Apakah Ini Adil? Refleksi Kristiani tentang Keadilan di Tengah Dunia yang Tidak Adil

Bacalah Alkitab, dan ketidakadilan akan menyambut Anda di hampir setiap babnya. Seorang pemuda dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya sendiri, dijual sebagai budak, lalu mendekam di penjara atas tuduhan perbuatan yang tidak pernah ia lakukan. Seorang laki-laki jujur difitnah dan dihukum mati hanya karena ia menolak menjual kebun warisan leluhurnya. Nabi demi nabi dibungkam, dipenjara, bahkan dibunuh karena mereka mengatakan kebenaran. Menurut Anda, adilkah semua itu?
Sekarang tutuplah Alkitab tersebut, dan tengoklah ke sekeliling. Orang yang bekerja jujur kerap terlewat, sementara yang pandai berkelit justru naik jabatan. Yang lemah sulit memperoleh pembelaan karena tak sanggup membayarnya. Ada yang berbuat benar tetapi menanggung rugi; ada yang bersalah tetapi melenggang bebas. Menurut Anda, adilkah semua itu?
Dan inilah pertanyaan yang paling mengganggu: jika Allah sungguh adil dan berkuasa, mengapa dunia ciptaan-Nya begitu sering terasa tidak adil?
Belum lama ini, di sebuah rumah sakit daerah di Indonesia, seorang dokter spesialis anak menjalani hari kerja seperti biasa. Dan, seorang anak berusia sepuluh tahun dibawa ke IGD dengan keluhan yang tampak lazim: demam, muntah, dan lemas. Yang tidak segera terlihat adalah kondisi di baliknya, sebuah gangguan kelistrikan jantung yang berat, yang sewaktu-waktu dapat memicu henti jantung mendadak. Anak itu sebelumnya telah singgah di beberapa fasilitas kesehatan dan ditangani oleh sejumlah dokter lain. Karena saat itu berada di luar jam kerja, sang dokter memberikan instruksi awal melalui telekonsultasi, sesuatu yang sah dan lazim, bahkan diatur dalam ketentuan internal rumah sakit. Namun kondisi anak itu memburuk dengan cepat. Ia segera dirujuk ke spesialis jantung, tetapi nyawanya tidak tertolong.
Seorang anak meninggal. Sebuah keluarga kehilangan. Duka itu nyata.
Namun apa yang terjadi kemudian mengejutkan banyak orang. Dari sekian dokter yang pernah menangani anak itu, hanya sang dokter spesialis anak inilah yang ditetapkan sebagai tersangka. Belum tuntas pemeriksaan etik dan disiplin profesinya, perkara sudah melompat ke ranah pidana. Jaksa menuntutnya penjara bertahun-tahun. Ribuan rekan sejawat dari seluruh negeri pun bergerak membela, mengajukan pendapat resmi ke pengadilan, dengan satu argumen sederhana: seorang dokter tidak boleh dihukum semata karena hasil akhir yang buruk, apabila tidak ada bukti yang memastikan bahwa tindakannyalah penyebabnya. Pada akhirnya pengadilan membebaskannya. Tetapi luka dari proses itu nyata dan bahkan hingga tulisan ini disusun, pihak keluarga pasien menyatakan hendak menempuh upaya hukum lanjutan. Perkaranya belum benar-benar selesai.
Adilkah seseorang yang telah menolong sekuat kemampuannya justru diseret sebagai satu-satunya pihak yang bersalah? Adilkah menghukum seseorang atas akibat yang berada di luar batas kuasanya? Namun bertanyalah juga dari sisi seberang: adilkah bila sebuah keluarga kehilangan anaknya, dan tak seorang pun sungguh-sungguh menjawab kepedihan serta pertanyaan mereka?
Di sinilah keadilan menjadi rumit. Sebab kerap kali, keadilan bagi yang satu terasa seperti ketidakadilan bagi yang lain. Lalu, ketika kita, sebagai tenaga medis, sebagai sesama, atau sebagai orang percaya, menyaksikan yang benar dipersalahkan, apa yang seharusnya kita perbuat? Diam dan menerima? Marah dan menghakimi balik? Membalas? Ataukah ada jalan lain yang lebih baik?
