Kita Berdua Saja

Firman Tuhan di Matius 19:6 mengatakan,
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.“
Sebagai orang Kristen yang mengerti akan arti “panggilan untuk dipersatukan dalam kasih Kristus“ serta keduanya dapat semakin berbuah dalam memenuhi panggilan-Nya, tentunya akan sangat berhati-hati dalam memilih calon teman hidupnya sebelum memasuki bahtera rumah tangga. Karena hal ini merupakan keputusan terbesar kedua selain yang pertama yaitu waktu seseorang memutuskan untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Keputusan memilih teman hidup akan menentukan, apakah kita akan hidup di Surga atau di Neraka dunia selama kita mengarungi perjalanan hidup bersama, karena apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.
Pergumulan tentang pentingnya hal tersebut akhirnya membawa kami untuk berani memutuskan memasuki mahligai pernikahan pada 27 Juni 1992 yang lalu, pada saat usia Herman 36 tahun dan Melissa 30 tahun. Pertimbangan Herman sebagai anak tertua dari 7 bersaudara perlu mengikuti keinginan orangtua untuk mencari pasangan yang bersuku Tionghoa agar tidak menjadi batu sandungan bagi Papa Mama yang waktu itu belum percaya Tuhan Yesus namun mengizinkan anak-anaknya menerapkan pola hidup Kristen. Sedangkan Melissa sebagai anak bungsu dari 7 bersaudara bertumbuh dalam keluarga Kristen sangat berhati-hati dalam memilih calon teman hidup yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan, karena Melissa sering melihat banyak pasutri Kristen yang hidup tidak harmonis; suami-suami yang egois dengan karakter yang tidak sesuai dengan iman kristiani. Kekuatiran itu membuatnya membutuhkan waktu 2 tahun untuk bergumul agar Tuhan sendiri yang berkenan membukakan hatinya dalam memutuskan dan meyakini bahwa pernikahan kami benar-benar merupakan kehendak-Nya.
Herman meyakininya sewaktu bertemu Melissa yang juga dikenal dengan nama Tjioe Ay Ming, seorang yang mengasihi Tuhan dan sebaliknya Melissa telah melihat sikap dan perhatian Herman selama 3 tahun sejak bertemu dan bertugas bersama sebagai panitia Persekutuan Medis di acara International Conference Christian Medical Students di Puncak, lalu berlanjut saat melayani bersama sebagai dokter di Rumah Sakit misi Bethesda (RSUB) di dusun Serukam, Kalimantan Barat. Saat itu kami masih dalam taraf sebagai teman sepelayanan, memang perjuangan panjang untuk sampai yakin “Ini jodoh dari Tuhan”. Papa Herman sangat bersukacita waktu bertemu Melissa dan dengan mudahnya Papa berjanji mau percaya Tuhan Yesus kalau Melissa bersedia menjadi menantunya. Herman berusaha melakukan pendekatan ke Mama Melissa di Surabaya dan kakak perempuan kedua yang tinggal di Bandung agar membantu, mendorong hati Melissa agar mau memutuskan pertemanan kami ke tahap selanjutnya, tak terkecuali dukungan dan doa dari banyak teman-teman dokter di RS Bethesda Serukam. Akhirnya kami mendapat kesempatan mengikuti retreat Kamp Medis mahasiswa dan alumni di Kaliurang, Jogjakarta yang ketua penyelenggaranya Sdr. Lineus Hewis, waktu itu beliau bertugas sebagai Dokter muda di FK UGM Yogjakarta dan kami mendapatkan peneguhan untuk bersama-sama melanjutkan pelayanan di RS Misi Bethesda. Setelah kedua orangtua kami sepakat, kami melangsungkan pesta pertunangan di Surabaya tempat keluarga besar Melissa, dan 2 minggu kemudian mengikrarkan janji pernikahan saat pemberkatan di Gereja Kristus, diikuti dengan resepsi pernikahan di malam harinya di Jakarta.
