Holistic Dentistry: Beyond Oral Cavity

Saya mengingat seorang pasien yang datang kepada saya beberapa tahun yang lalu. Seorang wanita paruh baya, dengan hanya satu gigi tersisa, taring kanan bawah, yang sudah dalam kondisi goyang. Selebihnya, ia menggunakan gigi tiruan, yang kondisinya pun kurang baik. Tugas saya sebagai seorang dokter gigi yang baik adalah melakukan pencabutan pada gigi semata wayang yang sudah goyang tersebut, menyampaikan instruksi pasca pencabutan, dan menjadwalkan kontrol untuk perbaikan gigi tiruan pasien.
Tetapi pada momen itu Roh Kudus menggerakkan saya untuk berpikir lebih utuh tentang pasien ini. Saya mulai bertanya mengapa ia kehilangan hampir seluruh giginya di usia yang belum memasuki lansia. Ia pun mulai menceritakan kebiasaannya merokok yang bisa mencapai 2 bungkus dalam sehari. Dan ketika saya tanya mengapa ia merokok demikian banyak, ia mulai menceritakan begitu banyak kisah hidupnya. Ia duduk di kursi gigi cukup lama sambil bercerita, sekitar 1 jam, dan beberapa kali air matanya mengalir keluar. Ia memiliki berbagai masalah kehidupan yang kompleks. Mulai dari insomnia, masalah dengan suami, masalah dalam pekerjaan, keuangan, dll. Setelah pencabutan gigi, saya mendoakan pasien ini dan demikian juga dalam kunjungan-kunjungan selanjutnya, saya mencoba lebih banyak menabur nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan kepada pasien ini. Apakah taburan yang saya sampaikan berdampak bagi pasien ini, saya serahkan sepenuhnya kepada Tuhan.
Dunia kedokteran gigi kita sudah terlalu terbiasa fokus pada hal-hal teknis, dan terpaku pada masalah-masalah biologi-medik terkait keluhan gigi dan mulut. Tentu semua ini adalah hal yang baik, karena kita juga tidak menginginkan dokter gigi yang sangat rohani tetapi tidak kompeten dalam melayani keluhan pasien. Namun, alangkah baiknya bila semua dokter gigi bisa diperlengkapi untuk melihat dan melayani pasien secara utuh. Ada begitu banyak cerita di balik setiap kasus. Ada begitu banyak kesempatan untuk melayani dan menjadi berkat.
Setiap murid Kristus yang menjadi dokter gigi, dipanggil Tuhan untuk mengikuti jejak pelayanan-Nya. Dalam Matius 9:35-36, diceritakan bagaimana Tuhan Yesus melakukan pelayanan teaching (mengajar di rumah ibadat), preaching (memberitakan Injil Kerajaan Sorga) serta healing (melenyapkan segala penyakit dan kelemahan). Hati-Nya dipenuhi dengan belas kasihan ketika Ia melayani banyak orang tersebut. Belas kasihan Yesus bukan hanya tertuju pada aspek fisik, jiwa, atau roh secara terpisah, tetapi ketiganya secara holistik. Yesus melihat setiap manusia secara utuh. Ia berbelas kasihan melihat kelumpuhan, pendarahan, kebutaan, atau kelemahan fisik lainnya, dan di saat yang sama melihat kebutuhan mereka akan pengampunan dosa, pembebasan dari roh jahat, maupun pemulihan martabat dari pengucilan sosial.
Harold Koenig, dalam review article-nya yang berjudul “Religion, Spirituality, and Health”, menunjukkan bahwa pasien dengan spiritualitas yang lebih baik menunjukkan perbedaan signifikan dalam kemampuan coping yang lebih baik terhadap berbagai penyakit, berkurangnya kecemasan, perbaikan perilaku kesehatan seperti penurunan angka merokok, diet lebih sehat, penurunan perilaku seksual berisiko, dan lain-lain. Bahkan angka-angka morbiditas seperti kanker, penyakit metabolik, penyakit imun, dan penyakit lainnya juga menurun. Ratusan hasil penelitian menunjukkan bahwa iman berperan penting dalam kesehatan setiap individu. Hal ini sejalan dengan Firman Tuhan dalam kitab Amsal 17:22,
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”
Hari ini kita diingatkan bahwa setiap pasien memiliki kebutuhan yang lebih dalam dari sekedar perawatan medis, termasuk perawatan gigi mulut. Di balik senyum yang terlihat secara eksternal, ada situasi hati yang bisa berbeda. Tentu panggilan utama dokter gigi adalah memberikan perawatan gigi mulut yang terbaik, sebagai alat anugerah Allah bagi pasien yang membutuhkannya. Tetapi hari ini kita diingatkan, bahwa dokter gigi memiliki peluang untuk memberkati hidup seorang pasien, melebihi kondisi mulutnya. Barangkali, Tuhan mengutus pasien tertentu untuk datang kepada kita, dimana mereka bisa mulai melangkah maju dalam perjalanan iman mereka.
Untuk tiba pada pemahaman ini, setiap dokter gigi pun memerlukan perjalanan iman itu sendiri, dalam memaknai hidup dan profesinya. Apakah makna yang dicari para sejawat dokter gigi dalam berpraktek? Uang? Kepuasan batin? Nama besar? Kesuksesan? Ternyata, setiap perjumpaan dengan pasien bisa menjadi begitu berarti, ketika kita bekerjasama dengan Roh Kudus dalam melayani kebutuhan pasien secara holistik. Betapa indah dan berharga perbedaan yang bisa kita wujudkan dalam hidup pasien-pasien yang datang kepada kita. Saya yakin bahwa kehidupan profesi kita akan dipenuhi dengan sukacita yang begitu mendalam, yang akan menghasilkan senyuman yang tulus, bukan sekedar estetis. Let’s make the world a better place, one smile (external and internal) at a time.



Comments