Untuk menjawabnya, kita perlu kembali ke Alkitab. Hal pertama yang mengejutkan adalah kejujuran Alkitab itu sendiri. Alkitab tidak pernah menutup-nutupi ketidakadilan, ia mencatat apa adanya, lengkap dengan air mata dan darah orang-orang benar.
Tetapi Alkitab tidak membiarkan kita berhenti pada keputusasaan. Sebab di balik setiap kisah orang benar yang menderita, ada satu pola yang berulang: Allah melihat, Allah mengingat, dan pada waktunya Allah membela. Yusuf yang difitnah dan dipenjara akhirnya dipakai Allah untuk menyelamatkan banyak nyawa,
Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan (Kejadian 50:20).
Ayub yang menderita tanpa sebab akhirnya berjumpa dengan Allah sendiri. Keadilan Allah mungkin tidak selalu datang secepat yang kita inginkan, tetapi ia tidak pernah gagal datang.
Lalu bagaimana orang percaya bersikap dalam masa penantian itu? Alkitab menunjukkan jalan yang bukan diam, dan bukan pula membalas. Rasul Paulus, ketika hak-haknya diinjak, menuntut proses yang benar dan bahkan naik banding kepada penguasa tertinggi pada zamannya (Kisah Para Rasul 25:11); Firman pun menyerukan kita membuka mulut bagi mereka yang tidak dapat bersuara (Amsal 31:8–9). Menempuh jalur yang benar untuk membela kebenaran bukanlah kekurangan iman, melainkan wujud tanggung jawab. Namun kita juga tidak perlu membalas, sebab pembalasan adalah hak Tuhan, bukan hak kita (Roma 12:19). Kita dipanggil membela yang benar tanpa membenci siapa pun, termasuk tanpa menjadikan keluarga yang berduka sebagai musuh.
Namun seluruh renungan ini hanya akan berhenti sebagai nasihat moral, jika ia tidak berujung pada satu Pribadi. Sebab puncak dari kisah ketidakadilan di dalam Alkitab bukanlah Yusuf, bukan Ayub, dan bukan para nabi. Puncaknya adalah Kristus.
Ketidakadilan terbesar dalam sejarah terjadi di sebuah pengadilan yang cacat, ketika satu-satunya Pribadi yang sungguh-sungguh tidak bersalah dinyatakan bersalah, disiksa, dan dihukum mati. Dan Ia, yang paling berhak membela diri, justru memilih untuk tidak membalas.
Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil (1 Petrus 2:23).
Melalui vonis yang paling tidak adil itu, Allah mengerjakan keselamatan yang paling adil. Di kayu salib, Kristus menanggung hukuman yang seharusnya jatuh atas kita, dan dengan demikian menebus dunia yang rusak dan penuh ketidakadilan ini. Salib adalah tempat keadilan dan kasih berjumpa: dosa dihukum sepenuhnya, dan orang berdosa diampuni sepenuhnya. Dunia yang tidak adil ini tidak dibiarkan begitu saja melainkan ditebus dengan harga yang paling mahal.
Maka kita hidup di antara dua kenyataan. Di satu sisi, dunia ini masih belum adil. Kita para tenaga medis, dan siapa pun yang melayani sesama akan terus berhadapan dengan tuduhan yang keliru, proses yang berbelit, dan kebenaran yang menunggu lama sebelum dibenarkan. Tetapi di sisi lain, kita tidak berjuang dengan tangan kosong. Kita memiliki teladan Kristus yang tidak menarik diri dan tidak membalas, melainkan menyerahkan perkara-Nya kepada Hakim yang adil. Dan kita memiliki kepastian bahwa keadilan sejati bukanlah mimpi yang tertunda selamanya, melainkan janji yang pasti. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu (Wahyu 21:4).
Jadi, adilkah dunia ini? Belum. Tetapi Ia yang adil telah datang menebusnya, dan akan datang kembali menuntaskannya. Itulah sebabnya kita sanggup terus berjuang, tetap memperjuangkan kebenaran dengan cara yang benar, bukan karena kita yakin dunia akan segera menjadi adil, melainkan karena kita yakin kepada Dia yang pasti akan mengadili dengan adil.




Comments