• dr. Kurnia Baraq, M.Med

Parenting? Saya Tidak Mampu!



Kesadaran para orangtua akan pentingnya belajar parenting meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Ledakan informasi dapat dengan mudah diakses secara online, mulai dari teknik meng-ASI-hi, 10 kata pujian untuk membangun kepercayaan diri anak, sampai tahapan pendidikan seksual sejak anak sampai remaja. Tidak sedikit orangtua yang berupaya membekali diri melalui “pembelajaran” secara online ataupun memilih mengikuti kelas-kelas parenting secara fisik. Untuk memberikan pola asuh terbaik bagi perkembangan fisik dan mental anak merupakan salah satu tujuan. Harapan terbesarnya adalah agar anak-anak yang dibesarkan dengan teknik parenting berbasis “ilmiah” ini nantinya dapat menjadi dewasa yang produktif, stabil secara emosional, serta unggul dari segi akademik dan pencapaian materi. Lalu, apakah hal ini cukup?


“Tidak ada hal yang lebih utama dibandingkan dipakai Tuhan menjadi alat untuk membentuk jiwa seorang manusia”. Menjadi orangtua merupakan panggilan bagi setiap manusia dalam menggenapi mandat Allah untuk bertambah banyak dan penuhi bumi. Bukan hanya sekedar membesarkan anak-anak secara fisik, tetapi agar mereka dapat menaklukkan bumi dan berkuasa atas segala apa yang ada diatasnya sesuai dengan definisi Allah. Tanpa definisi Allah, manusia akhirnya hanya akan merusak dan bukan memelihara bumi, gagal menjadi representasi kemuliaan Allah, seperti apa yang kita alami saat ini. Untuk tujuan yang mulia ini, setiap orangtua perlu menyadari tugas yang diberikan sendiri oleh Allah, yaitu untuk membesarkan dan mendidik setiap anak menjadi pribadi yang mengenal Allah dan sepenuhnya taat kepada-Nya.


“Sudahkah kita memprioritaskan kerohanian anak-anak kita?” merupakan pertanyaan yang perlu untuk kita renungkan kembali sebagai orangtua. Tidak sedikit anak-anak yang jarang melihat sosok papa (bahkan kedua orangtua) di rumah karena kesibukan pekerjaan. Kebanyakan alasan dibaliknya adalah untuk memberikan kehidupan yang layak dan kesempatan sekolah yang terbaik. Sayangnya, ketika tanggung jawab perkembangan kognitif anak dapat dipenuhi oleh seluruh fasilitas pendidikan terbaik yang disediakan, kebutuhan mereka akan Firman Tuhan menjadi terabaikan dan panggilan mendidik kerohanian anak malah dibebankan ke pertemuan sekolah minggu yang maksimal hanya 2 jam per minggu. Tentu maksud untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak yang dianugerahkan Tuhan tidaklah salah, tapi kita perlu dengan rendah hati melakukan introspeksi, apakah “maksud baik” kita benar-benar baik menurut Allah atau murni untuk memuaskan keinginan kita saja?


Tidak ada orangtua yang dapat membantah fakta bahwa parenting memang hal yang sulit, tapi Allah tidak sedang memberikan mission impossible. Dia tidak mengirim orangtua ke medan tempur pengasuhan anak tanpa ikut turut serta. Kesempatan menjadi orangtua tidak ditentukan berdasarkan kemampuan orang tersebut, tetapi semata-mata karena anugerah Allah. Setiap orangtua perlu mengakui bahwa “saya tidak mampu” menjadi orangtua, sehingga jalan satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah berlari kepada Allah meminta pertolongan. Dan Dia tidak jauh! Perjalanan sebagai orangtua yang penuh tantangan dapat menolong kita untuk semakin mengenal dan mengasihi Allah.


Referensi:

Paul David Tripp. Parenting: 14 Gospel Principles That Can Radically Change Your Family. [Terjemahan Indonesia: Bijak menjadi Orang Tua; Penerbit Literatur Perkantas]


*)Penulis saat ini bekerja di NGO bidang HIV di Jabodetabek


45 views0 comments
Contact us