• Dra. Ria J. Pasaribu, M.Div

Melayani Tuhan di tengah Bangsa



“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45) merupakan kalimat yang disampaikan Yesus saat murid-muridNya, Yakobus dan Yohanes serta yang lainnya ingin mendapatkan kedudukan tinggi dan mulia bersama Dia.

Ambisi manusia kerap membuat seseorang mencari keuntungan dan nama sebesar-besarnya untuk diri sendiri. Dengan kata lain, ambisi kita mempengaruhi mata dalam melihat dan hati dalam merasakan sehingga betapa pentingnya kita memikirkan tujuan hidup kita yang sebenarnya, sama seperti Yesus dalam kehadiran-Nya di dunia ini. Mari belajar dari Teladan Agung kita bagaimana melayani Tuhan di tengah dunia.


Panggilan dan kehadiran Kristus di dunia

Markus 10:45 memperlihatkan bahwa Kristus datang bukan untuk diriNya sendiri, melainkan untuk dunia yang telah jatuh dalam dosa. Sejak awal, Dia sudah memahami bahwa kehadiran-Nya di dunia adalah untuk melayani (memberi diri) sepenuhnya bagi pergumulan manusia yang menderita karena dosa, bahkan Ia akan memberikan nyawa-Nya mati di atas kayu salib menebus untuk menggantikan hukuman murka Allah yang harusnya ditimpakan pada semua umat berdosa. Itu sebabnya Ia hadir di kota-kota dan desa-desa bertemu dengan manusia yang bergumul secara fisik, mental, rohani, politik, ekonomi, dan lain sebagainya (Mat. 9:35).

Sebagai orang percaya, kita hadir di dunia bukanlah kebetulan semata dan juga bukan untuk diri sendiri. Allah menciptakan kita menurut ‘gambar dan rupa-Nya’ serta memberi ‘kuasa’ (tanggung jawab) memelihara dunia ini. Hidup bukan untuk berdiam, melainkan berkarya bersama Dia memelihara ciptaan-Nya (Kej. 1:26-28; 2:15). Panggilan seperti ini membuat kita akan peduli pada penderitaan yang sedang dialami banyak orang di sekitar kita.


Penglihatan Kristus yang begitu tajam

Kitab Injil mencatat bagaimana Yesus mengajar, memberitakan Injil Kerajaan Surga, melenyapkan penyakit dan kelemahan, membawa kelepasan bagi manusia. Apa yang dilakukan-Nya keluar dari hati-Nya yang paling dalam, karena ‘melihat’ mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Yesus melihat manusia begitu rapuh (fragile) dan dalam keberdosaannya, mereka tidak ada kekuatan untuk menyelamatkan diri sendiri.

Kita bisa belajar dari Yesus bagaimana Dia melihat dunia ini. Belajar dari-Nya, kita perlu peduli melihat keberadaan masyarakat di bangsa ini yang menderita, ada banyak hal bisa kita telusuri, melalui televisi, internet, dan media massa lainnya, mendengar dari tetangga atau melihatnya sendiri. Penyakit, kemiskinan, pergumulan, penderitaan adalah hal-hal yang kita bisa lihat di sekitar kita, jika kita membuka mata dan hati kita.


Hati yang penuh belas kasihan (Compassion)

“Maka tergeraklah Yesus oleh belas kasihan (compassion) kepada mereka.” Inilah hati yang peduli, Dia tidak bisa tinggal diam di tengah-tengah kekalutan dan penderitaan yang terjadi dan untuk itulah Ia datang. Ia menghampiri dan ikut serta merasakan pergumulan penderitaan manusia, serta membawa mereka keluar dari penderitaan tersebut dengan kehadiran-Nya, penghiburan-Nya bahkan kuasa-Nya yang menyembuhkan. Ia membawa manusia mengalami pertolongan dan jalan keluar sehingga mereka menikmati kasih sayang Tuhan yang luar biasa.

Adakah hati kita dipenuhi dengan kasih seperti ini setiap melihat manusia yang mengalami kesakitan, kebingungan, dan ketakuatan karena ancaman kematian? Atau hati menjadi dingin, beku, bahkan tidak peduli? Kita perlu meminta pada-Nya hati yang dapat ikut merasakan, bukan hanya sekedar emosi/perasaan, melainkan sakit yang kita rasakan sampai pada ginjal (kidney), sehingga kita tidak bisa hanya diam berpangku tangan, melainkan mendorong kita bertindak untuk menolong, melepaskan yang menderita dari kesakitan atau pergumulannya.


Melayani dengan berkorban

Dari waktu ke waktu Yesus bekerja tanpa kenal lelah, merasakan kepedihan dan kesusahan manusia dan Ia tidak peduli pada cemoohan, kehinaan yang menghampiri sepanjang hidupnya. Yesus dengan tekun berkarya sampai memikul salib dan kematian di bukit Golgota. Ia tahu resiko besar yang akan dialami, bahkan dengan cinta-Nya yang melampaui keberdosaan manusia (unconditional).

Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut Aku” (Mat. 16:24). Panggilan sebagai orang percaya, bukan untuk hidup bagi diri sendiri, bukan untuk kenikmatan, melainkan kita yang sudah ditebus oleh darah-Nya yang mahal adalah hidup bagi Kristus. Kematian bukanlah merupakan ketakutan (sekalipun secara fisik itu bukanlah hal yang mudah) namun karena Kristus telah mengalahkan maut, maka dibalik kematian akan ada kebangkitan dan kehidupan selama-lamanya (bdk. Filipi 1:21


Tak ada yang mengatakan bahwa melayani Tuhan di tengah dunia yang penuh dengan penderitaan dapat dilakukan dengan mudah. Akan ada banyak pergumulan, tantangan, bahkan pengorbanan yang kerap perlu kita hadapi dan lakukan. Namun, teladan Kristus dan pertolongan dari Roh Kudus kiranya memampukan dan menolong kita untuk melakukannya dalam hidup dan profesi kita hingga kita dapat berkata seperti Rasul Paulus ”…jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (Filipi 1:22).


*)Penulis adalah Executive Director Indonesian Care


Diadaptasi dari majalah Samaritan cetak edisi II tahun 2020 dengan beberapa perubahan.


39 views0 comments

Recent Posts

See All
Contact us