Kerinduan untuk memiliki anak
Sesudah 2 tahun pernikahan, semua pasangan akan semakin mengenal karakter, kebiasaan dan apa yang disukai maupun yang tidak disukai, sehingga semakin terbentuk kekompakan dan kesehatian suami istri. Tentu kelanjutannya rindu mempunyai keturunan, yakni, anak sebagai anugerah dari Tuhan. Namun kami menjadi gelisah sesudah 4 tahun belum dikaruniai anak. Saat menemani mama Melissa berobat di Singapura, teman dekat kami dokter di Singapura menganjurkan kami melakukan konsultasi medis dan menganjurkan beberapa langkah berupa: (1) mengambil waktu cuti karena terlalu sibuk di RS, lalu (2) Inseminasi, sampai (3) ke program In Vitro Fertilization ( IVF). Melissa menjalani 2 kali program IVF di RS Mount Elizabeth di Singapura namun harapan kami belum dikabulkan Tuhan untuk mendapatkan keturunan. Lalu kami ditugaskan untuk berangkat studi spesialisasi di Manila Philippines. Herman belajar Patologi dan Melissa spesialisasi Anak sesuai cita-citanya sejak kecil. Di tahun ketiga studi, kami menyempatkan untuk melakukan Inseminasi di Rumah Sakit di Manila, namun belum berhasil juga, sehingga kami mendoakan dan merencanakan ke Eropa, pusat tempat yang pertama kali mencanangkan program IVF ini.
Kami berusaha, Tuhan yang menentukan
Rencana tersebut terhenti sesudah tiba-tiba Melissa mendapati ada benjolan di salah satu payudaranya, saat itu Melissa hampir selesai dengan tugas adaptasinya di RS Cipto Mangunkusumo di Jakarta. Sesudah melakukan USG kami segera berangkat ke Singapura dan memutuskan untuk melakukan operasi di sana sesudah hasil frozen section patologi durante surgery menunjukkan adanya Ca mammae. Kami jadi ingat Ayub 2:10, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?“ dan meyakini Firman Tuhan di Roma 8:28 “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.“ Kami meyakini bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kami yang tidak dalam kontrol kendali Tuhan. Percaya akan kebaikan dan kasih-Nya yang luar biasa, kami taat pada tuntunan-Nya menjalani dengan tekun semua proses pengobatan kemoterapi dan radiasi di RS Mount Elizabeth Singapura. Setiap 3 minggu sekali pulang pergi dari Serukam ke Pontianak terbang ke Batam lalu naik ferry ke Singapura sambil Herman tetap melayani sebagai Direktur di RS Bethesda dan Melissa menjawab konsul-konsul pasien anak dari dokter-dokter umum di RS Bethesda, begitu leukositnya normal Melissa langsung terjun lagi visit ke bangsal RS menangani kasus anak yang sulit di sana.
Memang tidak mudah, kadang dengan kesakitan sambil tertatih-tatih memakai kaos kaki dan sarung tangan tebal Melissa tetap berjalan ke RS walaupun kedua telapak kaki dan telapak tangannya merah keunguan memar mengelupas dan nyeri “hand foot syndrome” akibat efek samping obat Capecitabine ( Xeloda ) tetap tidak menyurutkan tekadnya menolong pasien-pasien anak dengan Dengue Syok Syndrome di ICU sewaktu wabah menyerang anak-anak dari Sambas Kalbar yang berobat ke RSUB. Firman-Nya di 1 Korintus 10:13 menguatkan hatinya bahwa “ Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan yang biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.“ Dan Tuhan itu setia - bukan hanya memampukan kami menjalaninya tapi Tuhan juga yang menggerakkan hati teman-teman dokter dari Misi, dokter-dokter Serukamers dan Persekutuan Medis, teman-teman dokter yang di Singapura, beberapa sahabat dari Jemaat serta keluarga besar kami - semua bergandengan tangan mendukung doa dan dana sehingga semua tercukupi dan kami juga mengangsur dari tunjangan kami karena terapi monoklonal antibodi yang mahal selama 2 tahun. Namun diatas semua itu Tuhanlah yang bekerja melalui tim dokter untuk menyembuhkan dengan mukjizat-Nya agar kami dapat melanjutkan pelayanan kami di RS Misi Bethesda sampai memasuki masa pensiun. Ijin Tuhan jelas buat kami waktu Tuhan menyediakan dokter pengganti Herman dan Melissa sehingga kami dapat meninggalkan pelayanan di sana dalam keadaan masih berjalan dengan baik.
