• drg. Karmellia Nikke Darnesti, MKM

Kita Perlu Menginjak Rem



Pandemi Covid-19 merupakan suatu tantangan bagi tenaga medis. Tidak ada kata istirahat bagi sebagian yang masih bekerja sebagai klinisi garda depan. Bergelut dibalik pengapnya menggunakan alat pelindung diri yang tidak hanya membuat nafas terasa begitu sesak, tetapi juga pikiran yang mulai penat. Ketika fenomena bekerja dari mana saja mulai menjadi suatu kebiasaan hidup new normal yang lama kelamaan menjadi kenyamanan bagi sebagian orang, tentunya ini tidak dirasakan bagi tenaga medis.


Belakangan kondisi berangsur-angsur mulai kembali normal. Aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Namun, ini pun juga bukan waktunya tenaga medis untuk beristirahat. Jadwal praktik dan tindakan yang awalnya dikurangi atau ditunda mulai penuh kembali. Beberapa pasien yang mulanya tidak berani berobat, mulai kembali berdatangan. Janji pasien kontrol mulai memenuhi agenda. Banyak rencana-rencana tertunda yang kemudian ingin kita realisasikan.


Dunia begitu sibuk dan waktu berjalan terus. Berpindah dari satu tempat praktik ke tempat praktik berikutnya, banyak pekerjaan dan tindakan perawatan yang menunggu untuk diselesaikan. Hal ini menyebabkan dua puluh empat jam sehari semakin terasa tidak cukup. Kita berlari berkejaran dengan waktu dengan pandangan lurus ke depan tanpa tengok kanan kiri. Hiruk pikuk kesibukan ini kemudian menyedot banyak energi dan bermuara pada fase burn-out.


Bagaimana jika kesibukan pekerjaan ini hanya untuk aktualisasi diri sendiri? Bagaimana jika kebisingan dunia kita gunakan untuk menutup mata dan telinga terhadap sekitar? Atau bagaimana jika alasan kita menyibukan diri sebenarnya karena sedang mencoba menghindari sesuatu? Daripada jujur ​​kepada Tuhan dan diri sendiri tentang luka, dosa, dan kekecewaan yang dialami, kita justru menumpulkan kepekaan hati dengan kesibukan. Bekerja menjadi pelarian dan kita jadi tidak peduli dengan sekitar.


Pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika Tuhan mengharapkan kita untuk tidak terlalu sibuk dengan profesi kita? Bagaimana jika Tuhan malah mengharapkan kita untuk memiliki jeda sejenak, menikmati istirahat, lepas dari kebisingan dan punya kehidupan dengan ritme yang lebih lambat? Kehidupan tenang yang dapat membantu menghubungkan kita kembali dengan Tuhan.Layaknya berkendara, mungkin kita memang perlu menginjak rem untuk memperlambat kecepatan atau bahkan sampai kendaraan kita berhenti untuk sejenak.


Kurangi Kecepatan

Hanya dengan memperlambat ketika memeriksa pasien misalnya, kita jadi lebih teliti dan lebih bisa memberikan telinga untuk mendengarkan mereka. Dengan mengurangi kecepatan, kita jadi bisa belajar melihat keadaan sekitar dan menyadari pemeliharaan Tuhan. Belajar untuk mendengarkan voice bukan noise. Belajar untuk lebih peka dalam mendengar suara Tuhan. Berjalan dengan lebih lambat, memungkinkan kita untuk bisa mendengar orang lain, melakukan evaluasi diri dan kontemplasi.


Berhenti sejenak

Banyak orang mengartikan istirahat sebagai waktu untuk bermalas-malasan. Malas memiliki kecenderungan untuk menghindari kerja, atau tidak mau bekerja. Beristirahat berarti pemulihan energi dan pembaruan diri. Dalam Markus 1:35, Yesus dalam kesibukannya telah memberikan teladan untuk pergi ke tempat sunyi, sendiri, dan berdoa.


Bukankah Yesus berkata “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11:28)? Tenaga medis pun perlu melakukan ini. Berhenti dari aktivitas dan datang kepada Tuhan. Kita perlu mengingat kembali akan tujuan hidup manusia, yaitu menikmati Tuhan, melalui kasih karunia-Nya dan kehadiran-Nya. Habiskan waktu istirahat kita bersama Tuhan, dapatkan ketenangan, dan dari sana akan terbangun kekuatan.


Ruang untuk bertumbuh

Kesibukan dapat menghambat pertumbuhan rohani kita. Kurangi kecepatan dan beristirahat sejenak memberi ruang kepada hati kita untuk bertumbuh dan dibentuk. Kita perlu bertumbuh. Sebagai dokter Kristen, yang memiliki profesi strategis, kita bisa melakukan teaching, preaching, dan healing. Pertumbuhan rohani sangatlah penting untuk terus kita perjuangkan. Berikan ruang untuk kita menikmati persekutuan dengan Tuhan dan merenungkan Firman Tuhan. Makin kita karib dengan Tuhan, makin kita mengenal pribadi-Nya. Niscaya kita akan kembali beroleh kekuatan baru.


“tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:31).

Kurangi kecepatan, berhenti sejenak, berikan hati kita ruang untuk makin bertumbuh mengenal Tuhan. Pulihkanlah diri dari kebisingan dunia. Jangan sampai kesibukan mengalihkan hidup kita. Dapatkan ketenangan, dengarkan suara-Nya, sadari providensia-Nya. Ingat, nilai kehidupan tertinggi dari Tuhan bukanlah dari produktivitas kita, tetapi kasih. Kasihilah Tuhan dan sesama. Pandanglah salib-Nya, pandanglah sekitar. (Matius 22:37-39; 1 Korintus 16:14).


*Penulis bekerja dalam bidang manajemen di salah satu grup rumah sakit swasta.


/stl

56 views0 comments

Recent Posts

See All
Contact us