pada pemilihan dan pemanggilan Abraham untuk membuat perjanjian dengannya bahwa keturunannya akan menjadi bangsa besar dan menjadi berkat bagi seluruh bangsa. Allah yang mengingat penderitaan bangsanya dalam perbudakan Mesir dengan kasih karunia-Nya memanggil Musa untuk memimpin bangsa ini menuju tanah perjanjian. Kasih karunia demi kasih karunia Allah berikan selama 40 tahun pada bangsa yang tegar tengkuk ini sampai akhirnya bangsa itu memasuki tanah Kanaan dan mendapatkan tanah bagiannya masing-masing. Bangsa yang terus mengecewakan Allah, tetapi Allah juga yang terus memberikan kasih karunia-Nya. Allah dalam Kasih karunia memimpin, memampukan dan mencukupkan Nehemia , Ezra dan teman temannya untuk membangun reruntuhan Yerusalem dan bait Allah. Maria, yang oleh malaikat mendapat kasih karunia di hadapan Allah untuk mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan bayi Yesus. Allah sang Firman karena kasih karunia besar menjadi manusia, diam di antara manusia dan melakukan karya penyelamatan bagi manusia. Tidak berhenti pada pengampunan, kasih karunia Allah terus berlanjut pada kasih karunia lainnya: pada penerimaan manusia menjadi anak-anak Allah dan bahkan rekan sekerja Allah, pada kasih karunia yang mendorong-Nya berdiam dalam diri tiap-tiap kita untuk menyadarkan kita akan dosa dan memberi pengertian akan kebenaran, memberi penghiburan dan mengiringi langkah kita. Kuasa-Nya yang melampaui akal dan pikiran pun diberikan untuk memampukan tiap anak-anak-Nya dalam ketidakmampuan , dalam kelemahan, dalam penderitaan dan kesulitan. Alkitab menjanjikan apa yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: semua disediakan Allah bagi kita. Puncaknya adalah kasih karunia demi kasih karunia ini akan terus mentransformasi kita semakin serupa dengan gambaran Anak-Nya sampai nanti kita bertemu muka dengan muka dengan Kristus. Kasih Karunia dari Masa ke Masa Apa yang membuat Fanny Crosby, seorang yang buta sejak bayi karena malpraktek, miskin dan yatim sejak masih bayi, janda ditinggal suami dan anak, dapat menggubah himne sebanyak lebih dari 8000 sepanjang hidupnya. Kehidupan Fanny yang menurut orang lain seperti ditimpa nasib buruk berulang kali ini, mampu menggubah lagu yang memberkati banyak orang selama berabad-abad hingga kini. ‘Ku Berbahagia, Mampirlah Dengar Doaku, Kuperlukan Juruselamat, Aku MilikMu Yesus Tuhanku, dan ribuan himne lainnya. Dia bahkan berkata, “ Jika saya bisa memilih saat dilahirkan maka saya akan memilih untuk tetap buta, karena ketika saya mati maka wajah pertama yang saya pernah lihat adalah wajah penyelamatku.” Sungguh kalimat yang keluar dari jiwa yang kaya akan kasih karunia. Bagaimana mungkin seorang penderita kusta di India dapat berkata bahwa dia bersyukur menderita kusta jika bukan oleh kasih karunia Allah. Seorang bernama Sadan, penderita kusta dari India yang tidak akan bisa melupakan bagaimana kasih karunia Allah menghampirinya melalui pelayanan dr.Paul Brand. Ketika berpuluh tahun dalam hidupnya tidak ada seorangpun yang berani mendekati apalagi menjamahnya. Kasih karunia Allah hadir menjamah lukanya, merawatnya, melakukan operasi korektif pada kaki dan tangannya sehingga dia mampu kembali ke komunitas dengan berdaya. Semua itu membuat Sadan tidak pernah menyesali hidupnya bahkan dia bersyukur mendapatkan penyakit kusta. Bagi Sadan, justru karena penyakit kustalah dia bisa bertemu dengan Tuhan yang hidup. Tuhan yang dihadirkan oleh dokter –dokter dan orang orang yang merawatnya. Kasih karunia-Nya juga yang memampukan seorang mahasiswa kedokteran tahun akhir, Tirza Hendrick , menyelesaikan pendidikannya setelah mengalami kelumpuhan, afasia motorik, penglihatan kabur disebabkan multiple sclerosis. Untuk aktivitas dasar sehari-hari, dia harus bergantung pada orang lain. Kasih karunia yang Allah limpahkan memulihkannya, memampukannya menyelesaikan pendidikan kedokteran tanpa tertunda. Kasih karunia yang Allah hadirkan melalui anak-anak-Nya yang datang menolongnya untuk membacakan diktat kedokteran dan menolongnya menyembuhkan penyakitnya. Kasih karunia yang luar biasa itu bahkan membawanya mendapatkan beasiswa ke Belanda . Tirza mengandalkan kasih karunia hari demi hari hingga dia menyelesaikan pendidikan S2-nya di sana dengan segala keterbatasannya dalam finansial, kemampuan dan keterbatasan kesehatannya (Multiple sclerosis pernah kambuh saat di Belanda). Kasih karunia itu pula yang terus memeliharanya hingga kini. Dr. Tirza Hendrick mampu hidup berkelimpahan di dalam kelemahan semata karena kasih karunia Allah yang hadir, memampukan dan memberi kelimpahan. Kasih karunia ini jugalah yang menghadirkan majalah Samaritan 32 tahun yang lalu bagi kalangan medis Kristen di Indonesia. Oleh kasih karunia majalah ini telah memberkati para pembacanya. Allah dengan kasih karunianya berkenan memakai majalah ini menginspirasi, memotivasi , menyegarkan dan memelihara anak-anak-Nya. Kasih karunia memampukan majalah ini terus melakukan pelayanannya dari masa ke masa. Kini, majalah Samaritan bertransformasi sebagai respon pada perubahan zaman dalam bentuk digital. Media Samaritan hadir untuk terus menceritakan dan merayakan kasih karunia demi kasih karunia yang sudah kita nikmati dan terus akan kita nikmati lagi. “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia “(Yohanes 1: 16) *) Penulis merupakan seorang dokter konsultan ginjal dan hipertensi di RSUD Tarakan, Jakarta

Hubungi Kami

Dapatkan update artikel SAMARITAN terbaru yang dikirimkan langsung ke email Anda.

Daftar menjadi Samareaders sekarang!

Instagram
Facebook
Media Samaritan
Media Samaritan

 Media Samaritan 2022

bottom of page