Dalam masa pensiun ini kami berdua melakukan apa yang kami sukai dan Tuhan menyediakan ladang pelayanan yang baru di Bandung sesuai hobi Melissa membantu mengajar di FK Universitas Kristen Maranatha sambil membimbing Co Ass di 2 RS Maranatha dan RS Immanuel serta praktek poli anak di 2 RS tersebut, 4 hari dalam seminggu, sehingga masih ada waktu untuk berolahraga dan rekreasi bersama, kadang bernyanyi dan berkumpul dengan teman-teman Group Band Mazmur 100 sejak mahasiswa dulu. Seluruh aspek kehidupan kita menjadi pola hidup yang seutuhnya / komprehensif yang memuliakan Tuhan.
Childfree: anugerah Tuhan
Sejak memasuki pernikahan sampai sekarang menikmati masa pensiun, kami berdua selalu menikmati kebersamaan dalam pelayanan dan dalam keseharian, saling mendukung dalam tugas, saling mengisi dalam kekurangan dan kelebihan masing-masing, saling mendorong memberi semangat, saling memberi koreksi kalau tidak sependapat, saling menemani dan melayani kalau salah satu sedang sakit, seperti janji yang kami ikrarkan waktu pemberkatan pernikahan, Tuhan yang memampukan dalam kami menjalaninya, tertawa bersama, bahagia dalam menikmati setiap berkat-berkat-Nya. Dalam anugerah-Nya, kami tidak merasa kesepian/minder karena Tuhanlah sumber sukacita kami dan selalu ada yang harus kami lakukan untuk melayani keluarga besar, teman-teman dan pasien-pasien yang Tuhan percayakan.
Sejak menikah, kami berusaha untuk staycation liburan di hotel, berdua, setiap hari ulang tahun kami maupun saat merayakan wedding anniversary. Waktu di RS Bethesda, kami sering mengajak tim dokter keluarga besar Bethesda makan bersama untuk mensyukuri anugerah-Nya, juga selama di Bandung mengajak keluarga kakak dengan anak cucu mantu mereka - makan, berenang dan bermain bersama. Rumah kami menjadi tempat berkumpul dan menjadi berkat bagi keluarga.
Salah satu anugerah Tuhan bagi pasangan yang childfree adalah memiliki lebih banyak keleluasaan dalam mengatur waktu untuk berlibur serta membantu keluarga besar dengan porsi tanggung jawab yang berbeda. Hal ini karena mereka tidak perlu memikirkan seluruh kebutuhan anak, mulai dari masa sekolah hingga beranjak dewasa, memasuki jenjang pernikahan bersama pasangan hidupnya, membina keluarga, hingga kelak memiliki cucu.
Selain itu, sebelum kami menikah, Herman membantu 2 anak laki-laki dari kampung yang baru lulus SD tidak punya ibu untuk menjadi anak asuh. Sesudah kami menikah mereka tinggal bersama kami, kami sekolahkan sampai mereka lulus S1, sekarang sudah menjadi Dosen Teologi dan satunya lulus SMK dan bekerja di bagian Sterilisasi RS Bethesda sampai sekarang. Lalu kami dititipi 2 anak perempuan lagi yang tidak punya ayah, masuk sekolah SMP, SMA di Singkawang lalu kuliah Akper di Bandung melayani di poli anak RS Bethesda sampai sekarang serta satu lagi baru lulus profesi S. Kep Nurse di RS Immanuel Bandung. Tiga dari mereka sudah menikah dan kami punya cucu dari anak asuh sebanyak 8 orang, masing-masing orang tuanya dapat membinanya dengan baik sesuai teladan Tuhan Yesus.
Tidak kuatir kalau tidak ada keturunan?
Sering kami bersama teman-teman persekutuan seusia membicarakan untuk menabung, agar nantinya bisa tinggal di rumah untuk para lansia - dimana kita bisa berkumpul bersama, ada waktu ibadah dan berdoa bersama serta diperhatikan kesehatan dan kebutuhannya; yang kuat masih bisa menyalurkan hobinya, yang lemah tetap ada yang mendampinginya. Namun perjalanan hidup kami selama ini, membawa iman kami bertumbuh dan makin yakin – Tuhan menyertai kami dan tepat waktu memberi jalan keluarnya.
Dalam Yesaya 46:4 tertulis janji Tuhan,
“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu, aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”
Tuhan yang berjanji bisa kita pegang janji-Nya, karena Dia yang berjanji itu setia. Marilah kita terus rindu bertumbuh untuk semakin mengenal akan kasih dan firman-Nya dan terus memperkenalkan kasih-Nya kepada banyak orang, to know Him and to make Him known itulah kerinduan kami.
Teriring salam dan doa,
Herman Gandi dan Melissa




Comments